Selasa, 04 Agustus 2026

 

Jalan Panjang Sejarah Belanda Depok

Reza Maulana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Setiap kota memiliki kisah kelahirannya yang turut membentuk identitas warganya.

 

·      Depok tumbuh melalui perjalanan sejarah yang unik: dari pekerja perkebunan sampai korban kekerasan di masa awal kemerdekaan.

 

·      Tiga artikel di rubrik Intermezo menelusuri asal-usul, tragedi, dan warisan Depok.

 

SETIAP kota di Indonesia memiliki kisah kelahirannya sendiri. Yogyakarta bermula dari Perjanjian Giyanti yang membelah Kerajaan Mataram pada 1755. Bandung tumbuh setelah pemerintah kolonial memindahkan pusat kabupaten ke tepi Jalan Raya Pos pada awal abad ke-19.

 

Batavia berkembang sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan Verenigde Oostindie Compagnie (VOC) pada abad ke-17, sementara Surabaya lebih dulu menguat sebagai bandar niaga yang menghubungkan kawasan timur Nusantara pada abad ke-14. Di balik wajah modernnya, setiap kota menyimpan kisah yang menjelaskan bagaimana tempat itu tumbuh menjadi seperti sekarang.

 

Riwayat kelahiran sebuah kota sering kali tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Ia membentuk identitas penduduknya, mempengaruhi hubungan antarkelompok masyarakat, dan bahkan menentukan bangunan, jalan, dan ruang-ruang yang bertahan hingga hari ini.

 

Ketika kisah-kisah itu memudar, bangunan-bangunan tua menjelma menjadi sekadar struktur berarsitektur unik, nama-nama jalan menjadi semata deretan kata, dan warga kehilangan pemahaman tentang kota yang menjadi tempat tinggal mereka.

 

Di antara kota-kota di Indonesia, Depok di Jawa Barat menempuh jalan yang berbeda. Kota di selatan Jakarta itu tidak lahir dari keputusan seorang raja, pemindahan pusat pemerintahan, ataupun berkembang karena sebuah pelabuhan. Cikal bakalnya bermula dari sebidang tanah partikelir yang dibeli seorang pejabat VOC bernama Cornelis Chastelein pada akhir abad ke-17.

 

Keputusan Chastelein menjelang akhir hayatnya itu membentuk sejarah Depok. Ia membebaskan sekitar 150 budak yang bekerja di perkebunannya, lalu mewariskan kawasan itu kepada mereka.

 

Dari komunitas bekas budak yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan Asia itulah kemudian tumbuh masyarakat yang mengelola kehidupan secara mandiri selama lebih dari dua abad. Pengalaman tersebut membuat Depok memiliki perjalanan yang berbeda dibandingkan dengan banyak kota lain di Indonesia.

 

Namun sejarah sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh bagaimana ia lahir, tapi juga oleh berbagai ujian yang dihadapi penduduknya. Revolusi kemerdekaan menghadirkan babak paling kelam dalam sejarah Kaum Depok melalui Peristiwa Gedoran pada Oktober 1945. Kekerasan itu meninggalkan luka yang diwariskan lintas generasi dan mengubah cara komunitas tersebut memandang diri mereka sendiri.

 

Jejak perjalanan lebih dari tiga abad itu masih dapat ditemukan hingga kini. Itu bukan hanya terdapat dalam arsip dan cerita keluarga, melainkan juga pada gereja, sekolah, rumah-rumah tua, makam, dan bekas pusat pemerintahan yang masih berdiri di kawasan Depok Lama.

 

Sebagian telah menemukan fungsi baru, sebagian lain menunggu dipugar. Semua menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip, tapi juga perlu hidup dalam ruang-ruang yang masih bertahan.

 

Melalui rangkaian tiga artikel di rubrik Intermezo, Tempo mengajak pembaca menelusuri kembali kisah yang membentuk Depok. Liputan pertama mengulas asal-usul komunitas Kaum Depok yang lahir dari keputusan Meneer Chastelein.

 

Pada akhirnya, kota bukan semata kumpulan gedung, jalan, dan permukiman. Ingatan kolektif yang diwariskan generasi ke generasi juga menjadi fondasinya.

 

Selama ingatan itu tetap hidup, sejarah sebuah kota akan terus terjaga dan itu menjadikan setiap kota terasa istimewa bagi penghuninya.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/arsip/sejarah-cornelis-chastelein-belanda-depok-2279809

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar