|
Mun'im Sirry: Organisasi Islam
Sudah Dikooptasi Kekuasaan Friski Riana : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 17 Agustus 2026
|
· Kelompok radikal dan konservatif mulai
menjamur setelah kejatuhan Soeharto mendompleng euforia kebebasan
berekspresi. · Mun'im Sirry khawatir pengaruh kelompok
konservatif berpotensi meningkat di masyarakat karena NU dan Muhammadiyah
sibuk menambang. · Mun'im Sirry mengatakan konservatisme
berdampak terhadap kejumudan pemikiran keislaman. Sebagai
dosen departemen teologi di University of Notre Dame, Amerika Serikat, Mun'im
Sirry jarang masuk ke kelas. Ia mengajar hanya dua kali dalam sepekan, yakni
Senin dan Rabu. "Kerjaan saya pada hari lain membaca buku," kata
Mun'im di kantor Tempo, Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026. Mun'im
menjelaskan, dosen di Amerika Serikat tidak mengajar di banyak kampus karena
sudah terpenuhi kebutuhan hidupnya. Karena itu, mereka tidak wajib datang ke
kantor. Meski demikian, pria kelahiran Sumenep, Jawa Timur, itu tetap
berangkat pukul 08.00 dan bekerja selama delapan jam. "Karena buku saya
di kantor dan kalau di rumah, dianggap penganggur," katanya. Di
kampus swasta Katolik terkemuka itu, Mun'im mengajar dua mata kuliah untuk
semua mahasiswa serta religious freedom khusus tingkat sarjana. Para
lulusan kampus, kata Mun'im, rata-rata berkarier di gereja, lembaga swadaya
masyarakat, hingga guru agama di sekolah. Kepada
jurnalis Tempo, Yosea Arga, Friski Riana, dan Bagja Hidayat, serta fotografer
Nita Dian dan Direktur Utama PT Tempo Inti Media Arif Zulkifli, Mun'im mengungkapkan
kekhawatirannya atas menguatnya konservatisme di Indonesia. Penulis buku
Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal itu mengatakan ada banyak
faktor penyebab konservatisme berkembang di Indonesia. Ia juga
menyoroti peran dua organisasi besar, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan
Muhammadiyah, yang minim dalam menyuarakan kepentingan masyarakat lantaran
berada dalam lingkaran kekuasaan. Menurut dia, pengaruh konservatisme
berpotensi meningkat karena organisasi Islam sibuk dengan agenda kekuasaan. Hubungan
antarkelompok Islam harmonis sekarang? Hubungan
antarkelompok Islam mengalami perubahan cukup besar. Lebih kondusif setelah
Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan
pemerintah. Kelompok radikal sekarang sedang tiarap, ada di bawah tanah. Kapan
kelompok radikal muncul di Indonesia? Paham
radikal terhadap agama muncul pada awal Reformasi. Euforia kebebasan
dibarengi oleh munculnya partai politik yang beragam dan kelompok ekstrem
seperti FPI. Organisasi tersebut diberi kebebasan untuk menjadikan Islam
sebagai asas berorganisasi. Kelahiran kelompok radikal menyebabkan
konservatisme makin menguat. Kelompok
radikal lekat dengan kekerasan. Mengapa? Ketika
FPI masih eksis, saban Ramadan ada swiping tempat-tempat yang dianggap
maksiat oleh mereka. Bahkan, warung yang menjual miras ditutup paksa oleh
mereka. Sekarang tidak ada. Pembubaran FPI dan HTI berpengaruh terhadap
lahirnya kelompok-kelompok Islam yang tidak menggunakan kekerasan. Ada
semacam kesadaran bahwa menyelesaikan masalah tidak selalu dengan kekerasan. Apakah
pengaruh konservatisme menurun setelah FPI dan HTI dibubarkan? Sampai
sekarang konservatisme masih kuat. Perlu dibedakan antara paham teologis dan
tindakan kekerasan. Kelompok radikal berpusat pada cara mereka mencapai
tujuan politiknya dan cenderung menggunakan kekerasan. Tidak semua individu
atau kelompok yang berpaham konservatif otomatis mendukung tindakan
kekerasan. Sebenarnya tidak ada koneksi antara teologi konservatif atau
eksklusif dan tindak kekerasan. Apa
landasannya? Penelitian
yang saya lakukan di Jawa Timur dari 2019 sampai sekarang masih berlangsung.
Banyak siswa SMA punya paham eksklusif, tapi menolak setiap bentuk kekerasan.
Istilahnya shadow radical atau tidak radikal beneran. Ada asumsi umum bahwa
teologi yang eksklusif atau konservatif akan berlanjut pada tindak kekerasan. Asumsinya
terbukti? Tidak
terbukti. Pada 2024, saya menerbitkan buku Youth Education and Islamic
Radicalism. Saya menjelaskan pola-pola di kalangan siswa ini yang cukup unik.
Rupanya tidak ada koneksi antara teologi yang konservatif dan kekerasan. Ada pola
lain? Temuan
menarik lainnya adalah keyakinan mereka tidak jauh berbeda dengan orang umum.
Mereka bergabung dengan kelompok atau jaringan radikal hanya ikut-ikutan.
Mereka gampang masuk kelompok radikal, gampang juga keluarnya. Mereka
melakukan deradikalisasi dengan dirinya sendiri tanpa ada tekanan dari
negara. Konservatisme
sekarang sama dengan 20 tahun lalu? Saya
belum melakukan penelitian. Kalau ditelaah bagaimana konservatisme muncul,
tampak berbeda. Dulu konservatisme muncul karena keran keterbukaan ditutup
rezim Soeharto. Setelah Reformasi, ada euforia. Masing-masing ingin
mendirikan organisasi, partai, dan kelompok konservatif. Sejak banyaknya
tindakan intoleran, ada desakan supaya Pancasila dikampanyekan terus. Maka
ada pendidikan pancasila dan kewarganegaraan serta Badan Pembinaan Ideologi
Pancasila. Perbedaan
konservatisme dipengaruhi karakter pemerintahan? Tentu
saja. Gerakan keagamaan, disadari atau tidak, banyak dibentuk oleh rezim yang
berkuasa. Pada era Soeharto, misalnya, gerakan konservatif secara teologi
ada, tapi tidak boleh membentuk organisasi. Mereka tidak boleh berbicara
tentang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ketika Reformasi,
pembicaraan tentang SARA dibuka seluas-luasnya. Dengan sendirinya, perubahan
rezim berpengaruh terhadap bagaimana bentuk konservatisme. Pada
rezim siapa konservatisme menguat? Sulit.
Saya kira, setelah Reformasi, paham konservatisme menjamur. Salah satu cara
mengukur meningkatnya konservatisme adalah kebijakan Majelis Ulama Indonesia
(MUI). Pada Orde Baru, MUI hanya menjadi stempel mendukung kebijakan negara.
Pasca-Reformasi, MUI menjadi motor konservatisme. MUI bisa mengeluarkan fatwa
yang berseberangan dengan kebijakan negara. Wakil
Ketua Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas mengatakan pernyataan Mun'im Sirry
soal MUI menjadi motor konservatisme kurang tepat. Menurut dia, MUI seperti
penganut liberalisme sangat menghormati kebebasan individu dan hak asasi
manusia versi Islam. Ia juga mengatakan konservatisme bukan tidak
menginginkan perubahan. “Tapi, perubahaan tersebut tidak berdampak buruk
terhadap stabilitas dan kehidupan masyarakat,” katanya, Senin, 17 Agustus
2026. Siapa
saja yang berperan dalam meningkatnya konservatisme di Indonesia? Ada
banyak pemain. Namun MUI mengambil peran yang cukup besar. Organisasi seperti
FPI dan HTI pun berperan dalam meningkatnya konservatisme di Indonesia. Juga
ada peran politikus. Peraturan daerah syariah didukung politikus dengan latar
belakang partai sekuler. Pemerintahan
Prabowo memberi ruang untuk kelompok konservatif? Bukan
memberikan ruang, melainkan mengkooptasi kelompok agama. Strategi membungkam
civil society untuk tidak menyuarakan aspirasi yang bertentangan dengan
negara. Bagaimana
dengan konservatisme pada masa pemerintahan Jokowi? Sikap
pemerintahan Jokowi terhadap kelompok radikal cukup keras. Organisasi seperti
FPI dan HTI dibubarkan. Pancasila juga kembali digalakkan. Mengubah
konstruksi gerakan konservatif. Apa yang
membuat gerakan konservatif era Jokowi dilemahkan? Orang
seperti Jokowi merasa perlu membatasi mereka karena dianggap sebagai ancaman
untuk keberlangsungan rezim. Dunia pendidikan juga tidak cukup memberikan
perspektif terhadap anak-anak muda. Mereka yang tertarik terhadap kelompok
konservatif justru mahasiswa. Hal itu berdasarkan penelitian Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme. Mengapa
demikian? Ternyata
sekian persen mahasiswa berpendapat bahwa Pancasila bisa digantikan sistem
khilafah. Yang mendeklarasikan khilafah justru mahasiswa. Sebenarnya ini
kegagalan sistem pendidikan. Orang masuk kuliah tujuannya supaya tercerahkan,
lebih banyak pengetahuan, dan terbuka. Ternyata yang terjadi justru menjadi
lebih intoleran. Pendidikan seharusnya menjadikan orang lebih rasional dan
terbuka. Apa
penyebab mahasiswa mudah terpapar paham radikal? Daftar
kampus yang terpapar paham radikal semuanya kampus umum atau bukan kampus
berlatar belakang agama. Kampus agama seperti Universitas Islam Negeri justru
tidak terpapar. Di sekolah umum, perspektif Islam yang diajarkan cenderung
monolitik, hanya ada kebenaran tunggal. Mahasiswa
di kampus agama tidak terpapar paham radikal. Mengapa? Mereka
diajarkan perbedaan pendapat. Mereka diajak untuk legowo bahwa orang lain
bisa punya pandangan berbeda. Inilah mengapa kelompok radikal berkembang di
kampus umum karena tidak diajarkan keragaman perspektif. Mengapa
Anda bersuara keras soal konservatisme? Konservatisme
menjadikan Islam tidak fungsional. Dalam dunia akademis, misalnya, tidak ada
diskusi yang hidup soal Islam. Semuanya mengulang apa yang sudah dikatakan
terdahulu. Mempertahankan tradisi yang ada adalah konservatisme.
Implikasinya, terjadi kejumudan intelektual. Kelompok
Islam sekarang dekat dengan kekuasaan. Apa catatan Anda? Sebuah
fenomena. Ormas-ormas besar yang menganggap eksistensi mereka ada kalau
didukung negara. Muhammadiyah memang sudah punya sejarah panjang dekat dengan
kekuasaan. Tidak mengagetkan. Yang menjadi perbincangan kan NU. Sekian lama
di luar pemerintahan dan dulu digambarkan sebagai kantong masyarakat sipil. Ada
organisasi Islam lain yang menjadi kekuatan penyeimbang? Tidak
ada kelompok yang bisa memberikan koreksi terhadap kebijakan pemerintah
karena semuanya sudah dikooptasi kekuasaan. NU dikenal sebagai organisasi
yang sulit dipegang oleh kekuasaan. Setelah diberi konsesi tambang, mereka
tergoda dan akhirnya tidak bisa bersuara terhadap kebijakan pemerintah yang
tak menguntungkan masyarakat. Mereka tidak bisa menjadi penyambung lidah
masyarakat. Saya kira ada yang lebih mengkhawatirkan daripada sekadar ormas
keagamaan ingin kaya dan punya sumber daya sendiri. Apa itu? Selama
ini Indonesia dikenal sebagai bangsa yang toleran dalam beragama. Kenapa
Islam Indonesia berbeda dengan Timur Tengah? Karena Indonesia punya dua
organisasi terbesar, yakni NU dan Muhammadiyah, yang menjadi safeguard,
pembela atau penopang Islam moderat. Sekarang mereka menjauh dari tugasnya
karena dekat dengan kekuasaan. Dampak
ke masyarakat? Umat
kayak anak ayam yang sudah tidak punya induk. Mereka berpencar ke sana
kemari. Masyarakat tidak punya petunjuk bagaimana bereaksi terhadap kebijakan
pemerintah yang perlu dikoreksi. Ada
andil pemerintah untuk menciptakan kondisi tersebut? Setiap
pemerintah menginginkan tidak ada kelompok atau gerakan yang mengganggu
mereka. Persoalannya bukan pada pemerintah, melainkan kenapa organisasi Islam
tergoda. Kalau NU
dan Muhammadiyah dekat dengan kekuasaan, kelompok konservatif akan meningkat? Itu yang
saya khawatirkan. Orang NU dan Muhammadiyah sibuk menambang, gerakan
konservatif mendapat trust dari masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.
Mereka tidak perlu berkoar-koar, cukup dengan menguasai masjid, atau
madrasah-madrasah. Kelompok
konservatif bisa menjadi kekuatan politik pada pemilu mendatang? Mereka
digunakan saja, bukan menjadi kekuatan politik. Sejauh ini tidak ada partai
baru yang muncul berbasis kelompok konservatif. Mereka sadar kelompok
konservatif tidak tunggal. Membangun partai baru juga tidak mudah. Walaupun
kelompok konservatif cukup tinggi, Indonesia secara politik masih moderat. Apakah
agama bisa lepas dari konservatisme? Harus
lepas. Semua agama lahir sebagai protes atas kekecewaan dari agama
sebelumnya. Konservatisme artinya memelihara atau mempertahankan. Agama
muncul sebagai protes dari status quo. Misi setiap agama misi profetik dan
mengoreksi. Agama wajib keluar dari penjara konservatisme karena memang
misinya untuk perubahan. Misi itu yang sekarang cenderung diabaikan. ● Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/mun-im-sirry-organisasi-islam-sudah-dikooptasi-kekuasaan-2282333 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar