Tampilkan postingan dengan label Zuhairi Misrawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zuhairi Misrawi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2019

Gertak Sambal AS terhadap Iran

Kamis 11 Juli 2019, 16:02 WIB

Gertak Sambal AS terhadap Iran

Zuhairi Misrawi - detikNews

Langkah Amerika Serikat (AS) menekan Iran mendapat perhatian banyak pihak. Kira-kira manuver apa yang akan diambil oleh Presiden Donald Trump dalam rangka meredam pengaruh Iran di Timur-Tengah? 

Selasa, 04 September 2018

Jemaah Haji dari Israel

Jemaah Haji dari Israel
Arab Saudi : Berkawan dengan Israel, Berseteru dengan Iran..Suriah..dan Qatar
Zuhairi Misrawi ;  Intelektual Muda Nahdlatul Ulam;  
Analis Pemikiran dan Politik Timur-Tengah di The Middle East Institute
                                                   DETIKNEWS, 30 Agustus 2018



                                                           
Akun Twitter Israel dalam bahasa Arab @ArabicIsrael mengucapkan terima kasih atas kemudahan yang diberikan Arab Saudi bagi jemaah haji dari Israel. "Puji Tuhan, Israel telah diberikan kemudahan oleh Arab Saudi bagi 4.000 lebih warganya yang Muslim untuk berziarah ke bumi Hijaz dalam rangka menunaikan ibadah haji," tulis akun resmi pemerintah Israel.

Di bawah kicauan Israel tersebut, terdapat pernyataan Abdullatif bin Abdulaziz Al Syaikh, Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi, yang melontarkan pujian kepada Israel karena tidak melarang 4.000 lebih warganya yang Muslim untuk menunaikan ibadah haji. "Sangat mengejutkan, Negara Israel tidak melarang warganya untuk datang ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji. Sedangkan ada beberapa negara yang justru melarang warganya untuk menunaikan ibadah haji," ujar Abdulaziz Al Syaikh.

Sontak, kedua pernyataan tersebut menimbulkan reaksi di Timur-Tengah. Setidaknya netizen memandang ada dua pemandangan yang unik dari apa yang dipertontonkan oleh Arab Saudi dan Israel kepada publik. Pertama, hubungan mesra antara Arab Saudi dan Israel. Pujian Arab Saudi terhadap Israel yang disampaikan secara terbuka terkait ibadah haji warga Israel yang Muslim terlihat ganjil, karena disertai dengan pernyataan sinis terhadap beberapa negara Arab yang dianggap melarang warganya menunaikan ibadah haji yang diwajibkan dalam Islam, khususnya bagi mereka yang mempunyai kemampuan.

Secara implisit, sindiran Arab Saudi tersebut ditujukan kepada Suriah yang dalam 7 tahun terakhir tidak mengirimkan warganya untuk menunaikan ibadah haji. Sedangkan Qatar sudah 2 tahun tidak mengirimkan warganya untuk melaksanakan ibadah haji. Tahun lalu Iran juga memboikot pelaksanaan ibadah haji bagi warganya menyusul ketegangan politik antara kedua negara.

Hubungan antara Arab Saudi dengan Suriah dan Qatar terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir akibat perselisihan yang tidak kunjung selesai. Sejak angin revolusi berembus di Suriah, Arab Saudi termasuk pihak terdepan yang menyerukan #GantiPresiden. Sedangkan terhadap Qatar, Arab Saudi melakukan blokade udara, darat, dan laut, termasuk blokade ekonomi. Karenanya, kedua negara tersebut memutuskan untuk menyetop pengiriman jemaah haji, karena khawatir tidak ada jaminan keamanan dan pelayanan terbaik bagi warganya yang hendak menunaikan jemaah haji.

Ironisnya, Arab Saudi justru memuji pemerintah Israel yang selama ini dikenal sebagai musuh bebuyutan dunia Arab dan menyindir kedua negara tetangganya dalam hal pengiriman jemaah haji. Hal tersebut telah menimbulkan kegemparan di Timur-Tengah, karena Arab Saudi secara terang-terangan menunjukkan kemesraan terhadap Israel. Sebaliknya, secara terbuka bersikap kasar terhadap Suriah dan Qatar.

Kedua, frase yang banyak dipersoalkan oleh netizen yaitu pengakuan atas "Negara Israel". Abdulaziz Al Syaikh secara eksplisit menyebut Israel dengan "negara" yang juga dapat menjelaskan semakin mesranya hubungan Arab Saudi dan Israel. Frase tersebut masih sangat kontroversial di Timur-Tengah, bahkan bagi dunia Islam. Meski Israel sudah resmi berdiri dan diakui sebagai negara oleh PBB sejak 1948, tetapi kehadiran Israel di bumi Palestina masih menjadi "petaka" (nakba), karena Israel lebih tepat dianggap sebagai "penjajah".

Terlepas dari kontroversi pernyataan Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi tersebut, sebenarnya yang harus mendapatkan perhatian adalah perihal eksistensi warga Muslim di Israel. Di tengah mayoritas warga Yahudi di Israel, rupanya terdapat minoritas warga Muslim yang jumlahnya terus bertambah, sekitar 1,4 juta warga. Secara prosentase, jumlah warga Muslim di Israel sekitar 17%, yang sebagian besar berbahasa Arab.

Pada 1948, ketika Israel berdiri, jumlah warga Muslim sekitar 200.000. Jumlah tersebut terus bertambah hingga 1,4 juta pada 2016. Secara mazhab, di antara mereka ada yang Sunni, Syiah, Alawiyah, Ahmadiyah, Sufi, dan Tarekat Syadziliyah. Ada sekitar 500 masjid dengan 300 lebih imam yang dibiayai oleh Israel. Ada sekitar 26.000 pelajar Muslim yang tersebar di berbagai lembaga pendidikan, dan 1.700 warga Muslim yang menjadi militer.

Menurut statistik yang dikeluarkan kementerian Luar Negeri Israel, pertumbuhan populasi warga Muslim di Israel sejak 1948 sekitar 10 kali lipat. Anggaran yang dikeluarkan per tahun bagi warga Arab Muslim sekitar 4 miliar dolar AS untuk pembangunan bagi mereka.

Warga Muslim di Israel mempunyai kebebasan untuk menunaikan ibadah, termasuk puasa Ramadan dan ibadah haji. Di samping itu, mereka mempunyai museum kesenian Islam di Jerusalem yang disokong sepenuhnya oleh pemerintah Israel.

Meskipun mayoritas warga Israel adalah penganut Yahudi, yang konon mencapai 75%, tetapi tidak bisa dimungkiri ada 17% warga Muslim di Israel yang menjadi warga negara. Mereka mempunyai hak yang setara dengan warga negara Yahudi lainnya, termasuk dalam hal membela negara.

Sebagai minoritas di Israel, warga Arab Muslim membutuhkan perhatian dari kita semua. Nasib mereka tidak selalu mujur. Ketegangan politik yang kerap berkecamuk dengan Palestina sangat berpengaruh terhadap nasib warga Muslim di Israel. Mereka kerap mendapatkan ketidakadilan, termasuk hak mereka untuk memilih dan untuk dipilih dalam parlemen kerap mendapatkan ketidakadilan.

Apalagi setelah terbitnya undang-undang baru yang secara resmi menyebut Israel sebagai negara-bangsa bagi warga Yahudi, hal tersebut telah menimbulkan protes dari warga Arab Muslim di Israel. Mereka mempertanyakan undang-undang yang secara eksplisit bertentangan dengan konstitusi Israel yang telah menjamin kesetaraan bagi setiap warganya, apapun agama, warna kulit, suka, dan bahasanya.

Selamat bagi warga Muslim Israel yang baru saja menunaikan ibadah haji. Semoga nasib mereka di masa-masa mendatang semakin baik, tidak didiskriminasi oleh kelompok mayoritas. Mereka sebenarnya dapat digunakan sebagai juru runding perdamaian antara Israel dan Palestina, bahkan juru runding perdamaian di Timur-Tengah. ●

Rabu, 29 Agustus 2018

Israel dan Negara Yahudi

Israel dan Negara Yahudi
Zuhairi Misrawi ;  Intelektual Muda Nahdlatul Ulama; 
Analis Pemikiran dan Politik Timur-Tengah di The Middle East Institute
                                                   DETIKNEWS, 23 Agustus 2018



                                                           
Di tengah hiruk-pikuk konflik antara Palestina dan Israel yang tidak pernah surut, kini Israel terus melakukan manuver untuk meneguhkan dirinya sebagai negara Yahudi. Setelah melalui pembahasan yang cukup alot dan berkepanjangan, kurang lebih 5 tahun, akhirnya Benyamin Netanyahu berhasil meloloskan undang-undang yang secara eksplisit menegaskan Israel sebagai negara bagi umat Yahudi (nation state of the Jewish people).

Undang-undang tersebut mendapatkan suara mayoritas dalam voting di parlemen. Koalisi sayap kanan pemerintahan Netanyahu berhasil mengalahkan sayap tengah dan sayap kiri di parlemen. Dari 120 kursi di parlemen, 62 suara setuju, 55 suara menolak, 2 suara abstain, dan 1 suara absen.

Ada dua dampak yang dapat dilihat dari keputusan penting yang diambil oleh Netanyahu dengan dukungan mayoritas parlemen tersebut. Pertama, Israel semakin mengukuhkan dirinya sebagai negara Yahudi. Hal tersebut sesuai dengan cita-cita kaum Zionis yang sejak awal mempunyai mimpi mendirikan negara Yahudi di Palestina.

Sejak merdeka pada 1948, Israel belum bisa memenuhi mimpi kaum Zionis yang ingin menjadikan Israel sebagai negara Yahudi. Ketika merdeka, Israel justru menjadi negara yang menganut demokrasi yang menjamin sepenuhnya kesetaraan dan hak-hak politik bagi setiap warganya. Seluruh warga Israel mempunyai kedudukan hukum yang sama.

Namun, setelah 70 tahun merdeka sayap kanan Israel berhasil mewujudkan impiannya. Israel secara eksplisit memberikan keistimewaan bagi orang-orang Yahudi, karena secara eksplisit menegaskan dirinya sebagai negara bagi orang-orang Yahudi.

Sikap yang diambil Netanyahu bersama partai koalisinya bukan tanpa protes. Kelompok minoritas, khususnya Arab dan Druz, sayap tengah dan sayap kiri menentang keras langkah yang diambil oleh Netanyahu. Langkah yang diambil merupakan sebuah kemunduran dan pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yang menjamin kesetaraan bagi seluruh kelompok.

Kemenangan sayap kanan Israel tidak lain berkat kampanye populis dan menguatnya sayap ultra-nasionalis dalam beberapa tahun terakhir. Israel selalu memainkan kartu politik konservatif, yang menjadikan demokrasi semakin kehilangan substansinya.

Di sisi lain, Netanyahu sedang berjudi untuk memperluas pendudukan Israel di Tepi Barat, yang sedang merencanakan pembangunan ilegal. Kebijakan menjadikan Israel sebagai negara bagi orang-orang Yahudi secara implisit sebagai karpet merah bagi Israel untuk terus melakukan aneksasi terhadap wilayah-wilayah Palestina dengan menggunakan payung Israel sebagai negara Yahudi. Israel juga mengundang orang-orang Yahudi yang berada di Eropa dan Amerika Serikat untuk kembali ke Israel, karena saat ini Israel sudah resmi menjadi negara bagi orang-orang Yahudi.

Di samping itu, ada yang menyatakan langkah yang diambil Netanyahu dalam rangka menutupi dua kasus korupsi yang menimpa dirinya dan keluarganya. Netanyahu sedang mencari simpati dari mayoritas warga Israel dengan mengambil keputusan yang kontroversial tersebut.

Kedua, langkah yang diambil Netanyahu merupakan sinyal kuat bagi Palestina, bahwa di masa mendatang langkah yang akan diambil Israel terkait Palestina akan semakin keras. Israel tidak hanya mempunyai legitimasi politik untuk menjajah Palestina, tetapi sekarang sudah mempunyai legitimasi religius.

Apalagi Israel dalam undang-undang tersebut semakin menegaskan seluruh wilayah Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Maknanya, Israel akan melakukan berbagai caranya untuk terus mempersempit wilayah Palestina, bahkan jika dimungkinkan ingin dihapus dari peta Palestina. Perluasan pendudukan Israel di Tepi Barat merupakan bukti nyata, Israel terus berusaha untuk menguasai Palestina dan menjadikan mimpi Palestina merdeka jauh dari kenyataan.

Maka dari itu, kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh Israel terkait Palestina akan semakin merugikan Palestina. Israel akan terus menekan Palestina, termasuk menggunakan kekerasan dalam menghadapi Palestina. Beberapa perkembangan mutakhir di Tepi Gaza dan Tepi Barat semakin mengukuhkan, bahwa Israel sedang menggunakan kebijakan politik fundamentalis terhadap Palestina.

Di satu sisi Israel ke dalam membangun kebijakan yang menguntungkan kelompok mayoritas Yahudi, sementara ke luar Israel cenderung menggunakan kekerasan terhadap Palestina. Dua kebijakan tersebut saling berkait-kelindan dengan tujuan mengukuhkan eksistensi kaum kanan yang saat ini merupakan kelompok mayoritas di parlemen.

Netanyahu merupakan pihak yang mendulang keuntungan politik dari kebijakan tersebut. Posisinya akan semakin populer di Israel, dianggap sebagai sosok yang berhasil mewujudkan mimpi kaum Zionis.

Meskipun demikian, langkah yang diambil Israel bukan tanpa cacat. Israel yang selama ini dianggap sebagai negara paling demokratis di Timur-Tengah sudah tidak mungkin lagi menyandang status tersebut. Israel tidak pantas lagi disebut disebut sebagai negara demokratis, karena memberikan keistimewaan terhadap kaum Yahudi.

Di samping itu, sikap yang diambil Israel terhadap Palestina akan menjadikan perdamaian di Timur-Tengah semakin jauh dari harapan dunia. Israel sedang berambisi untuk meneguhkan dominasinya di kawasan dengan doktrin Yahudisasi Israel, dan terus melakukan kebijakan yang keras terhadap Israel.

Penyerangan membabi buta Israel ke Jalur Gaza dan Tepi Barat dalam beberapa minggu terakhir membuktikan masa depan Palestina semakin tidak menentu. Jangankan untuk memberikan kemerdekaan bagi Palestina, kepada kelompok minoritas di dalam Israel pun, Netanyahu tengah merenggut kebebasan tersebut.

Tidak menutup kemungkinan, langkah yang diambil Netanyahu tersebut juga membangkitkan gairah kaum fundamentalis di kawasan Timur-Tengah untuk mendirikan negara agama, seperti yang selama ini disebarkan oleh kelompok transnasional.

Pada akhirnya, Israel merupakan contoh nyata dari fundamentalisme agama yang mendapatkan stempel dari negara dengan menggunakan baju demokrasi elektoral. Langkah yang diambil Israel tersebut merupakan ancaman yang serius bagi demokrasi dan perdamaian di Timur-Tengah. ●

Sabtu, 31 Maret 2018

Memahami Konflik di Suriah

Memahami Konflik di Suriah
Zuhairi Misrawi  ;   Intelektual Muda Nahdlatul Ulama;  Analis Pemikiran dan Politik Timur-Tengah di The Middle East, Jakarta
                                                    DETIKNEWS, 15 Maret 2018



                                                           
Ada seorang ustaz yang ditanya perihal tips agar negeri ini tidak terpecah-belah dan terlibat dalam konflik akut seperti konflik di Suriah. Ustaz tersebut menjawab agar kita tidak mudah terperosok dalam kubangan hoaks, dan selalu melakukan klarifikasi dan verifikasi alias tabayyun.

Namun ironis, ustaz tersebut justru memberikan testimoni yang sangat ganjil nan ganjal terkait konflik politik yang terjadi di Suriah. Penjelasannya tidak berdasarkan tabayyun, melainkan asumsi personal yang bersifat dangkal dan subjektif. Bahkan pandangannya dapat membahayakan, karena berusaha membenturkan antara Sunni dan Syiah. Beruntung para mahasiswa yang belajar di Damaskus berhasil memberikan tanggapan yang mencerminkan situasi objektif yang terjadi di Suriah.

Sampai sekarang ustaz yang menyerukan tabayyun itu tidak mau melakukan tabayyun. Setidak-tidaknya merevisi pandangannya dalam memotret konflik politik yang terjadi di Suriah saat ini.

Di sini diperlukan sebuah cara pandang yang mencerminkan dua sisi (cover both side) untuk memahami konflik yang berlangsung hampir delapan tahun itu. Harus diakui, bahwa konflik yang terjadi di Suriah adalah murni konflik politik antara rezim yang berkuasa Bashar al-Assad dengan kelompok oposisi.

Angin revolusi yang berembus di Tunisia dengan cepat menjalar ke beberapa negara di Timur-Tengah. Di Mesir angin revolusi berhasil menumbangkan rezim otoriter Hosni Mubarak. Di Libya berhasil menjungkalkan kursi kekuasaan Moamar Qaddafi. Di Yaman berhasil menggulingkan Ali Abdullah Saleh.

Namun, ketika angin revolusi berembus kencang di Suriah, Bashar al-Assad masih kokoh sebagai orang nomor wahid, bahkan posisinya saat ini semakin kokoh. Kenapa Bashar al-Assad tidak mudah digulingkan?

Pertama, Bashar al-Assad masih mendapatkan dukungan yang luas dari warga Suriah. Ia sosok pemimpin yang dicintai rakyatnya, karena ia mampu mempersatukan warga Suriah di tengah gempuran pihak Barat dan Israel. Mustahil ia bisa bertahan selama ini jika tidak mendapatkan dukungan yang besar dari warganya. Itulah yang membedakan antara Bashar al-Assad dengan Hosni Mubarak, Ali Abdullah Saleh, Ben Ali, dan Moammar Qaddafi.

Kegagalan revolusi di sejumlah negara Arab telah membukakan kesadaran warga Suriah, bahwa tidak mudah untuk memilih jalan revolusi. Karena jika tidak hati-hati, maka akan mudah terjerembab pada masalah yang lebih besar, yaitu instabilitas politik dan krisis ekonomi yang akut. Fakta tersebut terjadi di Mesir, Yaman, dan Libya. Hanya ada satu negara yang relatif membaik dari segi demokrasi, yaitu Tunisia. Meskipun, Tunisia juga menghadapi masalah ekonomi yang tidak mudah.

Bashar al-Assad diuntungkan oleh momentum kegagalan negara-negara Arab lainnya yang tidak mampu bangkit dari krisis politik dan ekonomi, sehingga ia berhasil merebut kembali hati warga Suriah untuk mendukung dirinya.

Kedua, kelompok oposisi yang tidak solid. Sebagai kekuatan penyeimbang dan pro-perubahan, kelompok oposisi semakin lama telah kehilangan legitimasi karena mereka tidak mampu membentuk sebuah kekuatan bersama yang mencerminkan aspirasi politik warga Suriah. Alih-alih ingin membentuk oposisi yang solid, mereka justru terlibat dalam konflik internal yang akut.

Ketiga, kelompok teroris yang ingin mendulang keuntungan dari instabilitas politik di Suriah. Selama ini Bashar al-Assad selalu menegaskan bahwa kelompok teroris berada di balik konflik politik di Suriah. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, karena semua maklum ISIS telah memporak-porandakan Suriah. Belum lagi kelompok teroris yang berafiliasi dengan al-Qaeda, seperti Jaisy al-Islam, Jabhat al-Nusra, Haiat Tahrir al-Sham, dan Faylaq al-Rahman.

Adanya kelompok teroris di Suriah semakin membenarkan, bahwa ada pihak-pihak yang sebenarnya mempunyai tujuan politik yang lebih besar. Intervensi Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap kelompok-kelompok tersebut semakin memberikan dukungan politik terhadap Bashar al-Assad untuk melawan kelompok teroris hingga titik darah penghabisan.

Keempat, dukungan dari Rusia, Iran, dan Hizbullah Lebanon. Faktor ini sepertinya menjadi faktor determinan kenapa Bashar al-Assad tidak mudah ditaklukkan. Bahkan, kabarnya pasukan khusus Rusia memberikan pengawalan dan pengamanan yang super-canggih terhadap Bashar al-Assad, sehingga tidak akan mudah diterobos oleh lawan-lawan politik, termasuk Amerika Serikat.

Maka dari itu, memahami konflik di Suriah tidak bisa dengan menggunakan pendekatan konflik sektarian. Apa yang terjadi di Suriah merupakan murni konflik politik di dalam negeri yang sampai ini belum mencapai titik-temu. Selebihnya, konflik politik yang terjadi di Suriah juga merambah pada ranah geopolitik, yaitu pertarungan besar antara Amerika Serikat dan Rusia. Kedua negara ini sedang sama-sama mempertaruhkan pengaruhnya di Timur-Tengah.

Pada ranah yang paling sederhana juga ada pertarungan antara Arab Saudi dan Iran yang sama-sama ingin menjadikan Suriah sebagai mitra strategis. Apalagi Iran yang selama ini sudah merasa nyaman dengan Bashar al-Assad untuk membentengi dirinya dari infiltrasi Amerika Serikat dan Israel. Maka dari itu, Iran akan berusaha sekuat tenaga untuk mendukung rezim Bashar al-Assad.

Apa yang terjadi di Ghouta Timur juga merupakan episode yang belum selesai dari peristiwa yang terjadi sebelumnya. Apa yang terjadi di Ghouta merupakan pertarungan antara pasukan Bashar al-Assad yang didukung sepenuhnya oleh Rusia dan Iran melawan kelompok teroris Jabhat al-Nusra. Mereka berada di tengah-tengah ratusan ribu warga Ghouta untuk mendapatkan dukungan, seolah-olah mereka sebagai warga Ghouta. Ironisnya, kelompok Jabhat al-Nusra ini mempunyai persenjataan yang canggih, yang berhasil memberikan perlawanan terhadap pasukan Rusia.

Maka dari itu, solusi yang paling mujarab untuk menyelesaikan konflik politik di Suriah adalah rekonsiliasi antara kelompok oposisi dan pihak Bashar al-Assad. Semua pihak harus duduk bersama membincangkan sejumlah poin bersama, di antaranya memilih jalur politik untuk menentukan masa depan Suriah, termasuk jika diperlukan ada solusi konstitusional untuk memenuhi kebutuhan seluruh faksi politik.

Semua itu akan bisa dicapai jika kelompok-kelompok teroris yang mempunyai persenjataan harus hengkang dari Suriah, sebagaimana ISIS sudah hengkang dari Suriah dan Irak. Mereka harus memberikan kesempatan kepada warga Suriah untuk menentukan masa depan mereka. Selebihnya, Amerika Serikat dan Rusia harus mematuhi keputusan politik seluruh warga Suriah. ●

Senin, 19 Maret 2018

Dua Wajah Arab Saudi

Dua Wajah Arab Saudi
Zuhairi Misrawi  ;   Intelektual Muda Nahdlatul Ulama;
Analis Pemikiran dan Politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta
                                                    DETIKNEWS, 08 Maret 2018



                                                           
Muhammad bin Salman (MBS) dalam seminggu ini melakukan lawatan luar negeri yang bersejarah. Setelah kunjungan ke Mesir, ia akan melanjutkan lawatan ke Inggris dan Amerika Serikat. Lawatan tersebut ditengarai sebagai upaya meneguhkan kepemimpinan MBS di Arab Saudi.

Di Mesir, MBS disambut sangat meriah oleh Presiden Abdul Fattah el Sisi dalam misi investasi besar dan bantuan proyek pembangunan, termasuk juga bantuan untuk al-Azhar. Di Inggris dan Amerika Serikat (AS) secara khusus ia akan menjajal saham ARAMCO, yang dianggap sebagai saham paling menjanjikan dalam sejarah. Inggris dan AS sangat tertarik untuk ambil bagian dalam saham ARAMCO.

Meskipun demikian, kunjungan MBS ke Inggris dan AS ditengarai tidak akan berjalan mulus. Pasalnya para aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) akan melakukan demonstrasi untuk menekan Arab Saudi yang masih dianggap banyak melakukan pelanggaran HAM. Cilakanya, pelanggaran yang dilakukan Arab Saudi tidak hanya terkait dengan warganya, tetapi juga terkait dengan perseteruan geopolitik di kawasan Teluk dan Timur-Tengah secara umum.

Memang, negara-negara Barat juga terlihat melakukan standar ganda dalam konteks pelanggaran HAM yang dilakukan kerajaan Arab Saudi. Negara-negara Barat cenderung menganakemaskan Arab Saudi, karena dianggap tidak memberikan sanksi yang setimpal perihal pelanggaran HAM yang dilakukan Arab Saudi. Bahkan, sampai detik ini Arab Saudi termasuk salah satu negara yang belum meratifikasi HAM.

Simon Tisdall di Harian Guardian mengkritik pemerintah Inggris yang dalam sejarah cenderung "menjilat" kepada Arab Saudi. Misalnya kasus yang menimpa Raif Badawi, seorang blogger yang dipenjara selama 10 tahun karena memperjuangkan HAM, sekularisme, dan demokrasi di negaranya. Tidak hanya itu, Badawi dicambuk sebanyak 50 kali di muka umum pada 2015 di Jeddah. Ia hampir meninggal dunia akibat perlakukan rezim Arab Saudi yang menutup rapat-rapat pintu kritik. Tisdall mendesak pemerintah Inggris agar tidak "menjilat" pada Arab Saudi.

Kasus yang menimpa Badawi mendapatkan perhatian para aktivis HAM. Kunjungan MBS ke Inggris akan menjadi kesempatan bagi para aktivis HAM untuk melayangkan protes kepada MBS dan pemerintah Inggris. Ada dua isu menonjol yang mendapat perhatian para aktivis HAM. Pertama, MBS harus memberikan ruang kebebasan berpendapat bagi warga Arab Saudi, memperlakukan para tahanan politik secara manusiawi, dan membebaskan seluruh tahanan politik.

Ada ribuan warga, termasuk para ulama yang kontra-rezim yang sampai detik ini masih mendekam di penjara. Inggris diharapkan dapat menekan MBS agar menghormati HAM. Di samping itu, masih banyak para aktivis, pemikir, dan guru besar yang memilih untuk eksodus dari negaranya karena khawatir dipersekusi dan didiskriminasi oleh MBS jika kembali ke Arab Saudi.

Kedua, MBS harus menghentikan serangan di Yaman, karena sudah terbukti menjadikan Yaman porak-poranda. Intervensi Arab Saudi di Yaman telah menjadikan masa depan negara yang sedang berkonflik tersebut semakin tidak menentu.

Ironisnya, senjata yang digunakan oleh Arab Saudi di Yaman di antaranya dibeli dari Inggris. Konon, total belanja senjata Arab Saudi dari Inggris sejak 2015 mencapai 4,6 miliar poundsterling. Jadi, kalau mau jujur, Inggris sebenarnya mempunyai peran besar dalam jatuhnya korban dan penderitaan yang masif di Yaman, karena senjata-senjata mematikan yang dipakai oleh tentara koalisi Arab Saudi berasal dari Inggris.

Hubungan antara Arab Saudi dan Inggris mempunyai sejarah yang panjang. Bahkan berdirinya Kerajaan Arab Saudi merupakan "hadiah" dari Inggris dengan kompensasi mematuhi kepentingan Inggris di kawasan. Sebaliknya, Arab Saudi akan mendapatkan kemudahan dalam hal persenjataan dari Inggris.

Ketiga, beberapa bulan lalu ada monitoring yang menegaskan bahwa Arab Saudi berperan dalam maraknya ekstremisme di Inggris. Kelompok-kelompok ekstremis diduga kuat mendapatkan bantuan dari Arab Saudi. Wahabisme memang terlihat agresif di Inggris, bahkan di antara mereka ditengarai terlibat dalam aksi terorisme.

Maka dari itu, kunjungan MBS ke Inggris mendapatkan perhatian luas dari para penggiat HAM. Perdana Menteri Inggris tidak boleh menutup mata terhadap catatan buruk Arab Saudi dalam konteks pelanggaran HAM, baik di Arab Saudi sendiri maupun di negara-negara Teluk dan Inggris sendiri.

Meskipun kita juga tidak bisa menutup mata manuver yang dilakukan MBS untuk meneguhkan moderasi Islam di Arab Saudi. Beberapa kebijakan yang memberikan ruang kepada perempuan, baik untuk mengemudi mobil maupun menduduki posisi penting di kabinet, bahkan yang paling mutakhir perempuan boleh menjadi tentara. Konser-konser musik mulai bisa dinikmati, meskipun para penontonnya dilarang bergoyang, karena bergoyang masih dianggap haram.

Warga Arab Saudi, khususnya kaum milenial masih melihat MBS sebagai sosok yang memberikan harapan bagi masa depan mereka. Di kalangan milenial, beberapa kebijakan MBS mendapat dukungan yang sangat signifikan.

Itulah dua wajah Arab Saudi yang di permukaan seolah-olah memberikan harapan dengan terobosan MBS yang terbilang spektakuler. Namun agenda terbesar adalah ruang kebebasan berpendapat yang masih menjadi pekerjaan rumah serius. MBS ditengarai tidak akan mengambil langkah besar untuk memberikan ruang kritik dan kebebasan berpendapat. Pasalnya semua media Arab Saudi selama ini masih dikontrol oleh kerajaan. Pihak-pihak yang melakukan kritik terhadap kerajaan akan mendapatkan perlakuan diskriminatif.

Begitu halnya intervensi Arab Saudi di Yaman dan Bahrain masih menjadi masalah serius, karena belum ada titik-temu untuk memilih meja perundingan sebagai solusi bagi Yaman. Langkah Arab Saudi yang kerap menggunakan senjata mematikan akan menjadikan Yaman semakin tidak menentu.

Maka dari itu, perlu kebesaran dari MBS untuk mengambil langkah-langkah revolusioner untuk menjadikan Arab Saudi lebih menghormati HAM dan menciptakan perdamaian di kawasan. Jika tidak, maka langkah yang diambil MBS pada hakikatnya hanya untuk melanggengkan jalannya untuk menjadi orang nomor wahid di Arab Saudi. Tak lebih dan tak kurang dari itu. ●

Jumat, 02 Maret 2018

Berdamai dengan Taliban?

Berdamai dengan Taliban?
Zuhairi Misrawi  ;   Intelektual Muda Nahdlatul Ulama;
Analis Pemikiran dan Politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta
                                                    DETIKNEWS, 01 Maret 2018



                                                           
Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, berencana mengambil langkah besar untuk memulai lembaran baru dalam lanskap politik di negaranya, yaitu berdamai dengan Taliban.

Langkah tersebut mendapat perhatian dunia, karena Afghanistan saat ini dianggap sebagai salah satu negara yang paling tidak aman akibat banyaknya aksi bom bunuh diri, konflik, perang, dan berbagai macam kekerasan lainnya. Pada 2017, PBB mencatat setidaknya ada sekitar 10.000 warga korban konflik di Afghanistan: 7,015 orang di antaranya luka-luka dan 3,438 orang tewas. Perempuan dan anak-anak termasuk korban dari konflik tersebut.

Afghanistan sedang berada di persimpangan, akan menjadi negara yang bisa bersaing dengan negara-negara Asia lainnya atau justru sebaliknya terus terpuruk dalam kubangan konflik yang berkepanjangan.

Proposal damai yang ditawarkan oleh Presiden Ashraf Ghani merupakan sebuah terobosan penting dalam rangka mengakhiri konflik dengan Taliban. Pasalnya Taliban selama ini dianggap sebagai musuh negara, pemberontak, bahkan teroris.

Proposal yang ditawarkan Ashraf Ghani akan mengubah citra buruk yang selama ini disandang oleh Taliban, termasuk di dalamnya gencatan senjata dan pembebasan para tahanan politik. Taliban akan diakui sebagai organisasi yang mempunyai legitimasi politik. Karena itu diperlukan sebuah pembicaraan yang serius dan proses perdamaian yang terbuka di antara kedua belah pihak.

Dari proposal tersebut, Presiden Ahraf Ghani berharap Taliban juga mengakui pemerintah yang sah dan menghargai hukum yang berlaku di Afghanistan. Intinya, Taliban harus bersama-sama kelompok yang lain turut serta membangun Afghanistan dari puing-puing kehancuran akibat konflik yang berkepanjangan. Pertanyaannya, mungkinkan proposal damai dengan Taliban ini terwujud?

Tidak ada yang tidak mungkin dicapai jika semua pihak mempunyai itikad baik untuk mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan kelompok. Setelah lama terlibat dalam kubangan konflik, maka saatnya kembali ke meja perundingan untuk mewujudkan perdamaian.

Apalagi sekarang India dan Pakistan memberikan dukungan politik dan ekonomi kepada Afghanistan. Minggu lalu, Afghanistan baru membuka pipa gas ke Tukmenistan, Pakistan, dan India senilai USD 10 Miliar dollar Amerika Serikat. Konon, Taliban akan mendapatkan fee dari traksaksi bisnis tersebut.

Hal tersebut membuktikan, bahwa negara-negara yang berbatasan langsung dengan Afghanistan juga mempunyai kepentingan yang sama, yaitu stabilitas politik yang akan mendukung sepenuhnya stabilitas ekonomi.

Namun yang menjadi hambatan besar dalam konteks perdamaian dengan Taliban adalah Amerika Serikat. Jantung konflik sebenarnya bukan pemerintah Afghanistan dengan Taliban, melainkan Amerika Serikat dengan Taliban. Sejak 2001, AS dan NATO melakukan serangan ke kantong-kantong Taliban. Tragedi runtuhnya Menara Kembar World Trade Center di New York telah menjadikan Taliban sebagai musuh utama AS dan sekutunya. Taliban ditengarai sebagai aktor di balik aksi terorisme yang sangat mematikan itu.

Sebagai balasannya, AS dan sekutunya mengirimkan pasukan militer dalam jumlah yang sangat besar untuk menggempur Taliban. Namun operasi militer yang dilakukan AS tidak menjadikan Taliban semakin lemah, melainkan justru semakin kuat dan eksis melakukan aksi bom bunuh diri dan serangan terhadap tentara AS dan sekutunya.

Taliban tidak hanya menganggap AS sebagai musuh utama, melainkan pemerintah Afghanistan yang selama ini mendukung AS. Karena itu, bagi Taliban menentang pemerintah Afghanistan sama halnya menentang AS, karena mereka berada dalam satu persekongkolan.

Kondisi objektif politik dan ekonom dalam negeri AS yang semakin terpuruk membuat Taliban semakin leluasa melakukan konsolidasi, karena Obama mengambi kebijakan untuk menarik sebagian besar militernya dari Afghanistan. Faktanya, Taliban sejak itu justru semakin kuat melakukan konsolidasi internal dan semakin mudah melancarkan aksi bom bunuh diri dan serangan mematikan. Sementara Presiden Donald Trump tidak mempunyai strategi yang jelas dalam menghadapi Taliban.

Saat ini belum ada sikap resmi dari AS terkait proposal damai dengan Taliban. Padahal inti masalahnya adalah perseteruan antara Taliban dengan AS. Sepertinya AS akan sangat berat berdamai dengan Taliban, karena Donald Trump akan berada di balik kubu konservatif yang selama ini mempunyai doktrin perang dengan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh. Kabarnya Trump akan mengirimkan militer tambahan ke Afghanistan untuk menggempur Taliban.

Maka dari itu, Presiden Ashraf Ghani tidak bisa berdiri sendiri dalam mewujudkan perdamaian dengan Taliban. Dari pihak Taliban pun sudah memberikan syarat, bahwa perdamaian hanya bisa dilakukan dengan pihak AS yang selama ini telah melakukan operasi militer ke kantong-kantong mereka.

Bagi Taliban, perdamaian dengan pemerintah Afghanistan lebih mudah, karena mereka dapat menjadikan kepentingan dalam negeri sebagai pijakan bersama. Namun perdamaian dengan AS pasti akan lebih rumit karena terkait dengan pangkalan militer AS di Afghanistan. Jika mereka masih berada di sana dalam jumlah yang besar, maka perdamaian akan jauh api dari panggangnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla sedang berada di Afghanistan untuk membantu proses perdamaian di antara berbagai suku, termasuk dengan suku Pashtun yang merupakan basis kekuatan Taliban selama ini. Kehadiran Jusuf Kalla dapat menjadi oase bagi Afghanistan dalam rangka menindaklanjuti kunjungan Presiden Jokowi beberapa minggu lalu.

Itu maknanya, Indonesia dapat menjadi inspirasi bagi Afghanistan dalam merajut kebhinnekaan sebagai kekuatan utama membangun solidaritas kebangsaan. Namun yang paling berat dalam mewujudkan perdamaian adalah faktor-faktor geopolitik dan eksternal yang sedang bermain di Afghanistan. Maka dari itu, diperlukan diplomasi yang serius khususnya dengan AS untuk mendorong sepenuhnya perdamaian di Afghanistan. ●

Sabtu, 24 Februari 2018

Mohamed Salah Inspirasi Timur-Tengah

Mohamed Salah Inspirasi Timur-Tengah
Zuhairi Misrawi ;  Intelektual Muda Nahdlatul Ulama;  
Analis Pemikiran dan Politik Timur-Tengah di The Middle East Institute
                                                  DETIKNEWS, 22 Februari 2018



                                                           
Di Mesir, barangkali juga di seantero Timur-Tengah, Mohamed Salah bomber Liverpool paling trengginas saat ini dengan torehan 30 gol menjadi buah bibir. Ia tidak hanya menjadi pesepakbola kesohor sejagat raya, tapi juga menjadi inspirasi di tengah keterpurukan ekonomi dan politik di Mesir dan Timur-Tengah.

Mohamed Salah adalah oase harapan di tengah kekecewaan dan kemarahan karena transisi demokrasi mengalami kemunduran, bahkan kegagalan. Hampir di setiap pertokoan dan rumah-rumah memasang gambar sosok Salah. Mungkin di benak kaum muda milenial dan orangtua mereka sudah putus harapan pada politik. Mereka ingin anak-anaknya di kemudian hari menjadi bintang olahraga yang mendunia seperti Mohamed Salah.

Media-media mainstream dan terkemuka di Timur-Tengah, seperti al-Jazeera, al-Sharq al-Awsath, al-Hayat, al-Quds al-'Araby, al-Ahram, al-Mashr al-Youm hampir tidak pernah absen memuji kepiawaian Mohamed Salah dalam menguasai lini depan lapangan hijau, hingga mencetak gol-gol indah.

Media-media Arab mengutip nyanyian Liverpuldian saat Liverpool mengganyang Basel 5-0 di Liga Champion, "Salah, jika hal itu baik bagi kamu, maka baik juga bagi saya. Jika mencetak banyak gol lagi, maka saya akan menjadi muslim juga."

Mohamed Salah menjelma sebagai duta Timur-Tengah, bahkan duta Islam di Barat. Di tengah kuatnya kebencian terhadap Timur-Tengah dan Islam yang terus menguat (islamophobia), Salah bisa memperbaiki citra yang selama ini dikenal sebagai teroris. Apalagi Liverpuldian selama ini dikenal sebagai fans sepakbola yang fanatik. Mereka menikmati kelincahan Salah di lapangan hijau, dan mereka juga menerima Salah yang berlatar belakang Muslim. Bahkan, sumbangsih Salah di Liverpool yang sangat mengagumkan musim ini bisa membuat mereka kepincut pada Islam, agama yang dipeluk Mohamed Salah.

Ya, Mohamed Salah memang dikenal sebagai muslim yang taat. Ia sosok orang Mesir yang lahir dan besar di perkampungan sederhana, Nagrig di wilayah bagian barat Mesir yang dikenal dengan Gharbiya. Salah meraih prestasi menjulang seperti sekarang ini tidaklah mudah. Ia harus melalui lika-liku kehidupan yang penuh perjuangan dan optimisme.

Kebiasaan Mohamed Salah yang tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang adalah mengkhatamkan al-Quran. Sebelum bertanding ia terlihat membaca al-Quran. Salah juga selalu datang ke masjid untuk melaksanakan salat. Karenanya, para Liverpuldian jika ingin berjumpa Salah dan mengabadikan foto dengan Salah cukup datang ke masjid. Jika pulang kampung, Salah tidak pernah absen menunaikan salat di masjid.

Mohamed Salah tidak lupa tanah kelahirannya dengan membantu orang-orang miskin, rumah sakit, sekolah, dan teman-temannya di masa kecil dulu. Bahkan, ia masih bermain bola bersama teman-temannya.

Di musim liburan, Salah selalu memilih untuk mudik ke kampungnya di Nagrig daripada bersenang-senang seperti para pemain bintang lainnya menghabiskan miliaran. Salah seperti orang Mesir lainnya yang hanya ingin selalu pulang kampung, karena berada di negeri orang adalah azab. Dalam pepatah Mesir disebut, al-ghurba 'adzabun. Keterasingan adalah penderitaan. Liburan jeda musim ia gunakan untuk mudik ke kampung halamannya di Mesir.

Intinya, akhlak Mohamed Salah, baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan seiring dan seirama. Ia selalu menampilkan keindahan dalam mengolah bola dengan keindahan perangai yang membuat decak kagum setiap orang yang mengenalnya.

Maka dari itu, orang-orang Mesir menyebut Mohamed Salah, "Ia sosok yang seperti kami. Ia dulu berjuang melewati kesulitan, tapi ia konsisten dan berhasil." Artinya, ia merepresentasikan kegigihan orang kampung di Mesir yang tidak menyerah pada keadaan yang serba sulit dan melarat. Ia berlatih serius, hingga akhirnya meraih mimpinya untuk bermain sepakbola di klub prestisius dan liga yang paling keras di dunia.

Mohamed Salah memulai kariernya di klub yang terbilang medioker di Mesir, El Mokawloon el-Arab, bukan klub besar seperti al-Ahly dan Zamalek. Lalu, ia mencoba keberuntungan bermain di Basel, Swiss, hingga akhirnya setelah menjadi pemain terbaik dalam Liga Swiss ia dilirik oleh klub-klub besar Eropa, seperti AS Roma, Fiorentina, Chelsea, dan terakhir berlabuh di Liverpool.

Salah juga pernah mewakili Mesir dalam Piala Dunia FIFA U-20 pada 2011 dan Olimpiade 2012. Pada 2012, ia menjadi pemain muda terbaik Afrika. Pada 2017, Salah jadi sosok penting karena berhasil membawa kembali Mesir ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Penalti ke gawang Ghana menjadi pesta besar yang dirayakan di setiap sudut kota. Akhirnya mereka bisa menonton punggawa tim nasional Fir'aun bertanding di Rusia setelah absen lama sekali.

Maka dari itu, pada 2017 lalu, Mohamed Salah dinobatkan sebagai pemain terbaik Afrika. Ia adalah sosok pemain Mesir kedua setelah Mahmood Khatib yang mendapat gelar yang sama pada 1983. Mahmood Khatib juga legenda Mesir karena mengantarkan tim nasional Mesir ke Piala Dunia pada 1990. Tapi bedanya, Khatib tidak pernah bermain di Liga Eropa.

Mohamed Salah adalah sosok yang komplit. Ia layak dijadikan sebagai inspirasi di Mesir dan Timur-Tengah. Ia pun kini disejajarkan dengan Ummi Kultsum (penyanyi) dan Naguib Mahfudz (sastrawan). Sosok-sosok ini telah menjadi legenda Mesir yang mendunia melalui karya-karyanya.

Mohamed Salah akan terus menjadi perbincangan dan inspirasi, karena ia sekarang sebenarnya masih baru memulai kariernya di Liverpool. Ia belum berada di puncak, masih dalam tangga menuju puncak prestasi. Jika ia berhasil membawa Liverpool sebagai juara Liga Champion, maka ia akan menjadi pemain terbaik dunia. Itu akan menjadi sejarah baru bagi Salah.

Kabarnya Real Madrid berminat untuk meminang Salah. Itu artinya, Salah akan jadi "khalifah" Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Selama ini orang bertanya-tanya siapakah "khalifah" kedua pemain terbaik dunia tersebut. Misteri itu pelan-pelan terjawab, karena Salah sepertinya akan menjadi khalifah bagi CR7 dan Messi. Ya, orang-orang Arab menyebut Salah sebagai "Messi-nya Arab". ●

Jumat, 16 Februari 2018

Babak Baru Perseteruan Iran vs Israel

Babak Baru Perseteruan Iran vs Israel
Zuhairi Misrawi ;    Intelektual Muda Nahdlatul Ulama;
Analis Pemikiran dan Politik Timur-Tengah di The Middle East Institute
                                                  DETIKNEWS, 15 Februari 2018



                                                           
Jatuhnya pesawat tempur F-16 milik Israel di wilayah bagian utara Israel yang berbatasan langsung dengan Suriah menjadi kabar besar di Timur-Tengah. Sejak 1982, peristiwa jatuhnya pesawat Israel baru terulang sekarang. Butuh waktu 36 tahun untuk mengulanginya. Pasalnya, Israel selama ini dikenal mempunyai peralatan tempur yang supercanggih, karenanya membuat negara-negara Timur-Tengah lainnya bertekuk lutut.

Israel berupaya menutup-nutupi kabar pilu tersebut dengan membesar-besarkan jatuhnya drone milik Iran. Tapi nasi sudah jadi bubar, jatuhnya pesawat tempur F-16 milik Israel telah tersebar luas. Israel harus menerima kenyataan, bahwa lawan-lawannya di Timur-Tengah sudah mempunyai persenjataan canggih juga.

Iran diduga kuat berada di balik jatuhnya pesawat tempur F-16 milik Israel. Maklum, Iran mengerahkan segala kekuatannya untuk menjaga kedaulatan Bashar Asad di Suriah, termasuk melindungi dari gempuran Israel di perbatasan dataran tinggi Golan. Iran dalam beberapa tahun terakhir telah mengembangkan persenjataannya untuk pertahanan dan serang. Mereka telah membeli persenjataan dari Rusia dan China. Walhasil, mereka berhasil meluluhlantakkan pesawat tempur F-16 milik Israel.

Sontak, peristiwa ini menjadi berita besar yang akan menjadi babak baru perseteruan Iran vs Israel. Sejak Revolusi Islam Iran bergelayut pada 1979, Iran telah meneguhkan komitmennya bersama-sama dengan Palestina untuk melawan penjajahan Israel. Sebab itu, politik luar negeri Iran terkait Israel merupakan satu-satunya negara di kawasan Timur-Tengah yang mempunyai satu sikap: melawan penjajahan Israel di tanah Palestina!

Meskipun demikian, kedua negara tersebut tidak pernah terlibat langsung dalam perang. Keduanya kerap menggunakan proksi masing-masing. Iran menggunakan Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan Bashar al-Asad di Suriah. Sedangkan Israel menggunakan beberapa negara di Timur-Tengah, seperti Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan beberapa negara Teluk lainnya untuk menentang Iran.

Di Suriah, Israel berusaha sekuat tenaga mendorong untuk melumpuhkan Bashar al-Asad mitra strategis Iran. Menentang Asad sama halnya dengan menentang Iran. Kelompok oposisi yang mempunyai agenda untuk mengenyahkan Asad mendapatkan sokongan sepenuhnya dari Israel, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Bagi Iran, melawan Israel dalam pertarungan di Suriah merupakan sebuah keniscayaan. Iran akan mempertahankan rezim Asad apapun harga yang harus dibayar, karena kehilangan Asad berarti akan mengancam kedaulatan Iran. Suriah sangat penting bagi Iran, karena negara ini berbatasan langsung dengan Israel. Perlawanan terhadap Israel bisa dilakukan melalui Suriah. Konon, Iran membangun pusat reaktor nuklir di Dar al-Zour yang sengaja dipersiapkan untuk membumihanguskan Israel.

Maka dari itu, peristiwa jatuhnya pesawat tempur F-16 milik Israel menjadi kabar penting bagi Iran. Bahkan, mereka menganggap peristiwa tersebut sebagai kemenangan, setidak-tidaknya memberikan dorongan moral. Selalu ada harapan untuk mengalahkan Israel.

Di saat negara-negara Timur-Tengah memilih untuk bergandengan tangan dengan Israel karena mereka realistis melihat kekuatan militer Israel dan kekalahan demi kekalahan yang dialami dalam melawan Israel, Iran justru melangkah terdepan untuk melawan penjajahan Israel.

Jatuhnya F-16 menjadi oase bagi krisis politik di Iran, karena dapat mempersatukan kubu reformis dan kubu konservatif. Keberhasilan menjatuhkan pesawat canggih Israel dapat menjadi motivasi untuk mengencangkan perlawanan terhadap Israel. Jatuhnya F-16 telah mempersatukan kubu-kubu politik yang selama ini berkonflik di Iran.

Namun, langkah Iran untuk melawan Israel tidak mudah. Amerika Serikat akan menyokong Israel dengan segala upaya yang dimiliki. Apalagi Trump mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Israel. Bagi Amerika Serikat, melindungi Israel dari segala ancaman musuh merupakan sebuah komitmen yang tidak bisa ditawar lagi.

Di Suriah, Amerika Serikat berada di barisan terdepan untuk melengserkan Bashar al-Asad. Itu artinya, Amerika Serikat akan berupaya sekuat tenaga melumpuhkan Iran yang sejak 2012 bersama Bashar al-Asad. Amerika Serikat akan menggunakan berbagai cara untuk menjadikan Iran sebagai musuh bersama, termasuk rencana Trump untuk menggagalkan kesepakatan nuklir yang sudah dilakukan Presiden Obama.

Meskipun demikian, langkah Amerika Serikat tidak akan mudah menaklukkan Iran. Rusia selama ini merasa nyaman dengan Iran dan Bashar al-Asad sebagai mitra strategis di kawasan Timur-Tengah. Rusia tidak akan membiarkan Asad dilengserkan dan tidak akan membiarkan Iran diobok-obok oleh Amerika Serikat dan Israel. Apalagi Israel bertekuk lutut pada Rusia. Bahkan Putin berhasil menekan Netanyahu agar tidak melakukan balasan atas jatuhnya F-16.

Dalam ranah yang lebih luas, apa yang terjadi di Timur-Tengah sesungguhnya manifestasi dari peta geopolitik yang lebih besar, yaitu Amerika Serikat vs Rusia. Pada saat ini, Rusia menjadi aktor penting dalam politik Timur-Tengah, khususnya Suriah. Bayangkan, Presiden Bashar al-Asad bisa bertahan sejak digoyang pada 2011. Berbagai manuver politik dan militer tidak mampu melengserkan Bashar al-Asad.

Ali Anuzila dalam al-'Araby al-Jadid menyatakan, perang Iran vs Israel tidak akan pernah terjadi selama Rusia masih mempunyai peran strategis di Timur-Tengah. Kelebihan Rusia karena bisa mengendalikan Iran dan Israel untuk kepentingan politiknya di Timur-Tengah. Apalagi semua menyadari, jika perang Iran dan Israel terjadi, maka akan memicu instabilitas politik yang lebih besar di Timur-Tengah. Bahkan bisa menjadi Perang Dunia III.

Namun, jatuhnya pesawat tempur F-16 milik Israel telah memberikan kepercayaan yang tinggi bagi Iran dan Bashar al-Asad, bahwa mereka mempunyai kekuatan yang bisa memberikan perlawanan terhadap Israel. Apa yang dibayangkan negara-negara Timur-Tengah lainnya, bahwa Israel tidak bisa dilawan dan karenanya harus dirangkul, ternyata juga bisa dilawan dengan menggunakan persenjataan yang canggih.

Israel mestinya mengambil pelajaran berharga, bahwa dunia sudah berubah. Tidak selamanya juga Israel akan unggul. Apalagi jika Turki bergabung dengan Iran untuk melawan Israel, maka akan menjadi kekuatan besar yang sangat menakutkan. Mengingat secara militer Turki dan Iran merupakan dua kekuatan besar di Timur-Tengah saat ini. ●