Tampilkan postingan dengan label Syaefudin Simon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syaefudin Simon. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Maret 2018

Ghost Fleet dan Prabowo

Ghost Fleet dan Prabowo
Syaefudin Simon  ;   Alumnus UGM;   Associate Leadership for Environment and Development, New York;  Tim Ahli Fraksi PPP DPR RI
                                                  KORAN SINDO, 27 Maret 2018



                                                           
JIKA sastra dan po­litik me­nyatu—kata Kennedy—dunia makin san­tun. Tapi bila du­nia sastra Amerika dan politik Indonesia menyatu, apakah kesantunan itu terjadi?

Itulah yang terjadi hari-hari ini ketika Prabowo Subianto mengutip sebagian narasi dari sastra Amerika dalam novel Ghost Fleet : A Novel  of The Next World War karya Peter Warren Singer dan August Cole. Pra­bowo mengutip sebagian narasi novel itu yang menceritakan Indonesia akan bubar tahun 2030. Kutipan kecil dari novel Ghost Fleet  itu langsung memicu kontroversi di dunia nyata dan maya. Hal yang jadi pertanyaan publik, kenapa narasi fiksi novel Ghost Fleet dikutip seakan-akan Indonesia akan bubar tahun 2030?

Jika saja Prabowo menyam­paikan “Indonesia bubar tahun 2030” ketika ngobrol di warung kopi dengan teman-temannya sambil bercanda, mungkin masalahnya tak seserius ini. Masalahnya, Prabowo me­nyam­­paikan di acara konfe­rensi nasional dan temu kader Partai Gerindra yang diunggah dalam akun resmi Gerindra, Senin (19/3/2018).

Prabowo juga pernah menyatakan hal sama di depan sivitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (18/9/2017) saat tampil men­jadi pembicara pada seminar bertema masa depan Indonesia. Saat itu, Prabowo bahkan menyerahkan buku novel Ghost Fleet  yang dibelinya di New York kepada FEB UI. Sebuah sikap meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya bersumber dari prediksi yahud.

Kenapa imajinasi dalam novel Ghost Fleet itu dapat di­per­caya orang selevel Prabowo? Alasannya, Peter Warren Singer bukan orang sembarangan. PW Singer adalah  ahli ilmu politik luar negeri yang mendapatkan gelar PhD dari Harvard University—sebuah universitas terbaik di Amerika. Mengomentari fiksi yang menjadi rujukan, teman saya Ir Masduki—pensiunan pejabat tinggi di Kementerian Dalam Negeri menyatakan, “Sangat kecil kemungkinan fiksi men­jadi kenyataan. Namun sangat mungkin, rekayasa nyata ditulis bergaya fiksi.” Tampaknya, Ir Masduki meyakini betul bahwa fiksi dari PW Singer dan August Cole itu akan terealisasi.

Tak hanya Ir Masduki yang menganggap prediksi imaji­natif Singer dan Comte akan benar-benar terjadi. Dr James G Stavridis, pensiunan Lak­sa­mana Angkatan Laut Amerika Serikat yang kini men­jadi dekan di Fakultas Hu­bungan Inter­nasional di Tufts Uni­versity, juga meng­anggap hal sama. Stavr­idis me­nye­but­kan buku Ghost Fleet bisa men­jadi blue print untuk me­ma­hami pe­rang masa depan. “Pe­mim­­pin mi­liter di Amerika kudu me­wa­jibkan para tentara mem­bacanya,” ujarnya.

Langit Makin Mendung
Setengah abad sebelum ge­ger novel Ghost Fleet, Indonesia pernah juga digegerkan narasi cerpen Langit Makin Mendung (LMM) karya Ki Panji Kusmin. Ceritanya, majalah Sastra yang dipimpin HB Jassin, tahun 1968 memuat cerpen berjudul Langit Makin Mendung yang narasi­nya mengupas kemun­cul­an Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril di Senen, Jakarta.

Alkisah, tulis Ki Panji Kusmin, Allah mengizinkan Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril untuk turun ke bumi. Tujuannya: menyelidiki kenapa umat Islam makin banyak yang dijebloskan ke neraka.

Berkendaraan buroq, Muhammad yang didamping Jibril turun ke bumi Indonesia. Tapi celaka! Di tengah jalan, kendaraannya bertabrakan dengan Sputnik, satelit milik Rusia. Sputnik hancur. Buroq juga hancur. Muhammad dan Jibril terlempar ke awan. Lalu keduanya turun ke bumi, menyamar jadi elang. Kedua elang itu bertengger di Monas dan mengunjungi lokalisasi pe­lacuran di Senen untuk meng­amati kelakuan manusia. Kedua makhluk suci itu akhirnya tahu, kenapa manusia akhir-akhir ini banyak dijebloskan ke neraka. Penyebabnya prostitusi.

Umat Islam marah. Mereka menganggap Ki Panji Kusmin menghina Islam. Mereka me­nuntut Ki Panji Kusmin diadili. Namun, HB Jassin pasang ba­dan. Ia menyembunyikan jati diri Ki Panji Kusmin.

Siapa Ki Panji Kusmin pe­nulis cerpen itu? Sampai hari ini tak ada yang tahu. Jassin se­bagai pimpinan redaksi majalah Sastra yang bertanggung jawab atas pemuatan cerpen tersebut, saat diadili, tak mau mem­beri­tahukan hakim, siapa gerangan Ki Panji Kusmin. Jassin pun divonis bersalah: satu tahun penjara dengan masa per­coba­an dua tahun. Sampai Jassin wafat, 11 Maret 2000, sang Paus Sastra itu tetap menyem­bunyi­kan siapa gerangan Ki Panji Kusmin.

Gambaran kisah fiksi di atas sekadar menunjukkan betapa liarnya imajinasi Ki Panji Kusmin yang menulis cerpen LMM. Jelas imajinasi Ki Panji Kusmin tak patut, bahkan haram jadi rujukan ilmiah. Dalam perspektif sama, apakah narasi novel Ghost Fleet yang menyatakan Indonesia bubar tahun 2030 patut dikutip dan diunggah dalam situs resmi Gerindra, partai oposisi terbesar Rezim Jokowi? Anda pasti tahu jawabannya.

Topik utama novel Ghost Fleet sebenarnya lebih meng­ulas bangkitnya China selaku super­power yang akan melam­paui Amerika Serikat. Soal Indonesia sendiri sebenarnya hanya di­sing­­g­ung sambil lalu. Saat itu, dalam novel Ghost Fleet, China dipimpin “kelas baru” yang dise­but­­­n­ya sebagai directorate. Ini elite gabungan antara kelas pengusaha ka­kap bersama para pemimpin ten­tara. Elite ini meng­ganti­kan pemimpin partai komunis yang sudah usang.

China selain lebih kaya sumber dayanya dari AS, juga lebih cepat menemukan persen­jataan supra­modern. Di antara­nya sen­jata “cyber  attack” yang mampu melumpuhkan aneka sistem elektronik, bahkan paling canggih di Amerika sekali pun. Indonesia saat itu, tahun 2030, menjadi negara gagal (failed state). Sebuah kondisi yang mem­­buatnya bubar seperti Uni Soviet dan Yugoslavia, dua negara yang hilang dalam peta (Denny, 2018).

Imajinasi Ghost Fleet ini jelas jauh bertentangan dengan pre­diksi lembaga pemeringkat Pricewaterhouse Coopers (PwC). PwC meramalkan bahwa Indo­nesia pada 2030 menjadi big emerging market. Menurut prediksi (catat: bukan imajinasi karena analisisnya berdasarkan data dan fakta) Indonesia akan menjadi negara dengan per­eko­nomian terkuat di Asia Teng­gara. Indonesia, catat PwC, setelah 2030, mempunyai kekuatan ekonomi nomor empat di dunia setelah China, Amerika, dan India.

Sekarang kembali ke negara gagal. Jika saja narasi novel Ghost Fleet yang dikutip Prabowo bah­wa Indonesia men­jadi negara gagal dan bubar tahun 2030, maka dari aspek mana imajinasinya?

Negara gagal adalah sebuah kondisi ketika kemampuan pe­me­rintah mengelola komplek­sitas negara berada pada titik nadir. Indikatornya, ekonomi hancur, kemiskinan bertam­bah, kerusuhan dan anarkisme meruyak di mana-mana. Pusat kehilangan legitimasi karena korupsi dan pembusukan moral terjadi di semua sistem kene­ga­ra­an, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Bagaimana faktanya Indo­nesia? Dalam Fragile State Index 2017, ternyata  peringkat Indonesia tetap berada di posisi aman. Kondisi Indonesia, mi­sal­nya, lebih baik dibandingkan de­ngan Iran dan Pakistan, meski lebih rentan dari Singa­pura, Malaysia, dan Brunei. Rangking Indonesia berada di nomor 94 dari 178 negara yang diukur. Dari data kuan­titatif di atas, prediksi novel Ghost Fleet itu agak ber­lebihan.

Dengan meng­ambil sisi positif­nya, anggap saja pre­diksi novel itu sebagai wake up call. Namun, jangan dijadikan alat kam­panye untuk mendiskreditkan pemerintah. Bila ini terjadi, hanya akan memanas­kan suhu politik yang merugi­kan kita semua.

Pada akhirnya, heboh Ghost Fleet sampai juga kepada penu­lis­nya, PW Singer dan August Cole. Singer dalam cuitannya di Twitter menulis: kehebohan ini sungguh tak terduga. Cole juga mencuit: This is fiction, not prediction.

Pada tahun politik memang banyak hal aneh. Fiksi tiba-tiba dianggap prediksi. Sementara realitas dianggap imajinasi. Eh, imajinasi malah dianggap realitas! Catat, seperti halnya Langit Makin Mendung, Ghost Fleet hanya imajinasi. Tak lebih dari itu! ●

Senin, 19 Maret 2018

Manusia, Masa Depan Dunia, dan Indonesia

Manusia, Masa Depan Dunia, dan Indonesia
Syaefudin Simon  ;   Alumnus FMIPA UGM/Associate Leadership for Environment and Development, New York; Tim Ahli Fraksi PPP DPR RI
                                                  KORAN SINDO, 15 Maret 2018



                                                           
Dunia sains berduka. Stephen Hawking, lahir 8 Januari 1942, telah pergi untuk selamanya pada 14 Maret 2018.

Kepergian ilmuwan terbesar Abad XX ini sungguh mengejutkan sekaligus menyedihkan dunia ilmu pengetahuan, khususnya fisika teori (theorithical physics ), kosmologi, dan astronomi. Hawking telah membuka cakrawala manusia terhadap proses penciptaan dan penemuan energi kosmos yang luar biasa gigantik.

Salah satu penemuan terbesar Hawking adalah asumsiasumsi kosmologis-astronomis yang dikembangkan dari persamaan matematis. Temuan Hawking melalui pendekatan astronomatika (mathematical- astonomy ) inilah yang kemudian membuat Hawking dikenal dunia sebagai peramal masa depan kosmologi.

Dengan pendekatan astronomatika, Hawking mampu melacak sekaligus meramalkan apa yang terjadi di jagat raya masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan. Dengan pendekatan astronomatika itu pula Hawking menemukan suatu benda hitam (black hole ) yang mampu menyerap cahaya.

Black hole , tulis Hawking, adalah suatu jalan menuju dunia lain yang belum terpecahkan manusia. “Ada universe lain dalam black hole ,” tulis Hawking.

Sebuah tantangan masa depan bagi ilmuwan fisika teori sepeninggal penulis buku fenomenal A Brief of Time itu. Barangkali itulah keberhasilan spektakuler dari Hawking, di mana matematika menjadi instrumen eksplorasi kosmologi yang melanjutkan dan memperkaya tesis-tesis Einstein sebelumnya.

Menarik. Hawking mengemukakan bahwa kehidupan ekstraterestrial, secara matematis, adalah niscaya. Dari pendekatan matematis, kata Hawking, keberadaan alien adalah niscaya. Tantangan terbesarnya adalah memperkirakan seperti apakah alien itu.

Hawking meyakini bahwa alien tidak hanya ada di planet-planet, tapi juga di tempat lain, seperti bintang-bintang atau mengapung di angkasa luar yang mahaluas. Hawking juga memprediksi bahwa beberapa spesies alien memiliki peradaban yang lebih maju dari manusia di planet bumi.

Meski seorang ilmuwan, Hawking mencemaskan bahwa akhir dari planet bumi adalah karena ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia itu sendiri. Sejarah peradaban manusia memberikan pelajaran kepada kita bahwa ambisi, keserakahan, dan hasrat berkuasa manusia lebih dominan daripada ajaran-ajaran moralnya.

Perang nuklir, global warming , polusi atmosfer, dan wabah virus mematikan adalah sebagian dari pencetus kehancuran planet bumi. Itulah sebabnya Hawking menyarankan manusia untuk segera memikirkan pengembangan teknologi yang memungkinkannya membentuk kehidupan dan peradaban di luar angkasa.

Tipe Peradaban Manusia

Machio Kaku, fisikawan Jepang, dalam The Physics of Extraterrestrial Civilization menyatakan, sebuah peradaban maju harus tumbuh lebih cepat dari frekuensi bencana-bencana yang mengancam kehidupannya.

Jika tumbukan meteor dan komet terjadi sekali dalam orde ribuan tahun, manusia berperadaban tipe satu sudah harus menguasai perjalanan antariksa untuk menyimpangkan puing-puing angkasa dalam kurun waktu tersebut.

Begitu pula dengan proses munculnya fenomena kekacauan iklim akibat global warming , manusia pada peradaban tipe satu harus mampu merekayasa iklim dengan mengubah sistem atmosfer bumi untuk menepis kenaikan suhu bumi itu.

Dewasa ini, menurut astronom yang juga ahli fisika teori (theoritical physicist ) Inggris, Frank Watson Dyson, manusia zaman modern saat ini masih berada dalam tipe peradaban nol. Menurut Dyson, kegundahan manusia terhadap global warming dan kekacauan iklim seperti yang terjadi saat ini adalah ciri manusia peradaban tipe nol dalam menghadapi fenomena alam.

Di masyarakat manusia peradaban tipe satu, masalahmasalah tersebut (gempa tektonik, tsunami, dan global warming ) sudah bisa diatasi dengan sempurna seperti mengatasi saluran air yang macet di selokan dan got yang mampet di sekitar rumah kita.

Untuk mengatasi gempa bumi, tsunami, dan kekacauan iklim, manusia pada peradaban tipe satu membutuhkan energi yang luar biasa. Energi ini bisa diperoleh dari energi matahari dan sumber-sumber energi nonkonvensional lain di bumi.

Saat ini pemanfaatan energi matahari oleh penduduk bumi yang berperadaban nol, menurut astronom Berkeley, Don Goldsmith, masih sangat sedikit. Menurut Goldsmith, bumi hanya menerima satu per miliar energi matahari dan manusia di bumi hanya menggunakan sepersejuta total energi matahari yang diterima bumi.

Dengan demikian, manusia bumi saat ini hanya memanfaatkan seperjuta miliar energi matahari. Seandainya manusia bumi mampu memanfaatkan energi matahari secara maksimal, maka energi yang didapatkan dari transformasi energi matahari itu sudah mampu untuk mendukung manusia dengan peradaban tipe satu.

Yaitu manusia yang mempunyai output energi yang sangat besar sehingga mampu mengatasi gempa bumi, mengalihkan tsunami, dan mengubah cuaca. Setelah beberapa ribu tahun sebuah peradaban tipe satu pun akan kehabisan energi.

Mereka telah mengonsumsi seluruh output energi matahari yang berkisar semiliar triliun energi per detik. Untuk mengatasi kekurangan energi karena bertambahnya penduduk dan tantangan alam, manusia harus memasuki peradaban tipe dua.

Menurut Dyson, manusia dengan peradaban tipe dua ini harus bisa membangun kawasan gigantik di sekitar bintang untuk mendapat output energi yang amat besar. Karena konsumsi ener-ginya yang luar biasa besar, tempat kehidupan manusia pada peradaban tipe dua ini akan terlihat seperti planet bercahaya dari pesawat angkasa luar yang saat itu sudah menjadi public transport.

Namun, manusia dengan peradaban tipe dua yang telah menjalani kehidupan seharihari secara ekstraterestrial itu, menurut Dyson, akan mendapat ancaman dari ledakan supernova dari bintang terdekat sehingga planet yang mereka tempati akan habis terbakar.

Untuk mengatasi ledakan supernova tersebut, mau tidak mau, manusia harus berpindah menuju peradaban tipe tiga, yaitu peradaban yang dibangun di antariksa, di antara bintang-bintang.

Manusia dengan peradaban tipe tiga ini mampu mendapatkan energi yang jumlahnya amat gigantik dan terus-menerus karena banyaknya bintang yang bisa dimanfaatkan energinya di jagat raya (universe ). Peradaban manusia tipe tiga ini, menurut Dyson, bersifat kekal karena tak ada bencana alam yang menghancurkan mereka (Rakhmat, 2011).

Indonesia

Mimpikah itu? Tidak! Lima puluh tahun lalu manusia mungkin hanya mimpi untuk bisa berkomunikasi tatap muka dengan sahabatnya dari jarak ribuan kilometer. Kini hanya melalui handphone kecil dengan OS Android, komunikasi semacam itu bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. “Anda harus bermimpi sebelum mimpi itu jadi kenyataan,” kata Abdul Kalam, bapak teknologi India.

Dengan mimpi inilah kita bisa membayangkan masa depan manusia di antara bintang-bintang. Semua itu terjadi karena semua yang dapat kita bayangkan, tulis Pablo Picasso, niscaya akan menjadi kenyataan. Bagaimana bangsa Indonesia? Kesibukan politik dan kesibukan fanatisme agama telah menguras energi bangsa ini.

Pengembangan ilmu dan teknologi untuk memanfaatkan sumber energi nonkonvensional terbengkalai karena minimnya anggaran dan kepedulian negara. Dari perspektif pembangunan sumber energi, Indonesia dalam kategori Dyson mungkin belum memasuki peradaban tipe nol, tapi masih berada dalam zona peradaban primitif.

Ciri-ciri peradaban primitif, manusianya masih lebih mementingkan fanatisme agama, golongan, dan partai ketimbang berkarya dengan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan bersama. Entah bagaimana penilaian Hawking terhadap bangsa Indonesia. Sebab, Hawking tidak percaya bahwa Tuhan bisa mengintervensi hukum alam. ●

Senin, 26 Maret 2012

Osama, Azzam, dan Qutb di Mata Siswa SMP dan SMU

Osama, Azzam, dan Qutb
di Mata Siswa SMP dan SMU
Syaefudin Simon, Periset Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian, Jakarta
SUMBER : MEDIA INDONESIA, 26 Maret 2012



OSAMA bin Laden telah tewas. Pemimpin organisasi teroris Al Qaeda itu diserbu pasukan elite antiteror AS, Seal Team Six (ST6), beberapa bulan lalu di Kota Abbottabad, Pakistan. Dalam serbuan kilat itu, Osama, istri muda, dan anaknya tewas. Osama sendiri tertembak di kepala sehingga langsung mati. Tak ada satu pun negara yang mau menerima mayatnya. Jasad Osama pun akhirnya dikubur di laut oleh tentara AS. Semua orang sudah tahu siapa Osama bin Laden dan bagaimana sepak terjangnya. Namun, tak banyak orang yang tahu siapa mentor dan pembimbing Osama. Juga, siapa pula yang menginspirasi tindakan terorisme tersebut.

Azzam dan Qutb

Ketika Rudy Harisyah Alam, salah seorang peneliti dari Badan Litbang Kemenag, mengusulkan nama Osama bin Laden, Abdullah bin Azzam, dan Sayyid Qutb sebagai bagian dari sejumlah indikator pengenalan `terorisme dan tokoh-tokohnya' untuk survei radikalisme di SMP, SMU, dan guru pendidikan agama Islam (PAI) seJabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), Oktober 2010 sampai Januari 2011, beberapa peneliti menanyakan, “Siapa Abdullah bin Azzam dan apa hubungan Sayyid Qutb dengannya?“ Mungkinkah siswa kelas 8 dan 9 SMP, siswa SMU, dan guru PAI mengenal dua nama (Azzam dan Qutb) tersebut?

Rudy menjelaskan, jika siswa SMP, SMU, dan guru PAI itu orang-orang yang tertarik dengan radikalisme dan siap berjuang untuk menegakkan negara Islam dengan jalan apa pun, termasuk terorisme, mereka niscaya akan mengenal kedua tokoh tersebut. Menurut Rudy, posisi Abdullah bin Az zam sangat istimewa dalam gerakan terorisme karena ia mentor Osama bin Laden.

Buku-buku karya Abdullah Azzam saat ini menjadi `buku wajib' untuk kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Banyak buku karya Azzam yang diterbitkan di Surakarta, Jawa Tengah, disebar ke Poso dan Aceh.

Lalu siapa Sayyid Qutb? Ternyata, penulis tafsir Fii Dzilaalil Qur'an itu ulama yang memberi inspirasi terorisme kepada Azzam dan Bin Laden.
Baik Azzam maupun Osama menganggap Qutb sebagai tokoh ulama panutan. Atas dasar itulah Rudy yakin bila seseorang punya niat untuk melakukan jihad guna mendirikan negara Islam, pikiran Azzam dan Qutb pasti merupakan referensi utamanya.

Entah bermaksud akan mendirikan negara Islam atau tidak, salah satu buku pegangan untuk kader sebuah partai berbasis Islam di Indonesia adalah buku-buku tentang perjuangan dan jihad karya Sayyid Qutb. Dari fakta itu, AM Hendropriyono­-mantan Kepala BIN dan penulis buku Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam--sering menuduh partai tersebut tidak nasionalis karena cita-cita mereka ialah mendirikan negara Islam. Meski tuduhan Hendropriyono itu ditepis tokoh-tokoh elite partai tersebut, kader-kader partai itu setidak-tidaknya telah mengenal pikiran-pikiran Qutb yang cenderung ekstrem tadi dan memakainya sebagai panduan untuk menggerakkan partai.

Kembali ke Rudy, ide untuk mencantumkan nama Abdullah bin Azzam dan Sayyid Qutb sebagai indikator dalam survei radikalisme di LaKIP akhirnya diterima. Setelah kuesioner disebar ke sekolah-sekolah (SMP dan SMU) serta guru PAI (baca: 590 dari 1639 guru PAI dan 993 dari 611.878 siswa di Jabodetabek), hasilnya ternyata cukup mengejutkan: tingkat pengenalan siswa dan guru terhadap Osama, Azzam, dan Qutb masing-masing 39,1% dan 82% (Osama); lalu 7% dan 14,1% (Azzam), dan 4% dan 59,2% (Qutb). Adapun tingkat (Qutb). Adapun tingkat dukungan (kesetujuan) siswa dan guru terhadap ketiga tokoh radikal tersebut ma sing-masing 15,4% dan 22,3% (Osama), lalu 4,8% dan 7,9% (Azzam), dan 2,3% dan 44,4% (Qutb). dan 44,4% (Qutb).

Dari keseluruhan survei, rata-rata tingkat pengenalan dan kesetujuan guru dan siswa terhadap tokoh-tokoh radikal (termasuk tokoh-tokoh radikal lain di samping Osama, Azzam, dan Qutb yang tak bisa disebutkan dalam tulisan ini karena bersifat konfidensial) mencapai 26,6% dan 69,2% (pengenalan) serta 13,4% dan 23,8% (kesetujuan). Hasil penting lain dari survei LaKIP, ternyata persentase tingkat dukungan siswa terhadap organisasi dan tokoh radikal dalam melaksanakan aksi-aksi kekerasan yang berkaitan dengan agama lebih tinggi ketimbang guru PAI. Sebanyak 14,2% siswa menye tujui tindakan pengeboman seperti dilakukan Imam Samu dra, Amrozi, dan kawan-kawannya, sedangkan dukungan guru terhadap hal yang sama hanya 7,5%.

Apa yang bisa kita katakan terhadap siswa dan guru pendidikan agama Islam itu? Masa depan Indonesia mengkhawa tirkan! Meski persentase jumlah mereka yang cenderung radikal itu kecil bila dikaitkan dengan jumlah siswa SMP, SMU, dan guru PAI yang ada di Jabodetabek yang jumlahnya masing-masing 1.639 dan 611.678, jumlah siswa dan guru PAI yang cenderung radikal sebetulnya amat besar. Sebagai gambaran, guru PAI di Jabodetabek yang mendukung tindakan Osama bin Laden mencapai 22,3% dari populasi atau sekitar 365 orang, sedangkan siswanya 15,4% dari populasi, menca pai 94.198 orang. Kalau saja yang setuju tindakan Osama bin Laden melakukan demo di Jakarta, jumlah mereka mencapai hampir 94.563 orang. Itu sebuah jumlah yang bisa memenuhi Jalan Thamrin, Jakarta.

Memang survei ini dilakukan di wilayah Jabodetabek. Akan tetapi kalau kita sepakat bahwa Jabodetabek merupakan etalase dan cermin Indonesia, hasil survei tadi sedikit banyak merupakan etalase dan cermin Indonesia juga. Bila itu yang terjadi, masa depan Indonesia sa ngat rawan terorisme, kecuali bila pemerintah mampu mencegah kecenderungan radikalisme ter EBET sebut dengan desain dan program aksi yang sistematis, strategis, dan berkelanjutan.

Banyak pihak tidak setuju dengan hasil survei LaKIP tersebut. Menag Suryadarma Ali, misalnya, selalu mempertanyakan metode survei tersebut, padahal metode survei yang dilakukan LaKIP juga dilakukan Litbang Kemenag dalam melaksanakan survei yang temanya nyaris sama pada 2007 di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Hasilnya nyaris sama, bahwa masyarakat Indonesia makin radikal. Bedanya, hasil survei LaKIP dipublikasikan, sedangkan hasil survei Kemenag disembunyikan.

Kini Osama telah tiada. Untuk sementara masyarakat internasional bisa bernapas lega. Namun, jangan pernah berpikir terorisme akan berhenti setelah pemimpinnya tewas. Ideologi terorisme akan tetap hidup bila menemukan ‘habitat’ yang subur untuknya. Saat ini yang menjadi persoalan ialah bagaimana menghilangkan lahan subur untuk ideologi terorisme itu. Di antara obat mujarab untuk menghilangkan ideologi terorisme, kata mantan Wapres M Jusuf Kalla, ialah tegaknya keadilan ekonomi, hukum, dan kemanusiaan. Karena itu, semua komponen bangsa dan negara hendaknya berusaha keras untuk mencapai kondisi yang meminimalkan tumbuhnya ideologi terorisme tersebut.

Di samping menegakkan keadilan, ekonomi, hukum, dan kemanusiaan untuk mencegah tumbuhnya terorisme, pemerintah perlu memikirkan kembali paradigma dan visimisi pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah umum. Gambaran pengenalan dan kesetujuan siswa terhadap tindakan terorisme Osama, mentor (Azzam), dan ideolognya (Qutb) itu menunjukkan ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam pendekatan dan materi pendidikan agama Islam di sekolahsekolah di Indonesia. Tak ada gunanya menutup diri dari kesimpulan survei LaKIP tersebut dengan cara mempertanyakan keabsahan metodologi survei, mempertanyakan objek survei, dan lain-lain.

Dengan merespons survei secara terbuka dan rasional untuk mencari solusi terhadap fenomena radikalisme pada siswa sekolah umum itu, semua komponen bangsa diharapkan urun rembuk memikirkan cara mencari rumusan yang tepat agar pendidikan agama Islam di sekolah umum tidak menjerumuskan siswa-siswanya pada sikap beragama yang radikal dan ekstrem. Sebaliknya, pendidikan agama akan membawa siswa menuju pada pandangan bahwa Islam itu agama yang toleran, ramah, dan rahmah.

Ada begitu banyak agenda dalam skema prevention program untuk mengatasi radikalisme di kalangan pelajar ini yang belum dijalankan. LaKIP sendiri, pascadipublikasikannya hasil riset tersebut, telah dua kali mengadakan workshop bina damai bagi guru-guru agama dan sekolah yang terlibat serta menjadi target proses riset. Balutan program yang diusung ialah sejenis kursus intensif bina damai (peacebuilding intensive course) bagi guru-guru agama dan manajemen konfl ik berbasis sekolah (MKBS) sebagai sebuah mekanisme bagi sekolah untuk mengelola sekaligus mendeteksi akar-akar kekerasan yang terjadi di tingkat sekolah. ●