|
Mengapa Orang Baik Memilih Diam? Taufiq
Fredrik Pasiak : lmuwan Otak dan Perilaku. |
REPUBLIKA, 11 Juli 2026
|
Setiap hari kita menyaksikan pemandangan yang menarik. Banyak orang
dengan ringan hati melakukan kebaikan: membantu tetangga, menyumbang korban
bencana, menghibur teman yang sedang berduka, atau sekadar tersenyum kepada
orang yang tidak dikenal. Namun, ketika di hadapan mereka terjadi
ketidakadilan, perundungan, korupsi, kebohongan, atau penyalahgunaan
kekuasaan, jumlah orang yang bersedia bersuara tiba-tiba menyusut drastis.
Sebagian memilih diam. Sebagian lagi berpura-pura tidak melihat.
Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya sangat kompleks: mengapa berbuat
baik jauh lebih mudah daripada melawan kejahatan? Neurosains (ilmu otak dan perilaku) memberikan penjelasan yang
menarik. Otak manusia bukanlah organ yang pertama-tama dirancang untuk
menjadi pejuang dan pahlawan moral. Selama jutaan tahun evolusi, tugas utama
otak adalah mempertahankan kehidupan. Karena itu, sistem saraf kita
berkembang menjadi mesin pendeteksi ancaman yang sangat sensitif. Sedikit
saja muncul kemungkinan bahaya, katakanlah seperti ditolak kelompok,
kehilangan status, dimusuhi orang lain, atau menghadapi konflik, maka secepat
kilat otak segera mengaktifkan sistem kewaspadaan. Respons ini berlangsung
sangat cepat, bahkan sering kali lebih cepat daripada proses berpikir
rasional. Dalam bahasa neurosains, jalur ancaman langsung menuju ke area otak
bernama amygdala yang emosional. Tidak melalui korteks otak yang rasional. Itulah sebabnya mengapa keberanian bukanlah kondisi alami otak.
Keberanian justru muncul ketika bagian otak yang bertanggung jawab atas
fungsi eksekutif mampu mengendalikan sinyal ancaman tersebut. Seseorang yang
tetap membela kebenaran meskipun menghadapi risiko bukan berarti tidak
memiliki rasa takut. Ia justru mampu mengelola rasa takut itu sehingga tidak
menguasai keputusannya. Dengan kata lain, melawan kejahatan merupakan
pekerjaan yang jauh lebih berat dibandingkan sekadar melakukan kebaikan. Psikologi sosial memperlihatkan kenyataan yang sama melalui fenomena
yang dikenal sebagai bystander effect. Semakin banyak orang menyaksikan suatu
pelanggaran, semakin kecil kemungkinan seseorang bertindak. Setiap individu
berharap orang lainlah yang akan mengambil langkah pertama. Tanggung jawab
menjadi tersebar. Akibatnya, semua orang merasa tidak memiliki kewajiban
langsung. Ironisnya, kehadiran banyak saksi justru dapat menghasilkan
keheningan bersama. Fenomena ini menjelaskan mengapa begitu banyak bentuk ketidakadilan
dapat berlangsung lama di tengah masyarakat. Bukan karena tidak ada orang
baik, melainkan karena orang baik sering kali memilih tetap menjadi penonton.
Mereka tidak setuju terhadap kejahatan, tetapi juga tidak cukup berani untuk
menghentikannya. Dalam banyak kasus, diam akhirnya menjadi bentuk persetujuan
yang tidak diucapkan. Namun, bystander effect hanyalah salah satu bagian dari cerita.
Psikologi sosial mengenal sebuah konsep lain yang disebut spiral of silence.
Teori ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung enggan mengemukakan
pendapatnya apabila ia merasa berada di pihak yang minoritas atau berisiko
ditolak oleh lingkungan sosialnya. Ketakutan terhadap isolasi sosial ternyata
merupakan salah satu kekuatan paling besar yang memengaruhi perilaku manusia. Fenomena spiral itu menjelaskan mengapa dalam banyak organisasi,
institusi, bahkan negara, begitu banyak orang sebenarnya mengetahui adanya
penyimpangan, tetapi memilih diam. Bukan karena mereka setuju, melainkan
karena mereka memperkirakan bahwa biaya sosial untuk berbicara jauh lebih
besar daripada manfaat yang akan diperoleh. Mereka takut kehilangan jabatan,
relasi, reputasi, atau rasa aman. Keheningan pun menyebar dari satu orang ke
orang lain hingga akhirnya tampak seolah-olah tidak ada yang keberatan
terhadap keadaan tersebut. Dari sudut pandang neurosains, keputusan untuk diam bukan semata-mata
persoalan moral. Otak sedang melakukan kalkulasi yang sangat cepat mengenai
kemungkinan ancaman. Sistem deteksi bahaya yang berkembang selama jutaan
tahun evolusi bekerja jauh lebih cepat daripada proses berpikir rasional.
Ancaman sosial diperlakukan hampir sama seriusnya dengan ancaman fisik. Bagi
otak, dikucilkan dari kelompok pada masa evolusi dapat berarti berkurangnya
peluang untuk bertahan hidup. Jejak biologis itulah yang masih memengaruhi
manusia modern. Yang menarik, mekanisme yang sama juga menjelaskan mengapa kritik jauh
lebih membekas dibandingkan pujian. Hampir setiap orang pernah mengalaminya.
Seseorang dapat menerima seratus pujian atas pekerjaannya, tetapi hanya
membutuhkan satu kritik tajam untuk membuatnya sulit tidur semalaman. Mengapa
demikian? Jawabannya kembali terletak pada cara kerja otak. Secara evolusioner,
informasi negatif memiliki nilai bertahan hidup yang jauh lebih tinggi
daripada informasi positif. Nenek moyang manusia yang gagal memperhatikan
ancaman kemungkinan besar tidak bertahan hidup. Sebaliknya, mereka yang
sangat peka terhadap bahaya memiliki peluang lebih besar untuk mewariskan
gennya. Akibatnya, otak modern masih membawa warisan biologis tersebut. Ia
secara otomatis memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepada informasi
negatif daripada informasi positif. Dalam ilmu psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai negativity
bias. Otak memperlakukan kritik sebagai sinyal ancaman terhadap harga diri,
kedudukan sosial, atau penerimaan kelompok. Karena dianggap penting untuk
kelangsungan hidup sosial, kritik memperoleh prioritas pemrosesan yang lebih
tinggi. Aktivitas emosi meningkat, perhatian menjadi lebih fokus, dan memori
bekerja lebih kuat untuk menyimpan pengalaman tersebut. Bayangkan seorang dosen selesai memberikan kuliah dan menerima lima
puluh komentar positif dari mahasiswa. Namun, ada satu komentar yang
mengatakan bahwa penjelasannya membosankan. Sangat mungkin komentar tunggal
itulah yang terus terngiang hingga malam hari. Bukan karena lima puluh pujian
tidak berarti, tetapi karena otak secara otomatis menganggap kritik sebagai
sinyal ancaman yang harus dianalisis lebih dalam. Hal yang sama terjadi di media sosial. Seratus apresiasi dapat dengan
mudah tenggelam oleh satu komentar yang menghina. Kritik mengaktifkan
perhatian, emosi, dan memori secara lebih kuat dibandingkan pujian.
Akibatnya, manusia sering kali merasa dunia jauh lebih buruk daripada
kenyataannya karena otaknya memang dirancang untuk lebih mudah mengingat
ancaman daripada kenyamanan. Sebaliknya, pujian sering kali dianggap sebagai kondisi normal yang
tidak memerlukan respons bertahan hidup. Pujian memang menyenangkan dan dapat
meningkatkan motivasi melalui sistem penghargaan otak, tetapi efeknya sering
kali lebih singkat. Kritik, terutama yang disampaikan secara keras atau
mempermalukan seseorang di depan umum, dapat bertahan dalam ingatan selama
bertahun-tahun. Banyak orang dewasa masih mampu mengingat kalimat menyakitkan
yang diucapkan guru, orang tua, atau teman puluhan tahun yang lalu, sementara
mereka sulit mengingat pujian yang diterima pada periode yang sama. Psikologi sosial juga menunjukkan bahwa manusia sangat bergantung pada
penerimaan kelompok. Reputasi merupakan bagian penting dari identitas sosial.
Kritik sering diterjemahkan otak bukan sekadar sebagai evaluasi terhadap
perilaku, tetapi sebagai ancaman terhadap posisi seseorang di dalam kelompok.
Oleh karena itu, rasa sakit akibat penolakan sosial dapat mengaktifkan
jaringan otak yang serupa dengan rasa sakit fisik. Tidak mengherankan jika
satu komentar negatif di media sosial mampu menghapus kebahagiaan yang
sebelumnya dibangun oleh puluhan komentar positif. Tantangan besar kehidupan modern ada di sini. Media sosial, ruang
publik, bahkan lingkungan kerja sering kali lebih cepat menyebarkan kritik
daripada apresiasi. Otak manusia kemudian memperbesar dampak kritik tersebut
melalui mekanisme biologis yang memang telah diwariskan sejak masa evolusi.
Akibatnya, kita mudah terjebak dalam persepsi bahwa dunia dipenuhi ancaman,
padahal kenyataannya mungkin tidak demikian. Kesadaran akan bias negatif sangat penting, terutama bagi para
pemimpin, pendidik, orang tua, dan siapa pun yang bekerja membangun manusia.
Kritik tetap diperlukan sebagai alat koreksi, tetapi kritik yang
mempermalukan lebih sering meninggalkan luka daripada menghasilkan perubahan.
Sebaliknya, apresiasi yang tulus dapat memperkuat motivasi, rasa percaya
diri, dan hubungan sosial yang sehat. Jika demikian, apakah manusia harus mengikuti naluri biologisnya untuk
menghindari konflik? Pada saat ini fungsi luhur otak manusia bekerja. Bagian
paling depan otak, terutama korteks prefrontalis, memungkinkan kita menunda
reaksi spontan (delayed response), mengendalikan rasa takut, mempertimbangkan
nilai moral, dan mengambil keputusan berdasarkan prinsip, bukan sekadar
naluri bertahan hidup. Dalam psikologi, kemampuan ini dikenal sebagai moral courage
(keberanian moral). Berbeda dengan keberanian fisik, keberanian moral adalah
kemampuan mempertahankan apa yang benar meskipun harus menghadapi penolakan,
kehilangan kenyamanan, atau membayar harga sosial. Keberanian moral bukan
berarti tidak memiliki rasa takut. Sebaliknya, ia adalah kemampuan bertindak
benar meskipun rasa takut itu tetap ada. Namun, memahami cara kerja otak bukan berarti kita harus menyerah
kepadanya. Justru pengetahuan ini memberi kesempatan untuk mengelola diri
dengan lebih baik. Ketika menerima kritik, kita dapat bertanya: apakah ini
benar-benar ancaman, atau hanya umpan balik yang dapat membantu saya
berkembang? Sebaliknya, ketika melihat ketidakadilan, kita juga dapat
menyadari bahwa rasa takut yang muncul bukan selalu pertanda untuk mundur,
melainkan respons biologis yang memang dimiliki setiap manusia. Hemat saya, justru di sini letak paradoks manusia. Evolusi membentuk
otak agar kita bertahan hidup. Namun, peradaban hanya dapat berkembang ketika
manusia mampu melampaui naluri biologisnya sendiri. Setiap kemajuan besar
dalam Sejarah, entah itu penghapusan perbudakan, perjuangan hak asasi
manusia, pemberantasan korupsi, hingga penemuan ilmiah yang mengubah dunia,
selalu dimulai oleh orang-orang yang berani memutus spiral of silence, tidak
dikuasai oleh negativity bias, dan memilih moral courage daripada kenyamanan
pribadi. 3 komponen ini saya sebut trias keberanian. Akhirul kalam, kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh
banyaknya orang yang gemar berbuat baik. Peradaban dibangun oleh mereka yang
mampu mengendalikan rasa takut, tidak diperbudak oleh kritik, dan tetap
berani mempertahankan kebenaran meskipun menghadapi tekanan sosial. Kebaikan
memang memperindah kehidupan. Namun, keberanian melawan kejahatanlah yang
menjaga agar kehidupan itu tetap bermartabat. Mungkin di sinilah ukuran kedewasaan otak manusia yang sesungguhnya.
Bukan ketika ia hidup tanpa rasa takut atau tanpa kritik, melainkan ketika ia
mampu menggunakan kemampuan berpikirnya untuk melampaui naluri biologisnya.
Otak memang diciptakan untuk bertahan hidup. Tetapi manusia yang matang
adalah mereka yang mampu menggunakan otaknya bukan hanya untuk menyelamatkan
dirinya sendiri, melainkan juga untuk menyelamatkan nilai-nilai yang membuat
kehidupan bersama tetap layak diperjuangkan (TFP 07/07/26). ● Sumber : https://analisis.republika.co.id/berita/thzm1j393/mengapa-orang-baik-memilih-diam |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar