|
Bagaimana
Keluarga Menempa Masa Kecil Oei Tjoe Tat di Solo Rina Widiastuti
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Oei Tjoe Tat tumbuh di kawasan Pecinan
Lama Surakarta. · Hidup dalam budaya Tionghoa dan Jawa
serta mengenyam pendidikan Barat pada masa kecil membentuk cara pandangnya
tentang Indonesia. · Pengalaman masa muda ikut membentuk
cara pandang yang mengantarkan Oei Tjoe Tat ke panggung politik nasional dan
menjadi salah satu orang terdekat Bung Karno. PERJALANAN
hidup Oei Tjoe Tat berawal dari Jalan Mesen Nomor 201, Solo. Ia lahir pada 26
April 1922 dan tumbuh besar di sana. Dia anak keenam dari delapan bersaudara
pasangan Oei Ing Wie dan Ong Tin Nio. Keluarganya cukup terpandang di
kalangan masyarakat Solo kala itu. Ing Wie adalah pemilik usaha grosir
tekstil Toko Ong Swie Giok Solo di perempatan Coyudan Kidul.
Saudara-saudaranya memegang jabatan di bidang keuangan di beberapa
perusahaan. “Masa kanak-kanak saya tergolong cerah,” kata Oei, seperti
dikutip dari buku Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno. Ing Wie
hijrah dari Yogyakarta ke Solo pada 1907. Awalnya dia berdagang sekaligus
tinggal di toko. Namun KRT Radjiman Wedyoningrat—dokter keluarga, dokter
Keraton Surakarta, dan belakangan menjadi Ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia—menyarankan Ing Wie memboyong keluarganya
tinggal di rumah yang terpisah dari tempat usaha demi kesehatan. Mereka pun
pindah ke Jalan Mesen. Anak-anak
Oei Tjoe Tat masih ingat bagaimana rumah masa kecil ayah mereka. Hingga awal
1960-an, Oei dan istrinya, Kwee Loan Nio, sering membawa anak-anak mereka
berlibur ke Solo. Mereka berangkat dari Jakarta dengan mobil dan biasanya
sekalian sowan ke keluarga ibu Oei di Salatiga, Jawa Tengah. “Rumahnya
besar, bergaya Belanda, perabot di dalamnya khas Jawa Chinese,” ujar
Fransiska Oei, anak ketiga Oei Tjoe Tat, dalam wawancara di Graha CIMB,
Jakarta, pada Rabu, 1 Juli 2026. Dia terakhir kali mengunjungi rumah di Jalan
Mesen sebelum ayahnya menjadi menteri negara pada 1963. Setiap kali ke Solo,
dia menyempatkan diri mampir, tapi semua sudah berubah bentuk. “Patokannya
tuh dekat pasar,” tutur Fransiska. Tempo
menelusuri lingkungan tempat Oei Tjoe Tat menghabiskan masa kecilnya. Nama
jalannya berubah menjadi Jalan Urip Sumoharjo. Meski daerah itu masuk
Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, warga lokal lebih suka menyebutnya
Mesen. Warisan
kawasan pecinan pada awal abad ke-20 itu di antaranya terlihat di Rumah Sakit
Dr Oen Kandang Sapi Solo. Fasilitas kesehatan ini berawal dari klinik Tsi
Sheng Yuan di Jalan Mesen 106 sebelum ditingkatkan fungsinya pada 29 Januari
1933. Sayangnya,
jejak rumah Jalan Mesen 201 lenyap tak bersisa. Sumartono Hadinoto, Ketua
Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta, cuma bisa mengira-ngira titiknya dari
cerita orang-orang tua sesama keturunan Tionghoa, yaitu di Jalan Urip
Sumoharjo Nomor 191A. “Sekarang menjadi restoran Rocket Chicken Jebres,” kata
Sumartono saat ditemui Tempo di Surakarta pada Kamis, 23 Juli 2026. Dani
Saptoni, pegiat sejarah Kota Surakarta sekaligus Ketua Komunitas Solo
Societeit, mengatakan kawasan itu berkembang sebagai permukiman masyarakat
Tionghoa karena lokasinya dekat dengan pusat perdagangan Pasar Gede dan Kali
Pepe. “Pecinan Lama bukan hanya satu titik, melainkan terdiri atas beberapa
kawasan. Mesen salah satunya,” ujar Dani pada Rabu, 15 Juli 2026. Sejarawan
dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Priyatmoko, memperkuat
keterangan itu. Dia mengatakan interaksi antarkelompok masyarakat di Mesen
lebih erat karena permukiman itu tumbuh alami lewat pengaruh perdagangan,
bukan hasil aturan hunian pemerintah kolonial. “Di utara Pasar Gede, relasi
sosialnya sangat cair,” tutur Heri pada Kamis, 23 Juli 2026. Pengaruh
budaya Jawa melekat dalam diri Oei Tjoe Tat sejak kecil. Ia dan tujuh
saudaranya masing-masing didampingi satu pengasuh perempuan Jawa. “Dengan
sehelai selendang, ia memomong saya. Bila saya merajuk atau tak mau tidur,
dia selalu menembang 'Lelo-lelo Ledung',” kata Oei dalam memoarnya. Tembang
pengantar tidur itu berisi doa agar anak tumbuh mulia. Pengasuh
itu pun kerap menyanyikan “Pok Ame-ame”. Kadang liriknya diubah untuk
menakut-nakuti Oei kecil supaya membuatnya bisa lebih diatur. “Bila nakal
nanti dibawa wewe,” ujar Oei dalam memoarnya. Sebutan itu mengacu pada wewe
gombel, sosok hantu perempuan dalam mitologi Jawa. Sehari-hari
Oei berbahasa Jawa ngoko, termasuk dengan orang tua dan teman-temannya. Hanya
ayahnya yang bisa berkomunikasi dalam Hokkian, bahasa yang digunakan
orang-orang di Fukien, Cina bagian selatan. Oei Ing Wie kadang berbahasa
Melayu diselingi Hokkian saat berinteraksi dengan sesama pedagang keturunan
Tionghoa. Sementara itu, Ong Tin Nio biasa menyambut pembeli dengan Jawa
kromo. Ayah dan
ibu Oei mempertahankan budaya Tionghoa, tapi diberi sentuhan lokal. Soal
makanan, misalnya. Capcai, bakmi, dan bihun dimasak ala Jawa dengan rasa
manis yang dominan seperti umumnya hidangan Yogyakarta dan Solo. Soal
berpakaian, Oei Ing Wie selalu mengenakan kemeja congsam pria putih yang
dipadukan dengan celana batik. Sementara itu, Ong Tin Nio memilih kebaya
encim saban keluar dari rumah. Imlek
menjadi momen bagi orang tua Oei mendekatkan anak-anaknya dengan budaya
Tionghoa. Mereka menjalani ritual pai kui atau penghormatan kepada orang yang
lebih tua. Dalam memoarnya, Oei menggambarkan ia dan saudara-saudaranya
memakai baju baru pada hari itu. Setelah menjalani pai kui di Solo, mereka ke
Yogyakarta dengan mobil sewaan. “Pertama-tama kami akan ke Gandekan, rumah
kakek dari garis ayah,” tutur Oei. Keluarganya juga akan menyambangi keluarga
Ong dan berkumpul bersama sanak saudara yang datang dari Magelang, Purworejo,
Kutoarjo, dan Kebumen. Sejarawan
dari Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Nopriyasman, menyatakan
ayah Oei adalah penganut konfusianisme yang mengajarkan ihwal pentingnya
menghormati leluhur kepada anak-anaknya. Lewat tesisnya, “Oei Tjoe Tat:
Dilema Peranakan di Pentas Politik Indonesia (1946-1966)” di Universitas
Indonesia pada 1995, Nopriyasman mengatakan ajaran itu tertoreh mendalam bagi
Oei. “Mungkin ini ikut mempengaruhi kenapa Oei begitu percaya kepada Sukarno.
Dia menganggap Sukarno sebagai orang yang dituakan,” ujarnya pada Jumat, 24
Juli 2026. Latar
belakang ayahnya sebagai pengusaha menjadikan Oei Tjoe Tat juga berpikiran
rasional dan terbuka. Oei Ing Wie tergolong pembelajar otodidaktik. Ia gemar
membaca sastra dan filosofi. Ing Wie menyekolahkan anak-anaknya di
Hollandsch-Chineesche School (HCS) di Solo—kini Sekolah Menengah Atas Negeri
1 Surakarta—bukan sekolah Tionghoa tradisional. Sekolah dasar ini menjalankan
pendidikan ala Barat dan lulusannya bisa berlanjut ke sekolah menengah atau
hoogere burgerschool (HBS). Hindia
Belanda menerapkan strata sosial yang menempatkan kaum Tionghoa di lapis
kedua, di bawah masyarakat Eropa dan di atas pribumi. Namun, Nopriyasman
melanjutkan, tidak semua keluarga Cina bisa menyekolahkan anak-anak mereka di
HCS. “Yang bisa masuk hanya orang-orang yang punya kerekatan dengan
pemerintah kolonial, anak orang kaya, atau anak pejabat. Nah, Oei ini
termasuk keluarga menengah yang cukup punya duit,” katanya. Masuk
HCS Surakarta pada 1928, Oei mulai bergaul dengan sesama anak Tionghoa.
Berbekal pelajaran bahasa Belanda, bocah yang gemar membaca itu memperluas
wawasannya dengan buku-buku dari Eropa. Dia lalu melanjutkan pendidikan ke
HBS. “Tidak semua orang bisa masuk HBS, cuma yang pintar,” tutur Nopriyasman. Oei
masuk Hoogere Burgerschool Semarang pada 1935 di usia 13 tahun. Ini adalah pertama
kalinya dia meninggalkan rumah Mesen. Awalnya ia indekos di rumah keluarga
Tiang Ing Liang, pemilik perusahaan susu sapi, tapi hanya setahun. Setelah
itu, Oei pindah-pindah tempat kos. Ketika
mondok di rumah keluarga Khouw Bian Tjeng, Oei mendapat kebebasan karena
pemilik rumah yang seorang seniman dan musikus lebih banyak tinggal di
Shanghai, Cina. Di sana dia berkenalan dengan wartawan Siauw Giok Tjhan. Di
kemudian hari, pada 1954, Siauw mendirikan Badan Permusyawaratan
Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki yang memperjuangkan hak-hak warga
keturunan Tionghoa. Bersekolah
di HBS Semarang membuat pergaulan Oei makin luas. Kegemaran berorganisasi
dalam lingkup komunitas Tionghoa yang ia mulai di sekolah dasar berlanjut di
sekolah menengah itu. Begitu juga dengan kebiasaannya membaca. Salah satu
asupan harian favoritnya adalah Sin Po, surat kabar progresif yang ikut
mempopulerkan nama “Indonesia” dan menerbitkan lirik serta partitur
“Indonesia Raya” pada edisi 10 November 1928. Dari
koran-koran pula Oei mengenal tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan, termasuk
Sukarno. Namun, kata Nopriyasman, Bung Karno belum menjadi pusat perhatian
Oei. Pada
masa sekolah menengah itu, Oei lebih banyak membaca seputar revolusi Cina
setelah tumbangnya Dinasti Qing pada 1911. Dia sampai memajang potret Sun
Yat-sen, bapak Tiongkok modern, di kamarnya. Oei turut mengagumi Jenderal
Chiang Kai-shek, pemimpin militer Cina dari kelompok nasionalis yang
belakangan terusir oleh kelompok komunis dan mendirikan pemerintahan di Pulau
Formosa—kini Taiwan. Menurut
Nopriyasman, kegemaran Oei melahap berita-berita soal pergerakan kebangsaan
di surat kabar pada masa HBS sedikit-banyak membentuk jiwa nasionalismenya.
Karakter itu menguat ketika anak Tionghoa asal Solo tersebut melanjutkan
pendidikan di Rechtshoogeschool te Batavia—cikal bakal Fakultas Hukum
Universitas Indonesia yang kini menjadi gedung Kementerian Pertahanan di
Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/masa-kecil-oei-tjoe-tat-2282169 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar