|
Siapa Memikul Utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung Fery Firmansyah : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 28 September 2026
|
· Sebelum dicopot dari kursi Menteri
Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan penyelesaian utang Whoosh akan
diambil alih pemerintah. · Kementerian Keuangan merancang
pembentukan SMV untuk membereskan utang kereta cepat berikut bunganya. · Lembaga yang ditunjuk pemerintah
memberi sinyal tidak sanggup membayar utang Whoosh yang sangat besar. SEBELUM
lengser dari jabatan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa melempar polemik
soal penyelesaian utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Pada
awalnya dia melempar tanggung jawab itu kepada Badan Pengelola Investasi
Danantara sebagai induk semua badan usaha milik negara. Belakangan, Purbaya
menyatakan pembayaran utang itu akan diselesaikan Kementerian Keuangan. Informasi
soal saling lempar penyelesaian utang Whoosh pada awalnya akan kami sajikan
dua pekan lalu. Anggota tim Ekonomi dan Bisnis Tempo, Han Revanda Putra,
sudah mendapatkan banyak informasi soal rencana penyelesaian utang Whoosh.
Termasuk berbagai skema yang dirancang Kementerian Keuangan. Di mata
kami, isu ini amat seksi. Selain karena Whoosh adalah proyek strategis dengan
nilai signifikan, ada unsur politik yang kental. Pertanyaannya, bagaimana
pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyelesaikan utang besar yang
diciptakan pendahulunya, Joko Widodo? Benarkah negara akan turun tangan
mengingat komitmen awal proyek Whoosh adalah tidak akan menyentuh anggaran
negara? Ndilalah,
sebelum kami menuliskannya, Prabowo kadung mencopot Purbaya. Tentu saja, tak
mungkin kami alpa menuliskan kabar mahapenting ini, termasuk apa yang terjadi
di baliknya. Jadilah pada edisi 20 September 2026 kami menurunkan laporan
soal pencopotan Purbaya. Lengkapnya, bisa Anda baca di sini. Dan karena itu
pula laporan soal utang Whoosh terpaksa ditunda. Tapi,
seperti yang sering kami alami, tak mudah menuliskan isu atau peristiwa yang
sempat tertunda. Dalam konteks isu utang proyek kereta cepat, kami harus
mencari kebaruan. Dan itu menjadi sulit tatkala tak ada peristiwa baru. Karena
itu, Revan bersama anggota tim Ekonomi dan Bisnis lain harus blusukan lebih
dalam, bertemu dengan lebih banyak narasumber untuk mencari informasi
mutakhir. Toh,
usaha tak mengkhianati hasil. Setelah berbincang dengan sejumlah pejabat,
antara lain dari Kementerian Keuangan dan Badan Pengelola BUMN, ada
serpihan-serpihan informasi baru yang tak diperoleh rekan dari media lain. Salah
satunya cerita soal bagaimana pemerintah akan menggunakan sejumlah entitas
khusus atau special mission vehicle (SMV) dalam menyelesaikan utang
Whoosh. Ada tiga opsi yang ditempuh, berikut drama dalam pengambilan
keputusannya yang bisa Anda baca di sini. Skema
yang dirancang pemerintah itu pada kenyataannya tak mulus. Sebab, SMV yang
terdiri atas lembaga seperti PT Sarana Multi infrastruktur atau SMI dan
Indonesia Investment Authority atau INA juga segan menanggung utang Whoosh,
yang nilainya mencapai US$ 7,3 miliar atau sekitar Rp 130 triliun. Dengan
tenor 80 tahun, itu pun jika pemerintah menyepakati restrukturisasi dengan
para pemberi pinjaman, dalam setahun cicilan yang harus dibayar minimal Rp
1,2 triliun. Melihat
nilai utangnya, siapa sih yang mau menanggung? Apalagi
jika melihat kinerja Whoosh yang sampai saat ini belum sesuai dengan target.
Anda bisa membaca tulisan ini jika ingin melihat lebih detail persoalan
keuangan yang dihadapi Whoosh. Yang jelas, gara-gara proyek mercusuar di era
Jokowi ini, banyak yang bakal kena getahnya. Dan sepertinya kisah ini masih
akan bergulir panjang, lebih panjang daripada rangkaian kereta Whoosh. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/penyelesaian-utang-kereta-cepat-whoosh-2294463
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar