|
Rovelli, Mitos Objektivitas & Ilusi Kecerdasan Super:Sains &
AI Yang Rendah Hati Dimitri
Mahayana : Dosen
Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang
& founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung. |
KUMPARAN, 15 September 2026
|
Konon di sebuah desa
kecil, hiduplah enam orang yang buta sejak lahir. Suatu malam, rombongan
pedagang singgah membawa seekor gajah. Penduduk desa ramai-ramai mengantar
keenam orang buta itu mendekat, agar mereka juga bisa "melihat"
gajah lewat tangan mereka sendiri. Orang pertama memegang
belalai, lalu berkata yakin, "Gajah itu seperti ular besar." Orang kedua meraba
telinga, dan membantah, "Bukan, gajah itu seperti kipas lebar." Orang ketiga menyentuh
kaki, "Kalian keliru. Gajah itu seperti batang pohon." Orang keempat memegang
ekor, orang kelima gadingnya, orang keenam perutnya yang bulat. Masing-masing
pulang malam itu dengan keyakinan penuh. Masing-masing juga yakin,
teman-temannya yang lain pasti salah. Padahal tidak satu pun
dari mereka berbohong. Tidak satu pun juga yang mengarang. Mereka semua
memegang sesuatu yang nyata, benar-benar ada di depan mereka. Yang keliru
hanyalah anggapan bahwa apa yang mereka pegang di tangan sendiri adalah
gambaran utuh sang gajah, berlaku sama untuk siapa saja yang berdiri di mana
saja. Cerita lama ini terasa
hidup kembali setiap kali saya membaca gagasan Carlo Rovelli, fisikawan
Italia yang karyanya paling dikenal justru menantang satu keyakinan paling
dasar dalam sains: bahwa ada fakta objektif yang berdiri sendiri, sama untuk
semua orang, lepas dari siapa yang mengamatinya. Rovelli menyebut dirinya
penganut pandangan relasional. Baginya, sifat sebuah benda hanya benar-benar
ada dalam hubungan, dalam pertemuan antara yang diamati dan yang mengamati.
Persis seperti gajah tadi. Belalai itu nyata. Telinga itu nyata. Tapi
"gajah seutuhnya" hanya muncul kalau keenam orang buta itu mau
duduk bersama, saling mendengar, dan menyusun kepingan mereka jadi satu. Gagasan Rovelli ini tentu
menuai pro dan kontra. Sebagian menyambutnya sebagai terobosan yang
membebaskan sains dari kesombongan lama. Sebagian lain menganggapnya terlalu
jauh melangkah, khawatir kalau semua jadi relatif, sains kehilangan pijakan.
Perdebatan itu wajar dan sehat. Tapi mari kita lihat dulu apa sebenarnya yang
dimaksud Rovelli, dengan bahasa yang paling sederhana. Dulu, orang mengira ruang
dan waktu itu seperti panggung yang sama untuk semua orang. Jam di tangan
Anda dan jam di tangan orang lain, di mana pun mereka berada, dianggap selalu
menunjukkan waktu yang sama persis. Einstein menunjukkan itu keliru. Jam bisa
berjalan berbeda, tergantung seberapa cepat pemiliknya bergerak. Tidak ada
satu waktu tunggal yang berlaku untuk semua. Waktu itu relatif, tergantung
dari mana kita mengukurnya. Di dunia partikel yang
sangat kecil, keanehan ini bahkan lebih dalam lagi. Sebuah partikel tidak
punya sifat yang tetap sebelum ada yang mengukurnya. Sifatnya baru
"muncul" pada saat terjadi interaksi, pada saat ada yang
menyentuhnya, seperti belalai yang baru terasa seperti ular besar begitu ada
tangan yang meraihnya. Rovelli mengambil kesimpulan berani dari sini. Kalau
begitu, kata dia, mungkin memang tidak ada "gajah seutuhnya" yang
berdiri sendiri di luar sana, lepas dari segala pertemuan. Yang ada hanyalah
jaringan hubungan, dan kebenaran yang selalu lahir dari pertemuan itu. Ini bukan berarti sains
jadi omong kosong, bebas ditafsirkan seenaknya. Gajah itu tetap nyata.
Ukurannya bisa diukur ulang, ditimbang ulang, dan hasilnya akan konsisten
setiap kali. Yang berubah hanyalah cara kita memaknai kata
"objektif". Objektif bukan lagi berarti "kebenaran tunggal
yang berdiri sendiri, lepas dari siapa pun". Objektif yang lebih jujur
berarti "kebenaran yang kokoh karena disepakati bersama, lewat banyak
sudut pandang yang saling menguji", tapi tetap terbuka untuk diperbaiki
begitu ada sudut pandang baru yang belum pernah dicoba. Pelajaran dari gajah dan
enam orang buta ini rupanya sedang terulang lagi, kali ini bukan di ranah
fisika, melainkan di ranah yang jauh lebih ramai diperbincangkan: kecerdasan
buatan. Banyak orang membayangkan kecerdasan itu seperti tangga tunggal.
Manusia berdiri di anak tangga tertentu. Mesin, kalau terus diberi lebih
banyak data dan lebih banyak daya komputasi, akan naik terus di tangga yang
sama, sampai suatu hari melampaui manusia, lalu melesat tak terkejar.
Bayangan inilah yang disebut Superkecerdasan, atau Singularity. Tapi coba renungkan
sekali lagi cerita gajah tadi. Kecerdasan seekor lumba-lumba membaca arah
arus laut. Kecerdasan seorang ibu menangkap kebohongan kecil dari raut wajah
anaknya. Kecerdasan seorang tukang kayu memperkirakan berapa lama kayu jati
akan melengkung. Semua ini cerdas, sungguh-sungguh cerdas, tapi masing-masing
dalam kerangkanya sendiri, seperti belalai yang cerdas jadi belalai dan
telinga yang cerdas jadi telinga. Menganggap ada satu tangga tunggal bernama
"kecerdasan", tempat otak manusia dan mesin penjawab pertanyaan
bisa dibandingkan naik-turun begitu saja, adalah kekeliruan yang sama persis
dengan mengira ada satu jam tunggal yang berlaku sama untuk semua orang di
alam semesta. Ahli bahasa Noam Chomsky
pernah menulis kritik yang menohok soal ini. Mesin seperti ChatGPT, katanya,
memang sangat pandai menebak kata apa yang paling mungkin muncul berikutnya,
setelah mempelajari jutaan kalimat manusia. Tapi menebak bukan hal yang sama
dengan mengerti. Anak kecil bisa mengerti kenapa gelas pecah kalau jatuh,
bukan sekadar menghafal bahwa kata "jatuh" sering diikuti kata
"pecah". Federico Faggin, penemu
mikroprosesor yang di masa tuanya menekuni misteri kesadaran, mengatakan hal
serupa dengan cara yang lebih menyentuh. Komputer, katanya, bisa menyimpan
pengetahuan sebanyak apa pun, tapi tidak pernah bisa merasakannya. Ia bisa
menyimpan kata "asparagus", "manis", dan "kenangan
masa kecil" dalam satu database, tapi tidak pernah benar-benar mencicipi
rasa asparagus, atau merindukan masa kecil. Menyimpan bukan hal yang sama
dengan mengalami. Filsuf Harry Frankfurt,
jauh sebelum era kecerdasan buatan, pernah menulis esai kecil yang kini
dibaca ulang banyak orang, membedakan pembohong dari tukang omong kosong.
Pembohong masih peduli pada kebenaran, sebab ia sengaja menghindarinya.
Tukang omong kosong sama sekali tidak peduli benar atau salah, yang penting
terdengar meyakinkan. Sejumlah pemikir kini menduga, mesin-mesin bahasa yang
sedang ramai dibicarakan lebih mirip tukang omong kosong dalam pengertian
Frankfurt ini. Bukan karena mereka jahat atau sengaja menipu, tapi karena
mereka memang tidak dirancang untuk peduli pada kebenaran, hanya dirancang
untuk terdengar meyakinkan. Kalau begitu, sebagian
besar kegaduhan tentang mesin yang "akan segera menguasai dunia"
barangkali juga sedang mengulang kesalahan enam orang buta tadi. Terlalu
yakin pada apa yang baru dipegang sesaat, lalu buru-buru menyimpulkan itulah
gambaran utuh dari segalanya. Mari kembali sejenak ke
desa kecil itu. Konon, setelah malam pertama yang penuh perdebatan, keenam
orang buta itu bertemu lagi esok harinya. Kali ini bukan untuk membela diri
masing-masing, tapi untuk saling bertukar cerita. Orang yang memegang belalai
mendengarkan cerita tentang telinga yang lebar. Orang yang memegang kaki
mendengarkan cerita tentang ekor yang kecil. Perlahan, dari enam kepingan
yang tadinya saling bertentangan, tersusunlah gambaran gajah yang jauh lebih
utuh daripada yang bisa dicapai siapa pun sendirian. Barangkali di situlah
letak keberkahan yang sesungguhnya, baik untuk sains maupun untuk kecerdasan
buatan. Bukan pada siapa yang paling cepat mengklaim sudah memegang seluruh
kebenaran. Melainkan pada kesediaan untuk mengakui, tangan kita hanya
menyentuh sebagian kecil, dan bagian yang lain hanya bisa ditemukan lewat
tangan orang lain, atau lewat kesabaran menunggu pertemuan berikutnya. Sains
yang rendah hati, dan kecerdasan buatan yang rendah hati, pada akhirnya bukan
sains dan AI yang lebih lemah. Justru itulah yang membuat keduanya layak
dipercaya. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar