|
Ujian
Loyalitas Oei Tjoe Tat kepada Sukarno di Dalam Penjara Ahmad Faiz Ibnu Sani : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Oei Tjoe Tat rajin mengamati perilaku
tahanan lain saat dipenjara bersama tokoh lain. · Tak pernah mengalami kekerasan selama
di bui. · Petugas pernah menguji kesetiaannya
kepada Bung Karno saat masih di dalam penjara. SELAMA
sebelas tahun dipenjara Orde Baru, Oei Tjoe Tat paling menantikan kiriman
rantang berisi makanan dari istri tercinta, Kwee Loan Nio alias Rika. Meski
bentuknya kadang tak sempurna lagi karena diobrak-abrik saat diperiksa
penjaga, makanan itu menjadi oasis di tengah ransum penjara yang porsi dan
gizinya tidak layak. Sejak
ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo, Jakarta Pusat, hingga
Instalasi Rehabilitasi Nirbaya di Jakarta Timur, Menteri Negara diperbantukan
pada Presidium itu tergabung dalam kelompok makan kecil bersama sejumlah
tahanan. Makanan kiriman keluarga akan disantap bersama. Sebab,
Rika dan istri tahanan politik lain secara bergantian mengirim makanan ke bui
setiap hari. “Makanan kami bawa di dalam rantang untuk jatah seminggu. Oleh
sipir, nasi ditusuk-tusuk, pepaya dibelah-belah, takut ada yang
disembunyikan,” kata putra bungsu Oei, Oei Tiang Tik alias Tikki Budiman,
pada Kamis, 18 Juni 2026. Saat di
RTM Budi Utomo, kelompok makan Oei berisi sejumlah tokoh. Di antaranya mantan
Wakil Jaksa Agung, Brigadir Jenderal Soenaryo; eks atase militer Indonesia di
Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni Kolonel Partono Karnen, Kolonel Mustopha,
Kolonel Mamesa, dan Kapten Juspiadi; serta dua pemimpin Partai Komunis
Indonesia (PKI), Soepono Marsudidjojo dan Gatot Soetarjo alias Gatot
Lestario. Suatu
waktu, Oei akan diperiksa Tim Pemeriksa Pusat. Ia ditempatkan satu sel dengan
seorang letnan keturunan Cina asal Minahasa, Sulawesi Utara, yang disebut
sebagai agen ganda Angkatan Darat dan PKI oleh tahanan lain. Dalam buku
Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Oei tidak memberitahukan
nama letnan itu dan alasannya ditahan di RTM Budi Utomo. Ia menyebutnya
sebagai oknum. Perwira
ini tergabung dalam kelompok makan Oei. Tapi, suatu malam, dia dikeroyok
karena melaporkan ada tahanan yang akan memberontak. Oei hanya terdiam
melihat pengeroyokan itu. Gara-gara kejadian itu juga Oei ditanya-tanya
penjaga seputar isu pemberontakan meski tidak tahu apa-apa. Kepada
Oei, sang letnan mengaku pernah membunuh orang-orang PKI lalu membuang mayat
mereka ke sungai di Manggarai, Jakarta Selatan. Ia juga pernah menginterogasi
teman Oei di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, Phoa Thian
Hien. Ia dikirim ke Jerman untuk mempelajari intelijen karena dianggap
berjasa. Selama
bergaul dengan para tahanan, Oei memperhatikan betul karakter mereka,
terutama yang berasal dari PKI. Oei melihat ada orang-orang PKI yang setia
kawan, ada juga yang menekan sesama karena merasa berstatus lebih tinggi. Wakil
Kepala Biro Khusus PKI Soepono Marsudidjojo, misalnya. Mulanya dia berlagak
seperti majikan. Baru belakangan dia bersedia ikut memasak dan mencuci.
Sedangkan petinggi PKI lain, Gatot Soetarjo, sejak awal mau berbaur. Ia rajin
membantu mencuci alat-alat makan dan berkeras mengerjakannya sendiri. Berbeda
ceritanya dengan Sjam Kamaruzaman, pentolan PKI lain. Dia misterius. Tingkah
Sjam menimbulkan syak wasangka. Makanannya lebih mewah dibanding yang lain.
Banyak tahanan yang tunduk kepadanya karena takut ia “bernyanyi” saat
diperiksa petugas. “Was-was, khawatir, jangan-jangan kena gigitannya,” tulis
Oei dalam memoarnya. Tokoh peristiwa
Malapetaka 15 Januari 1974, Salim Hutajulu, sempat bertemu dengan Sjam di RTM
Budi Utomo. Kepada Tempo pada 2008, ia melihat Sjam seperti “godfather”. Ia
bebas keluar-masuk sel. Sementara tahanan lain takut dipanggil petugas, Sjam
justru santai menghadapi pemeriksa. Tahanan
lain yang mengesankan bagi Oei adalah sekretaris pribadi Presiden Sukarno,
Mualif Nasution. Oei mendengar Mualif menolak memberi kesaksian yang
menyudutkan Sukarno. Karena itu, Mualif dihukum merangkak di atas kerikil. “Wataknya
lebih andal daripada banyak orang PKI yang tak segan-segan mencelakakan
kawan-kawannya sendiri dan sering dengan keterangan-keterangan dusta,”
tulisnya. Oei juga
melihat cara Brigadir Jenderal Soenaryo, mantan Wakil Jaksa Agung, menghadapi
tekanan. Soenaryo pernah mengusir rombongan sipir yang hendak mengunci sel
saat ada tahanan yang sakit dan harus bolak-balik ke kamar mandi. ••• SELAMA
hampir 12 tahun dipenjara, Oei Tjoe Tat mengklaim tidak pernah mendapat
kekerasan dari penjaga ataupun penyidik. Menurut dia, nasib para tahanan di
Rumah Tahanan Militer Budi Utomo dan Nirbaya jauh lebih baik daripada di
tempat lain. Sebab, sesekali ia membantu merawat tahanan baru yang tiba di
RTM dalam keadaan terluka. Oei
meyakini ketahanan mental menjadi kunci menghadapi berbagai keadaan selama di
penjara. Keyakinan ini ia tunjukkan saat kesetiaannya kepada Sukarno diuji. Ceritanya,
ia diperiksa kolonel berinisial SS. Perwira ini mengabarkan bahwa istri Oei,
Rika, sakit. Dia menawari Oei cara untuk segera bebas dan menengok Rika,
yakni cukup menandatangani dokumen berita acara pemeriksaan (BAP). Dalam
BAP itu sudah tertulis bahwa Oei mengaku diperintah Presiden Sukarno
menyelamatkan Yurike Sanger, salah seorang istri Sukarno, pada 29 September
1965. Jika menandatanganinya, berarti Oei mengakui Bung Karno sudah
mengetahui akan adanya peristiwa Gerakan 30 September. Oei
menolak dan membantah keterangan dalam dokumen tersebut. Kolonel SS
membentaknya dan meminta dia tidak terus membela Sukarno karena sudah bukan
presiden. "Jujur saja, saya tidak tahu siapa itu Yurike Sanger. Tak
masuk di akal Bung Karno punya isteri kelima," tulis Oei. Oei
kembali dibentak dan diancam akan dipindahkan dari Nirbaya. “Saya takut
sekali. Dipindahkan bisa berarti pura-pura dibawa pergi, atau dikabarkan
lari, lantas dikatakan terpaksa ditembak,” begitu Oei bercerita dalam
bukunya. Kala
itu, wajah Oei seketika pucat. Loyalitasnya kepada Bung Karno sekilas goyah.
Keraguan mulai muncul di hatinya. Nasib Bung Karno dan Rika seakan-akan ada
di tangannya. Bayang-bayang berada di hadapan regu tembak sudah mengisi ruang
kepala. Pada
akhirnya, Oei memilih tetap setia kepada Bung Karno. Ia siap menghadapi
kematian. Dalam pikirannya, kalau benar-benar akan dieksekusi regu tembak, ia
tidak bakal merasakan sakit di ujung kehidupan. “Tidak, saya tak mau tanda
tangani, toh, bakal dibohongi dan tetap tidak dibebaskan,” tulisnya. Pemeriksaan
yang berakhir buntu itu ditutup dengan perintah kepada Oei agar kembali ke
sel dan mengemas pakaian. Oei keluar dari ruang pemeriksaan dengan langkah
goyah. Rekan-rekan tahanan yang melihatnya lemas bertanya-tanya. Tanpa
memberi jawaban, Oei mengemas barang-barang seperti perintah Kolonel SS, lalu
pamit kepada tahanan lain. Sambil
membawa koper, Oei menuju kamar komandan kamp, Letnan Kolonel Sutomo. Kala
itu Sutomo pun heran melihatnya. Setelah Oei menjelaskan bahwa dia berkemas
atas perintah Kolonel SS, Sutomo mengatakan bahwa itu hanya gertakan. “Beban
pikiran dan hati sekian ton itu akhirnya melorot dan punah,” kata Oei. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-loyalis-sukarno-2282227 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar