|
Rapuhnya Independensi
Bank Indonesia Redaktur Editorial
1 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Perry Warjiyo diduga mundur dari kursi
Gubernur Bank Indonesia atas tekanan Istana. · Kebijakan SRBI dianggap menghambat
program koperasi desa—salah satu program favorit Prabowo. · Intervensi terhadap bank sentral
membuat kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun ambrol seketika. Di pasar
keuangan, independensi bank sentral merupakan pilar penting untuk menopang
kepercayaan. Dengan bank sentral yang bebas dari intervensi, kredibilitas
kebijakan moneter suatu negara dapat dijaga sehingga bisa menjadi pegangan
pemodal untuk mencurahkan investasi. Rumus
klasik itu tergerus setelah Perry Warjiyo mendadak mundur dari posisi
Gubernur Bank Indonesia. Kepada publik, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo
Hadi mengumumkan bahwa Perry mundur karena alasan pribadi. Di balik itu, kuat
diduga Perry mundur karena intervensi Istana. Pangkal
soalnya adalah lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Dengan imbal
hasil 7,67 persen—lebih tinggi 2 poin persentase di atas BI-Rate—instrumen BI
untuk menjaga stabilitas rupiah itu berhasil menyedot dana asing dan
likuiditas domestik. Per Juni 2026, dari total SRBI Rp 1.073 triliun,
sebanyak Rp 616 triliun dimiliki bank nasional. Akibatnya, likuiditas di
pasar uang menjadi kering. Tandusnya
likuiditas membuat Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kesulitan memberi
kredit bagi koperasi desa merah putih. Padahal, melalui skema pinjaman,
setiap koperasi membutuhkan modal awal Rp 3 miliar. Dengan total sekitar 80
ribu koperasi, pemerintah setidaknya memerlukan Rp 240 triliun. Menteri
Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kemudian menarik kembali dana saldo anggaran
lebih dari Bank Indonesia ke bank Himbara. Kebijakan
SRBI dianggap menghambat koperasi desa—salah satu program favorit Presiden
Prabowo Subianto. Itu sebabnya santer beredar kabar Prabowo hendak
menempatkan Bank Indonesia di bawah kabinet seperti pada era Presiden
Soeharto. Inilah yang dicemaskan pasar. Jika
bank sentral berada di bawah ketiak pemerintah, Prabowo akan mengulang
kesalahan mantan mertuanya itu. Kala itu Bank Indonesia turut membiayai
defisit anggaran dan proyek pemerintah yang tidak produktif. Lemahnya
pengawasan perbankan juga membuat utang swasta membengkak ketika rupiah
melemah. Akibat bank sentral tidak independen, ekonomi kita babak-belur
dihajar krisis moneter 1997-1998. Salah
satu kunci membangun stabilitas ekonomi pasca-Reformasi adalah memastikan independensi
bank sentral. Untuk memulihkan kepercayaan pasar, Presiden B.J. Habibie
menjamin independensi itu melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999.
Kebijakan ini turut membantu Indonesia keluar dari krisis. Bank sentral yang
otonom juga menjadi jangkar Indonesia dalam melewati krisis keuangan 2008 dan
Taper Tantrum 2013. Walaupun
independensi diatur undang-undang, bank sentral tetap saja diganggu dari
luar. Di era Presiden Joko Widodo, lewat kebijakan burden sharing, bank
sentral ikut berbagi beban membeli obligasi pemerintah dengan kupon 0 persen
untuk membiayai defisit anggaran pada masa pandemi Covid-19. Masuknya
Thomas Djiwandono, keponakan Prabowo, ke jajaran Dewan Gubernur BI membuat
independensi bank sentral makin keropos. Selain sarat konflik kepentingan,
intervensi ini tak lepas dari cara pandang Prabowo bahwa segala hal harus
berada di bawah kendalinya, termasuk kewenangan fiskal dan moneter. Itulah
ciri ekonomi komando. Prabowo
juga meminta rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melibatkan Badan
Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias Danantara dalam setiap
pengambilan keputusan. Forum itu seyogianya hanya dihadiri otoritas
independen (Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin
Simpanan) serta Kementerian Keuangan sebagai koordinator kebijakan fiskal.
Kehadiran Danantara, sebagai pengelola aset badan usaha milik negara dan
investasi strategis yang seharusnya tunduk pada keputusan KSSK, dalam rapat
itu menciptakan potensi konflik kepentingan. Keberadaan Danantara juga dapat
membuka pintu lebih lebar bagi intervensi kebijakan moneter bank sentral. Apa yang
terjadi di Turki bisa kita baca ulang. Di bawah Presiden Recep Tayyip
Erdoğan, enam gubernur bank sentral dipecat karena menolak menurunkan suku
bunga. Hasilnya: inflasi melonjak 85 persen pada 2022 dan lira Turki jeblok.
Hiperinflasi juga terjadi di Zimbabwe dan Venezuela karena bank sentral di
kedua negara itu tunduk kepada penguasa. Kejadian
di tiga negara itu tidak boleh terulang di Indonesia. Intervensi terhadap
bank sentral membuat kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun ambrol
seketika. Jika kepercayaan dan stabilitas ekonomi-moneter rontok, yang
menanggung beban bukan penguasa, melainkan rakyat kebanyakan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/perry-warjiyo-gubernur-bank-indonesia-2279738 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar