Jumat, 18 September 2026

 

Seberapa Penting Kapal Baruna Jaya untuk Riset Maritim

Defara Dhanya :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 13 September 2026

 

 

                                                           

·      Kondisi lima kapal riset Baruna Jaya milik BRIN memprihatinkan sejak berhenti beroperasi pada akhir 2021.

 

·      Pimpinan baru BRIN berniat memperkuat armada riset kelautan. Pengadaan kapal baru dimulai bersamaan dengan agenda revitalisasi Baruna Jaya.

 

·      Upaya revitalisasi Baruna Jaya telah dimulai pada Maret 2026 melalui survei visual. Agenda perbaikan dirancang bertahap.

 

DARI kejauhan, lima kapal riset Baruna Jaya terlihat mentereng. Ukurannya digdaya di antara ratusan kapal penangkap ikan yang pada Selasa siang itu, 1 September 2026, bersandar di area Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Penjaringan, Jakarta Utara. Namun, jika dilihat dari dekat, wajah bahtera milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut tak gahar lagi.

 

Tertambat di pinggiran beton dermaga, Baruna Jaya II tampak paling kusam. Catnya mengelupas di beberapa bagian. Sebagian badan kapal, terutama beberapa perangkat di atas geladak yang terbuat dari besi, telah dimakan karat. Di sebelahnya, Baruna Jaya IV, I, VIII, dan III diparkir sejajar berimpitan dengan kondisi serupa.

 

Ruang kemudi kapal-kapal itu masih lengkap. Panel kontrol, radio komunikasi, dan perangkat navigasi bertengger di tempatnya. Namun, seperti ruangan lain, bagian anjungan lebih mirip gudang: dipenuhi tumpukan kardus dan perkakas berdebu yang sebagian di antaranya ditutup terpal. Karet anti-slip yang membungkus lantai di koridor kapal juga tak lagi utuh, sebagian menggelembung dan bahkan telah robek.

 

Seandainya tak ada petugas jaga di atas kapal dan sekuriti yang bersiaga di tepi dermaga, lima kapal Baruna Jaya tidak akan terlihat sebagai aset strategis nasional. Tim itu bertugas secara bergiliran tiga hari sekali untuk mengantisipasi potensi kebakaran dan pencurian.

 

Tali tambang di buritan dan dapra alias bantalan di lambung kapal menjadi salah satu alat yang wajib mereka cek setiap hari. “Karena pernah talinya putus tengah malam,” kata seorang petugas keamanan yang enggan disebutkan namanya. “Kalau cuaca benar-benar ekstrem, kapal bertumbukan,” dia menambahkan.

 

Tahun ini, tepat setengah dekade armada Baruna Jaya mati suri. Kapal-kapal riset yang dulu dikelola Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI itu berhenti beroperasi sejak akhir 2021. Laporan Tempo bertajuk “Baruna Jaya Porak-poranda” pada edisi 21 Januari 2023 menggambarkan kebijakan peleburan semua lembaga riset pemerintah ke dalam BRIN telah berdampak pada pengelolaan instrumen penelitian, termasuk kapal riset.

 

Kepala BRIN saat itu, Laksana Tri Handoko, memutuskan memarkir semua kapal Baruna Jaya dengan dalih pengelolaan kapal sebelumnya sangat buruk. Dengan alasan itu pula pimpinan BRIN melelang pengelolaan Baruna Jaya I, III, dan VIII yang kemudian dimenangi PT Sinarmas LDA Maritime, perusahaan patungan Grup Sinar Mas dan Louis Dreyfus Armateurs—penyedia jasa manajemen kapal asal Prancis.

 

Ditemui Tempo di geladak Baruna Jaya VIII pada Senin, 1 September 2026, Mohamad Afandi Juluhun tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia adalah mantan nakhoda kapal itu. Ketika Baruna Jaya VIII berhenti beroperasi, di masa kepemimpinan Laksana Tri Handoko, Afandi dipindahkan untuk sementara ke Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia BRIN.

 

Belakangan, setelah pucuk pimpinan BRIN beralih ke Arif Satria pada medio November 2025, Afandi kembali dipindahkan ke Direktorat Pengelolaan Armada Kapal Riset. Sekarang dia berperan sebagai port captain, kapten yang bersiaga di area dermaga untuk mengawasi pengoperasian kapal.

 

Di masa pimpinan lama BRIN, Afandi mengaku beberapa kali melayangkan protes kepada Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi ihwal kondisi Baruna Jaya yang memprihatinkan. Namun, menurut dia, pimpinan BRIN saat itu tidak menggubris dengan alasan keterbatasan anggaran. “Sayang sekali, kapal dengan peralatan canggih seperti ini dibiarkan saja,” tutur Afandi.

 

Karena itu, Afandi berharap pemerintah dan pimpinan baru BRIN segera mengaudit dan menginventarisasi kondisi seluruh armada Baruna Jaya secara komprehensif. Pemeriksaan menyeluruh itu diperlukan untuk menentukan langkah-langkah pemeliharaan, perbaikan, dan pengoperasian kembali kapal riset yang masih dapat diselamatkan. Bagi Afandi, mangkraknya Baruna Jaya beberapa tahun terakhir tidak hanya menyebabkan kerusakan di sebagian perangkat kapal, tapi juga memicu kerugian bagi ekosistem riset kelautan.

 

•••

 

NASIB kapal riset Baruna Jaya kembali menarik perhatian setelah pimpinan baru Badan Riset dan Inovasi Nasional menyiapkan armada anyar. Pada 11 Juni 2026, BRIN meneken kontrak pembangunan dua kapal riset dengan Chantiers Piriou, perusahaan galangan kapal asal Prancis yang memenangi tender. Pembangunan kapal senilai 88 juta euro—sekitar Rp 1,79 triliun—ini merupakan realisasi Proyek Kapal Riset Nasional atau Krisna, yang merupakan hasil kerja sama pemerintah RI, Bank Pembangunan Prancis (AFD), dan Uni Eropa.

 

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto menjelaskan, dua kapal riset baru itu kelak memiliki fungsi berbeda. Unit pertama berupa kapal riset samudra yang disiapkan sebagai laboratorium terapung untuk penelitian laut dalam. Sedangkan unit kedua menjalankan fungsi kapal riset pesisir yang beroperasi di perairan dangkal, termasuk muara sungai. Ditargetkan rampung dibangun pada akhir 2029, dua kapal riset baru tersebut akan menjalankan riset geosains kelautan, biodiversitas, oseanografi, dan hidrografi.

 

Menurut Nugroho, selain menjalankan proyek dengan skema pinjaman dan/atau hibah luar negeri tersebut, BRIN sedang menyiapkan pengadaan kapal riset melalui mekanisme kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). Dalam skema ini, pemerintah akan bekerja sama dengan pihak swasta untuk membangun, mengelola, dan mengoperasikan armada riset baru.

 

“Nantinya konsep KPBU ini akan ditenderkan juga secara terbuka. Kami berharap dapat dibangun di galangan kapal dalam negeri,” kata Nugroho pada Rabu, 2 September 2026.

 

Hingga saat ini, proyek kapal riset baru melalui skema KPBU masih dalam tahap persiapan di Kementerian Keuangan dengan pendampingan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia. Targetnya, menurut Nugroho, pembangunan kapal baru itu rampung bersamaan dengan dua kapal produksi Piriou.

 

Kendati akan membangun tiga kapal riset baru, Kepala BRIN Arif Satria memastikan lembaganya tidak akan kembali menelantarkan Baruna Jaya. Menurut dia, BRIN tengah menyusun Rencana Revitalisasi Kapal Riset Baruna Jaya. Pelaksanaannya dirancang bertahap mulai tahun anggaran 2026 hingga 2028, beriringan dengan pembangunan kapal baru.

 

Arif berharap delapan kapal riset BRIN—terdiri atas lima kapal lama dan tiga kapal baru—dapat beroperasi penuh pada 2029 untuk mendukung berbagai misi. Dia mencontohkan, penelitian ekosistem kelautan diperlukan untuk mengumpulkan data ekologis. Dengan begitu, kuota penangkapan ikan dapat ditentukan berbasis sains.

 

Selain itu, kapal riset penting untuk mendukung pengamatan dinamika iklim, eksplorasi potensi sumber daya energi di laut dalam, mitigasi bencana, pembangunan infrastruktur bawah laut, dan misi kemanusiaan. “Target utama kami adalah mengembalikan fungsi armada ini sebagai laboratorium ilmiah bergerak yang andal untuk memperkuat kedaulatan riset maritim nasional,” tutur Arif kepada Tempo pada Senin, 31 Agustus 2026.

 

●●●

 

UPAYA menghidupkan lagi Baruna Jaya sebenarnya telah dimulai pada awal tahun ini. Pada 9 Maret 2026, Arif Satria membentuk Gugus Tugas Revitalisasi Kapal Riset Baruna Jaya. Tim teknis ini beranggotakan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional dari Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan Kawasan Sains dan Teknologi; Direktorat Pengelolaan Armada Kapal Riset; Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah; Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika; Pusat Riset Teknologi Transportasi; serta Pusat Riset Elektronika.

 

Sebulan setelah dibentuk, tim itu langsung melakukan survei untuk mengevaluasi kondisi teranyar lima kapal Baruna Jaya. Hasilnya, hanya Baruna Jaya I yang mencapai skor kategori “baik” alias secara umum layak dioperasikan dengan overhaul pada beberapa sistem utama. Pada 2018, kapal ini kondang karena menemukan sinyal kotak hitam pesawat Lion Air registrasi PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.

 

Baruna Jaya III dan VIII mendapat skor kategori “sedang” atau kerusakan sistem mulai mempengaruhi sebagian fungsi dan performa kapal. Adapun Baruna Jaya II dan IV mencatatkan skor kategori “rusak berat”, yang berarti fungsinya menurun drastis sehingga membutuhkan perbaikan besar-besaran, termasuk pada struktur kapal.

 

Ketua Gugus Tugas Revitalisasi Kapal Riset Baruna Jaya Djoko Nugroho mengatakan evaluasi internal itu dilakukan hanya melalui pengamatan visual, tanpa uji materiil. Penilaian lanjutan secara menyeluruh tetap diperlukan, terutama dengan melibatkan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). “Seluruh armada saat ini dalam kondisi darurat perbaikan,” kata Djoko, yang juga menjabat Pelaksana Tugas Sekretaris Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN.

 

Seperti halnya dipaparkan Arif, revitalisasi dimulai tahun ini dengan berfokus pada Baruna Jaya III. Rencananya, sebagian besar perbaikan kapal riset multiguna ini akan dilakukan secara mengapung (floating repair), terutama terhadap sistem dan instrumen survei.

 

“Setelah itu, lambung kapal akan diperbaiki agar memenuhi kembali persyaratan sertifikasi kelaikan pelayaran, termasuk sertifikasi dari BKI,” ujar Djoko, yang pernah menjabat Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT.

 

Tahun depan, BRIN berencana memulai perbaikan Baruna Jaya I, IV, dan VIII. Adapun revitalisasi Baruna Jaya II, kapal dengan kondisi kerusakan paling parah, dijadwalkan pada 2028. “Tapi ya kami belum tahu apakah anggarannya bisa diberikan atau tidak,” tutur Djoko.

 

Menurut Djoko, pemulihan armada Baruna Jaya tidak hanya penting bagi BRIN, tapi juga buat sejumlah kementerian dan lembaga. Badan Informasi Geospasial serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, misalnya, membutuhkan data hasil survei laut, termasuk pemetaan batimetri. Kebutuhan itu selama ini tidak dapat dipenuhi karena Baruna Jaya berhenti beroperasi.

 

Dosen perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Trika Pitana, berpendapat senada. Keberadaan kapal riset sangat penting bagi Indonesia yang sekitar 70 persen wilayahnya berupa lautan. Kapal-kapal riset diperlukan untuk menopang eksplorasi potensi sumber daya laut, dari pangan dan obat-obatan hingga energi terbarukan dan pemetaan bawah laut. “Riset-riset itu memang butuh proses yang cukup panjang untuk dapat dirasakan dampaknya,” kata alumnus program doktor ilmu kelautan Kobe University, Jepang, tersebut.

 

Walau demikian, Trika berharap BRIN tetap memperhitungkan secara komprehensif rencana revitalisasi, termasuk membandingkannya dengan upaya pengadaan kapal baru. Usia rata-rata Baruna Jaya telah lebih dari 30 tahun. Penghentian operasi beberapa tahun terakhir juga telah menyebabkan kerusakan pada sistem permesinan, kelistrikan, serta konstruksi kapal. “Revitalisasi masih memungkinkan. Tapi biaya yang dibutuhkan mahal, termasuk pemeliharaan setelah perbaikan,” ujar Trika.

 

Menurut dia, opsi penutuhan atau scraping sebaiknya tetap dibuka, terutama terhadap kapal yang tak lagi beroperasi secara efisien dan efektif. Adapun peralatan riset dari kapal yang dimatikan dapat dialihkan ke kapal yang benar-benar layak dipertahankan.

 

Klik link “Seberapa Penting Kapal Baruna Jaya untuk Riset Maritim” berikut :

https://images-tm.tempo.co/all/2026/09/12/921008/921008_1200.jpg

https://images-tm.tempo.co/all/2026/09/12/921009/921009_1200.jpg

 

Sumber :  https://www.tempo.co/sains/brin-revitalisasi-kapal-baruna-jaya-2286801

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar