|
Perlawanan
Pasif Oei Tjoe Tat kepada Orde Baru Friski Riana :
Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Oei Tjoe Tat sempat menolak memoarnya
diterbitkan untuk umum tentang kesaksiannya pada pemerintahan Orde Lama
maupun G30S. · Kejaksaan Agung melarang memoar Oei
Tjoe Tat beredar. · Oei Tjoe Tat melawan Orde Baru secara
pasif setelah masuk penjara akibat huru-hara 1965. BERISI
hampir 600 halaman, memoar Oei Tjoe Tat nyaris berakhir sia-sia. Coretan
perjalanan hidup menteri negara era Sukarno itu mulai ditulis setelah 1985.
Istri Oei, Kwee Loan Nio alias Rika, memintanya menulis agar anak-anak mereka
bisa mengenal sang ayah. Oei hampir 12 tahun ditahan tanpa pernah diadili
karena dianggap dekat dengan Sukarno. Penyunting
utama Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Stanley Adi Prasetyo,
pertama kali membaca naskah biografi itu pada 1986. Saat itu Oei berkunjung
ke Salatiga, Jawa Tengah. Stanley mendapat naskah itu dari Soe Hok Djin alias
Arief Budiman, kakak Soe Hok Gie yang sama-sama aktivis dari kalangan
Tionghoa. Stanley
kemudian memperbanyak naskah tersebut dengan stensil. Ia mengedarkannya
secara terbatas di kalangan akademikus serta jaringan diskusi di Universitas
Kristen Satya Wacana, Salatiga. “Pak Oei masih menolak mengedarkan memoar itu
secara luas,” kata Stanley saat berkunjung ke kantor Tempo di Jakarta pada
Kamis, 2 Juli 2026. Setelah
lulus kuliah dan bekerja di Jakarta pada 1990, Stanley kembali membujuk Oei
untuk menerbitkan memoarnya. Berbagai tokoh lain berpendapat sama: sastrawan
Pramoedya Ananta Toer; tokoh Nahdlatul Ulama yang kelak menjadi presiden,
Abdurrahman Wahid; akademikus asal Amerika Serikat, Daniel Saul Lev; serta
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya aliasRomo Mangun. Menurut
Stanley, Pramoedya tertarik terlibat dalam penerbitan memoar tersebut karena
Oei merupakan tokoh penting yang berada di lingkaran dalam Presiden Sukarno.
Ia juga memiliki akses terhadap informasi intelijen. Sedangkan Gus
Dur—panggilan Abdurrahman—menganggap Oei bagian dari sejarah bangsa yang
perlu menuangkan pengalamannya. Adapun
Romo Mangun mengatakan pengalaman Oei tak boleh dibawa ke liang kubur dan
harus menjadi warisan untuk generasi muda. “Bagaimana generasi muda
menilainya, itu bukan urusan Pak Oei," ujar Oei mengutip pernyataan Romo
Mangun dalam interviu yang dimuat Forum Budaya Tionghoa pada 19 Maret 2012.
Interviu itu terbit 16 tahun setelah Oei berpulang. Jangankan
menerbitkan buku, menulis saja Oei sebenarnya ogah. Dalam surat untuk Stanley
dan Pramoedya pada 25 Oktober 1993, Oei bercerita bahwa Daniel Lev telah
menyarankan ia menulis buku pada 1982. Begitu pula koleganya dari Badan
Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia—organisasi warga keturunan Cina—dan
Partai Indonesia atau Partindo. Ia ragu
pengalamannya cukup berharga untuk disebarluaskan. Ia juga menyatakan tak
pernah menulis untuk surat kabar, majalah, atau buku. “Saya tidak berbakat
menulis," tulis Oei dalam memoarnya. Serangan
stroke dan kelumpuhan mengubah pendirian Oei Tjoe Tat. Pada 1986, sarjana
hukum dari Universitas Indonesia itu mulai membuat draf tulisan. Saat itu
tujuannya hanya agar tulisannya dibaca keluarga. Dorongan
dari teman-temannya membuat Oei mengalah. Dalam surat untuk Pramoedya dan
Stanley, ia akhirnya menyetujui penerbitan memoar untuk masyarakat.
Syaratnya, “Penerbitan benar-benar bermanfaat bagi kepentingan umum,” tulis
Oei. Antara
1992 dan 1993, Stanley dan Pramoedya bertemu dengan Oei di rumahnya di Jalan
Blitar, Menteng, Jakarta Pusat. Stanley bercerita, Pram menawarkan diri
menjadi penyunting. Dengan begitu, Oei tak perlu repot menuliskan naskahnya. Oei
meminta Stanley menjadi editor. Ia pun menanyakan urusan teknis penerbitan
karena tak punya uang. Belakangan, Yusuf Isak dari penerbit Hasta Mitra
bersedia menerbitkan. Stanley
tak mengambil mentah-mentah tulisan Oei. Bersama Pramoedya, ia beberapa kali
mewawancarai ulang Oei untuk menggali bagian yang belum tercatat, menyusun
alur kehidupan, hingga menelusuri arsip dan dokumen pribadi. Sedangkan
Pramoedya berfokus pada dinamika Gerakan 30 September 1965 serta hubungan Oei
dengan Sukarno. Wawancara
ulang dengan Oei terekam dalam 25-30 kaset. Transkripsinya mencapai 600-800
halaman. Dalam penyuntingan, Stanley menyesuaikan semua naskah dengan gaya
penulisan Pramoedya agar seragam. Ia mengaku banyak belajar mengenai bahasa
dari Pramoedya. Anak
keempat Oei, Oei Tiang Tik alias Tikki Budiman, mengatakan Stanley kerap
memancing ingatan ayahnya lewat pertanyaan dan memandang peristiwa dari sudut
pandang yang lebih obyektif. Sedangkan sentuhan Pramoedya terasa dari gaya
bertutur dalam memoar. Tikki menilai Pramoedya—ditahan di Pulau Buru selama
sepuluh tahun—menulis dari perspektif korban politik. Menurut
Tikki, Pramoedya mengaku terlibat dalam penulisan memoar untuk berterima
kasih kepada ayahnya. Saat Pramoedya ditahan karena membela peranakan Cina
yang didiskriminasi pemerintah Orde Lama, Oei membesuknya di penjara. Sebelum
memoar naik cetak, Stanley menyerahkan naskahnya kepada Oei. Tak ada banyak
catatan dari si empunya memoar. Stanley kemudian menanyakan nama-nama dalam
buku yang perlu dianonimkan. “Ada pertimbangan orang yang masih hidup mungkin
akan menerima pembalasan dari Presiden Soeharto,” tuturnya. Oei
meminta Daniel Lev menulis pengantar memoar. Lev—berpulang pada
2006—menyebutkan memoar tersebut berbobot lantaran pengalaman Oei yang
mengalami dari dekat zaman yang sulit, semrawut, serta sarat dengan ide,
konflik, gerakan, dan perubahan. Judul
buku sempat menjadi perdebatan. Stanley bercerita, Oei ingin ada frasa
“Pembantu Sukarno”. Namun anak-anaknya menolak karena dianggap merendahkan
ayah mereka. Stanley lalu mengusulkan penggunaan istilah resmi dalam
konstitusi, yaitu "Pembantu Presiden". "Semua langsung
sepakat,” katanya. Sejarawan
Nopriyasman menyatakan Oei Tjoe Tat bangga menyebut dirinya sebagai kacung
Sukarno. Istilah tersebut, menurut dosen di Universitas Andalas, Padang, itu,
berkaitan dengan prinsip hidup Oei yang tidak mungkin mengkhianati Sukarno. Diterbitkan
pada 23 April 1995, memoar Oei Tjoe Tat hanya berusia muda, sekitar setahun.
Kejaksaan Agung akhirnya melarang peredaran buku tersebut. Kepada Stanley,
Oei menyatakan tak mempersoalkan pembredelan tersebut. “Nanti akan menyebar
sendiri,” ujar Stanley menirukan ucapan Oei. Namun
dampak penulisan buku itu tak usai begitu saja. Rumah Oei beberapa kali
didatangi massa. Mereka mempertanyakan Oei seorang komunis atau bukan.
Setengah lumpuh dan duduk di kursi roda, Oei melayani mereka selama
berjam-jam. Ia hanya satu kali meminta Stanley mendampingi, yaitu saat
organisasi kemasyarakatan Pemuda Pancasila datang. Sinolog
Leo Suryadinata mengatakan memoar Oei Tjoe Tat merupakan bentuk kritik
terhadap Orde Baru. Peneliti yang tinggal di Singapura ini menilai Oei
menolak mengabdi kepada Soeharto dan malah melawan pemerintahannya secara
pasif. "Dia seorang nasionalis Indonesia yang mau menyumbangkan jiwa
raganya," kata Leo. Oei juga
mengikuti acara arisan yang beranggota berbagai tokoh dan tahanan politik.
Mereka antara lain mantan Kepala Kepolisian RI, Hoegeng Iman Santoso; eks
Gubernur Jakarta, Ali Sadikin; mantan pejuang Soehario Padmodiwirio alias
Hario Kecik; serta politikus Partai Nasional Indonesia, Manai Sophiaan. Nopriyasman
beberapa kali mengikuti arisan itu. Ia mengungkapkan, di forum itu, Oei
menyampaikan ketidakpuasannya terhadap pemerintah Orde Baru. Anak
keempat Oei, Tikki Budiman, kerap mendengar keluhan ayahnya soal kinerja
pemerintahan Soeharto. Misalnya saat ia di jalan melihat jalan berlubang atau
lampu lalu lintas mati. Oei juga kerap mengkritik maraknya korupsi pada masa
Orde Baru. Kritik
yang disampaikan Oei berada pada ruang terbatas. Setelah bebas dari penjara,
ia tak boleh kembali berpolitik. Ia kemudian menjadi advokat dan membantu
teman-temannya yang ditahan. Sebetulnya, Oei sudah kehilangan gairah
menjalani profesi tersebut mengingat peradilan yang dialaminya dan cerita
buruk dari orang banyak soal penegakan hukum. Dalam
bukunya, Oei mengaku tak bisa menghindar menjadi pengacara. Komando Operasi
Pemulihan Keamanan dan Ketertiban atau Kopkamtib mendesak dia berprofesi
advokat. Wakil Presiden Adam Malik dan teman-temannya di Mahkamah Agung juga
menyarankan begitu. Uskup
Agung Jakarta saat itu, Leo Soekoto, dan Pemimpin Redaksi Kompas Jakob Oetama
menyarankan Oei tak menonjolkan diri. Oei pun menjalankan profesi pengacara
dengan santai, tanpa target apa pun. Nopriyasman
mengatakan Oei hanya sebentar membuka kantor pengacara karena kondisi
kesehatannya yang terus menurun. Oei sempat dirawat beberapa bulan di rumah
sakit. Saat menerima seorang tamu, ia menyatakan tak menyesali pilihan
hidupnya. “I will do exactly the same,” kata Oei Lan Siem alias Fransiska
Oei, putri ketiga Oei, mengulang ucapan ayahnya. Menjelang
akhir hayat Oei, keluarga melihat perubahan sikap terhadap sang istri.
Fransiska merasa ayahnya menjaga jarak dari Rika. Ketika Rika menjaga Oei di
rumah sakit, ayahnya malah lebih banyak diam. Namun, begitu istrinya pulang,
Oei mengajak anaknya berbincang seperti biasa dan menanyakan bagaimana Rika
pulang. Anak
keempat Oei, Oei Tiang Tik alias Tikki Budiman, mengatakan papinya lebih
bersemangat meladeni kawan yang membesuk ketimbang anggota keluarga. “Kalau
ada teman laki-lakinya, Papi langsung hidup lagi dan mengobrol,” tutur Tikki.
Namun ia pernah mendengar Oei memuji anak-anaknya di depan perawat. Tikki,
misalnya, disebut sebagai lelaki yang hebat. Jauh
sebelum jatuh sakit, Oei pernah berpesan tidak mau dipasangi alat penunjang kehidupan
dan hanya ingin dikelilingi keluarga. Keinginan itu terpenuhi. Semua anggota
keluarga berkumpul di sisi tempat tidur Oei di Rumah Sakit St. Carolus,
Jakarta, ketika tekanan darahnya menurun pada 26 Mei 1996. Fransiska
berbisik di kuping Oei agar sang ayah pergi dengan tenang. Oei membuka mata
tak lama sebelum kembali terpejam. Keluarga mengiringi kepergian Oei dengan
memutar lagu rohani favoritnya yang diciptakan komponis Franz Schubert,
"Ave Maria". Jenazah Oei kemudian dikremasi. Abunya dilarung di
laut di utara Jakarta. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/memoar-oei-tjoe-tat-orde-baru-2282222 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar