Selasa, 29 September 2026

 

Siapa Memikul Utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Fery Firmansyah :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  28 September 2026

 

 

 

·      Sebelum dicopot dari kursi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan penyelesaian utang Whoosh akan diambil alih pemerintah.

 

·      Kementerian Keuangan merancang pembentukan SMV untuk membereskan utang kereta cepat berikut bunganya.

 

·      Lembaga yang ditunjuk pemerintah memberi sinyal tidak sanggup membayar utang Whoosh yang sangat besar.

 

SEBELUM lengser dari jabatan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa melempar polemik soal penyelesaian utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Pada awalnya dia melempar tanggung jawab itu kepada Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai induk semua badan usaha milik negara. Belakangan, Purbaya menyatakan pembayaran utang itu akan diselesaikan Kementerian Keuangan.

 

Informasi soal saling lempar penyelesaian utang Whoosh pada awalnya akan kami sajikan dua pekan lalu. Anggota tim Ekonomi dan Bisnis Tempo, Han Revanda Putra, sudah mendapatkan banyak informasi soal rencana penyelesaian utang Whoosh. Termasuk berbagai skema yang dirancang Kementerian Keuangan.

 

Di mata kami, isu ini amat seksi. Selain karena Whoosh adalah proyek strategis dengan nilai signifikan, ada unsur politik yang kental. Pertanyaannya, bagaimana pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyelesaikan utang besar yang diciptakan pendahulunya, Joko Widodo? Benarkah negara akan turun tangan mengingat komitmen awal proyek Whoosh adalah tidak akan menyentuh anggaran negara?

 

Ndilalah, sebelum kami menuliskannya, Prabowo kadung mencopot Purbaya. Tentu saja, tak mungkin kami alpa menuliskan kabar mahapenting ini, termasuk apa yang terjadi di baliknya. Jadilah pada edisi 20 September 2026 kami menurunkan laporan soal pencopotan Purbaya. Lengkapnya, bisa Anda baca di sini. Dan karena itu pula laporan soal utang Whoosh terpaksa ditunda.

 

Tapi, seperti yang sering kami alami, tak mudah menuliskan isu atau peristiwa yang sempat tertunda. Dalam konteks isu utang proyek kereta cepat, kami harus mencari kebaruan. Dan itu menjadi sulit tatkala tak ada peristiwa baru.

 

Karena itu, Revan bersama anggota tim Ekonomi dan Bisnis lain harus blusukan lebih dalam, bertemu dengan lebih banyak narasumber untuk mencari informasi mutakhir.

 

Toh, usaha tak mengkhianati hasil. Setelah berbincang dengan sejumlah pejabat, antara lain dari Kementerian Keuangan dan Badan Pengelola BUMN, ada serpihan-serpihan informasi baru yang tak diperoleh rekan dari media lain.

 

Salah satunya cerita soal bagaimana pemerintah akan menggunakan sejumlah entitas khusus atau special mission vehicle (SMV) dalam menyelesaikan utang Whoosh. Ada tiga opsi yang ditempuh, berikut drama dalam pengambilan keputusannya yang bisa Anda baca di sini.

 

Skema yang dirancang pemerintah itu pada kenyataannya tak mulus. Sebab, SMV yang terdiri atas lembaga seperti PT Sarana Multi infrastruktur atau SMI dan Indonesia Investment Authority atau INA juga segan menanggung utang Whoosh, yang nilainya mencapai US$ 7,3 miliar atau sekitar Rp 130 triliun.

 

Dengan tenor 80 tahun, itu pun jika pemerintah menyepakati restrukturisasi dengan para pemberi pinjaman, dalam setahun cicilan yang harus dibayar minimal Rp 1,2 triliun.

 

Melihat nilai utangnya, siapa sih yang mau menanggung?

 

Apalagi jika melihat kinerja Whoosh yang sampai saat ini belum sesuai dengan target. Anda bisa membaca tulisan ini jika ingin melihat lebih detail persoalan keuangan yang dihadapi Whoosh. Yang jelas, gara-gara proyek mercusuar di era Jokowi ini, banyak yang bakal kena getahnya. Dan sepertinya kisah ini masih akan bergulir panjang, lebih panjang daripada rangkaian kereta Whoosh. ●

                                                                                

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/penyelesaian-utang-kereta-cepat-whoosh-2294463

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar