|
El Niño Super
Menguat, Kebakaran Hutan Meluas Avit Hidayat : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Kalimantan Barat menjadi provinsi
dengan kasus kebakaran hutan dan lahan paling luas sepanjang Januari-Juni
2026. · Indikasi luas karhutla semester I 2026
telah melampaui luas kebakaran pada periode yang sama 2019 dan 2023, tahun
terjadinya fenomena El Niño. · Karhutla berpotensi terus membesar
hingga akhir tahun. Fenomena El Niño super baru akan mencapai puncaknya pada
Oktober-Desember 2026. SABAN
hari, sepanjang sebulan terakhir, asap menyelubungi Desa Kuala Dua, Kecamatan
Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Saking pekatnya asap,
puluhan warga kampung—terutama perempuan dan anak-anak—diungsikan. “Hanya
para suami yang tinggal untuk menjaga rumah dari api,” kata Ketua Masyarakat
Peduli Api Kuala Dua Rahmat Zaini ketika dihubungi pada Rabu, 29 Juli 2026. Dampak
tabun mulai bermunculan. Dalam sepekan terakhir, sedikitnya tiga bocah dari
Desa Kuala Dua dilarikan ke rumah sakit. Mereka didiagnosis menderita infeksi
saluran pernapasan akut (ISPA). Zaini
memperkirakan jumlah pengidap sesak napas di desanya jauh lebih banyak.
Sebab, sebagian besar area perkampungan telah dikepung asap akibat kebakaran
hutan dan lahan (karhutla). Ia mengirimkan beberapa video upaya pemadaman
karhutla yang baru saja didokumentasikan timnya. Asap pekat yang membubung
tinggi tampak kemerahan karena besarnya bara di bawahnya. Pada Rabu malam
itu, kampung yang hanya berjarak 20 kilometer di sisi selatan Kota Pontianak
tersebut bak neraka. Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya Wan Iwansyah membenarkan kabar bahwa
kasus penyakit ISPA mulai bermunculan. Namun sejauh ini, menurut dia,
jumlahnya belum melonjak signifikan. “Peningkatan kemungkinan terjadi pada
minggu berikutnya karena kabut asap mulai berlangsung,” tutur Iwansyah pada
Selasa, 28 Juli 2026. Kuala
Dua hanya satu dari banyak kampung di Kalimantan Barat yang enam bulan
terakhir dirundung api dan asap. Provinsi ini, merujuk pada data sistem
pemantauan karhutla SiPongi milik Kementerian Kehutanan, menjadi daerah
dengan karhutla terluas pada Januari-Juni 2026. Luasnya ditaksir mencapai
28.680 hektare. Zaini
dan warga Kuala Dua lain menyaksikan dan merasakan dampak kobaran api di
balik data tersebut. Karhutla sebetulnya mulai muncul di kampungnya pada awal
Januari 2026. Sempat mereda karena musim hujan tiba, api kembali menjalar
ketika peralihan musim kemarau datang pada akhir Mei dan awal Juni. Sebulan
terakhir, Zaini menambahkan, intensitas kebakaran makin menjadi-jadi. “Kalau
kami catat, luas yang terbakar sebulan ini sudah mencapai 2.300 hektare. Dan
sebagian masih menyala,” ujarnya. Pada
Rabu, 29 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan
Barat mengumumkan perpanjangan pemberlakuan status siaga darurat bencana
karhutla hingga 15 November 2026. Keputusan ini dibuat karena data Stasiun
Meteorologi Kelas I Supadio mencatat peningkatan jumlah dan sebaran titik
panas yang terdeteksi di Provinsi Seribu Sungai dalam sebulan terakhir. Jumlah
hotspot terbanyak berada di Kabupaten Kubu Raya, diikuti Kabupaten Ketapang
dan Kabupaten Kayong Utara. Tiga pekan terakhir, tim gabungan BPBD Kalimantan
Barat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, dan Tentara Nasional
Indonesia-Kepolisian RI bekerja keras mengendalikan karhutla di tiga
kabupaten tersebut. Mereka
juga mengerahkan helikopter dan pesawat patroli untuk menyisir dan
menyiramkan air ke lokasi karhutla, termasuk di Kuala Dua. “Kami berupaya
melokalkan area terbakar agar api tidak meluas,” tutur Kepala Balai
Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan Yudho Shekti Mustiko dalam
keterangannya pada Kamis, 16 Juli 2026. ●●● SEJUMLAH
platform pemantauan kebakaran hutan dan lahan kompak menunjukkan data yang
mengkhawatirkan. SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat indikasi luas
kebakaran sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 107.465 hektare, lebih besar
3,5 kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Bahkan, jika
dibandingkan dengan 2019 dan 2023, tahun yang juga diliputi fenomena iklim El
Niño, area terbakar pada semester I tahun ini lebih luas dua kali lipat. Platform
Fire Information for Resource Management System milik Badan Penerbangan dan
Antariksa Amerika Serikat (FIRMS-NASA) menunjukkan indikasi karhutla di
Indonesia tak kunjung mereda. Empat pekan terakhir, jumlah titik panas dengan
tingkat ketepercayaan tinggi justru meningkat drastis hingga hampir menyamai
hotspot yang terdeteksi sepanjang enam bulan sebelumnya. Selain
di Kalimantan Barat, selama enam bulan pertama tahun ini, karhutla dalam
skala luas merebak di Riau, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua Selatan.
Sebulan terakhir, jumlah hotspot—yang menjadi indikasi awal
karhutla—meningkat di beberapa provinsi langganan api lain, seperti Papua,
Papua Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Sebagian daerah
tersebut kini juga berstatus siaga darurat bencana karhutla. Peneliti
pada Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN), Erma Yulihastin, turut waswas terhadap perkembangan data karhutla
tersebut. Sejak awal dia memperkirakan Kalimantan bakal menjadi wilayah yang
paling tertekan dalam menghadapi potensi kekeringan akibat El Niño tahun ini.
Meskipun
demikian, hasil analisis sebenarnya menunjukkan Kalimantan baru akan
mengalami kekeringan ekstrem pada Agustus 2026. “Jangan sampai karhutla
terjadi di sana ketika El Niño sedang di puncak-puncaknya,” kata Erma. El Niño
merupakan fenomena kenaikan suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator bagian
timur atau yang biasa disebut region Niño 3.4. Fenomena iklim ini menyebabkan
intensitas hujan di sisi barat area tersebut berkurang drastis. Indonesia
termasuk yang akan mengalami kekeringan. Pada masa-masa seperti ini, karhutla
rentan terjadi akibat aktivitas manusia, terutama di daerah dengan
karakteristik lahan gambut, seperti Sumatera dan Kalimantan. Erma
khawatir karena saat ini El Niño telah memasuki level kuat dengan kenaikan
suhu muka laut di Niño 3.4 lebih dari 1,5 derajat Celsius di atas normal.
Dalam kalkulasi Erma, sepekan lalu, kenaikan suhunya telah mencapai +1,74
derajat Celsius. Angka ini sudah melampaui fenomena El Niño kuat pada 2023
yang tercatat di level +1,6 derajat Celsius. “Jadi fixed, El Niño 2026 akan
jauh lebih kuat dibanding 2023. Begitu pula dengan dampak yang
ditimbulkannya,” ujar profesor klimatologi ini. Kabar
buruk tak berhenti di situ. Kajian Erma dan timnya juga menunjukkan adanya
peluang 81 persen El Niño bisa mencapai level sangat kuat atau super—lebih
dari 2,0 derajat Celsius—pada periode Oktober-Desember nanti dan bertahan
hingga tahun depan. Pada puncaknya, menurut Erma, anomali suhu muka laut di
Niño 3.4 tahun ini berpotensi melampaui El Niño super pada 1997 dan 2015. Hingga
saat ini, karhutla pada 1997 dipercaya sebagai bencana kebakaran paling luas
di Indonesia. Sejumlah studi menghasilkan kalkulasi berbeda-beda, tapi
semuanya kompak menunjukkan luas karhutla di masa El Niño super saat itu—yang
berlanjut pada tahun berikutnya—berada di kisaran 9-11 juta hektare. Adapun
pada 2015, Kementerian Kehutanan mencatat, luas karhutla mencapai 2,6 juta
hektare. Analis
riset Yayasan Pantau Gambut, Juma Maulana, punya kekhawatiran yang sama
dengan Erma. Fenomena iklim kali ini telah menyebabkan tinggi muka air tanah
(TMAT) di wilayah gambut berkurang drastis. Dia mencontohkan hasil analisis
tim Pantau Gambut terhadap kelembapan tanah di Kubu Raya. Merujuk
pada data Soil Moisture Active and Passive atau SMAP milik NASA, Juma
memaparkan, rata-rata penurunan TMAT lahan gambut di wilayah tersebut per 6
Juli 2026 masih di kisaran minus 10 sentimeter. TMAT terus menurun hingga
minus 29 sentimeter per 26 Juli 2026. “Kami menemukan pola peningkatan
hotspot di sana berkaitan dengan penurunan tinggi muka air tanah,” ujar Juma
pada Kamis, 30 Juli 2026. Gambut
yang mengering mudah terbakar. Berbeda dengan di tanah mineral, kebakaran di
lahan gambut lebih sulit dikendalikan karena api menjalar lebih besar di
bawah permukaan. Karhutla di lahan gambut juga menyembulkan asap lebih pekat.
Situasi
inilah yang terjadi di Desa Kuala Dua. Dibangun pada 1972 melalui program
transmigrasi, kampung ini—juga beberapa desa tetangga—tepat berada di kubah
gambut. Wilayah ini masuk Kesatuan Hidrologis Gambut Sungai Punggur
Besar-Sungai Kapuas yang membentang seluas 101,3 ribu hektare di antara
Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak. Warga
Pontianak pun merasakan dampaknya. Kabut asap buah karhutla di wilayah Kubu
Raya, Ketapang, dan Kayong Utara di sisi selatan sampai juga di ibu kota
Kalimantan Barat tersebut. Menurut
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko, jumlah penderita infeksi
saluran pernapasan akut di wilayahnya terus bertambah. Per 26 Juli 2026,
jumlahnya mencapai 1.285 kasus, naik 98 kasus dibanding data sepekan
sebelumnya. Saptiko
enggan buru-buru menyimpulkan kenaikan jumlah kasus ISPA tersebut sebagai
dampak karhutla. Meski begitu, menurut dia, paparan asap berpotensi menjadi
penyebab peningkatan kasus penyakit pernapasan. “Beberapa di antaranya adalah
pneumonia, asma, hingga bronkitis akibat paparan asap,” tutur Saptiko pada
Senin, 27 Juli 2026. ● Klik link “El Niño Super Menguat,
Kebakaran Hutan Meluas” berikut : https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/01/918343/918343_1200.jpg https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/01/918299/918299_1200.jpg https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/01/918300/918300_1200.jpg Sumber :
https://www.tempo.co/lingkungan/kebakaran-hutan-meluas-el-nino-super-2279675 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar