Sabtu, 19 September 2026

 

Trump Berharap Perang Melawan Iran Segera Berakhir

Tatang Mulyana Sinaga : Wartawan Kompas.

KOMPAS, 17 September 2026

 

 

                                                           

Lebih dari enam bulan lalu, Presiden Amerika Serikat bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memutuskan menyerang Iran. AS mengalami banyak kerugian di berbagai lini. Kini, Trump berharap perang yang telah menelan dana puluhan miliar dolar AS dan ribuan korban jiwa—terutama di Iran—itu segera berakhir.

 

”Semoga kita sudah mendekati akhir perang,” ujar Trump kepada wartawan, Rabu (16/9/2026) malam. Namun, ia tidak menyebutkan bagaimana mekanisme perang itu akan diakhiri.

 

Pernyataan Trump itu dilontarkan setelah konflik Arab Saudi dan Houthi semakin memanas. Saudi adalah sekutu penting Amerika Serikat di Timur Tengah. Sementara Houthi merupakan proksi Iran di Yaman.

 

Kendali Houthi di Laut Merah membuat ekspor minyak Saudi kian tertekan. Sebelumnya, Riyadh telah terganggu oleh blokade Iran di Selat Hormuz. Kondisi ini meningkatkan daya tawar Iran untuk mencapai kesepakatan dengan AS.

 

Trump menyebut telah mendengar kabar langsung dari Iran terkait kesepakatan mengakhiri perang. Namun, ia tidak merinci orang atau pihak yang menyampaikan kabar itu. ”Mereka (Iran) ingin membuat kesepakatan. Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti,” katanya.

 

Trump telah berulang kali menyatakan perang Iran sudah mendekati akhir. Sejumlah putaran perundingan digelar. AS dan Iran juga pernah mencapai gencatan senjata dan kesepakatan damai sementara. Namun, perang yang telah memasuki bulan ketujuh tersebut tak kunjung berakhir.

 

Meski digempur habis-habisan, Iran masih memberikan perlawanan. Teheran tetap mengendalikan Selat Hormuz, jalur vital energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia dari kawasan Teluk didistribusikan melalui selat ini.

 

AS dan Iran sama-sama menelan kerugian besar akibat perang. Biaya militer yang dikucurkan Pentagon membengkak sehingga membebani keuangan negara. Hal ini disumbang dari berbagai aspek, mulai dari biaya senjata hingga mobilisasi pasukan dalam skala besar.

 

Laporan gabungan tiga lembaga pengawas Pemerintah AS menyebutkan, perang dengan Iran menguras persediaan senjata canggih dan merusak ratusan bangunan di pangkalan militer dan pos diplomatik AS di Timur Tengah. Konflik ini menelan biaya sedikitnya 37,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 665,66 triliun.

 

Selain itu, perang memicu lonjakan harga minyak dunia sehingga berdampak terhadap ekonomi domestik AS. Harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional mencapai 105 dolar AS per barel, Kamis. Sebelum perang, harganya masih di bawah 73 dolar AS per barel.

 

Harga minyak berpotensi kembali melonjak seiring meningkatnya eskalasi konflik Saudi-Houthi di Laut Merah. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan, pihaknya telah melancarkan serangan drone dan rudal yang menyasar pelabuhan minyak Saudi di laut tersebut.

 

Tekanan ekspor minyak Saudi semakin berat karena jalur pipa timur-barat (east-west pipeline), pipa lintas darat yang mengalirkan minyak, juga rusak terkena serangan. Penutupan berkepanjangan jalur pipa ini dapat mengurangi 4 persen pasokan minyak global.

 

Bertemu pemimpin Teluk

 

Media AS, Axios, melaporkan, Trump diperkirakan akan bertemu para pemimpin negara Teluk di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, Selasa (22/9/2026). Pertemuan itu akan membahas langkah AS selanjutnya terkait perang dengan Iran.

 

”Pertemuan itu diperkirakan akan berfokus pada gagasan AS mengenai strategi pascaperang, seiring Trump dan tim seniornya menyusun rencana untuk masa setelah perang yang diharapkan rampung setelah pemilihan paruh waktu (November 2026),” tulis laporan tersebut.

 

Netanyahu disebutkan juga ingin bertemu Trump di New York. Namun, hingga saat ini, belum ada agenda pertemuan yang dijadwalkan. Dalam beberapa kesempatan, keduanya berkomunikasi membahas situasi perang Iran.

 

Selain bagi AS, sebagaimana dikabarkan, perang itu juga menyebabkan kerugian bagi negara-negara Teluk yang digunakan sebagai pangkalan militer AS. Lokasi itu menjadi target serangan Iran. Tidak jarang, upaya untuk menangkal serangan tersebut menyebabkan kerusakan di lokasi lain.

 

Kerugian lainnya disebabkan terganggunya pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz. Selain itu, sejumlah fasilitas energi negara-negara Teluk juga rusak akibat serangan rudal dan wahana tanpa awak atau drone.

 

Solusi diplomatik

 

Media Iran, Tasnim, melaporkan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan keinginan negaranya untuk memulihkan stabilitas kawasan. Iran juga ingin menjalin hubungan yang bersahabat dan damai dengan negara-negara tetangga.

 

”Iran telah memulai pembicaraan dengan negara-negara kawasan demi mencapai tujuan tersebut,” ujarnya.

 

Araghchi memimpin delegasi diplomatik Iran dalam kunjungan ke Beijing, China. Ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Rabu. Pihaknya bertekad meningkatkan kemitraan strategis dengan China yang didasari oleh rasa percaya dan saling menghormati.

 

Araghchi mengaitkan situasi di Timur Tengah saat ini dengan agresi militer AS dan rezim Israel terhadap Iran. Ia menegaskan, meskipun Iran sepenuhnya siap untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas wilayahnya, pihaknya tetap menyambut baik solusi diplomatik yang menjamin hak-hak bangsa Iran.

 

”Situasi di kawasan telah mengalami perubahan mendasar menyusul perang agresi terhadap Iran. Tidak akan ada tempat bagi kehadiran dan campur tangan kekuatan asing dalam tatanan kawasan yang baru,” tulis laporan tersebut. (REUTERS)

 

Sumber : https://www.kompas.id/artikel/trump-berharap-perang-melawan-iran-segera-berakhir?open_from=Internasional_Page

Tidak ada komentar:

Posting Komentar