Tampilkan postingan dengan label Liek Wilardjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liek Wilardjo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 September 2015

Menyongsong Energi Terbarukan

Menyongsong Energi Terbarukan

Liek Wilardjo  ;  Fisikawan
                                                     KOMPAS, 11 September 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ekonom yang baru saja menjadi Menko Kemaritiman Rizal Ramli menilai lesan (target) pembangunan pembangkit tenaga listrik 35 GWe terlalu ambisius untuk diselesaikan tahun 2019. Apalagi kalau ditambah dengan ”tunggakan” 7 GWe yang tidak dapat dirampungkan pemerintahan Presiden SBY.

Pakar perencanaan tenaga listrik, Dr Ing Nengah Sudja, sebelum megaproyek itu dicanangkan Presiden Jokowi juga sudah berpendapat begitu. Kalaupun dari segi dana, pembebasan lahan, amdal, dan perizinan tidak ada masalah, waktunya jelas tidak cukup! PLTU Batang di Pantura Jateng (2 x 1.000 MWe) sampai sekarang pun belum selesai. Padahal, bupatinya tegas dan dalam pembebasan tanah Presiden dan Wapres ikut turun tangan.

Pembangkit-pembangkit berkapasitas daya total 35 GWe akan berupa PLTU, yang sekitar 60 persen berbahan-bakar batubara, dan selebihnya berbahan bakar gas. Ini dikecam aktivis Walhi, Ode Rahman (Kompas, 19/8).

Mencemari udara

Bahan bakar fosil, seperti gas dan apalagi batubara, itu kotor. Pencemaran udara akibat pembakarannya memicu pemanasan global dan perubahan iklim. Kalau batubaranya mengandung belerang, PLTU batubara juga bisa menyebabkan hujan asam. Bahan bakar fosil adalah ancaman serius terhadap lingkungan.

Kritik ini perlu diperhatikan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Juga saran agar dalam bauran energi nasional ditetapkan lesan 50 persen energi terbarukan (ET), yang harus dicapai pada 2030. Sekarang Kebijakan Energi Nasional (KEN) hanya mematok 24 persen energi baru/terbarukan (EBT) melalui PP Nomor 79 Tahun 2014.

Bahkan, nomenklatur EBT pun, agar tidak multitafsir perlu dipilah menjadi sekian persen energi baru (EB) dan selebihnya ET. Kalau tidak, EBT dapat sengaja disalahartikan mencakup energi nuklir, padahal energi nuklir bukan ET.

Bahkan, seandainya limbah PLTN fisi-termal dapat ”dibakar” dalam reaktor pembiak cepat (fast breeder reactor), tetap saja energi nuklir bukan ET dalam arti sebenarnya. Plutonium-239 yang muncul dalam operasi reaktor berbahan bakar uranium alam, atau uranium-233 yang dihasilkan reaktor thorium, merupakan bahan bakar baru, tetapi bukan bahan bakar terbarukan.

Terbarukan dan konservasi

Angka-angka yang dipatok dalam KEN sudah baik, setidaknya buat sementara. Pernyataan bahwa bagi Indonesia energi nuklir merupakan opsi terakhir juga sudah ”pas”. Kalau kita masih memanfaatkan energi fosil yang kotor, itu semata-mata karena terpaksa, tetapi ini bukan karena kita tidak punya sumber daya ET, seperti Matahari, angin, air, dan panas bumi. Kita cukup kaya!

Kita juga dapat memetik tenaga matahari dengan ”berkebun” bahan bakar nabati. Namun, sumber daya ET ini belum dikembangkan dengan kemajuan dan dalam skala memadai sehingga harga belum kompetitif.

Sebaiknya, ET dan konservasi energi (KE) digarap giat agar secepatnya menggusur energi fosil. Sebelum ini menjadi kenyataan, harus diusahakan agar pembangkitan listrik dengan bahan-bakar fosil memakai teknologi bersih. PLTU batubara, misalnya, dapat beroperasi dengan ”persemaian terzalir” (fluidized bed) yang relatif bersih.

Dalam teknologi persemaian terzalir, persemaiannya berupa abu mineral. Bahan-bakarnya, yakni bubuk batubara yang hanya 0,5 persennya abu mineral itu, diumpankan terus-menerus bersama udara yang jumlahnya jauh lebih besar. Maka, terjadilah di dalam toboh pembakaran (combustion chamber) itu semacam zalir (zat alir, atau fluida) yang mengalir bergolak (turbulent). Pembakaran dengan cara ini lebih sempurna dan menghasilkan GRK, yakni CO2, lebih sedikit.

Untuk mempercepat penghapusan berangsur (phasing-out) energi fosil, dapat diterapkan ”falsafah” wortel dan cambuk. Wortelnya berupa insentif bagi pengembang dan pengguna ET. Cambuknya berupa disinsentif bagi industri yang masih memakai energi fosil, misalnya dengan penerapan pajak karbon.

Reaktor pamkat?

Setelah PLTN-PLTN di Jepang dihentikan selama lebih dari empat tahun sejak terjadinya musibah Fukushima Daiichi, PM Abe baru-baru ini mengizinkan PLTN Sindai diaktifkan lagi. Kata Shunichi Tanaka (Kepala Bapeten-nya Jepang), PLTN Sandai akan dioperasikan dengan pengamanan mutakhir agar tidak terjadi kecelakaan.

Mungkinkah? Saya tidak tahu. Batang-batang bahan bakarnya (fuel rods) diganti dengan butiran-butiran (pebbles) yang kulitnya berlapis dan disalut dengan lakur logam (metal alloy). Maka, elemen bahan bakar itu tahan panas sampai suhu 1.800 derajat celsius. Mungkin juga reaktornya ”inherently-safe” (memakai pengamanan melekat/pamkat). Reaktor pamkat dapat didinginkan dengan cepat tanpa tergantung pada aliran zat pendingin dari luar terasnya. Reaktor pamkat juga dapat ”dipadamkan” (shut-down) dengan mengandalkan hukum alam, tanpa pengendalian elektronik yang harus dipicu pulsa atau sentuhan jari operator.

Reaktor semacam itu tentulah lebih aman daripada reaktor konvensional. Namun, fitur pamkat (inherent safety features) itu tidak membuat reaktornya menjadi aman secara mutlak. Reaktor yang footproof (tidak mungkin ngadat) itu tidak ada! Teknologi canggih yang sangat rumit seperti reaktor nuklir itu bersifat transcientific, artinya perilakunya tidak dapat diprediksi secara ilmiah. Menurut hukum Murphy, ”apa saja yang bisa ngadat akan ngadat (anything that could go wrong will). Tak terkecuali reaktor suhu tinggi dinginan—gas yang kecil dan modular (modular, small HTGR) seperti yang konon akan ”dibangun” Batan.

Suhunya yang tinggi akan meningkatkan efisiensi sampai 40 persen atau lebih. ”Kecil” artinya kapasitas daya rendah (di bawah 300 MW) sehingga rapat dayanya (power density) rendah dan lebih aman terhadap kemungkinan pelelehan teras (meltdown). Kendati begitu, reaktor daya eksperimental tetap tunduk pada hukum Murphy. ●

Minggu, 09 Maret 2014

Hakikat Berjiwa Besar

Hakikat Berjiwa Besar

Liek Wilardjo  ;   Fisikawan, Guru Besar Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK)  UKSW Salatiga
SUARA MERDEKA,  08 Maret 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                                                                             
“Apalah arti sebuah nama. Mawar sekuntum, mau disebut apa pun, ya tetap harum.”

ITULAH kata-kata William Shakespeare yang diungkapkannya melalui tokoh dalam drama tragedinya, ”Romeo and Juliet”. Di kalangan kerabat dan sahabat yang diikat tali silaturahmi akrab dan saling hormat, pandangan Plato tentang nama itu benar. Terlebih antara Romeo dan Juliet yang saling mengikatkan diri dalam cinta sejati. Tak peduli walaupun ada dendam kesumat dan permusuhan turun-temurun antara keluarga besar Romeo, yakni keluarga Montague dan keluarga besar Juliet, yakni keluarga Capulet.

Dalam dunia pewayangan, Setiaki diparabi (dijuluki, dipanggil) Bima Kunthing oleh Bratasena. Oleh kakanda sepupunya itu dia bahkan kerap dipanggil Bungkik. Setiaki tidak marah, meskipun bungkik berarti kecil dan berbentuk jelek. Setiaki memang berperawakan kecil tapi sosoknya tidak jelek. Ia malah bangga disapa Bungkik sebab tahu itu paraban kesayangan.

Sebaliknya, kita tidak suka disebut Indon oleh orang Malaysia. Padahal kenyataannya kita bangsa Indonesia, dan penyebutan Indon bisa dianggap kependekannya. Itu karena kita tidak dalam keadaan bersahabat dengan jiran sepuak-serantau itu sejak pembajakan lagu ”Terang Bulan”, pencaplokan Sipadan dan Ligitan, perlakuan jelek terhadap TKI. Bagi kita, Indon berkonotasi melecehkan.

Perasaan Publik

Anthropolinguist Sandarupa melanjutkan uraiannya dengan pandangan logikawan, G Frege, B Russell, dan L von Wittgenstein, dan dengan teori ”mata rantai historis komunikasi” Kripke. Bagi peminat filsafat, linguistik, dan semiotika uraian Sandarupa sangat menarik. Tapi bagi publik awam, yang lebih penting bagaimana perasaan kita dan bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap protes Singa­pura atas penamaan Usman Harun untuk fregat TNI AL.

Anjuran Sandarupa agar kita meningkat­kan hubungan persahabatan dengan Singapura adalah positif. Caranya, antara lain dengan secara baik-baik mengatakan kepada Singapura bahwa kita dapat memaklumi keberatan Singapura. Kita dapat menyatakan dengan tulus bahwa keberatan Singapura itu wajar sebab di mata Singapura Usman dan Harun itu tampak sebagai teroris peledak bom yang memakan korban.

Tapi Singapura semestinya juga mau mengerti perasaan kita. Singapura boleh memohon, sudi apalah kiranya kita mempertimbangkan lagi penamaan fregat itu, dan kita boleh juga menolak permohonan itu, dengan alasan yang juga benar dalam pandangan kita. Tak semestinya Singapura ngotot, dan bahkan kebablasan melarang fregat Usman Harun melintas dekat Singapura. Lintasan pelayaran di dekat Singapura itu menurut deklarasi Djuanda termasuk perairan Indonesia juga, bukan?

Keberatan Singapura terhadap nama Usman Harun itu serupa dengan keberatan Korea, China dan akhir-akhir ini juga Korea Utara, atas ziarah perdana-perdana menteri Jepang, termasuk terakhir PM Shintaro Abe, di kuil Yasukuni. Para prajurit Jepang yang dihormati dengan ziarah itu, di mata negara-negara yang pernah diinjak-injak bala tentara Dai Nippon adalah penjahat.

Adapun bagi Jepang, tentara yang gugur dan dihormati dengan upacara di kuil Yasukuni itu pahlawan yang mengemban mission sacrÈe, melaksanakan titah Hirohito Tenno yang pada masa PD II dianggap setengah dewa (demigod). Sama halnya Usman dan Harun, yang di dan oleh Indonesia dipandang sebagai prajurit KKO yang melaksanakan perintah Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno.

Tetapi ziarah PM Jepang di kuil itu menyakiti hati rakyat di negara-negara bekas jajahannya (kecuali Indonesia, yang menganggap Jepang sebagai saudara tua, meskipun kekejaman Kenpetai luar biasa). Karena itu PM Inggris ikut mengimbau Jepang agar tidak mengabaikan protes jiran-jirannya.

Andai mau, Jepang dapat mengindahkan imbauan tersebut, dengan berziarah secara pribadi (bukan selaku PM) dan secara diam-diam, tanpa menyiarkan ritual itu. Secara politik ini memang kurang menguntungkan bagi PM bersangkutan dan partainya, tapi secara kerohanian (kalau sesuai dengan keyakinan keagamaan orang Jepang) itu pun tak ada bedanya, dengan atau tanpa agitprop (agitasi dan propaganda).

Kebesaran Jiwa

Di sinetron TBNH ”Haji Dua Kali, Boss RW, Komandan” Muhidin ngomongnya clap-clup. Banyak celetukan Haji Muhidin itu yang sesuai dengan kenyataan. Misal, Hajah Rodiah itu janda dan sudah tua, dan istri keduanya sendiri, Rumi, kelihatannya mandul. Jadi kalau Muhidin berkilah ia semata-mata hanya menyatakan fakta, dan tak bermaksud menghina, oleh logikawan Gottlob Frege dan barangkali juga oleh sedulur sikep, akan dapat dimengerti.

Tapi bagi yang diceletuki dan orang-orang lain yang menyayanginya, clap-clup Haji Muhidin itu penghinaan. Jadi, demi menjaga harmoni dalam relasi sosial, sebaiknya statement of facts itu jangan dilakukan. Kalau coute-que-coute demi menghapus penasarannya celetukan itu harus diungkapkan, ya cukup dibatin (di dalam hati) saja.

Demikian pula bahwa Usman dan Harun sesuai kenyataan adalah pahlawan Indonesia, kalau nama itu menyakiti hati warga Singapura, ya tidak usah digembar-gemborkan. Keputusan TNI AL menjadikan fregat Usman Harun bagian dari Armada Timur sudah tepat.

Salah satu baris dalam sebait tembang macapat ’’Mijil’’ berbunyi wani ngalah luhur wekasane (berani mengalah luhur ujung akhirnya). Sifat dan sikap berjiwa-besar (magnanimous) dan kenegarawanan (statemanship) kita harapkan ada pada pemimpin-pemimpin kita. Juga Panglima TNI dan Menko Polhukham. ●

Sabtu, 30 November 2013

Keberterimaan Penghargaan

Keberterimaan Penghargaan
Liek Wilardjo  ;  Fisikawan, Guru Besar Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK) UKSW Salatiga
SUARA MERDEKA,  29 November 2013
  
  

PADA Sabtu (23/11/13) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menganugerahkan gelar doktor honoris causa kepada Dirut Pura Group Kudus, Jacobus Busono.

Pemberian itu wujud penghormatan atas inovasi teknologi yang dilakukan. Paten itu antara lain mengenai hologram, tanda air, dan pemanas air tenaga surya.

Pada Kamis (14/11/13), Wilmar Elieser Simanjorang mengembalikan Satya Lencana Karya Satya kepada Presiden di Istana Negara. Simanjorang adalah pegiat lingkungan di Sumatera Utara. Satya Lencana itu dianugerahkan Presiden Gus Dur tahun 2001 sebagai penghargaan negara atas dedikasi Simanjorang dalam pemeliharaan dan peningkatan mutu lingkungan.

Pengembalian lencana dan piagam itu dilakukan Simanjorang untuk mengungkapkan kekecewaannya, dan juga kelompoknya, atas terus berlanjutnya pembalakan dan perusakan hutan di Sumut. Ada orang senang menerima penghormatan, tetapi ada yang menolaknya. Gara-gara lumpur Lapindo, Goenawan Mohamad mengembalikan Achmad Bakrie Award, sedang Arief Budiman tidak.

Masing-masing mempunyai alasannya. Lain lagi dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Menurut cerita dari ayah saya, dulu dr Tjipto dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia Belanda. Penghargaan itu diterimanya, GKR Hemas juga pernah menolak gelar master kehormatan dari lembaga pendidikan di Australia.

Rupanya, baik Hemas maupun Sultan HB X, merasatidak pantas menerima pemberian gelar itu. Tidak karena gelar kehormatan itu terlalu tinggi, tetapi sebaliknya gelar lembaga yang hendak memberi dinilai “tidak level” dibanding martabat Hemas sebagai permaisuri raja Ngayogyakarta Hadiningrat. Reputasi lembaga itu mungkin juga dianggap tidak jelas (dubious).

Mau dan Emoh

Presiden SBY mempunyai sederetan panjang gelar kehormatan. Ada gelar doktor, kesatria, dan sebagai negarawan. Semua diterimanya dengan senang hati. Bahkan ketika sebagian orang berteriak, “jangan!”, ulama dan cendekiawan Franz Magnis Suseno bahkan sampai melayangkan imbauan resmi agar rencana pemberian penghargaan dari Yayasan Panggilan Nurani itu dibatalkan.

Dino Patti Djalal. Sebaliknya, Arab Saudi menolak posisi terhormat yang diberikan PBB. Negara lain lazimnya berebut kesempatan jadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, tetapi Arab Saudi menolak. Ada juga orang Indonesia yang menolak pemberian gelar doktor honoris causa dari universitas di luar negeri yang berreputasi bagus.

Orang itu adalah Dr Todung Sutan Gunung Mulia, dan yang hendak memberinya adalah Vrije Universiteit Amsterdam (VUA). Gelar itu sedianya diberikan pada 1965, Tetapi Dr TSG Mulia, demikian ia biasa ditulis begitu, sopan meminta penganugerahan itu ditunda. Dalam telegram kepada rector magnificus VUA, 27 Maret 1964, Mulia menyatakan secara singkat dan tajam bahwa gelar itu merupakan penghormatan besar, dan ia berterima kasih. Tapi ia minta penundaan sampai ada “persetujuan kultural” antara Belanda dan Indonesia.

Entahlah apakah Dr TSG Mulia bersikap right or wrong, my country, atau bagaimana. Tapi waktu itu Indonesia di bawah pimpinan Presiden Soekarno memang menunjukkan sikap antineokolonialisme-imperialisme, dan Belanda tergolong nekolim. Baru-baru ini ada teman bertanya, ’’Bisakah X memperoleh gelar doktor HC dari UKSW? Bagaimana caranya, dan apa syaratnya?” Saya terkejut, dan saya jawab singkat dan tajam, “Saya tidak mengurusi itu.” Yang saya sebut X adalah teman juga.

Ia berdarah Rumania, tetapi warga negara atau permanent resident di AS. Ia doktor Matematika dan menjadi associate professor (semacam guru besar madya di Indonesia dulu, dan di Malaysia) di universitas di bagian selatan Amerika. Orangnya baik dan ramah, lagi pula pintar di bidangnya. Kami pernah mengundangnya memberi seminar tentang neutrosophy di UKSW. 

Saya kaget dan heran, mengapa orang seperti dia menginginkan gelar Dr HC. Apalagi dari UKSW, yang ’’tidak ada apa-apanya’’ bila tolok banding (benchmark)-nya Harvard, Sorbonne, Lomonosov, atau Upssala.

Saya juga heran, mestinya dia tahu bahwa gelar doktor kehormatan itu diberikan, tidak diminta. Universitas pemberinya mendasarkan pada penilaian ketat. Tidak ada syarat, apalagi “imbalan” yang diminta oleh universitas pemberi gelar itu. Kalau gelar doktor kehormatan bisa diminta, dengan syarat tertentu sebagai imbalan, HC-nya berarti “hororis causa”. ●

Sabtu, 09 November 2013

Pahlawan Iptek

Pahlawan Iptek
Liek Wilardjo  ;   Fisikawan
KOMPAS, 09 November 2013


JEPANG telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Maka, Inggris, mewakili Sekutu, hendak menerima Hindia Belanda dari Jepang.

Mereka datang ke Surabaya, Jawa Timur, dibonceng Belanda, tetapi disambut perlawanan sengit arek-arekSuroboyo. Arek-arek itu tahu, dari segi persenjataan, mereka kalah jauh daripada musuhnya. Namun, semangat mereka telah dikobarkan Bung Tomo: rela mengorbankan jiwa raga demi membela Tanah Air mereka.

Yang dilakukan arek-arek pejuang itu melampaui panggilan tugas mereka. Mereka pantas dapat pahala. Mereka pahalawan. Tanggal 10 November pun ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Dalam suasana damai pun, ada orang bertindak melebihi panggilan tugasnya. Demi sesama manusia, demi bangsanya, mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan karier profesionalnya. Mereka pun pahlawan. Pahlawan pembangunan.

Timur dan Barat

Kisah kepahlawanan ada dalam kebudayaan Timur dan kebudayaan Barat. Juga dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)! Ketika Rama dan Lesmana bersama bala tentara wanaranya dari Gua Kiskenda akan melakukan invasi militer ke Alenka, Wibisana (membelot dari Alenka dan memihak ke kubu Rama) menciptakan jembatan dari pantai kawasan Suwelagiri ke Alenka. Dari Tamil Nadu sampai Sri Lanka. 

Namun, jembatan itu ambrol ketika diuji coba dengan aji maundrinya Anoman. Jadi, dibangunlah jembatan baru dengan kerja keras ribuan tentara selama berhari-hari. Hasilnya jembatan yang lebih kukuh daripada teknologi instan Wibisana.

Banyak di antara anggota batalyon zeni tempur Gua Kiskenda dan Pancawati gugur melawan Wilkataksini. Raksasa amfibi sakti ini merupakan manifestasi pasukan katak Alenka. 

Mereka mendodosi fondasi tiang-tiang penyangga jembatan sehingga pembangunan jembatan itu tak cepat usai. Kera-kera yang jadi mangsa dityaWilkataksini itu pantas disebut pahlawan teknologi. Patih Anila yang menyelam dan membinasakan Wilkataksini juga pahlawan teknologi. Mereka mengamankan megaproyek.

Begitu pula Prometheus dan Sysiphus. Prometheus ialah titan, tokoh setengah dewa yang tinggi besar dan amat kuat. Hatinya yang lembut membuatnya iba kepada manusia yang tak terbantu menghadapi hidup sulit. Prometheus lalu nekat mencuri api dari kahyangan dan api itu ia berikan kepada manusia.
Prometheus tahu bahwa tindakannya akan memurkakan Mahadewa Zeus. Tindakan Prometheus dinilai gegabah, tak hati-hati. Ia melakukan alih teknologi api tanpa mempersiapkan dulu manusia menerapkan teknologi itu benar dan aman.

Jadi, Prometheus dipidana Zeus, dirantai di sebongkah batu raksasa. Pada siang hari, burung rajawali karnivora mengerubuti Prometheus, mengodol-odol hatinya dan menyantapnya ramai-ramai. Pada malam hari, luka-luka Prometheus disembuhkan Zeus, hanya untuk jadi santapan burung pemangsa itu lagi esok harinya. Begitulah penderitaan Prometheus yang terus-menerus harus ditahannya sampai ditolong dan dibebaskan Hercules, yang tak lain putra Zeus sendiri.

Pengorbanan Prometheus tak sia-sia sebab, sementara ia menjalani hukumannya, Zeus mengutus dewa 
perang, Hermes, turun ke marcapada memberi pelatihan teknologi api kepada manusia.
Legenda Prometheus mengilhami Henryk Skolimowski, Guru Besar Perekayasaan dan Filsafat di Universitas Michigan, Ann Arbor, merekacipta istilah ”imperatif Prometheus”: keharusan adanya kemajuan.

Kemajuan memprasyaratkan transendensi. Apa yang sampai sekarang merupakan batas kemampuan dan kreativitas harus dilampaui. Harus ada terobosan besar. Imperatif Prometheus berarti menggeser lebih jauh lagi peringgan (frontier) iptek.

Sysiphus juga tokoh legenda Yunani. Ia Raja Korintus yang lalim. Setelah wafat di Hades, ia dihukum dewa. Hades ialah alam barzah orang Yunani kuno. Di sana, Sysiphus harus menempatkan batu sebesar gajah di puncak sebuah bukit. Namun, sesampai di sana, batu gajah itu menggelinding ke bawah lagi. Sysiphus harus menggeser-geserkan batu gajah tersebut lagi, mulai dari kaki bukit itu ke atas. Begitulah seterusnya. Hukumannya abadi.

Karlina Supelli, astronomiwati-cum-filsuf, memandang Sysiphus sebagai pecundang sebab ia tak kunjung berhasil menuntaskan tugasnya. Namun, Albert Camus justru menobatkan Sysiphus sebagai pahlawan teknologi.

Teknologi tak pernah tuntas. Teknologi membantu kita menyelesaikan masalah, tapi bukan tanpa masalah. Teknologi mengatasi masalah sambil menghadirkan masalah baru, yang sering justru lebih parah. Lagi pula masalah baru itu baru disadari setelah merembet ke mana-mana.

Oleh Albert Camus, Sysiphus dijadikan lambang teknologiman sejati, yang tak mengeluh menjalankan tugas meski berat tak kunjung tuntas tertunaikan. Sysiphus dalam bayangan Albert Camus justru memperoleh kenikmatan eksistensial di dalam penunaian tugasnya yang berat dan tak kunjung selesai.

Di dunia nyata

Itu tadi kisah pahlawan iptek di dunia pewayangan dan di alam legenda. Di dunia nyata abad modern sekarang juga ada pahlawan teknologi. Para pekerja di PLTN Fukushima Daiichi yang berjibaku menanggulangi musibah ketika PLTN itu dihajar gempa dan tsunami pantas menyandang predikat pahlawan teknologi.

Mereka tahu pastilah akan terpajan radiasi nuklir dengan aktivitas tinggi dan dosis melampaui ambang ”aman”. Namun, mereka sukarela mau melakukan tugas berbahaya itu demi berusaha mengisolasi dampak kebocoran nuklir itu terhadap nyawa dan kesehatan manusia.

Swedia sudah menghapus PLTN-nya secara bertahap, mewajibkan warganya ikut cancut taliwanda apabila terjadi keadaan darurat sebagai akibat musibah nuklir. Kewajiban tersebut sesuai dengan amanat undang-undang. Syukurlah sebelum darurat nuklir itu terjadi, Swedia sudah sadar diri dan meninggalkan teknologi tinggi itu. Kita? ●