Tampilkan postingan dengan label Nurul Lathiffah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nurul Lathiffah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Juni 2017

Pesan Pendidikan di Balik Viral Afi

Pesan Pendidikan di Balik Viral Afi
Nurul Lathiffah ;   Pemerhati Pendidikan; Penulis Buku Psikologi dan Agama
                                               MEDIA INDONESIA, 19 Juni 2017




                                                           
MEMBACA perkembangan kasus Afi, baik di media massa maupun dunia maya memberikan banyak lompatan emosi yang mengejutkan. Awalnya, putri bangsa bernama lengkap Asa Firda Inayah (Afi) atau yang lebih populer dengan nama Afi Nihayah Faradisa menjadi viral di media sosial, dan bahkan dunia nyata karena tulisan-tulisannya yang mengagumkan.
Dalam statusnya di laman Facebook, Afi kerap menulis pesan-pesan mengenai keberagaman, keharmonisan, dan kasih sayang.

Harus jujur, ada rasa bangga sekaligus haru bahwa dalam usia kronologis yang belum menginjak dewasa, Afi dapat mengemukakan pandangan yang inspiratif dan mencerahkan. Secara konten, tulisan Afi memang menakjubkan. Tentunya, hal itu bukan muncul serta-merta sebab ia berkisah tentang kebiasaan membaca yang mampu memberikan ragam perspektif tentang kebijaksanaan.

Sampai di sini, kita perlu merasa bangga sebab tak banyak remaja yang mampu 'berpuasa' dari hiruk pikuk kesenangan, dan bahkan mampu mengendalikan dirinya dalam aktivitas yang sarat akan budaya intelektual.
Terlebih jika kita selami, latar budaya keluarga Afi bukanlah dari keluarga yang high class. Dari berbagai warta, kita tahu bahwa ayah Afi bekerja sebagai pedagang cilok, sedangkan ibundanya menderita sakit. Di atas kondisi yang mengharuskan ketegaran tumbuh, Afi berusaha melakukan penyesuaian diri adaptif dengan rajin membaca. Tak hanya itu, ia juga mencoba menuliskan pemikirannya yang merupakan hasil dialog antara teks-teks yang ia baca dan pikiran-pikiran idealnya sebagai remaja.

Hasilnya? Tulisannya banyak menuai pujian. Akan tetapi, mutakhir kita dientakkan oleh kabar yang menduga bahwa tulisan-tulisan Afi merupakan plagiat.

Dalam memandang kasus ini, kita perlu menerapkan asas praduga tak bersalah, terlebih jika kita jujur mengakui bahwa usia Afi masih sangat belia. Lagi pula, kita tidak tahu apakah tuduhan plagiat tersebut merupakan ekspresi kebencian dari pihak lain atau bukan. Maka, yang perlu kita pahami sekarang bukan pada benar atau salahnya Afi, akan tetapi mari melihat bahwa fenomena Afi pada dasarnya memberikan pelajaran dan pesan penting bagi dunia pendidikan Indonesia.

Sosok Afi, melalui tulisan-tulisannya yang viral memberikan pesan inspirasi bahwa hobi membaca dapat menyelamatkan anak bangsa dari sikap-sikap negatif. Hobi membaca juga dapat mengasah kecerdasan berbahasa dan kepiawaian merangkai kata.

Hal ini menarik karena hobi membaca dapat mengantarkan remaja untuk sampai pada alam kedewasaan dengan lebih cepat. Membaca karya-karya inspiratif dari orang-orang hebat membuat diri mampu menyerap banyak ilmu dari beragam perspektif yang berbeda.

Hobi merupakan hal yang penting dan bukan perkara remeh.

Dengan hobi, anak tumbuh menjadi remaja dan mendewasa dengan aktivitas positif yang penuh makna.

Hobi dapat mengarahkan seseorang tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Hobi yang positif mengarahkan seorang anak untuk tidak melewatkan waktunya dengan aktivitas negatif.

Sampai di sini, kita begitu rindu akan adanya sebuah gerakan kolektif, yakni anak-anak mencintai dan memiliki hobi membaca buku sebagaimana Afi.

Ya, sesungguhnya kini kita sedang dibuat kagum oleh adanya fakta bahwa masih ada remaja yang memiliki hobi membaca dan sudah mulai mengepakkan sayap-sayap kalimatnya menjadi tarian yang indah dan 'menyihir' banyak orang untuk bergerak bersama dengan harmonis dan damai.

Kebiasaan membaca buku pada dasarnya dapat mengantarkan seseorang menjadi seorang penulis yang inspiratif.

Terlebih, jika terbiasa membaca sejak kecil, berbagai tulisan yang dibaca sebetulnya tidak pernah hilang dari ingatan.

Jika toh kita merasa lupa, itu hanya sekadar perasaan semata.

Apa yang kita baca sesungguhnya menjadi deposito pemahaman yang suatu saat dapat membuahkan pemikiran cemerlang.

Maka, bukan hal yang tidak mungkin jika Afi--di usianya yang masih sangat belia--mampu merangkai kata yang menakjubkan.

Kebiasaan membaca berbagai karya membuatnya memiliki tabungan kosakata dan rangkaian pemikiran yang memberikan pesan bernuansa bijak.

Melihat generasi muda gemar membaca, semestinya para pendidik dan orang tua tak membiarkannya tumbuh tanpa perhatian.

Justru jika ada generasi muda yang menunjukkan hobi dan minat positif, guru dan orang tua sebaiknya 'hadir' untuk memberikan apresiasi, dukungan, dan motivasi.

Pendidik perlu merawat kebiasaan membaca dan menunjukkan jalan menulis yang dapat membawa pada pencapaian-pencapaian intelektual.

Siswa perlu mendapatkan keterampilan menulis dan mengemukakan pendapatnya secara terbuka, santun, dan elegan.

Guru pun seharusnya memberikan arahan dan menyajikan medan menulis bagi siswa.

Ada banyak kompetisi menulis, ladang menulis bagi siswa, dan medan-medan kepenulisan lainnya yang legal, bernuansa kompetitif, dan pada muaranya memberikan pendidikan bagi siswa mengenai cara menulis yang tak hanya indah dan inspiratif, tetapi juga etis.

Guru perlu mengajarkan pada siswa bagaimana cara menulis yang benar, menyalin sebuah kutipan, dan menyajikannya dalam sebuah tulisan yang nyaman dibaca.

Agar guru dapat melakukannya dengan baik, kita memang membutuhkan guru yang terampil menulis.

Saat ini, para siswa yang merupakan generasi harapan cenderung tumbuh menjadi pribadi yang membaca 'instan.'

Bukan lagi buku yang mereka baca, melainkan status laman Facebook dan atau media sosial lainnya. Padahal, pada umumnya status di Facebook tidak ditulis para expert, tetapi siapa saja yang eksis di dunia maya.

Alhasil, yang berada di alam bawah sadar generasi kita ialah kata-kata dan rangkaian kalimat yang sering berisi ujaran kebencian, kemarahan, da kosakata berenergi negatif.

Di sisi lain, remaja belum memiliki filter yang cukup selektif dalam memilih status yang tepat untuk dijadikan acuan dalam bersikap.

Hasilnya? Media sosial sering kali menjadi ranah menyampaikan ujaran kebencian, caci maki, dan kata-kata buruk lainnya.

Gemar membaca

Dunia pendidikan memang perlu berbenah dan terus belajar untuk menjadi lebih baik. Guru perlu merawat tradisi membaca beragam teks inspiratif dengan berbagai metode yang menarik bagi siswa. Alangkah lebih menakjubkan jika guru mampu membingkai hobi membaca dan menulis pada diri para siswa melalui kegiatan belajar dan mengajar.

Bagaimanapun juga keterampilan menulis bukanlah abrakadabra.
Pikiran dan mental kita memerlukan waktu dan latihan untuk dapat melahirkan tulisan yang baik, inspiratif, dan menyejukkan. Kita harus membuka mata, bahwa banyak peluang menulis bagi siswa yang dapat dijadikan sarana melatih keterampilan menulis. Ada banyak kompetisi yang diadakan berbagai pihak, dan jelas hal ini mengandung reward untuk putra-putri negeri. Di sinilah pendidikan kita harus hadir.

Pendidikan Indonesia perlu untuk menciptakan penulis-penulis muda yang lahir dari rahim 'gemar membaca.' Untuk menciptakan penulis muda, guru perlu mengasah keterampilan menulis.

Sejak masa kanak-kanak hingga remaja, seorang anak memerlukan pengalaman sebagai pijakan diri untuk melakukan lompatan.

Anak yang berprestasi umumnya tak pernah tumbuh dari ruang hampa.

Jika orang tua merawat hobi anak dan memberikan wahana berlaga, anak-anak akan memberikan performansi terbaiknya. Banyak tokoh ternama yang berhasil merintis karier dan karya menakjubkan melalui hobi di masa kecil.

Energi hobi dan minat kita terhadap sesuatu akan cenderung menjadi prestasi jika dirawat dengan baik.

Pendidikan kita perlu mengawal hobi positif para siswa.

Ini merupakan poin penting sebab dengan hobi, seorang siswa akan menekuni aktivitasnya.

Alhasil, ia pun akan memiliki aktivitas yang menjurus pada hobi sehingga tidak terjerumus ke dalam aktivitas negatif, apalagi terperosok ke dalam hobi yang menyesatkan.

Sayangnya, banyak dari kita yang belum merasa sadar dan menilai bahwa hobi bukanlah hal yang penting. Bahkan, anak-anak yang memiliki hobi di luar belajar materi pelajaran banyak menuai kritikan pedas.

Melalui Viral Afi, kita banyak belajar bahwa segenap elemen bangsa perlu memberikan perhatian dan apresiasi terhadap hobi yang positif sekaligus mengarahkannya dengan bijaksana. Selanjutnya, ketika anak dan remaja tak sengaja melakukan kesalahan, kita sebagai orang yang lebih dewasa tak perlu buru-buru menghakiminya.

Sering kali, kesalahan yang mereka lakukan tulus dan lahir dari rahim ketidaktahuan. Tidak bijaksana, jika kita mudah menghakimi dan menyalahkan. Jangan sampai kritikan kita membuat sayapnya patah dan enggan mengudara.

Mari, bijaksana mengawal anak-anak dan remaja untuk tumbuh di atas hobi yang positif sehingga mereka dapat memberikan karya yang menakjubkan untuk bangsa. Kita perlu menjaga hobi dan minat anak-anak negeri dengan cara menjaga lisan dari ujaran negatif yang menyakitkan hati. Ada banyak diksi dan pilihan kata yang bisa kita pilih untuk membuat putra-putri bangsa agar cakap belajar dari kesalahan, bukannya terhenti langkah karena melakukan kekhilafan. Dunia pendidikan kita wajib senantiasa berbenah untuk menjemput masa depan gemilang. Wallahualam. ●

Selasa, 28 Februari 2017

Memutus Mata Rantai Kemiskinan

Memutus Mata Rantai Kemiskinan
Nurul Lathiffah  ;    Konsultan Psikologi dan Penulis Buku
                                           MEDIA INDONESIA, 27 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEJAUH ini kita menyimak realitas bahwa pendidikan belum bisa dijangkau semua lapisan masyarakat. Meski pemerintah telah berupaya menjadikan pendidikan ramah bagi masyarakat miskin, tanpa kesadaran diri dan perubahan sikap dari keluarga, pendidikan akan sulit dijadikan pemutus mata rantai kemiskinan. Bahkan, jika sejak dini anak-anak kaum marginal diizinkan hanya untuk bermain, bermain, dan bermain, serta jauh dari kebiasaan membaca, kita bisa menyaksikan bahwa kemiskinan di negeri ini akan menjadi warisan yang sulit dijeda. Menarik untuk kita kaji bersama bahwa melalui Program Keluarga Harapan (PKH), pemerintah telah memberikan motivasi kepada keluarga prasejahtera untuk melibatkan anak-anak mereka mengecap pendidikan formal secara layak.

Program yang dinaungi Kementerian Sosial ini mensyaratkan para pengurus keluarga (kaum ibu) untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Jika para ibu menyekolahkan anak-anak mereka mulai jenjang SD hingga SMA atau sederajat, bantuan akan terus diberikan. Sebaliknya, jika peserta tidak komitmen dan angka partisipasi kasar belajar siswa di sekolah tidak menyentuh persentase 85 (baca: sering membolos), bantuan akan dipotong. Pemotongan bantuan sebagai bentuk hukuman bagi anak-anak dari peserta program yang tidak komitmen dengan pendidikan merupakan sebuah gebrakan tegas. Sebab, tidak mustahil, anak-anak pamit untuk ke sekolah padahal ia tidak hadir. Perilaku membolos memang disebabkan banyak hal, misalnya karena keengganan belajar.

Pendidikan dapat memutus mata rantai kemiskinan jika dan hanya jika anak-anak memiliki semangat dan daya juang yang tinggi dalam belajar dan berprestasi. Sayangnya, tak banyak para orangtua yang menyadari bahwa pendidikan dapat memutus mata rantai kemiskinan. Kita sering menutup mata dan enggan mengungkap kisah keberhasilan pendidikan yang ditempuh anak dari keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Sering kali para orangtua terlalu pesimistis dan memandang hitam harapan pendidikan cerah ketika dirinya mengalami masa-masa sulit, terutama dalam aspek perekonomian keluarga. Keberhasilan menempuh pendidikan bukan hanya membutuhkan dukungan finansial, melainkan juga kecerdasan berjuang (adversity quotient). Sayangnya, banyak orangtua yang gagal membentuk kecerdasan berjuang pada anak. Banyak keluarga miskin yang masih percaya bahwa membekali anak dengan uang saku setara dengan teman-temannya ialah cara terbaik mendukung pendidikan.

Sulit diwujudkan

Konsekuensi dari langkah 'memanja' anak secara finansial secara akumulatif memberikan pukulan berat bagi keluarga miskin. Alhasil, orangtua memandang pendidikan anak sebagai sebuah beban berat sehingga mereka memberi label pendidikan mahal bukan semata-mata dari biaya pendidikan, melainkan justru dari biaya harian (nonpendidikan). Jika para orangtua masih berpikir bahwa biaya menjadi kendala kesuksesan belajar anak, akan sulit mewujudkan harapan pemerintah untuk menjadikan pendidikan sebagai pemutus mata rantai kemiskinan. Agar pendidikan dapat memutus mata rantai kemiskinan, keluarga harus mampu mengajarkan nilai-nilai perjuangan bagi anak. Sangat mungkin mencapai prestasi tinggi apabila ditempuh dengan semangat belajar yang optimal.

Tidak mudah memang melakukan edukasi bagi para orangtua agar memahami bahwa di balik keterbatasan (ekonomi) sesungguhnya tersimpan kekuatan untuk belajar dengan gigih. Terlebih bila orangtua telanjur sering memanjakan anak-anaknya sebagai kompensasi atas ketidakberhasilannya dalam membahagiakan anak secara lahir. Dalam jangka panjang, kita memerlukan sebuah mekanisme edukasi pada keluarga prasejahtera agar mampu memberikan motivasi belajar bagi putra-putrinya, bukan hanya angka partisipasi kasar semata. Dari titik inilah seharusnya para orangtua mendapatkan pemahaman bahwa mendidik anak tidak sama dengan memberi kesenangan lahir. Sebaliknya, orangtua harus mampu memberikan kesenangan batin pada anak, yang tak harus didapat dengan kilau kemewahan.

Bahkan dengan belajar kecewa, anak justru mendapat kepuasan batin. Anak pun akan belajar bahwa menahan rasa sakit di awal untuk memperoleh kebahagiaan merupakan suatu hal yang memberi rasa positif kepada diri sendiri. Dalam kasus memberikan bekal uang jajan, misalnya, orangtua harus memberikan pemahaman kepada anak agar tidak berperilaku konsumtif. Orangtua perlu menegaskan kebiasaan menahan dan 'puasa' pada anak dengan mengizinkan mereka menabung dari uang saku untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan sebagai penunjang kebutuhan belajar. Pujian atas prestasi psikis anak dalam menahan keinginan di awal merupakan stimulan yang baik untuk menciptakan anak-anak yang tangguh dan berdaya juang. Untuk membesarkan anak dengan kualitas daya juang yang dapat menuntun pada keberhasilan, orangtua juga harus memberi teladan.

Sedapat mungkin, orangtua harus tegar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan putra-putrinya. Bekerja apa pun asalkan halal dan baik harus diupayakan. Prinsip bahwa menahan keinginan di awal untuk mendapat kepuasan di akhir merupakan bekal untuk menjemput kesuksesan. Jika sejak kecil anak dilatih untuk mau prihatin dan menahan keinginan (bermain dan bersenang-senang, melakukan konsumsi secara boros, dan sebagainya), anak akan belajar untuk menjadi pribadi yang tekun. Ia juga akan merasakan dampak positif dari kerja keras, di antaranya mendapat nilai memuaskan. Dunia anak merupakan dunia bermain. Namun, bermain yang terlampau akan membuat anak merasa bahwa belajar merupakan suatu beban. Akibatnya, anak akan sulit untuk memiliki hasrat belajar. Dalam realita di lapangan, sering terlihat betapa para orangtua membebaskan anak-anaknya bermain, yang berarti juga membebaskan mereka terpapar virus komunikasi negatif.

Bermain tanpa pengawasan orangtua kadang membuat anak menjadi korban bullying, atau bahkan menjadi pelaku. Dari sudut pandang orangtua, melepas anak-anak bermain tanpa kontrol kadang menjadi sebuah kesenangan tersendiri. Dengan melepas anak, mereka berpikir bisa bebas bekerja, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, dan asyik dengan aktivitas tanpa gangguan. Mereka lupa bahwa dengan melepas anak ke dalam rimba permainan tanpa kontrol akan menjadikan anak mengalami euforia bermain sehingga sering mengalami kegagalan dalam menemukan keasyikan dalam belajar.

Anak yang terlalu asyik bermain juga cenderung memiliki kualitas konsentrasi yang buruk sehingga membuatnya tak memiliki prestasi belajar yang baik. Maka, para orangtua dari keluarga prasejahtera juga harus memahami bahwa penting untuk memberikan latihan konsentrasi dan kesabaran pada diri anak. Catatan pentingnya, orangtua harus menanamkan pesan dengan bahasa yang motivatif dan tidak menghakimi anak. Orangtua juga perlu menggunakan nada yang lembut dan kalimat penuh kasih sehingga mampu menimbulkan getaran semangat bagi buah hati. Prestasi dan keberhasilan meretas jalan sukses selalu dibangun dengan perjuangan, kesabaran, dan kegigihan.

Jika orangtua berhasil menanamkan daya juang pada anak, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang bersemangat, termasuk dalam menempuh pendidikan. Seandainya tidak memiliki buku, anak-anak yang memiliki daya juang tinggi akan rela meminjam di perpustakaan, mencatat, atau bahkan menghafal materi pelajaran. Anak-anak ibarat kertas putih, dan orangtualah yang memberikan warna dan torehan. Tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan kecuali menorehkan anak dengan pelajaran hidup sejak dini. Ketika sebuah keluarga prasejahtera berhasil mencerdaskan daya juang anak, ketika itu pula mereka menggenggam erat harapan untuk memutus mata rantai kemiskinan. Wallahu'alam. ●

Minggu, 10 Juli 2016

MOS, Momentum Menumbuhkan Sikap Positif Siswa

MOS, Momentum Menumbuhkan Sikap Positif Siswa

Nurul Lathiffah ;  Peminat Kajian Psikologi Pendidikan
                                               MEDIA INDONESIA, 04 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MENJELANG bergulirnya tahun ajaran baru 2016/2017, dunia pendidikan mendapat angin segar dengan terbitnya regulasi baru mengenai masa orientasi siswa (MOS). Jika sejak dulu MOS identik dengan perpeloncoan yang mengandung muatan bullying, kekerasan fisik, ancaman, hukuman (punishment), dan hal tak nyaman lainnya, kini pengenalan terhadap sekolah baru harus dilaksanakan secara humanis. Kabar baik ini memberikan kelegaan bagi siswa, guru, dan para orangtua. Sebab, orientasi siswa yang mengeliminasi rasa takut siswa akan memberikan rasa aman. Bahkan, kebijakan ini dapat menutup buku catatan merah atas sederetan siswa baru yang menjadi korban dari `keganasan' MOS yang dilakukan senior atau orang lain di sekolah.

Harus diakui bahwa banyak siswa merasa keberatan dengan MOS konvensional yang padat dengan sejumlah tugas berat. Siswa baru yang semestinya beradaptasi dengan lingkungan belajar baru dan menemukan motivasi untuk melejitkan prestasi justru mendapat kesibukan yang pelik. Di antara penugasan klasik MOS yang (sejak dulu) penting untuk dihapus, misalnya, mengumpulkan ratusan merica dan mencari bahan-bahan yang `langka'. Jika siswa tak berhasil menemukannya, hukuman pun siap menanti. Di sisi lain, para senior juga seolah menjadi sosok otoriter.

Sayangnya, kultur negatif saat MOS seolah dimafhumi. Terkecuali siswa baru, banyak pihak abai terhadap MOS yang `menyiksa'. Konsekuensi logisnya, suburlah budaya MOS yang sarat dengan kekerasan, baik verbal, fisik, ataupun mental. Padahal, dampak MOS yang penuh nuansa kecemasan sangat signifikan. Dalam jangka pendek, siswa baru akan mendapat hambatan penyesuaian diri dan mengalami perasaan bersalah. 

Hal ini wajar sebab filosofi MOS yang banyak dianut sekolah ialah `menempa mental'. Sayangnya, penempaan mental dimaknai dengan sangat sempit, yakni dengan tindakan memarahi, menghukum, dan menyalahkan.

Dalam perspektif psikologi, sikap memarahi, menghukum, dan menyalahkan dapat menjadi sumber petaka bagi orang lain. Seseorang yang dihukum, dimarahi, dan disalahkan akan rentan memiliki perasaan bersalah yang luar biasa. Bahkan, kemarahan yang secara repetitif dapat menurunkan kepercayaan diri dan motivasi. Kemarahan akan menimbulkan luka. Kenyataan ini semakin menegaskan bahwa energi negatif pada MOS yang konvensional harus diubah menjadi energi positif. Alih-alih memberikan rasa sakit kepada siswa baru, MOS idealnya dapat menjadi penyembuh. Penyembuh bagi siswa atas derita emosi, mental, dan perilaku.

Poin pentingnya ialah tidak semua siswa masuk ke sekolah baru dalam keadaan baik-baik saja. Bisa saja, mereka anak yang lahir dari keluarga bermasalah dan tak memiliki gairah menuntut ilmu, kecuali demi formalitas belaka. Jika guru dan pengambil kebijakan di sekolah abai terhadap kondisi awal siswa baru, jangan heran jika di kemudian hari mereka menjadi sumber masalah di sekolah. Sebab, anak-anak dengan permasalahan intrapersonal yang tak selesai cenderung mela hirkan hubungan interpersonal yang buruk dengan orang lain. Pada titik inilah, MOS semestinya diselenggarakan dalam kerangka pengenalan dalam arti yang sebenarnya.

Dalam kegiatan orientasi siswa, pendekatan dari hati ke hati sangat diperlukan. Guru diharapkan memiliki kepekaan dan mampu menjalin kedekatan dengan siswa baru sehingga ketika dalam masa orientasi siswa ada beberapa anak didik yang belum bisa mengikuti peraturan dan ritme kegiatan, guru mesti lebih awas.

Di masa orientasi, guru perlu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakukan pendekatan terhadap siswa, memperkenalkan kultur belajar, dan yang paling penting menyuntikkan semangat baru. Sekolah baru semestinya dapat menghadirkan iklim belajar yang lebih positif. MOS harus diubah, dari gaya konvensional menuju profesional. Sejak awal, guru perlu membangun nuansa kenyamanan. Dengan demikian, hambatan psikologis siswa dalam beradaptasi dengan orang-orang baru, lingkungan baru, dan budaya belajar dapat berjalan dengan optimal.

Ibarat membuka lembaran baru, para guru mesti mempersiapkan diri untuk menyambut siswa. Terlebih dahulu, guru perlu membangun kesiapan mental. Mereka harus meyakini akan kemampuan dalam mengajar dan mendidik siswa dengan baik. Di sisi lain, siswa juga perlu membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru tanpa dihantui rasa takut. Dalam mengenali siswa, ada baiknya guru juga memetakan potensi siswa.

Tantangan selanjutnya ialah mampukah guru bersikap apresiatif atas prestasi siswa? Di sisi lain, bukan hal yang mudah mendeteksi potensi siswa dengan prestasi yang belum tampak. Upaya ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sepanjang rentang waktu belajar, guru perlu cermat memperhatikan siswa. Meski demikian, satu hal yang harus diingat ialah setiap anak memiliki perbedaan individual yang unik sehingga guru tidak perlu membandingkan siswa satu dengan siswa lainnya. Kepercayaan dari pendidik bahwa semua siswa memiliki potensi dan dapat berprestasi dengan cara masing-masing merupakan starting point yang ideal untuk memulai tahun ajaran baru.

Tidak hanya kepada siswa, alangkah baiknya jika masa orientasi juga diikuti dengan pengenalan orangtua terhadap sekolah, guru, dan kultur belajar. Hal ini penting, sebab hubungan yang harmonis antara guru dan orangtua akan berdampak pada pengajaranpengasuhan yang seirama. Keberhasilan guru dalam menjalin kedekatan dengan siswa (sekaligus orangtua) di masa-masa awal tahun ajaran sangatlah penting. Sebab, suatu ketika jika anak mengalami permasalahan perilaku, keluarga menjadi partner bagi sekolah untuk mendukung penyelesaian masalah.

Betapa banyak kasus kenakalan siswa yang tak terpecahkan karena kegagalan komunikasi. Alhasil, siswa yang dinilai nakal pun semakin tidak menyadari kesalahannya, bahkan semakin berada dalam taraf keparahan yang serius. Padahal, penanganan terha dap anak-anak bermasalah hanya akan efektif jika sekolah akrab menjalin kerja sama dengan orangtua. 

Sekolah sangat perlu membangun kedekatan dengan siswa, sebagaimana orangtua menjalin kedekatan dengan anak kandungnya. Sebab, transformasi nilai-nilai kebajikan hanya akan efektif apabila dilakukan figur otoritas. Nah, dalam masa orientasi siswa, sekolah harus berhasil membangun diri sebagai figur otoritas bagi para siswa.

Kegagalan sekolah dalam mengenali siswa akan berdampak buruk pada proses belajar dan mengajar. Tidak sedikit guru yang ingin menyampaikan maksud baik justru ditanggapi negatif oleh siswa, demikian pula sebaliknya. Dalam jangka panjang, situasi itu dapat menyuburkan benih kebencian sehingga menyakitkan hubungan guru dengan siswa. Dunia pendidikan tak hanya memerlukan guru yang cerdas saja, tapi juga yang mau dan mampu memahami karakter siswa. Pemahaman yang baik terhadap karakter siswa dapat membimbing guru untuk dapat mengajar dan membimbing setiap siswa dengan metode yang paling tepat.

Pada muaranya, MOS harus menjadi momentum untuk memulai hubungan yang harmonis antara siswa baru, kakak kelas, guru, dan lingkungan sekolah. Sebab, tugas kependidikan yang diemban guru dan siswa tidaklah mudah. Tugas kependidikan untuk mencerdaskan siswa dan membentuk karakter positif hanya akan berhasil jika guru dan siswa mampu mengenal dan menjalin hubungan yang produktif. Untuk menuju hal itu, aktivitas MOS yang tak berkaitan dengan tujuan utama harus ditiadakan, diganti dengan kegiatan positif yang memupuk motivasi belajar, berprestasi, dan bersikap secara positif. ●

Kamis, 19 Mei 2016

Bisakah PAUD Dicurigai sebagai Racun Mental?

Bisakah PAUD Dicurigai sebagai Racun Mental?

Nurul Lathiffah ;   Sarjana Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
                                               MEDIA INDONESIA, 16 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DI awal kemunculannya, pendidikan anak usia dini (PAUD) diharapkan menjadi starting point terselenggaranya pendidikan yang berhasil. Ekspektasi itu pada gilirannya menstimulasi kelahiran sekolah PAUD di berbagai daerah. Hingga kini jumlah PAUD semakin meningkat pesat. Jika pada awal kemunculannya sekolah usia dini sebelum TK itu masih sangat dirindukan masyarakat, kini hal itu berkebalikan. Euforia bahwa PAUD dinilai sebagai kunci keberhasilan pendidikan bahkan semakin terkikis.

Belum lama ini, PAUD juga dinilai dapat menjadi fondasi pendidikan yang berbahaya bagi anak. Pendidik yang tidak memiliki kualifikasi tepat diduga menjadi penyebab utama. Selain itu, pengajaran calistung sejak dini juga dicurigai merupakan racun mental bagi anak. Sebagaimana diwartakan sebuah televisi swasta (9/5/), guru menjadi elemen penting dalam perkembangan pendidikan anak. Namun, masih banyak PAUD dianggap belum memenuhi standar. PAUD yang tidak berkualitas akan menghambat perkembangan anak.

Meski terkesan kritis, opini publik itu juga perlu disikapi secara apresiatif.
Setidaknya, opini itu menduga bahwa PAUD dinilai berbahaya karena dua hal. Pertama, guru kurang kompeten. Kedua, racun mental secara tidak sengaja ditebar di PAUD. Secara objektif, harus disadari bersama bahwa PAUD digadang menjadi sekolah yang sangat penting dilalui anak.

Sebelum belajar di sekolah formal, anak-anak perlu bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain di sekolah usia dini. Hal itu sangat penting, sebab anak-anak yang terbiasa berinteraksi dengan pendidik dan anak-anak seusianya secara tidak langsung memiliki soft skill sebagai bekal beradaptasi di sekolah dasar dan pada tingkat-tingkat selanjutnya.

Hakikatnya, PAUD mengaksentuasikannya pada dasar pertumbuhan dan perkembangan fisik, kecerdasan, kreativitas, emosi, dan spiritual. PAUD diharapkan menjadi wahana stimulasi perkembangan anak, termasuk memetakan potensi anak dan mendidik sesuai dengan kapasitasnya.

Apabila anak sudah terampil bekerja sama, memiliki keterampilan berpikir kritis, dan memiliki keterampilan untuk bersahabat dengan aturan, di taraf pendidikan selanjutnya, mereka akan lebih mudah untuk berprestasi dan menyerap pengetahuan, nilai, dan norma.

Kabar baiknya, PAUD tetaplah menjadi lembaga pendidikan yang penting dalam mencerdaskan anak Indonesia. Hanya, tidak bisa dimungkiri faktor tenaga pengajar merupakan satu aspek penting yang perlu dievaluasi. Di kota besar, seleksi terhadap guru PAUD sangatlah teliti dan diperhitungkan, di samping meneliti riwayat pendidikan, pengalaman, dan keterampilan berinteraksi dengan anak usia dini. Akan tetapi, realitas ini sungguh berbeda dengan PAUD di desa. Di desa, rekrutmen pengajar PAUD dilakukan secara sederhana.

Satu-satunya pendidikan yang efektif bagi pengajar diperoleh dari pelatihan atau seminar. Lebih disayangkan lagi, pelatihan atau seminar itu pun berbayar. Pengajar PAUD yang notabene mendapat insentif yang sangat minimal pun mengalami dilema. Di satu sisi, mereka ingin memperkaya khazanah pengetahuan, tapi di sisi lain mereka juga memiliki tantangan finansial yang tidak mudah. Dengan mengesampingkan riwayat pendidikan, perjuangan guru PAUD di desa-desa cukup membawa angin segar bagi dunia pendidikan, betapa pun mereka memiliki gairah untuk merawat perkembangan anak usia dini agar menjadi generasi yang cerdas berinteraksi dengan Tuhan, pengetahuan, sesama manusia, dan alam semesta.

Berbekal modal psikologis para guru PAUD di desa yang memiliki semangat berjuang tinggi, kiranya wacana mengenai pembatasan jumlah PAUD dan bahkan pengurangan PAUD perlu ditinjau ulang. Alih-alih membatasi atau mengurangi, berfokus pada pengayaan dan pembinaan pendidik PAUD merupakan langkah strategis yang tidak bisa dilupakan.

Bagaimanapun, keikhlasan dan daya mencintai anak-anak merupakan keterampilan yang sulit dipelajari. Keterampilan hati itu berkembang secara alamiah. Sementara itu, pengetahuan mengenai perkembangan anak dapat dikembangkan melalui berbagai cara. Seminar, kursus berkelanjutan, dan hal senada lain merupakan cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas pengetahuan pengajar PAUD. Tentunya, hal itu difasilitasi pemerintah dan para pemegang kebijakan.

Peningkatan kualitas pengajar PAUD sangat diperlukan. Terlebih di era digital, kompleksitas karakteristik anak semakin bertambah. Tantangan pengajaran pun akan semakin kompleks. Dalam tataran ini, keterampilan afektif dan kognitif para pengajar PAUD merupakan kunci utama keberhasilan. Menimbulkan minat positif anak, mengasah keterampilan mereka, dan mengapresiasi setiap keberhasilan anak merupakan sedikit dari sederet keterampilan yang perlu dimiliki setiap pengajar. Pada titik ini, persoalan pertama PAUD dinilai berbahaya dari segi tenaga pengajar sudah mendapatkan titik terang.

Pada intinya, PAUD berbahaya jika pengajar tidak memiliki keterampilan mengajar sehingga menimbulkan kebosanan, keengganan sekolah, dan menebar sikap negatif (semisal marah) di ruang kelas.

Permasalahan kedua yang ditengarai meracuni pengajaran di PAUD ialah kurikulum. Seiring dengan ekspektasi bahwa anak kelas 1 SD sudah diharapkan memiliki keterampilan dasar membaca, tidak sedikit PAUD yang mulai memperkenalkan kemampuan baca tulis kepada anak. Lantas, benarkah itu akan meracuni anak? Sebentar. Permasalahan ini memang cukup sensitif karena memiliki multiperspektif. Kita perlu memahami, bahwa dalam paradigma psikologi, setiap individu memiliki potensi unik yang diistilahkan dengan individual differences. Perbedaan individual pada gilirannya juga menuntun pengajar untuk memberikan sikap dan tugas yang berbeda pada tiap-tiap anak.

Realitasnya, ada anak-anak usia dini yang hanya suka pada aktivitas bermain. Pun sebaliknya, ada pula anak usia dini yang sudah memiliki minat membaca dan menulis sejak dini karena berbagai pengaruh hadir dalam lingkungannya. Anak usia dini yang tumbuh di lingkungan keluarga yang mentradisikan kebiasaan mendongeng dan membaca bisa jadi sudah memiliki minat dan kemampuan dasar untuk belajar mengenal huruf, mengeja, dan menulis. Apabila anak dengan potensi positif ini belajar di lingkungan PAUD yang murni 'bermain' saja, bisa jadi ia akan mengalami kebosanan. Kebutuhannya akan belajar dan mengasah keterampilan dasar terbentur kurikulum yang menurutnya terlampau 'main-main'.

Pelajaran pentingnya, pengajar PAUD harus tetap berada pada kurikulum yang telah ditetapkan. Mereka pun semestinya mampu menciptakan pembelajaran yang nyaman. Setiap anak unik dan para pengajar memiliki tugas oral untuk menyelami karakter sekaligus menciptakan iklim bermain, belajar, dan bersahabat yang penuh dengan nuansa nyaman. Di sisi lain, tugas mendidik anak usia dini tidak bisa hanya dilimpahkan kepada PAUD. Di luar itu, orangtua memiliki peran penting dan sentral. Sebagus apa pun PAUD, anak usia dini tidak akan mencapai perkembangan optimal jika diasuh dengan metode parenting yang kurang tepat.

Penguatan peran orangtua dapat menjadi strategi untuk menumbuhkan anak usia dini demi mencapai perkembangan 'emas'. Orangtua secara intens perlu menyelami keunikan dan potensi anak. Pada hakikatnya, rumah merupakan tempat belajar yang paling nyaman. Keterampilan emosi, fisik, kognitif, dan spiritual anak mencerminkan ketelatenan orangtua. Apabila orangtua berkomitmen mendidik emosi anak, anak-anak pun akan mengembangkan keterampilan emosional. Sampai di sini, ada yang perlu kita garis bawahi bahwa satu hal primer yang perlu direnungkan sebelum memvonis PAUD dapat membahayakan anak, kita perlu bertanya sudahkah orangtua memberikan pengasuhan yang aman dan nyaman? Orangtua perlu becermin sambil terus bersinergi dengan PAUD. Wallahualam. ●

Selasa, 29 Maret 2016

Pendidikan Menuju Kematangan Emosi

Pendidikan Menuju Kematangan Emosi

Nurul Lathiffah ;  Peminat Kajian Psikologi Pendidikan
                                             MEDIA INDONESIA, 28 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MASIH begitu mengemuka dalam benak, berbagai kasus dan kriminalitas yang dilakukan kalangan terdidik. Ibarat gunung es, fenomena kejahatan yang dilakukan kaum terdidik lebih bisa tersembunyi dengan aman. Namun, efeknya lebih keras dan dahsyat.

Melompat pada beberapa peristiwa sebelumnya, dunia pendidikan sempat dientakkan dengan kasus narkotika yang menjerat dosen sekaligus guru besar. Tidak bisa ditampik bahwa narkotika juga telah banyak dikonsumsi mahasiswa, bahkan siswa. Realitas ini sungguh menyesakkan dada. Tak hanya mencederai kemuliaan profesi, pelaku juga mencoret wajah pendidikan. Peserta didik dan pendidik yang seharusnya berada pada zona perilaku yang sehat mental justru terlempar dan terjerumus pada pelanggaran.

Kejahatan yang dilakukan kalangan terdidik sangatlah ironis. Bukankah pendidikan semestinya bermuara pada sikap yang baik dan cerdas? Akan tetapi, mengapa pada titik-titik tertentu, kalangan yang berpendidikan tinggi justru tak memiliki kendali diri yang baik? Rupanya, kita harus mengakui dengan lapang dada bahwa pendidikan kita belum mampu mengantarkan seseorang pada kematangan emosi.

Kejahatan dalam derivasi apa pun sesungguhnya bermula dari hasrat yang meletup-letup hingga mencederai hak orang lain. Dalam paradigma ilmu kejiwaan, setiap perasaan selalu diizinkan untuk tumbuh. Kenyataannya, sering seseorang memiliki keinginan untuk marah, membalas keburukan dengan hal yang lebih buruk, dan mencapai keinginan yang 'wah'. Pun begitu, tidak semua hasrat harus diluapkan sebab sikap humanis diperlukan untuk mewujudkan keserasian dan keharmonisan. Konsekuensinya, pengendalian diri sangat diperlukan.

Hakikatnya, para founding fathers dunia pendidikan sudah merumuskan visi pendidikan yang berorientasi pada pengendalian diri. Dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Tidak matang

Cita-cita pendidikan tersebut tidak berangkat dari ruang hampa. pengendalian diri merupakan elemen penting untuk mencapai kesuksesan, baik dalam tataran intrapersonal maupun interpersonal.
Pada gilirannya, hal itu juga akan membimbing seseorang untuk mengasah kecerdasan emosi, sosial, dan bermuara pada kematangan emosi. Ratnawati (2005), mengemukakan bahwa kematangan emosi sebagai suatu kemampuan untuk mengarahkan emosi dasar yang kuat ke penyaluran yang mencapai tujuan, tujuan ini memuaskan diri sendiri dan dapat diterima di lingkungan.

Jika ditelusuri lebih saksama, kalangan berpendidikan yang menjadi pelaku kejahatan merupakan sosok yang tidak matang dalam aspek emosi. Bahkan, bisa jadi, mereka masih memiliki usia mental yang jauh lebih dini jika dibandingkan dengan usia kronologisnya. Membebaskan diri untuk melanggar norma dan hak orang lain merupakan ciri primer dari anak usia dini. Kalangan berpendidikan yang masih mau melakukan kejahatan pada hakikatnya merupakan produk dari pendidikan yang belum bermuara pada kematangan emosi. Meski terlihat sederhana, nyatanya mengarahkan pendidikan yang bermuara pada kematangan emosi pendidik dan peserta didik tidaklah mudah. Di samping pendidikan di Indonesia masih cenderung berorientasi pada aspek kognitif an sich, orientasi pendidikan pada aspek kematangan emosi belum terlihat nyata.

Sebuah kisah dalam khazanah keislaman klasik dapat menjadi metafora, betapa kesuksesan dalam menuntut ilmu tidak hanya menuntut pembuktian gelar dan sejumlah prestasi. Dikisahkan bahwa seorang ibunda ulama memberikan petuah, "Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Tuhan), kelemah-lembutanmu, dan ketenanganmu? Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak bermanfaat untukmu."

Kisah tersebut dapat menjadi kunci penting dalam menjawab permasalahan pendidikan di negeri ini. Maraknya sikap negatif yang dilakukan para pendidik bahkan peserta didik bermula dari hilangnya esensi dari ilmu pengetahuan. Pengetahuan hanya ditakar dari kemampuan hafalan dan kognitif tanpa menilik aspek afektif. Pelan tapi pasti, jika pendidikan terus menerus mengalami disorientasi, dunia pendidikan ibarat menjejalkan ilmu pengetahuan pada anak balita.
Secara kognitif, ilmu dapat terserap dengan cepat. Namun, secara afektif dan esensial, ilmu justru hanya dianggap sebagai simbol kegagahan tanpa peran apa-apa.

Becermin dari kenyataan tersebut, hal yang paling mendasar yang begitu darurat dilakukan demi menyelamatkan pendidikan ialah dengan cara membekali keterampilan pengendalian diri. Pengendalian diri akan menjadi kontrol yang paling efektif ketika hasrat kemanusiaan atau bahkan kebinatangan mengemuka. Pada poin inilah pendidikan harus mampu mendewasakan individu tidak hanya dalam tataran kognitif, tetapi juga emosi. Tanpa visi yang berorientasi pada kematangan emosi, pendidikan akan semakin hampa dari nilai-nilai kemanusiaan.

Cak Nun pernah menuturkan, yang disebut dengan orang dewasa adalah manusia dengan hati selesai, yaitu hati yang atas bangunan akalnya sanggup menaklukkan keinginan (Agus NC, 2016). Mestinya, tapak demi tapak jenjang pendidikan mampu mengantarkan peserta didik pada kedewasaan yang ditandai dengan kematangan emosi. Ini sangat mendesak sebab di zaman yang serbainstan ini, manusia dewasa banyak yang bertindak hanya berdasarkan prinsip kesenangan (the pleasure principle). Bagaimanapun, kejahatan yang dilakukan sivitas akademik merupakan hasil dari kegagalan mengendalikan diri dan hanya mendasarkan pada kesenangan semata.

Pengendalian diri

Langkah yang paling memungkinkan untuk mengembalikan citra positif dunia pendidikan ialah membekali peserta didik dengan keterampilan pengendalian diri. Seiring dengan meningkatnya kontrol diri, diharapkan kematangan emosi akan semakin meningkat. Sejak usia dini, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK memiliki peran dalam membentuk pengendalian diri pada anak didik. Pada titik inilah, pendidik PAUD hendaknya mampu menjadi role model pengasuhan dan pendidikan anak.
Pada perkembangan usia dini, anak membutuhkan ruang dan waktu untuk mengalami berbagai perasaan.

Sejak dini, anak-anak harus mendapatkan pelajaran menunda keinginan.
Hal ini merupakan fondasi bagi terbangunnya sikap positif untuk beradaptasi dengan berbagai situasi pada tahap perkembangan berikutnya. Dalam tataran praktis, anak usia dini sebaiknya mulai mengembangkan kemandirian.

Lima tahun awal perkembangan masa anak-anak diyakini merupakan fase penting yang menentukan pembentukan karakter seseorang. Hal tersebut merupakan isyarat halus, bahwa fondasi kematangan emosi terletak pada pendidikan formal jenjang PAUD. Jika anak-anak gagal belajar kontrol diri pada usia dini, tanpa penanganan tepat, mereka akan menjadi pribadi yang terhambat dan terbiasa dengan prinsip kesenangan. Dikhawatirkan, prinsip kesenangan yang terus menerus dipegang tanpa diimbangi dengan pengendalian diri akan mengantarkan seseorang pada berbagai perilaku menyimpang.

Permasalahannya kini, sudahkan PAUD menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dan memfokuskan diri pada kapasitas pengendalian diri anak didiknya? Jika kita masih mendambakan pendidikan yang bermuara pada kematangan emosi, kini saatnya menguatkan fondasi dari jenjang awal pendidikan di negeri ini. Dunia pendidikan pun semakin produktif melahirkan insan Indonesia yang matang, cerdas pikir, dan cerdas hati. ●

Jumat, 09 Mei 2014

Pendidikan Menuju Taklif

Pendidikan Menuju Taklif

Nurul Lathiffah ;   Peminat Kajian Psikologi Pendidikan
REPUBLIKA,  08 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Dahaga pembelajaran emosi positif dalam dunia pedidikan semakin terasa. Orientasi pendidikan yang hanya berfokus pada kecerdasan kognitif tidak mampu memenuhi kebutuhan esensial pendidikan. Pendidikan idealnya mampu menumbuhkan pengetahuan yang terkristal dalam perilaku positif.

Cita-cita luhur pendidikan adalah terbentuknya manusia yang memiliki karakter yang humanis. Karakter ini penting karena nilai-nilai humanisme adalah penjaga keharmonisan hidup.

Dalam masyarakat yang humanis dan madani, anak-anak tumbuh dalam lingkungan psikologis yang sehat. Tanpa nilai-nilai humanis, anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan yang tidak kondusif, kejam, dan akan berdampak buruk terhadap perkembangan jiwa.

Cermin nyata terpuruknya moralitas dalam pendidikan adalah agresivitas yang dilakukan oleh siswa, perkelahian, tawuran, dan sejumlah aksi kekerasan lainnya. Terkait hal itu, tragedi terpuruknya moralitas dalam pendidikan mutakhir terulang. Sekolah kembali menjadi saksi peristiwa kekerasan di Jakarta. Para kuli tinta mencatat, Renggo Khadafi (11 tahun), siswa kelas V, SDN Makassar, Jakarta Timur, tewas di tangan rekan-rekannya. Penyebabnya sepele, ia tidak sengaja menumpahkan gelas minuman es seharga seribu rupiah.

Pada titik inilah, banyak pihak mempertanyakan kontribusi pendidikan dalam membentuk akhlak. Imam al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai reaksi spontan yang tampak dalam perilaku. Seharusnya, perasaan empati akan menghalangi siswa melakukan aksi kekerasan. Namun faktanya, pelaku kekerasan memiliki emosi yang "dingin", bahkan "beku".

Kenyataan pahit ini harusnya menjadi cambuk bagi dunia pendidikan untuk tegas melangkah. Mendidik siswa dalam rentang usia anak-anak (7-12 tahun) tidaklah mudah. Banyak orang tua dan pendidik mengeluhkan mengenai sulit- nya mendidik anak agar bertanggung jawab, matang, cerdas, memahami kewajiban dan hak, serta memiliki akhlak yang baik.

Lingkungan pendidikan anak kini semakin kaya akan pengaruh negatif. Kekerasan media yang dicontohkan dalam film kartun dan humor anak-anak banyak yang memuat ungkapan verbal negatif. Tidak hanya itu, anak-anak kerap disuguhi dengan tayangan kekerasan di media massa.

Kasus kekerasan yang dilakukan oleh siswa sekolah dasar merupakan isyarat bahwa pendidikan kognitif yang mengesampingkan pendidikan afeksi memiliki sisi negatif. Sudah saatnya pen ddikan diarahkan menuju arah pendewasaan. Pendidikan seharusnya mampu menyadarkan anak-anak mengenai tugas dan tanggung jawabnya sehingga pendidikan akan membantu dalam mengupayakan pendewasaan emosional dan mental anak.

Mendidik anak menuju taklif (kesadaran akan tanggung jawab sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan sebagai individu yang religius) memerlukan partisipasi dari banyak pihak. Pilar utama mendidik anak menuju taklif adalah keluarga. Anak-anak sejak kecil harus dipersiapkan untuk mulai bertanggung jawab. Ia sebaiknya mulai diberi kepercayaan dan diberikan dukungan untuk menjadi pribadi yang mandiri, matang, dan memiliki akhlak mulia. Dalam hal ini, orang tua haruslah memberi bekal ilmu agama kepada anak.

Keluarga juga dapat memberikan "spiritual parenting", yakni pengasuhan yang memiliki dasar-dasar agama yang baik. Hal tersebut akan menstimulasi rasa beragama anak sejak dini. Jika anak-anak diajarkan dengan dasar-dasar ilmu agama, harapannya anak-anak akan memiliki orientasi kehidupan yang baik pada masa depan.

Membimbing anak melakukan kewajiban ibadah serta memberi dukungan pada anak untuk belajar merupakan cara-cara efektif yang dapat dilakukan. Dengan cara membiasakan hal itu, secara alami anak-anak akan belajar mengenai kebiasaan positif, tanggung jawab, dan kemandirian. Hendaknya keluarga menjadi tempat bagi anak untuk mengasah hati, mengasah afeksi, dan memberikan tempat yang nyaman bagi anak untuk mengambil keteladanan.

Mendidik anak menuju taklif merupakan tugas orang tua, pendidik, juga masyarakat sekitar. Anak-anak yang pintar saja tidaklah cukup. Namun, arah pendidikan haruslah pada akhlak, tanggung jawab, juga pembinaan pekerti anak. Hal ini dapat ditempuh dengan cara memberikan perhatian dan pendidikan yang sebaik-baiknya pada setiap masa perkembangan anak.

Pada masa tamyiz, misalnya, yakni usia sekitar tujuh tahun, orang tua semestinya diajarkan dan dibekali kemampuan untuk menilai perbuatan baik dan buruk sehingga jika kemampuan ini telah dimiliki anak, hal ini akan menjadi bekal bagi masa pertumbuhan selanjutnya. Pun demikian, setelah itu pendidikan nilai-nilai kejujuran sangat diperlukan anak-anak untuk bekal dalam bersikap pada lingkungan.

Mendidik anak memerlukan banyak keterampilan. Mendidik anak menuju taklif memerlukan akhlak yang baik dari orang tua, pendidik, dan masyarakat di sekitarnya. Melatih anak bertanggung jawab sesuai dengan usianya merupakan ikhtiar memantikkan kecerdasan emosi pada anak. Akhirnya, ada hal-hal yang meski kita prioritaskan daripada sekadar kecerdasan. Maka, meniatkan pendidikan taklif untuk anak-anak merupakan pintu utama menyambut generasi harapan. Wallahu'alam. ●