Tampilkan postingan dengan label Refleksi Idul Adha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Idul Adha. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Oktober 2013

Simbolisme Kurban

Simbolisme Kurban
Aziz Syafiuddin  ;  PNS di Biro Informasi dan Persidangan Kemenko Kesra RI
SUARA KARYA, 16 Oktober 2013


Dari sebuah peristiwa historis dan heroik, kita telah mengenal kurban sebagai perintah Allah SWT yang cukup tua. Ia hadir juga secara filosofis sebagai bentuk kepatuhan hamba kepada Tuhannya, kesabaran, dan pengujian iman. Namun, makna tersebut belum seluruhnya menjadi pemahaman masyarakat secara umum. Seringkali orang justru memahami ibadah rutin ini berhenti pada kebiasaan semata, atau pencapaian kesalehan pribadi, sementara unsur kesalehan yang lebih besar menjadi terlupakan. Apa itu kesalehan yang lebih besar? Tentu, kesalehan yang memiliki daya jangkau dan daya tangkap lebih luas, lebih dari sekadar unjuk ketaatan pribadi di mata Tuhan. Meminjam bahasa Mohammad Sobary (Kesalehan Sosial, LKiS, 2007) ada dua jenis kesalehan yang sering dipahami dalam Islam, yaitu kesalehan individu dan kesalehan sosial.

Kesalehan individu terlihat dari keseriusan seseorang dalam menjalankan ibadah keagamaan yang bersifat individual seperti shalat, zikir, wiridan, haji. Sementara kesalehan sosial adalah semua jenis kebajikan yang ditujukan kepada (kemanfaatan) manusia, misalnya, bekerja untuk memperoleh nafkah bagi keluarga. Dalam bahasa Sobary lainnya, kesalehan adalah orang yang menyeimbangkan ushalli (shalat) dengan usaha.

Secara etimologis, kurban diartikan sebagai pendekatan atau mendekatkan. Sedangkan secara terminologis adalah penyerahan diri kepada Allah SWT demi mencapai derajat keridlaan-Nya. Dasar ibadah kurban telah termaktub dalam Al-Qur'an, "Sesunggguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah..." (QS. Al Kautsar: 1-2). Merunut sejarah, kita mengenal ibadah kurban sebagai perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS (melalui mimpi yang berulang-ulang sampai tiga kali) agar menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. "Wahai, Anakku!" Ibrahim berkata pada Ismail, "Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkan apa pendapatmu!" (QS Ash-Shaaffat: 102).

Akhir cerita, Tuhan menggantikan Ismail dengan seekor gibas (domba) untuk dikorbankan. Kemudian, dalam konteks keagamaan (baca: fiqih), kurban diwujudkan dengan menyembelih hewan tertentu saat tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dan kemudian dagingnya dibagikan kepada orang lain untuk dimanfaatkan dalam keadaan belum dimasak.

Di sinilah relasi hamba dan Tuhannya terjalin lewat makna pendekatan diri paling puncak (kurban) dan dialog dengan Tuhan dalam menangkap nilai dan sifat-sifat ketuhanan. Ini jelas sesuai dengan logika bahasa kurban, yang berasal dari Qaraba dengan bentuk isim mashdar 'qurbanan', yang berarti dekat. Karena itu, tujuan berkurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah).

Sementara dalam hubungan sesama manusia (horizontal), ritual yang telah berusia cukup tua ini mengajarkan manusia untuk saling berbagi, merontokkan sifat-sifat buruk seperti pelit, kikir, tamak, serakah, dan bathil dalam kehidupan sosial. Sifat-sifat tersebut harus diganti dengan sifat dermawan, peduli, saling menolong, dan berkasih sayang terhadap orang lain. Namun pertanyaannya, benarkah semangat ritualitas kurban betul-betul mendarah daging dalam nurani dan jiwa kita? Jangan-jangan, peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di sekitar kita betul-betul menjawab pertanyaan tersebut, di mana sifat kikir, tamak, serakah, dan perilaku korup justru bertambah menjadi penyakit yang akut.

Ketamakan terhadap harta dan kebendaaan yang bersifat materi semakin menjadi cermin kehidupan sebagian orang. Sehingga idealitas ibadah kurban semakin jauh dari harapan. Jika kemudian mereka membalas kerakusan harta itu dengan mendermakan harta mereka, hanya untuk menutupi sifat korup-nya dengan sikap berkorban atas harta yang dimilikinya. Mencermati realitas tersebut, penulis merujuk pada pemikiran budayawan Ahmad Tohari yang dalam tulisannya mengutip Almarhum Cak Nur bahwa keberagamaan kita masih sangat didominasi oleh penghayatan simbolistik tak terkecuali terhadap ritus pemotongan hewan kurban. Jelasnya, ritus ini yang seharusnya dihayati hanya sebagai simbol, malah dianggap sebagai makna alias tujuan. Maka ketika orang sudah menjalankan perintah potong hewan kurban, selesailah semuanya. Karena menganggap sebagai tujuan, dia tidak merasa perlu mencari makna yang tersembunyi di balik simbol potong hewan kurban itu.

"Tidak ada satu amal pun yang dilakukan seorang anak manusia pada Hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Maka berbahagialah kamu karenanya." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih). Dengan demikian, berkurban adalah salah satu bukti kecintaan kita kepada Allah SWT sebagaimana hadits di atas. Cinta dalam hal ini tentu membutuhkan bukti dan pengorbanan. Allah SWT berfirman, "...adapun orang yang beriman, maka ia sangat cinta kepada Allah..."(QS. Al Baqarah 165). Jadi, kurban yang makna dasarnya persembahan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) itu merupakan upaya kita untuk menggapai kasih sayang-Nya.

Sampai di sini, kurban tentu tidak berhenti pada ritualitas penyembelihan daging hewan yang kemudian dibagikan kepada orang lain. Status "Ismail" saat itu adalah anak Ibrahim yang diperintahkan untuk disembelih. Namun saat ini "Ismail-Ismail" itu ada pada wujud kepemilikan jabatan, kedudukan, harta, harga diri, profesi, termasuk mental keserakahan dan korup yang menguasai manusia. Kiasan "Ismail" bisa jadi merupakan perilaku yang seringkali menutup mata hati manusia, membutakan mata dan pikiran mereka terhadap hidayah dari Allah SWT. Oleh karenanya, kehadiran kurban (Idul Adha) ini penting dalam melihat seberapa jauh kita telah mengorbankan "Ismail" demi mempertahankan nilai-nilai keilahian. Bukankah itu sebenar-benarnya Kurban? Wallahua'lam. ●

Kamis, 17 Oktober 2013

Idul Adha; Memulai Gotong Royong

Idul Adha; Memulai Gotong Royong
Muh Arief Rosyid Hasan  ;   Ketua Umum PB HMI Periode 2013-2015
OKEZONENEWS, 16 Oktober 2013


Idul Adha atau Idul Qurban merupakan salah satu hari besar dalam Islam ketika jutaan muslim beraktifitas tidak seperti biasanya. Di hari-hari ini berjuta umat muslim menunaikan rangkaian ibadah haji di sepanjang dua kota suci Mekkah dan Madinah, bersamaan dengan umat muslim di belahan bumi lain menyembelih hewan ternak sebagai bentuk ibadah qurban. Baik ibadah haji maupun ibadah qurban merupakan pengingat sekaligus peringatan tentang keteladanan manusia agung Ibrahim beserta keluarganya.
 
Dalam konteks Indonesia, Idul Adha 1434 H kali ini diharapkan tak berhenti pada pelaksanaan ritual keagamaan di tanah lapang dan masjid saja, atau pun dianggap selesai ketika hewan ternak telah disembelih. Namun peringatan hari raya Idul Adha semestinya menjadi tanda pengagungan terhadap tradisi besar Islam, sekaligus memberi jeda tafakkur dan tadabbur pada umat Islam di Indonesia tentang keberlangsungan kehidupan sosial keagamaan kita yang tak kunjung reda dari krisis kemanusiaan.
 
Kita bisa membaca kembali kisah ini, ketika Ibrahim di usia tua dan telah lama menanti  kehadiran anak, akhirnya mendapat karunia kelahiran Ismail kecil, namun kebahagiaan sementara ini harus dihadapkan dengan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail. Sepenuh kesabaran dan keikhlasan keduanya berserah diri (aslama) akan perintah Allah SWT, hingga sampai saat Ibrahim membaringkan Ismail di saat itu pula kontan Allah SWT menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. (QS Ash Shaaffaat,100-111).
 
Peristiwa inilah yang kemudian menjadi dasar disyariatkannya ibadah Qurban dilakukan pada hari raya Idul Adha. Pada kisah ini kita tak hanya tercenung mendapatkan keikhlasan dan kepatuhan Ibrahim yang rela merelakan anaknya terkasih, namun juga juga betapa hebatnya kesediaan Ismail untuk mengorbankan dirinya sendiri demi panggilan suci dari Allah Swt.
 
Dalam hal lain, begitupun perintah berhaji ke Baitullah (Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 26-37), bukan hanya sekedar formalitas untuk meraih sebutan haji atau meningkatkan status sosial keagamaan belaka, namun terdapat makna yang mendalam di balik rangkaian ibadah yang agung ini.
 
Menurut Komaruddin Hidayat, ibadah Haji yang diawali dengan menanggalkan pakaian sehari-hari dengan menggunakan pakaian ihram (pakaian putih yang amat sederhana) mengandung makna kita melepaskan pakaian keseharian yang merupakan refleksi keakuan serta simbol status sosial kita menuju kesamaan derajat kita sebagai manusia di hadapan Allah SWT. Karena tak ada yang lebih unggul di mata Allah dari yang lain kecuali karena kualitas taqwanya.
 
Menjadi Islam Aktual
Pertanyaan yang kemudian mencuat di benak kita, seberapa bermakna rangkaian ritual ini bagi umat Islam? Apa makna yang didapat di saat jutaan umat Islam Indonesia tiap tahunnya mendapatkan libur untuk memperingati perayaan Idul Adha, dapat  berkumpul di tanah lapang atau masjid-masjid untuk mengagungkan kebesaran-Nya, menyembelih jutaan hewan Qurban,  dan tiap tahun pula mengirimkan masyarakatnya untuk berhaji? Bukankah Shalat Idul Adha, penyembelihan hewan Qurban, dan berhaji mempunyai nilai sejarah  tentang keikhlasan, kepatuhan, kepasrahan, dan berserah diri?  Atau memang bagi kita, shalat Idul Adha, penyembelihan hewan Qurban, dan ibadah haji tak lebih sekedar ritual tahunan yang tidak memberi makna apapun?
 
Dengan kembali kepada makna asal Islam (aslama) – berserah diri, kepasrahan – Murtadha Mutahhari, seorang alim besar dari Iran, menjelaskan dua macam kepasrahan. Pertama, Islam fisik atau Islam Geografis ketika manusia pasrah kepada seseorang atau sesuatu karena terpaksa atau karena mengikuti lingkungannya. Mutahhari menyebut istilah al-islâm al-jughrâfî kepada mereka yang lahir, hidup, dan mati dalam lingkungan Islam. Kedua, Islam aktual  atau al-islâm al-wâqi’î . Islamnya orang yang sudah pasrah kepada kebenaran dengan hatinya. Ia mengamalkan kebenaran yang diyakininya setelah ia menerima kebenaran itu melalui pencarian atau penelitian tanpa fanatisme.
 
Meninjau perilaku keislaman kita hari ini, mestinya momen hari raya Idul Adha ini  menjadi cermin untuk mengintrospeksi diri, apakah yang telah kita lakukan hari ini sudah sesuai dengan kebenaran Islam, ataukah sekedar ikut-ikutan fenomena sesaat tanpa ikutan makna yang meyertainya. Tentunya menjadi keharusan bagi umat Islam hari ini untuk tidak sekedar berkutat dengan Islam fisik atau Islam geografis, tetapi lebih dari itu yakni Islam aktual, yang kita imani, ilmui, dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Memulai Gotong Royong
Setelah masing-masing kita mencoba membumikan islam aktual, maka tanggung jawab berikutnya adalah bagaimana agar kita dengan kesadaran yang sama bergerak dalam satu barisan. Gotong royong, yang menjadi budaya kita sejak bangsa ini didirikan, harus diarahkan dalam menunaikan kebaikan.
 
Sebagaimana yang dibahasakan oleh Rhenald Kasali, bahwa untuk melakukan perubahan-perubahan besar-besaran kita membutuhkan kolaborasi besar-besaran. Juga dalam QS Ali Imran 104 ditegaskan agar ada sekelompok di antara kita yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.
 
Dengan semangat gotong royong tersebut, maka peringatan Idul Adha akan menjadi momentum yang sangat berarti untuk mengurai persoalan atau setiap masalah yang sedang menyelimuti kehidupan berbangsa dan bernegara kita.
 
Kedzaliman atau kejahatan terorganisir yang selama ini menggerogoti bangsa ini akan berhadap-hadapan dengan kolaborasi besar-besaran oleh mereka yang senantiasa memperjuangkan kebaikan. Segala masalah yang tak habis-habisnya bersimaharajalela sejak hilir hingga hulu kehidupan berbangsa kita dapat direduksi secara berjamaah sehingga sampai kepada perbaikan menyeluruh. Itulah makna qurban yang perlu kita bumikan. Selamat Idul Adha 1434 H. ●

Reaktualisasi Idul Adha

Reaktualisasi Idul Adha
Abduljani ; Pegiat sosial, Co-Founder media wargacuplik.com, Tinggal di Indramayu
OKEZONENEWS, 16 Oktober 2013



Negeri ini semakin hari semakin gaduh. Drama adu kuat antarkelompok politik dalam mengangkangi hukum semakin menjadi-jadi. Setelah pengawal konstitusi lumpuh tanpa kepala, kini presiden terusik oleh satu nama semata. Meminjam istilah Jurgen Habermas, maka publicsphere, alias ruang publik yang selama ini dinikmati secara bebas oleh rakyat, terampas secara semena-mena. Ruang publik yang semestinya dipakai untuk mengalirkan demokrasi secara jernih, menjadi lumpur yang membuat keruh. Ia menjadi lemah tanpa pegangan, tanpa kekuatan untuk menggemakan nilai.

Rakyat kemudian dipaksa untuk percaya bahwa keadilan hanya berada pada ruang-ruang diktat kuliah, pada teori-teori lama, dan bahkan pada lembaran kitab suci. Rakyat dipaksa paham bahwa keadilan hanya milik mereka yang berkuasa. Dus, pada akhirnya pasrah, dan menyerahkan semuanya pada Sang Pemilik Keadilan, Tuhan. Jika rakyat sudah pasrah, maka kekhawatiran akan ketidakpercayaan terhadap negara semakin menguat.

Maka penting kiranya untuk mengembalikan ruang publik ini sebagaimana mestinya. Sebagaimana fungsi dan hakikatnya semula. Sebagai wahana, sarana, dan alat untuk mengalirkan konstruksi nilai, tentang makna dan hakikat demokrasi secara jernih. Pertanyaannya kemudian, kapan dan siapa yang harus memulainya?

Momentum Idul Adha

Hari ini bertepatan dengan Idul Adha 1434 Hijriyah. Hari raya umat Islam yang dilatari oleh kisah dua orang. Ayah dan anak. Ibrahim alaihissalam dan Ismailalaihissalam. Kisah keduanya ditutur oleh Kitab Suci Alquran, di mana sang ayah diminta Tuhannya untuk menyembelih anaknya sendiri. Tampak tidak masuk akal. Begitulah Tuhan. Kadang perintahnya hanya bisa dicerna oleh keimanan semata, dogmatis. Tapi, hikmahnya bakal selalu mengikuti.
Ranah hikmah memang selalu dikembangkan oleh penerus-penerusnya. Ditutur secara turun-temurun, ditafsir ulang, dan direkonstruksi sesuai jamannya.

Idul Qurban – ada yang menyebutnya begitu—merupakan simbol kesediaan mengorbankan apapun untuk sesuatu yang diyakini. Ibrahimas. yakin, bahwa ‘bisikan’ dalam mimpinya adalah firman Tuhan, pun begitu dengan Ismailas, yang yakin atas bisikan dalam mimpi ayahnya tersebut. Keduanya yakin. Untuk itu keduanya siap berkorban.

Bob Lee Swagger, seorang tokoh dalam film penembak jitu ‘Shooter’ digambarkan sebagai sosok yang patriotik. Ia satu dari sedikit orang yang mampu menembak koin dari jarak satu mil dengan tepat. Namun keyakinannya terhadap nilai-nilai patriotisme itu runtuh ketika ia ditinggal oleh pasukan negerinya sendiri di sebuah kawasan perang di Afrika, di mana pengarahnya, yang juga sahabatnya, Donnie, tewas. Keyakinannya atas nasionalisme, seketika runtuh. Kemudian Swagger tak lagi percaya pada negara.

Dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki Swagger, bisa jadi negara merugi, karena telah kehilangan sosok penembak jitu andalan. Dan bisa dibayangkan bilamana masifitas warga negara yang punya potensi dalam bidangnya masing-masing, harus rela ‘menyingkir’, menjadi warga sementara negara asing, misalnya. Serta orang-orang yang duduk di podium terhormat negeri ini adalah para bromocorah berdasi. Maka mengembalikan keyakinan rakyat, menjadi urgen untuk secepatnya dilakukan.

Melakukan rekayasa sosial kadang memang harus didahului oleh momentum. Dan Idul Adha ini merupakan salah satu dari sekian banyak momentum yang disediakan oleh Tuhan. Momentum Idul Adha adalah soal ajaran Ilahiah untuk mengorbankan apapun yang dicintai layaknya Ibrahim As, memenggal sifat-sifat hewani yang disimbolkan dengan penyembelihan hewan kurban, dan melanggengkan sikap egaliter sebagaimana para jemaah haji.

Dan konstruksi Idul Adha pada panggung negara menjadi keniscayaan, manakala ruang publik hanya terisi oleh kegaduhan belaka. Para pelaku kegaduhan, dan siapapun yang menjadibackup-nya  harus mengorbankan diri untuk tidak tampil, untuk tidak lagi populer sementara waktu. Saatnya para begawan di bidangnya didorong dan dibiarkan masing-masing untuk tampil dan memberi pencerahan kepada rakyat. Mereka bisa siapapun saja, dan berasal dari mana saja. Kelak mereka yang harus menajamkan kembali nilai-nilai yang sempat tumpul. Kelak mereka yang harus menjernihkan kembali arus demokrasi yang sempat keruh akibat lumpur-lumpur politik kotor. Dan merekalah yang diampu untuk mengembalikan keyakinan rakyat akan tujuan negara.

Jalan itu memang terlalu melangit. Karena, mencari sosok yang bebas kepentingan pada hari ini bak mencari jarum di tumpukan jerami. Apalagi dilakukan secara serentak dan pada waktu yang bersamaan. Namun tak ada yang tidak bisa dilakukan.

Jika pada hari ini, ruang publik tak seideal yang didamba. Maka, mengembalikan diskursus yang terjadi pada ruang-ruang tersebut pada ranah nilai dan etika, menjadi satu kewajiban. Maka dibutuhkan satu introspeksi besar atas diri sendiri, sudah sejauh mana sikap hewani musnah dan berganti dengan sifat-sifat ilahiah yang penuh welas asih. Kemudian sampai mana pengorbanan kita untuk melepaskan egoisme pribadi dan kelompok untuk kepentingan yang lebih luas. Serta sikap egaliter dibutuhkan untuk menerima masukan dari siapapun. Dus, jika semua itu bisa dilakukan pada diri sendiri, yakinkan bahwa negara bisa lebih baik dari hari ini.

Selamat Idul Adha 1434 Hijriyah. ●

Selasa, 15 Oktober 2013

Berkurban untuk Peduli

Berkurban untuk Peduli
Fathorrahman  ;  Dosen Sosiologi pada Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH) Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, A’wan Syuriyah PWNU Yogyakarta
KOMPAS, 14 Oktober 2013


DALAM tulisan ”Kulihat Ibu Pertiwi” yang dimuat di Kompas (24/9/2013), Sindhunata menguraikan dengan miris dampak egoisme yang menggerus nilai-nilai keadaban dan kemanusiaan di tengah kehidupan yang mulai dahaga sistem kepedulian (caring system).

Nihilnya semangat kepedulian dalam kehidupan masyarakat semakin mengukuhkan hukum darwinisme bahwa yang kuat memperdayai yang lemah atau ungkapan Thomas Hobes yang lebih satir bahwa manusia satu memangsa manusia yang lain. Tandanya adalah keserakahan akan kekuasaan dan materi.
Tulisan tersebut patut diapresiasi sebagai bahan renungan hari Idul Adha. Setidaknya, dalam tulisan yang banyak mempersonifikasikan figur Mbok Turah dapat menginspirasi, terutama untuk memahami makna berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim berkorban sebagai upaya menundukkan egoisme material. Kekayaannya digunakan untuk berbagi kepada sesama melalui penyembelihan ribuan hewan. Bahkan, perintah untuk mengurbankan anak semata wayangnya, Ismail, tidak mematahkan semangat Nabi Ibrahim untuk melumatkan egoisme dirinya.

Komitmen sosial dan kepasrahan Nabi Ibrahim tercatat sebagai simbol pengorbanan dan dinisbatkan sebagai penanda hari raya Idul Kurban yang menyerukan umat Islam untuk menyembelih hewan kurban.

Seruan ini menyiratkan pesan moral kepedulian untuk saling berbagi dan sekaligus menundukkan sikap egoistik yang disadari atau tidak menjadi sumber pemicu keserakahan akan materi, prestasi, prestise, yang kian menjadi ketakutan neurotis—meminjam istilah Sindhunata—di masyarakat.

Egoisme yang menjatuhkan

Akar kemunculan egoisme adalah kesetiaan seseorang terhadap pragmatisme. Adanya kecenderungan berbuat efisien, instan, dan melampaui proses-proses yang berlaku menggiring orang pada upaya mementingkan diri sendiri (individualisme).

Cara ini, menurut Anthony Gidden, dalam buku The Third Way, memperbesar ruang gerak seseorang untuk bertindak ”aku lebih dulu”. Hal ini menghancurkan nilai-nilai umum dan kepedulian terhadap publik. Implikasinya, masing-masing orang terlibat dalam kondisi upaya menjatuhkan (al isqot) untuk memperoleh kepentingan yang diinginkan.

Dalam teori psiko analisis, al isqot menjadi sebuah proyeksi menggunakan kesempatan dalam kesempitan melalui media kompetisi yang seolah-olah mempersilakan orang untuk terlibat dalam dunianya, tetapi sesungguhnya ada agenda tersembunyi (hidden agenda) untuk meruntuhkan pihak lain agar tidak setara dengan dirinya.

Hal itu karena sifat egoisme yang tumbuh dalam diri seseorang, tidak rela melihat orang lain lebih sukses dari dirinya. Adagium ”aku lebih dulu” menjadi sebuah strategi untuk melumatkan yang lain yang dianggap ancaman dan dapat merugikan dirinya. Terjadilah sikap saling sikut dengan cara-cara yang overdosis.

Padahal, pendekatan pragmatis semacam ini dapat menghancurkan diri. Karena, sejatinya setiap orang tidak mau diperlakukan sebagai korban untuk memenuhi kepuasan nafsu yang lain. Maka, al isqot yang menjadi medium menjatuhkan dapat berbalik arah kepada dirinya yang memungkinkan kejatuhan pada kubang yang lebih nista.

Realitas semacam ini tergambar jelas dalam kehidupan saat ini. Di mana setiap orang berlomba-lomba untuk memenuhi hasrat kekuasaan, penumpukan materi, pemuasan konsumerisme, dan gaya hedonisme.

Bahkan, kesuksesan seseorang dilihat dari seberapa tinggi jabatannya, seberapa banyak daftar kekayaannya, dan seberapa besar akses jaringannya. Tidak terlalu penting apakah modalitas material yang dimiliki bisa bermanfaat bagi yang lain.

Pada titik ini, sebenarnya masyarakat mulai rentan sosial dan sangat berisiko. Puncaknya adalah kulminasi kejahatan yang bergerak masif.

Setiap orang yang merasa lapar perlu bertindak kasar untuk kenyang. Wajar bila ancaman keamanan selalu melingkupi kehidupan masyarakat. Rasa cemas dan takut menjadi penanda barbarian yang diabsahkan oleh keadaan. Semua ”mengatasnamakan keadilan” untuk tindakan jahatnya.
Adakah celah cerah untuk keluar? Kata kuncinya adalah sistem kepedulian.

Kepedulian sosial

Semangat berkorban Nabi Ibrahim dalam rangka menumbuhkan kepedulian sosial kepada manusia dan makhluk lainnya serta kepedulian personal kepada perintah Tuhan.

Secara sosiologis, kepedulian meneguhkan adanya hubungan simbiosis mutualis yang bersifat intersubyektif. Ia menggerakkan emosi setiap orang untuk meluangkan sisi keberadaannya kepada yang lain dan memberikan sebagian kepemilikannya untuk berbagi kesejahteraan.

Dengan sistem kepedulian, setiap orang dilatih bertanggung jawab terhadap segala tindak tanduknya sekaligus memahami bahwa setiap perilaku yang menyimpang ada risikonya. Maka, bila ada indikasi seseorang akan terlibat dalam deviasi sosial, yang lain akan menyerukan untuk menghindar.

Bila ada kecenderungan seseorang bermalas-malasan, yang lain mengingatkan untuk segera bangkit. Bila ada selentingan seseorang melakukan kejahatan korupsi, yang lain segera menyadarkan untuk menghentikan.

Demikian seterusnya sikap saling peduli antarsesama ini ditumbuhkan. Dalam sistem kepedulian, satu dengan yang lain merasa saling memiliki dan mengorbankan egosentrisnya demi memberikan manfaat yang sebaik-baiknya.

Secara metaforis, hewan yang disembelih pada Idul Kurban mengajak kita melepaskan diri dari sifat ”kebinatangan”: simbol ketidakberadaban yang bisa membunuh sistem kepedulian. Jadi, secara esensial, berkorban saat Idul Adha adalah momentum untuk menumbuhkan kepedulian.


Dengan demikian, berbagai persoalan kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, kejahatan, dan lainnya bisa diatasi secara kolektif dan saling bahu-membahu. Pada titik ini, setiap orang saling memberikan nasihat untuk berbuat baik (tawashaw bil haq) dan rela mengendalikan diri dengan kesabaran (tawashaw bil shabri). ●

Jumat, 26 Oktober 2012

Butuh Bapak Pengorbanan Sejati


Refleksi Idul Adha:
Butuh Bapak Pengorbanan Sejati
M Bashori Muchsin ; Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Malang
MEDIA INDONESIA, 25 Oktober 2012

  
MENGAPA Nabi Ibrahim AS dipopulerkan sebagai figur `Bapak Pengorbanan', sang peletak dasar ajaran tentang kesejatian nilainilai berkorban? Karena beliau telah memberikan keteladanan tentang kesucian cinta dalam setiap pengorbanan yang dilakukannya. Baik kepada diri sendiri, istri, anak, maupun masyarakat. Nabi Ibrahim AS telah menunjukkan pola pengorbanan berbasis cinta.

“Di mana ada cinta, di situ ada kehidupan,“ demikian ujar reformis India, Mahatma Gandi, yang menunjukkan bahwa cinta itu menentukan corak kehidupan manusia. Bangunan hidup manusia baik dalam dimensi persaudaraan kerakyatan, kemanusiaan, maupun kebangsaan ditentukan oleh cinta yang bersemi dalam dirinya.

Cinta menjadi moral force yang menggerakkan terjadinya pertemuan antarsegmen bangsa yang berbeda etnik, budaya, agama, politik, ekonomi, status sosial, dan aspek-aspek lainnya yang semula menjadi sekatnya. Cinta mampu mencairkan bekunya hubungan antarkomponen bangsa yang semula sibuk menganyam friksi dan mengultuskan faksi-faksi, serta menjunjung arogansi kelas sosial-politiknya.

Cinta merupakan kekuatan yang mampu menyangga sejatinya kehidupan bermasyarakat. Seseorang dan kelompok yang semula terseret dalam arus kesewenang-wenangan atau praktik-praktik yang berpola ketidakadaban dapat disadarkan oleh kekuatan cinta, yang menempatkan manusia sebagai subjek yang wajib dimartabatkan, dan bukan `dibinatangkan'.

Setiap pecinta sejati tentulah punya usaha yang gigih atau setidak-tidaknya mengasah kebeningan nuraninya untuk menjadi sosok yang hidupnya diabdikan untuk Tuhannya, sesama manusia, dan makhluk hidup lainnya. Baik pikiran maupun perilakunya tidak pernah dibiarkan stagnan, dan sebaliknya diberdayakan selalu mengembara untuk menjelajahi dan membebaskan kesulitan yang diderita sesamanya.

Pecinta sejati itu sudah digariskan oleh Nabi Muhammad SAW, “Tidak disebut beriman di antara kalian, sehingga mencintai saudara-saudara (sesama) sebagaimana kalian mencintai diri sendiri.“

Cinta dalam sabda Nabi Muhammad SAW itu merupakan wujud keberimanan berbasis kemanusiaan. Manusia tidak akan bermakna kedekatannya dengan Tuhan jika dalam hidupnya tidak rajin melakukan investasi seperti membagikan (mengorbankan) harta demi mengentas manusia dari kemiskinan dan memberdayakan ekonomi sesama. Kedekatan dengan sesama harus dibuktikan dengan mencintainya secara ikhlas dan maksimal.

Predikat Beriman

Seseorang umumnya hanya bisa menyaksikan dan bahkan mengeksploitasi penderitaan orang lain, tetapi lupa menyikapi penderitaan orang lain sebagai penderitaannya sendiri. Jika seseorang bisa menjadikan derita orang lain sebagai bagian utama dari `proyek' perjuangannya sendiri, seseorang ini baru layak menyandang predikat beriman. Apa yang diperbuat seseorang ini telah mengalahkan ambisi, egoisme, atau kecenderungan `memberhalakan' diri sendiri.

Seiring dengan berbagai krisis yang menestapakan sebagian masyarakat negeri ini, sikap dan perilaku kita idealnya seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS yakni menjadi bapakbapak pengorbanan sejati. Pengorbanan sejati tak pernah menghitung keun tungan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan dimensi-dimensi lain kecuali keikhlasan memberi dan mendistribusi hak-hak pribadi dan bahkan yang dicintainya demi kemaslahatan publik, seperti Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putra kesayang annya untuk memuaskan (panggilan) cintanya kepada Allah SWT.

Kenyataan di masyarakat kita saat ini, `banjir petaka sosial' sedang menjadi potret yang membelenggu, khususnya masyarakat bawah (lower class). Penghasilan puluhan ribu buruh pabrik tidak mampu mengimbangi derasnya kebutuhan pokok sehari-hari, keluarga miskin masih tetap kesu litan menjawab kebutuhan keberlanjutan hak pendidikan anak-anak me reka, dan ko munitas `alit' di wilayah pinggiran dan pedala man kesu litan men dapatkan pangan bergizi.

Di orde `banjir petaka sosial' itu, kita seharusnya bernapak tilas dengan pelajaran Nabi Ibrahim AS, yang pengorbanannya kepada Allah SWT dan sesama manusia benar-benar didasarkan atas cinta. Kepada sesama manusia, misalnya, Ibrahim rela menyerahkan ribuan hewan ternaknya untuk dikurbankan demi `investasi umat', mengentas umatnya dari kemiskinan, menyenangkan orang-orang susah, dan merajut persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniah).

Sementara dalam berelasi dengan Tuhan, Nabi Ibrahim benar-benar sebagai pecinta sejati. Putra satu-satunya rela `dikorbankan' untuk memenuhi panggilan ilahiah. Anak semata wayang ini bermaksud `dipersembahkan' demi memenuhi kehausan rasa cinta dan rindunya kepada Allah (QS As-Shafat: 103). Cinta demikian agung terbukti mampu melahirkan sejarah keteladanan pengorbanan anak manusia yang le bih menuhankan Tuhannya daripada kepentingan lainnya.

Cinta dan kerinduan Ibrahim AS kepada Al lah SWT sudah tidak terhalang oleh sekat sekat kebendaan dan keduniaan. Nikmat harta dan anak yang menjadi subordinasi hak privasinya tidak ditem patkan sebagai `berhala' yang menegaskan dan mengontaminasi hablummi¬nallahnya. Nikmat duniawi tidak dibiarkan menguasai dan memperbudak dirinya. Harta tak dijadikan sebagai pemuas dahaga kepentingan dan kesenangan diri sendiri, namun didistribusikan demi membebaskan derita sesama. Beda dengan masyarakat sekarang yang gampang menjadikan kepentingan duniawi sebagai `berhala-berhala kontemporernya'.

Penyakit Teologis

Cendekiawan muslim kenamaan Imaduddin Abdurrahim, misalnya, mengkritik bahwa masyarakat modern sering kali mengidap penyakit teologis yang disebut sebagai `tuhan triple ta', yakni tuhan takhta, tuhan harta, dan tuhan wanita. Masyarakat yang telah menyebut dirinya modern merupakan gambaran dari kumpulan manusia-manusia yang sebenarnya sedang terperosok dalam kubangan penuhanan kekuasaan, kekayaan, dan perempuan.

Itulah gambaran kehidupan masyarakat yang sedang retak keimanannya, tidak lagi fitri karena mengidap `najis-najis' yang justru dipertahankan, dan bahkan dijadikan simbolsimbol arogansi dan kriminalisasinya. `Najis-najis' yang menguasai kepribadian ini seperti sebuah kenikmatan yang lezat dan wajib dihidangkan sebagai menu fundamental.

Jika manusia sekarang mau berkiblat pada keteladanan Nabi Ibrahim AS, tentulah di dalam dirinya akan tumbuh subur kekuatan cinta, yang benar-benar menempatkan Tuhan sebagai imam sejatinya. Nabi Ibrahim yang sudah punya jiwa pecinta kepada-Nya ini tidak takut jatuh bangkrut untuk memaksimalkan kesalehan humanitasnya, karena di dalam dirinya sudah melekat keyakinan bahwa pengorbanan sejati pastilah banyak dimensi masalahnya untuk diri, masyarakat, dan negara.

Cinta yang selalu bersemi kepada sesama manusia akan menjadi kekuatan dahsyat untuk membebaskan berbagai bentuk derita atau kesulitan yang terjadi di tengah masyarakat. Di dalam diri setiap pecinta (seperti Nabi Ibrahim AS) ini selalu ada perasaan terpanggil untuk mengabdikan hidupnya bagi kepentingan orang lain, atau di dalam dirinya ada tuntutan untuk tak mendiamkan berbagai problem sosial, ekonomi, politik, budaya, dan lainnya menjajah sesamanya.

Di dalam `kamus'-nya pecinta seperti Ibrahim AS itu, yang ditabur di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara ialah pola pengabdian yang tulus, yang inklusif, tak mengenal kasta, tak menjadikan golongan sebagai panglima, dan menjauhkan egoisme sektoral. Yang dikedepankannya ialah `nafsu' kemuliaan dan aksi-aksi berkorban yang berdampak terhadap terbentuknya masyarakat saling mencintai, menyayangi, dan tentu saja saling menghidupkan, serta bukan saling membinatangkan.

Lain halnya jika masyarakat kita memang sedang terjerumus dalam kultur mengorbankan sesama dan Tuhannya ketimbang kepentingan diri, kerabat, dan kroni-kroninya, tentulah akan sulit dicapai terbentuknya bangunan masyarakat ideal, karena bisa dipastikan di antara jerit tangis saudara-saudara yang bergulat dengan `banjir petaka sosial', masih ada yang menjatuhkan diri dalam perilaku tak terpuji, seperti `opsi kleptomania', menjarah hak masyarakat miskin, atau distribusi sumbangan kemanusiaan dibuatnya salah sasaran.

`Orde petaka sosial' itu jelas merupakan tantangan (tuntutan) bagi elemen elite bangsa ini supaya mendidik dirinya menjadi bapak pengorbanan. ●