Senin, 17 Agustus 2026

 

Pertemanan Oei Tjoe Tat dengan Para Oposan Soeharto

Han Revanda Putra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Para menteri era Sukarno, kebanyakan eks tahanan politik, rutin berkumpul di rumah Oei Tjoe Tat.

 

·      Arisan di rumah Oei Tjoe Tat diisi diskusi soal isu-isu politik pada masa Orde Baru.

 

·      Kelompok arisan Oei Tjoe Tat menjadi tempat diskusi dan meluapkan ekspresi tanpa tersiar ke publik.

 

KABAR Oei Tjoe Tat akan berkunjung ke Salatiga, Jawa Tengah, pada Mei 1986 sampai ke Stanley Adi Prasetyo. Oei, menteri negara era Presiden Sukarno, akan menyambangi kediaman keluarga istrinya, Rika alias Kwee Loan Nio, yang berasal dari kota itu. Bagi Stanley, yang saat itu merupakan mahasiswa teknik elektro Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, nama Oei terdengar asing karena sudah jauh dari ingar-bingar politik. Apalagi pada 1966-1977 Oei menjadi tahanan politik Orde Baru.

 

Namun lain halnya ketika Stanley menceritakan rencana itu kepada Arief Budiman, yang aktif mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana. Arief, yang punya jejaring luas, melihat kunjungan Oei sebagai peluang berjejaring. Kakak kandung aktivis Soe Hok Gie itu mengundang Oei hadir dalam kelompok diskusi mereka di kampus. Stanley yang penasaran lantas bertanya kepada Arief soal profil Oei Tjoe Tat. Pertanyaan ini dibalas dengan satu bundel kertas fotokopian. “Itulah memoar yang dia tulis untuk anak-cucu,” kata Stanley di kantor Tempo pada Kamis, 2 Juli 2026.

 

Sembilan tahun kemudian atau pada 1995, catatan di fotokopian itu kemudian terbit menjadi buku Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno. Stanley menjadi penyunting buku itu bersama Pramoedya Ananta Toer, penulis dan mantan tahanan politik Orde Baru. Indonesianis yang juga pakar ilmu politik dari University of Washington dan University of California, Berkeley, Amerika Serikat, Daniel S. Lev, menulis kata pengantar dalam buku yang diterbitkan Hasta Mitra ini.

 

Stanley bercerita, ketika tiba di kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Oei sudah mengalami gejala stroke. Ia berjalan memakai alat bantu dan membiarkan tangan kirinya lemas. Namun, menurut Stanley, sakit tak menghalangi Oei bercerita tentang masyarakat peranakan Cina dan kehidupan masa Presiden Sukarno. Selepas diskusi, Stanley menghampiri Oei untuk meminta alamat dan nomor telepon. Sejak saat itu, setiap kali ke Jakarta untuk berdemonstrasi atau berdiskusi, Stanley selalu mampir ke kediaman Oei di Jalan Blitar Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat.

 

Stanley kian akrab dengan Oei ketika mulai bekerja untuk majalah Jakarta-Jakarta pada 1990. Dia sering terlibat dalam pertemuan dengan para kolega Oei seperti eks tahanan politik, mantan pejabat, hingga veteran. Sebulan sekali pada pekan pertama, mereka berkumpul untuk mengadakan arisan. Tuan rumahnya bergiliran sesuai dengan pemenang. Namun pertemuan ini kerap berlangsung di kediaman Oei karena lokasinya strategis. “Dalam acara itu saya terlihat mencolok karena paling muda,” tutur Stanley.

 

Kelompok arisan ini ternyata bukan ajang temu kangen biasa para sepuh. Ketika ibu-ibu mengocok dadu, peserta yang kebanyakan bapak-bapak membicarakan persoalan politik. Tak jarang mereka menghadirkan tamu untuk menjadi pemantik diskusi, dari mantan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin; mantan Menteri Luar Negeri, Roeslan Abdulgani; diplomat Ilen Surianegara dan menantunya, Eros Djarot; diplomat Manai Sophiaan; hingga Pramoedya Ananta Toer. Seusai arisan dan diskusi, mereka ramai-ramai makan siang.

 

Kebanyakan anggota kelompok arisan adalah pejabat pada era Sukarno yang menjadi tahanan politik di masa Orde Baru atau keluarganya. Mereka di antaranya mantan Menteri Perburuhan, Soetomo Martopradopo; mantan Menteri Penerangan, Setiadi Reksoprodjo; dan veteran Pertempuran Surabaya, Soehario Padmodiwirio alias Hario Kecik. Seperti Oei, mereka pernah mendekam di dalam penjara Orde Baru karena dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September 1965.

 

Sekali waktu, Hario Kecik pernah ribut dengan Manai Sophiaan. Stanley bercerita, Manai, ayah aktor dan politikus Sopan Sophiaan, pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet pada 1964-1967. Pada ujung masa jabatannya, kedutaan besar—yang sudah dikendalikan atase militer—mencabut paspor para mahasiswa Indonesia di Uni Soviet yang tak mau mengutuk pemerintahan Sukarno dan menerima Orde Baru. Hario, yang belajar di Sekolah Militer Suvorov di Uni Soviet, termasuk mahasiswa yang sempat menjadi eksil. “Bila perlu, tak jotos di sini,” ujar Stanley, menirukan ucapan Hario kepada Manai.

 

Sri Kusdiyantina, istri mantan Menteri Luar Negeri, Soebandrio, dan Sri Wuryanti, istri mantan Menteri Panglima Angkatan Udara, Omar Dani, juga menjadi anggota tetap kelompok arisan ini ketika suami mereka masih berada di balik jeruji. Fransiska Oei, putri ketiga Oei Tjoe Tat, mengenang, para istri mantan pejabat itu hampir tiap hari datang ke rumahnya. Kebiasaan ini berlangsung sejak Oei masih di penjara. “Mereka dekat sekali dengan Mami,” ujarnya di Jakarta Selatan pada Selasa, 30 Juni 2026.

 

Tak semua anggota kelompok arisan merupakan pesakitan Orde Baru. Kepala Kepolisian RI 1968-1971, Hoegeng Iman Santoso, yang dicopot Presiden Soeharto setelah menyelidiki kasus penyelundupan mobil mewah, juga ikut serta. Stanley bercerita, Hoegeng, yang saat itu sudah berusia sekitar 80 tahun, lebih banyak diam. Tapi, setiap kali ada yang menggoda dengan pura-pura memuji Soeharto, Hoegeng melontarkan makian. “Dia ngedumel, yang lain ketawa-tawa,” tutur Stanley.

 

Di antara tokoh-tokoh itu, Oei kerap berperan sebagai moderator, terutama jika diskusi berlangsung di kediamannya. Menurut Stanley, Oei mengatur lalu lintas diskusi sekaligus mengontrol sejumlah peserta yang temperamental. Jika ada yang marah-marah karena merasa tak diberi waktu, Oei akan meminta peserta lain mempersingkat waktu bicaranya. Oei juga yang akan menjelaskan situasi jika ada orang bertikai. “Begitu Pak Oei menyampaikan sesuatu, semua reda,” katanya.

 

Topik yang dibicarakan para sepuh ini berkisar tentang isu politik yang sedang hangat. Stanley memberi contoh, mereka pernah berdiskusi tentang pembangunan Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah yang menggusur para petani. Di tengah diskusi, Hario Kecik membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan poster “Tanah untuk Rakyat” karya Yayak Kencrit. Kepada para peserta lain, Hario membanggakan poster itu sebagai bentuk perlawanan melalui seni rupa.

 

Isu lain yang muncul dalam diskusi itu adalah makin populernya Megawati Soekarnoputri dan Partai Demokrasi Indonesia. Adapun isu seperti peristiwa 1965, menurut Stanley, justru tak disinggung karena semua peserta dianggap sudah mafhum. Dalam setiap pertemuan, kelompok arisan menyepakati isu yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. “Mereka menyebut ini obrolan hari tua agar masih terhubung dengan situasi saat ini,” ujarnya.

 

Kepada sesama eks tahanan politik, Oei juga memberi bantuan hukum. Peneliti senior tamu Lembaga Studi Asia Tenggara Yusof Ishak, Leo Suryadinata, bercerita, para eks tahanan politik sering bertandang ke rumahnya untuk meminta bantuan hukum. Ketika Leo mewawancarai Oei untuk keperluan penelitian pada 1990-an, ada eks tahanan politik yang masuk ke dalam rumah itu. “Karena sakit, dia tidak menjadi pengacara lagi, tapi rumahnya selalu terbuka," tuturnya.

 

Menurut Leo, salah satu tokoh yang meminta bantuan hukum adalah Omar Dani. Ketika menjalani sidang di Mahkamah Militer Luar Biasa pada Oktober 1966, Omar Dani mengajukan nama Oei Tjoe Tat sebagai pembela. Namun hakim militer menolak usulan itu karena Oei juga sedang ditahan.

 

Oei memberi konsultasi hukum secara cuma-cuma kepada para eks tahanan politik dan aktivis. Bahkan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta masih mengundang dia dalam beberapa diskusi. Namun Oei menghindari pendampingan hukum secara litigasi lantaran kadung mendapat stigma sebagai eks tahanan politik.

 

Berbeda dengan Stanley, anak-anak Oei tak terlalu tertarik pada kelompok arisan itu. Putra bungsu Oei, Tikki Budiman, mengenang banyak tokoh politik yang sudah sepuh kerap berkumpul di rumahnya, bahkan sampai marah atau memaki-maki. Namun, bagi Tikki yang bersifat introver, keriuhan itu menjadi gangguan. “Saya pernah datang beberapa kali. Saya kesal karena ramai,” ujarnya pada Sabtu, 18 Juli 2026.

 

Tokoh lain yang Tikki ingat pernah berkunjung ke rumahnya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Menurut dia, foto sultan yang pernah menjabat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu tergantung di rumahnya. Sedangkan putri kedua Oei, Desita Atma Brunier, mengenang istri Soetomo dan Setiadi sebagai teman dekat mami dan papinya. Namun, ketika arisan bergulir, dia telah mengikuti suaminya tinggal di Prancis. Ketika sesekali pulang ke Indonesia bersama suami dan anak-anaknya pun Desita jarang bergabung. “Cuma tahu ada tamu, tapi saya tidak tahu mereka membicarakan apa,” katanya pada Rabu, 15 Juli 2026.

 

Hingga menjelang akhir hayatnya, Oei Tjoe Tat terus berhubungan dengan keluarga Sukarno. Putri ketiga Oei, Fransiska Oei, mengungkapkan bahwa tokoh yang kerap berkunjung ke rumahnya adalah putri kedua Sukarno dan Fatmawati, Megawati Soekarnoputri. Namun Fransiska tak tahu apa yang mereka bicarakan karena saat itu dia masih kecil. Dia pun selalu masuk ke rumah jika ada tamu yang hendak berdiskusi tentang politik dengan Oei.

 

Putra sulung Sukarno, Mohammad Guntur Soekarnoputra, mengatakan cukup sering berbicara dengan Oei ketika masih bekerja kepada ayahnya. ”Pak Oei bukan hanya salah satu penjaga pemikiran Bung Karno, melainkan juga penganut setia ajaran-ajaran sosial-politiknya,” tuturnya pada Ahad, 26 Juli 2026. Namun, setelah Sukarno lengser, Guntur menambahkan, intensitas komunikasinya berkurang.

 

Guntur mengatakan, dari Oei, dia banyak mendapat pengaruh pemikiran mengenai hubungan pribumi dengan golongan lain. Karena itu, dia bergaul dengan orang dari berbagai macam latar belakang tanpa membeda-bedakan identitas ataupun golongan. Oei dikenal sebagai pendukung gagasan integrasi yang diusung Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia.

 

Oei juga membalas kunjungan Megawati dengan bertamu ke kediamannya di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan. Stanley Adi Prasetyo bercerita, ia selalu diajak Oei jika bertamu ke rumah Presiden RI kelima itu. Oei biasanya bertamu sekitar pukul 10 pagi. Di luar kolega lama, Oei juga berkawan dengan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Menurut Stanley, Oei lebih banyak bercanda jika bertemu dengan Presiden RI keempat itu. Para putri Oei mengenang Gus Dur sebagai tokoh yang dikagumi sang ayah dan selalu mendukung keluarga mereka.

 

Tokoh lain yang berjasa bagi keluarga Oei adalah Ali Sadikin. Ketika tentara hendak mengambil alih rumah di Jalan Blitar Nomor 10 setelah Oei masuk bui, Ali mengeluarkan instruksi bahwa semua rumah tahanan politik di Jakarta berada di bawah pengawasan gubernur. Karena itu, tentara urung menguasai bangunan tersebut dan hanya berjaga di sana.

 

Ihwal jejaring, Ivan Wibowo, salah seorang kerabat Oei, mengatakan pernah mendengar bahwa Ali Sadikin heran karena Oei bisa mengenal orang sebanyak itu. Oei menjawab, dia tak hanya menguasai satu departemen, tapi secara global. Menurut Ivan, banyak kolega yang ia kenal dulu merupakan sesama menteri atau tahanan politik. “Kalau nongkrong di rumah, itu semua oposan,” katanya pada Selasa, 9 Juni 2026.

 

Rumah Oei juga menjadi jujugan para aktivis dan intelektual muda. Sosiolog Monash University yang juga keponakan ipar Oei, Ariel Heryanto, mengatakan ia sering mampir di kediaman suami adik ibu mertuanya itu. Dia menggambarkan kediaman itu sebagai tempat singgah anak-anak muda yang nyaman karena teduh dan selalu ada sajian. “Tuan rumahnya senang sekali kedatangan anak-anak muda,” ujarnya pada Sabtu, 18 Juli 2026.

 

Peneliti Leo Suryadinata juga berkali-kali menyambangi rumah Oei untuk berdiskusi. Meski telah mengidap stroke, Oei masih tangkas menjawab pertanyaan-pertanyaan Leo. Kepada Oei, Leo menanyakan hubungan dia dengan Yap Thiam Hien, ahli hukum terkemuka. Satu kesan yang Leo tangkap adalah Oei merasa bangga atas tugasnya membantu Sukarno. "Biarpun Bung Karno sudah meninggal, dia tetap bicara tentang Bung Karno dengan semangat hormat," tuturnya.

 

Setelah Oei wafat pada 26 Mei 1996, Rika masih meminta Stanley sesekali datang berkunjung ke rumah di Jalan Blitar 10. Arisan masih sempat terselenggara secara bergilir. Namun satu per satu anggota kelompok itu menyusul berpulang. Kelompok arisan dan pertemuan para sepuh itu tak lagi tampak hingga rumah di Jalan Blitar tersebut berganti tuan.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/oei-tjoe-tat-sukarno-oposan-soeharto-2282230

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar