|
Seberapa
Penting Kapal Baruna Jaya untuk Riset Maritim Defara Dhanya : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 13 September 2026
|
· Kondisi lima kapal riset Baruna Jaya
milik BRIN memprihatinkan sejak berhenti beroperasi pada akhir 2021. · Pimpinan baru BRIN berniat memperkuat
armada riset kelautan. Pengadaan kapal baru dimulai bersamaan dengan agenda
revitalisasi Baruna Jaya. · Upaya revitalisasi Baruna Jaya telah
dimulai pada Maret 2026 melalui survei visual. Agenda perbaikan dirancang
bertahap. DARI kejauhan,
lima kapal riset Baruna Jaya terlihat mentereng. Ukurannya digdaya di antara
ratusan kapal penangkap ikan yang pada Selasa siang itu, 1 September 2026,
bersandar di area Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Penjaringan,
Jakarta Utara. Namun, jika dilihat dari dekat, wajah bahtera milik Badan
Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut tak gahar lagi. Tertambat
di pinggiran beton dermaga, Baruna Jaya II tampak paling kusam. Catnya
mengelupas di beberapa bagian. Sebagian badan kapal, terutama beberapa
perangkat di atas geladak yang terbuat dari besi, telah dimakan karat. Di
sebelahnya, Baruna Jaya IV, I, VIII, dan III diparkir sejajar berimpitan
dengan kondisi serupa. Ruang
kemudi kapal-kapal itu masih lengkap. Panel kontrol, radio komunikasi, dan
perangkat navigasi bertengger di tempatnya. Namun, seperti ruangan lain,
bagian anjungan lebih mirip gudang: dipenuhi tumpukan kardus dan perkakas
berdebu yang sebagian di antaranya ditutup terpal. Karet anti-slip yang
membungkus lantai di koridor kapal juga tak lagi utuh, sebagian menggelembung
dan bahkan telah robek. Seandainya
tak ada petugas jaga di atas kapal dan sekuriti yang bersiaga di tepi
dermaga, lima kapal Baruna Jaya tidak akan terlihat sebagai aset strategis
nasional. Tim itu bertugas secara bergiliran tiga hari sekali untuk
mengantisipasi potensi kebakaran dan pencurian. Tali
tambang di buritan dan dapra alias bantalan di lambung kapal menjadi salah
satu alat yang wajib mereka cek setiap hari. “Karena pernah talinya putus
tengah malam,” kata seorang petugas keamanan yang enggan disebutkan namanya.
“Kalau cuaca benar-benar ekstrem, kapal bertumbukan,” dia menambahkan. Tahun
ini, tepat setengah dekade armada Baruna Jaya mati suri. Kapal-kapal riset
yang dulu dikelola Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT dan
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI itu berhenti beroperasi sejak
akhir 2021. Laporan Tempo bertajuk “Baruna Jaya Porak-poranda” pada edisi 21
Januari 2023 menggambarkan kebijakan peleburan semua lembaga riset pemerintah
ke dalam BRIN telah berdampak pada pengelolaan instrumen penelitian, termasuk
kapal riset. Kepala
BRIN saat itu, Laksana Tri Handoko, memutuskan memarkir semua kapal Baruna
Jaya dengan dalih pengelolaan kapal sebelumnya sangat buruk. Dengan alasan
itu pula pimpinan BRIN melelang pengelolaan Baruna Jaya I, III, dan VIII yang
kemudian dimenangi PT Sinarmas LDA Maritime, perusahaan patungan Grup Sinar
Mas dan Louis Dreyfus Armateurs—penyedia jasa manajemen kapal asal Prancis. Ditemui
Tempo di geladak Baruna Jaya VIII pada Senin, 1 September 2026, Mohamad
Afandi Juluhun tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia adalah mantan
nakhoda kapal itu. Ketika Baruna Jaya VIII berhenti beroperasi, di masa
kepemimpinan Laksana Tri Handoko, Afandi dipindahkan untuk sementara ke Biro
Organisasi dan Sumber Daya Manusia BRIN. Belakangan,
setelah pucuk pimpinan BRIN beralih ke Arif Satria pada medio November 2025,
Afandi kembali dipindahkan ke Direktorat Pengelolaan Armada Kapal Riset.
Sekarang dia berperan sebagai port captain, kapten yang bersiaga di area
dermaga untuk mengawasi pengoperasian kapal. Di masa
pimpinan lama BRIN, Afandi mengaku beberapa kali melayangkan protes kepada
Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi ihwal kondisi Baruna Jaya yang
memprihatinkan. Namun, menurut dia, pimpinan BRIN saat itu tidak menggubris
dengan alasan keterbatasan anggaran. “Sayang sekali, kapal dengan peralatan
canggih seperti ini dibiarkan saja,” tutur Afandi. Karena
itu, Afandi berharap pemerintah dan pimpinan baru BRIN segera mengaudit dan
menginventarisasi kondisi seluruh armada Baruna Jaya secara komprehensif.
Pemeriksaan menyeluruh itu diperlukan untuk menentukan langkah-langkah
pemeliharaan, perbaikan, dan pengoperasian kembali kapal riset yang masih
dapat diselamatkan. Bagi Afandi, mangkraknya Baruna Jaya beberapa tahun
terakhir tidak hanya menyebabkan kerusakan di sebagian perangkat kapal, tapi
juga memicu kerugian bagi ekosistem riset kelautan. ••• NASIB
kapal riset Baruna Jaya kembali menarik perhatian setelah pimpinan baru Badan
Riset dan Inovasi Nasional menyiapkan armada anyar. Pada 11 Juni 2026, BRIN
meneken kontrak pembangunan dua kapal riset dengan Chantiers Piriou,
perusahaan galangan kapal asal Prancis yang memenangi tender. Pembangunan
kapal senilai 88 juta euro—sekitar Rp 1,79 triliun—ini merupakan realisasi
Proyek Kapal Riset Nasional atau Krisna, yang merupakan hasil kerja sama
pemerintah RI, Bank Pembangunan Prancis (AFD), dan Uni Eropa. Direktur
Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto menjelaskan, dua
kapal riset baru itu kelak memiliki fungsi berbeda. Unit pertama berupa kapal
riset samudra yang disiapkan sebagai laboratorium terapung untuk penelitian
laut dalam. Sedangkan unit kedua menjalankan fungsi kapal riset pesisir yang
beroperasi di perairan dangkal, termasuk muara sungai. Ditargetkan rampung
dibangun pada akhir 2029, dua kapal riset baru tersebut akan menjalankan
riset geosains kelautan, biodiversitas, oseanografi, dan hidrografi. Menurut
Nugroho, selain menjalankan proyek dengan skema pinjaman dan/atau hibah luar
negeri tersebut, BRIN sedang menyiapkan pengadaan kapal riset melalui
mekanisme kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). Dalam skema ini,
pemerintah akan bekerja sama dengan pihak swasta untuk membangun, mengelola,
dan mengoperasikan armada riset baru. “Nantinya
konsep KPBU ini akan ditenderkan juga secara terbuka. Kami berharap dapat
dibangun di galangan kapal dalam negeri,” kata Nugroho pada Rabu, 2 September
2026. Hingga
saat ini, proyek kapal riset baru melalui skema KPBU masih dalam tahap
persiapan di Kementerian Keuangan dengan pendampingan PT Penjaminan
Infrastruktur Indonesia. Targetnya, menurut Nugroho, pembangunan kapal baru
itu rampung bersamaan dengan dua kapal produksi Piriou. Kendati
akan membangun tiga kapal riset baru, Kepala BRIN Arif Satria memastikan
lembaganya tidak akan kembali menelantarkan Baruna Jaya. Menurut dia, BRIN
tengah menyusun Rencana Revitalisasi Kapal Riset Baruna Jaya. Pelaksanaannya
dirancang bertahap mulai tahun anggaran 2026 hingga 2028, beriringan dengan
pembangunan kapal baru. Arif
berharap delapan kapal riset BRIN—terdiri atas lima kapal lama dan tiga kapal
baru—dapat beroperasi penuh pada 2029 untuk mendukung berbagai misi. Dia
mencontohkan, penelitian ekosistem kelautan diperlukan untuk mengumpulkan
data ekologis. Dengan begitu, kuota penangkapan ikan dapat ditentukan
berbasis sains. Selain
itu, kapal riset penting untuk mendukung pengamatan dinamika iklim,
eksplorasi potensi sumber daya energi di laut dalam, mitigasi bencana,
pembangunan infrastruktur bawah laut, dan misi kemanusiaan. “Target utama
kami adalah mengembalikan fungsi armada ini sebagai laboratorium ilmiah
bergerak yang andal untuk memperkuat kedaulatan riset maritim nasional,”
tutur Arif kepada Tempo pada Senin, 31 Agustus 2026. ●●● UPAYA
menghidupkan lagi Baruna Jaya sebenarnya telah dimulai pada awal tahun ini.
Pada 9 Maret 2026, Arif Satria membentuk Gugus Tugas Revitalisasi Kapal Riset
Baruna Jaya. Tim teknis ini beranggotakan peneliti Badan Riset dan Inovasi
Nasional dari Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan
Kawasan Sains dan Teknologi; Direktorat Pengelolaan Armada Kapal Riset;
Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah; Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika;
Pusat Riset Teknologi Transportasi; serta Pusat Riset Elektronika. Sebulan
setelah dibentuk, tim itu langsung melakukan survei untuk mengevaluasi
kondisi teranyar lima kapal Baruna Jaya. Hasilnya, hanya Baruna Jaya I yang
mencapai skor kategori “baik” alias secara umum layak dioperasikan dengan
overhaul pada beberapa sistem utama. Pada 2018, kapal ini kondang karena
menemukan sinyal kotak hitam pesawat Lion Air registrasi PK-LQP yang jatuh di
perairan Karawang, Jawa Barat. Baruna
Jaya III dan VIII mendapat skor kategori “sedang” atau kerusakan sistem mulai
mempengaruhi sebagian fungsi dan performa kapal. Adapun Baruna Jaya II dan IV
mencatatkan skor kategori “rusak berat”, yang berarti fungsinya menurun
drastis sehingga membutuhkan perbaikan besar-besaran, termasuk pada struktur
kapal. Ketua
Gugus Tugas Revitalisasi Kapal Riset Baruna Jaya Djoko Nugroho mengatakan
evaluasi internal itu dilakukan hanya melalui pengamatan visual, tanpa uji
materiil. Penilaian lanjutan secara menyeluruh tetap diperlukan, terutama
dengan melibatkan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). “Seluruh armada saat ini
dalam kondisi darurat perbaikan,” kata Djoko, yang juga menjabat Pelaksana
Tugas Sekretaris Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN. Seperti halnya
dipaparkan Arif, revitalisasi dimulai tahun ini dengan berfokus pada Baruna
Jaya III. Rencananya, sebagian besar perbaikan kapal riset multiguna ini akan
dilakukan secara mengapung (floating repair), terutama terhadap sistem dan
instrumen survei. “Setelah
itu, lambung kapal akan diperbaiki agar memenuhi kembali persyaratan
sertifikasi kelaikan pelayaran, termasuk sertifikasi dari BKI,” ujar Djoko,
yang pernah menjabat Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT. Tahun
depan, BRIN berencana memulai perbaikan Baruna Jaya I, IV, dan VIII. Adapun
revitalisasi Baruna Jaya II, kapal dengan kondisi kerusakan paling parah,
dijadwalkan pada 2028. “Tapi ya kami belum tahu apakah anggarannya bisa
diberikan atau tidak,” tutur Djoko. Menurut
Djoko, pemulihan armada Baruna Jaya tidak hanya penting bagi BRIN, tapi juga
buat sejumlah kementerian dan lembaga. Badan Informasi Geospasial serta Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, misalnya, membutuhkan data
hasil survei laut, termasuk pemetaan batimetri. Kebutuhan itu selama ini
tidak dapat dipenuhi karena Baruna Jaya berhenti beroperasi. Dosen
perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Trika Pitana,
berpendapat senada. Keberadaan kapal riset sangat penting bagi Indonesia yang
sekitar 70 persen wilayahnya berupa lautan. Kapal-kapal riset diperlukan
untuk menopang eksplorasi potensi sumber daya laut, dari pangan dan
obat-obatan hingga energi terbarukan dan pemetaan bawah laut. “Riset-riset
itu memang butuh proses yang cukup panjang untuk dapat dirasakan dampaknya,”
kata alumnus program doktor ilmu kelautan Kobe University, Jepang, tersebut. Walau
demikian, Trika berharap BRIN tetap memperhitungkan secara komprehensif
rencana revitalisasi, termasuk membandingkannya dengan upaya pengadaan kapal
baru. Usia rata-rata Baruna Jaya telah lebih dari 30 tahun. Penghentian
operasi beberapa tahun terakhir juga telah menyebabkan kerusakan pada sistem
permesinan, kelistrikan, serta konstruksi kapal. “Revitalisasi masih
memungkinkan. Tapi biaya yang dibutuhkan mahal, termasuk pemeliharaan setelah
perbaikan,” ujar Trika. Menurut
dia, opsi penutuhan atau scraping sebaiknya tetap dibuka, terutama
terhadap kapal yang tak lagi beroperasi secara efisien dan efektif. Adapun
peralatan riset dari kapal yang dimatikan dapat dialihkan ke kapal yang
benar-benar layak dipertahankan. ● Klik link “Seberapa Penting Kapal
Baruna Jaya untuk Riset Maritim” berikut : https://images-tm.tempo.co/all/2026/09/12/921008/921008_1200.jpg https://images-tm.tempo.co/all/2026/09/12/921009/921009_1200.jpg Sumber :
https://www.tempo.co/sains/brin-revitalisasi-kapal-baruna-jaya-2286801 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar