|
Ajaran
Nasionalisme Oei Tjoe Tat kepada Anak-anaknya Yohanes Paskalis
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Rumah Oei Tjoe Tat di Jalan Blitar
banyak didatangi mahasiswa, aktivis, wartawan, hingga politikus, yang
mendiskusikan urusan negara. · Anak-anak Oei Tjoe Tat mengingat rasa
cinta Indonesia dan teguh pada prinsip sebagai warisan terpenting ayah
mereka. · Bagi Oei, kesadaran nasionalisme lahir
dari pengalaman hidup sederhana: udara yang dihirup dan makan dari hasil bumi
lokal. EMPAT
anak Oei Tjoe Tat, dengan memori yang sesekali samar-samar, dapat mengingat
bahwa mereka tumbuh di tengah lalu-lalang orang dewasa yang lebih banyak
membincangkan urusan negara. Rumah masa kecil mereka di Jalan Blitar Nomor
10, Menteng, Jakarta Pusat, juga banyak didatangi mahasiswa, aktivis,
wartawan, hingga politikus. Percakapan di beranda rumah bisa berlangsung
hingga larut malam. Indonesia
masih republik muda ketika keluarga Oei menetap di Jalan Blitar itu. Oei
sendiri sedang membangun karier sebagai pengacara sembari aktif di berbagai
organisasi sosial dan politik. Kesibukannya pada awal 1950-an itu membuatnya
jarang di rumah. Saat ia pulang, biasanya sejawat dan kolega diskusinya
datang silih berganti. Atmosfer
itu tidak lantas membuat anak-anak Oei tumbuh dengan doktrin politik yang
kuat. Fransiska Oei alias Oei Lan Siem, anak ketiga Oei, menilai sang ayah
tak memaksakan sebuah ideologi politiknya kepada anaknya. Oei hanya ingin
anak-anaknya tekun bersekolah. “Papi tidak pernah mengarahkan kami harus
terjun ke mana,” kata Fransiska kepada Tempo pada Selasa, 30 Juni 2026. Fransiska
merasa warisan terbesar ayahnya bukan nama besar atau pengetahuannya
bernegara, melainkan pada cara mempertahankan prinsip. Ia menggambarkan
ayahnya sebagai sosok ulet, jujur, dan teguh pada prinsip. Salah satu hal
yang kerap disampaikan Oei kepada anak-anaknya adalah soal keyakinannya
sebagai “orang Indonesia seutuhnya”. Oei
menanamkan teladan kepada keempat anaknya agar tetap percaya diri dengan
identitas nasional mereka ketika stigma negatif pada kelompok etnis Tionghoa
dan keraguan terhadap warga peranakan mulai muncul ke permukaan. Anak-anaknya
diajak memahami bahwa anak pribumi dan keturunan Tionghoa di Indonesia punya
derajat sama. “Bagi dia (Oei), kami Indonesia banget,” tutur Fransiska. Nasionalisme
Oei lahir jauh sebelum dia terjun ke dunia politik. Dalam Memoar Oei Tjoe
Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Oei muda, ketika belajar di Hoogere
Burgerschool (HBS) Semarang, sudah berpikir keras tentang identitasnya
sebagai warga keturunan Tionghoa yang lahir di Nusantara. Bagi
dia, kesadaran nasionalisme lahir dari pengalaman hidup yang sederhana
sekaligus mendasar: menghirup udara dan makan dari hasil bumi lokal.
Keterikatan itu nyata. “Meski keturunan Tionghoa, kami tak boleh bermimpi
bahwa kami ini orang yang punya tanah air lain, selain Indonesia,” ujar Oei
dalam memoarnya. Putri
sulung Oei, Oei Yang Siem, sekarang memakai nama Shilana Atma Waskowski, juga
mengingat ayahnya selalu menekankan bahwa identitas etnis hanya latar
belakang, bukan pemisah dengan yang lain. Wejangan itu juga tecermin dari
lingkungan rumah Jalan Blitar yang dikelilingi tetangga dari berbagai suku.
“Aku dan Dede (Desita Atma Brunier alias Oei Ling Siem) tidak merasa dibedakan,
mana Tionghoa mana Indonesia,” kata perempuan yang memiliki nama kecil Pimpim
itu pada Rabu, 22 Juli 2026. Shilana
dan Desita, yang memiliki jarak umur hanya dua tahun, bersekolah di Sin Ming
Hui sebelum pindah ke Sekolah Dasar Santa Theresia Menteng, Jakarta Pusat.
Sin Ming Hui kini adalah sekolah Candra Naya di Jalan Gajah Mada, Glodok,
Jakarta Barat. Fransiska dan si bungsu Oei Tiang Tik alias Tikki Budiman
bersekolah di lembaga pendidikan berbeda. Ujian
terhadap identitas keluarga Oei itu dirasakan Shilana saat kuliah di
Universitas Trisakti pada awal masa pemerintahan Orde Baru. Kebijakan negara
saat itu mewajibkan warga keturunan mengganti nama untuk urusan
administratif. Meski sedih karena nama leluhur harus “dibuang” demi selembar
ijazah, Oei akhirnya membiarkan anak-anaknya mengikuti aturan itu. Desita
juga mengenang bagaimana semangat “cinta Indonesia” tertanam di lingkungan
tempatnya dibesarkan. Ia mengaku bisa berteman dengan siapa pun. “Kita kan di
Indonesia, berbaur saja secara normal,” tuturnya melalui wawancara secara
online dari Prancis pada Rabu, 15 Juli 2026. Desita mengaku risi melihat
sekelompok orang keturunan Tionghoa yang bersikap eksklusif. Wujud
“cinta Indonesia” Desita setelah tinggal di Eropa ditunjukkan dalam budaya.
Sejak Desita berusia lima tahun, Oei mendorong putri keduanya itu mempelajari
tari Bali karena tetangganya seorang guru tari ternama. Desita kini aktif
mengajar tarian dari Pulau Dewata di luar negeri. Nasionalisme
Oei tak membuat dia menghalangi anak-anaknya kuliah di luar negeri. Oei
mendukung penuh secara finansial anak bungsunya untuk melanjutkan pendidikan
tinggi di Amerika Serikat setelah menempuh program studi seni rupa di
Institut Teknologi Bandung. “Tidak ada rasanya (pemahaman) kalau tinggal di
luar negeri itu tidak nasionalis,” ujar Desita. Shilana
mengaku pernah mendengar ayahnya mengkritik orang yang ingin pindah
kewarganegaraan. “Orang-orang mau enaknya saja. Kalau sudah dapat hasilnya
enggak ngasih ke Indonesia lagi,” kata Shilana mengutip ucapan ayahnya. Oei
dan istrinya, Kwee Loan Nio, pernah mendapat tawaran dan kesempatan pindah ke
Belanda. Tak ada tawaran itu yang diambilnya. Nasionalisme
keluarga Oei diuji setelah terjadi peristiwa huru-hara politik yang dikenal
sebagai Gerakan 30 September 1965 dan tahun-tahun berikutnya. Dari menteri
yang dihormati, Oei kemudian menjadi tahanan politik dan dicap sebagai musuh
negara pada awal Orde Baru. Rumah di
Jalan Blitar itu pun jarang didatangi koleganya. Yang paling banyak terlihat
justru tentara. Sosiolog dan profesor emeritus di Monash University,
Australia, Ariel Heryanto, yang memiliki hubungan famili dengan Kwee Loan
Nio, mengingat bagaimana rumah itu dijaga tentara selama bertahun-tahun. Kata
Ariel, tentara yang menjaga rumah itu pernah usil kepada keluarga Oei dengan
mengatakan, “Hei, anak PKI (Partai Komunis Indonesia).” Dia mendengar bahwa
anak Oei pernah membalasnya dengan mengatakan, “Lu (kamu) makan dari anak
PKI.” Fransiska,
yang masih duduk di bangku sekolah saat ayahnya mendekam di tahanan, pernah
merasakan perlakuan diskriminatif. Ia mengaku kesulitan mengikuti kegiatan
sekolah serta masuk ke Pekan Raya Jakarta lantaran nama orang tuanya. Setelah
bebas pada akhir 1977, Oei kembali ke tengah keluarga dengan fisik yang
renta. Saat bepergian dengan keluarga, ia kerap mengkritik banyak hal dan
membandingkan Indonesia masa Orde Baru dengan Orde Lama. Anaknya melihat
sikap itu, yang kerap ditunjukkan mereka yang sudah berusia lanjut, lebih
sebagai wujud rasa memiliki Indonesia. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-keluarga-nasionalisme-2282208 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar