Erosi
Pengharapan
J
Soedradjat Djiwandono ; Guru Besar Emeritus Ekonomi UI;
Professor of
IPE, Rajaratnam School of International Studies, NTU
|
KOMPAS,
12 Mei 2014
|
TAHUN 1990 terbitlah sebuah buku karya Profesor
Paul Krugman. Dialah peraih Hadiah Nobel Bidang Ekonomi tahun 2008. Buku itu
berjudul The Age of Diminished
Expectations.
Isinya
laporan hasil studi mengenai masyarakat Amerika Serikat yang bersikap menerima
sebagai sesuatu yang normal kinerja perekonomian AS waktu itu. Padahal,
kondisi ekonomi AS waktu itu tidak menggembirakan: laju pertumbuhan rendah,
ketimpangan pendapatan meningkat, jumlah tunawisma meningkat, dan banyak
masalah sosial lain.
Kinerja
yang kurang bagus perekonomian AS diterima secara pasif sebagai sesuatu yang
normal, kehidupan di AS dianggap tidak mengalami masalah, malah kebijakan
ekonominya dianggap bagus. Orang bersikap nrimo,
bertentangan dengan ciri mereka yang mengagungkan prestasi dan keberhasilan,
selalu ingin maju dan berkembang dalam segala hal. Krugman menyebut
masyarakat mengalami a revolution of falling expectations.
Masyarakat menurunkan
ekspektasinya?
Meskipun
di berbagai tempat masih ada kekisruhan, kita semua menyambut gembira telah
berlangsung dengan selamat pelaksanaan pemilihan anggota legislatif. Kita
semua berharap pemilihan presiden pada Juli mendatang berjalan lancar dan
baik. Keduanya merupakan basis kehidupan berbangsa dan bernegara di alam
demokrasi yang kita semua ingin pertahankan dan sempurnakan terus.
Namun,
saya merasa bahwa dalam berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pesta
demokrasi ini, tampaknya masyarakat kita juga mengalami kecenderungan diminishing expectations, serupa
dengan observasi tentang masyarakat AS yang saya singgung di atas. Mungkin
malah penurunan idealisme. Mengapa demikian, saya akan menguraikannya di
bawah ini.
Ada
beberapa kecenderungan yang berkembang pada masyarakat berkaitan dengan
penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara yang tampaknya menyiratkan
penurunan idealisme tadi. Yang pertama berkaitan dengan penentuan caleg dan
capres-cawapres, baik dari mereka yang menjadi calon maupun pihak yang
memberikan dukungan dan memilih calon-calon tersebut.
Hal yang
tampak menonjol adalah bahwa seolah-olah masyarakat tidak terlalu peduli
(atau sadar?) mengenai kenyataan bahwa yang akan dipilih adalah wakil rakyat
di lembaga tinggi negara, yaitu DPR tingkat nasional dan daerah, serta DPD.
Demikian pula, seakan-akan orang kurang sadar bahwa yang akan kita pilih
dalam pemilu presiden adalah orang yang akan kita percaya menjadi pemimpin
bangsa Indonesia untuk lima tahun mendatang.
Saya
mengatakan demikian karena ada kecenderungan bahwa kriteria yang paling
diperhatikan, baik dari sisi mereka yang maju sebagai calon maupun partai
yang mencalonkan serta yang mendukungnya, adalah tingkat elektabilitas calon,
apa pun alasan yang mendasarinya. Dengan demikian, kepopuleran seseorang yang
dinilai berkaitan dengan kemampuan mengumpulkan suara terbanyak adalah
kriteria utama seseorang untuk maju menjadi calon anggota DPR atau presiden.
Tentu saja ini tidak salah sebagai strategi pemenangan partai peserta
pemilihan.
Yang
menjadi keprihatinan saya adalah bahwa secara khusus faktor kepemimpinan
tidak pernah ditonjolkan sebagai sesuatu yang penting, apalagi menentukan.
Padahal, yang kita laksanakan dalam pemilu legislatif adalah memilih wakil
kita semua yang akan duduk di DPR, lembaga yang menyusun
peraturan-perundangan, yang mengatur kehidupan bermasyarakat kita semua
selama lima tahun ke depan.
Apalagi
bulan Juli nanti, kita akan memilih orang yang kita nomor satu dan duakan di
Indonesia, orang yang akan kita percaya memimpin bangsa Indonesia yang
terdiri atas hampir 250 juta manusia dengan seluruh kebinekaannya. Mereka
adalah orang-orang yang akan kita percaya memimpin pengelolaan seluruh
kekayaan dan aset nasional kita, mengatasi sangat banyak ragam masalah serta
tantangan yang menghadang bangsa. Demikian juga memanfaatkan kesempatan yang
terbuka buat Indonesia yang harus berkiprah di dunia yang penuh
ketidakpastian ini.
Tidak serius
Menentukan
dan memilih calon dengan pertimbangan utamanya adalah kepopuleran atau
elektabilitas ataupun yang lain adalah hak setiap orang dan setiap partai. Akan
tetapi, meremehkan, apalagi mengesampingkan, persyaratan kepemimpinan
nasional dan internasional bagi capres dan cawapres adalah menurunkan
pengharapan kita terhadap kepemimpinan nasional itu sendiri. Kalau mau lebih
kasar, sepertinya kita tidak serius memandang jabatan tertinggi pemimpin
nasional itu.
Dari
hasil hitung cepat pemilu legislatif yang baru lalu, salah satu gejala yang
menurut saya juga menggambarkan kecenderungan tersebut adalah kenyataan bahwa
seorang dengan kredibilitas utamanya adalah entertainer telah berhasil
mendongkrak perolehan suara suatu partai.
Kembali,
ini sama sekali tidak salah, malahan prestasinya perlu diberikan acungan
jempol. Selain itu, saya kira latar belakang dan kualifikasi formal seseorang
tidak harus menafikan kemampuannya memimpin. Namun, bukankah hal ini juga
menurunkan ekspektasi kita tentang idealnya siapa yang kita anggap pantas
menjadi pemimpin bangsa kita?
Saya
juga melihat begitu banyak pengamat dan ahli, termasuk pengamat ekonomi dan
pasar, lembaga survei, media dalam dan luar negeri, sepertinya hanyut dalam
kecenderungan ini sehingga tidak ada yang merasa ada sesuatu yang perlu
dirisaukan. Semua baik adanya.
Dalam
analisis dan pandangan serta prakiraan yang dikemukakan oleh mereka ini,
tampaknya keahlian dan obyektivitas telah tercampur dengan ekspektasi dan
harapan. Mungkin di sini terjadi seperti yang dikatakan George Soros tentang
analisis pasar, di mana berlangsung adanya apa yang disebutnya sebagai
refleksivitas. Artinya, yang diamati (perkembangan pasar) sebenarnya
dipengaruhi oleh pendapat dan harapan dari analis yang mengamatinya.
Variabel
yang diamati bukan perkembangan at random, karena itu, obyektivitas menjadi
kabur, tercampur dengan pandangan dan harapan dari pembuat analisis. Mungkin
hal ini yang terjadi dengan analisis pemilu legislatif dan pemilu presiden.
Belum lagi kalau analisisnya dipengaruhi pesanan.
Mengikuti
hasil sementara pemilu legislatif, pasar katanya kecewa karena hasil tersebut
tidak sesuai dengan yang mereka perkirakan (harapkan) sebelumnya. Kebanyakan
analis pasar membuat base scenario mereka dengan pra-anggapan ada partai yang
lolos ambang batas dan capres dari partai inilah presiden baru nanti. Sangat
susah menerima bahwa mungkin perkiraan atau harapan mereka sebelumnya itu
yang keliru.
Akhirnya
menyangkut penilaian dan sikap masyarakat terhadap masalah korupsi.
Sebagaimana dimaklumi, sudah beberapa lama kita baca pemberitaan di media
tentang sikap dan komentar dari sebagian yang dituduh atau disangka melakukan
tindak pidana korupsi. Kerap kali kita dengar pembelaan diri dari yang
disangka terlibat tindakan korupsi dengan pernyataan seperti ”saya dijebak”,
atau yang lebih sering lagi pernyataan ”si A juga (korup)”, ”si B juga”, dan
hal-hal serupa.
Menurut
saya, semua ini menunjukkan gejala menurunnya ekspektasi, menurunnya
idealisme. Saya ingin mendengar pernyataan dari para pemimpin nasional yang
berani (karena tidak bohong) mengatakan, ”Saya
tidak peduli orang lain korup, tetapi saya tidak.”
Saya
ingin dan berharap kita tidak sedang terkena penyakit diminishing expectations. Semoga. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar