|
William Paputungan Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 17 September 2026
Tiba-tiba tiket
ke Manado saya dibatalkan. Tanpa alasan. Diganti yang lewat Makassar.
Akibatnya, saya harus berangkat lebih pagi dan tiba di Manado lebih malam. Itu
karena transit di Makassarnya empat jam lebih.
Anda sudah tahu
perusahaan penerbangan apa yang punya kebiasaan seperti itu.
Untung ada
teman-teman Disway Sulsel: saya bisa mampir ke kota Makassar. Untuk apa lagi
kalau bukan makan ikan di resto kesayangan. Lalu diajak Sahabat Disway di sana,
pesenam Nova Gozal dan pengusaha David Gozal (tidak ada hubungan keluarga; yang
satu suku Hokkian, satunya lagi suku Hakka) untuk mencoba sesuatu yang baru di
Makassar --akan saya tulis edisi Minggu depan.
Selasa malam
saya tiba di Manado. Tidak bisa ke mana-mana lagi. Tidur! Rabu pagi, setelah
tampil di Dismorning, saya ingin ke Paputungan --satu jam dari Manado. Di
situlah kawasan ekonomi khusus pariwisata ditetapkan. Luasnya ratusan hektare.
Segala macam wisata tingkat dunia akan dibangun. Termasuk theme park yang
spektakuler. Beberapa hotel akan dibangun --salah satunya bintang lima pertama
di Manado.
Bahkan pemilik
awal proyek ini sudah membeli kapal selam jenis wisata bawah laut --yang hanya
ada dua di dunia. Begitu besar mimpi pariwisata di Paputungan.
Proyek ini
gagal. Terjadi kesulitan ekonomi yang berat. Sebenarnya sudah lama saya ingin
ke Paputungan untuk melihatnya tapi selalu saja gagal. Ketika saya dengar
proyek itu macet hilanglah alasan untuk ke Paputungan.
Belakangan saya
mendapat informasi menggembirakan. Proyek macet itu ada yang menyelamatkan:
William Katuari. Anda sudah tahu siapa William: orang Tulungagung yang kini
jadi konglomerat hebat. Ia produsen SoKlin. Buka Bank Ekonomi. Lalu sukses
mengembangkan mie Sedaaap!
William
akhirnya masuk ke bisnis hotel: Hotel bintang lima Kempinski di Bali. Kini
William sedang memulai kawasan wisata Paputungan Manado dengan menyelesaikan
hotel yang macet di sana. Tentu dengan konsep baru. Cakrawala baru. Jadilah
hotel bintang lima pertama di Sulawesi: JW Marriott.
Dari jauh hotel
itu sudah kelihatan jadi. Menjulang tinggi 16 lantai di bibir pantai.
Sendirian. Sekitarnya masih alam Sulut yang asli dengan pohon pala dan
kelapanya.
"Akhir
Oktober nanti harus jadi," ujar seorang staf di situ. Salah satunya GM JW
Marriott berkebangsaan Spanyol dari Barcelona.
Saya diajak
naik ke lantai atas. Ke kamar yang sudah siap menerima tamu. Kamar-kamarnya
dibuat sedemikian rupa adilnya: pilih deretan kamar kanan berarti pemandangannya
matahari terbenam; pilih deretan kiri pemandangannya ke matahari terbit.
Terbitnya seperti muncul dari laut. Tenggelamnya seperti masuk laut.
Dari atas
terlihat kolam renang bertingkat-tingkat yang air dari kolam paling atasnya
melimpah ke kolam di bawahnya. Kolam terbawah adalah kolam renang air laut
karena levelnya memang sejajar dengan laut.
Jatuhnya
bangunan induk hotel itu seperti di atas bukit. Bagi yang ingin bermalam di
pinggir laut disediakan beberapa cottages. Lokasinya di kiri dan kanan 'teluk
buatan'. Setiap cottage punya akses ke laut sendiri-sendiri. Dari kamar di
cottage itu bisa langsung masuk laut jernih. Belum ada polusi di sana.
Air di
pantainya sepinggang. Ideal.
"Lihat di
sana itu," ujarnya sambil menuding ke bawah, "Mirip sekali dengan
cottage-cottage di Maldives". Ia pernah ke Maldives. Saya belum.
Syukurlah pusat
wisata Paputungan segera jadi --meski baru hotelnya dulu. Untuk yang lainnya
kelihatannya akan tunggu situasi. Masih banyak ekosistem wisata yang harus
dibangun. Misalnya harga tiket pesawat. Harga tiket jurusan Manado bisa dua
kali lipat lebih mahal dari Indonesia Barat. Apalagi dibanding jurusan luar
negeri.
Zaman dulu
tarif pulsa telepon juga seperti itu: harga pulsa di kawasan Indonesia Timur
lebih mahal. Pak JK-lah yang terus berkoar mempersoalkannya jauh sebelum ia
jadi pejabat negara. "Tidak ada alasan teknis maupun non teknis apa pun
yang membenarkannya," ujar Jusuf Kalla kala itu. Berhasil. Harga pulsa
menjadi sama.
Harusnya tiket
pesawat juga bisa dibuat seperti itu.
"Tolong
sampaikan ke pemerintah soal tingginya harga tiket pesawat ke Manado,"
ujar pejabat pariwisata di sana. Ia wanita. Cantik 5i.
"Lho,
Presiden Prabowo kan orang Manado," kata saya.
"Beliau
baru sekali ke Manado. Masyarakat di sini sangat menanti," katanyi.
"Bulan
depan beliau kan ke sini. Untuk meresmikan Sekolah Taruna Nusantara," ujar
salah satu yang ikut makan malam dengan saya.
"Nah,
beliau harus tahu itu," kata saya.
Di Sulut memang
dibangun Sekolah Taruna Nusantara. Lokasinya di kampungnya Prabowo: Langowan
--sebelah sananya Danau Tondano. Bangunan sekolahnya bagus. Orang di sana
menyebutnya seperti bangunan dalam film Herry Potter.
Meski
bangunannya baru selesai tahun ini tapi sudah menerima siswa sejak tahun lalu.
Hanya saja murid angkatan pertama itu sekolahnya di Malang. Setelah setahun di
Malang, naik kelas duanya di Langowan. Hari-hari ini siswa yang baru naik ke
kelas dua itu pindahan ke Langowan. Hari-hari ini pula siswa kelas satunya
mulai menempati sekolah baru itu.
Saya tidak bisa
lama-lama di Paputungan. Yang penting saya sudah tahu: memang indah sekali.
Saya harus segera balik lagi ke Manado: acara besar bersama Bank Indonesia
perwakilan Manado segera dimulai.
Belum juga
sempat mencicipi bubur Manado. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/968831/william-paputungan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar