Dahlan
Iskan dan Lee Kuan Yew
Tom
Saptaatmaja ; Kolumnis,
Alumnus STFT
Widya Sasana Malang dan Seminari St Vincent de Paul
|
JAWA
POS, 17 Mei 2014
|
Hasil
Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat akhirnya menyatakan bahwa Menteri
BUMN Dahlan Iskan (DI) adalah pemenang konvensi. Bahkan, ketika memandu
sebuah talk show di Unika WM dengan
narasumber Rohman Budijanto, direktur JPIP, pada Minggu (11/5), penulis sudah
menyebut kemenangan DI tersebut.
Sebelum
jadi pemenang konvensi, popularitas DI memang melejit berkat film Sepatu Dahlan dan biografinya, The Next One. Namun, rasanya tidak
afdal, jika siapa pun pendukung DI, tidak mendengar suara gaib dalam tidur
saya setelah DI dilantik sebagai menteri BUMN pada 19 Oktober 2011. Swear, believe it or not, terdengar
suara yang muncul di antara tidur dan terjaga. Suara itu adalah Dahlan Iskan for the next president.
Suaranya dalam bahasa Inggris. Bukan bahasa Indonesia atau Jawa.
Jangan
lupa, penunjukan beberapa tokoh besar dalam sejarah, seperti Yusuf, Musa,
atau Abraham Lincoln, sebagai pemimpin bangsanya dimulai dari sebuah suara di
dalam mimpi. Setelah suara itu, saya bertanya-tanya apa maknanya? Impian itu
mungkin hanya bunga tidur.
Apalagi,
jujur saja dalam realitas, saya tidak pernah kenal face-to-face dengan DI. Sebagai orang yang sering golput dalam
pemilu, saya juga tidak pernah mengidolakan siapa pun. Saya hanya tahu DI
sukses membesarkan Jawa Pos. DI makin mencuat namanya di negeri ini setelah
berhasil membawa Perusahaan Listrik Negara. Apalagi penolakan DI untuk
menggunakan fasilitas negara jelas perlu dicontoh. Jika para birokrat di
negeri ini mencontoh hal ini, jelas negeri ini akan kian hebat.
Kalau
ada kisah DI yang menarik minat, paling ketika dia berangkat ke sekolah,
bahkan sampai di SMA, tidak pernah memakai sepatu. Jadi, dia berjalan dengan
kaki telanjang sejauh 5-10 kilometer dari rumah ke sekolah. Itu sama dengan
pengalaman saya di SD.
Kekaguman
saya yang lain adalah pada tulisan-tulisannya yang terus mengalir meski DI
sudah menjadi orang penting. Namun, di atas segala-galanya, dari semua
pengalaman DI, yang luar biasa adalah perjuangan hidup matinya ketika
melakukan transplantasi liver atau ganti hati. Itu mungkin peristiwa paling
heroik di sepanjang hidupnya, apalagi hati yang ditransplantasikan milik
seorang pemuda Tiongkok berumur 21 tahun. Pantas semangat DI terus menyala.
Ketika
transplantasi pada 2007 itu, banyak doa yang dipanjatkan untuk DI. Umat
Islam, Kristen, Buddha hingga aliran Kebatinan Sapto Darmo ikut berdoa. Itu
menunjukkan sosok beliau yang bisa diterima semua kalangan.
Biasanya,
orang yang sudah punya pengalaman eksistensial seperti itu akan lebih
sungguh-sungguh membaktikan hidupnya. Jelas negeri yang sangat kaya sumber
daya alam dan SDM, tapi juga penuh 1001 masalah ini membutuhkan pemimpin
seperti DI. Dan dari sekian banyak masalah di negeri ini, kepemimpinan justru
jadi bagian dari permasalahan terbesar karena para pemimpin kita, baik di
pusat maupun daerah, selama ini dinilai lemah.
Seperti
diketahui, kepemimpinan selalu terkait dengan visi, potensi, atau kapabilitas
dalam meracik strategi guna meraih apa yang menjadi impian bersama, didukung
integritas dan track record atau
pengalaman. Menurut John P. Kotter, kepemimpinan itu meletakkan visi tentang
masa depan dan bagaimana menerapkan strategi untuk meraihnya. DI jelas
memenuhi syarat sebagai pemimpin bagi negeri yang sangat beragam ini.
Di mata
saya, DI mirip Lee Kuan Yew yang sukses memimpin dan memajukan Singapura.
Seperti diketahui, pada 1959, Singapura memisahkan diri dari federasi dengan
Malaysia. Pada tahun tersebut, Lee dengan partainya, People's Action Party, berhasil memenangkan pemilu, merebut 41
dari 53 kursi di parlemen.
Ketika
naik ke kursi perdana menteri, kas negara kosong, konflik antaretnis sering
meletup, penegakan hukum buruk, pengangguran mencapai 14 persen, disiplin
warganya rendah sehingga sampah ada di mana-mana. Kekayaan alam tidak ada.
Luas Singapura hanya 400 km² . Tidak ada yang menarik. Namun, Lee mempunyai
impian besar bahwa negerinya yang kecil akan menjadi negara yang bersih,
disiplin, memegang tradisi, dan tentu saja kaya.
Impian
itu menuntut konsekuensi, yakni perubahan mental dan kerja keras aparat
pemerintah dan rakyat. Lee menugasi Dr Goh Keng Swee untuk merancang
pembangunan ekonomi yang agresif. Lee juga meminta bantuan PBB untuk
mengirimkan ahli ekonominya pada 1960. PBB mengirim Albert Winsemius dibantu
IF Tang.
Dengan
bantuan mereka, Lee merumuskan strategi pembangunan ekonomi globalnya yang
berorientasi pada keunggulan daya saing dan produktivitas lewat pemerintah
yang bersih, masyarakat yang disiplin, dan industrialisasi yang dikawal kaum
profesional. Lee tidak pernah antiorang asing, asal mereka profesional dan
mau memajukan Singapura. Tentu saja Lee tidak mengubah Singapura dalam
sekejap.
Tantangan
pasti ada. Lee dicap pelanggar HAM. Namun, Lee yakin dengan kebijakannya
untuk mengubah Singapura menjadi negara maju yang disegani. Perjuangan
panjangnya berhasil. Pada saat Lee mundur dari kursi perdana menteri pada
1990, pendapatan per kapita mencapai USD 14.000, lalu pada 2013 menjadi USD
61.567 atau setara Rp 601,32 juta, tertinggi di dunia. Jika Lee bisa, DI dan
Indonesia bisa juga! ●
|