Tampilkan postingan dengan label Mohamad Sobary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mohamad Sobary. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Januari 2018

Membongkar Kebohongan Profesi

Membongkar Kebohongan Profesi
Mohamad Sobary  ;  Budayawan
                                                 KORAN SINDO, 20 Januari 2018



                                                           
Kebohongan sering me­la­hirkan kebohongan. Dan, kebohongan yang baru lahir itu pun melahirkan  pula kebohongan generasi beri­kutnya. Begitu seterusnya. Ini rangkaian panjang kebohongan untuk menyelamatkan kebo­hong­an pertama tadi.

Ini  terjadi di mana-mana dalam kehi­dup­an sehari-hari kita.  Di peng­adilan dan di  penjara, banyak kita temukan corak kebo­hong­an ini. Pengadilan tak selalu ada hubungannya dengan keadilan.

Tapi jangan salah. Di bi­ro­krasi pemerintahan, di par­le­men, di partai politik, di dunia ke­dokteran,  pendidikan,  di wi­layah penegakan hukum, de­ngan segenap aparat dan para ahli hukumnya, maupun dalam kehidupan rohani dan para ro­haniwannya, banyak sekali ke­bohongan yang belum ter­ung­kap. Kita menginginkan agar semuanya terungkap demi ke­adilan yang merata, adil bagi sia­pa saja.

Di negara hukum yang mensyaratkan segala hal harus transparan, tak boleh ada yang sem­bunyi-sembunyi atau di­sem­bunyikan. Ini watak durhaka bukan hanya kepada hukum tapi juga pada kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kalau ada pihak yang ingin tidak  adil sekaligus tidak ber­adab? Dalam tata kehidupan ber­negara hal itu tidak mung­kin. Tapi apakah sebabnya se­tiap watak durhaka yang tidak adil dan tidak beradab itu prak­tiknya selalu ada? Mungkin ka­rena di tengah kita banyak orang yang ingin merusak kehidupan kenegaraan kita. Mung­kin ba­nyak di antara kita yang hatinya rusak dan tak bisa bersikap adil. Mungkin banyak di antara kita yang tidak beradab.

Contoh buruk sekali keja­hat­an besar, yakni penjahatnya tak mau diperlakukan dengan keadilan hukum dan memilih keadilan bagi dirinya sendiri. Koruptor besar yang sudah kaya raya sejak dulu, maunya menem­puh jalan adil sesuai cita ra­sa­nya sendiri. Kejahatannya se­bagai koruptor ingin ditutupi de­ngan aneka macam kebo­ho­ngan.

Satu kebohongan dibuat, kebohongan lainnya harus menyempurnakannya, dan ke­ja­hat­an berikutnya lagi terus-me­nerus diproduksi tak henti-hentinya hingga wajahnya be­gitu jelas merupakan wakil ke­ja­hatan yang tak bisa dibiarkan begitu saja.

Penjahat luar bia­sa yang me­rusak ke­ma­nu­siaan itu masih dibantu  oleh ahli hu­kum yang mem­be­la­nya. Apakah pembela harus juga men­jadi penjahat se­tara pen­jahat yang di­be­lanya?  Sejak awal te­ra­sa, pembelanya bo­hong besar. Ungkapan-ung­­­­kapan pem­be­la­an­nya serba super­latif,  ge­de, bombastis dan te­rasa kosong. Kita tidak enak menyaksikannya, tapi tak bisa ber­buat se­sua­tu biarpun kita tahu ke­benaran dan ke­adilan yang kita hormati di­injak-injak pem­bo­hong itu.

Ketika dalam suatu acara dia­log di televisi, dia diprotes ba­nyak kalangan, dengan enak­nya dia berbohong bahwa itu soal gaya, bahwa dirinya orang Su­rabaya yang gayanya me­mang begitu. Tidak bisa  dia ber­bohong di sini. Gaya hanyalah gaya. Sebuah fenomena bisa di­ungkapkan dengan gaya Su­ra­baya, gaya Yogya, gaya Minang, gaya Batak.

Gaya boleh lembut,  boleh keras, boleh menghentak, tapi di dunia ilmu bahasa gaya tak mencampuri isi. Gaya hanya kulit. Mengikuti kasus kejahat­an luar biasa terhadap ke­ma­nu­siaan, kita sudah merasa muak. Apalagi, pembelanya tampil tak kalah memuakkan.

Betapa ru­sak tata kehidupan hukum  ka­rena ulah klien dan pem­be­la­nya. Kita tak pernah tahu siapa saja dan berapa banyak kasus yang dibela para pembela de­ngan kualitas moral-hukumnya begitu rendah. Inilah seorang ahli hukum yang merusak sen­diri dunia hukum tempat dia mencari sandang pangan dan pro­fesinya.

Sikapnya yang sok  pamer ke­kayaan maupun kegemarannya pada kemewahan, sama sekali ti­dak etis. Banyak orang muak me­li­hat tingkahnya. Biasanya orang se­perti ini bukan keluarga kaya se­jak dulu. Boleh jadi ini fe­no­me­na orang kaya baru, kaya karena profesi dan kita diberi tahu, profesi yang luhur itu di­rusak de­ngan aneka macam cara berbo­hong yang akhirnya tak lagi mam­pu bertahan. Ba­rang busuk se­lalu berbau dan bau itu yang menunjukkan dia ada  di mana.

Ahli hukum terkemuka kita, Yap Thiam Hien, selalu ber­ta­nya pada calon kliennya: kau ingin menang apa ingin aku buk­tikan bahwa kau benar? Dan jika kliennya menjawab ingin menang, ahli  yang jiwanya di­li­puti watak adil dan beradab itu tak sudi membelanya. Ibarat­nya dia tak keberatan calon klien itu menjadi pembela yang lain di neraka sana.

Tapi bagi klien yang ingin di­buk­­tikan dirinya benar, Tuan Yap yang mulia itu  akan bekerja mati-matian sampai kebenaran klien­nya diakui di pengadilan. Ar­ti­nya, pihak yang mengejar ke­be­na­ran itu menjadi pemenang da­lam kon­tes mem­pe­re­but­kan ke­adil­an hu­kum. Pem­bela yang bo­hong jelas ber­ke­balikan dari itu. 

Hukum dihancurluluhkan de­ngan prak­tik buruk dengan war­na kebohongan yang me­re­meh­kan tun­tut­an rasa keadilan umum.  Sikap itu juga meren­dah­kan nalar sehat seluruh bang­sa seolah hanya dia yang tahu akan kebenaran.

Tapi ke­ja­hat­annya ter­ung­kap dan pe­la­ku­nya su­dah  ditang­kap. K­alau bisa, akan baik se­kali dia be­lajar dari pe­nga­laman bah­wa diri­nya bukan apa-apa. Kalau dia mau. Kalau ti­dak, itu juga baik ba­gi kita karena yang ha­rus di­tang­kap sudah di­tang­kap.

Kalau profesi hu­kum terlalu dekat de­ngan debat mendebat ten­tang kebenaran, te­rutama kebenaran hu­­kum, dan seorang pem­bela tergoda ber­buat tak se­nonoh se­cara  pro­fe­sio­nal,  apa yang harus kita  laku­kan?   Kita me­ma­hami kompleksitas per­soal­annya, tapi tak mungkin kita mau membe­nar­kannya. Kejahatan harus di­tang­kap dan diberi pela­jaran seperlunya. Ini keadilan hukum yang kita dam­bakan.

Bagaimana tiba-tiba ada dok­ter yang terlibat dalam ka­sus kejahatan ini? Kalau dokter mengalami musibah karena “malapraktik” kita tahu keruwetan dunia kedokteran. Mala­praktik merupakan sebuah ke­sa­lahan yang merugikan pasien dan dirinya sendiri maupun ma­syarakat secara umum.

Ini mu­si­bah yang masih bisa me­nim­bulkan empati banyak ka­la­ng­an. Tapi kalau seorang dokter ter­libat dalam sebuah perse­kong­kolan jahat, tindakannya jelas dianggap kejahatan. Da­lam kategori itu, dia sendiri dianggap jahat.

Negara sedang sibuk me­ne­gakkan hukum dan mengadili  kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan, dunia kedok­ter­an jelas memberi bantuan  pen­ting, tapi mengapa ada pula in­dividu dokter yang berbuat se­baliknya?  Duitkah yang ber­main di balik layar sehingga se­orang dokter swasta tergiur me­lihatnya? Be­ra­­pakah jumlah duit yang meng­giurkan itu? Ka­lau hanya sedikit jumlahnya, me­ngapa seorang dokter bisa ter­jebak? Kalau jum­lahnya ba­nyak, apa duit itukah yang dicari seorang dokter yang harus menjaga nama baiknya, nama baik lembaganya, nama baik profesinya? Duit hanya ker­tas. Duit bisa hilang, bisa ter­bakar, bisa dirampok.

Mengapa tak memilih men­jaga baik yang tak bisa dirampok dan tak mungkin habis? Apakah dunia kedokteran terutama ru­mah sakit yang kapitalistik itu yang telah meracuni kehidupan profesinya? Apakah duit di atas segalanya sehingga sebuah pro­fesi  mahal dan terhormat dipertaruhkannya? Ini persoalan yang kita hadapi. Kita lahir tak berdaya dan hanya bisa meng­ikuti gerak uang hanya karena banyak orang menempuh hidup seperti itu?

Kalau orang lain begitu, me­ngapa kita harus juga begitu? Menjadi pembela ditangkap penegak hukum  karena  meng­ha­langi proses pengadilan, mung­­kin masih kelihatan ada kaitan logis dengan tugasnya. 

Kalau seorang dokter ditang­kap penegak hukum karena ter­libat urusan mempersulit pe­ne­gakan hukum, apa hubungan de­ngan profesi kedokteran? Ka­rena dia dokter dan harus me­lindungi pasien? Kalau pasien­nya itu kere “mlekete “ dan me­larat, apa dia akan dibela juga? Bukankah untuk bisa masuk ke kamar saja begitu sulitnya se­hingga tak mungkin dia di­layani?

Hukum itu profesimu, milikmu, dan jangan dirusak. Kedokteran bukan profesiku dan bukan milikku, tapi jangan pula dirusak. Jika itu dilakukan, penegak hukum akan membongkarnya habis-habisan dan penjahatnya dibekuk. Kejahatan tak boleh dibiarkan merajalela. ●

Selasa, 28 November 2017

Kebohongan Segera Terbongkar

Kebohongan Segera Terbongkar
Mohamad Sobary ;  Budayawan
                                              KORAN SINDO, 27 November 2017



                                                           
SEMUA jenis ilmu miik Tuhan. Para ilmuwan memanggul kewajiban membantu Tuhan menegakkan kemanusiaan, kebenaran dan keadilan di bumi. Ilmuwan memanggul ke sana ke mari peran suci untuk melindungi orang-orang yang lemah. Mereka selalu membela orang-orang lemah itu sebagai dharma hidup. Dharma ini dilaksanakan dengan suka cita. Menjadi ilmuwan, orang berilmu, tak bisa berpangkutangan begitu saja.

Banyak peran ilmuwan. Mereka juga menjadi penyambung lidah rakyat. Lidah tak bisa berbicara tanpa ilmu. Di bidang hukum, cara ilmuwan menjalankan panggilan sucinya tampak khas. Usaha mereka menegakkan keadilan membuat para ahli hukum, atau ilmuwan di bidang hukum, memiliki semangat perjuangan yang begitu menggetarkan: keadilan harus ditegakkan biarpun langit akan runtuh.

Selama ahli hukum masih bisa melakukannya, mungkin dalam hitungan detik, penegakan hukum wajib diperjuangan. Jika langit sudah runtuh dan para ahli hukum tak lagi berdaya, lain lagi soalnya. Dalam situasi seperti itu kita tak lagi berbicara mengenai keadilan. Mungkin kita hanya diam menanti keadilan dari Tuhan, sumber dan pemilik segala keadilan.

Janji-janji para ilmuwan untuk melaksanakan peran itu mugkin terjadi bukan di bumi. Mungkin intu semua janji di sorga loka. Di bumi, keadaan tidak sama dengan di sorga. Godaan di bumi, terutama mungkin di bumi yang namanya Indonesia, banyak sekali. Godaan uang menggiurkan. Nafsu memiliki jabatan bergejolak di dalam diri manusia, seperti gejolak di samudera yang tak mudah diatasi. Godaan di bumi membuat para ilmuwan berkhianat.

Janji-janji yang dulu dijunjung tinggi kini dilupakan. Ilmuwan di bidang hukum, ahli hukum, praktisi hukum, pengacara atau pembela menyimpang jauh dari warna rohaninya sendiri. Ini kalau mereka semua masih punya sisi kehidupan rohani. Berhubung dunia ini begitu licin, orang memilih hanya yang termudah. Pilihannya jatuh pada kehidupan jasmani. Mungkin pada mulanya ini tak begitu mengenakkan. Ada pula perasaan malu. Bahkan orang masih bisa menyadari bahwa dirinya berkhianat terhadap peran utama mereka sebagai ahli hukum.

Tapi perilaku menyimpang itu juga suatu fenomena yang dipelajari. Apa yang pada mulanya tak enak, dan membuatnya merasa malu itu lama-lama menjadi terbiasa. Perilaku menyimpang yang memperoleh imblan materi membuat rasa malu itu menipis. Jika penyimpangan sudah menjadi kebiasaan dan imbalan atas tindakannya makin terasa menyenangkan, penyimpangan bukan lagi penyimpangan.

Menyimpang sudah menjadi sebutan masa lalu. Kini sebutannya kebiasaan. Dan kebiasaan itu berlangsung terus tanpa cela tanpa kesadaran akan implikasi dosa ini dan itu, dan ancaman hari akhir yang begini dan begitu. Hari akhir itu urusan nanti. Orang beriman pun bisa tiba-tiba tak begitu tertarik lagi membicarakan kehidupan di hari akhir. Orang yang saleh pun bisa saja lalu berlagak pikun: apa betul hari akhir itu ada? Kaum materialis, yang tak percaya pada apa yang tak jelas, yang bukan materi, jelas menolak apa yang tak pasti. Mereka melebih-lebihakn begitu rupa apa yang jelas dan pasti dalm hidup sekarang. Duit, kekuasaan dalam birokrasi, jabatan, kedudukan di partai politik, wibawa dan kemuliaan duniawi, lebih mempesona.

Apa gunanya memikirkan janji surga untuk hidup dalam tatanan etis dan moral maupun hukum, kalau semua itu menyulitkan? Apa gunanya taat pada janji kalau ada tawaran hidup lebih megah, dengan duit, duit dan posisi duniawi lainnya yang lebih nyata? Orang lalu mudah berkata: apa salahnya menyimpang? Siapa yang tahu bahwa kita menyimpang? Lagi pula siapa bakalm menghukum penyimpangan kita?

Lebih-lebih kalau kita bertemu orang yang juga menyimpang. Perasaan sama-sam menyimpang membuat orang bisa membangun solidaritas. Kalau orang yang menyimpang itu ingin disebut tidak menyimpang, yang salah ingin disebut benar dan kita bisa menolongnya, apa salahnya membelanya kalau honornya luar biasa besar? Honor besar itu dambaan. Dengan honor besar itu hidupnya berubah drastis menjadi orang kaya.

Orang yang bisa mengubah kita menjadi orang kaya itru layak dibela mati-matian. Disuruh apapun akan ditaati. Disuruh berbohong? Dilakukan. Apa salahnya berbohong kalau sesudah itu kita menjadi kaya raya? Disuruh menipu publik dengan berbagai manipulasi? Tidak masalah. Publik mudah ditipu dengan berbagai kebohngan. Gunakan orang berpengaruh. Ajak wartawan. Ajak siapa saja merekayasa kebohongan agar apa yang bohong dan yang tidak bohong tak mudah dibedakan.

Disuruh nabrak tiang listrik pun mau. Melakukan manipulasi medik, membuat orang sehat menjadi seolah sakit parah? Mudah. Ada dokter yang bisa diajak berbuat begitu dengan berbagai dalih profesional seolah profesi lebih agung dari kebenaran, kemanusiaan dan keadilan. Begitu pengaruh kekuasaan dan duit.

Pengaruh orang yang kekuasaannya besar, jabatannya tinggi dan duitnyatak terhitung, lebih hebat lagi. Perintahnya untuk melakukan apapun bakal dituruti. Bagaimana kalau kita menjadi pembela--lawyer—yang bekerja dengan bingkai moral dan menjaga tegaknya profesi? Tidak ada masalah. Duit itu penting. Raihlah duit itu hari ini, selagi masih sempat. Katakan profesi tak dilanggar. Jadi kita masih berada dalam bingkai profesi terhormat. Dan duit banyak akan mampu membuat kita seolah-olah menjadi lebih terhormat.

Kalau orang yang besar kekuasaannya dan tinggi jabatannya dengan duit tak terhitung itu menyuruh kita, sebagai pembela, melawan arus kebenaran dan keadilan? Kita lakukan, Duit itu penting. Disuruh apapun, selama ada duit dalam jumlah besar, orang akan melakukannya. Disuruh menjilati telapak kakinya, menjilati sepatunya, menjilati keringatnya, akan ditaatinya.

Dalih, dalil, argumen—termasuk yang konyol dan ngawur—bisa dibuat. Disuruh melakukan perbuatan lebih jorok lagi pun tak masalah. Argumen kita kelihatan konyol tak masalah pula. Kita bikin apa yang di mata orang lain kelihatan konyol itu seolah benar, lurus, suci dan mulia. Kita harus berani nekat. Berani konyol. Berani ngawur. Berani badut-badutan. Komis tebal rontok semua bukan suatu masalah. Di pasaran banyak komis palsu untuk mengganti sementara.

Apa salahnya ngawur, konyol dan badut-badutan kalau honornya besar? Diteriaki orang banyak, dikutuk dan disumpahi di mana-mana? Katanya, itu risiko perjuangan. Hidup punya risiko. Lawan suara orang banyak dengan dalil-dalil yang kelihatannya benar. Keluarga, istri dan anak-anak dan orang tua maupun mertua tahu kekonyolan kita? Jelaskan dengan cara meyakinkan agar mereka paham.

Kalau mereka mengerti bahwa kita konyol sekonyol-konyolnya? Beri argumen ngawur. Dan kalau mereka masih mendebat? Lawan terus secara ngawur dan kemudian lupakan. Jangan masukkan ke dalm hati. Mungkin betul. Lagi pula hati apa? Orang senekat itu, sebohong itu dan sekonyol itu hanya melihat duit dengan akal. Hati tak lagi terlibat. Itu pun kalau dia masih punya hati.

Tak sedikit jumlah orang yang bisa dan dengan mudah,menjual jiwanya kepada setan demi kenikmatan duniawi. Bagaimana kalau semua kebohongannya segera diketahui umum, dan dia tak bisa berkelit lagi? Bagaimana kalau kita tak lagi berdaya dan di depan umum kita ibaratnya telanjang bulat dan dipermalukan? Zaman sekarang kebohongan mudah segera terbongkar. Tapi mengapa orang terus bohong? Zaman sekarang koruptor mudah ketahuan dan dipenjara dan dipermalukan. Tapi mengapa orang tetap korup dan tak lagi merasa malu?

Kebohongan segera terbongkar mungkin bukan masalah. Orang tetap melakukan kebohongan karena tak bisa melakukan yang lain, dan punya apapun lagi selain kebohongan itu. Mungkin kebohongan sudah menjadi identitas dirinya dan nama panggilannya. ●

Selasa, 20 Juni 2017

Tragedi Kaum Tani

Tragedi Kaum Tani
Mohamad Sobary  ;   Esais; Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
                                                   KORAN SINDO, 17 Juni 2017



                                                           
Kehidupan petani yang teraniaya, terancam, dan penuh teror, digambarkan dengan baik di dalam sebuah film koboi Savate. Di negara bagian Texas, ketika masih berlaku hukum rimba, muncul pertarungan dua kekuatan tak seimbang: pebisnis besar vs p tani.

Sang pebisnis digambarkan sangat kaya, ganas, dan serakah, didukung kekuatan lengkap: centeng yang setia, oknum tentara, ahli hukum, dan pengadilan yang seolah sudah menjadi miliknya. Petani, pemilik tanah, di teror siang malam agar tanah milik mereka dijual dengan harga semurah-murahnya kepada sang pebisnis tadi. Dialah yang menentukan secara sepihak harga tanah. Model tawarmenawar tidak ada . Di sini satu satunya hukum yang berlaku hanya bedil.

Maka siapa kuat— punya bedil, punya duit, punya centeng dan dukungan oknum tentara dan hukum tadi—niscaya menang. Rencana busuk agar penindasan itu berlangsung dengan gemilang disusun. Di sana seolah bakal dibangun sebuah kota dan jalan kereta api. Jadi otomatis orang mudah merasa terpaksa untuk melepaskan aset mereka. Harga murah semurah-murahnya merupakan pertimbangan yang sangat mem beratkan. T

api sang pebinsnis dan segenap kaki tangan nya selalu mengatakan di depan umum bahwa mereka hanya menolong para petani itu. Tak semua petani merasa gentar. Ada anak muda, Cain, yang bertahan dengan gigih. Dia tak sudi menjual tanahnya. Cain pun memengaruhi para petani lain untuk tetap bertahan. Ini merupakan duri dalam wilayah yang sudah ada di dalam genggaman sang pebisnis. Cain dimusuhi secara terangterangan. Pada suatu malam gudang dan kendang kam bingnya dibakar orang yang tak dikenal, dalam gelap.

Orang kampung se tempat gempar. Cain menemukan bukti meyakinkan si apa yang membakarnya. Dia datangi centeng, j ago tembak, milik san g pebisnis. Pertengkaran terjadi dan r ingkas cerita mereka siap adu cepat menekan pelatuk senjata. Cain hanya petani, bukan jago tembak sebagaimana lawannya. Orang yang gagah berani itu tertembak . Dia gugur membela hak milik yang wajib dibela. Adakah kematian Cain menjadi lambang kekalahan petani? Ternyata tidak. Cain mati, tapi semangatnya tetap hidup di kalangan petani yang menjadi lebih berani. Seorang jagoan jalanan, kabarnya tentara Prancis yang sedang ber tualang , mampir di desa itu.

Dialah, yang atas nama Cain, membela seluruh petani, meng gasak si pebisnis dan segenap orangnya. Jagoan ini juga membongkar rahasia busuk mengenai kota khayalan dan jalan kereta api yang sebenarnya tidak ada. Bahkan dalam rencana pun tidak ada. Di balik asap mesiu yang masih mengepul, tergeletak bangkai para penindas. Dan tak jauh dari sana terhampar ladang para petani dan harapan masa depan mereka.

Di sini kemudian muncul dalil kehidupan sosial yang jelas dan tegas: hanya orang berani yang punya hak untuk membangun harapan. Para penakut sudah tergilas dan lenyap. Kita punya sejarah, yaitu sejarah kehidupan petani, yang penuh dengan tragedi. Dalam Pemberontakan Petani 1888, karya monumental sejarawan Sartono Kartodirdjo, digambar kan munculnya gerakan Nativisme, gerakan orangorang lokal, petani setempat, melawan kekuatan asing , yaitu penjajah Beland a.

Petani berani melawan karena di belakang mereka ada barisan kiai-kiai tarekat terkemuka yang mendorong mereka dengan ideolog i keagamaan untuk melawan. Wujud perlawanan begitu kontras: kaum tani setempat, pribumi yang beragama Islam, melawan kaum kafir, golongan kulit putih yang menja jah mereka . Gerakan Nativisme ini menggelembungkan semangat lokal sambil mendambakan lahirnya kembali Kesultanan Banten untuk meng usir penjajah asing. Kata nasionalisme belum di - sebut dengan jelas, tapi kaum “native” dengan gerakannya me lawan kekuatan asing.

Terlihat polarisasi kesadaran mengenai apa “nasional” vs yang “g lobal”. Dalam se jarah tersebut, pemberontakan petani terasa begitu tragis. Mereka ditumpas dalam waktu cepat dan mud ah. Kemudian petani hanya punya satu pilihan: tunduk, mau tak mau. Mereka sudah dikalahkan. Kekuatan organisasi, perencana an, senjata, d an tentara unggul atas jimat dan segenap jampi-jampi yang semula menjadi jaminan bahwa mereka tak bakal bisa ditembus peluru.

Tapi mereka ter tembak. Petani menelan tragedi kehidupan yang lebih dari sekadar getir. Adakah kekalahan mereka membuat petani hancur luluh? K elihatannya tid ak. Kekalahan mereka menjadi kenangan. Selebihnya kegetiran di Banten itu bahkan menjala kaum tani dalam generasi sesudahnya. Juga petani di tempat lain. Kita bisa mengambil contoh dari banyak peristiwa konflik agraria di Tanah Air. Mungkin dalam peristiwa itu petani pun kalah. Tapi petani tampil sebagai kekuatan revolusioner yang sangat berani.

Musuh mereka intinya masih sama: kaum pengusaha yang didukung pemerintah setempat, peme rin tah yang seharusnya melindungi petani. Ada petani yang tersingkir sejak semula, ada yang dikalahkan sesudah ber tem pur. Meskipun demiki an me reka tak merasa kalah. Tragedi ke kalahan bahkan diolah men jadi modal baru perlawanan yang lebih strategis, lebih terencana, dan lebih ideologis. Petani tembakau Temang - gung mungkin bisa dijadikan contoh.

Di dalam buku Perlawanan Politik dan Poetik Petani Tembakau Temanggung yang saya tulis , tampak gambaran si k ap ideolog is petani. Mereka melawan kebi jakan pemerintah SBY yang sangat pro-kepentingan asing. Unsur kepen ting an asing ini menambah energi kemarahan mereka. Di sini pun petani tembakau diposisikan menjadi pihak yang sulit . Dari “pusat” dikumandangkan perlunya petani ber alih tanaman. Mereka diberi pilihan, disebut pilihan yang baik, untuk berhenti menanam tembakau dan beralih ke tanam an kopi.

Guber nur Jawa Tengah kala itu, Bibit Waluyo, mengeluarkan per aturan tanam paksa gaya yang lain: tanaman kopi tadi. Mereka yang sudah beralih ke tanaman kopi akan diberi insentif. Ada iming-iming menarik. Tapi tak seorang pun petani yang tertarik . Mereka melawan “pusat”, SBY, sekaligus daerah, Bibit Waluyo. Gubernur Bibit Waluyo bahkan diganti nama oleh petani dengan se - mangat mengejek kaum atasan yang beg itu telak : Bibit Suloyo.

Komunikasi pemimpin dengan pihak yang dipimpin tak terjalin. Petani yang diposisi kan ke dalam kesulitan tak mau menurut. Bagi mereka ini bu kan lagi zaman penjajahan. Juga bukan zaman tanam paksa. Inilah contoh komu nikasi yang gagal total sampai kedua pejabat itu kembali menjadi rakyat bi asa seperti petani. Kita tak ingin mengulas pemimpin macam apa yang di - hadapi petani itu. Tapi kita ingin melihat lebih dekat pihak petani. Mereka petani terpelajar. Tokoh-tokohnya sarjana.

Semua melek teknologi informasi. Mereka mengerti arti komunikasi politik lewat media dan terampil pula mereka menggunakan media. Selebihnya mereka menger ti cara-cara melakukan lobi politi k. Mereka pun memiliki organisasi. Dan kurang lebih mereka pandai menyusun perencanaan untuk melakukan perlawanan. Mereka paham akan strategi mencari pengaruh dan mengolah infor masi.

Jangan lupa, mereka generasi muda yang lebih blak-blakan, lebih terbuka, dan tak mengenal kata ewuh pekewuh, rasa eng gan, atau kurang enak. K alau diperlukan sikap main serobot, mereka bisa menyerobot. Mereka petani zaman ini, petani yang sadar apa artinya yang nasional dan yang global. Pemerintah yang terlalu prokekuatan global dilawan.

Di sini petanilah dan bukan pejabat yang lebih siap berbicara mengenai apa yang kurang lebih bisa disebut nasionalisme. Mereka tak sudi diposisikan sebagai tumbal untuk menjun jung tinggi apa yang asing dan global. Tragedi petani di masa lampau tak boleh ter ulang dalam kehidupan petani masa kini. Dunia pertanian dan petani sudah bukan yang dulu lagi. ●

Senin, 29 Mei 2017

Tembakau dalam Tradisi

Tembakau dalam Tradisi
Mohamad Sobary  ;  Esais; Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
                                                    KORAN SINDO, 27 Mei 2017



                                                           
Namaku tembakau. Aku hidup dalam tradisi yang penuh warna rohani, gotong royong, rukun, dan damai di kalangan orang-orang yang hidup bersaudara.

Tak semua memiliki hubungan darah dari leluhur yang sama. Juga tak semua diikat oleh tali perkawinan. Namun, ada semangat kebersamaan yang kuat, kami bersaudara. Tiap orang di sini saudara bagi yang lain. Satu bermasalah, yang lain datang menolong. Satu sakit, yang lain turut merasakan derita itu. Petani merupakan saudara bagi petani lainnya. Ini sejarah hidup petani di sini. Rupanya, saudara tak harus berasal dari ikatan darah. Tak perlu harus dari perkawinan. Nasib bisa menjadi ikatan lebih kuat, juga tradisi. Nasib dan tradisi mengikat mereka menjadi saudara, tak kalah dari ikatan darah dan perkawinan. Itulah hidup petani. Mereka petani tembakau.

Segenap kebutuhan hidup mereka bergantung pada tembakau. Masa lalu mereka tembakau. Masa kini mereka tembakau. Masa depan mereka pun tembakau. Aku tembakau. Petani itu pun semua tembakau. Petani bersatu karena tembakau. Petani bergotong royong karena tembakau. Petani bersaudara pun karena satu alasan, tembakau. Aku — tembakau— dan mereka —petani— hidup di sini. Susah atau senang, di sini. Duka cita ditempuh bersama di sini. Petani hidup di sini. Kelak, pada umumnya, mereka mati di sini. Aku, tembakau, menjadi saksi. Kematian demi kematian, dalam abad-abad yang lewat, terjadi di depan mataku. Namun, aku juga saksi kejayaan mereka. Aku saksi yang melihat dari dekat bagaimana hidup mereka.

Dari dekat? Kata itu boleh jadi tidak begitu tepat. Kata dekat dipakai kalau ada jarak. Aku dan petani tak pernah berjarak. Tembakau dan petani itu satu. Kami bagaikan makhluk yang datang dari sejarah yang sama, memanggul misi hidup yang sama. Kami bertolak dari sini, tapi kami pun berlabuh di sini. Ibarat kapal, kami bertolak dan berlabuh di sini karena kami bersaudara. Sekali lagi, petani saudara bagi petani yang lain. Tak pernah ada orang yang mau membuang waktu memikirkan siapa sebenarnya mereka. Semua orang sibuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidak ada yang bersedia membuang waktu menelusuri asal-usul mereka. Tiap orang lahir di sini, besar di sini, dan mati di sini.

Sekali lagi, itulah hidup petani. Kelihatannya semua sudah merasa begitu berbahagia dengan kehidupan mereka seharihari. Mereka begitu tenteram, senang, dan rela menerima apa adanya hidup ini. Hidup untuk dinikmati dan disyukuri, tak perlu risau tentang sejarah, siapa leluhur mereka. Para petani itu sudah puas memiliki seorang leluhur mitologis, Ki Ageng Makukuhan, yang bergelar Ki Ageng Kedu, Sunan Kedu, Prabu Kedu, dan Wali Kedu, yang dikenal juga sebagai Wali Agung Makukuhan, murid Sunan Kudus. Apa lagi yang harus dicari, bila kita sudah memiliki sendiri ikatan emosional dengan seorang tokoh besar seperti itu?

Apa yang kurang pada seorang yang bisa disebut ciri identitasnya sebagai seorang wali agung? Aku, tembakau, hanya sejenis tumbuhan di Gunung Sumbing yang anggun, gagah, dan memesona. Dari jauh warnanya biru, sebiru laut atau langit. Dari dekat sikapnya lembut. Aku, tembakau, dan para petani, semua dipeluknya erat-erat, dengan embusan energi hidup yang membuat kami merasa begitu nyaman dalam napas keibuannya. Wali Agung Makukuhan dan Gunung Sumbing, dua entitas yang terpisah itu, bagi kami satu. Wali Agung membuat kami bersaudara. Gunung Sumbing mengikat kami dalam persaudaraan yang sama. Semua menjadi petani. Semua rukun.

Semua saling membantu. Hidup menjadi begitu romantis, seperti kisah di dalam sebuah dongeng? Tunggu, tunggu. Bukan begitu maksudnya. Ketegangan, salah paham, dan konflik juga terjadi dalam hidup mereka. Kemarahan ada kalanya meledak karena suatu persoalan kecil. Ada pula persaingan dalam hidup mereka sehari-hari, mungkin karena urusan tembakau, mungkin karena hal yang lain. Namun, konflik itu berhenti pada konflik.

Salah paham berakhir dengan saling pengertian yang mendalam, dan tak ada kekuatan yang bisa membuat mereka lupa akan persaudaraan. Dalil bahwa petani merupakan saudara bagi petani yang lain, sampai sekarang tak berubah. Mungkin, bagi petani, tak ada urusan lebih penting, lebih besar dibanding persaudaraan. Para petani bersaudara secara alami. Mereka bersaudara tanpa dibuat-buat. Namun, Gunung Sumbing bukan Gunung Mahameru, tempat para dewa bersemayam.

Orang Jawa, melalui tradisi sastra lisan yang dimainkan di panggung dunia wayang, percaya Gunung Mahameru tempat para dewa, tapi Gunung Sumbing bukan. Di sana hanya ada sebuah petilasan yang ditinggalkan Ki Ageng Makukuhan, yang bukan dewa, melainkan wali. Para petani yang hidup dalam pelukan Gunung Sumbing itu pun bukan keturunan dewa-dewa. Mereka hanya petani. Mereka hidup pada zaman ini, zaman modern, di dunia yang sangat kapitalistik. Sementara aku, tembakau, di zaman ini bagaikan gadis cantik yang menawan hati para pedagang. Juga —atau terutama— pedagang asing yang terkenal dalam hal segi keserakahannya.

Mereka tak mau berdagang kecil-kecilan. Tembakau di seluruh dunia hendak dikuasainya sendiri. Perdagangan tembakau harus berlangsung di beberapa tangan pedagang, dengan semangat monopolistik yang disembunyikan. Monopoli tanda watak serakah tanpa batas. Mereka bisa menguasai negara-negara di dunia agar tunduk pada keserakahan tadi. Agar cita-citanya menguasai dunia tercapai, mereka bikin suatu dongeng fantastis yang belum pernah ada di dunia dongeng anak-anak. Mereka bicara kepedulian untuk menjaga kesehatan penduduk dunia. Mereka bicara rokok sebagai bencana.

Mula-mula ada penjelasan yang disebut ilmiah bahwa rokok merusak kesehatan ini kesehatan itu, misalnya mengganggu janin, menimbulkan impotensi, banyak urusan yang dirusak rokok. Lalu tanpa ba tanpa bu, muncul dalil baru, merokok membunuhmu. Petani melawan, merokok matek (mati), tidak merokok matek (mati) maka merokoklah sampai matek (mati). Ini wujud kemarahan mereka. Karena demi dalil kesehatan tadi, pemerintah mengeluarkan aturan yang membatasi konsumsi rokok dan mengancam nasib hari depan petani. Mereka berorganisasi dan bersatu padu melawan kebijakan tadi.

Bertahuntahun petani berjuang untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. Namun, pemerintah yang lebih mendengar suaranya sendiri dan suara pedagang asing, tak memedulikan mereka. Petani meradang. Teriakan mereka bukan lagi tentang persaudaraan, tapi tentang perlawanan, melawan kebijakan asing yang diterapkan dalam kebijakan negara kita, oleh pemerintah kita, didukung wakilwakil rakyat kita. Perang belum berakhir.

Persaudaraan pun tak tergoyahkan. Sambil tetap waspada melawan apa yang wajib dilawan dalam hidup mereka, sekarang petani sedang gigih berjuang menuntut dikeluarkannya undang-undang pertembakauan yang runyam. Bukan undang-undang yang muncul, tapi politik memperdagangkan konsep undangundang. Politisi bermain di sini. Petani menanti dalam penantian tak berujung. Aku, tembakau, hidup dalam tradisi yang begitu dinamis. Tradisi leluhur penuh bisikan rohaniah, sehingga dalam setiap sajen, kembang yang “duniawi” sekaligus menjadi yang “surgawi”, kemenyan yang “profan” sekaligus menjadi yang “kudus”, dan para aktor yang “manusiawi” menjadi sekaligus yang “ilahi”.

Dalam tradisi dunia bisnis, kebalikannya. Di sini tak disebut kata “manusiawi” atau “ilahi”. Paksaan, ancaman, dan tekanan begitu dominan. Namun, paksaan dan tekanan itu sering ditampilkan dalam bahasa duit, duit, dan duit. Orang tak bicara hitungan kecil. Satuan hitungan mereka, miliar, atau triliun. Aku, tembakau, cemas. Tapi petani, yang juga cemas, kulihat masih sibuk melawan dan melawan. Jadi, tembakau dalam tradisi itu cermin kecemasan yang dalam, tapi juga dinamika perlawanan yang gigih dan pantang menyerah. ●

Selasa, 14 Februari 2017

Kaum Nahdliyin Tidak Tidur

Kaum Nahdliyin Tidak Tidur
Mohamad Sobary  ;   Esais; Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
                                               KORAN SINDO, 13 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Godaan politik selalu ada dan sering tak terduga. Ada kalanya halus dan lembut. Tapi tak jarang agak kasar. Namun di balik itu semua ada uang, ada pula tawaran jabatan dan sejenis kemewahan dunia lainnya. Ada beberapa orang yang tergiur. Tapi banyak yang tetap waspada. Golongan yang waspada ini ibaratnya kaum yang tak pernah tidur. Harus dicatat, di antara mereka ada yang bersedia menjadi kaki tangan pihak yang selalu berusaha memengaruhi NU supaya mau berbuat sesuai dengan kehendak politiknya. Orang bersedia menjadi kaki tangan itu tak mampu memengaruhi saudara-saudaranya sendiri. Dia tak berpengaruh. Di sana-sini dia sendiri dan sepi.
 ga tak terlalu memburu posisi duniawi. Apalagi bila posisi duniawi itu diperoleh melalui persekongkolan politik yang keruh, buram, dan membikin keruh kehidupan dunia yang bernama Jakarta atau Indonesia.

Hidup nyata seperti ini dan dunia simbol dalam kesenian tradisional kita terasa seperti bertukar tempat. Mana yang simbol dan mana yang disimbolkan ada kalanya seperti tak terdeteksi.

Tapi kita bisa membikinnya menjadi lebih jelas bahwa dunia nyata seperti ini sering ditampilkan secara simbolis di dunia sastra Jawa. Ada lakon yang menggambarkan pihak Kurawa siap membunuh sekarang juga keluarga Pandawa. Tipu muslihat dan penyusupan secara lembut dilakukan hampir tak kentara. Kekuatan sakti yang tak tertandingi sudah siap turun ke gelanggang. Keluarga Pandawa bahkan sudah diringkus oleh tipu muslihat tadi.

Ibarat kata, membunuh mereka sama mudahnya dengan memijit tombol lift untuk masuk atau keluar ruangan kecil itu. Tapi kejahatan dan tiap jenis kejahatan selalu memiliki celah-celah kelemahan. Kekuatan sakti yang tak tertandingi itu ketemu musuh sakti pula. Mereka bertempur hebat. Tapi lama kelamaan kekuatan sakti yang memihak Kurawa, pihak jahat, bisa dikalahkan. Musuh yang mampu mengalahkannya seekor kera putih bernama Anoman.

Pihak jahat yang dikalahkan itu penjelmaan roh Dasamuka, raja generasi sebelumnya, yang memerintah negerinya dengan segenap kejahatan. Rakyat banyak yang menjadi korban karena peperangan. Raja-raja dan negara-negara tetangga gentar. Mereka selalu risau karena Dasamuka bisa saja menjarah rayah dan menjajah negeri mereka. Kedok sudah terbuka. Kejahatan dapat diusir jauh-jauh dan Pandawa kembali ke dalam kehidupan sehari-hari yang penuh kerja keras untuk menyejahterakan raknya.

Dan kaum nahdliyin? Mereka kembali ke dalam wadah NU, hidup dalam ke-NUan dan ke-Indonesiaa-an yang telah dirintis sejak bertahuntahun dalam perjuangan NU mewujudkan wawasan kebangsaan bahwa NU itu manunggal dengan Indonesia, masuk ke dalam Indonesia dan bagian dari Indonesia. Manunggal dengan Indonesia itu kurang lebih artinya manunggal dalam pluralitas kebudayaannya, manunggal dalam cita-citanya, dan menjadi satu dalam perjuangan membikin Indonesia ini aman, makmur, dan sejahtera.

Perjuangan di jalan ini tidak mudah. Realitas politik yang keras dan kasar menarik-narik NU ke sana-kemari. Tapi NU punya khitah perjuangan sendiri. Dan sekitar dua puluh tahun yang lalu NU perlu meneguhkan dirinya untuk kembali ke khitah. Dan artinya kita tahu: sekali NU tetap NU. Organisasi keumatan yang sudah memiliki kiblat ”moral politik” itu selalu sadar untuk kembali ke garis pijak moralitasnya sendiri. NU tak ingin menjadi orang lain.

NU hanya ingin menjadi diri sendiri. Tapi seperti disebutkan di atas, menjadi diri sendiri itu pun tidak mudah. Godaan politik selalu ada. Dan jangan lupa, godaan politik itu datang dari kekuatan lain, melalui tangan-tangan saudara kita sendiri. Ada kalangan yang menggoda kaum nahdliyin itu juga warga kaum nahdliyin sendiri. Tapi melalui saluran mana pun, kaum nahdliyin tak terpengaruh. Kita kembali ke dunia pesantren.

Kita berbicara tentang pendidikan. Kita kembali ke dunia kekiaian, tempat umat bertanya dan berkonsultasi. Dunia kekiaian itu dunia pelayanan dan pengayoman. Kita kembali ke Muslimat NU: dunia kaum ibu nahdliyin yang gigih mencari pencerahan dan menyiarkan pencerahan itu ke dunianya yang luas, dunia kaum ibu tapi juga dunia kaum bapak. Kita kembali ke Banser, kekuatan pengamanan dan pengayomagarkehidupankaum nahdliyin aman damai.

Tapi Banser juga kekuatan politik yang nyata dan turut mengawal tegaknya wawasan kebangsaan NU. Dalam situasi kritis dan mendesak, Banser merapatkan barisan anggota-anggotanya. Tapi tak hanya menjaga diri sendiri. Banser juga menjaga kaum nahdliyin secara keseluruhan. Dia bersuara. Mungkin tujuannya mengingatkan agar kaum nahdliyin tak turun terseret arus deras perpolitikan Jakarta yang sedang sangat panas pada saat ini.

Biarkan politik berjalan di atas jalur sendiri. Biarkan yang jahat bekerja dengan agendanya. Kalau mampu, kita mengingatkan. Kalau mungkin kita mencegah. Minimal kita menjaga keluarga kita sendiri. Menjaga keluarga sendiri itu bagian dari prinsip politik yang disebut meneguhkan ke-NU-an kita tadi.

Meneguhkan ke-NUan bukan hanya bicara mengenai politik identitas kita, tetapi jug—dan itu yang lebih bermakna bagi kehidupan yang lebih luas—kita bicara tentang kontribusi kita bagi kehidupan bangsa dan negara. Ini amalan nyata dari wawasan kebangsaan NU yang sudah disebutkan di atas. Tarikan-tarikan politik praktis, apalagi yang berbau kejahatanuntukmengadu domba kita dengan kekuatan partai lain, yang juga saudara kita, tak memengaruhi kita.

Sebaliknya, yang mau memengaruhi kita, sudah pusing karena segenap langkahnya menemui jalan buntu. Apa yang zalim memang layak menemui jalan buntu seperti dalam lakon di mana roh jahat Dasamuka gentayangan. Kita tak tergoda. Ini berkat naluri baik kita.

Kalau kiai-kiai sepuh yang terhormat, kiai-kiai yang menjaga moralitas NU dan martabat ke-NU-an dan ke- Indonesia-an sudah turun gunung dan memberikan nasihatnasihatnya kepada seluruh warga nahdliyin, kita akan menjadi lebih solid, lebih kukuh, lebih ideologis. Kita menanti sejumlah tokoh besar merasa bahwa saatnya telah tiba untuk menurunkan petuah, fatwa, dan nasihat-nasihatnya kepada kita, kaum muda yang banyak jumlahnya.

Ada kaum Gusdurian yang terserak di seluruh pelosok Nusantara. Ada pula kekuatan-kekuatan nahdliyin yang lain. KH Ahmad Mustofa Bisri, yang dikenal luas sebagai Gus Mus, KH Maimun Zubair, KH Nawawi Abdul Djalil, Prof Dr KH Nazaruddin Umar, KH Ahmad Basyir, KH Ahmad Shodiq, dan masih banyak tokoh lain yang dapat diharapkan bakal mampu membimbing umat agar tak terseret-seret di jalan yang tak selayaknya.

Apalagi diadu domba dengan pihak lain yang juga saudarasaudara kaum nahdliyin: saudara sebangsa dan setanah air yang bisa diajak kerja sama menata kehidupan ini secara damai. Banyak kekuatan kiai yang belum secara maksimal kita mohon perlindungan dan nasihatnya buat kaum muda. NU tak kekurangan sumber daya insani yang berkualitas. NU tak mungkin lalai dalam perjuangan ini. Kaum nahdliyin tak pernah tidur. Tiap saat waspada, tiap saat NU terjaga. ●

Kamis, 14 Agustus 2014

Ego Setinggi Langit

                                                  Ego Setinggi Langit

Mohamad Sobary  ;   Budayawan
SINAR HARAPAN, 13 Agustus 2014
                                                
                                                                                                                                   

Kalah secara terhormat memang tetap kalah, tapi kita tak kehilangan kehormatan. Ketika seorang cowboy terkemuka, “raja” di prairie disergap dengan begitu mudah. Ia menjadi tak berdaya di tangan seorang yang dianggapnya “pelonco” tak berarti di dalam kehidupan wild-wild west di Benua Amerika.

Dia luka hati, dilecehkan, dan merasa dihina sehina-hinanya oleh keadaan sehingga dia berpendapat lebih baik mati. Apalagi gunanya kebesaran, jika dunia yang kejam ini membiarkannya dikalahkan seorang “pelancong” tak bernama?

Ditilik dari bedilnya yang begitu mengilap, yang mengesankan baru saja dipamerkan dalam parade senjata, mustahil dia orang penting dalam percaturan hidup di daerah Barat yang “liar” itu.

Tak diragukan lagi. Dia bukan “jagoan” prairie, padang rumput Benua Amerika yang menjunjung tinggi kekuatan otot dan kecepatan menarik pelatuk senjata itu.

“Bunuh sajalah aku, malu rasanya Sens-ear dikalahkan oleh seorang pelancong,” keluhnya dengan perasaan terhina. Tokoh yang dikiranya seorang pelancong itu pun kaget bahwa orang yang dikalahkannya ini ternyata orang dengan nama besar, yang membuat semua orang Indian merasa lebih baik menghindari orang yang seolah bukan apa-apa ini. Namun, si tua ini Sens-er.

Karena itu, si “pelancong” pun merasa iba. Dia menghibur musuhnya dengan lemah lembut dan meyakinkan bahwa dia bukan sedang terhina dan dunia tak sedang bersikap kejam kepadanya.

“Bagaimana tidak terhina kalau seorang Sens-er disergap begitu mudahnya oleh orang yang bukan penduduk prairie?” jawabnya galak.

“Siapa bilang aku bukan penduduk prairie? Aku ini Old-Shatterhand”

“Apa? Kau mau memperbodoh aku? Mana bisa Old-Shatterhand semuda ini?”

“Apa kau lupa bahwa sebutan 'old' tak selalu berarti tua dalam usia?”

Begitu inti dialog dua tokoh besar dunia prairie, yang baru bertemu secara tak terduga untuk pertama kalinya. Sebagaimana dikisahkan Karl May dalam seri Winnetow Ketua Suku Apache.

Si tua yang namanya menggetarkan itu tertunduk, tapi bersyukur yang mengalahkannya bukan sembarang orang. Old-Shatterhand pun tokoh besar, bahkan sangat besar. Si Tua lalu mengaku kalah dengan rasa damai. Dia tak lagi merasa malu karena kalah.

Mengakui kekalahan tak begitu mudah, meskipun kita juga sudah tahu bahwa kita kalah. Ego kita sering setinggi langit, yang membuat kita enggan merendah di depan orang lain. Lebih-lebih orang itu telah kita nilai lebih rendah dan jelas lebih tak berarti daripada kita.

Buat orang yang hidupnya ibarat “menyembah” keangkuhan dan segenap kekerasan, kata mengalah belum tercipta di dalam kamus hidupnya. Bagi orang-orang yang mengesankan kesalehan yang tak terbantah pun hal itu masih menjadi masalah besar, tak peduli bahwa kerjanya puasa, mengaji, dan rajin ke tanah suci.

Kesalehan jenis ini rupanya tak menjadi jaminan. Ketika “ujian” yang dihadapinya lebih dalam, lebih menukik ke perkara hati, yang tak mudah diajar untuk menunduk, karena sudah terlanjur ditaruh begitu tinggi, hingga “menyundul” langit yang tak terbatas itu.

Hati sering lebih suka congkak. Kita diajaknya berjalan tengadah, sambil meremehkan isi dunia lainnya, selain kita. Hati kita, sekali lagi, sering setinggi langit. Manusia lain tak tampak. Apalagi semut dan cacing-cacing di balik sampah.

Dalam banyak hal kita merasa unggul. Dalam banyak hal kita juga mengira pihak lain tak berarti. Kita bisa menargetkan untuk menang menghadapinya. Kita bahkan wajib menang dengan segala cara. Menang baginya banyak sekali caranya.

Dia tidak tahu bahwa kemenangan sejati, yang paling sejati, hanya satu: menang dengan jujur. Hanya satu cara. Menang demi menang yang lainnya, batil belaka, tidak sah, tidak bisa diterima, dan tak memberi kehormatan apa pun.

Hati yang setinggi langit tak sudi melihat fenomena psikologis dan keluhuran etis macam ini. Bisa saja—dan sangat mungkin—bahwa dia pun mengetahuinya. Namun, ini bukan suatu kapital dan tak mungkin dijadikannya kapital dalam hidup. Ini malah dianggap keliru dan mengganggu.

Sifat saleh, luhur budi, dan kemuliaan nilai “rendah hati”, baginya hanya berlaku di gereja, di masjid, dan di willayah-wilayah rohani dan keagamaan lainnya; bukan di dalam pertempuran hidup nyata yang keras, yang jauh dari rohani. Dalam kejamnya hidup sehari-hari, aturan etis dan ajaran utama macam itu sekali lagi, hanya gangguan.

Di sini, ada kata strategi, ada taktik, yang bisa saja diolah dengan ramuan keculasan, sikap licik, dan segala macam corak perilaku yang “menyucikan” kedurjanaan. Karena itu, tak mengherankan bila target harus menang dan menang dengan segala cara itu akhirnya berhadapan dengan kegetiran realitas bahwa ternyata dia kalah.

Wah, kalah? Tak mungkin dia mampu menerimanya? Apalagi menerimanya dengan damai, seperti Sens-er, yang notabene hidup di alam liar. Ajaran tentang kasih dan menyayangi pihak lain, seperti menyayangi diri sendiri tidak ada dan tak pernah terdengar

Sekali lagi, kata kalah itu belum tertulis di dalam kamus hidupnya. Apa yang tak ada, setidaknya tak dikenal, tak usah dipercaya. Buat apa memercayai barang yang tak pernah atau berlum pernah ada?

“Loh, bukankah itu bagian penting dari ajaran tentang kemuliaan langit, yang harus diwujudkan di bumi?”

Ego yang tinggi menganggap itu bukan bagian dari strategi. Ego yang setinggi langit tak mudah diajak menunduk serendah bumi. ●

Kamis, 22 Mei 2014

Teka-Teki Satrio Piningit

Teka-teka-Teki Satrio Piningit

Mohamad Sobary  ;  Budayawan
SINAR HARAPAN,  21 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Sebuah media di Jawa Tengah mengangkat isu Satrio Piningit. Saya ditanya, kenapa dalam dunia modern yang sudah demikian rasional, kita masih percaya pada gagasan Satrio Piningit?

Mungkin sebabnya, di dunia modern yang disebut sudah demikian rasional ini pun, hidup kita—juga di  dunia politik—sangat sering tidak rasional. Tidak jarang kita berhadapan dengan yang serba-“tidak ideal”. Kita mau memilih tokoh, misalnya, tapi yang mau dipilih itu tidak ada.

Kita “dipaksa” memilih stok lama yang sejak dulu tidak kita pilih. Kita menghindarinya karena bayangan kita mengenai “yang ideal” itu tak terpenuhi.

Kita lalu merasa skeptis. Kemudian perasaan tanpa semangat, serba-apatis, dan tak ingin terlibat dalam politik, meluas. Kita bicara mengenai “golput”, atau sikap tak peduli yang menjengkelkan.

Orang—sampai saat ini—masih juga bertanya, kita akan memilih siapa. Ketika dijawab, memilih yang terbaik, keresahan selanjutnya muncul, “yang terbaik” itu tidak ada. Politik lalu berhadapan dengan sejenis jalan buntu.

Ketika para pemimpin di Jakarta, yang masing-masing memiliki kepentingan politiknya sendiri, berpendapat seorang perempuan, tak peduli partainya menang, tak boleh menjadi pemimpin, arti praktisnya tak boleh menjadi presiden, jalan politik pun betul-betul buntu.

Mereka berakrobat. Tiap pihak merasa dirinya yang pantas menjadi presiden. Tapi entah bagaimana, saat itu posisi tersebut ditawarkan pada Gus Dur, dan ia pun menjadi presiden.

Sekali lagi, di dunia modern, yang sudah demikian rasional ini, orang-orang pandai yang disebut tokoh-tokoh masyarakat, melakukan tindakan tidak rasional. Apa gunanya pemilihan umum kalau pemenangnya tak boleh menjadi presiden? Bukankah ini berarti pemenang tak boleh menjadi pemenang karena ia seorang perempuan?

Kalau dirumuskan dengan akal yang logis, lurus, dan apa adanya, berarti seorang perempuan tidak boleh menang. Kalau dalam kontes politik terbuka ia ternyata menang, kemenangannya dibatalkan. Pembatalan ini wajib hukumnya.

Siapa di antara tokoh-tokoh itu—yang  punya ambisi politik sendiri—yang bisa dianggap paling bertanggung jawab? Amien Rais merumuskan apa yang disebut “poros tengah”, pencari jalan keluar, pada hakikatnya sama dengan yang lain. Itu karena bayangannya, jalan keluar hendaknya memihak dirinya. Namun, ketika Gus Dur menerima tawaran tanpa berpikir panjang, ambisi para tokoh pun lenyap.

Serasional-rasionalnya dunia politik modern, yang sudah menempuh cara memilih pemimpin dengan “pemilu” dan menggunakan  prinsip rasional, yang diterima semua pihak: one man one vote, kenyataannya diperlukan sebuah poros yang dicari-cari. Politik rasional pun masih tidak rasional.

“Kartu Langit”

Dalam politik rasional yang tidak rasional ini, apa salahnya muncul campur tangan dari dunia mitologi, yang bicara tentang Satrio Piningit tadi? Dalam logika macam ini, bisa juga disebutkan Satrio Piningit itu “kartu langit” yang dimainkan diam-diam.

Tokoh yang disebut “kartu langit” ini bisa siapa saja. Kita boleh menyebut siapa saja nama yang mana pun juga, sejauh penjelasan kita masuk akal. Nama yang piningit, artinya yang dipingit, jelas bukan nama-nama yang sudah lama kita ketahui sebagai calon presiden.

Mari kita sebut semua nama yang dianggap potensial oleh partai mereka, atau oleh masyarakat pendukung mereka masing-masing. Semua nama boleh disebut, disertai rangkaian prestasinya, sikap politiknya, garis perjuangan politiknya, juga idealisme yang hendak diperjuangkannya.

Kalau dikatakan “semua nama”, berarti nama siapa pun boleh disebutkan dan boleh dianggap dialah yang Satrio Piningit tadi. Dengan ukuran-ukuran rasional tertentu, serta dengan subjektivitas yang tak disembunyikan, saya menyebutkan di sini nama Jokowi.

Saya bukan anggota tim suksesnya, bukan teman ngopinya, dan bukan bagian apa pun yang berseliweran di sekitarnya beberapa jam sehari. Saya berada di jarak yang jauh. Meskipun begitu, bagi saya tampaknya Jokowi yang disebut “kartu” yang dimainkan kekuatan-kekuatan langit secara rahasia.

Ia “dimainkan” dengan baik di Solo dan menyandang sukses di luar dugaan. Belum selesai tugasnya di sana, ia “dimainkan” lagi di Jakarta, dengan cara yang begitu elegan meskipun agak kurang pantas. Kurang pantas karena tugasnya di Solo belum selesai, dan kurang pantas—maaf, penampilannya yang tak meyakinkan bagi orang-orang Jakarta. Namun, “kartu” ini menang dengan gemilang di Jakarta.

Soal pro-kontra mungkin lumrah dan biasa terjadi di dunia politik. Main bola tingkat kampung saja bisa menimbulkan pro-kontra. Apalagi, mungkin secara pribadi Jokowi tak tertarik dunia politik, dan karena itu mungkin tak berambisi untuk bermain di wilayah politik.

Fenomena ini mungkin malah bisa menjadi penjelasan yang bagus, bahwa ia sekadar “kartu” yang dimainkan kekuatan-kekuatan langit tadi. Sekarang ia menjadi calon presiden, berhadapan dengan tokoh Jakarta yang gagah-gagah, hebat-hebat, semua serbamentereng, serbaberpengalaman, dan punya postur paling “josss” untuk duduk di Istana Negara. Ini tentu saja dengan catatan, yang seperti itulah yang didambakan rakyat.

Kalau rakyat membutuhkan tampah “ndeso” yang sangat sederhana, bagaimana? Mungkin ini bisa membuat banyak kalangan jengkel. Namun, adakah pemilu di dunia ini yang betul-betul rasional, serta semua pemilih membuat keputusan memilih hanya sepenuhnya rasional? Ini masalahnya.

Sekali lagi, “kartu” ini dimainkan kekuatan-kekuatan langit dengan penuh keyakinan. “Langit” menjadikannya seorang Satrio Piningit, artinya “jago” yang siap bertarung di medan laga yang keras sekalipun.

Satrio Piningit memang serbapenuh rahasia dan kelihatan tidak cocok menurut ukuran biasa. Tapi “langit” sering punya rencana dan takdir tersendiri yang tak masuk akal bagi kita. Hidup memang sering tak masuk akal. ●