|
Bintang Perusuh Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 24 Agustus 2026
Bintang
''muktamar'' kali ini dua orang muda: Sumhaji dan Ahmad Reza Ropi. Tambah satu
lagi: Sujatmiko, ahli geologi ITB berusia 85 tahun.
Pak Jatmiko
datang ke Gondang bersama Sumantoro Radjiman dan tokoh wartawan senior Bandung
Moh. Ridlo Eisy.
Pak Jatmiko
membawa 10 oleh-oleh: bebatuan berharga. Mulai batu akik asli sampai batu
kalkopirit berumur antara 20-25 juta tahun. Yang terakhir itu diserahkan untuk
saya --dan akan saya pajang di kantor Disway.
Pak Jatmiko
juga memberi warna baru muktamar ''Perusuh'' Disway kemarin. Sebelum muktamar
ditutup tiba-tiba ia maju, minta semua ''perusuh'' berdiri, lalu bersama-sama
menyanyikan lagu syahdu ciptaan Kusbini tahun 1942: Bagimu Negeri.
Meski usia 85
tahun, Pak Jatmiko masih sangat sehat. Badannya langsing. Ketika di malam hari
diadakan acara semedi ia masih ikut bersila sampai selesai.
Di olahraga
''Senam DI'' Pak Jatmiko bisa satu jam tidak berhenti. Ia lahir di Pamekasan,
masuk ITB, lalu berkarir di perminyakan dan geologi. Ia juga pernah tugas
belajar sampai Prancis dan Amerika. Di masa lansia ia menekuni kajian batu
meteor.
Bahwa tiba-tiba
ia memimpin ''Bagimu Negeri" itu lantaran lagu itu dianggap setara dengan God
Bless America yang di sana dinyanyikan di mana-mana dengan rasa penuh
bangga.
Ups... Ada satu
bintang baru lagi: Agustina Mardiko Wati. Dia wanita setengah baya. Pengusaha
alat berat. Asal Solo. Tinggal di Semarang. Dia sealmamater dengan Presiden
Jokowi saat SMP di Solo.
Mardiko Wati
sakit kanker. Kanker paru. Mardiko berjuang sukses ke BPJS untuk bisa mendapat
obat yang harga per kapsulnya Rp 4,5 juta. Obat itu harus diminum setiap hari.
Selama tiga bulan. Lalu Mardiko memutuskan untuk menjalani terapi meditasi di
Bali.
Banyak yang
ingin tahu seperti apa semedinya. Lalu disepakati: malamnya diadakan acara
semedi. Dia yang pimpin. Semua lampu dimatikan. Dia sangat menghayati. Dia
seperti sudah selevel guru semedi.
Berbagai cara
semedi memang sudah dia coba. Mulai di gereja Katolik yang dia anut, semedi
cara Buddha, sampai akhirnya mantap dengan cara gurunyi di Bali itu: Merta Ada.
Dari Bali Usada.
Setiap bulan
Mardiko ke Bali. Semedi di sana selama satu minggu. Tanpa HP, tanpa bicara.
Hanya hening.
Anak sulung
Mardiko ikut menemani ke Bali. Ikut hidup tanpa HP. Tanpa bicara. Tanpa rokok.
Setiap pulang dari semedi ia kehilangan orientasi. Terutama ketika dari tempat
semedi tiba di bandara.
"Rasanya
kehidupan di bandara terlalu bising," katanya.
Ia perlu waktu untuk
menyesuaikan ''hidup normal'' setelah semedi. Termasuk perlu waktu tiga hari
untuk bisa kembali menikmati rokoknya.
Perusuh terjauh
kali ini datang dari Batam: Fransiska Jappy. Dia berjuang ke suami untuk bisa
dapat izin ke muktamar ini. Ternyata dia asli Ketapang, Kalbar. Lalu sekolah di
Singapura dan dapat suami dari Batam. Fransiska dan suami punya bisnis besar
karena dipercaya perusahaan-perusahaan asing di Batam untuk menangani tenaga
kerja mereka.
Separo peserta
muktamar memang wajah baru. Selebihnya ''raja-raja'' perusuh lama: Udin Salemo,
Cak Mul, dr Sandra, Datuk Dimyani, Handoko.....
Rifda Ammarina
tuan rumah pertama muktamar di perkebunan miliknyi di Cikeusik, Pandeglang juga
hadir. Dia tidak ikut jatah makan serupa MBG seperti lainnya. Dia masak sendiri
di dapur: ''saya alergi gluten''. Kebetulan dapurnya kosong: Galuh Banjar tidak
ikut ke Gondang. Menantu Pak Iskan itu lagi flu berat.
Sedang mengenai
dua bintang muda yang namanya sudah telanjur disebut di awal tulisan ini
ternyata tidak cukup waktu lagi untuk menuliskan kisah mereka. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/964497/bintang-perusuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar