|
Tak Peduli Mata Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 15 Oktober 2026
|
Anak sulit
belajar belum tentu malas. Bisa jadi, ia tak mampu melihat tulisan di papan
kelas. Coba bayangkan seorang anak kelas 1
duduk di bangku paling belakang. Matanya menyipit, kepalanya sedikit maju,
dan tangannya sesekali mengucek mata. Di depan kelas, guru terus menulis di
papan tulis. Teman-teman si anak sibuk mencatat, sementara ia sendiri
berusaha menerka-nerka huruf yang tampak seperti barisan semut. Sepulang sekolah, ibunya bertanya
mengapa nilai ulangannya turun. Ayahnya menyarankan agar ia mengurangi
bermain gawai. Sang anak mengangguk. Tak seorang pun bertanya apakah ia masih
bisa melihat tulisan di papan dengan jelas. Kisah seperti ini mungkin terjadi di
banyak keluarga. Kita begitu sibuk memikirkan mutu pendidikan anak sampai
lupa pada alat paling mendasar untuk menyerap pelajaran: mata. Bahkan tak
jarang, kita sendiri pun tak peduli pada harta kekayaan terbesar kita yang
satu ini. Dunia memperingati Hari Penglihatan
Sedunia pada 8 Oktober 2026. Pekan-pekan ini kampanye Love Your Eyes mengajak
masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mata. Pemerintah, tenaga
kesehatan, sekolah, dan organisasi masyarakat menggelar pemeriksaan, edukasi,
serta kegiatan sosial. Namun, kepedulian paling menentukan
sering kali tak membutuhkan panggung, spanduk, atau pidato. Ia cukup dimulai
dari perhatian seorang ibu dan ayah ketika anak mereka menyipitkan mata atau
menggosok-gosok mata. Mulailah dari peduli pada mata sendiri, pasti akan
peduli pada mata keluarga. Data Kementerian Kesehatan memberi
alasan kuat untuk berhenti menganggap persoalan ini sepele. Dalam pemeriksaan
Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekolah sepanjang 1 Januari hingga 2 September
2026, sebanyak 288.408 dari 9.241.377 peserta menunjukkan hasil pemeriksaan
tajam penglihatan di bawah 6/9. Proporsinya mencapai 3,12 persen. Angka itu memang berasal dari skrining
awal, sehingga pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan jenis
gangguan yang dialami setiap anak. Namun, bayangkan sebuah sekolah dengan
seribu murid. Jika proporsi tersebut berlaku, sekitar 31 anak mungkin
membutuhkan perhatian lebih terhadap penglihatannya. Bagi orang dewasa, tulisan di papan
kelas mungkin tampak jelas dari kejauhan. Bagi anak yang mengalami rabun
jauh, tulisan itu bisa berubah menjadi kabut tipis. Ia tak selalu tahu bahwa
matanya bermasalah. Ia hanya tahu bahwa teman di sebelahnya dapat menyalin
pelajaran lebih cepat, sedangkan dirinya tertinggal. Kelainan refraksi, termasuk rabun jauh
dan astigmatisme atau mata silinder, dapat mengganggu kegiatan belajar.
Kacamata dengan ukuran yang sesuai sering membantu anak melihat lebih jelas.
Karena itu, guru perlu peka terhadap murid yang kerap menyipitkan mata,
mendekatkan buku ke wajah, atau kesulitan membaca tulisan dari kejauhan. Sayangnya, kita lebih cepat mengoreksi
perilaku anak daripada mencari penyebabnya. Anak kurang konsentrasi, kita
marahi. Nilainya turun, kita tambah jam les. Ia mendekati layar, kita
menyalahkan gawai. Semua tindakan itu mungkin terasa masuk akal, tapi menjadi
sia-sia jika anak ternyata kesulitan melihat. Pendidikan membutuhkan buku, guru, dan
ruang kelas. Namun, semua itu kehilangan sebagian manfaatnya ketika anak tak
mampu melihat apa yang harus ia pelajari. Orangtua pun sering memperlakukan mata
sendiri dengan cara serupa: menunda sampai gangguan tak bisa lagi diabaikan. Tulisan kecil mulai kabur, kita menjauhkan
ponsel. Saat membaca menu restoran, kita mencari cahaya yang lebih terang.
Ketika berkendara malam hari, lampu kendaraan dari arah berlawanan terasa
menyilaukan. Kita menertawakan diri sendiri, seolah-olah pertambahan usia
otomatis membebaskan kita dari kewajiban memeriksa kesehatan. Padahal, perubahan penglihatan
memerlukan perhatian, terutama pada usia lanjut. Salah satu masalah yang
perlu diwaspadai ialah katarak, yakni kekeruhan lensa mata yang membuat
penglihatan berangsur kabur. Data CKG pada periode yang sama
mencatat 353.186 peserta berusia 40 tahun ke atas masuk kategori curiga
katarak, dari 13.618.207 peserta yang menjalani skrining. Angkanya setara
dengan 2,59 persen. Sekali lagi, hasil tersebut menunjukkan kecurigaan yang
membutuhkan pemeriksaan lanjutan, bukan diagnosis pasti. Katarak dapat menghambat kegiatan
sederhana: membaca koran, mengenali wajah cucu, berjalan di pasar, atau
menuruni tangga. Dalam banyak kasus, operasi dapat memperbaiki penglihatan
secara bermakna. Karena itu, menunda pemeriksaan hanya akan memperpanjang
kesulitan yang mungkin dapat ditangani. Ironisnya, orangtua sering lebih cemas
ketika anak kehilangan nilai pelajaran daripada ketika penglihatannya mulai
terganggu. Mereka menghitung biaya sekolah dengan cermat, tetapi lupa bahwa
kesehatan mata juga menentukan kemampuan anak memanfaatkan pendidikan. Kita
seperti membangun perpustakaan megah, kemudian membiarkan lampunya padam. Tentu, menjaga kesehatan mata tak
berarti semua gangguan bisa dicegah. Namun, banyak masalah dapat ditemukan
lebih awal dan memperoleh penanganan yang tepat. Di sinilah kegiatan Hari
Penglihatan Sedunia perlu menghasilkan sesuatu yang bertahan setelah acara
selesai. Pemerintah Indonesia menjalankan CKG
untuk membantu menemukan gangguan kesehatan, termasuk masalah penglihatan.
Pada peringatan tahun ini, kegiatan di berbagai tempat mencakup pemeriksaan
mata, edukasi, dan pembagian kacamata bagi siswa yang membutuhkan. WHO dan International Agency for the
Prevention of Blindness juga mendorong masyarakat memperluas perhatian
terhadap kesehatan mata melalui kampanye Love Your Eyes. Kegiatan tersebut
patut diapresiasi, tetapi keberhasilannya tak cukup dihitung dari jumlah
orang yang datang atau banyaknya kacamata yang dibagikan. Kita perlu memastikan bahwa anak yang
terdeteksi mengalami gangguan mendapat pemeriksaan lanjutan, memperoleh
kacamata sesuai kebutuhan, dan mampu menggunakannya dengan nyaman. Orang
dewasa yang dicurigai menderita katarak pun memerlukan akses menuju layanan
yang tepat. Sekolah dapat bekerja sama dengan
puskesmas untuk mengenali murid yang mengalami kesulitan melihat. Pemerintah
daerah perlu memastikan rujukan berjalan. Organisasi masyarakat dapat
membantu keluarga yang kesulitan membayar pemeriksaan atau kacamata. Skrining
baru benar-benar berguna ketika hasilnya mengantarkan orang menuju
penanganan. Keluarga dapat memulai langkah yang
lebih sederhana. Perhatikan perubahan perilaku anak, tanyakan apakah tulisan
di papan terlihat jelas, dan periksakan matanya jika muncul tanda gangguan.
Biasakan penggunaan layar secara wajar, pencahayaan yang memadai, serta
aktivitas luar ruang. Orangtua juga perlu memeriksakan mata sendiri sesuai
kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan. Jika penglihatan mendadak hilang, mata
terasa sangat nyeri, atau tiba-tiba muncul kilatan cahaya disertai banyak
bintik melayang, jangan menunggu jadwal pemeriksaan rutin. Segera cari
pertolongan medis. Mata ibarat jendela yang menghubungkan
manusia dengan dunia. Ketika jendela itu berkabut, pemandangan kehilangan
ketajamannya. Ketika penglihatan terganggu, anak mungkin kesulitan belajar,
orang dewasa bisa kehilangan kemandirian, dan keluarga harus menanggung
akibatnya. Hari Penglihatan Sedunia telah lewat.
Kepedulian tak perlu ikut berlalu. Malam ini, ketika anak membuka buku
pelajarannya, cobalah bertanya apakah ia dapat membaca tulisan dengan jelas.
Besok, jika kita merasa penglihatan kita sendiri berubah, luangkan waktu
untuk memeriksakannya. Sebab, sebelum sibuk menunjukkan jalan
menuju masa depan kepada anak, pastikan ia mampu melihat jalan itu. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar