|
Trump Berharap Perang Melawan Iran Segera
Berakhir Tatang
Mulyana Sinaga : Wartawan Kompas. |
KOMPAS, 17 September 2026
|
Lebih dari enam bulan lalu, Presiden
Amerika Serikat bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memutuskan
menyerang Iran. AS mengalami banyak kerugian di berbagai lini. Kini, Trump
berharap perang yang telah menelan dana puluhan miliar dolar AS dan ribuan
korban jiwa—terutama di Iran—itu segera berakhir. ”Semoga kita sudah mendekati akhir
perang,” ujar Trump kepada wartawan, Rabu (16/9/2026) malam. Namun, ia tidak
menyebutkan bagaimana mekanisme perang itu akan diakhiri. Pernyataan Trump itu dilontarkan
setelah konflik Arab Saudi dan Houthi semakin memanas. Saudi adalah sekutu
penting Amerika Serikat di Timur Tengah. Sementara Houthi merupakan proksi
Iran di Yaman. Kendali Houthi di Laut Merah membuat
ekspor minyak Saudi kian tertekan. Sebelumnya, Riyadh telah terganggu oleh
blokade Iran di Selat Hormuz. Kondisi ini meningkatkan daya tawar Iran untuk
mencapai kesepakatan dengan AS. Trump menyebut telah mendengar kabar
langsung dari Iran terkait kesepakatan mengakhiri perang. Namun, ia tidak
merinci orang atau pihak yang menyampaikan kabar itu. ”Mereka (Iran) ingin
membuat kesepakatan. Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti,” katanya. Trump telah berulang kali menyatakan
perang Iran sudah mendekati akhir. Sejumlah putaran perundingan digelar. AS
dan Iran juga pernah mencapai gencatan senjata dan kesepakatan damai
sementara. Namun, perang yang telah memasuki bulan ketujuh tersebut tak
kunjung berakhir. Meski digempur habis-habisan, Iran
masih memberikan perlawanan. Teheran tetap mengendalikan Selat Hormuz, jalur
vital energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia dari kawasan Teluk
didistribusikan melalui selat ini. AS dan Iran sama-sama menelan kerugian
besar akibat perang. Biaya militer yang dikucurkan Pentagon membengkak
sehingga membebani keuangan negara. Hal ini disumbang dari berbagai aspek,
mulai dari biaya senjata hingga mobilisasi pasukan dalam skala besar. Laporan gabungan tiga lembaga pengawas
Pemerintah AS menyebutkan, perang dengan Iran menguras persediaan senjata
canggih dan merusak ratusan bangunan di pangkalan militer dan pos diplomatik
AS di Timur Tengah. Konflik ini menelan biaya sedikitnya 37,5 miliar dolar AS
atau sekitar Rp 665,66 triliun. Selain itu, perang memicu lonjakan
harga minyak dunia sehingga berdampak terhadap ekonomi domestik AS. Harga
minyak Brent yang menjadi acuan internasional mencapai 105 dolar AS per
barel, Kamis. Sebelum perang, harganya masih di bawah 73 dolar AS per barel. Harga minyak berpotensi kembali
melonjak seiring meningkatnya eskalasi konflik Saudi-Houthi di Laut Merah.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan, pihaknya telah
melancarkan serangan drone dan rudal yang menyasar pelabuhan minyak Saudi di
laut tersebut. Tekanan ekspor minyak Saudi semakin
berat karena jalur pipa timur-barat (east-west pipeline), pipa lintas darat
yang mengalirkan minyak, juga rusak terkena serangan. Penutupan berkepanjangan
jalur pipa ini dapat mengurangi 4 persen pasokan minyak global. Bertemu pemimpin Teluk Media AS, Axios, melaporkan, Trump
diperkirakan akan bertemu para pemimpin negara Teluk di sela-sela Sidang
Majelis Umum PBB di New York, Selasa (22/9/2026). Pertemuan itu akan membahas
langkah AS selanjutnya terkait perang dengan Iran. ”Pertemuan itu diperkirakan akan
berfokus pada gagasan AS mengenai strategi pascaperang, seiring Trump dan tim
seniornya menyusun rencana untuk masa setelah perang yang diharapkan rampung
setelah pemilihan paruh waktu (November 2026),” tulis laporan tersebut. Netanyahu disebutkan juga ingin bertemu
Trump di New York. Namun, hingga saat ini, belum ada agenda pertemuan yang
dijadwalkan. Dalam beberapa kesempatan, keduanya berkomunikasi membahas
situasi perang Iran. Selain bagi AS, sebagaimana dikabarkan,
perang itu juga menyebabkan kerugian bagi negara-negara Teluk yang digunakan
sebagai pangkalan militer AS. Lokasi itu menjadi target serangan Iran. Tidak
jarang, upaya untuk menangkal serangan tersebut menyebabkan kerusakan di
lokasi lain. Kerugian lainnya disebabkan
terganggunya pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz. Selain itu,
sejumlah fasilitas energi negara-negara Teluk juga rusak akibat serangan
rudal dan wahana tanpa awak atau drone. Solusi diplomatik Media Iran, Tasnim, melaporkan, Menteri
Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan keinginan negaranya untuk
memulihkan stabilitas kawasan. Iran juga ingin menjalin hubungan yang
bersahabat dan damai dengan negara-negara tetangga. ”Iran telah memulai pembicaraan dengan
negara-negara kawasan demi mencapai tujuan tersebut,” ujarnya. Araghchi memimpin delegasi diplomatik
Iran dalam kunjungan ke Beijing, China. Ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri
China Wang Yi, Rabu. Pihaknya bertekad meningkatkan kemitraan strategis
dengan China yang didasari oleh rasa percaya dan saling menghormati. Araghchi mengaitkan situasi di Timur
Tengah saat ini dengan agresi militer AS dan rezim Israel terhadap Iran. Ia menegaskan,
meskipun Iran sepenuhnya siap untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan
integritas wilayahnya, pihaknya tetap menyambut baik solusi diplomatik yang
menjamin hak-hak bangsa Iran. ”Situasi di kawasan telah mengalami
perubahan mendasar menyusul perang agresi terhadap Iran. Tidak akan ada
tempat bagi kehadiran dan campur tangan kekuatan asing dalam tatanan kawasan
yang baru,” tulis laporan tersebut. (REUTERS) ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/trump-berharap-perang-melawan-iran-segera-berakhir?open_from=Internasional_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar