|
Menteri
Keuangan: Saya Tahu Masih Ada yang Main Cukai Erwan Hermawan : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 13 September 2026
|
· Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
mengaku sudah bertemu dengan pengusaha rokok. · Ia berencana menggunakan alat khusus
berteknologi 'track and trace' untuk melacak rokok ilegal. · Menteri Purbaya mengakui kesulitan
menutup kebocoran pita cukai akibat maraknya pernjualan rokok ilegal. MENTERI
Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim bisa menekan peredaran rokok ilegal.
Ia mengaku telah bertemu dengan pengusaha rokok untuk membahas penerapan
cukai bagi golongan III sigaret kretek mesin (SKM). Pemerintah berniat
menambah lapisan atau layer cukai rokok untuk mengoptimalkan penerimaan
negara sekaligus menekan peredaran rokok ilegal. Namun
rencana tersebut tak kunjung terlaksana karena belum dibahas dengan Komisi XI
Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi keuangan. Purbaya pun menyatakan akan
menggunakan teknologi “track and trace” untuk mempersempit praktik pemalsuan
dan perdagangan pita cukai ilegal. Tempo
berulang kali menemui Purbaya, antara lain selepas rapat kerja dengan Badan
Anggaran DPR pada Kamis, 27 Agustus 2026; Jumat, 28 Agustus 2026 di
kantornya; serta Senin, 7 September 2026, di gedung DPR. Ia menjawab berbagai
pertanyaan soal kebocoran pita cukai dan rokok ilegal. Bagaimana
perkembangan penerapan cukai untuk golongan III SKM? Kami
belum bertemu dengan DPR untuk membahas hal itu. Kami akan bertemu dengan
Komisi XI DPR setelah pembahasan anggaran selesai. Kami
mendapat informasi bahwa Anda bertemu dengan pengusaha rokok di kawasan
Jakarta Selatan pada awal tahun.... Enggak
ada. Saya pernah kedatangan pengusaha rokok, tapi saya enggak tahu ilegal
atau bukan. Pengusaha rokok dari Madura datang ke kantor saya. Apa saja
yang dibahas? Saya
tanya apa mau mereka. Kemudian saya jelaskan soal layer baru, “Anda masuk di
situ dan ikuti kesempatan yang diberikan pemerintah.” Kalau enggak masuk
juga, diberantas habis. Jadi ada fair game. Dengan
adanya layer baru, apakah konsumen akan beralih ke rokok yang harganya lebih
murah? Itu
tergantung pasar, selera orang masing-masing. Kalau rokok ilegal kan lebih
murah. Kami atur supaya enggak langsung berkompetisi sama pasar. Masih ada
gap yang cukup. Perdagangan
pita cukai melibatkan politikus, pengusaha rokok, hingga pegawai Bea-Cukai.
Bagaimana cara menghilangkan praktik itu? Kami
sedang menerapkan teknologi baru, namanya “track and trace”, dari satu
perusahaan, bekerja sama dengan Perum Percetakan Uang RI atau Peruri.
Nantinya cukainya enggak bisa dipalsukan. Apa nama
perusahaan itu? Dari
luar negeri. Tapi belum bisa saya buka namanya. Bagaimana
mekanisme kerja teknologi itu? Alat
khusus yang lebih canggih dari barcode. Kami juga akan menaruh mesin di
pabrik-pabrik rokok besar. Nantinya dimonitor berapa jumlah yang diproduksi.
Datanya langsung nge-link ke Bea-Cukai pusat. Sudah
diuji coba? Sekarang
sudah dicoba di Jawa Tengah. Dalam waktu dekat akan diperluas. Dalam waktu
enam bulan, kalau enggak salah, sudah dapat 100 mesin. Dalam sembilan bulan,
240 mesin. Anda
yakin bisa menekan pemalsuan dan perdagangan pita cukai? Ke depan
kami berharap permainan seperti itu berkurang. Kalau bisa dihilangkan semua.
Akan kami pastikan itu tidak terjadi lagi. Kalau sekarang agak susah. Dalam
temuan kami, perdagangan cukai dan rokok ilegal melibatkan anggota DPR. Nanti
kita lihat. Saya ingin main ke depan saja. Dengan alat itu, ke depan akan
kelihatan. Akan kami hajar betul. Tapi, kalau yang ke belakang juga
kelihatan, akan kami kejar. Hanya, saya tidak bisa membentuk tim khusus untuk
melihat berapa tahun ke belakang. Anda
tahu siapa beking di balik perdagangan pita cukai? Enggak
tahu. Kalau tahu kan sudah ditangkap. Saya tahu masih ada yang main. Sudah
gitu saja. Apa
hukuman bagi mereka yang terlibat perdagangan pita cukai, baik asli maupun
palsu? Kalau
terjadi di Bea-Cukai, akan dipecat dan dihukum. Kalau di luar, saya enggak
tahu. ● Sumber :
https://www.tempo.co/investigasi/purbaya-yudhi-sadewa-cukai-rokok-ilegal-2286851 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar