Tampilkan postingan dengan label Penanggulangan Kemiskinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penanggulangan Kemiskinan. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2013

Momentum Menanggulangi Kemiskinan

Momentum Menanggulangi Kemiskinan
Mahmud Yunus  ;  Guru SMA Negeri 1 Banjar, Jawa Barat
KORAN SINDO, 26 Oktober 2013


Tanggal 16 Oktober ditetapkan sebagai Hari Pangan Sedunia dan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional. Penetapan Hari Pangan Sedunia dan Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional secara berurutan pada bulan yang sama tentu bukan tanpa tujuan. 

Ketiadaan (unavailability) pangan yang memadai baik jumlahnya mau pun mutunya merupakan indikator penting kemiskinan. Pangan merupakan salah satu komponen yang menentukan kelangsungan hidup manusia di mana pun berada. Sementara itu, ketersediaan pangan yang memadai baik jumlahnya mau pun mutunya mengharuskan kita untuk secara terus-menerus mengupayakannya. 

Camkanlah, jangan biarkan diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan bangsa kita terjerembab ke dalam kubangan kemiskinan. Bagaimana halnya, kalau kemiskinan itu telanjur menimpa kita? Pemerintah mengatakan angka kemiskinan pada Maret 2013 tercatat sebesar 11,37 % atau 28,07 juta orang, demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pengantar keterangan pemerintah atas RUU tentang APBN 2014 dan Nota Keuangannya. 

Angka tersebut tergolong sangat besar, namun menurut hitungan pemerintah, angka tersebut turun sekitar 5,29 % dibandingkan pada 2004. “Tingkat kemiskinan berhasil diturunkan dari 16,66 % atau 37,2 juta orang pada tahun 2004, menjadi 11,37 % atau 28,07 juta orang pada Maret 2013,” ujar Presiden di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat (16/08/2013). Berapa angka kemiskinan di Jawa Barat ? 

Gubernur Ahmad Heryawan mengatakan, tingkat kemiskinan di Jawa Barat masih cukup tinggi, yaitu mencapai 10,5% dengan tingkat pengangguran 9,85%. Gubernur berharap, program penanggulangan kemiskinan di tiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang rencananya akan dimulai tahun ini. Program tersebut tadi nantinya diharapkan akan mampu menekan angka kemiskinan dan pengangguran. 

“Kita belum bisa menargetkan berapa angka penurunan kemiskinan di Jabar dengan adanya program penanggulangan kemiskinan di tiap OPD. Namun, kemiskinan dan pengangguran harus ditekan, karena (hal itu) merupakan salah satu indikator kesejahteraan, ” papar Gubernur. Menyimak pemaparan Presiden RI dan Gubernur Jabar kita dapat memahami kalau jumlah penduduk miskin di negeri ini masih berjumlah 28 juta orang lebih per Maret 2013. Bagi kita itu angka yang seharusnya sangat menakutkan. 

Akan tetapi, memperhatikan gaya Presiden Yudhoyono dan Gubernur Heryawan dalam memaparkan angka kemiskinan tersebut kita tidak melihat mereka takut dengan jumlah sebesar itu. Dapat dikatakan, mereka melihatnya biasa-biasa saja. Misalnya, Presiden Yudhoyono seolah-olah ingin mengatakan kepada rakyatnya, bagaimana pun pemerintah sudah bekerja keras dan berhasil mengurangi angka kemiskinan dari 16,66 % atau 37,2 juta orang pada tahun 2004, 

menjadi 11,37 % atau 28,07 juta orang pada Maret 2013. Misalnya lagi, Gubernur Heryawan seolaholah ingin mengatakan kepada rakyatnya, karena sudah terdapat OPD, maka tiap-tiap OPD itulah yang paling bertanggung jawab mengentaskan kemiskinan di seantero Jabar. Apalagi, manakala Gubernur mengatakan, “kita belum bisa menargetkan berapa angka penurunan kemiskinan di Jabar”. 

Bergerak cepat 

Rakyat pada umumnya tidak tahu berapa batas minimal kebutuhan rakyat miskin itu. Dengan tidak adanya kriteria yang dibakukan kita patut khawatir angka persentase yang disebutkan di muka pun menjadi tidak akurat. Bahkan seandainya data tersebut dinyatakan akurat, kalau tidak ditindaklanjuti dengan program pengentasan yang nyata, jangan-jangan angka tersebut kini sudah membengkak lagi. 

Memang, jika kita mengacu pada angka yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2012, seorang dikatakan hidup di bawah kemiskinan itu jika pengeluaran dia hanya mencapai Rp 259.520 per bulan. Dengan dana sebesar itu dia hanya mampu membeli 30 kilogram beras per bulan. Jadi, memang tidak ada dana sama sekali untuk membeli lauk-pauk, untuk membeli sabun, untuk membeli obat-obatan, untuk membayar biaya sekolah putra-putrinya dan sebagainya. 

Oleh karena itu bisa jadi angka kemiskinan yang sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan dengan yang dipaparkan Presiden Yudhoyono dan Gubernur Heryawan. Dalam konteks pengentasan kemiskinan, kita tidak cukup memohon atau berdoa kepada Yang Maha Memberi Rizki. Kita seyogianya bahu-membahu menggalang kekuatan bersama. Caranya kita terlebih dahulu harus memosisikan kemiskinan sebagai musuh bersama (common enemy). Kemiskinan harus dibuang jauh-jauh, bila perlu hingga ke luar angkasa. 

Jika kita sudah sepakat memandang kemiskinan sebagai common enemy, jangankan mengetahui ada 28 juta lebih orang miskin, hemat saya ada sejuta orang miskin pun Presiden Yudhoyono dan Gubernur Heryawan akan merasa sangat dipermalukan. Memang seiring kenaikan harga bahan bakar minyak yang baru lalu, pemerintah telah berupaya meringankan beban masyarakat kurang mampu dengan memberikan BALSEM. 

Bulan yang lalu ada beberapa kabupaten/kota yang membagikan BALSEM. Hati ini berontak melihat antrean panjang di sejumlah kantor pos. Mereka ada yang terpaksa berangkat dari kediaman mereka sebelum subuh karena khawatir terlambat. Mereka sudah berdiri di bawah spanduk bertuliskan kata-kata yang sangat merendahkan martabat bangsa, yakni dengan mencantumkan kata miskin di dalamnya. 

Tragisnya, setelah lewat tengah hari sebagian dari mereka diperintahkan untuk membubarkan diri untuk selanjutnya mengantre lagi di kantor pos terdekat. Tragisnya lagi, setelah mengantre di kantor pos terdekat, mereka diperintahkan untuk kembali ke kantor pos semula karena nama mereka tidak terdaftar di sana. 

Solusinya? 

Khususnya buat Gubernur Heryawan, agar segera menentukan target pengentasan kemiskinan di Jabar. Ini adalah momentum terbaik buat Anda yang kini menjabat di periode kedua. Usul saya, Anda dapat menentukan penurunan kemiskinan per tahun sekitar 2% jadi dalam lima tahun ke depan tidak ada lagi warga Jabar yang tergolong miskin. Caranya, intensifkan zakat harta (maal) di seluruh Jabar. 

Dana terpendam dalam bentuk zakat maal tersebut amat sangat besar. Namun, hingga kini belum digali secara optimal. Jika Anda berhasil dalam mengentaskan kemiskinan di Jabar, saya yakin akan menginspirasi Gubernur lainnya di seluruh Indonesia. ●

Selasa, 12 Februari 2013

Evaluasi Penanggulangan Kemiskinan


Evaluasi Penanggulangan Kemiskinan
Haryono Suyono ;   Ketua Yayasan Damandiri
SUARA KARYA, 11 Februari 2013
  

Pada akhir bulan Januari lalu Menko Kesra, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan beberapa kalangan mengeluh bahwa upaya penanggulangan kemiskinan menampakkan tren yang lamban. Atau kalau berhasil, nilai penurunannya kecil. Bahkan, di beberapa daerah trennya menampakkan stagnasi, maju tidak mundurpun tidak, alias seperti layaknya tari poco-poco. Padahal pelaksana dan anggaran yang telah disediakan dan terserap berjumlah triliunan rupiah. Begitu juga komitmen politiknya sangat tinggi disertai dengan petunjuk berupa Instruksi Presiden atau instruksi jajaran pimpinan di bawahnya yang cukup luas. Karena itu, dipertanyakan alasan kelambanan tersebut.

Dicatat bahwa beberapa daerah yang menunjukkan kemajuan berarti mempunyai strategi yang ampuh karena pemilihan sasaran yang tajam dan pengertian yang luas tentang bentuk intervensi dukungan yang diberikan kepada masyarakat miskin dan lingkungannya dalam artian luas. Daerah-daerah yang berhasil umumnya mempunyai kemampuan memperbaiki infrastruktur dan fasilitas yang memadai. Sehingga, keluarga miskin yang diberdayakan mampu mengakses pelayanan yang diberikan pemerintah atau dari partisipasi masyarakat yang peduli. Daerah-daerah yang menunjukkan kenaikan IPM ditandai munculnya keluarga miskin yang menyumbang kenaikan IPM bukan hanya karena yang sudah mampu makin menanjak saja. Kenaikan sedikit saja dari setiap keluarga miskin, karena keluarga miskin jumlahnya banyak, akan sangat signifikan dibandingkan dengan kenaikan sedikit dari nilai yang sudah tinggi.

Daerah-daerah yang belum menunjukkan hasil positif biasanya adalah daerah-daerah yang pendekatan operasional mikronya kurang seksama, tidak cermat mempergunakan data rumah tangga sangat miskin (RTSM), rumah tangga miskin (RTM) dan rumah tangga hampir miskin (RTHM). Daerah yang menyebut RTSM sebagai sasaran utama tetapi tidak memberikan dukungan yang sesuai karena tidak diikuti partisipasi dari keluarga miskin dalam proses pemberdayaan akan kecele. Karena setelah diberikan bantuan rescue agar hidup layak, keluarga miskin itu akan segera miskin lagi begitu bantuan yang diterimanya habis dikonsumsi. RTSM, menurut indikator kemiskinan BPS, sebagai ringkasan indikator keluarga sejahtera yang pernah digunakan BKKBN untuk melihat tahapan kemajuan tahapan keluarga, memerinci kemiskinan menurut 14 indikator yang menunjukkan kelemahan keluarga tersebut.

Artinya, RTSM tidak seluruhnya tidak potensial atau harus dibantu seumur hidup. Oleh karena itu disamping diberikan bantuan rescue, utamanya keluarga potensial, harus segera didukung pelatihan ketrampilan, kesempatan kerja atau kesempatan berusaha agar segera menjadi keluarga yang mandiri. Dengan cara itu keluarga tersebut tidak akan kembali menjadi keluarga yang sangat miskin.

Kesalahan kedua adalah bahwa banyak daerah yang usahanya terkonsentrasi hanya pada RTSM saja dan melupakan RTM serta RTHM. Batas antara RTM, RTHM dan RTSM sangat tipis yakni cukup dipenuhinya satu atau dua indikator dari 14 indikator keluarga miskin versi BPS. Andaikan satu atau dua indikator yang tadinya positif berubah menjadi negatif, maka otomatis keluarga itu akan masuk ke kategori rumah tangga sangat miskin (RTSM). Kemungkinan terjadinya proses seperti tarian Poco-poco sangat tinggi, yaitu misalnya sepuluh orang keluarga sangat miskin dientaskan, tetapi dua puluh keluarga miskin berubah turun statusnya menjadi RTSM. Atau keluarga hampir miskin dengan mudah berubah menjadi keluarga miskin atau keluarga sangat miskin.

Oleh karena itu daerah yang ingin menanggulangi kemiskinan dengan lebih lestari dianjurkan untuk membangun pos pemberdayaan keluarga (posdaya) dan menempatkan keluarga miskin dan keluarga hampir miskin sebagai sasaran utama didampingi keluarga yang sudah maju dan diberikan pemberdayaan secara sungguh-sungguh. Pemberian bantuan langsung harus betul-betul dilakukan sebagai dukungan dalam keadaan darurat, sementara keluarga miskin pada umumnya dipersiapkan sebagai calon pekerja atau pengusaha mikro yang dibimbing oleh seluruh masyarakat dengan perhatian dan pemihakan penuh kasih sayang. Kalau tidak ada keberpihakan pada keluarga miskin, hampir pasti upaya penanggulangan kemikiskinan sama dengan mempertontonkan tarian poco-poco yang tidak menarik.

Kesalahan lain yang umum terjadi adalah bahwa proses pemberdayaan tidak selalu dipentingkan siapa sasarannya. Orientasi proyek dan kebiasaan untuk mengambil cara mudah, apabila diadakan pelatihan ketrampilan atau undangan untuk mengikuti proses pemberdayaan menyebabkan acara pelatihan yang diikuti dengan pemberian modal, syarat-syaratnya begitu tinggi sehingga peserta bukan lagi keluarga atau anggota keluarga sangat miskin, keluarga miskin atau keluarga hampir miskin sesuai daftar yang ada. Tetapi, lebih mengacu pada kemampuan keluarga yang menjadi peserta menurut selera penyelenggara yang dianggap bisa menyerap materi pelatihan dan sanggup menyediakan agunan untuk dana pinjaman yang disediakan. Dana KUR misalnya, dalam praktek bukan lagi untuk orang miskin, karena untuk mendapatkannya diperlukan pengalaman dan kemampuan tata kelola usaha yang matang. Banyak dana lain yang melimpah tetapi menempatkan keluarga miskin sebagai penonton belaka.

Gerakan menabung dan kredit Tabur Puja yang disediakan antara Rp 200 miliar sampai Rp 1 trilliun oleh Yayasan Damandiri melalui Bank BPD, Bank Bukopin, Bank BPR dan lainnya merupakan satu alternatif yang perlu segera diikuti oleh Bank-bank lain. Karena, bisa diakses oleh kelompok dengan sistem tanggung renteng dan pendampingan oleh keluarga yang mampu oleh kelompoknya atau mahasiswa dalam kuliah kerja nyata (KKN) tematik posdaya. Pengalaman membuktikan bahwa apabila sasaran sangat dipertajam dan dilakukan dengan semangat tinggi, pelaksanaan pemberdayaan itu membawa hasil yang menakjubkan. ●

Selasa, 01 Januari 2013

Mengatasi Kemiskinan


Mengatasi Kemiskinan
Firmanzah ;   Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan 
REPUBLIKA, 31 Desember 2012



Kemiskinan merupakan musuh bersama. Persoalan kemiskinan dalam berbagai literatur ilmiah dibedah dengan menggunakan dua pendekatan yang dipandang sebagai pemicu kemiskinan, yakni kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural. 
Premis kemiskinan struktural seringkali membenturkan kemiskinan sebagai akibat ketidakberpihakan pembuat kebijakan atau pemerintah atau sebaliknya.
Sementara, di sisi lain kemiskinan kultural hadir sebagai akibat dari keterbelakangan sosial, budaya, eko nomi, politik yang berimbas pada sikap dan perilaku.

Bagi Indonesia, penanggulangan dan pengentasan kemiskinan merupakan prioritas nasional yang telah didesain dalam berbagai program kerja jangka panjang pemerintah. Komitmen pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan telah dituangkan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3 - KI) 2012-2025.

Kinerja program pengentasan kemiskinan telah mampu mampu menekan angka kemiskinan secara bertahap. Sepanjang 2005-2012, angka kemiskinan menurun rata-rata antara 1,16 persen hingga 1,27 persen per tahun dan menyejahterakan sekitar tujuh juta jiwa penduduk. 

Melalui empat klaster yang telah didesain, pengentasan kemiskinan kini telah banyak menunjukkan hasil yang positif. Angka kemiskinan per Maret 2012 dapat ditekan menjadi 29 juta orang (11,9 persen) dari 35,7 juta orang (15,97 persen) di tahun 2005. Angka ini ditargetkaan dapat mencapai 11,5 persen di akhir 2012 serta pada 2013 dan 2014 ditargetkan masing-masing di kisaran 9,5-10,5 persen dan 8-9 persen.

Program Pengentasan

Skenario empat klaster sasaran program pengentasan kemiskinan sudah menunjukkan keberhasilan, khususnya dalam menekan jumlah penduduk miskin melalui keep buying strategy. Strategi ini sekaligus juga mencegah "jatuhnya" kelompok masyarakat menjadi "miskin" akibat external-shockdari dampak krisis di zona Eropa dan resesi global.

Klaster satu, bantuan dan perlindungan sosial. Pada kelompok ini pemerintah memberikan bantuan kepada rumah tangga sasaran (RTS) untuk peningkatan pemenuhan kebutuhan dasar. Program ini meliputi Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Raskin, Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan bantuan sosial lainnya. 

Anggaran BOS tahun 2012 sebesar Rp 27,67 triliun memungkinkan tiap siswa SD mendapat bantuan Rp 580 ribu per tahun dan siswa SMP sebesar Rp 710 ribu per tahun. Selain itu, 1,1 juta beasiswa untuk siswa SMA dengan anggaran Rp 860,3 miliar dan 400 ribu siswa SMK dengan anggaran Rp 312 miliar. Selain itu, beras bersubsidi untuk rumah tangga miskin (Raskin) masing-masing 15 kg per RTS per bulan dengan harga Rp 1.600 per kg. Total anggaran disiapkan Rp 15,3 triliun untuk 3,15 juta ton Raskin bagi 17,49 juta RTS.

Program Keluarga Harapan (PKH) diberikan kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM). Setiap RTSM mendapat antara Rp 600 ribu dan Rp 2,2 juta per tahun. Anggaran PKH 2012 sebesar Rp 1,8 triliun untuk 1,5 juta RTSM di 33 provinsi, 168 kabupaten/kota, dan 1.787 kecamatan.  Anggaran kesehatan gratis 2012 sebesar Rp 7,55 triliun, meliputi Jamkesmas Rp 5,9 triliun dan Jamersal (Jaminan Persalinan) Rp 1,75 triliun. Bantuan sosial lainnya, seperti bantuan sosial untuk pengungsi korban bencana alam/sosial, bantuan untuk penyandang cacat Rp 300 ribu per bulan, dan bantuan untuk lanjut usia (lansia) telantar Rp 200 ribu per orang per bulan untuk 26.500 orang.

Klaster dua, pemberdayaan masyarakat. Klaster dua ditujukan untuk meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan pemberdayaan masyarakat dalam proses pembangunan. Program pada klaster ini dilakukan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri di lima kementerian. Anggaran PNPM 2012 mencapai Rp 14,053 triliun.

Klaster tiga, kredit usaha rakyat (KUR). Program pada kelompok ini dilaksanakan dengan tujuan membantu usaha mikro dan kecil untuk meningkatkan kapasitas serta memperluas usahanya. Melalui program ini, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapat KUR. KUR tahun 2010 telah dikucurkan Rp 17,23 triliun dan tahun 2011 Rp 29 triliun. Tahun 2012, KUR ditargetkan lebih dari Rp 30 triliun sehingga dapat memperbesar aksesibilitas finansial usaha mikro dan kecil yang non-bankable. Mekanisme KUR yang diluncurkan sejak 2007 ini telah berhasil meningkatkan daya beli masyarakat kelas bawah dan menekan angka kemiskinan. 

Klaster empat, program prorakyat. Program pada klaster ini dimaksudkan untuk melengkapi berbagai program dan kegiatan yang telah dijalankan melalui 3tiga klaster lainnya. Program ini, antara lain, program rumah sangat murah dan murah tahun 2012 sebanyak 6.162 unit dengan anggaran Rp. 514,58 miliar, program kendaraan umum angkutan murah dengan anggaran APBN 2012 Rp 50 miliar, program listrik murah dan hemat dengan anggaran Rp 288 miliar, program peningkatan kehidupan nelayan Rp 1,2 triliun. 

Selain itu, juga program penyediaan air minum berbasis masyarakat (Pamsimas) tahun 2012 di 571 desa, sistem penyediaaan air minum (SPAM) di 275 kawasan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), 131 kecamatan, 418 desa, dan 205 kawasan khusus dengan anggaran Rp 2,164 triliun. selain itu, program peningkatan kehidupan mas ya rakat pinggir perkotan sebesar Rp 74,77 miliar di lima wilayah sebagai kan tong kemiskinan-kota, yakni DKI Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. 

Pada 2013, pemerintah mendorong integrasi program di semua klaster untuk mengakselerasi pengentasan kemiskinan. Ditargetkan, kemiskinan di Indonesia dapat ditekan di kisaran 9,5 persen hingga 10,5 persen pada akhir 2013. Alokasi anggaran dalam UU 19 tahun 2012 tentang APBN 2013 untuk pengentasan kemiskinan pun mencapai Rp 115,5 triliun.

Strategi pencapaian target pengentasan kemiskinan melalui empat klaster ini diharapkan mampu menjadi bantalan penekan jumlah penduduk miskin menuju masyarakat sejahtera. Dengan spirit Indonesia incorporated, pengentasan kemiskinan dapat lebih mudah diwujudkan. Masa depan Indonesia adalah Indonesia sejahtera dengan tingkat peradaban tinggi dan terbebas dari kemiskinan, keterbelakangan, dan kesenjangan ekonomi. ●

Senin, 19 November 2012

Efektivitas Penanggulangan Kemiskinan


Efektivitas Penanggulangan Kemiskinan
Abdul Haris ;   Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Kota Depok, Jabar
SUARA KARYA, 19 November 2012


Selama ini sudah banyak teori tentang kemiskinan dan penanggulangan kemiskinan yang dikembangkan dan diterapkan di Indonesia. Namun, tidak ada yang efektif. Pada kesempatan ini akan disoroti penanggulangan kemiskinan dari segi praktis di lapangan diyakini berpangaruh terhadap keberhasilan pencegahan dan penanggulangan kemiskinan di negeri ini.
Dalam penyelesaian suatu persoalan terlebih dahulu perlu diketahui akar persoalannya. Itu, maksudnya agar dapat mencari jalan penyelesaiannya secara efektif. Ada persoalan lebih fundamental yang sering dilupakan orang adalah persoalan pola pikir, pola sikap dan pola tindak yang keliru dalam menata kehidpan individu dan masyarakat. Yang sebenarnya hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perjuangan hidup dan perbaikan nasib seseorang. Hal ini akan jauh lebih mendasar, lebih punya daya ungkit (trigger effect) terhadap upaya perbaikan kehidupan seseorang.
Seperti ungkapan bijak, apakah memberi ikan atau memberi kail. Mana yang lebih baik, tentunya tergantung kondisi. Memang ada kalanya perlu memberi ikan, meskipun yang lebih baik dan berkelanjutan adalah memberi kail. Tetapi yang jauh lebih baik adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan bagaimana mendapatkan ikan tersebut. Selama ini pemerintah sudah melancarkan program penanggulangan kemiskinan yang sangat beragam jenis kegiatannya, baik berupa pemberian bantuan langsung, bantuan permodalan, bantuan sarana dan prasarana, serta bantuan infrastruktur. Namun penurunan angka kemiskinan belum begitu menggembirakan, dan bahkan banyak yang komplain bahwa tidak ada penurunan.
Hal tersebut kemungkinan bisa terjadi karena para pihak terkait tidak memperhatikan hal yang paling mendasar tadi. Akibatnya bisa terjadi salah sasaran. Atau kalau sasarannya benar orang miskin, tetapi pola pikir dan pola tindak yang salah tadi tidak dibenahi terlebih dahulu.
Pada suatu kesempatan saya bersama pimpinan hadir pada acara masyarakat di masjid. Salah seorang pengurus masjid menanyakan kepada pimpinan apakah ada bantuan pemerintah terhadap pembayaran gaji guru mengaji anak-anak di TPA masjid tersebut. Dengan alasan bahwa orang tua anak-anak tersebut tidak mampu membayar iuran yang hanya sepuluhan ribu per bulan. Ketika itu, pimpinan menjawab bahwa tidak ada alokasi anggaran untuk keperluan tersebut.
Lantas kami mendekati pengurus tersebut dan menanyakan lebih rinci lagi terkait permasalahan yang disampaikan tersebut. Berapa kesanggupan orang tua membayar, dijawab hanya sedikit, sekitar di bawah sepuluh ribu rupiah. Kemudian ditanyakan lagi, apakah kenal dengan orang tuanya dan apakah mereka merokok. Dijawab bahwa kenal dengan orang tuanya dan mereka merokok. Menghabiskan rokok kira-kira satu sampai dua bungkus sehari.
Dengan demikian kami sampaikan bahwa melalui hitungan yang benar sebenarnya orang tua mereka akan sangat mampu membayar iuran mengaji anaknya jika menggunaan pola pikir dan pola tindak yang benar. Biaya rokok sehari akan lebih besar dari pada iuran mengaji anaknya sejumlah tersebut di atas dalam sebulan. Dengan pola pikir dan pola tindak yang benar tadi, maka seharusnya mereka lebih mementingkan (memprioritaskan) membayar iuran mengaji anaknya sebulan yang besarnya hanya sekitar sebesar biaya rokoknya sehari. Mendengar uraian seperti ini baru sang pengurus masjid memahami dan tercengang bahwa keluhan selama ini adalah salah kaprah.
Jika diberikan bantuan kepada orang tua yang demikian, akan membuat mereka lebih terpuruk dalam kehidupannya. Yaitu, orang tuanya terus saja merokok, yang berbahaya terhadap kesehatannya, dan dapat membuat keluarganya lebih miskin jika terkena panyakit akibat merokok. Di lain pihak anaknya tidak akan menjadi pintar jika tidak bisa belajar hanya karena tidak bisa membayar iuran. Disinilah diperlukan kejelian para pendekar penanggulangan kemiskinan untuk menanggulangi kemiskinan di negeri ini .
Pada kesempatan lain kami dengan pimpinan mengunjungi rumah tidak layak huni, yang direncanakan akan memperoleh bantuan dana pembangunan RTLH (Rumah Tidak Layak Huni). Saat itu siang hari sekitar pukul 11.00 WIB, sang kepala keluarga masih tidur nyenyak, padahal saat yang sama orang lain sudah bekerja mencari nafkah hampir setengah hari.
Seorang kolega Kepala Dinas mengatakan, "bagaimana tidak miskin jam segini bapaknya masih tidur, kita saja sudah bekerja dari pagi." Sementara perintah Allah Swt, Sang Pencipta bahwa hendaklah setelah sholat agar bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah Swt. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu merubah nasibnya sendiri.
Banyak juga yang mengeluh dengan berprinsip bahwa bagaimana kami bisa merubah nasib sementara kami tidak mampu. Mau sekolah tidak punya biaya, mau usaha tidak mempunyai modal, mau bekerja tidak mempuyai keterampilan, dan lain sebagainya. Untuk prinsip yang seperti ini maka dikembalikan kepada prinsip yang benar yaitu jangan baru awal sudah melihat permasalahan dan tantangan yang dirasa tidak membuat berhasil.
Namun, sebaliknya harus mempunyai sikap yang positif, yakin akan kebesaran Allah dan potensi yang dimiliki atas pemberian Allah azza wa jalla. Niat yang benar dan kuat diiringi dengan semangat (motivasi) yang tinggi, dilengkapi oleh upaya dan kerja keras melalui perjuangan yang tiada kenal menyerah, dan selalu diiringi doa. Yakinlah keberhasilan dan kesuksesan akan dapat diraih. Kemiskinan hanya dapat ditanggulangi dari diri orang yang bersangkutan, dan pemahaman terhadap inti persoalan sehinga penanggulangan kemiskinan berjalan efektif. ●