Tampilkan postingan dengan label Moeldoko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Moeldoko. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 November 2015

Kebangkitan Pahlawan

Kebangkitan Pahlawan

Moeldoko  ;  Jenderal (Purn) TNI; Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia
                                                     KOMPAS, 10 November 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Hentikan Gambang, Allah Maha Besar. Gambang, sudahlah, ayahmu (Teuku Umar) telah syahid. Gambang, sebagai perempuan Aceh, pantang meneteskan air mata untuk orang yang telah syahid di medan perang. Bangkitlah! Agar arwah ayahmu tenang. Perjuangan kita masih panjang Gambang.."

Begitulah ucapan Tjoet Nyak Dhien terbata-bata dengan meneteskan air mata-diperankan sangat baik oleh Christine Hakim tahun 1988-kepada putrinya, Tjoet Gambang, ketika Teuku Umar wafat saat merebut Meulaboh.

Seakan mendahului program bela negara yang sempat diwacanakan pemerintah beberapa waktu lalu, kesadaran tentang bangkitnya berbangsa seolah kembali digairahkan oleh kalangan sineas kita setelah lebih dari 22 tahun vakum. Masih melalui film epik tentang kepahlawanan, selanjutnya hadir Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah (2010), Albertus Soegijapranata dalam Soegija (2012), Soekarno dalam film dengan judul nama yang sama (2013), Tjokroaminoto dalam Guru Bangsa (April, 2015), dan film tentang sosok Jenderal Soedirman yang rilis tepat pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 2015.

Memang, memaknai kedalaman hadirnya sosok pahlawan nasional sangat bergantung pada persepsi seseorang. Namun, ada satu pandangan dan semangat sama yang dihadirkan para sineas tersebut saat berbicara tentang pahlawan nasional kita: bahwa pahlawan adalah mimbar sekaligus narasi bagi mereka yang memilih mengorbankan jiwa untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri, bahkan lebih besar daripada negara dan tanah air mereka.

Sudah seharusnya kisah tentang kepahlawanan mampu menjadi oase yang menampung kejernihan dalam merefleksikan kisah wajah patriotisme dengan senjatanya untuk pencapaian sebuah cita-cita berbangsa dan bernegara, yang sekaligus mendaur berlapis-lapis ragam tentang nilai keberanian dan pengorbanan. Film-film yang tak melibatkan kehadiran negara tersebut, kecuali barangkali Jenderal Soedirman yang produksinya dibantu TNI AD, juga mampu hadir sebagai alat penolak aneksasi bangsa lain. Mereka hadir sebagai upaya meremajakan kembali pengertian tentang hati dan jiwa para pahlawan yang selama ini dipelihara secara klise melalui kisah-kisah legenda, sejarah, dan mitos.

Setiap merayakan Hari Pahlawan, tampaknya kita perlu memaknai dengan konteks kekiniannya. Mengapa para pahlawan berjuang secara total dan berani mempertaruhkan jiwa raga? Nilai apa di balik pengorbanan yang luhur dan mulia itu? Jika dihayati dengan jernih, sejatinya mereka hanya ingin generasi penerus menikmati hak dasar manusia serta terbebas dari kemiskinan dan kebodohan. Makna lebih jauh lagi: sebuah visi besar, masa depan bangsa Indonesia sudah selayaknya berada dalam sebuah bingkai negara yang sejahtera, adil, makmur, dan aman.

Musuh baru

Saat ini zaman sudah bergerak maju dengan tingkat persaingan yang begitu kompleks. Perubahan yang terjadi bak turbulensi, begitu cepat dan terkadang sangat mengejutkan. Untuk menghadapi efek guncangannya, semangat kepahlawanan sangat penting dan menentukan. Sebab, salah satu kunci menghadapi masa sekarang dan masa depan adalah perjuangan secara total dan tidak setengah-setengah.

Memang situasinya berbeda. Paradigma tentang perang pun telah berubah. Dulu para pejuang menggunakan fisik dan kekuatan senjata dengan bertaruh jiwa raga. Perang sekarang sudah berubah wujud dengan medan tempur berbeda: tidak nyata, tanpa wilayah, serta bisa terjadi di mana saja dengan aktor negara (state)atau bukan. Pemerannya bisa terkamuflase melalui berbagai bentuk.

Sekarang era perang kebudayaan yang bentuknya kompleks dan mengerikan. Salah satu cirinya adalah menyenangkan korban. Tampak aneh, tetapi begitulah kenyataannya. Para korban narkoba merasa nikmat, padahal mereka korban. Demikian pula anak-anak kita lebih senang memilih artis dan restoran bermerek asing dibandingkan produk dalam negeri.

Di sisi lain, kesadaran tentang hak asasi manusia juga semakin kuat. Perjuangan akan kebenaran, kebaikan, cinta, dan kasih makin kencang, tetapi perilaku sadis dan kejam terhadap sesama manusia tetap terjadi. Kita semua seolah terperangkap dalam kondisi seperti ini dan kita kurang menyadari bahwa kekuatan kita semakin dilemahkan.

Sebagai generasi penerus para pahlawan, memberikan konteks kekinian atas nilai-nilai heroik mereka menjadi penting. Dalam mewujudkan harapan itu, sekarang kita juga dihadapkan pada kondisi persaingan yang sangat ketat. Keinginan tatanan masyarakat yang sejahtera dan aman tentu bukan keinginan kita semata karena bangsa lain pun juga terus berupaya untuk memenuhi kesejahteraan bangsanya.

Di masa depan, kita akan masih berhadapan dengan berbagai tantangan. Menurut James Canton dalam The Extreme Future, ada lima penentu masa depan: (1) perubahan (change), (2) kecepatan (speed), (3) risiko (risk), (4) kompleksitas, dan (5) sering mengejutkan (surprise). Dalam menghadapi situasi ini, kita memang harus antisipatif dengan tak henti melahirkan terobosan dengan beragam bentuk inovasi.

Mengejar kesempatan

Tahun ini, Global Innovation Index mencatat peringkat negara kita di posisi ke-97 dari 147 negara, kalah jauh dari Singapura yang berada di peringkat ke-7. Di tingkat regional lain, tetangga kita Malaysia di peringkat ke-32, Vietnamke-52, dan Thailand ke-55. Yang paling mengkhawatirkan laporan pada Innovation Output Sub-Index: kita di peringkat ke-85 yang berimplikasi pada rendahnya keluaran ilmu pengetahuan dan teknologi (di posisi ke-100) dan keluaran kreatif  (di posisi ke-78).

Hal yang sungguh penting untuk mengatasi ketertinggalan ini adalah kehadiran negara untuk segera membangun ekosistem inovasi yang sehat di negara kita. Salah satu peran utama adalah meningkatkan pemberdayaan institusi yang masih di peringkat ke-130 serta sumber daya manusia dan riset yang berada di peringkat ke-87. Sudah tidak ada alasan lagi bagi para inovator bahwa kita sulit mengurus paten dan tergoda mendaftarkan penemuan baru di luar negeri.

Dulu Singapura berusaha menarik sebanyak mungkin uang dari Indonesia. Sekarang mereka sudah berubah dengan berusaha menarik manusia-manusia unggul kita untuk menjadi bagian dari pembangunan negara mereka. Mereka serasa tak pernah henti untuk terus meningkatkan inovasi dengan berbagai cara dan kita seakan tak kuasa untuk berbuat sesuatu. Dalam menyikapi ini, kita tentu harus terus berjuang dengan meningkatkan kemampuan dan berperan aktif dalam persaingan global.

Masalah kita tentu bukan hanya inovasi. Kita masih menyimpan dua persoalan utama: stabilitas dan keterbukaan. Stabilitas menuntut toleransi dari berbagai sisi, sementara keterbukaan adalah ruh dari demokrasi. Peristiwa di Papua dan Aceh baru-baru ini sungguh menyadarkan bahwa kita harus belajar lagi tentang toleransi, sementara demokrasi kita memang masih berusia belia. Sebagai mantan Panglima TNI, saya pernah merasakan bagaimana rumitnya bermain di ruang sempit di antara keduanya dengan harus tetap menjaga keseimbangan nilai-nilai kedua hal tersebut.

Mengingat kondisi tersebut, saya sepakat program bela negara masih kontekstual dilaksanakan untuk memberikan penyadaran bahwa bangsa ini bisa menjadi besar jika kita memiliki kedisiplinan serta visi yang kuat seperti yang dicontohkan oleh para pahlawan kita. Disiplin yang kuat, visi yang jauh ke depan, serta semangat juang yang tak pernah menyerah akan menghasilkan karya yang inovatif untuk memulai hadirnya kemakmuran sebuah bangsa. Hal ini telah dibuktikan oleh 180 animator anak bangsa, yang dengan segala totalitas menghadirkan film Battle of Surabaya, yang dirilis tiga hari setelah film Jenderal Soedirman tayang di bioskop.

Film ini merupakan film animasi 2D dengan tema sejarah bangsa yang gaungnya mampu memberi sesuatu yang baru untuk film bergenre anime di Indonesia. Seolah mewarisi semangat juang Bung Tomo dan kawan-kawan, waktu tayang film Battle of Surabaya berani bersaing merebut penonton dengan film animasi Inside Out produksi Pixar yang distribusinya ditangani Walt Disney Pictures.

Meski seolah berakhir dengan kalahnya pertempuran dalam jumlah perolehan penonton-padahal bertempur di area sendiri dengan segala macam propaganda yang melibatkan emosi nasionalisme-paling tidak karya keroyokan anak-anak muda kita menyisakan sebuah harapan yang menyertakan renungan baru.

Harapannya adalah kita telah memiliki contoh generasi muda yang berani mengejar kesempatan untuk menjadi pahlawan dengan berbuat sesuatu yang inovatif bagi kemakmuran bangsa dan negara. Dan, sekaligus meninggalkan renungan: kenapa para patriot kita kini sering kalah dalam bersaing meski segala tumpah darah telah diupayakan secara maksimal? Jawaban saya sederhana. Kita kalah berperang bukan karena musuh kita yang kuat, tetapi lebih karena kita yang lemah. Namun, kita harus selalu bangkit, seperti pesan Tjoet Nyak Dhien kepada anaknya. ●

Senin, 29 Desember 2014

Honor those who perished and survived

Honor those who perished and survived

Moeldoko  ;   Indonesian Military (TNI) commander
JAKARTA POST,  26 Desember 2014

                                                                                                                       


On the morning of Dec. 26, 2004, a massive wall of water rolled across the Indian Ocean at hundreds of miles an hour, in the aftermath of a powerful undersea earthquake.

The tsunami struck Aceh with unimaginable force, virtually wiping out parts of the capital, Banda Aceh, and destroying numerous coastal towns along hundreds of kilometers of Aceh’s coast. When the water receded, it left in its wake nearly 170,000 dead, and damage beyond measure.

The terrible event devastated one of Indonesia’s most beautiful areas and claimed the lives of tens of thousands of Indonesians, many of them children. The nation, and the world, wept for Aceh.

But while the tragedy of the tsunami will never be forgotten by the survivors or by generations to come, the story of Aceh is also one of the triumph of the human spirit. Almost as quickly as the water receded, Aceh’s recovery and rebuilding began, with help from all over the world. The US navy, the United Nations, the International Red Cross, the US Agency for International Development and dozens of NGOs arrived with food and water, manpower and machinery.

Then president Susilo Bambang Yudhoyono created the Reconstruction and Rehabilitation Agency for Aceh and Nias and put minister Kuntoro Mangkusubroto in charge. In the four years after the disaster he oversaw the spending of more than US$7 billion to rebuild the region.

Kuntoro’s efforts and the agency he led have become models of disaster relief for other nations, and the Aceh that rose from the rubble is today the pride of Indonesia.

Indonesia has many people and many agencies to thank for their generous efforts that enabled Aceh to recover and rebuild, but most of all on this 10th anniversary of the tsunami we honor the people of Aceh, who lost so much but gave so much to rebuild their land and their lives. Their courage, spirit, faith and determination inspire us all, and are a tremendous source of pride to all Indonesians.

On the 10th anniversary of the terrible events of Dec. 26, 2004 let us all keep Aceh in our hearts and minds and offer our deepest gratitude to all who contributed to Aceh’s revival — especially to the citizens of Aceh, who still grieve for their lost loved ones but who can take great pride in both what they have accomplished and what they will accomplish.

I call on all Indonesians to join me and the soldiers, sailors, airmen and marines of the Indonesian Military in a moment of silent prayer and reflection at 8 a.m. on the morning of Dec. 26, to remember those whose lives were lost, to honor the struggles of those who survived and to thank all those whose hard work and sacrifices contributed to the recovery and rebuilding of Aceh. ●

Sabtu, 22 Maret 2014

Kebijakan Nir-yudha

Kebijakan Nir-yudha

Moeldoko  ;   Panglima TNI
KOMPAS,  22 Maret 2014
                              
                                                                                         
                                                      
“SETIAP senjata yang dibikin, setiap kapal perang yang diluncurkan, setiap roket yang ditembakkan, pada perhitungan akhir, adalah pencurian hak mereka yang lapar dan tak berpangan, mereka yang kurus telanjang tak berbalut sandang. Dunia dalam pacuan senjata ini tak hanya menghambur-hamburkan uang. Ia juga menghamburkan keringat para pekerjanya, kecemerlangan para ilmuwannya, dan harapan anak-anaknya.”

KALIMAT di atas datang dari salah seorang prajurit terpenting abad ke-20, Dwight D Eisenhower.

Panglima tertinggi Sekutu yang mengalahkan Hitler di Eropa ini kelak terpilih sebagai Presiden AS ke-34 dan mewariskan sejumlah terobosan dan kebijakan yang dihormati hingga kini. Jenderal bintang lima dan pahlawan Perang Dunia II itu dikenang sebagai negarawan yang benci perang setelah bertungkus lumus dan jenuh melihat kekejaman dan kebodohannya.

Dasar nir-yudha

Sejarah adalah sumber pelajaran terpenting tentang kesia-siaan perang dan segala bentuk kekerasan bersenjata. Perang bisa jadi memberikan sebentang wilayah rampasan, sebuah tata imperial yang di atasnya bisa berkembang sebentuk peradaban. Namun, peradaban yang dibangun dengan perang dan dipertahankan dengan kekerasan bersenjata akan cepat musnah dan hanya meninggalkan puing dan reruntuhan. Hanya hasil daya cipta akal budi manusia yang dikerjakan secara bebas dan riang yang bisa jadi warisan yang bertahan dari sebuah peradaban.

Pengertian bahwa perang atau lebih tepatnya serangan militer adalah pengorbanan sumber daya yang pantas diterima karena dapat diganti dengan sumber daya rampasan yang memberikan keuntungan lebih bahkan kemuliaan, memang telah kehilangan penopangnya. Semua invasi militer dengan jelas menghamburkan sumber daya aktual dan nyawa prajurit yang tak terganti, sementara sumber daya potensial yang hendak direbutnya bisa dengan cepat berubah menjadi sumber masalah besar yang merongrong dan memalukan.

Hanya perang sebagai bentuk pertahanan diri saja yang tetap tak tergoyahkan dasar-dasar pembenarannya. Sebab, hanya dengan pertahanan diri tangguh sebuah negara dapat membela dan memberikan harga tinggi atas keringat para pekerjanya, kecemerlangan para ilmuwannya, dan harapan anak-anaknya.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa Asia abad ke-21 dapat menyerupai Eropa abad ke-20, sebuah benua dan abad yang dibagi dan diluluhlantakkan dua perang dunia. Pengertian ini mungkin datang dari imajinasi yang terlalu aktif dan penuh curiga. Namun,  itu tak melunturkan nilai dari perlunya para negarawan Asia berupaya membangun kebijakan nir-yudha (zero-war policy). Pelajaran bisa datang dari mana saja, termasuk renungan bijak para tokoh militer seperti Eisenhower atau pengalaman empiris negara yang tumbuh dari puing-puing perang seperti Uni Eropa.

Negara-negara Asia Tenggara yang terhimpun dalam ASEAN cukup beruntung. Mereka punya organisasi yang mampu menopang keamanan kawasan dengan memberikan kesempatan bagi 10 negara anggotanya saling bantu menciptakan kemakmuran dan stabilitas di wilayah mereka. Sejalan bergeraknya ASEAN menjadi sebuah komunitas pada 2015, negara anggotanya memberikan perhatian khusus terhadap integrasi ekonomi. Namun, aspek politis dan keamanan di bidang pembangunan komunitas juga tak kalah penting.

Terciptanya Komunitas Batubara dan Besi Baja Eropa 1951 yang jadi cikal bakal Uni Eropa, bukan untuk memfokuskan diri pada komoditas itu semata, melainkan mengendalikan kedua sumber daya itu, yang tanpanya sebuah negara mustahil bisa berperang. Inilah yang jadi karakter pan-Eropa. Pengendalian bersama atas batubara dan besi baja menghapus habis kemungkinan pecahnya perang, khususnya antara Jerman dan Perancis.

ASEAN juga perlu men-sekuritas-kan, membagi risiko dan peluang ekonominya dalam bentuk kepemilikan usaha bersama di antara sesama negara ASEAN. Penyatuan ekonomi ini membuka peluang bisnis-bisnis baru dan elite-elite profesional yang cakupan kerja dan persepsi-dirinya berwatak sarwa-kawasan (pan-regional) sehingga negara-negara itu tak dapat menggunakan kekuatan ekonominya untuk meletupkan perang.

Cara lain untuk menciptakan iklim pemikiran yang menafikan perang adalah dengan menularkan pemahaman akan persamaan dasar manusia dengan segala perbedaan yang tampak di permukaan. Kesempatan beasiswa ASEAN yang meluas dan peluang kerja yang membesar membawa orang-orang di kawasan ini semakin kerap bertemu dan semakin dekat sehingga mereka semakin saling mengenali persamaan dasar di antara mereka. Kedekatan itu dapat mendorong terciptanya suatu kesadaran-diri warga ASEAN yang identitas regionalnya hadir berdampingan dengan identitas nasionalnya.

Peran Indonesia

Indonesia adalah negara dengan wilayah, jumlah penduduk, dan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Sebagai negeri dengan penduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia telah menunjukkan diri sebagai sebuah kekuatan demokrasi. Sesama negara demokrasi tentu tak akan saling berperang. Mereka punya kepentingan bersama mewujudkan perdamaian karena perdamaian yang mantap mendorong pembangunan ekonomi kokoh.

Karena itu, Indonesia sewajarnya berada di garda depan dalam mengukuhkan perdamaian di Asia Tenggara. Sejarah masa silam kawasan yang dinamis ini, dengan berbagai fakta geopolitik yang ada, tak dapat diabaikan. Perang-perang yang sudah berlangsung mungkin saja memang tak dapat dihindari, tetapi perang yang akan datang sungguh dapat dicegah. Dengan semangat untuk tumbuh bersama, Asia Tenggara perlu bekerja sama untuk memastikan perang tak perlu meletus di masa mendatang.

Pada perhitungan akhir, kebijakan nir-yudha adalah terjemahan militer dari kebijakan sipil mengangkat kesejahteraan dan menghapus kemiskinan (zero poverty). Ini bukan pekerjaan yang mudah. Semakin banyak bukti bahwa kemiskinan sungguh bisa ditekan dan kesejahteraan bisa berkembang, asalkan masyarakat bekerja sepenuh hati. Masyarakat bisa bekerja dengan semangat menyala jika ada demokrasi dan kebebasan yang mantap. Angkatan bersenjata bertugas menjaga pertumbuhan demokrasi dan kebebasan itu dari berbagai ancaman, termasuk ancaman pihak yang memanfaatkan iklim demokrasi hanya untuk kemudian melumpuhkan demokrasi dan kebebasan itu.

Melindungi perdamaian dan hak dasar semua manusia agar sebuah bangsa, sebuah kawasan, dapat tumbuh dengan penuh martabat adalah medan kerja yang kaum militer sangat pantas tempuh dengan sekuat tenaga. ●

Selasa, 25 Februari 2014

Tabur Bunga dan Sejarah yang Membesarkan

Tabur Bunga dan Sejarah yang Membesarkan

Moeldoko  ;   Panglima TNI
TEMPO.CO,  24 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Empat dekade silam, tepatnya pada 28 Mei 1973, pemimpin dan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew dengan hikmat melangkah memasuki Taman Makam Pahlawan Kalibata, di Jakarta Selatan. Hari itu ia menabur bunga di pusara dua prajurit KKO, Usman Haji Mohamed  Ali dan Harun Said.

Lima tahun sebelumnya, pada 17 Oktober 1968, Usman dan Harun menjalani hukuman gantung yang dijatuhkan pemerintah Singapura. Sejarah mencatat bahwa keduanya tak menampik meledakkan bom di MacDonald House, Orchard Road, pada 10 Maret 1965. Peledakan itu memang menjatuhkan korban penduduk sipil yang tak disangka, dan salah satu permintaan Usman serta Harun sebelum eksekusi adalah, mereka bisa dipertemukan dengan keluarga korban dan memohon maaf.

Peristiwa Usman dan Harun memang harus dilihat dalam kerangka konfrontasi. Konfrontasi di sini bukan hanya berupa perang dingin, yang menularkan demam ke berbagai belahan dunia, tapi juga konfrontasi antara ide besar tentang pelaksanaan tugas yang diemban oleh abdi negara dan kedaulatan bangsa yang harus ditegakkan. Ide-ide besar seperti ini bisa memancing reaksi yang sangat emosional dan berskala luas. Dan kebesaran seorang negarawan akan ditentukan oleh bagaimana ia menghadapi reaksi emosional itu sambil tetap menjunjung ide pelaksanaan tugas dan kedaulatan sebuah bangsa.

Jatuhnya korban sipil memang layak disesali. Pemerintah serta rakyat Singapura berhak merasa terluka dan wajib menegaskan kedaulatannya. Tapi, pada 28 Mei 1973 itu, Lee Kuan Yew bersedia mengatasi luka tersebut. Dengan menabur bunga, ia ikut mengukuhkan tindakan pemerintah Indonesia yang mengangkat martabat Usman dan Harun sebagai pahlawan nasional. Langkah khidmat dan taburan bunga tersebut menunjukkan betapa Lee Kuan Yew bersedia melepaskan diri dari sejarah masa silam yang sedih untuk menyiapkan masa depan yang kian mengukuhkan kelangsungan hidup dan kesejahteraan bangsanya.

Jika kita mengenang taburan bunga Bapak Pendiri Singapura Modern Lee Kuan Yew di Kalibata itu, kita memang bisa agak tersentak oleh reaksi rekan-rekan di Singapura berkaitan dengan penyematan nama "Usman Harun" di salah satu fregat Indonesia. Penyematan itu sungguh sejajar dengan taburan bunga: penghormatan kepada mereka, termasuk prajurit kecil, yang telah melaksanakan tugas negara sebaik-baiknya. Penyematan itu sama sekali bukan tanda untuk menyerbu tetangga terdekat.

Kita sudah hidup di abad ke-21, dan abad ini berlimpah dengan pelajaran sejarah yang menunjukkan bahwa niat menyerbu secara militer ke negara tetangga bukanlah niat yang patut dan beradab. Saya sepakat bahwa  perang fisik bukanlah kelanjutan dari diplomasi yang buntu, melainkan buah pahit  dari kegagalan inteligensi (failure of intelligence). Operasi militer hanya absah jika lawan sudah berhenti menggunakan inteligensinya.

Kegagalan inteligensi selalu bermula dari kegagalan membebaskan diri dari kungkungan sejarah, dan dari ketakmampuan menghargai harkat hidup orang lain, bangsa lain. Indonesia tidak mungkin lagi menyerbu Singapura. Indonesia bahkan berkepentingan agar Singapura, dan negara tetangga lain, berada dalam keadaan damai dan stabil. Sebab, hanya dalam perdamaian yang kukuh Indonesia bisa menegaskan kedaulatan negara dan kesejahteraan rakyatnya.

Betapapun juga, Indonesia dan Singapura adalah dua dari lima negara pendiri ASEAN. Perhimpunan kawasan yang semakin dihormati ini, kita tahu, didirikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya. Juga, tentu saja, untuk memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat regional serta meningkatkan kesempatan untuk membahas perbedaan di antara para anggotanya dengan damai.

Sejak didirikan, ASEAN secara formal telah menyediakan ruang bagi para anggotanya untuk membicarakan perbedaan-perbedaan dan membereskannya dengan damai. Ada yang mengatakan bahwa itulah cara Timur, tepatnya Asia modern, untuk menyelesaikan konfliknya. Ruang seperti ini mungkin tak memuaskan semua pihak, tapi ia terbukti dapat menopang upaya mendorong pembangunan dan perdamaian di kawasan ASEAN.

Ruang seperti ini tak mungkin lahir jika para negarawan pendiri ASEAN membiarkan diri mereka terkungkung dalam sejarah yang membuat kita semua kehilangan kemampuan untuk merespons secara wajar kejadian-kejadian di sekitar kita. Kita memang tak dapat  membiarkan masa silam memenjarakan masa depan kita. Di Kalibata, PM Lee Kuan Yew, yang mengikuti syarat yang diajukan  Presiden Soeharto, berhasil menunjukkan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang bisa memperlakukan sejarah secara bijak untuk bisa membebaskan masa depan bangsanya. ●