Kultur
Lebah Pekerja
Muhidin M Dahlan ; Kerani
@warungarsip
|
KORAN
TEMPO, 24 Oktober 2014
|
Sehari
setelah Joko Widodo (Jokowi) diambil sumpahnya sebagai presiden ke-7 RI,
halaman depan media cetak menabalkan sebesar-besarnya judul-kepala dengan
frasa "kerja".
Solo Pos
("Ayo Bekerja!"), Suara Merdeka ("Selamat Bekerja, Presiden
Rakyat!"), Pikiran Rakyat ("Lupakan Pesta, Saatnya Bekerja"),
Kedaulatan Rakyat ("Bekerja, Bekerja, Bekerja!"), Koran Merapi
("Kerja, Kerja, Kerja"), dan Tempo ("Kerja, Kerja,
Kerja!") adalah sekian media cetak yang secara verbal memilih frasa
"kerja" untuk menunjukkan bagaimana karakter pemerintahan Jokowi
periode 2014-2019.
Frasa
"kerja" adalah cara Jokowi menyorongkan apa yang menjadi ciri
khasnya. Tapi banyak yang salah paham kemudian bahwa mereka yang bekerja
adalah antiwacana dan pemikiran yang sifatnya reflektif. Kerja adalah pasase
yang dianggap menjauh dari kultur ilmiah.
Kultur
kerja Jokowi ini mengingatkan pada Maurice Maeterlinck, Nobelis sastra 1911
asal Belgia yang menulis buku legendaris: The
Life of the Bee (1954, 168, hlm). Buku tipis yang aslinya terbit dalam
bahasa Prancis pada 1928 ini adalah salah satu buku klasik yang membedah
secara menarik bagaimana kultur kerja lebah yang disebutnya sebagai "the foundation of the city".
Kultur
kerja lebah inilah, kata Maeterlinck, yang menjadi cetak biru bagi masyarakat
masa silam untuk membangun kotanya, seperti Babilonia, Inca di Peru, Madinah
di Timur Tengah, dan peradaban Nil di Mesir.
Madu
sebagai produk akhir dari kultur kerja lebah bermula dari kerja perbengkelan
yang dilakukan madu-pekerja. Tugas mereka bukan hanya menentukan di mana
sumber daya madu berada (bunga terbaik), tapi juga bagaimana menyiapkan
sarang, yang oleh para saintis disebut cara kerja jenius dan menjadi gambaran
kehadiran "tangan-tangan tak-tampak" (invisible hand).
Arsitektur
sarang yang rumit dan sekaligus indah yang dibuat lebah-pekerja bukan sekadar
adu kelihaian dan kesombongan membangun gedung, tapi dibuat dengan asas
kemanfaatan besar. Sarang adalah lumbung/laboratori bagi berlangsungnya
pengolahan seluruh sari mentah yang diubah menjadi madu dengan umur
kedaluwarsa yang panjang. Maeterlinck menyebut kerja pengolahan ini sebagai
kerja agrikultur berbasis pengetahuan.
Sains
mempermudah pengelolaan kehidupan, dan bukan memperumitnya. Dari kerja lebah
membangun peradabannya, kita diberi tahu semestinya anugerah sains
memperpanjang usia peradaban, dan bukan menghancurkannya lebih cepat.
Apalagi
ciri lain dari lebah-pekerja adalah kesadaran untuk tidak mengeksploitasi
habis-habisan sumber daya bunga yang menghidupi sarangnya. Alih-alih
menghabiskan, mereka justru terlibat aktif melakukan "reboisasi"
dengan mengantar serbuk, mengawinkannya dengan putik, dan kehidupan bunga pun
tetap berlangsung. Lebah tahu mereka bakal pasti kembali ke area itu dalam
waktu mendatang saat bunga-bunga kembali bermekaran.
Jokowi
adalah kepala lebah-pekerja bagi sarang mahabesar yang terdiri atas 17 ribu
sel heksagonal yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, dan dari Miangas
hingga Rote. Adapun ibu-ratu lebah adalah ibu pertiwi. Transendensi
pengabdian dan kultur kerja Jokowi tanpa pamrih adalah sepenuh-penuhnya
pengabdian kepada keberlangsungan sang ibu pertiwi lewat pemanfaatan sumber
daya bunga (alam) yang kaya. ●
|