|
Ontran-ontran
Mundurnya Perry Warjiyo dari Bank Indonesia Fery
Firmansyah : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Pengumuman penggantian Gubernur BI di
awal pekan terjadi secara mendadak. · Sejumlah informasi menyebutkan Perry
Warjiyo diminta meletakkan jabatannya. · Investor lebih menyoroti gejala
intervensi terhadap bank sentral yang makin liar. KABAR
mundurnya Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia pada Senin pagi,
27 Juli 2026, membuat kami, tim pengampu rubrik Ekonomi dan Bisnis Tempo,
pontang-panting. Hari itu kami dan karyawan Tempo lain seharusnya memulai
pekan dengan senyum karena baru saja menerima gaji. Tapi
kali ini yang terjadi di tim kami adalah kesibukan. Editor pengampu laman
current issues dan konten harian sibuk menugasi reporter ke berbagai tempat.
Sementara itu, tim konten mingguan bermanuver, mengganti daftar perencanaan
yang sudah ditentukan pada pekan sebelumnya dengan isu mundurnya Perry. Sebetulnya
gonjang-ganjing mundurnya Perry Warjiyo sudah lama kami dengar. Banyak rekan
dan narasumber di bank sentral serta lembaga lain berbisik, akan ada “sesuatu
yang besar” pada pertengahan tahun. Selama
berbulan-bulan kabar penggantian Perry Warjiyo terus berembus, seiring dengan
penyelidikan soal dugaan korupsi dana tanggung jawab sosial BI. Isu
penggantian Gubernur BI pun bak sakelar lampu. Ibarat kata, lengsernya Perry
tinggal menunggu “bos besar” menekan tombol. Pada
akhir pekan lalu, kami sebetulnya mendengar kabar bahwa penggantian Perry
bakal terlaksana. Namun ketika itu tak ada yang memberikan konfirmasi dan
informasi yang berembus pun agak sumir. Lagi
pula beberapa anggota tim yang biasa mengawal isu keuangan dan moneter tahu
bahwa Perry sedang melawat ke Singapura, menghadiri Executives' Meeting of
East Asia-Pacific Central Banks atau pertemuan bos bank sentral
se-Asia-Pasifik. Tak ada yang menyangka bahwa peristiwa penggantian itu akan
terjadi pada akhir pekan, ketika kebanyakan orang, termasuk para pejabat,
sedang berlibur. Barulah ketika
pengumuman suksesi Gubernur BI muncul, terkuak sejumlah informasi penting.
Salah satunya soal seorang politikus yang menjadi kurir pembawa kabar kepada
Perry yang berisi “perintah mundur” dari Istana. Informasi
lain adalah pertemuan mendadak para Deputi Gubernur BI dan pejabat di
bawahnya pada Ahad pekan lalu, setelah Perry memastikan mundur. Kami
melakukan check and recheck soal kabar-kabar tersebut kepada sejumlah
pejabat. Hasilnya, mereka memberikan konfirmasi yang sama. Ontran-ontran
alias kekacauan di bank sentral pun bukan peristiwa tunggal. Sejumlah pejabat
menginformasikan bahwa pemicu mundurnya Perry Warjiyo adalah kemarahan
Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang membahas koperasi desa
merah putih. Dalam rapat itu, Perry tak hadir. Namun,
kata beberapa narasumber, Perry disoroti karena kebijakannya dianggap membuat
likuiditas perbankan kering sehingga pendanaan untuk proyek prioritas
Presiden seret. Kebijakan itu antara lain permintaan pengembalian dana saldo
anggaran lebih yang kadung disalurkan ke bank sentral serta penerbitan
Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Tentu
saja, ketika meramu kisah ini, kami meminta tanggapan pihak-pihak yang
disebut. Seperti biasa, ada yang menanggapi, banyak yang enggan menjawab.
Selain itu, kami menyajikan informasi seputar para tokoh yang digadang-gadang
masuk bursa Gubernur BI definitif. Tak
lupa, ada tulisan yang menjelaskan dampak ontran-ontran bank sentral terhadap
pasar keuangan. Tulisan ini juga mengungkap penyebab utama kegelisahan
investor bukanlah penggantian pejabat, melainkan sinyal intervensi pemerintah
terhadap bank sentral yang kian liar. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/perry-warjiyo-independensi-bank-indonesia-2279812 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar