Rabu, 02 Agustus 2017

Skripturalis Demokrasi dalam Fundamentalisme Pasar Pemikiran

Skripturalis Demokrasi
dalam Fundamentalisme Pasar Pemikiran
                                                                             

                                                           
Grup ronda malam Minggu di kampung saya bukan grup sembarangan. Isinya bapak-bapak vokal semua, para pengamat politik nirlaba. Meski pekerjaan hariannya rata-rata petani, juga buruh di pabrik tekstil dekat kampung kami, kualitas analisis mereka seringkali lebih canggih dibanding rombongan narasumber ILC.

Tak terkecuali malam Minggu kemarin, ketika saya datang agak awal. Pak Nardi membuka percakapan sembari mencomot pisang goreng di piring.

"Aku tuh kok bingung ya, sama aktivis-aktivis yang pintarnya selangit itu. Kok bisa mereka malah menolak pembubaran ormas yang jelas-jelas tidak sejalur dengan Pancasila? Lha sebenarnya kita ini mau diajak ke mana sih?"

"Masalahnya kan nggak sesederhana itu, Pak," Pak Memet menimpali dengan logatnya yang masih kentara sebagai warga pendatang. "Ketika mereka mengkritik Perppu Ormas, bukan berarti mereka mendukung ormas anti-Pancasila. Tapi karena Perppu itu sendiri mengandung banyak pasal karet, sehingga rentan disalahgunakan."

"Oh soal itu sih aku agak paham, Pak. Dan sedikit banyak aku setuju juga. Tapi problem di situ lebih pada soal cara, sementara yang kumaksud adalah hal yang lebih mendasar lagi."

Wajah Pak Memet tampak menunggu kelanjutan kalimat Pak Nardi. Yang ditunggu pun tidak membuang waktu.

"Gini lho. Jelas-jelas ada organisasi yang tidak berorientasi menuju terus hidupnya negara kita. Mereka ingin kita bergabung dengan khilafah tingkat dunia, di mana artinya negara kita tak lagi ada. Mosok yang begituan mau diizinkan tetap berdiri? Minta izinnya ke negara yang ingin mereka lenyapkan, pula. Dan para aktivis membela! Masuk akal tidak?"

"Lho yang diperjuangkan para aktivis itu bukan lenyapnya NKRI-lah, Pak. Tapi kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat. Termasuk kebebasan berkeyakinan. Soal khilafah itu kan keyakinan juga to? Itu murni keyakinan mereka lho, kelompok khilafahers itu. Sementara jaminan atas semua kebebasan tadi merupakan amanat UUD 45! Gimana sih sampeyan ini...." Pak Memet tampak di atas angin.

"Waini. Ini. Jadi pertanyaanku bisa dikerucutkan lagi. Begini. Sebenarnya seberapa jauh sih kebebasan berkeyakinan itu? Sebebas-bebasnya?"

"Yo enggaaak. Bebas yang bertanggung jawab, kalau kata Penataran P4 dulu. Bebas, tapi tidak menyakiti orang lain. Bebas, tapi bisa dijalani berdampingan bersama-sama. Makanya, meski berkeyakinan itu bebas, ISIS nggak bisa hidup di Indonesia. Sebab mereka melakukan kekerasan bahkan membunuhi orang lain yang tidak bersepakat dengan mereka. Itu contohnya."

"Waduh, jangan ambil contoh yang serem-serem dululah. Misalnya ini saja. Ada sekelompok orang meyakini bahwa bumi ini tidak bulat, tetapi datar. Dasar yang mereka pegang adalah ayat-ayat suci. Meski tafsir atas ayat tersebut bermacam-macam, mereka tetap percaya bahwa yang benar adalah tafsir bumi datar. Nah, apa keyakinan mereka wajib kita hormati?"

"Nggg... ya dihormatilah. Itu kan keyakinan. Syaratnya mereka tidak memaksa orang lain untuk ikut mereka."

"Oke. Tidak memaksa. Tapi apa boleh mereka menyebarkan paham itu secara baik-baik? Misalnya mereka masuk ke kampung kita. Lalu mengajarkan ke orang-orang bahwa bumi ini datar menurut kitab suci. Selanjutnya mereka bilang, kalau anak-anak kita percaya dengan pelajaran sekolah yang menyatakan bumi ini bulat, berarti anak-anak sekaligus orangtua masing-masing akan berdosa dan masuk neraka. Begitu boleh?"

"Wo ya jangaaan. Kalau sudah sejauh itu ya nggak boleh tooo!"

"Lho kenapa nggak boleh? Kan nggak maksa? Nggak pakai kekerasan, nggak pakai teror, nggak pakai ancaman. Cuma mengajarkan secara baik-baik. Kalau akhirnya warga kampung ikut percaya, prosesnya jelas bukan dari pemaksaan. Katanya tadi bebas berkeyakinan, bebas berserikat, bebas menyampaikan pendapat. Hayo gimana?"

"Hahaha! Hmmm... gimana ya. Bingung juga...."

"Nah, kan? Berarti kita nggak konsisten kan? Jadi mau pilih yang mana? Menghormati keyakinan dan kebebasan berpendapat asal tanpa kekerasan, atau memperjuangkan kemaslahatan yang lebih besar, dalam hal ini berupa kebenaran ilmiah yang diakui sistem pendidikan?"

Pak Memet masih tampak bingung mendengar cecaran Pak Nardi. Lalu ia mulai menyeruput kopinya yang mulai mendingin.

"Nah, begitu pula dengan keyakinan dan kebebasan bersuara para pembela khilafah kan? Itu membawa kemaslahatan bagi hidup bermasyarakat dan berbangsa apa tidak?" dengan lincah Pak Nardi tampak langsung mengambil kesimpulan sepihak. "Tapi tunggu dulu. Sebenarnya prinsip kebebasan yang kita ikuti ini konsep idealnya mengacu ke mana to?"

Tak ada yang menjawab. Lalu Pak Memet mencolek Ganang, pentolan Karang Taruna yang sedang main gaple bersama beberapa eksponen ronda malam Minggu lainnya. Sambil masih menunggu giliran membanting kartu, Ganang menyahut sambil lalu. "Yooo itu kan bagian dari prinsip dasar demokrasi dan HAM to, Pakde...."

Pak Nardi manggut-manggut. Pak Memet mulai menyalakan rokoknya.

"Oh! Atau kalau mau cari yang lebih detail ya kita bisa menyebut konsep masyarakat terbuka ala Karl Popper to, Nang. Itu, di bukunya The Open Society and Its Enemies itu lho," akhirnya saya angkat suara juga. Begitu muncul kesempatan untuk pamer kutipan dari tokoh-tokoh intelektual dunia, saya wajib tampil. Mau gagasan seremeh apa pun, sebaiknya nebeng kepada nama-nama besar. Itulah prinsip kerja saya dalam meneguhkan modal sosial sebagai elite pengetahuan tingkat RT.

Kali ini Ganang mengangkat kepala, mengabaikan kartu gaple di tangannya, menatap ke arah saya. Sebagai senior Ganang se-fakultas, saya pun merasa dituntut untuk menuntaskan bunga rampai kutipan saya. Maka saya meneruskan,

"Jadi dalam nilai ideal Karl Popper, open society berjalan berlandaskan rasionalisme kritis. Ruang publik sangat diandalkan, di mana terjamin kebebasan setiap individu untuk menyampaikan pemikiran dan keyakinan. Maka setiap individu harus menyadari bahwa mereka semua setara, alias tidak ada individu yang lebih berharga dalam masyarakat ketimbang yang lain. Dari situlah muncul prinsip-prinsip semacam 'orang lain berhak didengar dan mempertahankan argumen', lalu 'aku mungkin salah dan kamu mungkin benar', juga 'semua pengetahuan bisa salah'."

Wajah-wajah mulai tampak kekenyangan mendengar paparan saya, meski mendoan dan tahu isi di piring-piring masih banyak yang tersisa.

"Jadi gagasan apa pun," saya melanjutkan, "sepanjang ia tidak melakukan pelanggaran hak atas orang lain dengan tindak-tindak kriminal dan sejenisnya, bebas saja bersaing. Bebas berdialektika. Nanti pada akhirnya akan terseleksi mana ide yang paling tahan banting. Begitu, Denmas."

"Sik, sik, Mas Iqbal," Ganang mengangkat tangannya, menyetop saya. Sepertinya ia sudah tak peduli lagi dengan permainan gaplenya. "Gini, Mas. Kalau memang semua bebas berkompetisi dengan super-ideal begitu, emangnya syarat-syarat masyarakat terbuka ala Popper ada di masyarakat kita?"

"Lho, sisi mana yang nggak ada?" Saya sedikit menegakkan punggung. Berani-beraninya Ganang mau mengkritik penerapan pikiran Karl Popper.

"Satu, Mas. Apa orang-orang yang ingin melenyapkan NKRI itu mau mengakui bahwa gagasan mereka tidak lebih berharga dibanding gagasan orang lain? Yo jelas enggaklah. Tawaran-tawaran ide selain ide mereka sendiri kan dibilang sistem thaghut lah, sistem setan lah. Dari situ saja sudah tidak memungkinkan berjalannya konsep masyarakat terbukanya Popper."

"Trus?"

"Dua, dengan titik pijak demikian, apa mungkin mereka berprinsip bahwa semua bisa salah? Sistem yang mereka yakini itu sudah mereka tempatkan sebagai kebenaran final. Tak ada tawar-menawar lagi. Nah, bagaimana bisa kompetisi gagasan dalam surga dunia bernama open society itu dijalankan dengan membabi buta?"

"Lhooo ya jelas bisalah, Nang! Itu kan pertarungan fair play, yang sudah dijalankan juga di negara-negara maju. Masak kamu nggak tahu? Kalau belum tahu, sini aku kasih tahu." Saya mulai agak panas. Ini saatnya menunjukkan kehebatan negara-negara Barat.

"Oh, ya? Contohnya mana tuh, Mas negara-negara hebat yang sampeyan acu? Fair play beneran?"

"Australia, misalnya. Atau Prancis. Di kedua negara itu, mau menjual ide apa saja bebas. Mau khilafah, mau komunis, mau bikin agama penyembah alien, semua bebas. Asal tidak melanggar batas-batas hukum semisal kekerasan, ya nggak apa-apa. Tapi begitu ada acara main pukul, polisi langsung bertindak. Fair play kan?"

"Terus yang begitu itu mau diterapkan mentah-mentah di Indonesia?"

"Lho kenapa tidak? Di mana masalahnya? Negara-negara maju bisa melakukannya. Kita semestinya ikut mereka kalau ingin maju."

"Hahaha! Oalah, Mas Iqbaaal. Sampeyan itu kok tekstual banget to, Mas." Ganang mulai pasang wajah mencibir. "Gagasan demokrasi ini kan kita impor dari Barat. Di saat kita mulai menjalankannya, sejarah kita tidak berangkat dari garis start yang sama dengan mereka."

"Maksud loh?"

"Gini. Mungkin sejauh ini mereka menjalankan fair play dalam kompetisi gagasan di tengah masyarakat mereka. Tapi ingat, masyarakat Prancis sendiri sudah jauh lebih terdidik. Mereka siap dengan pertarungan bebas gagasan-gagasan. Prancis itu kampung kelahiran Renaissance lho. Sementara masyarakat Indonesia, ah, seberapa melek pengetahuan sih? Literasi buku saja belum tuntas, eh sudah langsung dihajar dengan bacaan internet yang riuh rendah penuh sampah. Fondasi kita beda dengan Prancis, Mas! Dengan logika macam apa kita mengharapkan masyarakat kita bisa menyeleksi pemikiran di tengah pertarungan bebas yang sebenarnya nggak benar-benar bebas itu?"

"Wah kamu ternyata fasis sekali. Fascist in disguise."

"Weeee jangan buru-buru ngambek to, Mas. Katanya tadi dalam prinsip Popper semua pengetahuan bisa salah. Lah artinya demokrasi yang tekstual begitu bisa salah juga kan? Teori-teori Karl Popper sendiri juga bisa salah kan? Atau sampeyan mau membela demokrasi liberal dalam posisi sebagai kebenaran final transendental, yang rumus-rumusnya haram untuk diutak-utik lagi hingga kedatangan Imam Mahdi?"

"Nyinyir kamu...."

"Makanya, mbok ya sebagai seniorku tuh jangan terlalu text book gitu. Itu namanya sampeyan skripturalis demokrasi. Mengkritik keras tafsir-tafsir tekstual atas agama, eh giliran menafsir demokrasi kok tekstualnya minta ampun. Belum lagi prinsip kebebasan dalam kompetisi gagasan mengandaikan negeri kita berjalan dari latar dan situasi yang sama dengan negara-negara maju pujaan hatimu. Apa itu namanya bukan fundamentalisme pasar? Fundamentalisme pasar pemikiran! Hoahaha!"

Suara tawa Ganang itu mendenging-denging di telinga saya. Terus mendenging, sampai kemudian saya tersadar bahwa semua percakapan itu cuma muncul dari pikiran-pikiran galau saya.

Dan ternyata... saya masih di Perth, pada ujung musim dingin yang menggigit. Padahal yang ada di musim dingin ini hanyalah paket flu dan masuk angin. Bukan pisang goreng, bakwan, atau ronda malam Minggu.

Ealah, sepertinya saya cuma rindu pulang ke Bantul.... ●



( Sumber :  Iqbal Aji Daryono, DETIKNEWS 25 Juli 2017 )

Minggu, 16 Juli 2017

Menyusun Rencana Kabur dari Kemiskinan

Menyusun Rencana Kabur dari Kemiskinan
Hasanudin Abdurakhman  ;   Cendekiawan; Penulis;
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                    KOMPAS.COM, 19 Juni 2017



                                                           
Bagi saya penyebab utama kemiskinan adalah pola pikir dan kemalasan. Artinya, kalau mau membebaskan diri dari kemiskinan, orang harus mengubah pola pikirnya, dan bekerja keras.

Akibatnya saya dikritik. Kata pengritik, seolah saya hendak mengatakan bahwa orang-orang miskin itu pemalas. Kemiskinan, kata mereka, bukan melulu soal kerja keras atau pemalas, tapi juga terkait dengan kebijakan pemerintah. Mereka menyebutnya kemiskinan struktural.

“Kurang keras bagaimana lagi para buruh atau kuli itu bekerja, tetap saja mereka miskin,” kata mereka.

Ketika bicara soal kemiskinan dan orang miskin, saya lebih suka membicarakannya sebagai “kita”, bukan “mereka”. Maka, ketika saya bicara soal kemalasan, itu bukan untuk menuding atau merendahkan, tapi sebagai evaluasi untuk memperbaiki diri. Ini soal mencari apa yang salah, bukan menyalahkan.

Banyak orang bekerja keras, tapi tetap miskin. Apa yang kurang kalau begitu? Saya suka mengandaikan kemiskinan itu seperti gravitasi. Kita dan semua benda bermassa terikat oleh gaya gravitasi bumi. Kalau kita melompat ke atas, kita akan ditarik kembali ke muka bumi. Kalau kita terbang dengan pesawat, kita harus mendarat kembali.

Bisakah kita lepas dari ikatan gaya gravitasi itu? Bisa. Hanya saja, kita memerlukan energi besar. Energi itu setara dengan yang diperlukan untuk melempar benda dengan kecepatan 11,2 km/detik, atau 40.320 km/jam.

Kecepatan ini disebut escape velocity atau kecepatan kabur. Seberapa cepat itu? Rekor kecepatan tertinggi sebuah pesawat terbang hingga saat ini adalah 3.530 km per jam, jauh di bawah kecepatan kabur tadi.

Para penjelajah ruang angkasa berhasil membebaskan diri mereka dari ikatan gravitasi bumi. Dengan roket yang membawa bahan bakar sumber energi dalam jumlah besar. Sejumlah energi digunakan dalam suatu rentang waktu yang lama.

Artinya, diperlukan energi dalam jumlah besar, juga diperlukan waktu yang lama. Bila tidak cukup, apa boleh buat, kita akan kembali jatuh ke bumi.

Begitu pula dengan kerja untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Kerja keras saja tidak cukup. Kita perlu kerja keras dalam waktu yang lama, dan juga perlu strategi untuk memastikan bahwa kita tidak terjatuh kembali. Saya menyebutnya dengan rencana kabur, atau escape plan.

Berikut beberapa kunci dalam rencana kabur untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Pertama, pastikan kita bekerja dengan penghasilan memadai. Bekerja tanpa penghasilan memadai, seberapa keras pun, seberapa lama pun, tidak akan membebaskan kita dari kemiskinan.

Intinya, harus ada sejumlah uang dari penghasilan kita yang kita sisihkan untuk memperbesar tenaga kita dalam rangka membebaskan diri tadi.

Bagaimana kalau yang kita terima saat ini ternyata kurang? Cari pekerjaan lain. Tapi bagaimana bila tidak ada pilihan lain? Ada! Yang mengatakan tidak ada itu adalah orang yang menderita penyakit miskin pikiran. Itu yang membuat dia tidak bisa keluar dari kemiskinan.

Maaf, saya harus mengatakan ini. Saya melihat begitu banyak orang yang melakukan pekerjaan tanpa masa depan. Mereka bekerja hanya cukup untuk makan sehari-hari, bahkan kurang. Tapi mereka tidak mau berganti pekerjaan.

Kebanyakan berkata, tidak ada pilihan lain. Pilihan ada banyak, dan diambil oleh orang lain. Orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Mau contoh nyata? Pekerjaan sebagai pak ogah, pedagang asongan, dan sejenisnya itu, bukan pekerjaan yang bisa membebaskan diri dari kemiskinan. Kalaupun bisa, diperlukan strategi yang sangat khusus, yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut.

Kedua, lakukan pekerjaan dengan peningkatan penghasilan. Tanpa peningkatan, kita akan terus bekerja dalam waktu yang lama, dan sulit untuk lepas dari kemiskinan. Tapi, bagaimana caranya?

Kalau kita pedagang asongan, cobalah untuk menjual lebih banyak dari yang lain, dengan cerdik mencari tempat berjualan, atau barang yang dijual.

Tabunglah sejumlah penghasilan untuk dijadikan modal, menambah barang dagangan. Atau, gunakan itu sebagai modal untuk mempekerjakan orang lain.

Seorang tukang harus meningkatkan keterampilannya agar upahnya bertambah. Perlahan ia harus meningkatkan posisi dari tukang biasa menjadi kepala tukang, atau mandor. Kelak ia bisa meningkat jadi pemborong kecil-kecilan.

Apakah semua ini nyata? Ya, ini semua nyata. Ada banyak orang yang berhasil dengan cara seperti itu. Sayangnya lebih banyak yang bertahan, terikat erat pada zona nyaman yang sebenarnya sangat tak nyaman, yaitu kemiskinan.

Jadi, ini jawaban atas pertanyaan tadi. Kerja keras saja memang tidak cukup untuk bebas dari kemiskinan. Perlu kerja dengan peningkatan.

Itulah yang dulu dilakukan emak saya. Ayah dulu bekerja sebagai buruh tadi. Bagi Emak, itu bukan pekerjaan yang bisa membebaskan dia dari kemiskinan, karena hasilnya sedikit dan tidak ada peningkatan.

Emak mengajak Ayah pindah ke kampung baru, membuka lahan, dan membangun kebun. Punya kebun sendiri adalah langkah awal untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Ketiga, prihatin. Artinya, menahan diri dari kemewahan dalam bentuk apapun. Ada banyak orang yang segera ingin menikmati kemewahan saat baru saja mendapat penghasilan lebih baik dari sebelumnya.

Sebagian bahkan tidak sadar bahwa tambahan penghasilan itu sementara saja sifatnya. Mereka mengira itu kekal, lalu berfoya-foya. Saat sumbernya hilang, barulah mereka menyesal.

Sepanjang masa sekolah dulu saya nyaris tak punya baju selain seragam sekolah. Emak sengaja mengajari kami untuk menahan diri, meski sebenarnya sudah mampu membelinya.

Emak memilih memakai uangnya untuk hal-hal yang lebih berguna untuk masa depan. Demikian pula, Emak mengajari kami untuk tidak jajan dan makan di luar. Lebih baik masak sendiri kalau ingin makan enak.

Keempat, lakukan apa saja. Apa saja yang bisa menambah penghasilan, menjadikan hidup kita lebih baik. Kalau kita tidak bisa, belajar. Jangan pernah membatasi diri dengan kata tidak bisa.

Banyak orang sukses dengan cara ini. Mencoba, belajar, coba lagi, sampai berhasil. Dengan cara yang sama ia terus membesar.

Empat poin di atas mungkin belum cukup untuk membuat kita bebas dari kemiskinan. Tapi empat poin itu fundamental. Tanpa itu, kita tidak akan bisa membebaskan diri. ●