Senin, 17 Agustus 2026

 

Perlawanan Pasif Oei Tjoe Tat kepada Orde Baru

Friski Riana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Oei Tjoe Tat sempat menolak memoarnya diterbitkan untuk umum tentang kesaksiannya pada pemerintahan Orde Lama maupun G30S.

 

·      Kejaksaan Agung melarang memoar Oei Tjoe Tat beredar.

 

·      Oei Tjoe Tat melawan Orde Baru secara pasif setelah masuk penjara akibat huru-hara 1965.

 

BERISI hampir 600 halaman, memoar Oei Tjoe Tat nyaris berakhir sia-sia. Coretan perjalanan hidup menteri negara era Sukarno itu mulai ditulis setelah 1985. Istri Oei, Kwee Loan Nio alias Rika, memintanya menulis agar anak-anak mereka bisa mengenal sang ayah. Oei hampir 12 tahun ditahan tanpa pernah diadili karena dianggap dekat dengan Sukarno.

 

Penyunting utama Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Stanley Adi Prasetyo, pertama kali membaca naskah biografi itu pada 1986. Saat itu Oei berkunjung ke Salatiga, Jawa Tengah. Stanley mendapat naskah itu dari Soe Hok Djin alias Arief Budiman, kakak Soe Hok Gie yang sama-sama aktivis dari kalangan Tionghoa.

 

Stanley kemudian memperbanyak naskah tersebut dengan stensil. Ia mengedarkannya secara terbatas di kalangan akademikus serta jaringan diskusi di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. “Pak Oei masih menolak mengedarkan memoar itu secara luas,” kata Stanley saat berkunjung ke kantor Tempo di Jakarta pada Kamis, 2 Juli 2026.

 

Setelah lulus kuliah dan bekerja di Jakarta pada 1990, Stanley kembali membujuk Oei untuk menerbitkan memoarnya. Berbagai tokoh lain berpendapat sama: sastrawan Pramoedya Ananta Toer; tokoh Nahdlatul Ulama yang kelak menjadi presiden, Abdurrahman Wahid; akademikus asal Amerika Serikat, Daniel Saul Lev; serta Yusuf Bilyarta Mangunwijaya aliasRomo Mangun.

 

Menurut Stanley, Pramoedya tertarik terlibat dalam penerbitan memoar tersebut karena Oei merupakan tokoh penting yang berada di lingkaran dalam Presiden Sukarno. Ia juga memiliki akses terhadap informasi intelijen. Sedangkan Gus Dur—panggilan Abdurrahman—menganggap Oei bagian dari sejarah bangsa yang perlu menuangkan pengalamannya.

 

Adapun Romo Mangun mengatakan pengalaman Oei tak boleh dibawa ke liang kubur dan harus menjadi warisan untuk generasi muda. “Bagaimana generasi muda menilainya, itu bukan urusan Pak Oei," ujar Oei mengutip pernyataan Romo Mangun dalam interviu yang dimuat Forum Budaya Tionghoa pada 19 Maret 2012. Interviu itu terbit 16 tahun setelah Oei berpulang.

 

Jangankan menerbitkan buku, menulis saja Oei sebenarnya ogah. Dalam surat untuk Stanley dan Pramoedya pada 25 Oktober 1993, Oei bercerita bahwa Daniel Lev telah menyarankan ia menulis buku pada 1982. Begitu pula koleganya dari Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia—organisasi warga keturunan Cina—dan Partai Indonesia atau Partindo.

 

Ia ragu pengalamannya cukup berharga untuk disebarluaskan. Ia juga menyatakan tak pernah menulis untuk surat kabar, majalah, atau buku. “Saya tidak berbakat menulis," tulis Oei dalam memoarnya.

 

Serangan stroke dan kelumpuhan mengubah pendirian Oei Tjoe Tat. Pada 1986, sarjana hukum dari Universitas Indonesia itu mulai membuat draf tulisan. Saat itu tujuannya hanya agar tulisannya dibaca keluarga.

 

Dorongan dari teman-temannya membuat Oei mengalah. Dalam surat untuk Pramoedya dan Stanley, ia akhirnya menyetujui penerbitan memoar untuk masyarakat. Syaratnya, “Penerbitan benar-benar bermanfaat bagi kepentingan umum,” tulis Oei.

 

Antara 1992 dan 1993, Stanley dan Pramoedya bertemu dengan Oei di rumahnya di Jalan Blitar, Menteng, Jakarta Pusat. Stanley bercerita, Pram menawarkan diri menjadi penyunting. Dengan begitu, Oei tak perlu repot menuliskan naskahnya.

 

Oei meminta Stanley menjadi editor. Ia pun menanyakan urusan teknis penerbitan karena tak punya uang. Belakangan, Yusuf Isak dari penerbit Hasta Mitra bersedia menerbitkan.

 

Stanley tak mengambil mentah-mentah tulisan Oei. Bersama Pramoedya, ia beberapa kali mewawancarai ulang Oei untuk menggali bagian yang belum tercatat, menyusun alur kehidupan, hingga menelusuri arsip dan dokumen pribadi. Sedangkan Pramoedya berfokus pada dinamika Gerakan 30 September 1965 serta hubungan Oei dengan Sukarno.

 

Wawancara ulang dengan Oei terekam dalam 25-30 kaset. Transkripsinya mencapai 600-800 halaman. Dalam penyuntingan, Stanley menyesuaikan semua naskah dengan gaya penulisan Pramoedya agar seragam. Ia mengaku banyak belajar mengenai bahasa dari Pramoedya.

 

Anak keempat Oei, Oei Tiang Tik alias Tikki Budiman, mengatakan Stanley kerap memancing ingatan ayahnya lewat pertanyaan dan memandang peristiwa dari sudut pandang yang lebih obyektif. Sedangkan sentuhan Pramoedya terasa dari gaya bertutur dalam memoar. Tikki menilai Pramoedya—ditahan di Pulau Buru selama sepuluh tahun—menulis dari perspektif korban politik.

 

Menurut Tikki, Pramoedya mengaku terlibat dalam penulisan memoar untuk berterima kasih kepada ayahnya. Saat Pramoedya ditahan karena membela peranakan Cina yang didiskriminasi pemerintah Orde Lama, Oei membesuknya di penjara.

 

Sebelum memoar naik cetak, Stanley menyerahkan naskahnya kepada Oei. Tak ada banyak catatan dari si empunya memoar. Stanley kemudian menanyakan nama-nama dalam buku yang perlu dianonimkan. “Ada pertimbangan orang yang masih hidup mungkin akan menerima pembalasan dari Presiden Soeharto,” tuturnya.

 

Oei meminta Daniel Lev menulis pengantar memoar. Lev—berpulang pada 2006—menyebutkan memoar tersebut berbobot lantaran pengalaman Oei yang mengalami dari dekat zaman yang sulit, semrawut, serta sarat dengan ide, konflik, gerakan, dan perubahan.

 

Judul buku sempat menjadi perdebatan. Stanley bercerita, Oei ingin ada frasa “Pembantu Sukarno”. Namun anak-anaknya menolak karena dianggap merendahkan ayah mereka. Stanley lalu mengusulkan penggunaan istilah resmi dalam konstitusi, yaitu "Pembantu Presiden". "Semua langsung sepakat,” katanya.

 

Sejarawan Nopriyasman menyatakan Oei Tjoe Tat bangga menyebut dirinya sebagai kacung Sukarno. Istilah tersebut, menurut dosen di Universitas Andalas, Padang, itu, berkaitan dengan prinsip hidup Oei yang tidak mungkin mengkhianati Sukarno.

 

Diterbitkan pada 23 April 1995, memoar Oei Tjoe Tat hanya berusia muda, sekitar setahun. Kejaksaan Agung akhirnya melarang peredaran buku tersebut. Kepada Stanley, Oei menyatakan tak mempersoalkan pembredelan tersebut. “Nanti akan menyebar sendiri,” ujar Stanley menirukan ucapan Oei.

 

Namun dampak penulisan buku itu tak usai begitu saja. Rumah Oei beberapa kali didatangi massa. Mereka mempertanyakan Oei seorang komunis atau bukan. Setengah lumpuh dan duduk di kursi roda, Oei melayani mereka selama berjam-jam. Ia hanya satu kali meminta Stanley mendampingi, yaitu saat organisasi kemasyarakatan Pemuda Pancasila datang.

 

Sinolog Leo Suryadinata mengatakan memoar Oei Tjoe Tat merupakan bentuk kritik terhadap Orde Baru. Peneliti yang tinggal di Singapura ini menilai Oei menolak mengabdi kepada Soeharto dan malah melawan pemerintahannya secara pasif. "Dia seorang nasionalis Indonesia yang mau menyumbangkan jiwa raganya," kata Leo.

 

Oei juga mengikuti acara arisan yang beranggota berbagai tokoh dan tahanan politik. Mereka antara lain mantan Kepala Kepolisian RI, Hoegeng Iman Santoso; eks Gubernur Jakarta, Ali Sadikin; mantan pejuang Soehario Padmodiwirio alias Hario Kecik; serta politikus Partai Nasional Indonesia, Manai Sophiaan.

 

Nopriyasman beberapa kali mengikuti arisan itu. Ia mengungkapkan, di forum itu, Oei menyampaikan ketidakpuasannya terhadap pemerintah Orde Baru.

 

Anak keempat Oei, Tikki Budiman, kerap mendengar keluhan ayahnya soal kinerja pemerintahan Soeharto. Misalnya saat ia di jalan melihat jalan berlubang atau lampu lalu lintas mati. Oei juga kerap mengkritik maraknya korupsi pada masa Orde Baru.

 

Kritik yang disampaikan Oei berada pada ruang terbatas. Setelah bebas dari penjara, ia tak boleh kembali berpolitik. Ia kemudian menjadi advokat dan membantu teman-temannya yang ditahan. Sebetulnya, Oei sudah kehilangan gairah menjalani profesi tersebut mengingat peradilan yang dialaminya dan cerita buruk dari orang banyak soal penegakan hukum.

 

Dalam bukunya, Oei mengaku tak bisa menghindar menjadi pengacara. Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban atau Kopkamtib mendesak dia berprofesi advokat. Wakil Presiden Adam Malik dan teman-temannya di Mahkamah Agung juga menyarankan begitu.

 

Uskup Agung Jakarta saat itu, Leo Soekoto, dan Pemimpin Redaksi Kompas Jakob Oetama menyarankan Oei tak menonjolkan diri. Oei pun menjalankan profesi pengacara dengan santai, tanpa target apa pun.

 

Nopriyasman mengatakan Oei hanya sebentar membuka kantor pengacara karena kondisi kesehatannya yang terus menurun. Oei sempat dirawat beberapa bulan di rumah sakit. Saat menerima seorang tamu, ia menyatakan tak menyesali pilihan hidupnya. “I will do exactly the same,” kata Oei Lan Siem alias Fransiska Oei, putri ketiga Oei, mengulang ucapan ayahnya.

 

Menjelang akhir hayat Oei, keluarga melihat perubahan sikap terhadap sang istri. Fransiska merasa ayahnya menjaga jarak dari Rika. Ketika Rika menjaga Oei di rumah sakit, ayahnya malah lebih banyak diam. Namun, begitu istrinya pulang, Oei mengajak anaknya berbincang seperti biasa dan menanyakan bagaimana Rika pulang.

 

Anak keempat Oei, Oei Tiang Tik alias Tikki Budiman, mengatakan papinya lebih bersemangat meladeni kawan yang membesuk ketimbang anggota keluarga. “Kalau ada teman laki-lakinya, Papi langsung hidup lagi dan mengobrol,” tutur Tikki. Namun ia pernah mendengar Oei memuji anak-anaknya di depan perawat. Tikki, misalnya, disebut sebagai lelaki yang hebat.

 

Jauh sebelum jatuh sakit, Oei pernah berpesan tidak mau dipasangi alat penunjang kehidupan dan hanya ingin dikelilingi keluarga. Keinginan itu terpenuhi. Semua anggota keluarga berkumpul di sisi tempat tidur Oei di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta, ketika tekanan darahnya menurun pada 26 Mei 1996.

 

Fransiska berbisik di kuping Oei agar sang ayah pergi dengan tenang. Oei membuka mata tak lama sebelum kembali terpejam. Keluarga mengiringi kepergian Oei dengan memutar lagu rohani favoritnya yang diciptakan komponis Franz Schubert, "Ave Maria". Jenazah Oei kemudian dikremasi. Abunya dilarung di laut di utara Jakarta.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/memoar-oei-tjoe-tat-orde-baru-2282222

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar