|
Realistiskah Ambisi Baru Prabowo
Membangun PLTS 100 Gigawatt Irsyan Hasyim : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 18 Agustus 2026
|
· Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS
berkapasitas total 100 GW pada 2026-2028. · Proyek yang diperkirakan membutuhkan
investasi sekitar Rp 1.140 triliun ini merupakan bagian dari upaya memperkuat
kemandirian energi nasional. · Pemerintah perlu mengatasi kendala
regulasi, kesiapan infrastruktur pendukung, dan ekosistem listrik tenaga
surya di dalam negeri. SAAT
berpidato dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat pada 14 Agustus 2026,
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ambisi baru membangun pembangkit
listrik tenaga surya. Dalam tiga tahun ke depan, pada 2026-2028, pemerintah
ingin membangun PLTS berkapasitas total 100 gigawatt (GW). Untuk
mencapainya, pada tahap awal pemerintah menargetkan pembangunan 30 GW PLTS
dan menghentikan 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel pada tahun ini.
Pembangunan PLTS diperkirakan dapat menghemat setidaknya Rp 73,9 triliun
setiap tahun dari penurunan biaya pokok produksi listrik serta mengurangi
ketergantungan pada bahan bakar minyak. PLTS
menjadi salah satu sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan
pada energi berbahan bakar fosil, yang dinilai berkontribusi besar terhadap
peningkatan emisi di atmosfer. Pemanfaatan energi alternatif tenaga surya
menjadi bagian dari strategi global, yang dituangkan dalam Perjanjian Paris,
untuk menahan suhu bumi tetap di bawah 2 derajat Celsius hingga akhir abad
ini. Namun
ada sejumlah tantangan yang harus diatasi Indonesia untuk mengembangkan
tenaga surya. Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services
Reform Fabby Tumiwa, hambatan regulasi dan birokrasi menjadi tantangan utama
yang harus segera dibenahi apabila pemerintah ingin merealisasi target
pembangunan PLTS 100 GW. Fabby
mengatakan persoalan tersebut tidak hanya menyangkut pengadaan lahan, tapi
juga terkait dengan panjangnya rantai birokrasi, dari negosiasi power
purchase agreement, perizinan, hingga koordinasi antar-instansi. "Itu
semua seharusnya bisa diselesaikan," katanya kepada wartawan di Jakarta,
Kamis, 6 Agustus 2026. Menurut
Fabby, total estimasi kapasitas PLTS on-grid yang dapat diimplementasikan
hingga 2030 sebesar 36,7 Gigaawatt. Untuk mencapai 100 GW di 2030, harus ada
upaya lebih melalui pelibatan berbagai aktor dengan multi-jalur, khususnya
implementasi PLTS Terdistribusi. "Total dengan gabungan sistem on- grid
dan off- grid, maka kapasita kumulatifnya mencapai 80 Gigawatt pada
2030," kata dia. Fabby
menambahkan, program ini berpeluang menyumbang Rp 112 triliun pada Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) dan menurunkan ketergantungan terhadap bahan
bakar fosil. Program itu juga dapat membangkitkan industri manufaktur melalui
penciptaan pasar modul (fotovoltaik) atau panel surya dalam negeri. "Pertumbuhan
rantai pasok modul dan sel sejauh ini didorong oleh PMA Tiongkok untuk ekspor
ke AS. Program 100 GW akan dapat menyerap kapasitas produksi domestik setelah
tarif ekspor AS diberlakukan untuk Indonesia," kata Fabby. Ketua
Dewan Pakar Asosiasi Energi Surya Indonesia Herman Darnel mengatakan hal yang
harus dipertimbangkan dari target pemerintah itu adalah kapasitas industri,
rantai pasok, harga modul panel surya, serta kesiapan sumber daya manusia di
dalam negeri. Menurut
Herman, kapasitas perusahaan engineering, procurement, and construction
nasional saat ini bahkan belum tentu mampu menangani pembangunan PLTS sebesar
5 GW per tahun secara berkelanjutan. Selain itu, pembangunan PLTS dalam skala
besar harus diikuti kesiapan infrastruktur pendukung, terutama jaringan
transmisi listrik beserta sumber daya pelaksananya. Melihat
kesiapan ekosistem industrinya, Herman tidak yakin target itu bisa
direalisasi. "Kalau saya melihat kondisi, tidak bisa terealisasi dalam
tiga tahun," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026. Ambisi
pemerintah tersebut, kata Herman, berisiko hanya menjadi target di atas
kertas apabila regulasi dan birokrasi yang selama ini menghambat pengembangan
energi surya tidak segera dibenahi. Selain konsistensi regulasi, pengadaan
proyek harus berlangsung secara transparan. Menurut
Herman, regulasi pengembangan PLTS selama ini kerap berubah-ubah sehingga
mengurangi kepercayaan investor untuk menanamkan modal di sektor tersebut.
"Ini menjadi hambatan pengembangan ke depan," tuturnya. Pemerintah
perlu memastikan target pengembangan PLTS 100 GW diikuti regulasi yang tidak
mudah berubah agar pelaku usaha memiliki kepastian dalam menyusun rencana
investasi. Selain
konsistensi regulasi, menurut Herman, pengadaan proyek harus berlangsung
secara transparan. Di menilai masyarakat juga perlu mengawasi setiap
perubahan kebijakan yang berpotensi memperlambat pengembangan energi surya di
Indonesia. Herman
menambahkan, pengembangan PLTS harus menjadi tulang punggung transisi energi
nasional. Dia menyebutkan porsi PLTS dalam sejumlah skenario
ketenagalistrikan nasional masih terlalu kecil dibanding potensi yang
dimiliki Indonesia. Mengacu
pada proyeksi International Energy Agency, PLTS diperkirakan menjadi sumber
pembangkit listrik terbesar di dunia pada 2050. Namun, dalam Rencana Umum
Ketenagalistrikan Nasional, kapasitas PLTS Indonesia pada 2060 masih
diproyeksikan sekitar 109 GW. Kapasitas
tersebut masih jauh dari potensi yang dapat dikembangkan. Menurut Herman,
kapasitas PLTS Indonesia bahkan dapat mencapai sekitar 700 GW pada 2060
dengan mengurangi porsi pembangkit nuklir. "Tanpa
mengandalkan PLTS dalam skala besar, menurut saya, transisi energi tidak akan
tercapai. Kalau tidak ada PLTS, kita akan kembali bergantung pada pembangkit
fosil dengan carbon capture atau menambah nuklir," katanya. Detail
rencana pembangunan PLTS 100 GW juga pernah dipaparkan Staf Ahli Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Perencanaan Strategis Jisman P.
Hutajulu dalam "Hipmi Power Development Forum 2026" di Jakarta pada
20 Mei 2026. Dalam
paparannya, seperti dilansir dari Antara, Jisman antara lain menyampaikan
bahwa program tersebut terbagi dalam dua skema utama, yakni PLTS berskala
besar yang terhubung jaringan listrik nasional serta PLTS berskala kecil yang
terdistribusi untuk menjangkau wilayah terpencil dan desa. Proyek ini
diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$ 71,3 miliar atau sekitar Rp
1.140 triliun. ● Sumber : https://www.tempo.co/lingkungan/ambisi-target-plts-100-gw-2282548 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar