Tampilkan postingan dengan label Tom Saptaatmaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tom Saptaatmaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2018

Kekayaan, Bela Rasa, dan Keselamatan

Kekayaan, Bela Rasa, dan Keselamatan
(Refleksi Jumat Agung)
Tom Saptaatmaja  ;   Teolog
                                                  KORAN SINDO, 31 Maret 2018



                                                           
Setiap orang pasti ingin kaya. Ke­ka­ya­­an pun diburu de­­ngan be­ragam cara. Ada yang me­me­li­hara tu­yul, ada ju­g­­a yang ko­rup­si. Ham­pir tak ada satu bi­dang ke­hidupan pun di negeri ki­ta yang ste­r­il dari ko­rup­si. Toh  kalau di­pen­jara, apa­la­gi kurang da­ri li­ma tahun, akan tetap un­tung. Ja­di, selama ko­ruptor di­hu­kum ringan, ko­rup­si akan te­tap ma­rak  di negeri ini.

Ada pula yang kaya setelah mem­­baca buku. Menurut  pa­kar ke­kayaan Robert T Ki­yo­sa­ki, yang bukunya laris: “Uang ha­­nya­lah sebuah ide. Bila Anda bi­­lang bahwa cari uang itu sulit, An­­da adalah orang miskin. Sebaliknya, bila Anda percaya bah­­wa di bumi ini berlimpah uang, An­da akan kaya”.

Sekarang, apa pendapat Ye­sus ten­tang  kekayaan? Me­nu­rut  Al­bert Nolan OP (dalam bu­ku  Je­sus Be­fore Christianity, The Gos­pel of Liberation, Dar­ton Long­man and Todd, Lon­don, 1980), nafsu akan kekaya­an,  sung­guh sangat ber­ten­­tang­­an de­ngan usaha mencari Allah. Me­nurut Yesus, Allah dan ke­k­a­ya­an akan harta dunia (mam­­­mon) merupakan dua en­­t­i­tas yang saling ber­ten­tang­an. Ti­dak bisa orang mengabdi Allah s­e­ka­­l­i­gus uang  (Matius  6:24 dst; Bdk Mar­kus  4:19 dst.). Orang ka­ya se­jauh tetap ter­­le­kat dengan ke­­ka­yaannya akan ti­dak bisa ma­suk dalam Ke­­ra­ja­an Allah. Mus­ta­hil  orang ka­y­a ma­suk dalam Kerajaan Allah iba­rat  seekor un­ta ma­suk ke da­lam lubang jarum (Ma­r­kus 10:25 dst.).

Mengapa Yesus me­nyam­pai­kan kata-kata keras di atas? Ye­­sus tidak ingin kekayaan mem­­buat orang berpaling dari Allah se­hingga orang malah ter­­go­da meng­­gadaikan ji­wa­nya pa­da iblis s­e­perti kisah kla­sik Faust buah kar­ya Goethe. Ter­­le­bih ha­rus di­akui kekayaan bi­sa meng­ubah orang, apalagi jika ke­ka­ya­an itu ber­lebihan. Shak­ti Ga­wain da­lam jur­nal Per­sonal Ex­cellence edisi Sep­tem­ber 2001 me­nu­lis: If we have too many things we don’t truly need or want, our live be­come overly com­pli­cated. Ma­kin ti­dak bisa ti­dur, k­etika naf­su me­miliki (to have, Erich Fromm) kian me­ngua­sai. Su­dah pu­nya ini, ma­sih ingin yang itu.

Karena itu, menurut Ye­sus, orang-orang kaya ha­rus mau me­ninggalkan ke­ter­le­kat­­an­nya d­e­ngan mi­lik dan har­tanya agar bi­sa masuk Ke­ra­jaan Allah. U­n­tuk itu, me­re­ka ha­­rus mau ber­ba­gi de­ngan se­sa­ma­nya yang miskin. Di sini, Yesus ti­­dak se­ka­­dar meng­­ha­rap­­­kan der­­ma, ban­­tu­an karitatif atau se­­ka­­dar uang re­ceh.  ­Ye­sus ingin struk­tur ti­­dak adil yang telah mem­buat orang mis­kin ber­tambah mi­s­­­kin, se­dangkan si kaya bertam­­­bah kaya, harus dirobohkan.

Teladan Romero
Terkait pernyataan Yesus itu, me­narik apa yang terjadi pa­­da Us­kup Agung Oscar Ro­me­ro yang te­was ditembak saat me­m­per­sem­bah­kan misa pada 24 Ma­ret 1980. Se­bagai Uskup Agung, ia hidup da­lam konteks si­tuasi ke­mis­kin­an dan ke­ti­dak­adilan yang di­alami rakyat El Sal­vador serta tin­dak­an re­pre­­sif rezim militer yang di­­ko­man­­dani oleh Jenderal Maximiliano Her­nandez Martinez.

Kemiskinan dan ke­ti­dak­adil­an yang dialami rakyat ne­ga­ra yang paling padat pen­du­duk­nya di Amerika Latin itu di­se­bab­­kan oleh monopoli kepemi­lik­­an lahan oleh segelintir kong­lo­­merat kopi. Sementara ma­yo­ri­­tas penduduk hanya menjadi bu­­ruh perkebunan kopi. Ke­mis­kin­­an dan ketidak­adil­an di­per­pa­­rah lagi oleh tindakan rezim oto­­riter dan militeristik.

Pada awalnya, Romero yang la­­­hir pada 1917 dikenal dekat de­­ngan kaum kaya dan militer.  Ro­­me­ro hanya berkutat di al­tar dan mim­bar. Ia melayani umat de­ngan pelayanan sa­kra­men­tal dan ibadat-ibadat se­pu­tar altar. Ia mengem­bang­kan pe­la­yan­an ka­­ritatif seperti San­ta Claus: Ia me­­minta uang da­ri orang kaya dan diberikan ke­pada orang-orang miskin. Ia ti­dak masuk rea­li­tas k­e­mis­kin­a­n dan pen­de­ri­ta­an mayoritas ­rak­­yat El Sal­va­­d­or.  Ia malah me­­nentang te­o­lo­gi pem­be­bas­a­n yang dik­em­bang­kan Ig­na­cio Ellacuria dan Jon So­bri­no  yang di­tuduhnya se­bagai Kri­­s­tologi ba­ru yang ber­di­men­si Mar­xis atau komunis.

Tetapi, sikap itu berubah to­tal, setelah Romero diangkat se­­ba­gai Uskup Agung San Sa­l­va­­dor. Ia mendukung gerakan-ge­­rak­an perlawanan yang su­dah di­bangun para imam se­be­lum­­nya. Romero sadar bahwa ge­reja harus memihak kaum pa­pa ke­ti­ka kesenjangan kaya mi­s­­kin su­dah begitu tak ter­jem­batani la­gi. Ro­me­ro ingat ba­gaimana da­hu­lu Yesus  be­ra­ni menen­tang  orang-orang kuat di Ye­­ru­sa­lem, yang me­ru­pa­kan persekongkolan an­ta­ra para aga­ma­wan Yahudi dan para negarawan Roma­wi. Yesus berani me­mi­hak yang miskin hingga akhirnya ma­ti disalibkan.

Untuk itu, Romero be­ra­ni be­r­pesan pada ten­ta­ra agar ja­ngan membunuh rak­yat lagi. Dia juga me­min­ta Jim­m­y Car­ter, Pre­si­den Amerika Se­rikat keti­ka itu, agar tidak men­­du­kung rezim represif di ne­­ga­ra­nya. Dan, konsekuen­­si­­nya, pa­da ak­hir­nya ia di­tem­b­ak pas­­­u­kan ber­sen­ja­ta ke­tika sedang me­­mim­pin misa di ka­pel sus­ter­an. Dia mati, se­ba­gai­ma­­na Ye­sus dahulu ju­ga mati.

Penutup
Karena itu, jika kita tidak ingin meromantisasi  wafat Ye­­sus hanya sebatas dalam ri­tual atau  peribadatan di ge­re­ja, ma­ri ki­­ta bongkar segala struk­tur tak adil yang ada di se­kitar kita. Ka­­lau kita bisa me­nangis me­li­hat ­ade­­gan dra­ma atau tablo ja­lan sa­lib Ye­sus di gereja, kita ha­rus ju­ga me­­nangis bersama me­reka yang le­m­ah, miskin, dan ter­­ania­­ya. Mudah-mudahan Jum­­at Agung saat kita me­nge­nang wa­fat Yesus men­jadi mo­men penyadaran un­tuk be­ra­ni mem­­bu­nuh ego dan ter­hin­dar dari ke­ta­mak­an ser­ta ke­ter­le­k­at­an  harta du­nia. Sa­lib Ye­sus ada­lah ung­kap­an  bela ra­sa dan be­las kasih agar kita yang ber­do­sa (miskin se­cara ro­­ha­ni) bi­s­a diangkat, se­la­mat dan ti­dak di­kuasai kematian.

Kisah salib dan kematian Ye­sus bertumpu pada fakta his­to­ris, bukan kisah fiktif, karena ter­jadi masa pemerintahan Gu­ber­nur Pontius Pilatus di Pales­­ti­na dan di era Kaisar Ro­ma­wi ber­nama Tiberius pada tang­gal 14 bulan Nissan, men­je­lang Pas­kah Yahudi sekitar ta­hun 33 Ma­sehi, sebagaimana ­di­tulis se­ja­rawan sekuler Yah­u­di Flavius Josefus.

Kisah penyaliban disusul ke­­bang­kitan itulah yang di­ca­tat Fla­vius menjadi pen­do­rong ba­gi banyak orang per­caya kepada Ye­s­us. Bagi ba­nyak orang ketika itu, ke­se­la­mat­­an berkat salib itu le­bih ber­­harga daripada  semua har­­ta di dunia dan apa pun. Ti­­dak he­ran,  menjadi Kristen saat itu sangat berisiko, ka­re­na bi­s­a di­musuhi negara dan di­­hu­kum mat­i kalau ke­ta­hu­an, na­mun peng­ikut Yesus ti­dak pe­duli. Nya­li mereka luar bia­sa. Satu ma­­ti, muncul  se­ri­bu pengikut ba­ru se­ba­gai­ma­na bisa dibaca da­lam buku “Acta Martyrum”.

Bagi para martir, termasuk Ro­­mero, keselamatan berkat sa­­lib adalah  kekayaan sejati. S­e­­buah kehormatan pula jika bi­sa me­napaki jalan salib Ye­sus dan ma­ti demi  Dia, agar yang lain se­la­mat.  Memang pe­­ngor­ban­an Ye­sus sungguh luar bia­sa se­hing­­ga  yang se­mu­la egois, ak­hir­nya jadi altru­is. Yang semula  ha­nya mi­kir  diri sendiri, ter­ma­suk mi­kir  bagaimana bisa kaya dan su­ci sendiri, pada akhirnya  ber­­ubah menjadi peduli dan ber­­belarasa dengan sesama, khu­­susnya yang miskin dan me­n­derita (Matius 25:40). J­a­di, ka­lau Romero dan mereka bi­sa, ke­napa kita tidak? ●

Minggu, 01 April 2018

Nyepi 1940, Kontribusi Hindu dan Soliditas Bangsa

Nyepi 1940, Kontribusi Hindu dan Soliditas Bangsa
Tom Saptaatmaja  ;   Teolog dan Aktivis Lintas Agama
                                                  KORAN SINDO, 16 Maret 2018



                                                           
PERTAMA-TAMA selamat ke­pada saudara-saudara ki­ta umat Hindu se-Ta­nah Air yang merayakan Nyepi se­kaligus Tahun Saka 1940 ja­tuh pada Saniscara Umanis Wa­tu­gu­nung, Sabtu 17 Maret 2018. Ba­gaimanapun dalam se­ja­rah Nu­santara, agama Hin­du yang ber­asal dari India per­nah ber­ja­ya dan memberi kon­tribusi po­si­tif bagi per­adab­an kita.

Kita yang tidak ber­agama Hindu, ra­sa­nya per­lu tahu sumbangan ter­sebut, se­kadar untuk mem­per­luas ca­kra­wala sekaligus men­dorong ter­wujudnya kem­ba­li sikap to­ler­an dan saling meng­hargai de­mi kerukunan se­sama anak bang­sa serta ke­utuh­an NKRI.

Apalagi akhir-akhir ini ada yang menyebut telah terjadi kri­sis kebinekaan terparah di n­­e­geri ini ditandai dengan ma­ra­k­nya hoaks dan ujaran kebenci­an menjelang Pilkada Se­ren­tak 208 dan Pilpres 2019. Bisa toleran, rukun, dan meng­har­gai per­b­edaan jelas sangat pen­ting kita mi­liki, mengingat kita hidup di s­e­buah negeri yang heterogen.

D­engan dem­i­ki­an, semoga kita akan men­ja­di pribadi yang lebih mu­dah meng­hargai pihak lain d­a­­ri­pa­da mencela, meng­um­pat, atau me­nyebar fitnah se­ba­gai­mana ma­rak di media sosial.

Tulisan ini berangkat dari ke­­tulusan dan kejujuran pe­nu­lis yang telah “
passing over“ atau melintas batas agama dan et­nis. Bagaimanapun agama Hi­n­du dan peradaban serta umat­nya telah terbukti mem­be­ri warna tersendiri dalam se­ja­rah bangsa ini. Cukup banyak se­j­arawan atau antropolog te­lah berupaya menjelaskan pe­ri­hal ba­gai­ma­na caranya penga­ruh agama Hin­du berasal dari India sampai ke Nu­san­ta­ra.

Hal sudah pasti ada­lah ber­kat adanya pengaruh ters­ebut, pen­duduk kepulauan Nu­­san­ta­ra resmi tercatat me­ma­suki p­e­riode sejarah sekitar abad ke-4 M. Sebelum kurun wak­tu ter­sebut, sejarah kita ma­sih ge­lap karena kurangnya bukti-buk­ti tertulis.

Menurut J.L.A Brandes (1887), penduduk Asia Teng­ga­ra termasuk yang mendiami ke­pulauan Nusantara, telah mem­pu­nyai 10 kepandaian menjelang masuknya penga­ruh India, ya­itu (1) mengenal pe­ngecoran logam, (2) mampu mem­buat figur-figur manusia dan hewan da­ri batu, kayu, atau lukisan di din­ding gua, (3) me­ngenal ins­tru­men musik, (4) mengenal ber­macam ra­gam hias, (5) me­nge­nal sistem eko­nomi barter, (6) me­ma­hami astronomi, (7) m­a­hir d­a­lam navigasi, (8) me­nge­nal tra­disi lisan, (9) menge­nal sistem iri­gasi untuk per­ta­ni­an, (10) ada­nya penataan ma­sya­ra­kat yang teratur. Dalam kon­disi per­adaban seperti itu­lah mer­e­ka kemudian ber­ke­nal­an dan me­nerima para nia­ga­wan dan mu­safir dari Tiongkok atau­­pun India.

Pengaruh Hindu
 
Setelah berinteraksi de­ngan para pendatang dari In­dia, ma­ka diterimalah be­be­ra­pa aspek pen­ting dari mereka. Ada tiga hal menonjol dari kebudayaan Hin­du yang di­te­ri­ma nenek mo­yang bangsa kita yang tidak me­reka kenal se­be­lum­nya, yaitu hu­ruf Pallava, aga­ma Hindu, dan penghitung­an angka ta­hun. Ketiga hal ini nanti benar-be­nar mem­beri kontribusi luar bi­a­sa un­tuk memperkaya ke­bu­da­ya­an Nusantara.

Kalau mau dirinci, pe­nga­ruh Hindu atau India begitu ba­nyak di Nusantara. Dalam hal bahaya Melayu atau bahasa In­donesia misalnya, pengaruh itu cukup te­rasa. Huruf Pal­lawa atau ba­ha­sa Sanskerta ikut mem­per­ka­ya bahasa Me­la­yu atau In­do­ne­sia. Ini karena ke­banyakan ma­sya­rakat Melayu ketika itu be­r­aga­ma Hindu dan bahasa Sans­kerta  te­lah men­jadi bahasa bang­sa­wan ser­­ta mempunyai hie­rarki ting­­gi.

Pengaruh itu bi­sa kita ba­­ca pada tulisan atau ak­sa­ra Pal­lava, kata-kata pin­­jam­an da­­­ripada ba­hasa Sans­kerta, rang­­­ka­ian kata pin­­jam­an dari bahasa Sanskerta, dan fonem-fo­­nem. Contoh per­­kataan yang di­­­ambil dari ba­ha­­sa Sans­kerta, se­­­perti syu­ka­syit­­­ta, atha­va, kara­na, tat­kala, dan lainnya.

Saling me­me­ngaruhi se­hing­­ga tercipta hi­briditas atau ke­­tercampuran budaya adalah ke­nis­ca­ya­an telah terjadi se­la­ma ribuan ta­hun di Nusantara. Bah­kan hing­ga saat ini hu­bung­an ke­bu­da­yaan In­do­ne­sia-India yang satu miliar pen­du­duknya be­r­aga­ma Hindu ma­sih terus ber­lang­sung. Ke­ti­k­a Indonesia ba­ru merdeka, In­dia termasuk ­sa­lah satu negara yang memberi peng­akuan awal.

Bahkan kalau kita berbicara ten­tang Nyepi, jangan ditanya kont­ribusi positifnya bagi bang­sa ini. Simak saja tema na­sio­nal Hari Raya Nyepi tahun ini: “Melalui catur brata pe­nye­pi­­an, kita tingkatkan soliditas se­­bagai perekat keberagaman da­­lam menjaga keutuhan NKRI”. Tema ini sudah m­e­nun­juk­kan betapa umat Hin­du sungguh amat menghargai keberagaman, penuh tol­er­an­si, dan cinta Tanah Air.
Pesan-pesan po­­sitif dari te­ma tersebut tam­pak nyata da­lam berbagai ritual, baik se­be­lum maupun se­lama pe­rayaan Nye­pi. Seperti ki­ta ta­hu, be­be­ra­pa hari se­be­lum Nye­pi, di­ge­lar ritual Me­las­ti, yakni m­e­­nyu­cikan arca ser­ta simbol-sim­­bol agama g­u­na men­de­kat­kan diri pada T­u­han. Ritual ini di­mak­sud­kan un­tuk me­nyu­ci­kan se­lu­­ruh isi du­nia, ter­ma­suk negeri kita.

Lalu sehari sebelum Nyepi di­­gelar ritual Tawur Kesanga yang terdiri dari upacara Buta Yad­­nya dan Ngrupuk. Buta Yad­­nya adalah ritual memberi per­­sembahan pada Sang Bh­u­ta Kala agar tidak mengganggu umat manusia. Dalam ritual ini, umat Hindu membuat ogoh-ogoh atau patung rak­sa­sa dari bambu  yang me­r­u­pa­kan s­im­bol roh jahat di se­kitar kita se­hingga per­lu disingkirkan. Ca­­ra pe­nying­kiran ada­lah de­ngan ri­tual

Ngrupuk, yak­ni meng­arak ogoh-ogoh lalu mem­ba­kar­nya. De­ngan de­­mi­ki­an, roh ja­hat bi­sa diusir dan ti­dak jadi me­ngua­­sai dunia, ter­­masuk NKRI.
Tepat pada hari su­ci Nyepi, ya­­itu awal Ta­hun Baru Saka (Sab­­­tu, 17/3), dilaksanakan Upa­­­c­­ara Yoga Samadhi dengan em­­­pat pantangan wajib, yakni amati geni atau berpantang me­­nya­lakan api, amati karya atau meng­hentikan akt­iv­i­tas ker­ja, amati lelanguan atau ber­­pan­tang menghibur diri dan tidak me­nikmati ke­se­nang­­an he­do­nis­me, serta amati lelungan atau pantang be­­p­ergian. Mung­kin hanya di Ba­­li saja jalur pe­ner­bang­an inter­­nasional dihen­ti­kan demi pe­rayaan keagamaan.

Kemudian sehari setelah Ta­hun Baru Saka dil­ang­sung­kan acara Ngembak Geni. Se­ge­nap keluarga keluar dari ru­mah masing-masing dan ber­maaf-maafan dengan tetang­ga serta kerabat. Dalam rangkaian ritual Nye­­pi di atas, umat berusaha me­­lakukan introspeksi dan per­t­obatan agar terhindar dari kua­­s­a kejahatan.

Dengan jiwa ra­­ga yang suci, umat Hindu men­­coba menjaga harmoni dengan Sang Pencipta sesama ser­­ta semesta. Dengan de­mi­ki­­an akan tercipta kes­eim­bang­­an dan terhindar dari ma­la­­petaka. Kita berharap dengan Nyepi rangkaian ben­ca­na dan ancaman adu domba be­r­­nuansa SARA (suku, aga­ma, ras, dan antargolongan) yang meru­sak soliditas kita bi­sa dijauhkan. Ki­ta rindu bisa kem­­bali rukun se­bagai sesama anak bangsa ser­ta terus bisa ber­­kontribusi positif.

Sejarah mengingatkan, ke­ti­ka kita gampang diadu dom­ba, se­sungguhnya kita sedang sa­ling meng­hancurkan. Kita ju­ga lupa tu­juan menggapai “
bonum com­mune” (k­e­se­jah­te­ra­an ber­sa­ma). Hal yang me­non­jol ha­nya “ma­lum com­mune” (ke­bu­ruk­an ber­sama) se­perti tampak dari ma­raknya ujar­an keben­ci­an dan si­kap sa­ling curiga.

Pada ak­hir­nya mari be­lajar dari pe­san un­tuk selalu be­r­damai sebagaimana di­ucap­kan dalam doa pe­nu­tup dalam segala aktivitas umat Hin­­du, yakni “Om Santhi, San­thi, Santhi”(atas perkenan-Mu Tu­han, semoga damai di hati, da­mai di dunia, dan da­mai selalu).

Belajar dari Ramayana

Kita mengenal kisah Ra­ma­yana yang sering di­la­konkan dalam wa­yang. Namun, barangkali yang ki­ta ketahui di kisah itu ha­nya­lah perebutan Sinta dari ta­ngan Rahwana oleh Rama me­la­lui perang. Yang mana Sinta ada­lah istri Rama, putra ke­ra­ja­an Ayodya.  Tapi kisah tersebut ti­dak sesederhana itu.

Banyak lika-liku dalam ke­hi­dupan mereka yang patut ki­ta ambil hikmahnya. Seperti alas­an Rama dibuang ke hutan oleh ayahandanya hanya ka­re­na permaisuri Raja yang di­ha­sut oleh abdi rendahan. Permaisuri termakan perkataan ab­di. Akhirnya permaisuri me­nyam­paikan permintaannya ke­pada Raja Ayodya.

Sang Raja yang tak pernah ingkar janji pun melaksanakan per­min­ta­an sang permaisuri walau de­ngan hati yang sangat berat. Ber­awal dari hasutan, Rama pu­tra mahkota sang pewaris tak­h­ta akhirnya harus menjalani hidup di hutan.

Penggalan kisah lain yakni ke­­tika terjadi penculikan Sin­ta oleh Rahwana. Ketika itu Sin­ta dan Rama sudah tinggal di hu­tan bersama adik Rama, Les­­ma­na. Suatu hari tampak se­­ekor kijang yang sangat can­tik dan Sinta berhasrat untuk me­mi­likinya. Rama tak kuasa me­­no­lak keinginan istrinya dan per­gi untuk memburu ki­jang te­r­sebut.

Setelah dibawa ke te­ngah rimba, kijang pun ter­kena pa­nah Rama, lalu ber­ubah ke wu­jud aslinya, rak­sa­sa, dan me­ni­rukan suara Ra­ma yang seolah-olah meminta per­­to­long­an. Sinta men­de­ngar teriakan ter­sebut dan me­maksa agar Les­mana me­nu­ju suara itu dan mem­bantu sua­minya.

Sinta ga­lau me­mi­kir­kan nasib sua­mi­nya, dan da­tanglah Rahwana yang me­nya­mar sebagai pe­ta­pa. Sinta pun diculik, dibawa ke Aleng­ka, kerajaan raksasa yang di­pim­pin Rahwana.

Manusia sangat mudah ter­p­e­sona. Terlena akan hal-hal ke­cil, dan cenderung tidak me­mi­kirkan akibat yang akan di­da­pat. Sinta terjebak nafsu se­saat yang akhirnya mem­buat­nya ditawan di Alengka.
Kisah Rama dan Sinta ini tak beda jauh dengan kondisi ma­syarakat kita saat ini. Kabar-ka­bar burung yang tidak jelas ke­benarannya banyak disam­pai­kan melalui media online  atau daring. Keberadaan media so­sial seperti Facebook, Twit­ter, Instagram menyuburkan pe­nyebaran informasi yang ti­dak  benar.

Fatalnya, banyak yang meneruskan berita yang be­lum diketahui asal-muas­al­nya tersebut ke jaringan ke­luar­ga, kerabat, teman dekat, dan teman kerja. Kerap kali pe­nye­bar kabar ini orang terp­an­dang dalam jaringan tersebut, di­segani sehingga semua ang­go­ta dalam jaringan akan mu­dah dibuat percaya.

Masih dalam kisah Ra­ma­ya­­na. Ini ketika Rama dan pa­su­­kan wanara  hampir me­nd­e­kati Aleng­ka untuk merebut S­in­ta. Rah­wana punya siasat. Ia meng­utus anaknya, In­dra­jit, un­tuk memberi tahu Sinta te­­n­tang kematian Rama. Si­n­ta ter­te­gun melihat tipuan In­dra­jit be­rupa kepala Rama. Ke­­hi­lang­an Rama, hatinya gun­dah dan ke­hilangan sem­a­ngat untuk hidup.

Lagi-lagi manusia tertipu, bu­­­kannya mengklarifikasi ka­­bar tersebut, Sinta terbawa emo­­­si. Sinta tak beranjak dari tem­­­patnya ditawan hingga me­­l­ihat sendiri pasukan wa­na­ra yang memorak-poran­da­­kan Aleng­ka. Sinta merasa sa­­ngat ba­hagia, Rahwana ha­nya menakut-nakutinya.

Bahkan, berita bohong atau hoax  sudah dikenal pada masa lalu. Gelagat pelaku sudah gam­blang tergambar. Cara meng­atasinya juga tak jauh berbeda dengan masa kini. Te­ta­pi mengapa kita masih saja ter­jebak di dalamnya? ●

Minggu, 28 Mei 2017

Surga bagi Yang Menderita

Surga bagi Yang Menderita
Tom Saptaatmaja ;   Teolog; 
Alumnus STFT Widya Sasana Malang dan Seminari St Vincent de Paul
                                                        JAWA POS, 25 Mei 2017



                                                           
SEBAGAIMANA agama-agama lain, Kristen yang dibawa Yesus juga percaya akan surga. Bahkan, setelah menyelesaikan misi-Nya, Yesus naik ke surga, sebagaimana bisa dibaca dalam Perjanjian Baru.

Menariknya, Yesus menunjukkan bahwa surga bukan hanya persoalan eskatologis atau terkait pada suatu masa pada masa mendatang, tetapi surga itu harus dimulai ’’hic et nunc’’ (sekarang dan di sini). Itu tampak dalam ’’datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga’’ (Matius 6: 10).

Bukan hanya lewat ajaran seperti itu, Yesus juga menunjukkan surga dengan mukjizat. Orang buta dibukakan matanya, orang lapar diberi makan, orang lumpuh bisa berjalan, orang sakit disembuhkan, dan bahkan orang mati dibangkitkan-Nya.

Apa yang dilakukan Yesus tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk mengupayakan terwujudnya surga di dunia. Sayang, yang kerap hadir justru neraka penderitaan akibat berbagai permasalahan, mulai gangguan jiwa seperti depresi, penyakit, hingga kemiskinan.

Depresi dan Bunuh Diri

Penderitaan itu nyata ketika orang takut akan ketidakpastian masa depannya sehingga akhirnya depresi. Bahkan, depresi sudah menjadi pandemi global. Depresi memang menjadi pionir empat besar beban kesakitan dunia yang diprediksi menjadi ledakan hebat pada 2020 dan 2030.

Akibat depresi, banyak orang yang tergoda melakukan bunuh diri. Menurut WHO, setiap 40 detik ada satu orang yang melakukan bunuh diri. Itu merupakan angka yang sangat besar.

Bunuh diri bahkan kian dijadikan ’’gaya hidup’’, disiarkan langsung di internet. Bunuh diri pun mudah menular. Dalam dunia psikologi, hal itu disebut ’’Werther effect’’. Sebutan tersebut berasal dari nama tokoh fiktif dari novel Goethe, penulis ternama pada akhir abad ke-18.

Dalam novelnya, The Sorrows of Young Werther, Goethe berkisah tentang tokoh protagonis Werther yang sengaja bunuh diri setelah cintanya kepada tokoh utama perempuan gagal. Dalam waktu singkat setelah novel tersebut beredar, tindakan Werther ditiru banyak pembacanya dengan memakai pakaian dan cara mati yang serupa dengan yang dilakukan Werther.

Dampak lain depresi adalah alienasi atau keterasingan sehingga orang kehilangan arti hidup. Hidup menjadi tak bermakna atau hampa. Orang pun tergoda untuk bertindak brutal, biadab, serta nekat demi memberi makna pada hidupnya meski berkahir sia-sia.

Kemiskinan dan Kerakusan

Kejahatan dan neraka juga tampak pada masih banyaknya orang miskin. Mungkin kita masih ingat peristiwa menggemparkan sekaligus memilukan di Semarang pada pengujung 2013. Bayangkan, seorang tukang becak yang bernama Samidi, 60, meninggal setelah makan nasi basi. Dia mengembuskan napas terakhir persis di bawah gambar calon legislatif (caleg) yang menjanjikan kesejahteraan. Samidi menjadi simbol kejamnya penderitaan karena kemiskinan.

Memang ada beragam perspektif dalam memandang kemiskinan. Kaum konservatif dengan tokohnya seperti Auguste Comte atau Emile Durkheim berpendapat bahwa kemiskinan terjadi karena mentalitas orang-orang miskin. Karena itu, kaum liberal dengan tokoh seperti Fredrich August Von Hayek (1889–1992) berpendapat, untuk mengatasi kemiskinan, mentalitas orang-orang miskin harus diubah lewat pendidikan.

Sementara itu, menurut model konflik dengan tokoh seperti Adam Smith atau Karl Marx, struktur sosial merupakan hasil pemaksaan mereka yang kuat atas yang lemah. Hal itu menemukan pembenarannya jika kita kaitkan dengan fasisme abad ke-21 sebagaimana yang diungkapkan Peter Philips.

Menurut analisis Peter Philips, sebuah kekuasaan yang amat rakus sudah menindas miliaran orang di berbagai belahan penjuru dunia. Aktor utama kekuasaan itu adalah sebuah kelas kapitalis trans-nasional yang punya aset kekayaan senilai USD 100 triliun. Mereka sangat agresif merampok sumber kekayaan alam di mana pun. Mereka memiliki segala sarana dan prasarana untuk menjalankan kekuasaan.

Konyolnya, ada yang berpendapat, kaum penjajah fasisme abad ke-21 itu hanya ilusi. Padahal, kalau kita kaitkan dengan kekayaan alam negeri kita yang melimpah, seharusnya rakyat bisa sejahtera. Jadi, kalau sampai ada yang miskin, berarti ada pihak yang sangat serakah, yakni kaum fasis itu.

Keserakahan memang menjadi masalah terbesar dewasa ini. Keserakahan bersumber dari egoisme. Keserakahan membuat orang tidak bahagia karena tak ada yang bisa memuaskan. Selalu mau lebih. Tak pernah ada batasnya.

Maka dalam Sabda Bahagia di bukit (Matius 5-7), Yesus antara lain mengajarkan agar orang sungguh berani menjauhi segala bentuk nafsu untuk memiliki dan tidak takut untuk berbelas kasih, berbelarasa, dan memberi. Hanya dengan cara itu surga bisa kita wujudkan dan yang menderita bisa kita bantu dan entaskan dari neraka. ●

Kamis, 25 Mei 2017

Kenaikan Isa Al Masih, Ramadan, dan Persaudaraan

Kenaikan Isa Al Masih, Ramadan, dan Persaudaraan
Tom Saptaatmaja ;   Teolog Alumnus Seminari St Vincent de Paul dan Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang
                                                          KOMPAS, 24 Mei 2017




                                                           
ADA dua peristiwa keagamaan yang berdekatan bulan ini. Pada 25 Mei 2017, umat kristiani merayakan kenaikan Isa Al Masih (Yesus Kristus). Pada 27 Mei 2017, umat Islam mulai memasuki bulan suci Ramadan untuk berpuasa sebulan penuh. Peristiwa kenaikan Yesus terjadi 40 hari setelah Paskah. Yesus terangkat naik ke langit kemudian hilang dari pandangan setelah tertutup awan. Kenaikan itu disaksikan murid-murid-Nya, seperti dicatat Perjanjian Baru. Setelah kenaikan itu, umat kristiani (juga Islam) yakin Yesus atau Isa Al Masih masih akan datang kembali pada Hari Kiamat.

Tentu bukan sebuah kebetulan jika perayaan kenaikan Yesus dan bulan Ramadan tahun ini berdekatan. Boleh jadi, kedekatan ini punya pesan agar kita umat Kristen dan muslim mau terus belajar membina kedekatan dan persaudaraan. Terlebih di negeri yang majemuk ini, kedekatan atau adanya relasi yang baik antara umat kristiani dan muslim menjadi vital sekali bagi perjalanan bangsa ini.

Kita sudah melihat sendiri bagaimana politisasi agama dalam pilkada, misalnya, sungguh sangat mengganggu kehidupan bersama kita dan menimbulkan kegaduhan yang hingga detik ini belum mereda setidaknya di medsos. Maka seiring dengan kenaikan Yesus dan Ramadan, kedua umat samawi ini perlu mencari pijakan untuk membangun hidup bersama di negeri ini dengan terus saling menyapa, mengupayakan dialog dan persaudaraan agar bisa berkontribusi bagi bangsa.

Jika masih ada rasa jemu atau keengganan untuk memulai pendekatan, kita seharusnya sadar bahwa dalam relasi apa pun, bahkan di dalam keluarga dan antara saudara kandung saja, bisa terjadi gesekan atau konflik. “Pernahkah ada suatu zaman dalam sejarah manusia yang luput dari konflik?” tanya Ralph l Holloway (1967).

Memang ada orang yang tergoda untuk terus memelihara konflik dengan berbagai argumentasi termasuk argumentasi teologis guna melestarikan konflik termasuk dalam relasi Kristen-Islam. Namun, cendekiawan muslim Mohammad Arkoun mengingatkan sudah saatnya umat Islam dan Kristen meninggalkan pendekatan konflik atau cara pandang antagonistis. Dalam buku Islam, Modernism and The West, Arkoun berharap agar cara pandang yang hanya mempertentangkan ditinggalkan dan sebaiknya lebih fokus pada kerja sama.

Peristiwa positif

Lagi pula dalam sejarah sebenarnya cukup banyak peristiwa positif lain dalam relasi Kristen-Islam. Nabi Muhammad SAW pada abad VI, misalnya, sudah mengajarkan bagaimana harus menyikapi perbedaan agama tanpa bersikap diskriminatif. Ini bisa dilihat dari adanya Pakta Madinnah yang terkenal itu. Apalagi Nabi Muhammad memahami wahyunya sebagai kelanjutan dan pemenuhan dari tradisi alkitabiah Yahudi dan Kristen.

Rasa hormat beliau terhadap tradisi alkitabiah sungguh diperlihatkan dalam ajarannya. Misalnya dalam Surah Al-Maidah ayat 82 ada imbauan umat Islam bersahabat dengan umat Nasrani: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ’Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat para pendeta dan rahib, (juga karena mereka sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” Ayat itu secara tegas menunjukkan betapa umat Nasrani adalah kaum yang dipandang memiliki kedekatan dengan umat Islam.

Nabi junjungan umat Islam berani memberi jaminan kebebasan dan toleransi khususnya pada umat kristiani, yang ditandatangani beliau, berangka tahun 628 Masehi dan masih disimpan di Biara Santa Katarina di Sinai, Mesir (http://www.islamic-study.orgsaint_catherine_monastery .htm). Silakan tonton jaminan itu di Youtube. Contoh lagi, ketika Islam mengalami zaman keemasan, para cendekiawan atau pemimpin Kristen di Timur juga ikut berperan. Misalnya, pada zaman kekalifahan Abbasiyah dengan kafilah Al Mahdi (775-785) dan Harun al-Rasyid (785-809) yang disebut 'Golden Age' dalam sejarah Islam, para cendekiawan atau tabib Kristen biasa keluar masuk istana Kalifah al-Mahdi dan Harun al-Rasyid. Goenawan Mohamad dalam capingnya, Baghdad, juga menulis bagaimana kafilah Al Makmun (830) menyuruh Hunain bin Ishaq, seorang tabib Kristen, untuk mengoordinasi proyek penerjemahan risalah-risalah dari bahasa Aram, Pahlavi, dan Yunani ke dalam bahasa Arab (Tempo, 17-23 Februari 2003).

Dari Baghdad, proyek terjemahan itu juga menular ke Toledo di Andalusia pada abad XII. Pada akhirnya Toledo lebih bersinar. Banyak buku yang ditulis para filsuf Islam seperti al-Kindi, Ibn Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, dan banyak lainnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Andalusia, khususnya Toledo, banyak dikunjungi para pelajar Eropa. Dan setelah menyelesaikan studinya di Toledo, mereka kembali ke kampung halaman. Eropa yang semula ketinggalan zaman akhirnya bisa lahir kembali dan maju. Jelas dalam kemajuan ini ada kontribusi pemikiran Islam.

Semoga menginspirasi

Karena itu, gereja Katolik di bawah Takhta Suci Vatikan selama ini sangat setuju dengan pendapat Arkoun untuk lebih mengedepankan pendekatan kerja sama atau sinergi dalam relasi gereja dengan Islam. Namun, bukan berarti gereja hendak menutup mata pada fakta sejarah yang getir terkait dengan relasinya dengan Islam di masa silam. Dalam dokumen Nostra Aetate (terbit 1965), gereja sudah menyampaikan permohonan maafnya pada Islam dan bahkan mengakui kebenaran dalam Islam.

Takhta Suci juga sudah membentuk Pontifical Council for Interreligious Dialogue atau Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama. Tiap tahun dewan ini rutin menyampaikan ucapan selamat berpuasa atau berlebaran. Tahun lalu dewan kepausan yang dibentuk sejak 1965 itu juga mengundang puluhan tokoh agama termasuk Din Syamsuddin untuk berdoa bersama di Assisi, Italia (20/9/2016). Din yang juga menjabat sebagai Direktur Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) itu mengutip Surah Ali Imran ayat ke-64, mengajak umat berbagai agama, khususnya Yahudi dan Kristen, berpegang teguh pada landasan tunggal yang sama (‘kalimatun sawa’), yaitu dengan mengabdi hanya kepada Tuhan yang esa dan bekerja sama untuk kemaslahatan dunia. Paus Fransiskus amat terkesan atas sambutan Din. Kedua tokoh lalu berjabat tangan erat. Bahkan Din memohon Paus mendoakannya dan mendoakan Indonesia. Seiring dengan kenaikan Yesus dan Ramadan, semoga contoh-contoh positif di atas menginspirasi kita untuk membangun relasi harmonis dalam kehidupan sehari-hari demi Indonesia yang lebih baik. ●

Selasa, 18 April 2017

”Christo-Praxis” Melawan Kegelapan Korupsi

”Christo-Praxis” Melawan Kegelapan Korupsi
Tom Saptaatmaja  ;   Kolumnis dan Teolog; Alumnus Seminari St Vincent de Paul dan Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang
                                                       JAWA POS, 14 April 2017



                                                                                                                                                           

SANGAT menyedihkan jika kita merenungkan praktik korupsi di negeri ini. Praktik tidak terpuji itu menjadi bukti negeri ini masih berada di era kegelapan. Teror penyiraman air keras ke penyidik KPK Novel Baswedan (11/4) sesungguhnya menjadi simbol betapa banyak pelaku korupsi yang kian gelap mata di tengah upaya gigih KPK memerangi korupsi.

Perilaku koruptor membuat kita yang masih punya akal sehat dan tidak mau dibutakan sungguh bikin gemas dan geregetan. Tidak peduli sebagian rakyat, khususnya yang miskin, justru kian remuk redam gara-gara kian mahalnya harga pangan, sandang, dan papan, mereka masih terus mencoba merampok uang negara.

Para koruptor itu memang tidak punya mata hati lagi alias buta nuraninya. Jangankan empati dan kepedulian kepada wong cilik, mereka malah terus berburu kenikmatan dengan uang hasil korupsi.

Daniel G. Groody dalam jurnal Theological Studies mengingatkan, masyarakat konsumeris global sedang menjalankan gagasan antropologi sendiri. Benak orang banyak hendak diyakinkan tentang apa yang baik dan indah. Segalanya diukur dari pasar (mal). Pasar adalah otoritas yang menentukan apa artinya menjadi orang di zaman ini. Consumo, ergo sum (Aku berbelanja, maka aku ada) menjadi adagium orang zaman ini. Bukan Cogito, ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada) sebagaimana diserukan filsuf Descartes. Uang menjadi nomor satu.

Sebenarnya, jika mereka mau berbelanja, bersenang-senang menggunakan uang pribadi, silakan. Yang menyesakkan, uang negara dalam jumlah besar setiap hari menjadi ”bancakan”.

Begitu dominannya uang, sampaisampai mereka tidak risi meraup kekayaan lewat korupsi. Beragam cara juga dihalalkan guna mendapatkan dan menimbun uang. Mungkin inilah penjelasan yang logis untuk menjawab pertanyaan mengapa negara yang mayoritas umatnya beragama ini begitu sulit keluar dari permasalahan korupsi. Semua berawal dari pendewaan, bahkan penuhanan, akan uang. Dalam masyarakat ” money-teis”, Tuhan sudah disamakan dengan uang. Di media sosial kerap ada meme bahwa the big religion is money. Ada moneterisasi agama.

Tentu konsep ketuhanan seperti ini jelas merupakan suatu berhala. Mendegradasi Tuhan ke derajat barang atau materi adalah kegilaan zaman ini. Dalam bahasa agama, kegilaan itu kian membuat orang jatuh dalam dosa, termasuk dosa korupsi. Dosa pada intinya merupakan penolakan nyata terhadap kekuasaan Tuhan. Konyolnya, sebagaimana dikatakan Gus Mus (KH Mustofa Bisri dari Rembang), para koruptor justru mencoba memutihkan dosa dengan ”menyogok Tuhan” lewat uang korupsi, entah dengan membantu menyantuni anak yatim atau pergi ke Tanah Suci alias ke Saudi (bagi yang muslim) atau ke Israel (bagi yang Kristen).

Karena itu, kita dari agama apa pun harus berani melawan korupsi. Korupsi itu jahat dan menyengsarakan rakyat, khususnya yang miskin. Kaum miskin tidak mendapatkan kue pembangunan atau kucuran dana dari APBN/APBD sehingga semakin miskin. Korupsi hanya menyejahterakan para elite korup, sebagaimana tampak pada kasus e-KTP yang tengah disidangkan. Kasus tersebut memperlihatkan sistem politik yang tidak adil dan amat menindas rakyat. Ironisnya, pelaku korupsi e-KTP justru para wakil rakyat.

Pada 2000 tahun silam, Yesus juga berhadapan dengan elite, baik penguasa politik mamupun agama, yang menindas kaum lemah. Kritik dan kecaman tidak pernah berhenti dari mulut Yesus. Ini membuat para penguasa Rowawi dan agamawan Yahudi ketika itu terusik. Singkat cerita, akhirnya Yesus pun divonis mati di salib.

Dalam pandangan manusia, Yesus tampak digolongkan di antara orang-orang jahat karena mati di salib. Tetapi, dari perspektif iman Kristiani, salib justru menjadi sarana pembebasan dari belenggu dosa. Sebab, Yesus yang semula tampak kalah dengan mati mengenaskan akhirnya bisa bangkit dan mengalahkan kegelapan maut.

Namun, dalam perspektif teologi pembebasan seperti diutarakan Jon Sobrino S.J., ” christo-doxi” atau pemahaman akan Yesus seperti disebutkan di atas, tidak akan pernah lengkap tanpa disertai ” christopraxis”. Gampangnya, tidak cukup umat Kristiani percaya Yesus mati karena disalib dan bangkit jika tanpa mengimplementasikan kepercayaan itu dalam aksi atau perilaku nyata sehari hari.

Maka, dalam konteks korupsi, ” christo-praxis” harus ditunjukkan dengan perlawanan tanpa lelah pada korupsi. Itu jelas tugas berat. Misalnya, para pejabat gereja dan umat Nasrani harus berani tegas dalam menerima setiap bantuan, misalnya dari pejabat atau pengusaha yang korup. Tentu itu sulit. Tetapi, kita tidak boleh putus asa. Untuk itu, di samping tetap menjaga KPK dari segala macam serangan, baik pelemahan maupun mungkin pembubaran, kita harus mencari jalan agar koruptor dibuat jera dengan mekanisme vonis hukuman yang sangat berat. Mari mohon agar kita sungguh mengalami kebangkitan-Nya sehingga bisa bangkit melawan kegelapan korupsi. Selamat Paskah 2017. ●

Minggu, 16 April 2017

Banalitas Versus Kesejatian

Banalitas Versus Kesejatian
Tom Saptaatmaja  ;   Teolog Alumnus Seminari St Vincent de Paul
dan Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang
                                              MEDIA INDONESIA, 15 April 2017


                                                                                                                                                           

MESKI Yesus disalib pada 2000 tahun silam, sesungguhnya pascapenyaliban itu, Yesus masih terus disalibkan atau dibunuh berbagai macam motif manusia sebagaimana diungkapkan teolog pembebasan Leonardo Boff (Via Sacra da Justica, Editora Vozes Ltda, Petropolis, RJ, Brazil 1978). Salah satu yang berperan besar membunuh Yesus hari ini ialah sifat dan perilaku banal manusia sehingga yang esensial dikesampingkan, sedangkan yang banal atau dangkal justru diutamakan. Nyaris seluruh dimensi kehidupan kita, termasuk dimensi agama, tengah mengalami banalitas. Banalitas agama, misalnya, telah menciptakan ruang-ruang keagamaan, yang telah berbaur dengan ruang-ruang budaya populer dan gaya hidup. Banalitas agama cenderung merayakan aspek-aspek artifisial agama, dan meminggirkakan apa yang hakiki dari agama. Agama hanya dihayati kulit luarnya. Yang sejati, dicampakkan. Yang hakiki dari pesan universal agama-agama seperti kasih, kepedulian, dan pemihakan kepada kemanusiaan, lalu penghargaan pada pluralitas dan perbedaan, memang telah tersingkir.

Teror, kekerasan, dan kebencian kian marak. Benar kata Jean Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis, bahwa yang lain ialah neraka. Manusia pun kian tersekat dalam ruang-ruang sempit penuh amarah pada yang lain dan berbeda. Populisme, fundamentalisme, atau radikalisme agama, menjadi benang kusut yang ruwet dan rumit sehingga kian mendorong sebagian penganut agama membuat kubu eksklusif. Mereka yang dianggap berbeda bisa dengan mudah dilenyapkan lewat aksi-aksi anarkistis yang amat biadab. Agama pun ditafsir dan dihayati sebagai amunisi untuk menebar ancaman. Inilah contoh liar banalitas agama.

Kritik para tokoh

Dr Malachi Martin, guru besar Pontifical Biblical Institute Roma, dalam penelitiannya terhadap Yahudi, Kristen, dan Islam seperti yang terungkap dalam bukunya The Encounter (1969), pernah menyimpulkan agama tengah memasuki daerah yang sangat kering, baik sebagai personal concern maupun sebagai communal community. Akar masalahnya, agama-agama lebih banyak memberi perhatian pada hal-hal yang artifisial, jauh dari komitmen awal dan asli sebagai sarana bagi humanisasi. Yang ironis, dalam kondisi demikian, pejabat agama (tentu tidak semua) kadang malah ikut-ikutan banal. Sebelum kematiannya tahun lalu, Kardinal Italia terkenal, Carlo Martini, menyebut bahwa Gereja Katolik ketinggalan 200 tahun lamanya karena mengalami pendangkalan (banalitas). Menurut Martini, gereja lelah dan terseok-seok karena keberatan beban, seperti beban birokrasi yang melebihi proporsi dan beban liturgi yang melulu ritualistis belaka. Gereja harus bisa menemukan bara apinya lagi di tengah tumpukan abu yang menenggelamkannya. Konyolnya, kadang dalam sikon seperti itu, justru ada pejabat gereja yang justru berkoalisi dengan penguasa dan pengusaha, serta abai pada yang kecil dan menderita. Padahal, yang kecil dan menderita, dalam pesan agama apa pun, harus lebih dipedulikan.

Kesejatian

Memang inti kesejatian praksis beragama ialah ketakwaaan pada Sang Pencipta yang hanya bisa diukur dalam kecintaan pada kemanusiaan keberpihakan pada yang kecil, lemah, dan menderita. Humanisasi harus dilakukan agar yang kecil, lemah, dan menderita bisa dibebaskan dengan spirit kasih. Karena keberpihakan pada yang kecil dan tertindas, Yesus justru balik ditindas dengan disalib dan mati dibunuh agamawan Yahudi yang berkolusi dengan penguasa Romawi. Peristiwa itu diperingati dalam Jumat Agung. Namun, salib itu paradoks. Di satu sisi, Yesus menjadi korban. Namun, di sisi lain, salib yang menjadi wahana bagi kematian-Nya, justru membawa keselamatan bagi yang percaya. Salib dalam perspektif iman Kristen ialah sarana penyelamatan atau pembebasan manusia dari cengkeraman banalitas yang menyebabkan banyak dosa. Dalam perspektif iman Kristen, salib ialah ekspresi belas kasih Sang Pencipta kepada umat-Nya karena Allah tidak senang manusia terus berada dalam dominasi dosa. Jadi, lewat kematian Yesus pada Jumat Agung, disusul kebangkitan-Nya pada Minggu Paskah, dominasi dosa yang berkuasa lewat kematian, dapat dikalahkan Yesus.

Lewat karya penyelamatan itu, dunia dihindarkan atau dibebaskan dari beragam banalitas yang menyebabkan banyak dosa sehingga manusia mau kembali pada penyembahan sejati pada Allah. Banalitas dosa yang menyebabkan maut telah dikalahkan. Karena itu, Paskah menjadi hari kemenangan iman terbesar. Jadi, sudah seharusnya kita bangkit dari banalitas. Pada hari Paskah, umat kristiani diingatkan bahwa Tuhan ialah penyelamat dari segala bentuk banalitas. Maka, siapa pun yang merayakan Paskah, harus menjalani hidup yang sejati dan tidak tergoda pada banalitas. Dengan demikian, kita tahu esensi sejati dari agama, yakni sebagai sarana bagi humanisasi, khususnya dalam mengangkat martabat kaum lemah dan tertindas. Sebab banalitas agama hanya menjadikan agama seperti momok atau tirani biadab dalam menjalankan mesin dehumanisasi yang menindas martabat luhur manusia. Boleh jadi kita bisa belajar tentang hidup yang sejati itu dari Paus Fransiskus. Paus ke-266, yang terlahir pada 1936 itu lewat teladan kesederhanaannya, boleh jadi hendak menunjukkan nilai-nilai sejati dalam beragama.

Di tengah pemujaan akan uang dan kemewahan hari ini sehingga orang doyan korupsi dan melakukan hal-hal tak terpuji lainnya, Paus berani memilih hidup sederhana dan menyerukan segenap kardinal, uskup, dan pastor dalam lingkup Gereja Katolik untuk menjauhi kemewahan yang sudah pasti merupakan salah satu bentuk banalitas. Bahkan, Paus berani memecat para pejabat gereja yang suka hidup mewah. Setiap tahun, Paus selalu punya agenda mengumpulkan semua tokoh lintas agama, termasuk dari Islam, untuk menggalang persaudaraan, perdamaian, dan kasih. Paus mengajak agar agama tidak menjadi bagian dari masalah, tapi harus menjadi pemberi solusi atas berbagai krisis kemanusiaan, seperti teror, perang, dan kemiskinan. Paus bukan hanya berwacana. Dia berani menerima pengungsi muslim asal Suriah dan berharap orang tidak menutup pintu pada para pengungsi. Lewat teladan itu, Paus hendak menunjukkan kepada manusia yang berbeda bahwa agama bisa bekerja satu sama lain dalam mengurai benang kusut krisis kemanusiaan yang multidimensional, sebagaimana terjadi di Suriah. Jelas hal itu senada dengan spirit Paskah yang seharusnya mendorong setiap umat kristiani untuk tidak terjebak dalam banalitas, tapi mampu menghayati kesejatian untuk berubah dan berbuah demi memberi nilai tambah bagi kemanusiaan (baik kemanusiaan dalam dirinya sendiri maupun dalam diri sesama). Selamat Paskah. ●

Sabtu, 28 Januari 2017

Imlek 2568 dan Keselamatan Bangsa

Imlek 2568 dan Keselamatan Bangsa
Tom Saptaatmaja  ;  Teolog, banyak menulis masalah Tionghoa
                                            MEDIA INDONESIA, 27 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

IMLEK kembali tiba. Imlek memasuki Tahun Ayam pada 1 Cia Gwee 2568, bertepatan dengan Sabtu, 28 Januari 2017. Awalnya, Imlek merupakan perayaan pergantian musim bagi para petani di Tiongkok. Sistem penanggalan Imlek sudah dibuat 2700 tahun sebelum Masehi. Mengingat di Tiongkok kuno banyak pemeluk Tao, Konghucu, atau Buddha, Imlek lalu bernuansa keagamaan. Namun, sesungguhnya Imlek bukan milik umat beragama tertentu. Dengan demikian, setiap etnik Tionghoa yang beragama apa pun, tak dilarang merayakan Imlek. Tidak merayakan pun tak jadi soal. Menurut Robertson Smith, salah satu fungsi sosial hari-hari besar seperti Imlek ialah merekatkan kebersamaan di dalam masyarakat. Ini tentu senada dengan acara berkunjung yang biasanya juga mewarnai Imlek. Sebab jika tali silaturahim disepelekan, biasanya berdampak kurang baik. Relasi menjadi memburuk. Orang lebih suka berprasangka. Apalagi kini bertebaran hoax dan ujaran tidak pantas yang bisa memicu konflik, bahkan kerusuhan.

Hari hari ini, kita juga prihatin. Pasalnya seiring pilkada serentak, khususnya pilkada DKI, politik identitas kian menguat. Sentimen SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) juga dimanfaatkan sebagian kalangan. Apalagi jika kita mencermati tren global, dalam tahun-tahun belakangan kita masih dihantui ancaman akan bangkitnya kembali politik identitas yang menonjolkan superioritas agama atau etnik tertentu. Ini tampak pada munculnya populisme di Barat, seiring dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Sejarah negeri ini tidak pernah sepi dari yang namanya konflik atau kerusuhan sosial. Etnik Tionghoa sering muncul sebagai kambing hitam sekaligus korban. Padahal sejarah masa lampau negeri ini mencatat antara etnik Tionghoa dan beragam suku bangsa di negeri ini pernah terjadi sinergi dan akulturasi budaya yang saling memberi dan menghormati. Ini masih bisa kita lihat jejaknya di Singkawang, Semarang, Lasem, dsb. Bahkan menyambut Imlek tahun ini, Metro TV menayangkan feature sejarah berseri tentang Jejak Panjang Toleransi di Lasem. Karena itu, rasanya kita perlu melihat sejarah kita kembali untuk belajar sikap saling menghormati, menghargai, tetap lebih baik daripada 1.001 bahasa prasangka, konflik, dan benturan peradaban lainnya.

Dari sejarah kita bisa melihat sesungguhnya sebelum kolonialis Belanda menjajah negeri ini mulai abad 16 dan 17, sebenarnya tidak pernah muncul konflik. Jika kini, ada yang suka membenturkan etnik Tionghoa dengan Islam misalnya, pada zaman dulu, antara Tionghoa dan Islam justru bisa bekerja sama. Bahkan, etnik Tionghoa diakui perannya ikut menyebarkan Islam. Di masjid Demak atau beberapa kelenteng di Pantura Jawa masih bisa kita lihat sisa-sisa akulturasi budaya Islam dan Tionghoa.

Bukan hanya dalam level agama, dalam hal pertanian, makanan, pakaian dan aspek budaya lainnya, ada hibriditas atau ketercampuran budaya yang saling mengisi dan memperkaya antara kultur Tionghoa dan kultur setempat di bumi Nusantara ini. Kalau mau bukti lebih banyak silahkan membaca buku karya Dennis Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996.

Namun, setelah Belanda menjajah negeri ini, mulai terjadilah adu domba dan konflik antara Islam dan Tionghoa. Belanda memang telah melakukan politik segregasi untuk memisahkan orang-orang Tionghoa dari penduduk setempat (bumiputera). Aksi kejahatan anti-Tionghoa yang pertama di Nusantara ialah pembunuhan orang-orang Tionghoa pada 1740 di Batavia. Lebih dari 10 ribu orang Tionghoa dibantai dengan kejam oleh pasukan VOC, ratusan rumah dijarah dan dibakar. Darah dan mayat korban pembunuhan tersebut memenuhi sebuah sungai yang sampai sekarang dinamai Kali Angke. Setelah peristiwa 1740, berbagai konflik dan kerusuhan anti-Tionghoa meledak di berbagai kawasan di negeri ini. Puncaknya Tragedi Mei 1998 yang merupakan noda paling hitam dalam sejarah negeri ini.

Ernest Renan pernah memperingatkan, “Bangsa bukanlah sesuatu yang kekal, mereka akan muncul, dan mereka akan lenyap.” Kita tentu tidak menginginkan lenyapnya bangsa Indonesia. Karena itu, mau tidak mau, kita harus bisa belajar dari sejarah. Karena itu, mari kita membangun sinergi dan menjauhi segala prasangka atau konflik yang kontraproduktif. Sibuk berkonflik internal membuat kita juga makin ketinggalan dari negara-negara tetangga.

Kita sudah memilih demokrasi untuk kehidupan kita bersama di negeri ini, termasuk dalam relasi antaretnik dan agama. Dalam demokrasi, semua etnik, semua agama mendapat tempat yang terhormat karena dalam demokrasi diterapkan prinsip toleransi sebagai penghormatan pada perbedaan di antara warganya. Jika ada konflik, mari selesaikan dengan dialog atau musyawarah. Segala fanatisme agama atau rivalitas etnik atau superioritas ras tidak ada tempatnya dalam demokrasi dan di negeri yang amat majemuk ini.

Oleh karena itu, seiring dengan Imlek kali ini, mari kita berdoa agar bangsa Indonesia bisa selamat melewati berbagai cobaan dan tantangan. Jangan lupa, dalam Imlek syarat dengan pesan keselamatan. Bagi masyarakat Tiongkok, keselamatan ialah saling bergantung dari semua hal yang ada di bawah langit dan di atas bumi (Tian Xia, Di Shang). Keselamatan amat bergantung pada keharmonisan manusia dengan alam, sesama dan para dewa (Tuhan).

Maka dalam Imlek, ada ritual yang punya aspek vertikal, seperti ucapan syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan dari roh jahat, yang termanisfestasi dalam penyalaan kembang api dan petasan pada malam Imlek. Juga ada penghargaan pada leluhur dengan membersihkan makam. Kemudian aspek horizontalnya, ada acara kunjungan ke tetangga dengan membagikan angpao pada yang lebih muda atau kaum papa. Dari gagasan di atas kita bisa membaca bahwa menjaga harmoni, baik dengan Tuhan, sesama dan alam, sangat penting maknanya bagi setiap etnik Tionghoa. Maka kehadiran etnik ini di manapun, termasuk di negeri ini selalu ingin memberi kontribusi positif sebagaimana sudah ditulis oleh Denys Lombard di atas. Maka kita jangan mau diadu domba lagi demi keutuhan dan keselamatan NKRI. Mari kita jadikan Imlek kali ini menjadi momentum untuk mengakhiri segala prasangka dan terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Gong Xi Fat Choi 2568! ●