Selasa, 04 Agustus 2026

 

El Niño Super Menguat, Kebakaran Hutan Meluas

Avit Hidayat :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan kasus kebakaran hutan dan lahan paling luas sepanjang Januari-Juni 2026.

 

·      Indikasi luas karhutla semester I 2026 telah melampaui luas kebakaran pada periode yang sama 2019 dan 2023, tahun terjadinya fenomena El Niño.

 

·      Karhutla berpotensi terus membesar hingga akhir tahun. Fenomena El Niño super baru akan mencapai puncaknya pada Oktober-Desember 2026.

 

SABAN hari, sepanjang sebulan terakhir, asap menyelubungi Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Saking pekatnya asap, puluhan warga kampung—terutama perempuan dan anak-anak—diungsikan. “Hanya para suami yang tinggal untuk menjaga rumah dari api,” kata Ketua Masyarakat Peduli Api Kuala Dua Rahmat Zaini ketika dihubungi pada Rabu, 29 Juli 2026.

 

Dampak tabun mulai bermunculan. Dalam sepekan terakhir, sedikitnya tiga bocah dari Desa Kuala Dua dilarikan ke rumah sakit. Mereka didiagnosis menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

 

Zaini memperkirakan jumlah pengidap sesak napas di desanya jauh lebih banyak. Sebab, sebagian besar area perkampungan telah dikepung asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia mengirimkan beberapa video upaya pemadaman karhutla yang baru saja didokumentasikan timnya. Asap pekat yang membubung tinggi tampak kemerahan karena besarnya bara di bawahnya. Pada Rabu malam itu, kampung yang hanya berjarak 20 kilometer di sisi selatan Kota Pontianak tersebut bak neraka.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya Wan Iwansyah membenarkan kabar bahwa kasus penyakit ISPA mulai bermunculan. Namun sejauh ini, menurut dia, jumlahnya belum melonjak signifikan. “Peningkatan kemungkinan terjadi pada minggu berikutnya karena kabut asap mulai berlangsung,” tutur Iwansyah pada Selasa, 28 Juli 2026.

 

Kuala Dua hanya satu dari banyak kampung di Kalimantan Barat yang enam bulan terakhir dirundung api dan asap. Provinsi ini, merujuk pada data sistem pemantauan karhutla SiPongi milik Kementerian Kehutanan, menjadi daerah dengan karhutla terluas pada Januari-Juni 2026. Luasnya ditaksir mencapai 28.680 hektare.

 

Zaini dan warga Kuala Dua lain menyaksikan dan merasakan dampak kobaran api di balik data tersebut. Karhutla sebetulnya mulai muncul di kampungnya pada awal Januari 2026. Sempat mereda karena musim hujan tiba, api kembali menjalar ketika peralihan musim kemarau datang pada akhir Mei dan awal Juni.

 

Sebulan terakhir, Zaini menambahkan, intensitas kebakaran makin menjadi-jadi. “Kalau kami catat, luas yang terbakar sebulan ini sudah mencapai 2.300 hektare. Dan sebagian masih menyala,” ujarnya.

 

Pada Rabu, 29 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat mengumumkan perpanjangan pemberlakuan status siaga darurat bencana karhutla hingga 15 November 2026. Keputusan ini dibuat karena data Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio mencatat peningkatan jumlah dan sebaran titik panas yang terdeteksi di Provinsi Seribu Sungai dalam sebulan terakhir.

 

Jumlah hotspot terbanyak berada di Kabupaten Kubu Raya, diikuti Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Tiga pekan terakhir, tim gabungan BPBD Kalimantan Barat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, dan Tentara Nasional Indonesia-Kepolisian RI bekerja keras mengendalikan karhutla di tiga kabupaten tersebut.

 

Mereka juga mengerahkan helikopter dan pesawat patroli untuk menyisir dan menyiramkan air ke lokasi karhutla, termasuk di Kuala Dua. “Kami berupaya melokalkan area terbakar agar api tidak meluas,” tutur Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan Yudho Shekti Mustiko dalam keterangannya pada Kamis, 16 Juli 2026.

 

●●●

 

SEJUMLAH platform pemantauan kebakaran hutan dan lahan kompak menunjukkan data yang mengkhawatirkan. SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat indikasi luas kebakaran sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 107.465 hektare, lebih besar 3,5 kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Bahkan, jika dibandingkan dengan 2019 dan 2023, tahun yang juga diliputi fenomena iklim El Niño, area terbakar pada semester I tahun ini lebih luas dua kali lipat.

 

Platform Fire Information for Resource Management System milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (FIRMS-NASA) menunjukkan indikasi karhutla di Indonesia tak kunjung mereda. Empat pekan terakhir, jumlah titik panas dengan tingkat ketepercayaan tinggi justru meningkat drastis hingga hampir menyamai hotspot yang terdeteksi sepanjang enam bulan sebelumnya.

 

Selain di Kalimantan Barat, selama enam bulan pertama tahun ini, karhutla dalam skala luas merebak di Riau, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua Selatan. Sebulan terakhir, jumlah hotspot—yang menjadi indikasi awal karhutla—meningkat di beberapa provinsi langganan api lain, seperti Papua, Papua Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Sebagian daerah tersebut kini juga berstatus siaga darurat bencana karhutla.

 

Peneliti pada Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, turut waswas terhadap perkembangan data karhutla tersebut. Sejak awal dia memperkirakan Kalimantan bakal menjadi wilayah yang paling tertekan dalam menghadapi potensi kekeringan akibat El Niño tahun ini.

 

Meskipun demikian, hasil analisis sebenarnya menunjukkan Kalimantan baru akan mengalami kekeringan ekstrem pada Agustus 2026. “Jangan sampai karhutla terjadi di sana ketika El Niño sedang di puncak-puncaknya,” kata Erma.

 

El Niño merupakan fenomena kenaikan suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator bagian timur atau yang biasa disebut region Niño 3.4. Fenomena iklim ini menyebabkan intensitas hujan di sisi barat area tersebut berkurang drastis. Indonesia termasuk yang akan mengalami kekeringan. Pada masa-masa seperti ini, karhutla rentan terjadi akibat aktivitas manusia, terutama di daerah dengan karakteristik lahan gambut, seperti Sumatera dan Kalimantan.

 

Erma khawatir karena saat ini El Niño telah memasuki level kuat dengan kenaikan suhu muka laut di Niño 3.4 lebih dari 1,5 derajat Celsius di atas normal. Dalam kalkulasi Erma, sepekan lalu, kenaikan suhunya telah mencapai +1,74 derajat Celsius. Angka ini sudah melampaui fenomena El Niño kuat pada 2023 yang tercatat di level +1,6 derajat Celsius. “Jadi fixed, El Niño 2026 akan jauh lebih kuat dibanding 2023. Begitu pula dengan dampak yang ditimbulkannya,” ujar profesor klimatologi ini. 

 

Kabar buruk tak berhenti di situ. Kajian Erma dan timnya juga menunjukkan adanya peluang 81 persen El Niño bisa mencapai level sangat kuat atau super—lebih dari 2,0 derajat Celsius—pada periode Oktober-Desember nanti dan bertahan hingga tahun depan. Pada puncaknya, menurut Erma, anomali suhu muka laut di Niño 3.4 tahun ini berpotensi melampaui El Niño super pada 1997 dan 2015.

 

Hingga saat ini, karhutla pada 1997 dipercaya sebagai bencana kebakaran paling luas di Indonesia. Sejumlah studi menghasilkan kalkulasi berbeda-beda, tapi semuanya kompak menunjukkan luas karhutla di masa El Niño super saat itu—yang berlanjut pada tahun berikutnya—berada di kisaran 9-11 juta hektare. Adapun pada 2015, Kementerian Kehutanan mencatat, luas karhutla mencapai 2,6 juta hektare.

 

Analis riset Yayasan Pantau Gambut, Juma Maulana, punya kekhawatiran yang sama dengan Erma. Fenomena iklim kali ini telah menyebabkan tinggi muka air tanah (TMAT) di wilayah gambut berkurang drastis. Dia mencontohkan hasil analisis tim Pantau Gambut terhadap kelembapan tanah di Kubu Raya.

 

Merujuk pada data Soil Moisture Active and Passive atau SMAP milik NASA, Juma memaparkan, rata-rata penurunan TMAT lahan gambut di wilayah tersebut per 6 Juli 2026 masih di kisaran minus 10 sentimeter. TMAT terus menurun hingga minus 29 sentimeter per 26 Juli 2026. “Kami menemukan pola peningkatan hotspot di sana berkaitan dengan penurunan tinggi muka air tanah,” ujar Juma pada Kamis, 30 Juli 2026.

 

Gambut yang mengering mudah terbakar. Berbeda dengan di tanah mineral, kebakaran di lahan gambut lebih sulit dikendalikan karena api menjalar lebih besar di bawah permukaan. Karhutla di lahan gambut juga menyembulkan asap lebih pekat.

 

Situasi inilah yang terjadi di Desa Kuala Dua. Dibangun pada 1972 melalui program transmigrasi, kampung ini—juga beberapa desa tetangga—tepat berada di kubah gambut. Wilayah ini masuk Kesatuan Hidrologis Gambut Sungai Punggur Besar-Sungai Kapuas yang membentang seluas 101,3 ribu hektare di antara Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak.

 

Warga Pontianak pun merasakan dampaknya. Kabut asap buah karhutla di wilayah Kubu Raya, Ketapang, dan Kayong Utara di sisi selatan sampai juga di ibu kota Kalimantan Barat tersebut.

 

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko, jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut di wilayahnya terus bertambah. Per 26 Juli 2026, jumlahnya mencapai 1.285 kasus, naik 98 kasus dibanding data sepekan sebelumnya.

 

Saptiko enggan buru-buru menyimpulkan kenaikan jumlah kasus ISPA tersebut sebagai dampak karhutla. Meski begitu, menurut dia, paparan asap berpotensi menjadi penyebab peningkatan kasus penyakit pernapasan. “Beberapa di antaranya adalah pneumonia, asma, hingga bronkitis akibat paparan asap,” tutur Saptiko pada Senin, 27 Juli 2026.

 

Klik link “El Niño Super Menguat, Kebakaran Hutan Meluas” berikut :

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/01/918343/918343_1200.jpg

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/01/918299/918299_1200.jpg

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/01/918300/918300_1200.jpg

 

Sumber :  https://www.tempo.co/lingkungan/kebakaran-hutan-meluas-el-nino-super-2279675

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar