Selasa, 04 Agustus 2026

 

Asal-usul Belanda Depok. Siapa Nenek Moyang Mereka?

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Asal-usul Depok bermula dari sekitar 150 budak yang dibebaskan Cornelis Chastelein melalui surat wasiatnya pada 1714.

 

·      Mereka kemudian mewarisi tanah di selatan Batavia itu dan membangun komunitas yang mengelola kehidupan secara mandiri selama lebih dari dua abad.

 

·      Jejak sejarah Kaum Depok masih dapat ditemukan di kawasan Depok Lama sekarang.

 

PEKAN terakhir Juni 2026, hampir 300 orang berkostum menggelar pawai di sepanjang Jalan Pemuda, Depok, Jawa Barat. Mereka merupakan perwakilan 12 marga Kaum Depok yang jejak keluarga masing-masing telah hidup di kawasan itu sepanjang lebih dari sepuluh generasi. Selama dua hari, pada 27 dan 28 Juni, Festival Depok Heritage digelar untuk memperingati 312 tahun perjalanan Kaum Depok sekaligus mengenalkan kembali warisan sejarah Depok Lama.

 

Pemerintah Kota Depok untuk pertama kalinya menggelar festival tersebut. Tujuannya adalah mengajak masyarakat mengenal sejarah kota melalui pertunjukan budaya, kegiatan usaha kecil dan ekonomi kreatif, tur sejarah, serta kunjungan ke sejumlah bangunan peninggalan masa silam. “Dengan demikian, kawasan heritage tidak hanya terjaga secara fisik, tapi juga hidup sebagai ruang budaya dan ruang publik,” kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Depok Eko Herwiyanto.

 

Jejak kehidupan Kaum Depok memang masih dapat ditemukan di sepanjang Jalan Pemuda dan sekitarnya. Gereja, sekolah, makam, bekas pusat pemerintahan, hingga sejumlah benda peninggalan abad silam terselip di antara wajah kota yang terus berubah.

 

Thea Jonathans, 86 tahun, anggota keluarga Kaum Depok yang lama bergiat dalam pelestarian sejarah komunitasnya, mengatakan hampir seluruh aktivitas penting masyarakat Depok dulu berada di kawasan tersebut. “Pemerintahan ada di sana. Sekolah dan gereja berdiri tak berjauhan. Pasar berada di kawasan yang kini menjadi Jalan Kartini,” ujar Thea kepada Tempo pada Selasa, 21 Juli 2026.

 

Jejak kehidupan mereka juga tersimpan pada sejumlah benda. Thea bercerita tentang lonceng yang dulu dipasang di sejumlah titik permukiman. Salah satunya masih berada di sebuah rumah di Jalan Bungur. Ketika rumah-rumah belum serapat sekarang, dentangnya menjadi penanda bagi warga untuk bersiap menuju gereja. “Teng, teng, teng,” tutur Thea, menirukan bunyinya.

 

Memasuki Jalan Pemuda dari Jalan Kartini seperti menyusuri lorong waktu. Pada masa kolonial, ruas ini dikenal sebagai Kerkstraat atau Jalan Gereja. Tak jauh dari mulut jalan, sebuah tugu berdiri di halaman bekas Rumah Sakit Harapan. Bangunan di belakangnya kini tak lagi digunakan dan telah banyak berubah. Jauh sebelum menjadi fasilitas kesehatan, tempat itu merupakan gemeentebestuur atau kantor pemerintah kotapraja.

 

Di bagian muka tugu tertera pesan dalam bahasa Belanda yang berarti “Tujuan saya adalah bahwa di Depok, seiring dengan waktu, bertumbuh suatu penduduk Kristen yang indah”. Kutipan tersebut diambil dari surat wasiat Cornelis Chastelein, tokoh yang namanya tak dapat dipisahkan dari sejarah Depok.

 

●●●

 

CORNELIS Chastelein datang dari Amsterdam ke Batavia pada abad ke-17 dan meniti karier di Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Ia mula-mula bekerja di bidang pembukuan sebelum menduduki posisi lebih tinggi. Menurut sejarawan Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso, pandangan Chastelein berbeda dengan kepentingan utama VOC yang berorientasi pada monopoli dan keuntungan perdagangan.

 

Chastelein berpandangan koloni tidak semestinya sekadar dieksploitasi. “Koloni yang bagus itu adalah koloni yang berlanjut, bukan koloni yang kemudian mundur atau bahkan hancur ketika keuntungan-keuntungan yang diharapkan tidak bisa terpenuhi lagi,” kata Bondan pada Rabu, 22 Juli 2026. Gagasan yang tidak sejalan dengan VOC itu kemudian ia coba terapkan di tanah partikelir miliknya, di antaranya Depok.

 

Ketua Bidang Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, Boy Loen, mengatakan, setelah memahami seluk-beluk sistem perdagangan VOC, Chastelein memilih mengundurkan diri. Lantas, sebagai penghargaan atas pengabdiannya, ia memperoleh tanah di kawasan Mampang.

 

Pada saat yang sama, Tanah Depok atau Het Land Depok telah dimiliki seorang opsir Hindia Belanda, Lucas van der Meur. Van der Meur membeli tanah tersebut pada 1692, tapi belum sempat mengelolanya karena ia dipindahkan menjadi asisten residen di Jepara.

 

Kesempatan itu dimanfaatkan Chastelein. Berbeda dengan Mampang, Depok berada di tepi Sungai Ciliwung, jalur transportasi utama menuju Batavia pada masa itu. Letaknya yang strategis membuat Chastelein tertarik memiliki tanah tersebut. Ia kemudian menghubungi Van der Meur dan mengajukan penawaran.

 

Menyadari akan sulit mengelola tanah yang letaknya jauh dari tempat tugas barunya di Jepara, Van der Meur bersedia menjual Het Land Depok kepada Chastelein. Sejak saat itulah Tanah Depok berpindah tangan. Chastelein kemudian memperluas lahannya. “Dia beli ke sebelah barat sana, Pesanggrahan, yang sekarang kita kenal sebagai Cinere,” ujar Boy pada Senin, 20 Juli 2026. Seluruh wilayah itu kemudian ia satukan sebagai kesatuan tanah partikelir yang meliputi Depok, Mampang, dan Cinere.

 

Menurut Boy, wilayah yang pada masa itu sudah disebut Depok membentang dari tepi Sungai Ciliwung hingga Pesanggrahan. Luasnya diperkirakan mencapai sekitar setengah wilayah Kota Depok saat ini.

 

Saat itu sebagian besar kawasan tersebut masih berupa hutan. Untuk membuka dan mengelolanya, Chastelein secara bertahap mendatangkan budak, sebagian besar dari Bali. Ada pula yang berasal dari Makassar, Batavia, Bengali, dan Surabaya. Jumlahnya sekitar 150 orang.

 

Sebelum membawa para budak ini ke Depok, Chastelein menempatkan mereka di Batavia. Dia memiliki lahan di Weltevreden—kini sekitar Monumen Nasional dan Istana Negara—serta di Noordwijk, yang sekarang mencakup Masjid Istiqlal, Lapangan Banteng, Senen Raya, hingga Taman Ismail Marzuki. Di sana ia mengembangkan perkebunan tebu, lada, kopi, dan tembakau. Sebagai masa perkenalan, budak-budak itu bekerja dan belajar mengelola lahan tersebut.

 

Setelah beberapa waktu, barulah Chastelein membawa mereka ke Depok. Dia membangun 21 rumah sederhana sebagai tempat tinggal. Rumah-rumah tersebut berlantai tanah, beratap kayu dan bambu, serta berdinding anyaman bambu atau gedek. Lokasinya berada di tepi Sungai Ciliwung, yang kini menjadi Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Depok.

 

Setelah menetap, mereka mulai membuka hutan belantara menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Dari situlah mereka membangun permukiman dan menjalani kehidupan di Depok.

 

Bondan Kanumoyoso menuturkan, secara kasatmata, lahan milik Chastelein tak jauh berbeda dengan tanah partikelir lain di sekitar Batavia. Pengelolaannya sama-sama bertumpu pada tenaga orang-orang yang diperbudak. Perbedaannya terletak pada cara pengelolaan.

 

Sebagai penganut Protestan taat, Chastelein memberikan kesempatan kepada para budaknya belajar membaca dan menulis, membangun keluarga, serta mengenal ajaran agamanya. Pemerintah kolonial kala itu memungkinkan tanah-tanah di luar Batavia memiliki keleluasaan besar mengatur kehidupan secara otonom karena kekuasaan VOC berpusat di dalam tembok kota.

 

Boy mengatakan leluhurnya bekerja sepanjang hari mulai pukul 6 pagi sampai 1 siang. Lalu mereka beristirahat mulai pukul 2 siang sampai pukul 4 sore. “Maka, setelah pukul 4 sore, mereka harus belajar membaca dan menulis,” tuturnya.

 

Dalam cerita yang diwariskan di komunitas Kaum Depok, Baprima van Bali dan Djarong van Bali disebut berperan dalam pendidikan awal—pada akhir abad ke-17. Keduanya mengajarkan baca-tulis kepada rekan-rekan mereka serta berperan sebagai pemimpin rohani dan mandor. Menurut Thea Jonathans, karena bahan bacaan terbatas, teks keagamaan menjadi media belajar dan ajaran Protestan yang berkembang di antara sebagian penghuni tanah tersebut.

 

Namun, menurut Bondan, meski memiliki pola kehidupan layaknya manusia bebas, status mereka tetap budak. Perubahan besar baru terjadi setelah Chastelein meninggal pada 1714. Melalui surat wasiatnya, ia membebaskan para budaknya sekaligus mewariskan tanah Depok kepada mereka. Dari sinilah lahir sebuah komunitas yang mengelola kehidupan secara mandiri.

 

Masyarakat Depok kemudian membentuk badan pengurus untuk mengatur pertanian, pendidikan, irigasi, hingga kesejahteraan warga. Ketua badan disebut presiden. Sebutan itu kerap memunculkan anggapan Depok pernah menjadi sebuah negara. Padahal, menurut kalangan Kaum Depok, presiden hanyalah ketua organisasi yang mengelola kepentingan masyarakat, bukan kepala negara.

 

Pusat pemerintahan komunitas berada di kawasan yang kini menjadi bekas Rumah Sakit Harapan di Jalan Pemuda. Di belakangnya berdiri lumbung penyimpanan hasil panen yang menjadi cadangan pangan warga ketika masa sulit.

 

Pendidikan menjadi salah satu fondasi penting perkembangan komunitas. Di Depok berdiri sekolah berbahasa Melayu dan sekolah berbahasa Belanda. Seluruh biaya pendidikan anak-anak Kaum Depok ditanggung badan pengelola, dari seragam, buku, hingga kebutuhan belajar. Bekal pendidikan itu membuat banyak dari mereka yang bekerja di Batavia sebagai pegawai bank, pegawai perusahaan dagang, dan ambtenaar atau pegawai pemerintahan. Perlahan Kaum Depok berubah dari masyarakat agraris menjadi komunitas yang makin dekat dengan kehidupan kota kolonial.

 

Demikian halnya dengan kemunculan marga di komunitas Kaum Depok. Menurut Boy, berdasarkan surat wasiat Cornelis Chastelein, Chastelein tidak pernah memberikan marga kepada 150 budak yang dimerdekakannya. Dalam wasiat itu, ia hanya menyebut satu nama secara khusus, yaitu Elias Soedira. Karena itu, keluarga Soedira kerap dianggap sebagai garis keturunan tertua di Depok.

 

Saat membeli para budak, Chastelein kesulitan melafalkan nama asli mereka, terutama nama dari Bali yang banyak berulang seperti Wayan dan Putu. Untuk memudahkan pencatatan, ia memberi mereka nama bergaya Eropa yang disertai penanda asal. Ada Jan van Bali, Alexander van Makassar, dan lainnya. “Jadi susah untuk tahu aslinya dari mana,” ujar Boy.

 

Dua belas nama keluarga yang kini dikenal di Depok baru muncul setelah Chastelein meninggal. Menurut Boy, seorang pendeta menemukannya berulang kali dalam catatan kelahiran, pernikahan, dan kematian pada akhir abad ke-18. “Dia orang yang apik untuk urusan administrasi,” kata Boy.

 

Perubahan tersebut turut membentuk identitas Kaum Depok. Namun, menurut Bondan Kanumoyoso, identitas itu tidak lahir sekaligus. Hal yang sama berlaku pada 12 marga yang kini dikenal sebagai Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh.

 

Dari dokumen yang diteliti Bondan, susunan 12 marga baru tampak jelas pada abad ke-19 melalui berbagai catatan gereja. “Identitas itu enggak langsung muncul. Melalui proses panjang,” tuturnya.

 

Begitu pula sebutan Belanda Depok. Leluhur Kaum Depok bukanlah orang Belanda, melainkan berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan Asia. Sebutan itu muncul jauh setelah masa Chastelein, ketika generasi-generasi berikutnya memperoleh pendidikan Belanda, memeluk Protestan, bekerja di Batavia, serta menjalin hubungan yang makin erat dengan masyarakat Eropa.

 

Julukan ini lahir dari rel kereta. Pada 1873, beroperasi kereta uap yang secara rutin melayani jalur Batavia-Buitenzorg. Boy Loen, Thea Jonathans, dan Arif Liberto Jacob menceritakan kisah senada. Ketika penumpang dari Bogor dan sekitarnya bercakap dalam bahasa Sunda, rombongan pekerja dari Depok fasih berbicara dalam bahasa Belanda. Dari situlah muncul olok-olok Belanda Depok. “Ketika memasuki Depok, mereka bilang, ‘Kita masuk ke Amsterdam, Belanda Depok naik’,” kata Boy.

 

Status khusus Depok berakhir setelah Indonesia merdeka. Pada 1952, pemerintah mengambil alih tanah partikelir Depok melalui kesepakatan dengan pengurus komunitas. Badan pemerintahan Kaum Depok dibubarkan, sementara sebagian dana ganti rugi menjadi modal pembentukan Lembaga Cornelis Chastelein yang kini berkembang menjadi Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein.

 

Lebih dari tiga abad setelah Chastelein pertama kali membuka lahan, Depok berubah menjadi kota padat penduduk. Transformasi besar berlangsung terutama setelah kampus Universitas Indonesia mulai beroperasi di ujung utara kawasan itu pada 1987. Namun warisan Kaum Depok terus mencoba bertahan di tengah perubahan zaman.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/arsip/sejarah-belanda-depok-pembebasan-budak-2279668

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar