Senin, 03 Agustus 2026

 

Ontran-ontran Mundurnya Perry Warjiyo dari Bank Indonesia

Fery Firmansyah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Pengumuman penggantian Gubernur BI di awal pekan terjadi secara mendadak.

 

·      Sejumlah informasi menyebutkan Perry Warjiyo diminta meletakkan jabatannya.

 

·      Investor lebih menyoroti gejala intervensi terhadap bank sentral yang makin liar.

 

KABAR mundurnya Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia pada Senin pagi, 27 Juli 2026, membuat kami, tim pengampu rubrik Ekonomi dan Bisnis Tempo, pontang-panting. Hari itu kami dan karyawan Tempo lain seharusnya memulai pekan dengan senyum karena baru saja menerima gaji.

 

Tapi kali ini yang terjadi di tim kami adalah kesibukan. Editor pengampu laman current issues dan konten harian sibuk menugasi reporter ke berbagai tempat. Sementara itu, tim konten mingguan bermanuver, mengganti daftar perencanaan yang sudah ditentukan pada pekan sebelumnya dengan isu mundurnya Perry.

 

Sebetulnya gonjang-ganjing mundurnya Perry Warjiyo sudah lama kami dengar. Banyak rekan dan narasumber di bank sentral serta lembaga lain berbisik, akan ada “sesuatu yang besar” pada pertengahan tahun.

 

Selama berbulan-bulan kabar penggantian Perry Warjiyo terus berembus, seiring dengan penyelidikan soal dugaan korupsi dana tanggung jawab sosial BI. Isu penggantian Gubernur BI pun bak sakelar lampu. Ibarat kata, lengsernya Perry tinggal menunggu “bos besar” menekan tombol.

 

Pada akhir pekan lalu, kami sebetulnya mendengar kabar bahwa penggantian Perry bakal terlaksana. Namun ketika itu tak ada yang memberikan konfirmasi dan informasi yang berembus pun agak sumir.

 

Lagi pula beberapa anggota tim yang biasa mengawal isu keuangan dan moneter tahu bahwa Perry sedang melawat ke Singapura, menghadiri Executives' Meeting of East Asia-Pacific Central Banks atau pertemuan bos bank sentral se-Asia-Pasifik. Tak ada yang menyangka bahwa peristiwa penggantian itu akan terjadi pada akhir pekan, ketika kebanyakan orang, termasuk para pejabat, sedang berlibur.

 

Barulah ketika pengumuman suksesi Gubernur BI muncul, terkuak sejumlah informasi penting. Salah satunya soal seorang politikus yang menjadi kurir pembawa kabar kepada Perry yang berisi “perintah mundur” dari Istana.

 

Informasi lain adalah pertemuan mendadak para Deputi Gubernur BI dan pejabat di bawahnya pada Ahad pekan lalu, setelah Perry memastikan mundur. Kami melakukan check and recheck soal kabar-kabar tersebut kepada sejumlah pejabat. Hasilnya, mereka memberikan konfirmasi yang sama.

 

Ontran-ontran alias kekacauan di bank sentral pun bukan peristiwa tunggal. Sejumlah pejabat menginformasikan bahwa pemicu mundurnya Perry Warjiyo adalah kemarahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang membahas koperasi desa merah putih. Dalam rapat itu, Perry tak hadir.

 

Namun, kata beberapa narasumber, Perry disoroti karena kebijakannya dianggap membuat likuiditas perbankan kering sehingga pendanaan untuk proyek prioritas Presiden seret. Kebijakan itu antara lain permintaan pengembalian dana saldo anggaran lebih yang kadung disalurkan ke bank sentral serta penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI.

 

Tentu saja, ketika meramu kisah ini, kami meminta tanggapan pihak-pihak yang disebut. Seperti biasa, ada yang menanggapi, banyak yang enggan menjawab. Selain itu, kami menyajikan informasi seputar para tokoh yang digadang-gadang masuk bursa Gubernur BI definitif.

 

Tak lupa, ada tulisan yang menjelaskan dampak ontran-ontran bank sentral terhadap pasar keuangan. Tulisan ini juga mengungkap penyebab utama kegelisahan investor bukanlah penggantian pejabat, melainkan sinyal intervensi pemerintah terhadap bank sentral yang kian liar.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/perry-warjiyo-independensi-bank-indonesia-2279812

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar