|
Deleg Deleg Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 12 Agustus 2026
Dua sejoli
sudah disepakati untuk berjanji sehidup semati. Kini mereka sedang berjuang
untuk hidup; semoga tidak keburu mati: Two Countries Twin Parks.
Seperti itulah
kondisi ''iklim ekonomi'' kita saat ini. Semangat membangun ekonomi kalah
dengan gegap gempita politik.
Tahun pemilu
masih jauh tapi persiapannya sudah memakan tenaga: ada yang korupsi untuk
menghadapi pemilu, ada juga yang memberantas korupsi sekadar untuk menghadapi
pemilu.
Pembangunan
"iklim ekonomi" terabaikan. Termasuk program Two Countries Twin
Parks.
Sebenarnya ide
itu baik sekali. Kita tidak sekadar mengundang investor asing untuk membangun
kawasan industri di Indonesia. Sudah banyak industrial park biasa di Indonesia.
Tapi belum ada yang dibangun secara khusus: berdasar ''perkawinan kawasan
industri''.
Maka dua negara
sepakat untuk memulainya: Tiongkok dan Indonesia. Lokasi kawasan industrinya
juga sudah ditunjuk: yang di Indonesia berlokasi di Batang, Jateng. Yang di
Tiongkok di provinsi Fujian. Kawasan industrinya di dekat ibu kotanya, Fuzhou.
Kalau ide itu
terlaksana maka dua kawasan industri itu sebenarnya dibuat ''sepasang''. Setiap
pabrik yang di sini punya hulu di sana. Setiap pabrik di sana punya hulu di
sini. Tergantung di mana bahan bakunya.
Seandaianya
bahan bakunya ada di Indonesia maka proses menjadikan barang setengah jadinya
di Batang. Dikirim ke pabrik sejoli yang di sana. Begitu juga sebaliknya.
Sudah dua tahun
kelanjutan pembicaraan soal Two Countries Twin Parks ini slow down. Tidak
pernah lagi terdengar langkah majunya. Saling tunggu.
Pihak kawasan
industrinya sendiri tentu tidak bisa menunggu dan menunggu. Perusahaan apa pun,
begitu investasi sudah dikeluarkan, harus berpikir keras kapan mulai ada
pemasukan. Terpaksalah kawasan industri mencari pengusaha yang mau membangun
pabrik di lokasinya: tidak lagi harus yang sifatnya sejoli. Apa saja diterima.
Yang ideal menjadi pragmatis.
Memang banyak
masalah yang masih harus dibicarakan di kedua belah negara. Persoalan yang
paling nyata adalah ketentuan bea masuk dan pajak ekspor. Two Countries Twin
Parks tidak akan ada gunanya kalau tidak ada perlakuan khusus. Tidak cukup
dengan tax holiday dan kemudahan perizinan. Harus sampai ke pembebasan bea
masuk di kedua sisi.
Itu bukan
mustahil. Bahkan mudah. Tinggal menjadikan kawasan industri yang ditunjuk
sebagai kawasan berikat (bonded zone). Atau 粘结区. Toh kita sudah punya kawasan
seperti itu. Bahkan sudah sembilan lokasi. Mulai dari Medan, Karawang sampai
Morowali.
Rasanya sudah
lama kita tidak membahas ide-ide pengembangan ekonomi. Perhatian kita terus ke
perebutan pengaruh kekuatan dan kekuasaan. Kalau toh masih ada yang seru dalam
pembahasan ekonomi itu adalah bahasan tentang Koperasi Desa Merah Putih dan
pengaruh MBG pada ekonomi di bawah.
Kita memang
harus mengejar ''uceng dalam jumlah yang amat banyak'' tapi tidak boleh
kehilangan ''satu deleg''.
Waktu tumbuh
besar di desa saya suka cari ikan. Tapi saya tidak pernah tahu ikan yang mana
yang disebut ''ikan uceng''. Juga tidak pernah tahu yang mana ikan wader yang
lebih besar yang bernama ''deleg''. Tapi Anda pun tahu maknanya: kejar yang
kecil kehilangan yang besar.
Tentu yang
dikejar koperasi desa Merah Putih adalah uceng, tapi karena jumlahnya sangat
banyak bisa lebih bermakna dibanding satu deleg.
Meski begitu
tetap saja tidak boleh kehilangan deleg. Agar tidak deleg-deleg –Wilwa pasti tidak
tahu makna deleg-deleg dalam bahasa Mandarin. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/962308/deleg-deleg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar