Tampilkan postingan dengan label Ekonomi 2017 - Tantangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi 2017 - Tantangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Maret 2017

Tantangan Ekonomi 2017

Tantangan Ekonomi 2017
Santo Rizal Samuelson  ;   Pemerhati Ekonomi dan Politik Indonesia
                                                        KOMPAS, 27 Maret 2017


                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Indonesia layak optimistis menyongsong 2017 di tengah kondisi global yang sulit saat ini. Indonesia diprediksi oleh para ahli ekonomi akan menjadi salah satu negara yang dapat bertahan dari tekanan eksternal karena skala ekonomi domestik yang besar dan ditopang oleh prospek peningkatan harga komoditas secara bertahap.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 5,1 persen pada 2017, tetapi prediksi badan ekonomi dan moneter dunia lebih optimistis. Dana Moneter Internasional (IMF), Consensus Economics, dan Bank Dunia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 mencapai 5,3 persen. Adapun Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksikan 5,5 persen. Angka pertumbuhan ini lebih tinggi daripada 2016 yang 5,0 persen.

Faktor positif

Setidaknya ada beberapa hal positif yang membuat kita layak optimis menyambut tahun 2017. Pertama, angka neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 650 juta dollar AS per bulan pada 2015 dan 2016, jauh lebih baik daripada rata-rata 2012-2014 yang mengalami defisit 220 juta dollar AS. Secara kumulatif, sepanjang 2016, surplus neraca perdagangan Indonesia 8,8 miliar dollar AS. Angka ini meningkat 14,5 persen dari 7,7 miliar dollar AS tahun 2015.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kondisi surplus neraca perdagangan Indonesia berdampak positif terhadap nilai tukar rupiah yang relatif stabil tahun 2016, di mana nilai tukar spot rupiah terhadap dollar AS menguat sekitar 1 persen dibandingkan dengan 2015 yang melemah sekitar 0,50 persen.Berarti selama dua tahun terakhir Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan. Ini merupakan sinyalemen positif bahwa kebijakan ekonomi, terutama 13 paket kebijakan ekonomi pemerintah untuk meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia, telah berjalan dengan baik.

Kedua, meningkatnya kepercayaan dan optimisme pelaku ekonomi untuk tahun 2017. Harian Kompas (16/1/2017) mencatat, para eksekutif BUMN dan perusahaan seperti Garuda Indonesia, Bank BRI,Adaro, Jababeka, dan Waskita Karya, menyampaikan semangat optimistis dalam menyongsong 2017. Kepercayaan dan optimisme seperti ini tentu sangat diperlukan—di samping asumsi pertumbuhan ekonomi dari badan dunia seperti Bank Dunia dan IMF—untuk meningkatkan kepercayaan bagi para investor dan pelaku ekonomi. Hal ini harus terus didukung peran pemerintah dalam menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif demi kemajuan ekonomi Indonesia.

Namun, tantangan ekonomi dan politik yang dihadapi pemerintah di 2017 tak kalah berat. Setidaknya, penulis berharap pemerintah memfokuskan diri pada beberapa hal yang menjadi perhatian serius di 2017.

Pertama, pertumbuhan kredit dan sektor riil. Pertumbuhan kredit perbankan harus mendapat perhatian utama, khususnya kredit sektor komersial dan korporasi. Penurunan suku bunga kredit memang perlu, tetapi bukan hal utama. Penciptaan iklim usaha yang baik melalui regulasi peraturan dan kebijakan yang mendukung serta diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat—dengan menjaga inflasi tetap rendah dan nilai tukar relatif stabil— adalah hal yang paling kritikal untuk mendorong permintaan kredit. Rasanya agak sulit berharap kalangan pengusaha ekspansi usaha saat ini dengan menggunakan dana kredit perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi, terutama permintaan pasar dan regulasi pemerintah yang kurang mendukung terciptanya iklim usaha serta investasi yang kompetitif.

Pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), terutama dana murah bank, seperti giro dan tabungan (current account dan saving account/CASA) juga harus lebih ditingkatkan. Peningkatan penghimpunan CASA memang terus menunjukkan peningkatan menjadi Rp 2.510 triliun (rasio CASA 53,59 persen) per Oktober 2016 dari Rp 2.302 triliun (rasio CASA 52,68 persen) per Oktober 2015. Artinya, telah meningkat sekitar Rp 208 triliun (9 persen). Namun, kredit per Oktober 2016 hanya tumbuh 7,4 persen (Rp 4.246,6 triliun) meski masih lebih baik dibandingkan dengan September 2016 yang tumbuh 6,4 persen year-on-year (yoy).

Optimisme pertumbuhan DPK diyakini seiring dengan masuknya aliran dana repatriasi dari kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) dan tumbuhnya investasi. Tahun 2017, Bank Indonesia (BI) memperkirakan penyaluran kredit akan tumbuh 11-12 persen. Pertumbuhan DPK harus dilakukan seiring dengan peningkatan target pertumbuhan kredit bank pada 2017. Saat ini secara total pertumbuhan DPK per Oktober 2016 sebesar 6,5 persen. Untuk memacu pertumbuhan kredit tersebut, setidaknya harus dicapai pertumbuhan DPK 12-13 persen pada 2017.

Sebagai imbal balik dari pertumbuhan kredit perbankan, diharapkan sektor riil dapat bertumbuh untuk mengurangi pengangguran. Esensi penyaluran kredit perbankan tentu untuk memacu ekspansi dan perkembangan usaha agar tercipta permintaan angkatan kerja. Pemerintah bersama perbankan harus berusaha menyalurkan kredit kepada sektor yang produktif dan bisa menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.

Sektor industri pariwisata, pertanian, perdagangan, konstruksi, serta komunikasi dan informasi bisa menjadi pionir dalam pengurangan angka pengangguran pada 2017 karena sektor industri ini yang paling diharapkan untuk menyerap tenaga kerja. Tahun 2017 pemerintah telah menargetkan tingkat pengangguran terbuka 5,3-5,6 persen dan tingkat kemiskinan 9,5-10,5 persen karena per akhir 2016 diyakini angka pengangguran terbuka mencapai 5,7 persen dan kemiskinan 10,6 persen.

Kedua, soal transparansi, kualitas, dan tanggung jawab alokasi anggaran terhadap target pertumbuhan ekonomi, terutama anggaran dana transfer ke daerah dan pembangunan infrastruktur. Harian Kompas(16/1/2017) mencatat hal menarik bahwa selama ini tidak pernah ada pertanggungjawaban publik terhadap capaian target dari alokasi anggaran, terutama dampaknya terhadap ekonomi Indonesia.

Alokasi belanja negara dalam pagu APBN 2017 telah ditetapkan Rp 2.080,5 triliun, yang akan dibiayai dari (target) pendapatan Rp 1.750,3 triliun dan utang negara Rp 330,2 triliun. Dari alokasi belanja ini, anggaran infrastruktur Rp 317 triliun dan transfer ke daerah Rp 764,9 triliun, merupakan angka superfantastis. Ke depan, pemerintah harus mengedepankan transparansi anggaran dan kajian untuk memastikan penggunaan anggaran berdampak positif terhadap kemajuan kehidupan dan kesejahteraan bangsa. Artinya, besarnya anggaran yang dialokasikan tak hanya tecermin dari pembangunan secara kuantitas dan fisik semata, tetapi juga harus lebih berkualitas dalam hal memperbaiki kesejahteraan bangsa.

Penulis sangat yakin bahwa alokasi dan transparansi dari anggaran infrastruktur serta transfer ke daerah akan sangat vital dalam menunjang pemerataan ekonomi, penanggulangan kemiskinan, dan kesenjangan sosial selama penggunaan anggaran tersebut dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan rasa memiliki (sense of belonging)serta terhindar dari praktik korupsi. Selain peningkatan kajian ekonomi, diperlukan juga peran serta masyarakat untuk mengawasi capaian target dari alokasi anggaran tersebut. Kontrol dan pengawasan kita bersama diharapkan mampu menjaga pemerintah berada dalam koridor arah ekonomi yang benar. Pemerintah juga harus semakin meningkatkan keterbukaan. Saran dan kritik yang membangun dari para ahli ekonomi dan masyarakat perlu diterima dengan baik untuk memberikan manfaat mulia bagi kemajuan ekonomi nasional.

Aspek politik

Hal ketiga adalah terkait aspek politik. Bagaimanapun pertumbuhan ekonomi akan dipengaruhi situasi kondisi politik, baik dalam maupun luar negeri, terutama dalam negeri. Kondisi politik Indonesia pada 2017 kian memanas, terutama terkait agenda pilkada serentak 2017 dan perdebatan perlu tidaknya ambang batas pilpres (presidential threshold) pada Pemilu 2019.Energi dan perhatian pemerintah dalam menyukseskan agenda politik besar Pilkada 2017 menjadi tantangan yang tak ringan. Sukses penyelenggaraan pilkada serentak 2017 juga menjadi ujian demokrasi Indonesia serta acuan bagi para pengusaha dan investor untuk mengembangkan bisnis di Indonesia.

Kita bersyukur kondisi damai dan aman selama pilkada umumnya dapat terwujud, dalam arti kandidat kepala daerah siap kalah dan siap menang. Pengajuan protes atas hasil pilkada tak dilarang selama tak menimbulkan dan tak memancing timbulnya potensi konflik komunal yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi. Agenda penentuan perlu tidaknya presidential threshold juga jangan dianggap remeh. Pembahasan perlu tidaknya presidential threshold harus segera diputuskan dengan baik. Harapannya, tentu saja, agar fokus dan energi pemerintah tak banyak termakan untuk agenda politik dibandingkan dengan agenda ekonomi. Mekanisme pemilu serentak 2019, dengan tak adanya  presidential  threshold, akan memungkinkan setiap parpol, bahkan parpol pendukung pemerintah saat ini, dapat mengajukan capres-cawapres sendiri-sendiri.

Hal ini bisa menjadi alamat buruk bagi pemerintah karena dipastikan setiap parpol akan mengambil jalan sendiri dan mengganggu agenda pemerintah karena parpol akan lebih sibuk dengan agenda Pemilu 2019 daripada bekerja bersama pemerintah saat ini. Penulis yakin bahwa tahun 2017 adalah tahun pertaruhan terakhir pemerintah periode 2017-2019 karena tahun depan hampir dipastikan secara politik, parpol akan lebih sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi agenda Pemilu 2019.

Di atas segala tantangan yang ada, penulis masih menaruh harapan untuk tetap optimistis dalam mengarungi 2017. Segala tekanan dan faktor negatif dari luar negeri tentu dapat diredam dengan memperkuat ketahanan nasional melalui kerja keras, keterbukaan dan kebersamaan antara pemerintah, pengusaha, investor, dan seluruh rakyat Indonesia.

Sekali lagi, suasana kondusif, aman, dan damai serta tidak terpengaruh berita negatif—apalagi hoaks—sangat diperlukan demi terwujudnya Indonesia maju, sejahtera, dan tangguh, baik secara ekonomi maupun politik.

Sabtu, 21 Januari 2017

Tantangan Ekonomi 2017

Tantangan Ekonomi 2017
Berly Martawardaya ;  Dosen FEB-UI, Ekonom INDEF; 
Ketua PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)
                                                KORAN SINDO, 20 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Niels Bohr, pemenang hadiah Nobel Fisika pada 1922, menyatakan bahwa melakukan prediksi sangat sulit, khususnya prediksi tentang masa depan. Sekitar dua tahun lalu (KORAN SINDO, 17/12/2014) penulis menyatakan bahwa ekonomi dua tahun ke depan akan mengalami perlambatan.

Periode 2015-2016 adalah masa menanam dan menata ulang ekonomi untuk memanen pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran pada periode 2017-2018. Tentu pertumbuhan yang lebih tinggi dari 4,79% pada 2015 dan sekitar 5% pada 2016 akan lebih baik, apalagi kalau bisa menembus 6,95% pada 2007 yang tertinggi sejak krismon Asia 1998.

Setelah krisis subprime mortgage 2009, pertumbuhan sempat mencapai 6,15% pada 2011 dan setelah itu terus alami perlambatan. Kenapa pertumbuhan ekonomi terus menurun sejak 2011 dan bagaimana membalikkan tren tersebut? Jawaban utama adalah melambatnya sektor manufaktur yang masih merupakan seperlima perekonomian Indonesia dan menjadi motor perekonomian pada masa Orde Baru.

Apabila sektor terbesar melambat, otomatis keseluruhan perekonomian akan turun pertumbuhannya. Pada 2011 adalah tahun terakhir di mana pertumbuhan sektor manufaktur lebih tinggi dari pertumbuhan nasional. Sektor manufaktur seperti eskalator yang mampu menyerap penduduk berpendidikan rendah dan menyediakan pekerjaan jangka panjang untuk mendorong mobilitas vertikal.

Melemahnya sektor manufaktur ketika pendidikan sebagian masyarakat masih kurang memadai untuk bekerja di sektor jasa bernilai tambah tinggi seperti perbankan dan telekomunikasi, akan berakibat pada perlambatan pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesenjangan. Itulah yang terjadi sejak 2011.

Jokowi lama menjalani profesi sebagai pengusaha dan eksportir mebel yang merupakan bagian dari sektor manufaktur. Pengalamannya memimpin dan mendorong ekonomi Kota Solo menambah kesadaran pentingnya sektor manufaktur pada perekonomian nasional. Apa saja yang diperlukan untuk menggenjot pertumbuhan industri Indonesia?

Selain market yang besar dan berkembang, pengusaha juga akan memilih daerah yang lebih mudah membangun pabrik, menjalankan dan menjual hasil produksinya. Pemikiran ini membawa kebijakan ekonomi pemerintahan Jokowi untuk fokus memperbaiki infrastruktur khususnya jalan dan listrik serta memperbaiki iklim usaha dan memotong proses perizinan.

Dalam ekonomi dan keuangan dikenal istilah J-curve, yaitu kurva yang menurun untuk naik lagi. Perusahaan atau wilayah perekonomian sering mengikuti pola ini karena pada awal perubahan diperlukan penyesuaian dan realokasi sumber daya sebelum competitiveness bisa menguat lagi.

Dana yang tadinya dialokasikan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan mendorong konsumsi masyarakat digunakan untuk membangun infrastruktur. Pada saat konstruksi infrastruktur menghasilkan multiplier effect positif pada perekonomian, tapiprosesmenarik investasi baru dan pembangunan fasilitas produksi membutuhkan waktu.

Transisi dari berkurangnya konsumsi dan belum menguatnya industri dan ekspor turut berperan dalam perlambatan ekonomi pada 2015- 2016. Apalagi, juga terjadi perlambatan ekonomi global dan kebakaran hutan di Indonesia. Akankah 2017 menjadi periode untuk memanen pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran?

Tergantung bagaimana pemerintah merespons lima tantangan besar. Tantangan pertama adalah disiplin dan pengawasan dalam melakukan pembangunan infrastruktur dan penguatan iklim investasi. Perbaikan belum tuntas dan masih banyak pekerjaan yang bila tidak diawasi ketat dapat menimbulkan masalah.

Jalan tol Trans-Jawa dari Merak sudah bisa langsung sampai Brebes pada 2016 dan tahun ini ditargetkan selesai sampai Semarang untuk tersambung sampai Banyuwangi pada 2019. Masih ada puluhan bandara, pelabuhan, serta ribuan jembatan yang akan dibangun atau renovasi pada 2017. Apabila pemerintah, khususnya Kementrian PU dan Perhubungan, tidak jeli dan ketat dalam menjaga kualitas, daya dorong infrastruktur dan kredibilitas terhadap investor akan menurun.

Sangat penting bahwa pemerintah transparan dan secara periodik menyampaikan perkembangan pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur secara masif membutuhkan dana yang tidak sedikit sehingga membawa kita pada tantangan kedua yaitu penerimaan negara khususnya pajak. Penerimaan pajak pada 2015 yang di bawah target menurunkan kredibilitas kebijakan fiskal.

Masuknya Sri Mulyani pada pertengahan 2016 sebagai menteri keuangan membawa disiplin dan realisme yang ketat dengan dipotongnya belanja sebesar Rp133,8 triliun. Kondisi fiskal 2017 tidak bisa lagi berharap terangkat oleh tax amnesty yang pada tahap terakhir dan tidak akan menghasilkan dana tebusan sebesar tahap sebelumnya pada 2016.

Adalah tantangan bagi aparat pajak untuk membuktikan bahwa tax amnesty bukan hanya menghasilkan dana pada 2016, tapi selanjutnya juga meningkatkan penerimaan pajak dan tax ratio. Salah satu sumber pendapatan negara dan perusahaan adalah harga global dan kondisi sektor migas yang menjadi tantangan ketiga. Sudah beberapa tahun tidak banyak terjadi investasi baru pada sektor migas.

Pada 2016 bahkan terdapat 14 lelang ulang ladang migas karena pada lelang pertama tidak mendapatkan peminat yang memadai. Sepakatnya OPEC untuk memotongproduksidanmembaiknya ekonomi dunia berpotensi meningkatkan harga migas dunia.

Tapi, pada lain sisi, Kementerian ESDM mengubah sistem cost recovery di production sharing contract (PSC) yang sudah dianut sejak 1961 menjadi grosssplit yang walau di atas kertas memiliki beberapa keunggulan, tapi memerlukan waktu implementasi dan penyesuaian bagi para kontraktor migas untuk mengalkulasi dan simulasi.

Net effect dari kenaikan harga migas dan pergantian sistem kontrak masih belum bisa dipastikan dan perlu pengamatan beberapa bulan ke depan. Tantangan keempat adalah proteksionisme negara maju. Melambatnya perekonomian di Eropa dan Amerika serta terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika memperkuat semangat proteksionisme.

Apabila banyak muncul kebijakan yang membatasi ekspor, akibatnya akan merugikan negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada jangka pendek, ekspektasi berkurangnya impor Amerika terhadap produk negara berkembang akan mendorong kenaikan inflasi dan suku bunga di Amerika yang sebabkan keluarnya modal dan investasi portofolio dari negara berkembang.

Pada jangka menengah, pendapatan negara berkembang dari ekspor ke Amerika akan berkurang sehingga dampak negatifnya akumulatif. Dua negara besar di Eropa, Prancis dan Jerman, akan melakukan pemilihan umum pada 2017. Isu besar yang dihadapi adalah populisme dan semangat menutup diri.

Apabila calon dari kubu tersebut berhasil menjadi presiden Prancis dan kanselir Jerman, dampak negatif bagi ekonomi negara berkembang akan makin besar. Tantangan besar kelima bagi ekonomi Indonesia pada 2017 adalah kondisi ekonomi China. Walau masih menembus 6,5%, pertumbuhan ekonomi di China terus melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2016 China sempat mengalami guncangan nilai saham serta nilai tukar yang signifikan dan memiliki debt to GDP ratio sebesar 247%. Sebagai perekonomian kedua terbesar dunia dan sasaran 11,5% ekspor Indonesia pada 2016, perlambatan dan guncangan ekonomi di China akan terasa dampaknya bagi Indonesia.

Tantangan pertama dan kedua berada di dalam negeri dan bisa diatasi dengan kebijakan yang tajam dan disiplin dalam implementasi. Namun, tiga tantangan berikutnya ada di luar negeri sehingga pemerintah perlu mempersiapkan beberapa skenario serta sigap dalam merespons sehingga 2017 dapat menjadi tahun pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran rakyat. ●