|
Asal-usul Belanda
Depok. Siapa Nenek Moyang Mereka? Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Asal-usul Depok bermula dari sekitar
150 budak yang dibebaskan Cornelis Chastelein melalui surat wasiatnya pada
1714. · Mereka kemudian mewarisi tanah di
selatan Batavia itu dan membangun komunitas yang mengelola kehidupan secara
mandiri selama lebih dari dua abad. · Jejak sejarah Kaum Depok masih dapat
ditemukan di kawasan Depok Lama sekarang. PEKAN
terakhir Juni 2026, hampir 300 orang berkostum menggelar pawai di sepanjang
Jalan Pemuda, Depok, Jawa Barat. Mereka merupakan perwakilan 12 marga Kaum
Depok yang jejak keluarga masing-masing telah hidup di kawasan itu sepanjang
lebih dari sepuluh generasi. Selama dua hari, pada 27 dan 28 Juni, Festival
Depok Heritage digelar untuk memperingati 312 tahun perjalanan Kaum Depok
sekaligus mengenalkan kembali warisan sejarah Depok Lama. Pemerintah
Kota Depok untuk pertama kalinya menggelar festival tersebut. Tujuannya
adalah mengajak masyarakat mengenal sejarah kota melalui pertunjukan budaya,
kegiatan usaha kecil dan ekonomi kreatif, tur sejarah, serta kunjungan ke
sejumlah bangunan peninggalan masa silam. “Dengan demikian, kawasan heritage
tidak hanya terjaga secara fisik, tapi juga hidup sebagai ruang budaya dan
ruang publik,” kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata
Kota Depok Eko Herwiyanto. Jejak
kehidupan Kaum Depok memang masih dapat ditemukan di sepanjang Jalan Pemuda
dan sekitarnya. Gereja, sekolah, makam, bekas pusat pemerintahan, hingga
sejumlah benda peninggalan abad silam terselip di antara wajah kota yang
terus berubah. Thea
Jonathans, 86 tahun, anggota keluarga Kaum Depok yang lama bergiat dalam
pelestarian sejarah komunitasnya, mengatakan hampir seluruh aktivitas penting
masyarakat Depok dulu berada di kawasan tersebut. “Pemerintahan ada di sana.
Sekolah dan gereja berdiri tak berjauhan. Pasar berada di kawasan yang kini
menjadi Jalan Kartini,” ujar Thea kepada Tempo pada Selasa, 21 Juli 2026. Jejak
kehidupan mereka juga tersimpan pada sejumlah benda. Thea bercerita tentang
lonceng yang dulu dipasang di sejumlah titik permukiman. Salah satunya masih
berada di sebuah rumah di Jalan Bungur. Ketika rumah-rumah belum serapat
sekarang, dentangnya menjadi penanda bagi warga untuk bersiap menuju gereja.
“Teng, teng, teng,” tutur Thea, menirukan bunyinya. Memasuki
Jalan Pemuda dari Jalan Kartini seperti menyusuri lorong waktu. Pada masa
kolonial, ruas ini dikenal sebagai Kerkstraat atau Jalan Gereja. Tak jauh
dari mulut jalan, sebuah tugu berdiri di halaman bekas Rumah Sakit Harapan.
Bangunan di belakangnya kini tak lagi digunakan dan telah banyak berubah.
Jauh sebelum menjadi fasilitas kesehatan, tempat itu merupakan
gemeentebestuur atau kantor pemerintah kotapraja. Di
bagian muka tugu tertera pesan dalam bahasa Belanda yang berarti “Tujuan saya
adalah bahwa di Depok, seiring dengan waktu, bertumbuh suatu penduduk Kristen
yang indah”. Kutipan tersebut diambil dari surat wasiat Cornelis Chastelein, tokoh
yang namanya tak dapat dipisahkan dari sejarah Depok. ●●● CORNELIS
Chastelein datang dari Amsterdam ke Batavia pada abad ke-17 dan meniti karier
di Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Ia mula-mula bekerja di bidang
pembukuan sebelum menduduki posisi lebih tinggi. Menurut sejarawan
Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso, pandangan Chastelein berbeda dengan
kepentingan utama VOC yang berorientasi pada monopoli dan keuntungan
perdagangan. Chastelein
berpandangan koloni tidak semestinya sekadar dieksploitasi. “Koloni yang
bagus itu adalah koloni yang berlanjut, bukan koloni yang kemudian mundur
atau bahkan hancur ketika keuntungan-keuntungan yang diharapkan tidak bisa
terpenuhi lagi,” kata Bondan pada Rabu, 22 Juli 2026. Gagasan yang tidak sejalan
dengan VOC itu kemudian ia coba terapkan di tanah partikelir miliknya, di
antaranya Depok. Ketua
Bidang Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, Boy Loen, mengatakan,
setelah memahami seluk-beluk sistem perdagangan VOC, Chastelein memilih mengundurkan
diri. Lantas, sebagai penghargaan atas pengabdiannya, ia memperoleh tanah di
kawasan Mampang. Pada
saat yang sama, Tanah Depok atau Het Land Depok telah dimiliki seorang opsir
Hindia Belanda, Lucas van der Meur. Van der Meur membeli tanah tersebut pada
1692, tapi belum sempat mengelolanya karena ia dipindahkan menjadi asisten
residen di Jepara. Kesempatan
itu dimanfaatkan Chastelein. Berbeda dengan Mampang, Depok berada di tepi
Sungai Ciliwung, jalur transportasi utama menuju Batavia pada masa itu.
Letaknya yang strategis membuat Chastelein tertarik memiliki tanah tersebut.
Ia kemudian menghubungi Van der Meur dan mengajukan penawaran. Menyadari
akan sulit mengelola tanah yang letaknya jauh dari tempat tugas barunya di
Jepara, Van der Meur bersedia menjual Het Land Depok kepada Chastelein. Sejak
saat itulah Tanah Depok berpindah tangan. Chastelein kemudian memperluas
lahannya. “Dia beli ke sebelah barat sana, Pesanggrahan, yang sekarang kita
kenal sebagai Cinere,” ujar Boy pada Senin, 20 Juli 2026. Seluruh wilayah itu
kemudian ia satukan sebagai kesatuan tanah partikelir yang meliputi Depok,
Mampang, dan Cinere. Menurut
Boy, wilayah yang pada masa itu sudah disebut Depok membentang dari tepi
Sungai Ciliwung hingga Pesanggrahan. Luasnya diperkirakan mencapai sekitar
setengah wilayah Kota Depok saat ini. Saat itu
sebagian besar kawasan tersebut masih berupa hutan. Untuk membuka dan
mengelolanya, Chastelein secara bertahap mendatangkan budak, sebagian besar
dari Bali. Ada pula yang berasal dari Makassar, Batavia, Bengali, dan
Surabaya. Jumlahnya sekitar 150 orang. Sebelum
membawa para budak ini ke Depok, Chastelein menempatkan mereka di Batavia.
Dia memiliki lahan di Weltevreden—kini sekitar Monumen Nasional dan Istana
Negara—serta di Noordwijk, yang sekarang mencakup Masjid Istiqlal, Lapangan
Banteng, Senen Raya, hingga Taman Ismail Marzuki. Di sana ia mengembangkan
perkebunan tebu, lada, kopi, dan tembakau. Sebagai masa perkenalan,
budak-budak itu bekerja dan belajar mengelola lahan tersebut. Setelah
beberapa waktu, barulah Chastelein membawa mereka ke Depok. Dia membangun 21
rumah sederhana sebagai tempat tinggal. Rumah-rumah tersebut berlantai tanah,
beratap kayu dan bambu, serta berdinding anyaman bambu atau gedek. Lokasinya
berada di tepi Sungai Ciliwung, yang kini menjadi Sekolah Menengah Pertama
Negeri 1 Depok. Setelah
menetap, mereka mulai membuka hutan belantara menjadi lahan pertanian dan
perkebunan. Dari situlah mereka membangun permukiman dan menjalani kehidupan
di Depok. Bondan
Kanumoyoso menuturkan, secara kasatmata, lahan milik Chastelein tak jauh
berbeda dengan tanah partikelir lain di sekitar Batavia. Pengelolaannya
sama-sama bertumpu pada tenaga orang-orang yang diperbudak. Perbedaannya
terletak pada cara pengelolaan. Sebagai
penganut Protestan taat, Chastelein memberikan kesempatan kepada para
budaknya belajar membaca dan menulis, membangun keluarga, serta mengenal
ajaran agamanya. Pemerintah kolonial kala itu memungkinkan tanah-tanah di
luar Batavia memiliki keleluasaan besar mengatur kehidupan secara otonom
karena kekuasaan VOC berpusat di dalam tembok kota. Boy
mengatakan leluhurnya bekerja sepanjang hari mulai pukul 6 pagi sampai 1
siang. Lalu mereka beristirahat mulai pukul 2 siang sampai pukul 4 sore.
“Maka, setelah pukul 4 sore, mereka harus belajar membaca dan menulis,”
tuturnya. Dalam
cerita yang diwariskan di komunitas Kaum Depok, Baprima van Bali dan Djarong
van Bali disebut berperan dalam pendidikan awal—pada akhir abad ke-17.
Keduanya mengajarkan baca-tulis kepada rekan-rekan mereka serta berperan
sebagai pemimpin rohani dan mandor. Menurut Thea Jonathans, karena bahan
bacaan terbatas, teks keagamaan menjadi media belajar dan ajaran Protestan
yang berkembang di antara sebagian penghuni tanah tersebut. Namun,
menurut Bondan, meski memiliki pola kehidupan layaknya manusia bebas, status
mereka tetap budak. Perubahan besar baru terjadi setelah Chastelein meninggal
pada 1714. Melalui surat wasiatnya, ia membebaskan para budaknya sekaligus
mewariskan tanah Depok kepada mereka. Dari sinilah lahir sebuah komunitas
yang mengelola kehidupan secara mandiri. Masyarakat
Depok kemudian membentuk badan pengurus untuk mengatur pertanian, pendidikan,
irigasi, hingga kesejahteraan warga. Ketua badan disebut presiden. Sebutan
itu kerap memunculkan anggapan Depok pernah menjadi sebuah negara. Padahal,
menurut kalangan Kaum Depok, presiden hanyalah ketua organisasi yang
mengelola kepentingan masyarakat, bukan kepala negara. Pusat pemerintahan
komunitas berada di kawasan yang kini menjadi bekas Rumah Sakit Harapan di
Jalan Pemuda. Di belakangnya berdiri lumbung penyimpanan hasil panen yang
menjadi cadangan pangan warga ketika masa sulit. Pendidikan
menjadi salah satu fondasi penting perkembangan komunitas. Di Depok berdiri
sekolah berbahasa Melayu dan sekolah berbahasa Belanda. Seluruh biaya
pendidikan anak-anak Kaum Depok ditanggung badan pengelola, dari seragam,
buku, hingga kebutuhan belajar. Bekal pendidikan itu membuat banyak dari
mereka yang bekerja di Batavia sebagai pegawai bank, pegawai perusahaan
dagang, dan ambtenaar atau pegawai pemerintahan. Perlahan Kaum Depok berubah
dari masyarakat agraris menjadi komunitas yang makin dekat dengan kehidupan
kota kolonial. Demikian
halnya dengan kemunculan marga di komunitas Kaum Depok. Menurut Boy,
berdasarkan surat wasiat Cornelis Chastelein, Chastelein tidak pernah
memberikan marga kepada 150 budak yang dimerdekakannya. Dalam wasiat itu, ia
hanya menyebut satu nama secara khusus, yaitu Elias Soedira. Karena itu,
keluarga Soedira kerap dianggap sebagai garis keturunan tertua di Depok. Saat
membeli para budak, Chastelein kesulitan melafalkan nama asli mereka,
terutama nama dari Bali yang banyak berulang seperti Wayan dan Putu. Untuk
memudahkan pencatatan, ia memberi mereka nama bergaya Eropa yang disertai
penanda asal. Ada Jan van Bali, Alexander van Makassar, dan lainnya. “Jadi
susah untuk tahu aslinya dari mana,” ujar Boy. Dua
belas nama keluarga yang kini dikenal di Depok baru muncul setelah Chastelein
meninggal. Menurut Boy, seorang pendeta menemukannya berulang kali dalam
catatan kelahiran, pernikahan, dan kematian pada akhir abad ke-18. “Dia orang
yang apik untuk urusan administrasi,” kata Boy. Perubahan
tersebut turut membentuk identitas Kaum Depok. Namun, menurut Bondan
Kanumoyoso, identitas itu tidak lahir sekaligus. Hal yang sama berlaku pada
12 marga yang kini dikenal sebagai Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph,
Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh. Dari
dokumen yang diteliti Bondan, susunan 12 marga baru tampak jelas pada abad
ke-19 melalui berbagai catatan gereja. “Identitas itu enggak langsung muncul.
Melalui proses panjang,” tuturnya. Begitu
pula sebutan Belanda Depok. Leluhur Kaum Depok bukanlah orang Belanda,
melainkan berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan Asia. Sebutan itu
muncul jauh setelah masa Chastelein, ketika generasi-generasi berikutnya
memperoleh pendidikan Belanda, memeluk Protestan, bekerja di Batavia, serta
menjalin hubungan yang makin erat dengan masyarakat Eropa. Julukan
ini lahir dari rel kereta. Pada 1873, beroperasi kereta uap yang secara rutin
melayani jalur Batavia-Buitenzorg. Boy Loen, Thea Jonathans, dan Arif Liberto
Jacob menceritakan kisah senada. Ketika penumpang dari Bogor dan sekitarnya
bercakap dalam bahasa Sunda, rombongan pekerja dari Depok fasih berbicara
dalam bahasa Belanda. Dari situlah muncul olok-olok Belanda Depok. “Ketika
memasuki Depok, mereka bilang, ‘Kita masuk ke Amsterdam, Belanda Depok
naik’,” kata Boy. Status
khusus Depok berakhir setelah Indonesia merdeka. Pada 1952, pemerintah
mengambil alih tanah partikelir Depok melalui kesepakatan dengan pengurus
komunitas. Badan pemerintahan Kaum Depok dibubarkan, sementara sebagian dana
ganti rugi menjadi modal pembentukan Lembaga Cornelis Chastelein yang kini
berkembang menjadi Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein. Lebih
dari tiga abad setelah Chastelein pertama kali membuka lahan, Depok berubah
menjadi kota padat penduduk. Transformasi besar berlangsung terutama setelah
kampus Universitas Indonesia mulai beroperasi di ujung utara kawasan itu pada
1987. Namun warisan Kaum Depok terus mencoba bertahan di tengah perubahan
zaman. ● Sumber :
https://www.tempo.co/arsip/sejarah-belanda-depok-pembebasan-budak-2279668 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar