|
Koboi yang Minta Dijemput Istri: Sisi Lain Purbaya yang Tak Pernah
Masuk Berita Saputra : Kolumnis. |
ORBIT INDONESIA, 19 September 2026
|
Purbaya Yudhi Sadewa
dikenal sebagai menteri yang blak-blakan. Ia bicara seperti koboi, katanya
sendiri. Di rapat DPR, ia bisa menyindir anggota dewan dengan santai, lalu
tertawa. Di podium, ia menolak
membaca teks pidato, memilih bicara lepas atau lebih sering, singkat. Tapi di
balik semua itu, ada satu sosok yang jarang disorot, Ida Yulidina, istrinya. Perempuan yang Menang di
Atas Panggung, Lalu Memilih Turun Tahun 1989, Ida Yulidina
memenangi Wajah Femina, mengalahkan Diah Permatasari yang harus puas di
posisi kedua. Wajahnya menghiasi sampul majalah, namanya disebut-sebut
sebagai model pendatang baru yang menjanjikan. Di dunia yang gemar sorotan,
ia punya tiket masuk ke panggung hiburan. Tapi ia memilih turun. Di
tahun yang sama, ia menikah dengan Purbaya seorang pria yang saat itu masih
merintis karier. Ia meninggalkan sorotan, memilih menjadi istri, lalu ibu dari
dua anak: Yuda Purboyo Sunu dan Yudo Achilles Sadewa. Dari luar, hidup mereka
sederhana. Purbaya pernah mengunggah foto mereka naik bajaj ke ITC Fatmawati
dengan caption "SATURDATE". Mereka juga terlihat
antre tiket Pekan Raya Jakarta seperti pengunjung biasa. Ida membawa tas Joy
Gryson Tribeca seharga Rp3,7 juta, bukan Hermès, bukan Chanel. Di kalangan
istri pejabat, ini nyaris seperti memakai seragam pramuka di pesta dansa. Kesederhanaan yang tidak
dibuat-buat. Seperti rumah yang tidak perlu pagar tinggi karena tidak ada
yang perlu disembunyikan. Ada satu momen yang
mengungkap dinamika mereka. Saat Purbaya berani menargetkan pertumbuhan
ekonomi 6–7 persen di rapat dengan Komisi XI DPR, ia bercerita bahwa istrinya
sendiri menyebutnya sombong. "Istri saya bilang
'kamu sombong'," ujarnya sambil tertawa. Tapi itu bukan ejekan.
Itu cara Ida mengingatkan: jangan terlalu tinggi terbang, nanti sulit
mendarat. Dan Purbaya mendengarkan. Ia tidak marah, tidak tersinggung. Ia
justru menceritakannya di depan dewan, seolah berkata: "Lihat, bahkan
istri saya mengingatkan saya." Telepon dari Istana Senin, 14 September 2026.
Purbaya masih di ruang rapat Komite IV DPD. Lalu telepon dari Istana. Ia
dipanggil. Beberapa jam kemudian, namanya tidak lagi tercatat sebagai Menteri
Keuangan. Di rumah, Ida menunggu.
Ia melihat suaminya pulang, bukan dengan langkah koboi yang biasanya tegap,
tapi dengan kecewa yang disembunyikan. Ida menulis di media sosial, dengan
bahasa yang sederhana tapi menusuk: "Emang negara kita
tidak bisa diperbaiki, kebanyakan orang jahatnya daripada yang jujur." Bukan kalimat panjang.
Bukan pembelaan berapi-api. Hanya satu kalimat yang keluar dari hati seorang
istri yang melihat suaminya jatuh dan tahu bahwa jatuhnya bukan karena salah,
tapi karena mungkin terlalu jujur. "Mohon maaf bapak
sudah berusaha semaksimal mungkin, kalau masih mengecewakan. Pada akhirnya
nanti kebenaran juga akan terungkap." Ia juga mengungkap
sesuatu yang lebih dalam. Dua bulan sebelum pencopotan, Purbaya gelisah. Ia ragu.
Ia ingin memutasi "orang-orang mengerikan" tapi takut. Ida hanya
berkata: "Kerjakan saja
menurut hati nurani kamu." Seperti istri yang
melihat suaminya berdiri di tepi jurang, dan memilih tidak menariknya, tapi
mendorongnya untuk jujur pada dirinya sendiri. Ada satu detail kecil
yang membuat cerita ini terasa sangat manusiawi. Saat kabar pencopotan
datang, Purbaya meminta dijemput di kantor. Bukan pulang sendiri. Bukan naik
taksi. Ia minta istrinya datang. "Barusan bapak minta
dijemput di kantor, kasihan mungkin dia kecewa tapi nggak papa, semoga
kuat." Seorang menteri yang di
depan publik bicara seperti koboi, di belakang panggung minta dijemput
istrinya. Bukan karena tidak bisa pulang sendiri, tapi karena ia butuh
seseorang yang tidak perlu ia jelaskan apa pun. Seseorang yang sudah tahu,
tanpa bertanya, bahwa hari ini berat. Ida datang. Ia menjemput
suaminya. Ia tidak berbicara ke kamera, tidak memberi pernyataan panjang. Ia
hanya ada di sana. Suami Ida Purbaya mungkin akan
kembali ke rumah, memancing di belakang, melamun kenapa ia dipecat. Tapi ia
tidak pulang ke rumah kosong. Ada Ida, yang sudah menunggunya sejak 1989. Ada
dua anak yang mungkin sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri, Yudo dengan
trading-nya, Yuda dengan bisnis ikan nilanya. Di depan publik, Purbaya
adalah menteri yang berani menyebut Bea Cukai "sarang mafia" dan
menolak membaca teks pidato. Di rumah, ia adalah suami yang minta dijemput
saat sedih, dan istrinya menyebutnya "sombong" saat ia terlalu
percaya diri. Itulah sisi lain yang
tidak pernah masuk berita ekonomi. Bahwa di balik setiap keputusan besar, ada
manusia yang bisa kecewa, bisa gelisah, dan bisa butuh dipeluk tanpa perlu
menjelaskan mengapa. Dan mungkin, di antara
semua jabatan yang pernah ia pegang, "suami Ida" adalah
satu-satunya yang tidak pernah bisa dicopot oleh siapa pun. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar