Tampilkan postingan dengan label Shamsi Ali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shamsi Ali. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 September 2021

 

Serangan 9/11, Amerika dan Taliban

Shamsi Ali  ;   Imam di New York, Presiden Nusantara Foundation

SINDONEWS, 10 September 2021

 

 

                                                           

JUMAT 14 September 20 tahun lalu, debu-debu reruntuhan gedung kembar WTC menjadi saksi bisu atas sebuah peristiwa yang belakangan menggoncang dunia. Kepulan asap dan debu dari reruntuhan itupun telah menjadi saksi dahsyat pada salah satu rentetan perjalanan sejarah kehidupan dan peradaban manusia.

 

“We can’t hear you. We can’t hear you!” orang-orang di pinggiran reruntuhan itu berteriak. Mereka adalah keluarga korban, fire fighters (petugas pemadam kebakaran), NYPD (anggota Kepolisian NY), dan para relawan lainnya yang masih berusaha menemukan orang-orang hidup dari oggokan reruntuhan gedung WTC itu.

 

Di salah satu samping reruntuhan yang aman, dan dari atas onggokan bebatuan sebuah suara terdengar: “I can hear you. I can hear you!” (saya mendengarmu, saya mendengarkanmu). Tapi suara itu berlanjut: “and they will hear us. The people who took down these buildings will hear us!” (Dan mereka akan mendengar kita. Orang-orang yang meruntuhkan gedung ini akan mendengar kita!”.

 

 

 

 

Itulah teriakan yang bersahutan di sore itu. Antara keluarga korban yang hadir mendengarkan pidato singkat Presiden GW Bush di saat mengunjungi Ground Zero pertama kali dan sang Presiden negara super power itu.

 

Saya bersama beberapa tokoh agama New York yang diminta hadir dan ikut mendampingi sang Presiden melakukan kunjungan pertama kali ke Ground Zero empat hari setelah serangan 9/11 hanya berdiri sekitar 7-10 meter dari Presiden.

 

Ketika Presiden Bush berteriak: “they will hear us” (mereka akan dengar kita), sejujurnya saya tidak terlalu paham. Saya pun bertanya ke Imam E. Pasha, Imam masjid Malcom X Harlem (kami berdua mewakili Komunitas Muslim di acara itu) apa yang dimaksud oleh sang Presiden.

 

“That is a war declaration” (itu pengumuman perang), jawabnya singkat.

 

Pernyataan Bush itu disambut dengan gegap gempita. Tepuk tangan bergemuruh. Teriakan memuji Presiden terdengar seolah hingga ke angkasa luar. Sang Presiden pun merasa tersanjung. Seolah lupa apa yang baru saja menimpa warga New York ketika itu.

 

Pada malam harinya saya mendapat undangan untuk hadir dalam acara memorial service (semacam takziyah) di gereja St. John Cathedral. Sebuah gereja penganut Episcopalian (Anglican kalau di Inggris) yang terletak tidak jauh dari Columbia University.

 

Saya hadir karena diminta memberikan sambutan singkat tentang serangan 9/11. Tentu saya menyampaikan seperti yang sering saya sampaikan sebelumnya. Belasungkawa, kutukan, meyakinkan akan kebersamaan, dan tentunya komitmen Islam melawan terorisme. Itulah nyanyian rutin saat itu.

 

Tapi yang mengejutkan malam itu adalah begitu banyak tokoh agama, termasuk Yahudi dan Kristen, yang menyampaikan ketidak setujuan bahkan resistensi terhadap rencana Presiden Bush menyerang Afghanistan. Alasannya sama dengan yang sering kita dengarkan. Pengalaman buruk perang Vietnam dan alasan kemanusiaan.

 

Rupanya Presiden Bush memang berambisi untuk mengirimkan pasukannya ke Afghanistan. Sebagian menafsirkan itu sebagai jembatan untuk kembali ke Irak untuk membalas dendam kekalahan ayahnya di tahun 1991 silam.

 

Justifikasi yang dipaksakan memang atas nama balasan atas serangan 9/11. Dan target utama adalah menangkap atau membunuh Osama Bin Laden, yang dianggap “master” dari serangan yang mematikan hampir 3000 jiwa itu.

 

Saat itu di Afghanistan sendiri sejak terusirnya Uni Soviet, bahkan menjadi penyebab utama keruntuhannya, terjadi perang antar kelompok. Perang itu disebabkan karena faktor suku maupun karena faktor kelompok jihad itu sendiri. Dari Rabbani ke Sayyaf, hingga ke Muhammadi dan Hikmatyar, Afghanistan tidak pernah sepi dari pembunuhan dan pertumpahan darah.

 

Di tengah situasi yang tidak menentu itu para pelajar di berbagai madrasah, baik yang di Afghanistan sendiri maupun yang berada di daerah-daerah perbatasan Pakistan dan Afghanistan membentuk kekuatan baru dengan nama Taliban. Didukung oleh tentunya kekuatan luar, saya menyebutnya dengan “hidden player” Taliban berhasil menguasasi sebagian besar negara Afghanistan ketika itu.

 

Kekuasaan Afghanistan yang terbentuk atas dasar Shariah “versi mereka saat itu” sangat kaku, sempit dan tidak menunjukkan “muruunah” (elastisitas) ajaran Islam yang sesungguhnya. Tentu situasi ini dipergunakan oleh pihak lain untuk membangun persepsi yang buruk tentang Taliban itu sendiri.

 

Kehadiran Amerika di Afghanistan pun bukan lagi sekedar memburu Osama bin Laden. Tapi untuk meruntuhkan kekuasaan Taliban. Amerika berhasil menggeser Taliban dari pusat pemerintahan di Kabul. Sekaligus berhasil membentuk pemerintahan bonekanya melalui representasinya di Afghanistan, Zalmay Khalilzad. Zalmay Khalilzad adalah warga negara Amerika yang memang keturunan Afghanistan.

 

Taliban sendiri tidak pernah berhenti bergerak dan berjuang untuk kembali menguasasi Afghanistan. Walaupun dikategorikan sebagai gerakan teroris oleh Amerika, bahkan beberapa petingginya ditangkap dan dipenjara di Guantanamo (termasuk Baradar yang saat ini jadi Wakil Presidennya), kenyataannya Taliban tetap eksis.

 

Amerika sendiri dalam perjalanannya menghadapi berbagai multi krisis. Selain peerangan di Afghanistan dengan biaya yang luar biasa besarnya. Juga beberapa tahun kemudian dengan alasan yang diada-diada kembali menyerang Irak dan menjatuhkan Saddam Husain. Irak menjadi hancur berkeping mengikut jejak Afghanistan.

 

Demikianlah dari tahun ke tahun Amerika semakin bingun dengan sendirinya. Apa yang harus diperbuat. Menarik pasukan berarti dengan sendirinya mengakui kemenangan Taliban. Jika tidak Amerika juga sadar bahwa permasalahan ekonomi dalam negeri semakin terasa.

 

Setiap harinya Amerika harus mengeluarkan sekitar USD300 juta. Dalam masa dua puluh tahun Amerika telah menghabiskan sekitar USD2 triliun. Belum lagi ribuan tentara Amerika yang mati, dan ribuan lainnya yang luka-luka.

 

Intinya Amerika merasa maju mundur akan tertampar (kena). Hingga sekitar lima tahun silam terpilihlah seorang Presiden yang secara ekonomi sangat sensitif, tapi juga kebal muka. Di masanyalah Amerika mulai melakukan negosiasi kembali dengan Kelompok Taliban melalui mediasi Qatar. Dan puncaknya Amerika memutuskan menyetujui tuntutan Taliban untuk mereka angkat kaki dari bumi Afghanistan.

 

Ketika Presiden Biden terpilih tentu tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan di Afganistan. Selain kerugian dan kekalahan itu nyata, juga Biden harus melaksanakan persetujuan yang telah ditanda tangani oleh pemerintahan sebelumnya. Militer Amerika pun hengkang dari Afghanistan di akhir Agustus tahun 2021 ini.

 

Banyak pihak, termasuk Amerika sendiri tidak menyangka bahwa Afghanistan akan begitu mudah dan cepat terjatuh ke tangan Taliban. Bahkan boleh jadi ada pihak yang ingin melihat kembali perang Saudara kerkecamuk di Afghanistan pascapenarikan pasukan Amerika.

 

Kenyataan berkata lain. Dalam waktu singkat Taliban menguasai daerah-daerah Afghanistan, dari satu propensi ke propensi lainnya. Hingga sebelum berakhir masa eksodus tentara Amerika pun ibu kota dan istana pemerintahan Kabul telah jatuh ke tangan Taliban. Presiden Ghani dan jajarannya melarikan diri ke negara-negara yang bisa memberikan perlindungan.

 

Ada beberapa perkiraan alasan Kenapa Taliban begitu cepat menguasasi Afghanistan. Tapi dua hal yang paling dominan adalah, satu karena memang mayoritas warga Afghanistan senang Taliban atau minimal tidak senang dengan pemerintahan boneka Amerika. Dua, pemerintahan boneka tidak pernah memiliki loyalitas dan komitmen. Pemerintahan bentukan orang lain pastinya rapuh dan mudah jatuh.

 

Dengan kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan tentu menjadi ujian tersendiri. Ujian bagi Taliban untuk membuktikan bahwa mereka memang hadir untuk memberikan solusi bagi negara dan bangsanya dari pertumpahan darah dan kemiskinan yang tiada akhir. Bahwa dengan komitmen transformasi Taliban hadir dengan wajah dan karakter pemerintahan yang berbeda dari yang dihadirkan 20 tahun lalu.

 

Tapi ujian terbesar sesungguhnya adalah untuk dunia, khususnya Dunia Barat dan Amerika sendiri. Amerika yang telah melakukan persetujuan dengan Taliban melalui Qatar Agreement. Kini Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan yang juga berarti Amerika menyerahkan kembali kekuasaan itu.

 

Masalahnya kenapa Amerika dan dunia Barat nampak ragu dan malu-malu mengakui eksistensi Taliban sebagai penguasa resmi Afghanistan? Bahkan dengan segala cara berusaha menghalang-halangi agar Taliban menuntaskan jalan mereka untuk membentuk pemerintahan yang sah di Afghanistan?

 

Kalau sekiranya Amerika dan dunia Barat jujur untuk memperkuat demokratisasi di Afganistan pastinya mereka menempatkan diri sebagai mentor yang menampakkan keteladanan dalam demokrasi dan HAM. Bukan hadir memaksakan kehendak dan kekerasan atas nama demokrasi.

 

Akhirnya Afghanistan dan pemerintah Taliban memang menjadi ujian tersendiri bagi dunia. Ujian kejujuran dalam Demokrasi dan keadilan universal. Betapa dunia tanpa malu seringkali menafsirkan demokrasi dan keadilan universal berdasarkan kepada kepentingan dan hawa nafsu sendiri.

 

Islam pun mengajarkan ‘jika anda tidak lagi malu maka berbuatlah sesuka egomu’.

 

Jangan memalukan, man!

Give them a chance, man!  ●

 

Sumber :  https://nasional.sindonews.com/read/536996/18/serangan-911-amerika-dan-taliban-1631257745

 

Senin, 23 Agustus 2021

 

Taliban di Antara Aspirasi dan Kekhawatiran Dunia

Shamsi Ali ;  Presiden Nusantara Foundation

SINDONEWS, 19 Agustus 2021

 

 

                                                           

TERLEPAS dari kicauan dan gonggongan yang terkadang memuakkan dari media dunia, khususnya Barat, keluarnya Amerika dari Afghanistan adalah sesuatu yang perlu diapresiasi. Minimal keputusan itu merupakan “bisikan nurani” mengakui salah satu kesalahan negara adi daya ini dari masa ke masa. Sejak Vietnam, Irak, hingga ke Afghanistan, semuanya telah menjadi kesalahan dan dosa sejarah yang memalukan.

 

Invasi Amerika di Afghanistan 20 tahun lalu itu sebuah kesalahan fatal yang diambil oleh pemerintahan GW Bush. Masih terngiang di telinga saya, di saat mendampinginya berkunjung ke Ground Zero. Di sanalah pertama kali Bush mendeklarasikan: “they will hear us” (mereka akan mendengar kita). Teman saya membisikkan ketika itu: “ it’s a war declaration” (itu pengumuman perang).

 

Banyak yang ribut dengan keluarnya Amerika dari Afghanistan. Padahal yang harusnya diributkan selama ini Kenapa Amerika menduduki negara lain atas nama memerangi terorisme? Toh sekali lagi sejarah telah membuktikan bahwa Amerika gagal menangkap/membunuh Osama bin Laden di Afghanistan. Justeru Osama terbunuh di negeri Ali Jinnah (Pakistan) belakangan.

 

Afghanistan memang negara yang unik. Pada tataran tertentu menjadikan kita, atau saya pribadi, berdecak kagum. Negara itu kaya secara alam. Juga letaknya yang strategis, selain menghubungkan negara-negara Asia Tengah dan Asia Selatan, juga dikelilingi oleh negara-negara besar dan berpengaruh seperti Iran, India, Pakistan dan China.

 

Tapi kehebatan Afghanistan Sesungguhnya ada pada bangsanya. Bangsa ini dalam sejarahnya telah membuktikan mampu menaklukkan penjajah-penjajah dari kalangan bangsa-bangsa kuat dunia. Dari Inggris, Uni Soviet, dan kini Amerika. Sebagai mahasiswa IIU Pakistan di akhir tahun 80-an (88-95), saya tahu betul panasnya jihad dan ruh mujahidin di bumi Afghanistan ketika itu.

 

Sekitar Agustus 1992 itulah masa ketika Uni Soviet harus angkat kaki dari Afghanistan. Ada euphoria yang sangat tinggi di kalangan Umat Islam saat itu. Berbagai mimpi (atau slogan) tumbuh. Salah satunya: “dari Kabul ke Jerusalem”. Slogan “Khaebar Khaebar ya Yahuud. Jaesyu Muhammad saofa ya’uud” terdengar di mana-mana.

 

Tapi akhirnya apa yang terjadi? Darah anak-anak Afghanistan terus tertumpah di negeri itu. Jika darah di masa sebelumnya segar harum mengalir di bumi jihad itu, beralih menjadi darah yang berbau amis. Hal itu karena yang terjadi belakangan adalah peperangan antar kabilah. Masing-masing kabilah ingin pemimpinnya yang menjadi jagoan. Dari Sayyaf, ke Rabbani, Mujaddidi, hingga ke Hikmatyar dan seterusnya.

 

Afghanistan pun tidak pernah pulih dari luka-luka lama akibat peperangan panjang. Pembunuhan dan saling membunuh, kerap juga atas nama membela agama dan kemuliaan seolah menjadi biasa. Kekuasaan juga silih berganti dari Sayyaf, Rabbani, Mujaddidi, hingga ke Hikmatyar, dan lain-lain berlalu tanpa ada dampak positif bagi kehidupan orang-orang Afghan.

 

Bangsa Afghan memang bangsa yang hebat. Masih terbayang wajah anak-anak Afghan yang saya ajar di sekolah "Al-Hilal al-Ahmar As-Saudi" di pinggiran-pinggiran kampung Peshawar. Kerap di wajah mereka masih penuh dengan debu-debu bahkan tanah. Maklum rumah-rumah mereka hanya dari tanah liat, dan seringkali tanpa air untuk mandi. Air begitu mahal untuk sekedar minum dan masak. Tapi dengan semua kesulitan itu mereka hadir di kelas setiap hari dengan ceria dan senyuman.

 

Hingga akhirnya dua dekade lalu, di saat pemerintahan dan kehidupan di Afghanistan mulai menggeliat. Tiba-tiba timbul lagi sebuah kelompok, konon dari sekolah-sekolah Islam (madrasah) di kawasan perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan. Mereka mayoritasnya dari kalangan suku Pushtu yang berbahasa Pukhtun. Itu terjadi ketika yang pemerintahan Pakistan ada di bawah Presiden Musharraf yang sangat dekat dengan CIA.

 

Kelompok Taliban (arti literalnya pelajar) itu tiba-tiba secara misterius menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu menaklukkan beberapa propinsi Afghanistan. Intinya mereka membentuk pemerintahan tersendiri di luar dari pemerintahan Afghanistan yang berpusat di Kabul lbukota negara.

 

Sementara itu Amerika terus merasa terancam dengan keberadaan Osama bin Laden di Afghanistan. Sosok yang dibesarkan oleh Amerika sendiri. Kini punya pengaruh besar di kalangan mereka yang kecewa dan marah dengan dominasi Amerika di dunia Islam, khususnya di Timur Tengah pasca perang Irak pertama.

 

Karenanya dijadikannya kelompok Taliban ini dengan harapan untuk mengeliminir sosok Osama. Kenyataannya Taliban tidak merasa itu kewajiban dan juga tidak etis secara iman untuk menghabisi Saudara sendiri. Karenanya mereka justeru memberikan perlindungan kepada Bin Laden dan groupnya.

 

Akhirnya Amerika berbalik menjadikan Taliban sebagai musuh, bahkan dengan segela kemampuannya, termasuk kekuatan media, menjadikan kelompok Taliban sebagai kelompok terroris. Taliban pun menjadi musuh yang harus dieliminir. Tapi Pakistan yang punya kepentingan dengan eksistensi Taliban setengah hati menjadi untuk menjadi kaki tangan Amerika menghabisi Taliban. Taliban di Afghanistan berhasil diruntuhkan di beberapa wilayah. Tapi mereka yang di Pakistan justeru membangun kekuatan. Tidak mengherankan belakangan justeru Bin Laden lebih nyaman tinggal di Pakistan.

 

Sementara itu di Afghanistan pemerintahan yang terpilih harus sejalan dengan keinginan Amerika. Mungkin dalam bahasa lain harus dari boneka-boneka Amerika. Hal ini menjadikan Taliban semakin termotivasi untuk mengambil alih kekuasaan di Afghanistan. Maka sepanjang dua dekade terakhir, Taliban kerap membuktikan eksistensinya tidak jarang dengan wajah yang buruk. Termasuk melalui ragam bunuh diri yang telah menelan banyak nyawa dari kalangan sipil.

 

Dengan keputusan Amerika untuk meninggalkan Afghanistan, kini Taliban membuktikan bahwa mereka eksis. Bukan saja eksis. Tapi memiliki kekuatan dan ada di hati sebagian besar rakyat Afghanistan. Kalau tidak memiliki kekuatan dan tidak ada di hati mayoritas rakyat Afghanistan tentu pemerintahan Kabul tidak secepat itu terjatuh.

 

Amerika sendiri sesungguhnya telah lama ingin keluar dari Afghanistan. Hanya saja memang selama ini harus mencari cara untuk menutup muka agar “shamefulness” (rasa malu) itu dapat tertutupi. Hingga naiklah seorang Presiden yang tidak peduli. Selain karena memang tidak ada rasa malu, juga karena berotak hitung-hitung ekonomi. Tidak memiliki kalkulasi-kalkulasi pengaruh politik dan dominasi global. Itulah kelebihan dan sisi positifnya Donald Trump. Dialah yang mengeksekusi persetujuan dengan Taliban untuk meninggalkan Afghanistan melalui perjanjian Doha di Qatar.

 

Presiden Biden yang kini harus menanggung serangan kritikan, khususnya dari kalangan Republikan, hanya melaksanakan hasil persetujuan pemerintahan Trump dan Taliban. Biden tentunya tidak mengatakan jika keputusannya menarik tentara US dari Afganistan itu sekedar melaksanakan keputusan pendahulunya. Agar nampak tegas Biden mengatakan “this the right decision for America” (ini keputusan yang benar untuk Amerika).

 

Apapun itu kini Taliban telah sepenuhnya menguasai Afghanistan. Media dan banyak pihak pun tidak berhenti menggonggong, menampilkan aspek-aspek kekurangan atau dipaksakan dinampakan sebagai ancaman. Kekacauan bandara Kabul misalnya ditampilkan berkali-kali seolah mewakili wajah negeri. Padahal pasukan Taliban masuk Afghan tanpa pertumpahan darah. Kenapa dunia tidak membuka mata dengan realita ini?

 

Tidak mudah memang bagi Taliban ke depan. Selain telah terlanjur terbangun narasi yang buruk, termasuk perlakuan yang tidak baik kepada wanita, dan lain-lain, juga dibangun narasi jika Taliban itu “violent group” (kelompok yang senang melakukan kekerasan). Narasi atau persepsi yang dibangun ini Sesungguhnya terbantah dengan realita kemenangannya tanpa pertumpahan darah.

 

Di saat-saat seperti inilah saya menantang kejujuran dunia internasional, termasuk Amerika, dalam menjunjung demokrasi di mana saja. Senang atau tidak, merasa mendapat manfaat atau tidak, Taliban adalah pemenang pertarungan di Afghanistan. Pertarungan yang sejatinya diapresiasi karena tidak terjadi secara destruktif yang berlebihan.

 

Kenapa dunia tidak memberikan ruang kepada Taliban dan bangsa Afghanistan untuk membuktikan jika mereka mampu mengelolah negara mereka sendiri? Bahwa mereka punya paham dan jalan tersendiri dalam pengelolahan itu, kenapa negara-negara lain harus peduli dan ribut karenanya?

 

Masalah penafsiran dan pemahaman agama itu masalah domestik yang akan mengalami dinamika dan transformasi tersendiri. Jika selama ini ada pemahaman atau penafsiran agama yang kita tidka setujui, termasuk dalam hal pendidikan wanita, hal itu mungkin karena sekedar ekspresi resistensi dengan tendensi sosial yang dilihat sebagai titipan orang luar (baca Barat).

 

Boleh juga karena memang latar pendidikan mereka yang perlu diarahkan ke arah yang lebih baik. Di Amerika sendiri ada kelompok-kelompok agama yang tendensinya “talibanisme”. Yang parah kemudian jika pemahaman agama ini didukung oleh kepentingan politik. Apalagi jika pemahaman atau sentimen agama itu terpakai sebagai alat resistensi kepada kekuatan luar (Amerika dan Barat).

 

Karenanya Amerika dan dunia internasional harus jujur dengan nilai demokrasi yang dijunjungnya. Berikan hak kepada Taliban dan bangsa Afghanistan untuk bekerja dengan baik dan maksimal. Siapa tahu di bawah pemerintahan Taliban Afghanistan akan lebih baik dibanding pemerintahan boneka yang selama ini terbentuk.

 

Pada akhirnya saya berharap bahkan yakin bahwa negara Islam terbesar dunia Indonesia, diharapkan memainkan perananan untuk menjembatani berbagai kesalah pahaman yang ada. Di satu siai saya yakin Indonesia tidak punya banyak kepentingan di Afghanistan. Di sisi lain Taliban melihat Indonesia sebagai negara netral secara politik. Sekaligus sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia.

 

Karenanya perananan Indonesia akan banyak membantu menetralisir keadaan dan cara pandang dari berbagai kutub yang bertolak belakang. Dari yang melihat Taliban sebagai ancaman. Tapi sekaligus menetralisir cara pandang Taliban kepada mereka yang berbeda paham. ●

 

 

Sumber :  https://nasional.sindonews.com/read/515102/18/taliban-di-antara-aspirasi-dan-kekhawatiran-dunia-1629324501

 

 

 

 

Kamis, 25 Februari 2021

 

The New Istiqlal

 Imam Shamsi Ali  ;  Presiden Nusantara Foundation/Pesantren Nusantara Madani USA

                                                 SINDONEWS, 23 Februari 2021

 

 

                                                           

Hari Ahad kemarin, 22 Februari 2021 Masjid Istiqlal melangsungkan hari jadi atau Miladnya yang ke-43. Acara itu dihadiri oleh Wapres KH Ma’ruf Amin, beberapa menteri Kabinet Indonesia maju dan pejabat tinggi negara lainnya, serta perwakilan-perwakilan negara sahabat.

 

Saya sendiri secara pribadi diundang melalui telpon langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Sayang sekali saya tidak bisa hadir karena terlebih dahulu terikat oleh beberapa jadwal di Makassar, Sulawesi Selatan. Namun Jumat lalu saya menyempatkan hadir Jumatan di Istiqlal sekaligus menjadi narasumber pada pelatihan peningkatan SDM Rohis/Bintal TNI.

 

Masjid Istiqlal memang sangat membanggakan bangsa Indonesia. Selain karena bersejarah, juga merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini tentu juga dikenal sebagai masjid negara. Dan karenanya untuk pertama kalinya, pengangkatan Imam Besar dan seluruh jajaran struktur kepengurusannya melalui Surat Keputusan Presiden RI.

 

Kali ini Masjid Istiqlal memang sedang berbenah. Saya yakin bahwa semua ini tidak lepas dari kelihaian imam besar, guru dan kakak saya, Professor Nas. Kelihaian itu tidak saja secara substansi keilmuan karena beliau memang seorang guru besar dalam ilmu agama. Tapi juga dalam hal profesionalitas menejemen yang beliau miliki. Ditambah lagi keluasan dan keluwesan beliau dalam membangun komunikasi dan relasi dengan semua pihak, baik dengan pemerintah maupun masyarakat luas, bahkan dengan non Muslim sekalipun.

 

Kini Istiqlal semakin berbenah. Tentu saya tidak ingin memakai kata sempurna. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah, sang Khaliq. Tapi masjid Istiqlal semakin membaik, maju dan berkembang baik secara fisik maupun secara substansi (program dan kegiatan).

 

Secara fisik, dalam sejarahnya baru kali ini masjid Istiqlal mendapat perhatian penuh dari pemerintah dan semua masyarakat luas untuk direnovasi secara besar-besaran. Dan itu dapat disaksikan secara dekat di saat mengunjungi Masjid Istiqlal.

 

Salah satu hal yang unik di Masjid Istiqlal saat ini adalah penyinarannya dengan memakai sistem solar (matahari). Selain itu Masjid Istiqlal memperbaiki segala fasilitasnya secara profesional, termasuk ruang-ruang sekolah/perkuliahan yang semakin indah.

 

Bahkan mungkin yang juga unik, khususnya di Indonesia, adalah dihadirkannya tempat olah raga atau gym yang modern. Hal itu karena masjid Istiqlal memiliki wawasan membangun manusia seutuhnya. Sehat secara spiritual, intelektual, dan juga secara fisikal.

 

Tapi dari semua itu yang paling menggembirakan adalah bahwa visi Istiqlal tidak lagi bahwa masyarakat itu harus memberdayakan masjid. Tapi saat ini justeru minimal harus ada perhatian timbal balik. Sehingga yang berkembang dan kuat bukan saja masjidnya. Tapi juga masyarakat atau jamaah masjid tersebut.

 

Perberdayaan masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat ini terlihat dalam inisiasi berbagai program yang, menurut saya pribadi, sangat maju dan inovatif. Saat ini ada 41 bentuk program yang dicanangkan Masjid Istiqlal . Dan bersamaan dengan hari Miladnya yang ke-43 program-program tersebut diluncurkan secara resmi oleh Wakil Presiden RI.

 

Saya tidak akan menyebutkan kesemua 41 program itu. Semuanya dapat diakses melalui website Masjid Istiqlal saat ini. Saya hanya akan menyebut tiga hal yang menurut saya sangat relevan dan diperlukan.

 

Pertama, terbentuknya Majelis Mudzakarah masjid Istiqlal yang beranggotakan 20 orang dan diketuai oleh Ahli Tafsir dan Ulama Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab. Saya sendiri dimasukkan sebagai salah seorang anggota di Majelis tersebut.

 

Dengan terbentuknya Majelis Mudzakarah ini, masjid Istiqlal kemudian meluncurkan program pengkaderan ulama yang secara akademik setingkat S2 dan S3. Program ini dikerjasamakan dengan Institute Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran Jakarta.

 

Kedua, sebagai bagian dari pengkaderan ulama tadi, Masjid Istiqlal secara khusus melakukan pengkaderan ulama perempuan. Bagi saya pribadi hal ini sangat penting dan inovatif, bahkan sesungguhnya sangat diperlukan untuk tujuan-tujuan multidimensi yang sangat penting.

 

Pengkaderan ulama perempuan akan menjawab berbagai tuduhan bahwa Islam itu diskriminatif kepada kaum Hawa, khususnya dalam kajian keagamaan. Dan tentunya lebih khusus lagi bahwa perempuan akan memiliki akses besar dalam penafsiran-penafsiran yang selama ini diakui atau tidak memang masculine dominant (didominasi oleh ulama pria).

 

Setahu saya belum ada negara Islam yang melakukan hal ini selain Indonesia. Maroko beberapa waktu lalu mengadakan hal yang sama. Di mana kedudukan mufti juga diperbolehkan untuk diduduki oleh kaum Hawa. Hanya saja Indonesia melangkah lebih jauh karena memang program ini adalah mengkader ulama yang akan berkontribusi secara penuh dalam keilmuan dan pemikiran Islam.

 

Ketiga, Istiqlal ingin menjadi pelapor jaringan masjid-masjid besar dunia. Bagi saya pribadi hal ini sangat penting dan relevan karena memang masanya Indonesia berada di garis depan untuk meraih kepemimpinan di dunia global, khususnya di dunia Islam.

 

Jika hal ini terwujud maka tentu salah satu kegalauan saya sebagai putra bangsa yang telah lama di luar negeri akan terjawab. Saya adalah putra bangsa yang beragama Islam yang telah lama mengimpikan peranan global Umat Islam Indonesia.

 

Semoga Masjid Istiqlal ke depan dapat bekerjasama dengan Nusantara Foundation dan Pesantren Nur Inka Nusantara Madani untuk memainkan peranan global itu. Insya Allah!

 

“Selamat kepada Masjid Istiqlal di hari jadi yang ke 43. Dan selamat sebagai the New Istiqlal”. ●

 

Rabu, 05 April 2017

The American Way

The American Way
Imam Shamsi Ali  ;  Presiden Nusantara Foundation
                                                    REPUBLIKA, 26 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sejak dimulainya kampanye pemilihan presiden Amerika di tahun 2016 lalu serangan dan kekerasan terhadap kelompok minoritas di Amerika Serikat meningkat tajam. Terlebih lagi setelah pemilihan itu memberikan kesempatan kepada Donald Trump masuk ke Gedung Putih (White House), kediaman resmi presiden Amerika, serangan terhadap minoritas menjadi 'momok' yang menakutkan.

Komunitas Muslim, Yahudi, Hispanic, African American, dan kelompok minoritas lainnya mendapat perlakuan yang kurang wajar. Kekerasan fisik maupun teror mental seringkali mereka alami dalam berbagai bentuknya.

Seorang anggota kepolisian New York diserang karena wanita Muslimah yang berjilbab. Seorang pekerja MTA (transportasi umum New York) didorong di sebuah tangga kereta bawah tanah juga karena agama dan pakaian Muslimahnya. Seorang pekerja airport JFK New York diserang secara fisik oleh orang yang tidak bertanggung jawab juga karena agama dan hijabnya.

Dalam beberapa pekan terakhir masyarakat Yahudi juga mendapat serangan yang tidak kurang. Pekuburan bersejarah mereka di St. Louis dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Bahkan puluhan sinagog atau pusat-pusat dan rumah ibadah Yahudi mendapat teror bom lewat telepon. Hanya beberapa hari yang lalu seorang ilmuan Hindu keturunan India terbunuh karena etnik dan negara asalnya. Demikian pula seorang pemimpin Sikh tertembak mati di pekarangan rumahnya di Seattle Washington.

Beberapa hari lalu sebuah masjid di Arizona dimasuki oleh seseorang di saat sepi, dan Alquran yang ada di rak-rak itu disobek sobek. Baru kemarin seorang wanita Muslimah diteriaki dan dipukuli.

Itu sekelumit Amerika di bawah kepemimpinan Donald Trump saat ini. Kekerasan demi kekerasan, kebencian terhadap warga minoritas semakin menjadi-jadi. Bahkan polling terakhir mengatakan 60 persen warga Muslim Amerika merasa ketakutan dengan suasana saat ini.

Belum lagi tentunya upaya Donald Trump untuk melarang pendatang yang beragama Islam dari negara-negara mayoritas Muslim. Sesunguhnya, pelarangan yang dimulai dengan beberapa negara itu adalah memenuhi janji kampanye untuk melarang siapa saja yang beragama Islam datang ke negara ini.

Pelarangan itu tentunya merupakan penampakan karakter Donald Trump yang sesungguhnya kepada Islam dan komunitas Muslim. Tapi sekaligus bagian dari upaya membendung perkembangan Islam yang semakin pesat. Justeru yang lucu kemudian ketika pangeran Saudi memuji dan menganggapnya "sangat bersahabat" dengan orang Islam. Atau ketika petinggi Indonesia melihatnya sebagai politisi yang baik dan akan memberikan dukungan kepada masyarakat Muslim.

Kebijakan pelarangan ini menjadi bagian dari kemenangan kelompok-kelompok Islamophobia yang selama ini sangat gencar memerangi Islam dan komunitas Muslim. Sehingga, dengan sendirinya menjelaskan kecurigaan yang ada bahwa Islamophobia sekarang ini sudah menjadi bagian sistim kenegaraan.

Dan dengan sendirinya, ini juga membawa kepada sebuah situasi yang sangat berbahaya. Jika masa lalu Islamopobia bersifat kasuistik, kejadian atau kasus di sana-sini, maka sekarang ini seolah penyakit ini sudah berada di jantung Amerika. Berada di pusat pemerintahannya di Gedung Putih.

The American way

Ternyata Amerika memang Amerika. Amerika punya jalannya sendiri. Jalan Amerika itu adalah demokrasi. Dan demokrasi itu memberikan otoritas tertinggi kepada rakyatnya.

Saya mungkin tidak salah jika mengatakan bahwa kemenangan Donald Trump adalah sebuah "unintended mistake" (kesalahan yang tidak disengaja). Tentu sebuah konsekwensi dari demokrasi itu sendiri. Tapi sejatinya kemenangannya adalah kesalahan yang akan dicatat oleh sejarah Amerika itu sendiri.

Delapan tahun Amerika mencatat sejarah dengan memilih seorang presiden dari kalangan Afro Amerika. Tidak saja karena Barack Obama terpilih mewakili banyak latar belakang. Afro Amerika, juga putih, dan juga mewakili Imigran secara keseluruhan karena ayahnya adalah seorang Muslim berkebangsaan Kenya. Tapi saya kira yang terpenting adalah Barack Obama relatif berhasil dalam memimpin negara ini dalam delapan tahun terakhir.

Terpilih menjadi presiden Amerika pasca-George W Bush, bukan hal mudah. Negara telah didorong ke dalam multi dimensi permasalahan, baik secara domestik maupun global. Ekonomi mengalami krisis yang luar biasa. Dan dengan nafsu perang Bush menjadikan nama Amerika menjadi rusak di mata dunia.

Barack Obama berhasil, minimal bertahan sehingga Amerika tidak mengalami krisis yang lebih jauh. Ekonomi tumbuh kembali. Hubungan dengan negara-negara dunia semakin membaik, termasuk dengan negara-negara mayoritas Muslim.

Mungkin salah satu sejarah yang akan dicatat oleh Amerika tentang Barack Obama adalah keberhasilannya meloloskan Healthcare atau jaminan kesehatan menjadi UU di Amerika. UU ini lebih populer dengan nama Obamacare.

Keberhasilan itu ternyata menumbuhkan "keresahan" di pihak lain. Oleh karenanya lawan-lawan politiknya berusaha menggantikannya dengan segala cara. Kemarin baru saja akan dilakukan voting di Kongress. Tapi sekali lagi Amerika punya jalannya sendiri. Usaha mengganti Obamacare itu gagal sebelum dimulai.

American way yang saya maksud di sini adalah bahwa urusan publik kenegaraan memang tidak ditentukan oleh seorang, atau sepihak. Tapi, semua ikut mengambil bahagian untuk menentukan arah kebijakan publik kenegaraan (state affairs). Tentu termasuk di dalamnya sebagai pemegang otoritas tertinggi masyarakat itu sendiri.

Sejak kampanye rasis dan anti imigran, khususnya Muslim, dilancarkan Donald Trump, masyarakat Amerika sudah mulai menyuarakan resistensi. Berbagai kegiatan sebagai bentuk solidaritas dilakukan. Walaupun saat itu sebagian menganggap jika pernyataan-pernyataan maupun perilaku Donald Trump hanya sebagai strategi tim kampanyenya untuk menarik simpati dari segmen tertentu masyarakat Amerika.

Kini dengan terpilihnya Donald Trump dan gelagat kebijakannya yang memang mengarah ke rasisme dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas, termasuk Muslim dan imigran, the American way itu semakin menampakkan diri.

Demonstrasi demi demonstrasi dilakukan di mana-mana membela hak-hak sipil minoritas. Kebijakan pelarangan pendatang Muslim ke Amerika oleh Donald Trump disambut dengan penentangan di mana-mana. Bahkan oleh Hakim Tinggi diblok berkali-kali, menjadikan kebijakan itu kehilangan wibawa.

Baru-baru ini dan untuk pertama kalinya dalam sejarahnya peringatan hari St. Patrick masyarakat Amerika keturunan Irlandia mengundang kami memberikan presentasi tentang Komunitas Muslim pasca terpilihnya Donald Trump. Kami mendapatkan penerimaan yang luar biasa. Selain karena memang ada keinginan membangun kerjasama dan solidaritas, juga karena kini Muslim bisa dipercaya.

American way itu adalah suara rakyat dan supremasi hukum. Dan dalam sebuah negara jika rakyat luas masih didengar dan hukum masih dijunjung tinggi maka negara itu adalah negara harapan dan impian.

Digagalkannya kebijakan pelarangan orang Islam (Muslim ban) masuk Amerika oleh Hakim Tinggi Amerika bukti nyata bahwa hukum masih otoritas tertinggi. Gagalnya penggantian Obamacare ke Ryancare juga membuktikan jika suara rakyat masih mengontrol kekuasaan publik.

Oleh karenanya di tengah berbagai tantangan yang sedang kita hadapi saat ini, saya tetap yakin jika Amerika akan tetap Amerika yang dulu kami kenal. Amerika yang menjadi harapan banyak orang, pulau impian bagi imigran. Tidak saja untuk perbaikan ekonomi dan pendidikan. Tapi yang terpenting adalah kebebasan dan keadilan sosialnya.

Amerika insya Allah tidak akan berubah prinsip hanya karena sebuah pemilu. Semoga! ●