|
BERMAIN TUHAN DAN JALAN PANJANG INOVASI -
Inspirasi dari Film JOY (2024) Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 18 Agustus 2026
|
Seorang
perempuan menatap sebuah tabung kecil di laboratorium. Di dalamnya, kehidupan
belum menjadi tangis, belum menjadi nama, bahkan belum menjadi seorang bayi.
Ia baru sekumpulan sel yang nyaris tak terlihat. Namun
bagi seseorang yang bertahun-tahun menunggu seorang anak, di sanalah seluruh
dunia sedang dipertaruhkan: memiliki anak melalui proses bayi tabung. Ada
kamar yang tetap kosong. Ada nama yang mungkin telah lama dipilih. Ada ulang
tahun yang belum pernah dirayakan. Ada doa yang dipanjatkan berkali-kali,
tetapi langit seperti memilih diam. Di
luar laboratorium, kemarahan justru membesar. Para perintis bayi tabung ini
(fertilisasi in vitro) dituduh sedang bermain Tuhan. Mereka dibandingkan
dengan Frankenstein: manusia yang begitu ingin menaklukkan rahasia kehidupan,
hingga lupa bahwa ciptaannya suatu hari dapat berbalik menghantuinya. Tetapi
di dalam laboratorium, tiga manusia terus bekerja. Mereka tahu infertilitas
bukan sekadar istilah medis tentang sulitnya memperoleh kehamilan. Di
balik satu kata itu tersembunyi kesunyian yang panjang: pasangan yang pulang
ke rumah tanpa suara anak. Juga perempuan yang bertanya-tanya mengapa
tubuhnya tak kunjung memberi kehidupan. Banyak
pula keluarga yang perlahan belajar berdamai dengan kemungkinan bahwa
seseorang yang sangat mereka nantikan mungkin tak pernah datang. Lalu
sejarah mengambil jalan yang berbeda. Pada 25 Juli 1978, lahirlah Louise Joy
Brown, bayi pertama di dunia yang dilahirkan melalui fertilisasi in vitro,
IVF, yang kemudian populer disebut bayi tabung. Ia
lahir seperti bayi lainnya. Menangis. Bernapas. Hidup. Tetapi tangis bayi itu
mengubah sejarah. Apa
yang sebelumnya dianggap melawan alam, bahkan menghina Tuhan, tiba-tiba
memiliki wajah seorang bayi perempuan. Sejak
hari itu, pertanyaannya tak lagi sederhana. Jika ilmu pengetahuan mampu
mengurangi penderitaan manusia, sampai sejauh mana ia boleh melangkah? Kapan
inovasi menjadi pembebasan? Kapan keberanian berubah menjadi kesombongan? Dan
pada titik mana manusia, karena mampu melakukan sesuatu, mulai merasa bahwa
ia juga berhak melakukan segala sesuatu? Di
situlah dilema terbesar inovasi berada. Memang inovasi yang sah bukanlah
inovasi tanpa batas. Ia adalah keberanian memasuki wilayah yang belum
dikenal, sambil tetap rendah hati di hadapan fakta. Juga
perlu sadar bahwa kemampuan menciptakan kemungkinan baru selalu datang
bersama kewajiban etis untuk mempertanggungjawabkannya. Sebab
sejarah berkali-kali menunjukkan: manusia maju bukan hanya karena berani
menembus batas. Manusia maju karena belajar batas mana yang memang harus
ditembus, dan batas mana yang justru harus dijaga. -000- Film
JOY membawa kita ke Inggris antara akhir 1960-an dan 1978, ketika IVF,
fertilisasi in vitro, belum dianggap
pengobatan, melainkan eksperimen radikal yang menggelisahkan masyarakat. IVF
mempertemukan sel telur dan sperma di luar tubuh, kemudian memindahkan embrio
ke rahim. Kini terdengar biasa, tetapi dahulu prosedur ini mengguncang batas
imajinasi manusia. Pada
mulanya, IVF berdiri di persimpangan yang genting antara harapan medis,
ketidakpastian ilmiah, ketakutan sosial, keberatan moral, dan kerinduan
manusia akan seorang anak. Film
garapan Ben Taylor ini memilih Jean Purdy sebagai pintu masuk cerita.
Thomasin McKenzie memerankan Purdy, James Norton menjadi Robert Edwards, dan
Bill Nighy menjadi Patrick Steptoe. Pilihan
menjadikan Purdy pusat cerita sangat berarti. Edwards menerima Hadiah Nobel
Fisiologi atau Kedokteran pada 2010 atas pengembangan IVF, tetapi
keberhasilan itu bukan pekerjaan seorang diri. Arsip
dan penelitian sejarah tentang catatan Oldham memperlihatkan Purdy sebagai
figur penting dalam laboratorium, pengelolaan data, persiapan media, serta
pendampingan pasien proyek IVF awal. Secara
visual, JOY tidak mengejar kemegahan. Laboratoriumnya biasa, koridor rumah
sakitnya dingin, ruang kerjanya sempit. Kamera justru lebih tertarik kepada
wajah manusia daripada teknologi. Di
situlah kekuatannya. Kita tidak melihat manusia dengan gagah menaklukkan
alam, melainkan manusia yang berkali-kali dikalahkan alam, lalu perlahan
memahami sebagian kecil rahasianya. Sains
dalam JOY bukan parade kemenangan. Ia adalah tangan yang menata alat, wajah
yang menunggu hasil, koridor sunyi, dan manusia yang kembali bangkit setelah
kegagalan. -000- Kisah
itu dimulai pada 1968 ketika Jean Purdy, perawat muda yang kemudian menjadi
asisten riset dan embriolog klinis, bergabung dengan laboratorium Robert
Edwards di Cambridge. Edwards
membawa gagasan sederhana sekaligus radikal: sel telur manusia mungkin dapat
dibuahi di luar tubuh, kemudian embrio yang terbentuk dikembalikan ke dalam
rahim perempuan. Untuk
mewujudkannya, ia bekerja bersama Patrick Steptoe, dokter kandungan di Oldham
yang menguasai laparoskopi, teknik pengambilan sel telur yang ketika itu
masih sangat inovatif. Perjalanan
Cambridge menuju Oldham panjang. Dana terbatas, fasilitas seadanya, dukungan
institusional rapuh. Namun mereka memiliki keyakinan penting: kegagalan hari
ini belum membuktikan kemustahilan selamanya. Mereka
berhasil membuahi sel telur manusia. Tetapi keberhasilan di laboratorium
belum berarti kehamilan dapat bertahan. Dalam sains, setiap jawaban sering
melahirkan pertanyaan yang lebih sulit. Tekanan
dari luar terus membesar. Media membangkitkan kecemasan publik, ilmuwan
mempertanyakan keselamatan, institusi enggan mendukung, sementara kalangan
keagamaan menganggap mereka memasuki wilayah terlarang. Bagi
Jean Purdy, benturan itu menjadi sangat personal. Ia perempuan beriman,
tetapi pekerjaannya memaksanya menghadapi pertanyaan yang jauh lebih dalam
daripada slogan “bermain Tuhan.” Apakah
menerima penderitaan sebagai batas merupakan satu-satunya bentuk ketaatan?
Ataukah menggunakan pengetahuan untuk mengurangi penderitaan juga dapat
menjadi sebuah tanggung jawab moral manusia? Purdy
sendiri menderita endometriosis berat, kondisi yang dapat menimbulkan nyeri
dan berkaitan dengan gangguan kesuburan. Infertilitas baginya bukan hanya
persoalan klinis, tetapi luka kehidupan. Setelah
hampir satu dekade bekerja, Lesley Brown menjadi pasien yang kehamilannya
berhasil bertahan. Pada 25 Juli 1978, Louise Joy Brown lahir di Oldham dan
mengubah sejarah. Kini,
para peneliti Cambridge memperkirakan lebih dari 13 juta bayi telah lahir
melalui IVF di seluruh dunia, sebuah angka yang memperlihatkan betapa jauhnya
perjalanan sebuah eksperimen. Di
balik angka itu berdiri Edwards, Steptoe, Purdy, dan para perempuan yang
menyerahkan tubuh, harapan, kecemasan, serta keberanian mereka kepada sebuah
kemungkinan yang belum bernama. -000- Kemajuan sering lahir sebagai penyimpangan Setiap
zaman mempunyai batas imajinasinya sendiri. Manusia cenderung menganggap
sesuatu yang bergerak terlalu jauh di luar batas itu sebagai penyimpangan,
bahkan sebagai kesesatan. Kita
kerap keliru mengira konsensus sebagai kebenaran. Padahal konsensus hanyalah
perhentian sementara tempat pengetahuan, kebiasaan, ketakutan, kepentingan,
dan nilai suatu zaman saling bertemu. IVF
dahulu dianggap mengerikan bukan semata-mata karena bukti ilmiah menunjukkan
bahayanya. Penolakan juga muncul karena masyarakat belum memiliki bahasa
moral untuk memahami teknologi baru tersebut. Namun
JOY tidak boleh dibaca sebagai pembelaan bahwa inovator selalu benar. Sejarah
teknologi juga dipenuhi penemuan yang melahirkan penderitaan, ketimpangan,
eksploitasi, bahkan kehancuran manusia. Keberanian
ilmiah bukan keberanian melawan mayoritas demi kebanggaan menjadi berbeda. Ia
adalah keberanian menyerahkan hipotesis kepada pembuktian, pengawasan,
koreksi, bahkan kemungkinan bahwa hipotesis itu keliru. Di
sini pemikiran Karl Popper tetap relevan. Pengetahuan berkembang bukan karena
teori dibuat kebal terhadap kritik, melainkan karena manusia menyediakan
ruang agar teori dapat dibantah. Edwards,
Steptoe, dan Purdy tidak mempunyai kepastian mutlak. Mereka hanya memiliki
ketekunan untuk mengubah kegagalan menjadi informasi, lalu mengubah informasi
menjadi pertanyaan yang lebih baik. Dalam
tradisi ilmiah yang sehat, eksperimen gagal bukan penghinaan terhadap
keyakinan. Ia adalah bisikan kenyataan bahwa masih ada sesuatu yang belum
sungguh-sungguh kita pahami. Inovasi,
karena itu, bukan kemenangan ego melawan masyarakat. Ia adalah perjalanan
manusia mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan melalui eksperimen yang
selalu terbuka terhadap kritik dan koreksi. -000- “Bermain Tuhan” bukan pertanyaan sederhana Ungkapan
“bermain Tuhan” mempunyai daya retoris besar karena segera menciptakan garis
moral, seolah terdapat wilayah kehidupan yang secara kodrati tidak boleh
disentuh tangan manusia. Namun
sejarah kedokteran menunjukkan garis itu terus bergeser. Anestesi, vaksin,
dialisis, transplantasi organ, respirator, dan operasi jantung semuanya
pernah mengintervensi batas alamiah kehidupan manusia. Ketika
ginjal seseorang berhenti bekerja, dialisis mengambil alih sebagian
fungsinya. Apakah manusia sedang melawan Tuhan, atau justru merawat kehidupan
dengan kemampuan yang dimilikinya? Pertanyaan
itu tidak menghapus keberatan moral. Teknologi reproduksi menyentuh embrio,
keluarga, keturunan, tubuh perempuan, martabat manusia, serta kemungkinan
komersialisasi kehidupan yang memang patut dipersoalkan. Sebaliknya,
sains menjadi berbahaya apabila keberhasilan teknis dianggap otomatis
memberikan legitimasi moral. Sesuatu yang dapat dilakukan manusia belum tentu
merupakan sesuatu yang seharusnya dilakukan manusia. Karena
itu, pertanyaan yang lebih dewasa bukan sekadar apakah manusia sedang bermain
Tuhan, melainkan bagaimana kekuasaan baru dari pengetahuan digunakan secara
aman, adil, dan bertanggung jawab. Kekhawatiran
itu bukan tanpa dasar. Pembuahan di luar tubuh dapat menghasilkan embrio yang
tidak digunakan, lalu membuka pertanyaan sangat mendasar mengenai awal
kehidupan dan martabat embrio. Sejauh
mana manusia boleh campur tangan pada tahap paling awal eksistensinya?
Pertanyaan itu tidak selesai hanya karena teknologi telah membuktikan bahwa
campur tangan tersebut mungkin dilakukan. Sheila
Jasanoff, dalam The Ethics of Invention, mengingatkan bahwa teknologi tidak
pernah sekadar alat netral. Ia membentuk pilihan, membagi kekuasaan, mengubah
institusi, dan mendefinisikan kenormalan. Dari
sudut itu, IVF bukan hanya keberhasilan laboratorium. Ia mengubah makna
reproduksi, keluarga, pilihan, dan keterbatasan biologis, sehingga inovasi
memerlukan dialog etis serta pengawasan publik. -000- Penderitaan, akses, dan keadilan Ada
perubahan kecil tetapi menentukan dalam perjalanan Jean Purdy. Mula-mula,
perempuan yang datang ke laboratorium mudah terbaca sebagai pasien, nomor
kasus, ovum, embrio, atau eksperimen. Kemudian
mereka memiliki nama. Statistik memperoleh wajah, penelitian memperoleh
suara, dan infertilitas berhenti menjadi persoalan laboratorium semata, lalu
menjelma menjadi pengalaman eksistensial manusia. Inilah
jantung moral JOY. Inovasi tidak menjadi mulia karena kecanggihan
teknologinya, tetapi karena manusia yang sebelumnya menderita memperoleh
kemungkinan baru untuk menjalani kehidupan berbeda. Namun
kemenangan IVF membuka persoalan baru. Margaret Marsh dan Wanda Ronner
menunjukkan bahwa teknologi reproduksi selalu bersentuhan dengan politik,
ekonomi, kebudayaan, keluarga, serta moralitas masyarakat. Pertanyaannya
bukan lagi sekadar apakah IVF mungkin dilakukan. Pertanyaan berikutnya ialah
siapa yang dapat mengaksesnya, siapa menanggung risikonya, dan berapa harga
sebuah harapan harus dibayar. Di
banyak negara berpendapatan rendah dan menengah, IVF serta layanan reproduksi
berbantu masih berada jauh di luar jangkauan sebagian besar manusia yang
sebenarnya membutuhkannya. Organisasi
Kesehatan Dunia mencatat biaya, minimnya pembiayaan publik, kekurangan tenaga
terlatih, serta infrastruktur sebagai hambatan besar bagi manusia yang
mencari pertolongan atas infertilitas. Dalam
sejumlah konteks, satu siklus IVF bahkan dapat melampaui pendapatan tahunan
rata-rata, membuat teknologi yang menghadirkan harapan sekaligus
memperlihatkan wajah lain dari ketimpangan. Dengan
demikian, kemajuan teknologi tidak otomatis berarti keadilan. IVF dapat
membebaskan manusia dari sebagian batas biologis, tetapi manfaatnya tidak
semestinya menjadi kemewahan kelompok berpunya. Teknologi
tidak mempunyai moralitas intrinsik. Pertanyaan terpenting selalu berada pada
manusia: penderitaan siapa yang dikurangi, risiko siapa yang bertambah, dan
siapa yang akhirnya menikmati manfaatnya? Penderitaan
personal dapat membuat seseorang semakin tertutup. Pada Jean Purdy,
penderitaan justru tampak memperluas solidaritas kepada perempuan lain yang
mungkin memperoleh sesuatu yang tak dimilikinya. Jean
Purdy meninggal karena melanoma pada 1985, dalam usia 39 tahun. Patrick
Steptoe meninggal tiga tahun kemudian. Nobel 2010 akhirnya hanya dapat
diterima Robert Edwards. Namun
sejarah mempunyai ukuran lain. Panjang usia seseorang dan panjang jejak yang
ditinggalkannya tidak selalu berjalan bersama. Ada kehidupan singkat yang
gema kemanusiaannya melampaui zaman. -000- Kehati-hatian bukan musuh kemajuan Karena
kita hidup setelah Louise Brown lahir dengan selamat, mudah bagi kita
memandang seluruh penentang IVF pada masa lalu sebagai manusia berpikiran
sempit dan takut perubahan. Penilaian
itu tidak sepenuhnya adil. Pada awal 1970-an, risiko kelainan, dampak jangka
panjang, keselamatan perempuan, dan nasib embrio belum sepenuhnya diketahui
oleh ilmu pengetahuan. Dalam
keadaan seperti itu, kehati-hatian dapat menjadi kewajiban etis. Keraguan
bukan selalu musuh kemajuan. Kadang-kadang ia merupakan pagar yang mencegah
keberanian berubah menjadi kesombongan. Tetapi
kehati-hatian berbeda dari penolakan otomatis. Kritik yang baik meminta
bukti, keselamatan, konsekuensi, perlindungan peserta, biaya, dan alternatif,
bukan sekadar berlindung di balik ketakutan. Ketakutan
yang buruk berhenti pada satu alasan sederhana: sesuatu tidak boleh dilakukan
hanya karena belum pernah dilakukan sebelumnya. Jika prinsip itu berkuasa,
sejarah manusia akan berhenti. Dilema
tersebut semakin tajam pada teknologi reproduksi masa depan. Penyuntingan
genom manusia pada garis germinal atau embrio, misalnya, dapat menghasilkan
perubahan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Organisasi
Kesehatan Dunia menekankan perlunya tata kelola, pengawasan, transparansi,
dan kerangka etis yang kuat. Teknologi tidak boleh tumbuh di ruang kosong
tanpa kebijakan dan akuntabilitas. Pelajaran
JOY bukan bahwa masyarakat harus menyerah kepada semua inovasi. Kemajuan
justru memerlukan ketegangan produktif antara keberanian ilmiah, skeptisisme,
etika, regulasi, dan kepentingan manusia. Kita
memerlukan ilmuwan yang mencari jalan baru, skeptikus yang meminta bukti,
etikus yang menjaga martabat, serta regulator yang memastikan keberanian
tidak dibayar dengan keselamatan manusia. Peradaban
tumbuh bukan ketika keberanian membungkam kehati-hatian, juga bukan ketika
ketakutan membunuh kemungkinan. Ia tumbuh ketika keduanya berbicara dalam
bahasa bukti, tanggung jawab, dan kepedulian. -000- Saya
akhirnya melihat JOY bukan terutama sebagai film tentang kelahiran bayi
tabung. Ia adalah cerita tentang lahirnya sebuah kemungkinan baru dalam
sejarah panjang manusia. Sebelumnya,
bagi banyak pasangan, infertilitas adalah titik. Sesudah Edwards, Steptoe,
Purdy, dan para perempuan peserta penelitian awal, titik itu perlahan berubah
menjadi tanda tanya: mungkinkah ada jalan lain? Jean
Purdy tidak sempat menyaksikan sebagian besar dunia yang ikut ia bantu
lahirkan. Jutaan anak hasil IVF datang ke dunia setelah ia sendiri
meninggalkannya. Mereka
tumbuh, belajar, jatuh cinta, berkeluarga, menangis, tertawa, dan bermimpi,
tanpa pernah mengetahui nama perempuan yang dahulu ikut membuka kemungkinan
bagi keberadaan mereka. Namun
mereka hidup di dalam kemungkinan yang ikut diperjuangkan Jean. Barangkali
itulah bentuk keabadian paling sunyi: ketika karya seseorang terus hidup di
dalam kehidupan orang lain. Mungkin
kita terlalu sederhana memahami istilah “bermain Tuhan.” Jalan inovasi bukan
perjalanan manusia mengambil tempat Tuhan, melainkan perjalanan memahami
betapa terbatasnya pengetahuan manusia sendiri. -000- Ilmu
pengetahuan justru dapat mengajarkan kerendahan hati. Setiap jawaban yang
ditemukannya seperti membuka pintu menuju ruangan lebih luas, penuh
pertanyaan yang sebelumnya bahkan belum terlihat. Edwards,
Steptoe, dan Purdy tidak menciptakan kehidupan. Mereka tidak menciptakan sel
telur, sperma, embrio, rahim, ataupun misteri yang membuat satu sel perlahan
tumbuh menjadi manusia. Mereka
hanya menemukan satu jalan baru di antara hukum-hukum kehidupan yang telah
ada, sebuah lorong kecil di tengah misteri besar yang jauh melampaui
pengetahuan manusia. Di
situlah kerendahan hati ilmu pengetahuan seharusnya berada. Semakin banyak
manusia mengetahui, semakin terang pula kesadarannya mengenai luasnya wilayah
yang masih belum diketahuinya. Kita
membutuhkan batas, etika, serta manusia yang berani menuntut keselamatan dan
keadilan. Namun kita juga membutuhkan mereka yang berani mempertanyakan batas
yang dianggap abadi. Bagaimana
jika sebagian batas yang selama ini kita anggap sebagai hukum kehidupan
ternyata hanyalah batas pengetahuan manusia pada suatu masa tertentu dalam
sejarah? Tugas
inovasi bukan merebut kekuasaan Tuhan. Tugasnya memahami sedikit hukum
kehidupan, mengakui luasnya misteri, lalu menggunakan pengetahuan itu untuk
mengurangi penderitaan sesama manusia. Sebab
inovasi terbesar bukan ketika manusia berhasil bermain Tuhan, melainkan
ketika manusia, dalam segala keterbatasannya, mengubah penderitaan hari ini
menjadi harapan bagi kehidupan esok. ● REFERENSI 1.
Johnson, Martin H., dkk. “The Oldham Notebooks: an analysis of the
development of IVF 1969–1978. II. The treatment cycles and their outcomes.”
Reproductive BioMedicine & Society Online, 2017. Lihat juga Johnson,
Martin H. “IVF: The women who helped make it happen.” Reproductive
BioMedicine & Society Online, 2019. 2.
National Archives, “IVF and reproductive technology in the archive”;
University of Cambridge, arsip Robert Edwards. Louise Brown lahir pada 25
Juli 1978 di Oldham sebagai bayi pertama hasil IVF. 3.
University of Cambridge, “Cambridge marks centenary of IVF pioneer Sir Robert
Edwards’ birth,” 2025; BBC, “IVF pioneer’s birth celebrated 100 years on,”
2025. Keduanya menyebut estimasi lebih dari 13 juta kelahiran melalui IVF
secara global. 4.
World Health Organization, Infertility fact sheet; UN News, “Better access to
fertility care essential for global health,” 2023; Njagi, P. dkk., “Financial
costs of assisted reproductive technology for patients in low- and
middle-income countries,” Human Reproduction Open, 2023. 5.
World Health Organization, Human Genome Editing: Recommendations dan Human
Genome Editing: A Framework for Governance, 2021. 6.
Margaret Marsh dan Wanda Ronner. The Pursuit of Parenthood: Reproductive
Technology from Test-Tube Babies to Uterus Transplants. Johns Hopkins
University Press, 2019. 7.
Sheila Jasanoff. *The Ethics of Invention |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar