Senin, 17 Agustus 2026

 

Ujian Loyalitas Oei Tjoe Tat kepada Sukarno di Dalam Penjara

Ahmad Faiz Ibnu Sani :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Oei Tjoe Tat rajin mengamati perilaku tahanan lain saat dipenjara bersama tokoh lain.

 

·      Tak pernah mengalami kekerasan selama di bui.

 

·      Petugas pernah menguji kesetiaannya kepada Bung Karno saat masih di dalam penjara.

 

SELAMA sebelas tahun dipenjara Orde Baru, Oei Tjoe Tat paling menantikan kiriman rantang berisi makanan dari istri tercinta, Kwee Loan Nio alias Rika. Meski bentuknya kadang tak sempurna lagi karena diobrak-abrik saat diperiksa penjaga, makanan itu menjadi oasis di tengah ransum penjara yang porsi dan gizinya tidak layak.

 

Sejak ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo, Jakarta Pusat, hingga Instalasi Rehabilitasi Nirbaya di Jakarta Timur, Menteri Negara diperbantukan pada Presidium itu tergabung dalam kelompok makan kecil bersama sejumlah tahanan. Makanan kiriman keluarga akan disantap bersama.

 

Sebab, Rika dan istri tahanan politik lain secara bergantian mengirim makanan ke bui setiap hari. “Makanan kami bawa di dalam rantang untuk jatah seminggu. Oleh sipir, nasi ditusuk-tusuk, pepaya dibelah-belah, takut ada yang disembunyikan,” kata putra bungsu Oei, Oei Tiang Tik alias Tikki Budiman, pada Kamis, 18 Juni 2026.

 

Saat di RTM Budi Utomo, kelompok makan Oei berisi sejumlah tokoh. Di antaranya mantan Wakil Jaksa Agung, Brigadir Jenderal Soenaryo; eks atase militer Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni Kolonel Partono Karnen, Kolonel Mustopha, Kolonel Mamesa, dan Kapten Juspiadi; serta dua pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI), Soepono Marsudidjojo dan Gatot Soetarjo alias Gatot Lestario.

 

Suatu waktu, Oei akan diperiksa Tim Pemeriksa Pusat. Ia ditempatkan satu sel dengan seorang letnan keturunan Cina asal Minahasa, Sulawesi Utara, yang disebut sebagai agen ganda Angkatan Darat dan PKI oleh tahanan lain. Dalam buku Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Oei tidak memberitahukan nama letnan itu dan alasannya ditahan di RTM Budi Utomo. Ia menyebutnya sebagai oknum.

 

Perwira ini tergabung dalam kelompok makan Oei. Tapi, suatu malam, dia dikeroyok karena melaporkan ada tahanan yang akan memberontak. Oei hanya terdiam melihat pengeroyokan itu. Gara-gara kejadian itu juga Oei ditanya-tanya penjaga seputar isu pemberontakan meski tidak tahu apa-apa.

 

Kepada Oei, sang letnan mengaku pernah membunuh orang-orang PKI lalu membuang mayat mereka ke sungai di Manggarai, Jakarta Selatan. Ia juga pernah menginterogasi teman Oei di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, Phoa Thian Hien. Ia dikirim ke Jerman untuk mempelajari intelijen karena dianggap berjasa.

 

Selama bergaul dengan para tahanan, Oei memperhatikan betul karakter mereka, terutama yang berasal dari PKI. Oei melihat ada orang-orang PKI yang setia kawan, ada juga yang menekan sesama karena merasa berstatus lebih tinggi.

 

Wakil Kepala Biro Khusus PKI Soepono Marsudidjojo, misalnya. Mulanya dia berlagak seperti majikan. Baru belakangan dia bersedia ikut memasak dan mencuci. Sedangkan petinggi PKI lain, Gatot Soetarjo, sejak awal mau berbaur. Ia rajin membantu mencuci alat-alat makan dan berkeras mengerjakannya sendiri.

 

Berbeda ceritanya dengan Sjam Kamaruzaman, pentolan PKI lain. Dia misterius. Tingkah Sjam menimbulkan syak wasangka. Makanannya lebih mewah dibanding yang lain. Banyak tahanan yang tunduk kepadanya karena takut ia “bernyanyi” saat diperiksa petugas. “Was-was, khawatir, jangan-jangan kena gigitannya,” tulis Oei dalam memoarnya.

 

Tokoh peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974, Salim Hutajulu, sempat bertemu dengan Sjam di RTM Budi Utomo. Kepada Tempo pada 2008, ia melihat Sjam seperti “godfather”. Ia bebas keluar-masuk sel. Sementara tahanan lain takut dipanggil petugas, Sjam justru santai menghadapi pemeriksa.

 

Tahanan lain yang mengesankan bagi Oei adalah sekretaris pribadi Presiden Sukarno, Mualif Nasution. Oei mendengar Mualif menolak memberi kesaksian yang menyudutkan Sukarno. Karena itu, Mualif dihukum merangkak di atas kerikil. “Wataknya lebih andal daripada banyak orang PKI yang tak segan-segan mencelakakan kawan-kawannya sendiri dan sering dengan keterangan-keterangan dusta,” tulisnya.

 

Oei juga melihat cara Brigadir Jenderal Soenaryo, mantan Wakil Jaksa Agung, menghadapi tekanan. Soenaryo pernah mengusir rombongan sipir yang hendak mengunci sel saat ada tahanan yang sakit dan harus bolak-balik ke kamar mandi.

 

•••

 

SELAMA hampir 12 tahun dipenjara, Oei Tjoe Tat mengklaim tidak pernah mendapat kekerasan dari penjaga ataupun penyidik. Menurut dia, nasib para tahanan di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo dan Nirbaya jauh lebih baik daripada di tempat lain. Sebab, sesekali ia membantu merawat tahanan baru yang tiba di RTM dalam keadaan terluka.

 

Oei meyakini ketahanan mental menjadi kunci menghadapi berbagai keadaan selama di penjara. Keyakinan ini ia tunjukkan saat kesetiaannya kepada Sukarno diuji.

 

Ceritanya, ia diperiksa kolonel berinisial SS. Perwira ini mengabarkan bahwa istri Oei, Rika, sakit. Dia menawari Oei cara untuk segera bebas dan menengok Rika, yakni cukup menandatangani dokumen berita acara pemeriksaan (BAP).

 

Dalam BAP itu sudah tertulis bahwa Oei mengaku diperintah Presiden Sukarno menyelamatkan Yurike Sanger, salah seorang istri Sukarno, pada 29 September 1965. Jika menandatanganinya, berarti Oei mengakui Bung Karno sudah mengetahui akan adanya peristiwa Gerakan 30 September.

 

Oei menolak dan membantah keterangan dalam dokumen tersebut. Kolonel SS membentaknya dan meminta dia tidak terus membela Sukarno karena sudah bukan presiden. "Jujur saja, saya tidak tahu siapa itu Yurike Sanger. Tak masuk di akal Bung Karno punya isteri kelima," tulis Oei.

 

Oei kembali dibentak dan diancam akan dipindahkan dari Nirbaya. “Saya takut sekali. Dipindahkan bisa berarti pura-pura dibawa pergi, atau dikabarkan lari, lantas dikatakan terpaksa ditembak,” begitu Oei bercerita dalam bukunya.

 

Kala itu, wajah Oei seketika pucat. Loyalitasnya kepada Bung Karno sekilas goyah. Keraguan mulai muncul di hatinya. Nasib Bung Karno dan Rika seakan-akan ada di tangannya. Bayang-bayang berada di hadapan regu tembak sudah mengisi ruang kepala.

 

Pada akhirnya, Oei memilih tetap setia kepada Bung Karno. Ia siap menghadapi kematian. Dalam pikirannya, kalau benar-benar akan dieksekusi regu tembak, ia tidak bakal merasakan sakit di ujung kehidupan. “Tidak, saya tak mau tanda tangani, toh, bakal dibohongi dan tetap tidak dibebaskan,” tulisnya.

 

Pemeriksaan yang berakhir buntu itu ditutup dengan perintah kepada Oei agar kembali ke sel dan mengemas pakaian. Oei keluar dari ruang pemeriksaan dengan langkah goyah. Rekan-rekan tahanan yang melihatnya lemas bertanya-tanya. Tanpa memberi jawaban, Oei mengemas barang-barang seperti perintah Kolonel SS, lalu pamit kepada tahanan lain.

 

Sambil membawa koper, Oei menuju kamar komandan kamp, Letnan Kolonel Sutomo. Kala itu Sutomo pun heran melihatnya. Setelah Oei menjelaskan bahwa dia berkemas atas perintah Kolonel SS, Sutomo mengatakan bahwa itu hanya gertakan. “Beban pikiran dan hati sekian ton itu akhirnya melorot dan punah,” kata Oei.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-loyalis-sukarno-2282227

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar