Tampilkan postingan dengan label Prayitno Ramelan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prayitno Ramelan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Mei 2017

Kunjungan Mike Pence dari Perspektif Intelijen

Kunjungan Mike Pence dari Perspektif Intelijen
Prayitno Ramelan  ;  Pengamat Intelijen
                                                   KORAN SINDO, 26 April 2017



                                                           
DALAM analisis intelijen, kata mengapa adalah bagian tersulit tetapi sangat penting bagi para analis, merupakan sebuah kesimpulan yang akan disampaikan kepada  ‘end user’  agar mereka tidak keliru dalam mengambil keputusan. Terlebih lagi bagi seorang pimpinan nasional sebuah negara.

Kita percaya bahwa kunjungan Wakil Presiden AS Mike Pence ke Indonesia, Kamis (20/4/2017) sudah dianalisis para pembantu presiden dengan mempertim­bangkan situasi di dunia internasional.

Penulis mencoba menganalisis apa sebenarnya tujuan seorang wapres negara superpower itu memilih Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Tenggara yang dipilih untuk dikunjungi setelah Korea Selatan dan Jepang. Dari Indonesia, Pence kemudian mengunjungi Australia dan kembali ke Hawai.

Kunjungan Pence ke kawasan Asia-Pasifik ini merupakan lawatan keduanya sebagai wakil presiden. Kunjungan pertamanya dilakukan Februari 2017 ke Jerman dan Belgia untuk bertemu dengan para pejabat NATO dan Uni Eropa.

Secara pribadi, Pence berbeda dengan Presiden Trump. AP menjelaskan sosok Pence yang menarik, sebagai pendamping Trump. Jika Trump dikenal karena ketidakpastian dan suka berbicara blak-blakan, Pence memproyeksikan kerendahan hati Midwestern yang sopan dan lebih terukur dalam pidatonya.

Kunjungannya ke Jerman dan Belgia khusus untuk bertemu dengan para pejabat NATO dan Uni Eropa, yang lebih menunjukkan adanya jaminan bahwa AS akan meng­hormati komitmennya kepada NATO, bahkan setelah Trump mengatakan aliansi militer itu “barang usang”.

Konsep Hubungan Bilateral Amerika 

Saat mengunjungi Korea Selatan dan Jepang, Pence menegaskan bahwa Amerika akan tetap melindungi kedua negara sekutunya itu dari ancaman Korea Utara. Pernyataan Pence menindaklanjuti penekanan Presiden Trump yang tidak suka dengan pengembangan nuklir serta rudal dari Korea Utara.

Dikatakannya, “Era kesabaran strategis sudah usai”. AS kini mengerahkan gugusan kapal Induk Carl Vinson serta kapal penjelajah dan perusak berpeluru kendali ke Laut Jepang dan Semenanjung Korea, sementara di Yokosuka disiagakan kapal induk USS Ronald Reagan.

Selain itu, gugusan Nimitz telah melakukan latihan tempur di selatan California dalam Composite Training Unit Exercise  (COMPTUEX). Korea Selatan kini diperkuat dengan sistem pertahanan rudal tercanggih THAAD, akan diperkuat drone  penyerang.

Dari perkuatan alutsista tempur, AS kini siap tempur dalam melindungi sekutunya maupun siap untuk melakukan serangan terbatas ke  Korea Utara.

Saat bertemu dengan Wapres Jusuf Kalla, kedua pejabat membahas peningkatan kerja sama ekonomi, investasi maritim, penanggulangan terorisme, toleransi beragama, dan keberlanjutan peran Amerika Serikat di Asia-Pasifik, terutama Asia Tenggara.

JK mengatakan pembicaraan antara keduanya hanya menekankan soal penguatan hubungan bilateral antara kedua negara. Pence saat pertemuan itu, Kamis (20/4/2017), menyatakan keinginan hubungan AS-Indonesia tidak bersifat multilateral, tetapi lebih bersifat bilateral. 

Kepentingan AS di Kawasan Laut China Selatan 

Sebelumnya, Duta Besar AS untuk Indonesia, Joseph R Donovan yang menjelaskan  komitmen Washington ter­hadap Indonesia bisa terlihat dari kunjungan Pence. Dari empat negara, Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang dikunjungi Pence.

“Kunjungan Wapres Pence ini ditunjukkan sebagai komitmen kami yang mene­kan­kan pentingnya Indonesia sebagai negara mitra strategis AS,” kata Donovan di UII, Tangerang, Selasa (11/4/2017).

Berarti AS melihat Indonesia bukan dalam kapasitas sebagai anggota ASEAN, tetapi lebih dilihat pada posisi geografis strategis di kawasan Asia Tenggara.

Amerika telah memetakan ambisi China tentang penguasaan dan pengamanan kawasan LCS yang di perluas hingga Samudera Hindia hingga kawasan Afrika dan Eropa.

Presiden China Xi-Jinping mencanangkan visi Jalan Sutra Maritim (JSM) abad ke-21 berupa pembangunan prasarana transportasi laut dari China melintasi Asia Tenggara ke Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika, dengan anggaran USD40 miliar untuk pembangunan pelabuhan laut dalam (deep sea port) di lokasi-lokasi strategis di rute Jalan Sutra Maritim (JSM).

China telah melakukan pembangunan landasan pesawat dan pelabuhan laut di gugusan karang Paracel Island.

Presiden Barack Obama jauh hari, saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang, 14 November 2009 menyatakan kawasan Laut China Selatan tidak benar apabila hanya dikuasai oleh China.

Kini kawasan Asia-Pasifik, ekonomi yang terkendali telah digantikan dengan pasar terbuka, kediktatoran berubah menjadi demokrasi, standar kehidupan meningkat dan kemiskinan berkurang.

Amerika punya kepentingan bagi masa depan Asia-Pasifik. Pada 2011 Obama mengeluarkan kebijakan rebalancing, fokus AS bergeser dari Timur Tengah ke Asia-Pasifik. Dalam menghadapi tantangan di kawasan Asia-Pasifik, khususnya di Laut China Selatan, Amerika akan memperkuat persekutuan lamanya dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, Thailand, dan Filipina. Sementara dua negara lain yang dinilai penting oleh AS adalah Malaysia dan Indonesia sebagai mitra baru. Keduanya dinilai sepaham karena menganut paham demokrasi dan semakin baik dalam mengembangkan perekonomiannya.

Kini muncul ancaman baru dari Korea Utara yang direspons AS dengan keras. Kementerian Luar Negeri China pada Selasa (4/4/2017) menyerukan agar semua pihak mengakhiri “Lingkaran setan yang bisa lepas kendali”. 

Stick and Carrot Policy 

Stand point dan course of action AS dalam mengimplementasikan ‘grand Strategy’  mereka di kawasan Asia-Pasifik tampak jelas dalam rangka membendung kebangkitan China sebagai global power. AS melaksanakan ‘Containment strategy’  yang jelas memerlukan sekutu dan kawan ataupun mitra.

Dalam mengimplementasikan strategi tersebut, AS sejak lama menerapkan ‘Stick and carrot policy’. Negara yang mau dan menurut akan diberi bantuan (carrot)  dan yang tidak menurut akan diberi tekanan (stick).

Nah, dalam kasus ini, tampaknya Malaysia masuk dalam kategori kedua. Oleh karena itu, kita harus cermat melihat kunjungan Pence. Mereka datang bukan sebagai “problem solver“ untuk permasalahan kita, namun untuk mencari peluang demi tercapainya ‘goal’ mereka.

Sebagai sebuah negara superpower, dari beberapa kasus-kasus yang terjadi, AS selalu beranggapan “the Worlds is USA.” Selama ada yang tidak mendukung kepentingan nasionalnya, mereka bisa tidak peduli, dan hal tersebut sah-sah saja, terutama bagi AS dan juga negara Barat lainnya yang meng­anut paham ërealismí dalam tata hubungan internasional.

Poin Penting Kunjungan Pence ke Indonesia 

Sejak 2013, AS kecewa dengan Malaysia di bawah PM Najib yang lebih berkiblat ke China, karena faktor per­dagangan. Malaysia menegaskan posisinya saat pertemuan ASEAN di Bali.

Tanpa dapat dibuktikan, penulis mencermati adanya serangan proksi (clandestine) ke Malaysia (kasus MH370, MH17, demo, dan diungkapnya isu korupsi Najib). Nah, melihat beberapa informasi tersebut, sebaiknya pemerintah membaca potensi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) dari kunjungan yang dinilai menaikkan gengsi, tetapi ada pesan tersembunyi.

Kita jangan terjebak dengan pandangan sebagian orang Indonesia yang merasa senang dan bangga bahwa AS melihat Indonesia demikian penting. Sebaiknya kita melihat apa pentingnya Indonesia bagi AS.

 Diperkirakan  konflik Timur Tengah akan bergeser ke Kawasan Asia-Pasifik dan bahkan Asia Tenggara. Apabila terjadi konflik militer di Laut China Selatan atau Semenanjung Korea, AS dan sekutunya akan membutuhkan Indonesia sebagai pangkalan transit atau pangkalan depan.

Inilah konsep sebuah peperang­an. Mereka tidak ingin pengerahan militer melalui jalur udara dan laut terganggu. Amerika penting bagi Indonesia dan merupakan mitra dagang terbesar keempat. Dari sisi investasi, AS merupakan investor asing terbesar ke-7 di Indonesia dengan nilai USD1,16 miliar untuk 540 proyek tahun lalu.

Kesimpulan 

Penulis melihat yang tersirat dari kunjungan Pence ke empat negara dalam rangka menata konsep strategis AS terkait dengan perkembangan situasi di Semenanjung Korea dan Laut China Selatan.

Ungkapan Pence di Korea Selatan dan Jepang, sangat jelas, kunjungannya merupakan upaya menghilangkan ancaman nasional baik ter­hadap AS maupun sekutu-sekutunya dari Korea Utara, serta kemungkinan China sebagai lawan potensial di masa depan.

Perlu pendalaman untuk menata hubungan bilateral kedua negara (pertahanan) dan sebaiknya dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Malaysia sudah di-delete sebagai mitra AS.

Pembacaan ATHG perlu diperdalam untuk menghindari gangguan serius terhadap pemerintah maupun keberlangsungan kepemimpinan Presiden Jokowi hingga 2019. Sebagai penutup, AS melihat Indonesia penting dan hanya menginginkan dua hal, “peningkatan” hubungan bilateral dan kemitraan. Carrot atau stick?

Kamis, 07 April 2016

Penyelamatan WNI yang Disandera

Penyelamatan WNI yang Disandera

Prayitno Ramelan ;  Analis Intelijen  www.ramalanintelijen.net
                                                   KORAN SINDO, 02 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Beberapa bulan terakhir serangan terorisme terus menjadi headline media. Setelah serangan teror sensasional di Paris di mana 129 tewas, disusul dengan pemboman di bandara dan stasiun kereta api di Brussel, Belgia kemudian terjadi pemboman sebuah pasar di Lahore, Pakistan.

Kini Indonesia menjadi sasaran aksi teror berupa pembajakan dua kapal dan disanderanya 10 awak kapal berbendera Indonesia di perairan Filipina. Dua kapal yang dibajak adalah kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 7.000 ton batu bara dari Banjarmasin ke Filipina. Secara teori, aksi teror dilatarbelakangi dengan motif ideologi atau kriminal.

Serangan teror di Paris dilakukan oleh jaringan ISIS pada 13 November 2016 berlatar belakang ideologi. Bom Brussel pada Selasa (22/3/2016) juga serangan dengan latar belakang ideologi, pelaku melaksanakan aksi teror sebagai instrumen penghukuman/balas dendam, di mana situs daring Aamaq (media ISIS) menyatakan serangan ke Belgia itu dilakukan karena negara itu terlibat dalam koalisi melawan kelompok ISIS.

Serangan kemudian terjadi pada Minggu (27/3/2016), berupa bom bunuh diri yang mengguncang taman publik di Lahore, korban tewas mencapai 72 jiwa, sebagian besar wanita dan anak-anak. Kelompok faksi Taliban, Jamaat-ul-Ahrar adalah pendukung ISIS, mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri itu. ”Target itu warga Kristen,” kata juru bicara faksi, Ehsanullah Ehsan.

”Kami ingin mengirim pesan ini kepada Perdana Menteri Nawaz Sharif bahwa kita telah memasuki Lahore,” katanya melalui Twitter.. Kasus pembajakan kapal berbendera Indonesia pada Sabtu (26/3/2016) itu dilakukan milisi Abu Sayyaf Filipina yang diketahui juga sudah menjadi bagian ISIS.

Sebanyak 10 awak kapal dan seluruh muatan batu bara dibawa penyandera ke tempat persembunyian mereka di salah satu pulau di sekitar Kepulauan Sulu. Para pembajak mengajukan tuntutan kepada pemilik kapal uang tebusan sebesar 50 juta Pesos (sekitar Rp14,3 miliar).

Karakter Kelompok Teror

Dalam menangani sebuah serangan teror, penindak (counter terrorism) sebaiknya memahami karakter dari sebuah kelompok teror. Dari karakter tersebut, langkah-langkah penindakan dan pelibatan siapa yang menangani akan lebih sukses dibandingkandengandilakukan serangan tanpa pemahaman siapa yang dihadapi.

Karakter dari kelompok teror secara umum di antaranya terorisme extraordinary crime, mendasarkan tindakan pada motivasi ideologis atau bisa juga kriminal. Terorisme bisa memilih sasaran sipil maupun sasaran nonsipil, ditujukan untuk mengintimidasi atau memengaruhi kebijakan pemerintahan dan menciptakan perasaan tidak aman dan merupakan tekanan psikologis untuk masyarakat ataupun dalam rangka meninggalkan pesan.

Terorisme tidak menghormati hukum internasional atau etika internasional. Tujuan jangka pendeknya adalah menarik perhatian media massa dan juga untuk menarik perhatian publik. Karakter kelompok teroris di satu daerah atau negara jelas dan bisa berbeda satu sama lain walau secara umum sama.

Dari karakter secara umum, tim penindak/negosiator perlu dibekali dengan pengetahuan dasar (basic descriptive intelligence) kelompok tersebut. Nah, dari data-data the past, apabila digabungkan dengan data masa kini, analis bisa membuat perkiraan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya dan bagaimana langkah antisipasinya.

Kelompok Abu Sayyaf

Kelompok penyandera adalah Abu Sayyaf yang merupakan kelompok muslim di Filipina. Kondisi saat ini warga penganut muslim hanya menjadi mayoritas di kawasan otonomi The Autonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM). ARMM di bawah kepemimpinan Misuari mencakup wilayah Maguindanao, Lanao del Sur, Sulu, dan Tawi-Tawi.

ARMM dibentuk oleh Pemerintah Filipina pada 1989 sebagai daerah otonomi di Filipina Selatan, sebagai hasil kesepakatan damai antara MNLF dan pemerintah pusat Filipina. Ketika itu penduduk boleh menyatakan pilihannya untuk bergabung dalam wilayah otonomi muslim dan hasilnya empat wilayah tersebut memilih untuk bergabung. Kesepakatan itu ternyata tidak memuaskan sebagian dari pejuang-pejuang muslim sehingga muncullah Moro Islamic Liberation Front (MILF) dan kelompok Abu Sayyaf.

Kelompok ini bersumpah untuk menentang dan memboikot ARMM dan tetap memperjuangkan kemerdekaannya sendiri. Dalam perkembangannya, MILF kemudian bersedia menerima otonomi dengan syarat wilayah otonomi ARMM diperluas dengan ditambahkan beberapa provinsi lagi. Sementara kelompok Abu Sayyaf yang disebut juga Grupong Abu Sayyaf tetap menolak.

Kelompok ini menguasai basis di dan sekitar Jolo serta Pulau Basilan (bagian barat daya Filipina). Laporan intelijen menyampaikan pada 2012 kelompok itu diperkirakan memiliki kekuatan di antara 200 hingga 400 anggota, di mana pada 2000 jumlahnya 1.250 orang. Abu Sayyaf didirikan dan dipimpin oleh Abdurajik Abubakar Janjalani.

Setelah tewas pada 1998, ia digantikan oleh adiknya, Khadaffy Janjalani, yang juga tewas pada 2007. Pada 23 Juli 2014 Abu Sayyaf dipimpin oleh Isnilon Hapilon Totoni yang telah menyatakan bersumpah kesetiaan (berbaiat) kepada pimpinan ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Kemampuan tempur Abu Sayyaf sebagian besar terlihat dari improvisasi penyerangan berupa serangan dengan perangkat peledak, senjata mortir, dan senapan serbu otomatis.

Selama lebih dari empat dekade, kelompok ini dianggap sangat kejam, bertanggung jawab atas serangan teror kejam seperti pemboman super-ferry pada 2004, yang menewaskan 116 orang. Sejak awal 1991 kelompok ini telah melakukan pemboman, pembunuhan, dan pemerasan dalam apa yang mereka gambarkan sebagai perjuangan mereka untuk provinsi Islam di Filipina.

Mereka menerapkan aksi teror walaupun tujuannya adalah insurgency, kemampuan lainnya adalah perang gerilya. Di bawah kepemimpinan Hapilon Totoni, sejak September 2014, Abu Sayyaf mulai melakukan penculikan orang untuk menuntut uang tebusan dengan mengatasnamakan ISIS.

Sejak September 2014 Abu Sayyaf mulai aktif melakukan penculikan orang untuk mendapatkan uang tebusan dengan mengatasnamakan ISIS. Kelompok ini telah ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh PBB, Amerika Serikat, Australia, Kanada, Indonesia, Malaysia, Filipina, Uni Emirat Arab, dan Inggris.

Awalnya kelompok Abu Sayyaf terkenal karena melakukan pemboman. Kini kelompok ini menjadi lebih terkenal karena melakukan penculikan dan meminta uang tebusan. Menculik adalah modus operandi mereka dengan tujuan sederhana, mendanai perjuangan bagi provinsi Islam independen.

Beberapa kasus penculikan, sandera akhirnya dilepaskan setelah uang tebusan dibayar. Beberapa kasus sandera ditahan lama hingga 15 bulan, di mana ada sandera yang dieksekusi karena tuntutan tidak dipenuhi. Tuntutan mereka umumnya tinggi, tetapi dapat dinegosiasikan pada batas bawah.

Intelijen sebagai Negosiator

Dari fakta-fakta di atas, khusus dalam penanganan kasus penyanderaan 10 WNI yang kini ditahan Abu Sayyaf, menurut penulis, lebih tepat apabila ditangani melalui jalur negosiasi aparat intelijen. Intelijen memahami karakter kelompok teror seperti Abu Sayyaf. Dari basic descriptive intelligence terlihat bahwa kelompok ini labil dan mudah terpengaruh.

Karena modus mereka menculik untuk mendapatkan uang, negosiasi diarahkan kepada pembicaraan uang tebusan. Opsi diplomatik jelas akan sangat membantu agen intelijen dalam pulbaket lebih lanjut, terlebih bahwa Pemerintah Filipina jelas menolak bila TNI akan membantu melakukan opsi militer, Amerika Serikat sebagai sekutu lama juga mereka tolak dalam melakukan operasi tempur.

Selain itu, pada wilayah rantai kekuasaan Abu Sayyaf di Basilan, Jolo, dan Tawi-Tawi, menurut Profesor Mark Turner dari University of NSW, Canberra, di wilayah tersebut terdapat cukup banyak kelompok (faksi) dari Abu Sayyaf dan banyak dilengkapi senjata. Karena itu, opsi pengerahan kekuatan militer dinilai akan menjumpai banyak hambatan dan tantangan. Informasi intelijen bahkan menyebutkan mereka mampu membuat sniper dengan kaliber 12,7.

Kesimpulan; negosiasi sebaiknya dilakukan oleh aparat intelijen, dan apabila militer Filipina tidak berhasil melepaskan sandera, perusahaan kapal yang disandera memberi mandat kepada agen untuk melakukan negosiasi bawah. Yang terpenting, jangan sampai pemerintah yang membayar uang tebusan, tetapi dibayarkan oleh pemilik kapal atau perusahaan asuransi (bila dijamin).

Kemungkinan besar mereka akan menerima setengah dari tuntutan tersebut. Pemerintah sebaiknya mengutamakan lepasnya para sandera. Tidak perlu mengutamakan gengsi, kasus ini terjadi di wilayah Filipina, di mana Pemerintah AS sejak 2002 saja tidak berhasil meyakinkan Filipina untuk menyerang habis Abu Sayyaf.

Jelas kasus ini berbeda dengan penyanderaan kapal Sinar Kudus di perairan internasional Somalia yang sukses diserbu pasukan khusus TNI. Apabila kasus Abu Sayyaf ini terjadi di perairan internasional, opsi militer bisa menjadi alternatif pertama.

Sebuah catatan, apabila para sandera telah bebas, untuk menghindari terjadi pembajakan dan penyanderaan lebih lanjut, Pemerintah Indonesia mengeluarkan peringatan waspada (red notice) bagi kapal-kapal Indonesia untuk menghindari wilayah Jolo, Tawi-Tawi, dan Basilan. Semoga bermanfaat.

Senin, 18 Januari 2016

Konser ISIS di Sarinah Thamrin

Konser ISIS di Sarinah Thamrin

Prayitno Ramelan  ;   Analis Intelijen www.ramalanintelijen.net
                                                  KORAN SINDO, 16 Januari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kamis (14/1/2015) siang masyarakat Jakarta dikejutkan dengan serangkaian serangan teror berupa bom bunuh diri dan penembakan oleh sekelompok orang di lingkungan Gedung Sarinah, Thamrin, Jakarta.

Dalam serangan tersebut, menurut penjelasan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian, tercatat tujuh korban meninggal dunia dan 24 lainnya mengalami luka-luka. Di antara yang meninggal, lima orang diduga pelaku, satu warga sipil, dan satu lainnya warga negara Kanada.

Korban tewas dikirim ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan pengecekan data. Sementara di antara korban yang luka-luka terdiri atas 5 anggota Polri, 4 warga asing (1 warga Belanda, 1 Austria, 1 Jerman, 1 warga Aljazair), dan 15 warga sipil. Para korban luka-luka dirawat di RS Gatot Soebroto, RSCM, RS Husada, RS Tarakan, dan RS MMC.

Rencana Awal Serangan Teror

Sebenarnya rencana serangan ke arah Ibu Kota ini sudah tercium sejak pertengahan Desember 2015. Dari operasi khusus sejak 18 Desember hingga 23 Desember 2015, Densus 88 Mabes Polri telah melakukan penggerebekan dan penangkapan jaringan teror yang mengancam Jakarta. Jumat (18/12/2015) telah ditangkap Iwan alias Koki di Kota Banjar, Jawa Barat; disusul Asep Urip, 31, dan Zaenal, 35, sore harinya di Tasikmalaya.

Mereka diduga memiliki kemampuan merakit bom. Keduanya diduga berencana melakukan aksi bom bunuh diri pada akhir Desember. Asep diberitakan adalah pengajar pada Pondok Pesantren Al Mubarok, Tasikmalaya, sedangkan Zaenal yang berasal dari Sulawesi sejak enam bulan terakhir diketahui menjadi santri di pondok pesantren tersebut.

Sabtu (19/12/2015) Densus melakukan penangkapan terhadap Abdul Karim alias Abu Jundi di Kota Sukoharjo dan menemukan barang bukti di antaranya pupuk urea, paku, gotri, switching, parang, parafin, buku-buku panduan merakit bom, serta sebuah peta daerah Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Hingga Minggu (20/12/2015) dini hari, Densus melakukan penangkapan di wilayah kota dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Terduga teroris yang ditangkap bernama Indraji Idham Wijaya, 28, alias Imran, Bambang Sugito alias Teguh alias Basuki, dan Choirul Anam alias Bravo alias Kartolo. Jaringan tersebut di atas adalah jaringan di bawah kepemimpinan Abu Jundi. Dalam pengungkapan dokumen didapatkan sandi pengganti dari pengantin sebagai pengebom bunuh diri menjadi serangan konser.

Rabu (23/12/2015) Densus telah melakukan penangkapan dua terduga teroris di Bekasi yaitu AH (Arief Hidayatullah) alias AM (Abu Mushab), 31, serta AL di sebuah rumah kontrakan milik Solihin di Jalan Duku Jaya, Bekasi. Menurut Polri, Arief bertugas sebagai koordinator dan memfasilitasi warga negara Indonesia yang ingin berperang di Suriah bersama ISIS.

”Abu Mushab atau AH, adalah tokoh utamanya, sudah tertangkap,” kata Kapolda Metro Jaya Tito Karnavian. Sementara AL adalah warga negara China yang berasal dari Uighur yang merupakan anggota ISIS terkait dengan DPO Polisi, Santoso di Poso. Saat penangkapan, polisi menemukan banyak bahan baku untuk merakit bom dan juga ditemukan buku cara membuat/merakit bom.

Kadiv Humas Polri Anton Charlian menjelaskan, terduga teroris di Bekasi yang ditangkap berafiliasi dengan ISIS dan kelompok-kelompok radikal lain di luar negeri. Sedangkan teroris yang berada di Jawa Tengah berafiliasi dengan kelompok Solo, sementara kelompok Jawa Timur berafiliasi dengan kelompok Klaten yang memproduksi bom rakitan.

Perubahan Waktu serta Pelaku Serangan Teror

Sebetulnya kesulitan utama mendeteksi serangan teror, mereka juga berkemampuan melakukan desepsi, menyatakan akan menyerang Polda Metro Jaya, Istana, Kapolri, dan Kedutaan Besar dengan waktu yang belum jelas. Dengan ada informasi akan ada serangan, kesiagaan aparat ditingkatkan pada peringatan pergantian Tahun Baru 2015-2016 di Jakarta.

Sementara sel teror yang merencanakan akan melakukan serangan konser pada hari Natal dan Tahun Baru menjadi batal karena serangan yang mereka rencanakan terbongkar dan bahkan dua jaringan utama telah ditangkap. Tampaknya mereka melakukan perubahan rencana atau ”plan B”, di mana serangan dilakukan oleh sel lain.

Seperti diketahui bahwa dengan pola desentralisasi di kalangan ISIS, sesuai fatwa pimpinan ISIS Abu Bakr al-Baghdadi di Suriah, agar jaringan ISIS melakukan serangan ”musuh jauh” di samping ”musuh dekat”, jaringan dinegara-negara di luar Suriah melakukan serangan dengan pola serangan teror di Paris pada 13 November 2015.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian yang kemarin pagi bersama penulis menjadi narasumber di salah satu stasiun televisi menjelaskan, ”Masih cukup banyak anggota jaringan teroris dalam bentuk sel kecil yang masih buron. Ini masalahnya. Sekali kita melakukan penangkapan, mereka bergerak. Ini keunikannya. Mereka terhubung satu sama lain. Mereka memiliki sebagian kemampuan operasi militer juga. Ketika kita bergerak menangkapi satu sel, sel lain akan berpindah.”

Nah, menurut penulis, sel lain itulah yang melakukan serangan ke kawasan Sarinah. Dari hasil pemeriksaan terhadap Abu Mushab, yang mengakui bahwa dia mendapat perintah dari Bahrun Naim, yang diketahui juga salah satu anggota jaringan teroris Indonesia yang membentuk Katibah Nusantara.

Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo alias Naim pada 9 November 2010 ditangkap bersama ratusan butir amunisi ilegal. Dia diadili PN Surakarta pada 9 Juni 2011 dan divonis penjara dua tahun enam bulan. Bahrun Naim inilah yang dikatakan oleh Tito sebagai perencana serangan ke Sarinah. Tito menegaskan, ”Khusus di Asia Tenggara, ada satu tokoh yaitu Bahrun Naim yang ingin mendirikan Katibah Nusantara,” kata Tito Karnavian. Keberadaan Bahrun diperkirakan ada di Suriah.

Konser ISIS di Kawasan Sarinah

Sejak penangkapan pada Desember 2015, khususnya penangkapan Abu Mushab serta AL, warga Uighur di Bekasi, penulis memperkirakan bahwa sel ISIS sudah terencana akan menyerang Jakarta. Dalam pattern teroris, safe house adalah pembuktian, ke mana mereka akan menyerang. Safe house di Bekasi dapat dikatakan valid untuk persiapan sebuah konser di Jakarta.

Setelah serangan berlangsung, dalam rilis di medianya, ISIS menyatakan resmi mengklaim bahwa serangan di Sarinah Jakarta tersebut dilakukan oleh ”para prajurit khalifah”. Target mereka adalah ”warga koalisi perang salib” yang melawan ISIS, kata pernyataan itu. Mengapa mereka memilih kawasan Sarinah?

Pertama, Jakarta adalah ibu kota Indonesia, yang merupakan barometer stabilitas keamanan. Hal ini disadari benar oleh Presiden Jokowi, yang langsung kembali ke Jakarta dari kunjungannya di Cirebon, kemudian mengunjungi tempat kejadian perkara (TKP), bahkan pascaserangan. Presiden ingin menegaskan bahwa situasi sudah kondusif dan aman.

Kedua, Sarinah adalah bangunan monumental. Walau pusat belanja lama, nama Sarinah dan Jakarta adalah simbol yang kuat. Gangguan stabilitas keamanan bisa berimbas ke persoalan ekonomi atau pariwisata serta masalah sosial lainnya. Selain itu, di Gedung Menara Cakrawala terdapat Kafe Starbucks yang merupakan simbol Barat, juga terdapat warga negara asing di sana, dan memang terbukti ada beberapa orang asing yang menjadi korban.

Ketiga, penyerang melakukan ambush ke pos polisi di muka Sarinah, meledakkannya, dan berusaha membunuh polisi. Karena itu, konser di kawasan Sarinah memang sudah mereka rencanakan dengan teliti. Mereka mengharapkan dampak psikologisnya akan besar.

Analisis Serangan dan Kesimpulan

Dari pola serangan, sel penyerang seperti penulis pernah sampaikan jelas terinspirasi dan termotivasi oleh Paris attack pada November tahun lalu. Sel di Indonesia terus mengadopsi arahan amirnya di Suriah itu. Al-Baghdadi tidak peduli, siapa pun yang dianggap bertentangan akan diserangnya.

Dengan logo bendera hitam dan potong leher, ISIS telah mendapatkan reputasi untuk aturan brutal di daerah yang dikendalikannya. Semua diatur dengan hukum syariat Islam yang sangat keras. Sejak dia menjadi ”khalifah” pada 29 Juni 2014, Al-Baghdadi mendesak umat Islam di seluruh dunia untuk pindah dan bergabung dengannya.

Nah, dalam perjalanannya, ISIS yang kini berganti nama menjadi Islamic State telah melakukan serangkaian serangan teror, tidak hanya di Suriah, tetapi juga di pelbagai negara lain. Apabila sebuah serangan sukses, IS akan mengakui. Tetapi, apabila sebuah teror gagal, mereka akan diam saja.

Pejabat Australia memberikan informasi bahwa Bahgdadi akan membentuk Negara Khalifah Jauh di Indonesia. Serangan di kawasan Sarinah kali ini lebih merupakan upaya menunjukkan eksistensi sel ISIS di Indonesia. Bisa diperkirakan bahwa serangan masa depan sangat potensial karena di Indonesia itu banyak kelompok kecil yang sebagian besar berorientasi pada ISIS.

Karena itu, pemerintah sebaiknya lebih tegas menangani masalah ancaman teroris dalam bentuk mempersempit ruang gerak mereka, memotong aliran dana, dan meneruskan upaya deradikalisasi, khususnya pembinaan napi terorisme karena di antara penyerang terdapat napiter eks latihan militer di Aceh.

Kecepatan aparat keamanan (Polri) dalam mengantisipasi serta mengendalikan situasi keamanan dalam waktu singkat sekitar empat jam, penulis akui, sangat sukses karena dapat mereda kepanikan warga yang butuh kejelasan terhadap peristiwa teror yang terjadi.
Masyarakat menjadi lebih tenteram dan pengaruh negatif baik ke bidang ekonomi, pariwisata, serta lainnya tidak terjadi. Yang diperlukan masyarakat untuk berhati-hati dengan informasi penyesatan, jangan mudah percaya isu-isu yang beredar. Tidak perlu takut, tapi tetap waspada. Semoga bermanfaat. ●

Rabu, 04 Februari 2015

Politik Jokowi

Politik Jokowi

Prayitno Ramelan  ;  Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net
KORAN SINDO, 03 Februari 2015

                                                                                                                                     
                                                

Masyarakat kini lebih menyukai sesuatu yang praktis, semua disingkat. Misalnya nama-nama tokoh nasional seperti SBY, Jokowi, JK merupakan singkatan populer.

Kini muncul singkatan populer (BG) yang sebenarnya adalah nama dari Komjen Polisi Budi Gunawan. BG banyak menyedot perhatian media karena setelah ia dipilih Presiden sebagai calon tunggal kepala Polri baru menggantikan Sutarman, namanya diajukan dan disetujui DPR. Tetapi oleh KPK, justru BG ditetapkan sebagai tersangka kasus gratifikasi (korupsi).

Masalah BG yang banyak menuai pendapat pro dan kontra melibatkan beberapa pihak menyangkut masalah citra, korupsi, emosi, harga diri, keputusan pimpinan nasional dan banyak pernik lain. Semua sebenarnya wajar, tetapi menjadi sangat penting karena menyangkut ranah politik dan hukum.

Setelah bergulir lebih dua pekan, masyarakat luas kini menunggu keputusan Presiden apakah akan melantik atau membatalkan BG sebagai kepala Polri dan menunjuk yang lain. Dalam keputusannya terdahulu, Presiden Jokowi menempuh kebijakan jalan tengah, memutuskan menunda pelantikan BG, tetapi tidak membatalkan. Penulis mencoba mengulas dari sudut pandang intelijen terhadap masalah ini hingga menemukan di mana bermuaranya. Dalam terminologi intelijen, analisis serupa disebut sebagai sebuah ramalan intelijen.

Antara Intelstrat, Politisasi, dan Kriminalisasi

Intelijen selalu melihat dan mengukur masalah strategis dari pakem intelstrat (intelijen strategis) yang terdiri atas sembilan komponen yaitu Ipoleksosbud-hankam plus komponen biografi, demografi, dan sejarah. Apabila menghadapi musuh, fokus yang dinilai adalah kekuatan, kemampuan, kerawanan, dan niat lawan (K3N).

Nah, dalam konteks masalah pencalonan BG sebagai kepala Polri baru, yang mengemuka diberitakan adalah bidang hukum dan politik. Konflik mengarah kepada perseteruan antara KPK dan Polri. Dalam perkembangannya, para ahli dan praktisi hukum menuduh ada upaya politisasi, sementara dari elite politik menuduh terjadi kriminalisasi.

Tampaknya Presiden juga diarahkan oleh media untuk menilai kasus pada dua sisi tersebut. Analisis tersebut yang menjadi komoditas utama media kemudian melibatkan Presiden sebagai decision maker. Di sisi lain intelijen menilai analisis tidak komprehensif karena ada informasi penting yang tertinggal.

Bisa terlihat dalam beberapa diskusi serta pemberitaan media, kesimpulan banyak yang tidak tepat, walau mampu membentuk dan memengaruhi opini publik. Dalam hal ini, menurut penulis, banyak yang tidak mengetahui bahwa Presiden kemudian mengukur kasus BG yang berkembang ke arah konflik KPK dan Polri dengan sudut pandang intelijen.

Walau masalah BG tidak memenuhi seluruh aspek sembilan komponen, apabila diurai, kasus akan valid paling tidak mayoritas dari komponen intelstrat terpenuhi. Awalnya setelah pengajuan BG ke DPR untuk mengikuti uji kelayakan, hingar-bingar yang muncul menempatkan Presiden sebagai pihak yang bukan antikorupsi. Banyak yang heran, mengapa BG yang namanya di stabilo KPK kok masih diajukan sebagai calon tunggal kepala Polri?

Mengapa? Hingga di sini banyak yang tidak mendapat informasi akurat mestinya. Ada komponen intelstrat yang tidak terbaca publik bila diteliti dari komponen sejarah, ideologi, politik, sosial, biografi misalnya. Banyak yang meng-underestimate Jokowi dalam masalah ini yang menuduhnya naif tetap bersikukuh soal BG. Publik mengetahui bahwa BG adalah mantan ajudan Megawati saat menjadi presiden (tiga tahun).

Tanpa mendapat informasi intelijen, publik bisa menyimpulkan ada pengaruh psikologis dan politis dari Teuku Umar dengan masuknya BG sebagai calon utama kepala Polri. Kita lihat saja, beberapa elite PDIP, parpol koalisi mengeluarkan statement agar Presiden segera melantik BG. Belum lagi ada yang marah kepada KPK karena menetapkan BG sebagai tersangka.

Para kader PDIP, tokoh Nasdem, dan tokoh besar yang dekat dengan Megawati bisa diterjemahkan dan semakin menegaskan bahwa BG adalah benar calon PDIP (baca Mega). Mereka menekan Presiden untuk segera melantiknya. Plt Sekjen PDIP (Hasto) bahkan menyerang KPK dengan menyudutkan ketua KPK. Belum lagi ada kader yang menyentuh soal pelengseran.

Rasanya kurang smart dan kurang cerdik, tetapi inilah dunia politik yang penuh dengan trik. Pertanyaannya, apakah Jokowi tidak setia kepada ”Ratu Banteng”? Banyak yang keliru menilai Jokowi di sini. Pemilihan dan pengajuan BG setelah Kompolnas mengajukan sembilan nama calon kepadanya adalah gambaran kesetiaannya kepada orang yang menjadikannya pimpinan nasional.

Memang tidak dapat disangkal bahwa BG mempunyai kekuatan lobi politik serta pendukung yang kuat di kalangan PDIP itu. Intelstrat menilai semua sudah diperhitungkan oleh Jokowi. Dalam masa kepemimpinannya yang 100 hari, Jokowi banyak belajar dalam menghadapi praktek politik kotor di Tanah Air pastinya.

Tampaknya memang ada pihak yang mencoba memanfaatkan konflik dan mencoba menggiring Presiden ke killing ground sebagai titik awal untuk dihabisi. Hal serupa juga pernah dilakukan terhadap Presiden SBY. Upaya pembaruan dan revolusi mental ala Jokowi jelas tidak disukai oleh pihak-pihak tertentu. Ini sudah terbaca.

Arah Strategi Presiden

Awalnya timbul pertanyaan penulis, mengapa dalam kasus BG ini sepertinya Presiden lebih kepada ”solo karier”? Ke mana para pembantu-pembantunya di kabinet? Pernyataan Pak Tedjo sebagai Menko Polhukam yang mengoordinasikan bidang politik, hukum, keamanan, intelijen, kejaksaan, dan lain-lainnya justru mengherankan karena mengundang polemik dan menjadi kontraproduktif di media dan kalangan netizen dengan bahasa politik tergelincir.

Dalam perkembangan selanjutnya, semua bagi penulis menjadi lebih terang, di mana Jokowi sebenarnya memainkan strategi lepas libat. Di satu sisi melepaskan dan memenuhi semua keinginan BG, parpol, Kompolnas, dan para pendukung BG, dengan mengajukan BG ke DPR. Selanjutnya Presiden melibatkan banyak pihak untuk ikut masuk dalam pusaran konflik yang terjadi.

Kini Presiden menunjukkan bahwa walau demikian banyak pihak yang meributkan masalah BG, masalah penangkapan komisioner KPK, keputusan akhir ada di tangannya, melantik atau tidak melantik (membatalkan), serta mengeluarkan keppres pemberhentian komisioner KPK. Itu saja sebenarnya muara masalah ini. Semua akan selesai apabila keputusannya yang prorakyat dan antikorupsi keluar.

Jokowi sangat paham bahwa sesuai dengan komitmennya yang antikorupsi, dia tidak akan mau berhadapan dengan rakyat yang antikorupsi. Di lain sisi, Presiden mampu menstabilkan kondisi DPR setelah bertemu Prabowo karena sadar bahwa dari komponen intelstrat sejarah, bahaya pelengseran dirinya bisa berasal dari DPR atau bisa juga dari rakyat. Jokowi harus menjaga stabilitas politik, menjaga kesetiaan pendukungnya, serta juga menjaga hati dan perasaan ”Ibu Ketuanya”.

Presiden Jokowi dengan senyumnya yang khas mengatakan bahwa dia tidak akan mengintervensi hukum, di mana BG kini mempraperadilankan KPK. Sidang di Pengadilan Jakarta Selatan yang dimulai Senin (2/2/2015), diperkirakan pada minggu pertama Februari ini akan selesai. Dalam hal ini Presiden memahami upaya perlawanan BG atas sangkaan KPK.

Tampaknya masalah usia pencalonan BG sebagai kepala Polri hanya menunggu waktu. Kunci waktunya adalah sidang praperadilan itu. Solusi yang diambil dan akan cantik bagi Presiden, penulis perkirakan BG akan mengundurkan diri sebagai calon setelah praperadilan. Kemudian Presiden akan meminta Kompolnas kembali mengajukan calon kepala Polri baru.

Kompolnas menunjukkan indikasi akan menyaring calon baru, kemudian meminta clearance ke PPATK dan KPK. Kemudian proses akan berjalan sesuai prosedur dan UU yang berlaku. Indikasi kekuatan politis Presiden yang didasari dukungan ketua umum PDIP terlihat setelah pertemuan beberapa tokoh KIH di Kebagusan pada Jumat (30/1/2015).

KIH sudah berpikir bahwa ada kepentingan yang lebih besar dalam waktu dekat yaitu akan dilangsungkan pilkada, bila bertahan dalam mendukung BG, mereka akan rugi, mengalami penurunan elektabilitasnya. Mungkin ini pertimbangannya, di samping jelas pengaruh kuat dari ketua umum PDIP. KIH tidak ingin disalib KMP pastinya dan melihat Prabowo saat bertemu Presiden telah memainkan jurus cantik, menyatakan setelah pertemuan dengan Jokowi, ”Saya yakin beliau mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan lainnya dan beliau akan memilih yang terbaik,” katanya.

Prabowo sebagai tokoh utama KMP memberikan signal agar dicari saja calon kepala Polri baru. Di samping melaporkan kepada Presiden bahwa dirinya dipilih sebagai Presiden Federasi Pencak Silat Dunia. Ia meminta kepada Presiden untuk bersedia diangkat sebagai pendekar pencak silat Indonesia. Inilah sebuah bentuk dukungan moril kepada Jokowi saat beberapa kader PDIP melakukan tekanan.

Nah, demikian perkiraan atau ramalan intelijen tentang kemelut pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai kepala Polri. Jokowi berhasil mendapat kesamaan pandangan tokoh-tokoh, relawan, serta kekuatan nasional yang mayoritas menghendaki KPK dan Polri sebagai institusi yang perlu diselamatkan, bukan pribadi-pribadi. Selain itu, dalam proses kita bisa melihat Jokowi tetap setia dan menghormati Megawati yang telah memilihnya sebagai capres.

Yang jelas dan tidak tertulis, Jokowi menjadi jauh lebih kuat dengan dukungan moril Prabowo. Presiden Jokowi kini menemukan bukti kebenaran peribahasa yang mengatakan ”The enemy of my enemy is my friend.” Walau perlahan, ia sedang berproses, tertempa dengan ATHG sebagai pemimpin. Suatu saat ia akan matang dan berpeluang menjadi pemimpin besar di negeri ini. Kekuasaan itu sudah di tangannya, tinggal bagaimana mengolahnya secara bijak.