Senin, 17 Agustus 2026

 

Ajaran Nasionalisme Oei Tjoe Tat kepada Anak-anaknya

Yohanes Paskalis :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Rumah Oei Tjoe Tat di Jalan Blitar banyak didatangi mahasiswa, aktivis, wartawan, hingga politikus, yang mendiskusikan urusan negara.

 

·      Anak-anak Oei Tjoe Tat mengingat rasa cinta Indonesia dan teguh pada prinsip sebagai warisan terpenting ayah mereka.

 

·      Bagi Oei, kesadaran nasionalisme lahir dari pengalaman hidup sederhana: udara yang dihirup dan makan dari hasil bumi lokal.

 

EMPAT anak Oei Tjoe Tat, dengan memori yang sesekali samar-samar, dapat mengingat bahwa mereka tumbuh di tengah lalu-lalang orang dewasa yang lebih banyak membincangkan urusan negara. Rumah masa kecil mereka di Jalan Blitar Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat, juga banyak didatangi mahasiswa, aktivis, wartawan, hingga politikus. Percakapan di beranda rumah bisa berlangsung hingga larut malam.

 

Indonesia masih republik muda ketika keluarga Oei menetap di Jalan Blitar itu. Oei sendiri sedang membangun karier sebagai pengacara sembari aktif di berbagai organisasi sosial dan politik. Kesibukannya pada awal 1950-an itu membuatnya jarang di rumah. Saat ia pulang, biasanya sejawat dan kolega diskusinya datang silih berganti.

 

Atmosfer itu tidak lantas membuat anak-anak Oei tumbuh dengan doktrin politik yang kuat. Fransiska Oei alias Oei Lan Siem, anak ketiga Oei, menilai sang ayah tak memaksakan sebuah ideologi politiknya kepada anaknya. Oei hanya ingin anak-anaknya tekun bersekolah. “Papi tidak pernah mengarahkan kami harus terjun ke mana,” kata Fransiska kepada Tempo pada Selasa, 30 Juni 2026.

 

Fransiska merasa warisan terbesar ayahnya bukan nama besar atau pengetahuannya bernegara, melainkan pada cara mempertahankan prinsip. Ia menggambarkan ayahnya sebagai sosok ulet, jujur, dan teguh pada prinsip. Salah satu hal yang kerap disampaikan Oei kepada anak-anaknya adalah soal keyakinannya sebagai “orang Indonesia seutuhnya”.

 

Oei menanamkan teladan kepada keempat anaknya agar tetap percaya diri dengan identitas nasional mereka ketika stigma negatif pada kelompok etnis Tionghoa dan keraguan terhadap warga peranakan mulai muncul ke permukaan. Anak-anaknya diajak memahami bahwa anak pribumi dan keturunan Tionghoa di Indonesia punya derajat sama. “Bagi dia (Oei), kami Indonesia banget,” tutur Fransiska.

 

Nasionalisme Oei lahir jauh sebelum dia terjun ke dunia politik. Dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Oei muda, ketika belajar di Hoogere Burgerschool (HBS) Semarang, sudah berpikir keras tentang identitasnya sebagai warga keturunan Tionghoa yang lahir di Nusantara.

 

Bagi dia, kesadaran nasionalisme lahir dari pengalaman hidup yang sederhana sekaligus mendasar: menghirup udara dan makan dari hasil bumi lokal. Keterikatan itu nyata. “Meski keturunan Tionghoa, kami tak boleh bermimpi bahwa kami ini orang yang punya tanah air lain, selain Indonesia,” ujar Oei dalam memoarnya.

 

Putri sulung Oei, Oei Yang Siem, sekarang memakai nama Shilana Atma Waskowski, juga mengingat ayahnya selalu menekankan bahwa identitas etnis hanya latar belakang, bukan pemisah dengan yang lain. Wejangan itu juga tecermin dari lingkungan rumah Jalan Blitar yang dikelilingi tetangga dari berbagai suku. “Aku dan Dede (Desita Atma Brunier alias Oei Ling Siem) tidak merasa dibedakan, mana Tionghoa mana Indonesia,” kata perempuan yang memiliki nama kecil Pimpim itu pada Rabu, 22 Juli 2026.

 

Shilana dan Desita, yang memiliki jarak umur hanya dua tahun, bersekolah di Sin Ming Hui sebelum pindah ke Sekolah Dasar Santa Theresia Menteng, Jakarta Pusat. Sin Ming Hui kini adalah sekolah Candra Naya di Jalan Gajah Mada, Glodok, Jakarta Barat. Fransiska dan si bungsu Oei Tiang Tik alias Tikki Budiman bersekolah di lembaga pendidikan berbeda.

 

Ujian terhadap identitas keluarga Oei itu dirasakan Shilana saat kuliah di Universitas Trisakti pada awal masa pemerintahan Orde Baru. Kebijakan negara saat itu mewajibkan warga keturunan mengganti nama untuk urusan administratif. Meski sedih karena nama leluhur harus “dibuang” demi selembar ijazah, Oei akhirnya membiarkan anak-anaknya mengikuti aturan itu.

 

Desita juga mengenang bagaimana semangat “cinta Indonesia” tertanam di lingkungan tempatnya dibesarkan. Ia mengaku bisa berteman dengan siapa pun. “Kita kan di Indonesia, berbaur saja secara normal,” tuturnya melalui wawancara secara online dari Prancis pada Rabu, 15 Juli 2026. Desita mengaku risi melihat sekelompok orang keturunan Tionghoa yang bersikap eksklusif.

 

Wujud “cinta Indonesia” Desita setelah tinggal di Eropa ditunjukkan dalam budaya. Sejak Desita berusia lima tahun, Oei mendorong putri keduanya itu mempelajari tari Bali karena tetangganya seorang guru tari ternama. Desita kini aktif mengajar tarian dari Pulau Dewata di luar negeri.

 

Nasionalisme Oei tak membuat dia menghalangi anak-anaknya kuliah di luar negeri. Oei mendukung penuh secara finansial anak bungsunya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Amerika Serikat setelah menempuh program studi seni rupa di Institut Teknologi Bandung. “Tidak ada rasanya (pemahaman) kalau tinggal di luar negeri itu tidak nasionalis,” ujar Desita.

 

Shilana mengaku pernah mendengar ayahnya mengkritik orang yang ingin pindah kewarganegaraan. “Orang-orang mau enaknya saja. Kalau sudah dapat hasilnya enggak ngasih ke Indonesia lagi,” kata Shilana mengutip ucapan ayahnya. Oei dan istrinya, Kwee Loan Nio, pernah mendapat tawaran dan kesempatan pindah ke Belanda. Tak ada tawaran itu yang diambilnya.

 

Nasionalisme keluarga Oei diuji setelah terjadi peristiwa huru-hara politik yang dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965 dan tahun-tahun berikutnya. Dari menteri yang dihormati, Oei kemudian menjadi tahanan politik dan dicap sebagai musuh negara pada awal Orde Baru.

 

Rumah di Jalan Blitar itu pun jarang didatangi koleganya. Yang paling banyak terlihat justru tentara. Sosiolog dan profesor emeritus di Monash University, Australia, Ariel Heryanto, yang memiliki hubungan famili dengan Kwee Loan Nio, mengingat bagaimana rumah itu dijaga tentara selama bertahun-tahun.

 

Kata Ariel, tentara yang menjaga rumah itu pernah usil kepada keluarga Oei dengan mengatakan, “Hei, anak PKI (Partai Komunis Indonesia).” Dia mendengar bahwa anak Oei pernah membalasnya dengan mengatakan, “Lu (kamu) makan dari anak PKI.”

 

Fransiska, yang masih duduk di bangku sekolah saat ayahnya mendekam di tahanan, pernah merasakan perlakuan diskriminatif. Ia mengaku kesulitan mengikuti kegiatan sekolah serta masuk ke Pekan Raya Jakarta lantaran nama orang tuanya.

 

Setelah bebas pada akhir 1977, Oei kembali ke tengah keluarga dengan fisik yang renta. Saat bepergian dengan keluarga, ia kerap mengkritik banyak hal dan membandingkan Indonesia masa Orde Baru dengan Orde Lama. Anaknya melihat sikap itu, yang kerap ditunjukkan mereka yang sudah berusia lanjut, lebih sebagai wujud rasa memiliki Indonesia.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-keluarga-nasionalisme-2282208

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar