|
Kisah
Asmara Oei Tjoe Tat di Tengah Penjajahan Jepang Yohanes Paskalis
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Di Jakarta, Oei Tjoe Tat muda kembali
bertemu dengan gadis belia yang pernah ia kenal dalam perjumpaan tak
disengaja pada 1938. · Kedatangan tentara Jepang menjadi batu
kerikil dalam hubungan asmara Oei Tjoe Tat dengan Kwee Loan Nio. · Oei Tjoe Tat dan Kwee Loan Nio punya
karakter berbeda. Keduanya saling melengkapi di tengah beratnya hidup di
Jakarta. GRIYA
bergaya arsitektur kolonial Belanda di Jalan Serang, Batavia—sekarang Jalan
Syamsu Rizal, Jakarta Pusat—itu telah berganti wajah menjadi properti modern
minimalis dua lantai. Dulu, pada 1940-an, Oei Tjoe Tat kerap berkunjung ke
rumah yang ditempati keluarga Lie Oen Hock tersebut. Ketika
itu Oei tengah melanjutkan studinya di Rechtshoogeschool te Batavia—sekolah
tinggi hukum yang bangunannya kini menjadi kantor Kementerian Pertahanan.
Adapun Lie Oen Hock, yang juga lulusan Rechtshoogeschool, adalah seorang
hakim di Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta. Fransiska
Oei alias Oei Lan Siem, putri ketiga Oei Tjoe Tat, tahu cerita tentang
kebiasaan ayahnya di masa muda itu. Semula dia mengira sang ayah berkunjung
berkali-kali ke rumah di Jalan Serang itu karena ingin bertemu dan berbincang
dengan Lie Oen Hock ihwal ilmu hukum. “Karena Om Lie seorang master hukum,
jadi nyambung kalau mengobrol,” kata Fransiska ketika ditemui Tempo pada
Selasa, 30 Juni 2026. Perkiraan
Fransiska, yang kini menjadi anggota direksi sebuah bank swasta nasional,
bisa jadi tidak keliru. Oei memang mengagumi dan terinspirasi pemikiran Lie
Oen Hock. Jauh sebelum menjadi hakim, Lie adalah praktisi hukum kondang di
Solo dengan gelar meester in de rechten dari Universiteit Leiden, Belanda.
Kelak pria yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, itu juga diangkat
menjadi Guru Besar Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Tapi
tiga dekade terakhir, setelah membaca Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden
Soekarno, Fransiska punya dugaan baru. Oei intens berkunjung ke Jalan Serang
tak sekadar ingin berdiskusi dan belajar tentang hukum, tapi juga ngapel.
Rumah Lie Oen Hock juga menampung adik-adik sang istri, Kwee Giok Nio. Di
antara mereka adalah Kwee Loan Nio atau biasa dipanggil Rika, yang belakangan
menikah dengan Oei dan melahirkan Fransiska pada 1957. Usia
Rika lebih muda dua tahun dibanding Oei. Pada 1941, ketika Oei kerap datang
ke rumah Lie Oen Hock, Rika masih menjadi murid sekolah menengah atas di
Algemeene Middelbare School Kristen Salemba. Jakarta
sebenarnya bukan tempat perjumpaan pertama Oei dengan Rika. Empat tahun
sebelumnya, pada suatu malam Juli 1938, keduanya pernah bertemu tanpa sengaja
dalam sebuah pesta amal kelompok Hsing Chung Hui Solo, Yogyakarta, dan
Salatiga. Acara pengumpulan dana itu digelar di rumah mantan Majoor der
Chinezen, Be Kwat Koen, yang berseberangan dengan rumah keluarga Oei di Jalan
Mesen. Di
tengah kemeriahan fancy fair, Oei yang masih remaja memberanikan diri menyapa
Rika. Gadis belia itu datang bersama keluarganya dari Salatiga. Ayah Rika,
Kwee Tjien Khee, adalah pedagang kayu balok. Bisnis keluarga ini, menurut
Oei, tak mentereng. Tapi Kwee Tjien Khee cukup terpandang karena aktif dalam
kegiatan sosial di Salatiga. Oei mengaku tidak pernah menduga gadis belia
yang ketika itu masih duduk di Hollandsch-Chineesche School—sekolah berbahasa
Belanda khusus untuk anak-anak keturunan Tionghoa elite—tersebut akan menjadi
pendamping di seumur hidupnya. Di
Jakarta, Oei dan Rika mulai berpacaran. Tapi romansa sejoli di perantauan ini
buyar ketika tentara Jepang masuk pada awal 1942. Penutupan sekolah-sekolah
pada masa pemerintahan Belanda memaksa Oei dan Rika pulang ke kampung
masing-masing dan menjalin hubungan jarak jauh. Pada
masa itu, di kampung halaman, Oei yang belum tamat kuliah akhirnya
menyibukkan diri dengan bekerja. Semula ia menjadi pegawai di Hotel Slier
atau Hotel Sakura, yang bangunannya sekarang menjadi Kantor Pos Indonesia di
wilayah Kampung Baru, Solo. Hanya tiga bulan di sana, Oei pindah kerja karena
diterima di Yokohama Specie Bank. Jarak
antara Solo dan Salatiga hanya 50 kilometer. Namun Oei sulit menemui Rika.
Pada masa itu semua alat transportasi darat disita tentara Jepang. Armada bus
yang melayani rute Solo-Salatiga juga berkurang drastis, tersisa satu unit
dengan kondisi yang tak layak karena semua besi suku cadang diangkut ke
Jepang. “Pagar-pagar
dan hek-hek rumah dicopot dan diganti dengan kayu, termasuk rumah saya di
Jalan Mesen 201,” ujar Oei dalam memoar. Toh,
hubungan asmara mereka bertahan. Di tengah periode yang serba tak pasti, Oei
dan Rika akhirnya menikah pada April 1945, empat bulan menjelang proklamasi
kemerdekaan Indonesia. Oei
mengenang dirinya harus berdesakan dengan ratusan penumpang kereta ketika
menjemput Rika dari Salatiga pada hari perayaan. Di Stasiun Purwosari, Solo,
pasangan ini disambut andong istimewa milik sahabat keluarga mereka, Oen Boen
Ing, seorang dokter terkemuka di Solo. Perjamuan
sederhana digelar di rumah masa kecil Oei di Jalan Mesen. Selain dihadiri
keluarga dan kolega, pernikahan itu dihadiri para pengungsi dari Kalimantan
yang tengah bersembunyi dari kekejaman Jepang, serta anggota sebuah klub bulu
tangkis bernama Hsich Toeng. Keluarga
muda Oei dan Rika baru menghadapi ujian sebenarnya ketika pindah ke Jakarta
selepas proklamasi. Mereka hidup nomaden, terus bergeser dari menumpang di
rumah kerabat, mengontrak kamar, hingga tinggal di sebuah garasi berukuran 6
x 2,5 meter di Oranje Boulevard—kini Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta
Pusat. Di
tempat terakhir itu, Oei membangun kamar mandi berdinding gedek, dengan
lantai batu bata dan atap daun kelapa. “Sebagai bak mandi, saya menggunakan
sebuah drum bekas minyak mobil,” tutur Oei. Rika
sempat mengelola toko bunga bernama Cantik untuk menyambung hidup bersama
suaminya yang sedang melanjutkan studi hukum. Oei—kala itu sudah bergelar
sarjana hukum muda—tidak gengsi untuk sesekali membantu mengantarkan kembang
pesanan pembeli. Putri
sulung pasangan Oei dan Rika, Oei Yang Siem yang sekarang bernama Shilana
Atma Waskowski, turut merasakan kondisi saat itu. Lahir pada 1948, Shilana
samar-samar masih ingat ketika tinggal di “rumah garasi”. “Cuma satu ruangan.
Ruang tidur dan tempat (menyambut) tamu dipisahkan gorden,” katanya. Fransiska
dan tiga saudaranya yang juga diwawancarai Tempo menyatakan ayah dan ibu
mereka sangat irit membagikan kisah romantis di masa muda. Namun mereka punya
kenangan yang sama: Rika selalu menjadi pendengar yang baik untuk segala
cerita perpolitikan yang dibawa Oei ke rumah. “Mereka seperti teko bertemu
dengan tutupnya,” ujar Fransiska. Oei Ling
Siem alias Desita Atma Brunier, putri kedua Oei yang kini menetap di Prancis,
menilai kedua orang tuanya punya karakter yang kontras tapi tetap harmonis.
Menurut Desita, ayahnya humoris dan tidak pernah marah, sedangkan ibunya
orang yang tegas dan berdisiplin. “Anak-anak
lebih takut kepada Mama,” tutur Desita dalam wawancara melalui layanan Zoom.
“Kalau sedang ditungguin mengerjakan PR (pekerjaan rumah), kami sudah
berdebar-debar duluan,” dia menambahkan. Setelah
Jepang menyerah, Oei terseret ke pusaran sejarah yang kelak membawanya
menjadi aktivis Sin Ming Hui, tokoh Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan
Indonesia atau Baperki, hingga Menteri Negara era Sukarno. Ketika kehidupan
publik Oei berkembang demikian cepat, Rika yang menangani semua urusan
domestik di rumah. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/asmara-oei-tjoe-tat-rika-kwee-loan-nio-2282207 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar