|
Jalan Panjang Sejarah
Belanda Depok Reza Maulana : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Setiap kota memiliki kisah kelahirannya
yang turut membentuk identitas warganya. · Depok tumbuh melalui perjalanan sejarah
yang unik: dari pekerja perkebunan sampai korban kekerasan di masa awal
kemerdekaan. · Tiga artikel di rubrik Intermezo
menelusuri asal-usul, tragedi, dan warisan Depok. SETIAP
kota di Indonesia memiliki kisah kelahirannya sendiri. Yogyakarta bermula
dari Perjanjian Giyanti yang membelah Kerajaan Mataram pada 1755. Bandung
tumbuh setelah pemerintah kolonial memindahkan pusat kabupaten ke tepi Jalan
Raya Pos pada awal abad ke-19. Batavia
berkembang sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan Verenigde Oostindie
Compagnie (VOC) pada abad ke-17, sementara Surabaya lebih dulu menguat
sebagai bandar niaga yang menghubungkan kawasan timur Nusantara pada abad
ke-14. Di balik wajah modernnya, setiap kota menyimpan kisah yang menjelaskan
bagaimana tempat itu tumbuh menjadi seperti sekarang. Riwayat
kelahiran sebuah kota sering kali tidak berhenti sebagai catatan masa lalu.
Ia membentuk identitas penduduknya, mempengaruhi hubungan antarkelompok
masyarakat, dan bahkan menentukan bangunan, jalan, dan ruang-ruang yang
bertahan hingga hari ini. Ketika
kisah-kisah itu memudar, bangunan-bangunan tua menjelma menjadi sekadar
struktur berarsitektur unik, nama-nama jalan menjadi semata deretan kata, dan
warga kehilangan pemahaman tentang kota yang menjadi tempat tinggal mereka. Di
antara kota-kota di Indonesia, Depok di Jawa Barat menempuh jalan yang
berbeda. Kota di selatan Jakarta itu tidak lahir dari keputusan seorang raja,
pemindahan pusat pemerintahan, ataupun berkembang karena sebuah pelabuhan.
Cikal bakalnya bermula dari sebidang tanah partikelir yang dibeli seorang
pejabat VOC bernama Cornelis Chastelein pada akhir abad ke-17. Keputusan
Chastelein menjelang akhir hayatnya itu membentuk sejarah Depok. Ia
membebaskan sekitar 150 budak yang bekerja di perkebunannya, lalu mewariskan
kawasan itu kepada mereka. Dari
komunitas bekas budak yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan Asia
itulah kemudian tumbuh masyarakat yang mengelola kehidupan secara mandiri
selama lebih dari dua abad. Pengalaman tersebut membuat Depok memiliki
perjalanan yang berbeda dibandingkan dengan banyak kota lain di Indonesia. Namun
sejarah sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh bagaimana ia lahir, tapi juga
oleh berbagai ujian yang dihadapi penduduknya. Revolusi kemerdekaan
menghadirkan babak paling kelam dalam sejarah Kaum Depok melalui Peristiwa
Gedoran pada Oktober 1945. Kekerasan itu meninggalkan luka yang diwariskan
lintas generasi dan mengubah cara komunitas tersebut memandang diri mereka
sendiri. Jejak
perjalanan lebih dari tiga abad itu masih dapat ditemukan hingga kini. Itu
bukan hanya terdapat dalam arsip dan cerita keluarga, melainkan juga pada
gereja, sekolah, rumah-rumah tua, makam, dan bekas pusat pemerintahan yang
masih berdiri di kawasan Depok Lama. Sebagian
telah menemukan fungsi baru, sebagian lain menunggu dipugar. Semua menjadi
pengingat bahwa sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip, tapi
juga perlu hidup dalam ruang-ruang yang masih bertahan. Melalui
rangkaian tiga artikel di rubrik Intermezo, Tempo mengajak pembaca menelusuri
kembali kisah yang membentuk Depok. Liputan pertama mengulas asal-usul
komunitas Kaum Depok yang lahir dari keputusan Meneer Chastelein. Pada
akhirnya, kota bukan semata kumpulan gedung, jalan, dan permukiman. Ingatan
kolektif yang diwariskan generasi ke generasi juga menjadi fondasinya. Selama
ingatan itu tetap hidup, sejarah sebuah kota akan terus terjaga dan itu
menjadikan setiap kota terasa istimewa bagi penghuninya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/arsip/sejarah-cornelis-chastelein-belanda-depok-2279809 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar