|
Para
Teknokrat Pragmatis Martin Lukito Sinaga : Pengajar teologi. Menulis sejarah dan
pemikiran agama dalam Masyarakat. |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
“Para
teknokrat Indonesia merupakan kelompok pembuat kebijakan yang sangat berhasil
untuk waktu yang lama… karena mereka kompeten secara teknis dan cerdik secara
politik.” -- Hal
Hill DALAM
penyiapan dokumen “Solusi Dua Negara” Israel dan Palestina—sebagaimana
ditayangkan film Oslo (2021)—menteri ekonomi Organisasi Pembebasan Palestina
(PLO), Abu Ala, bersitegang dengan penasihat kebijakan Israel, Joel Singer.
Hal itu terjadi karena Singer membacakan ratusan detail rancangan kesepakatan
dan menuntut jawaban yang persis. “Jika
negara Israel setuju mengalihkan kendali Yeriko dan wilayah sekitarnya,
apakah otoritas Palestina akan mengumpulkan sampah Israel atau hanya sampah
Palestina?” “Kami
tidak akan mengumpulkan sampah Israel,” jawab Ala. “Jika
negara Israel setuju mengalihkan kendali Yeriko dan wilayah sekitarnya,
apakah otoritas Palestina siap mengirim pemungut pajak ke permukiman Israel?” “Tuan
Singer, kami tidak sedang menyeberangi dunia untuk membicarakan sampah dan
pajak.” “Sampah
dan pajak adalah urusan pemerintah. Dan kami perlu tahu bagaimana nanti
pemerintahan Anda bekerja,” Singer menjawab ketus. Pemerintahan
Indonesia yang muncul dalam “tempo yang sesingkat-singkatnya” tidak mulai
bekerja setelah perundingan ekonomi. Menurut dokumentasi Ian Chalmers dan
Vedi R. Hadiz dalam The Politics of Economic Development in Indonesia (1997),
pembangunan jadi kata kunci untuk soal itu. Pembangunan dianggap sebagai
alternatif atas tata kelola ekonomi imperialistis Belanda. Setelah
merdeka, pembangunan ekonomi dilihat terlebih dengan sikap populistis dan
antikapitalisme. Upaya pengambilalihan kepemilikan sumber daya ekonomi ke
tangan pribumi dianggap sebagai jalan keluar dari beban dualisme ekonomi
kolonial. Pemerintah didorong mengintervensi pasar untuk mengubah liberalisme
ekonomi warisan Belanda. Program
Benteng—juga Program Urgensi Perekonomian—pun berniat mengatasi struktur
timpang ekonomi dengan pemberian lisensi impor kepada pengusaha pribumi
sembari meningkatkan industri kecil. Tapi pada 1957 program itu dianggap
gagal, lalu pada 1958 muncullah nasionalisasi atas semua perusahaan milik
Belanda. Namun
muncul kesulitan mengelola bermacam bisnis yang diambil paksa itu, sembari
diam-diam diakui: Indonesia memerlukan para teknokrat untuk menuntaskan
kebijakan ekonominya. Ekonomi terpimpin
Presiden Sukarno yang berlaku sejak 1959 membuyarkan upaya pembangunan
ekonomi teknokratis itu. Teknokrat dan ekonom, seperti Sumitro
Djojohadikusumo, akhirnya harus meninggalkan Indonesia. Sosialisme
ala Indonesia yang malah mengemuka, walau dengan gaya pengembangan industri
berat model Uni Soviet. Pada 1960, giliran koperasi yang hendak didirikan di
semua desa Indonesia; pada 1964, Sukarno menyerukan ekonomi Berdikari yang
menutup investasi asing yang dianggapnya membonceng imperialisme. Menurut
Chalmers dan Hadiz, penanganan ekonomi yang serba retorik ini sebenarnya
semacam selubung betapa serba koneksi cara menjalankan bisnis dengan
pemerintah kala itu. Di pihak lain, one important consequence of this erratic
planning process was economic stagnation. Setelah
Presiden Sukarno jatuh, penggantinya, yaitu Soeharto, berjanji menstabilkan
ekonomi dengan memperkuat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Sejak 1971,
teknokrat par excellence Widjojo Nitisastro memimpin badan itu dan dia
dianggap sebagai arsitek ekonomi yang pruden. Dalam konferensi keuangan pada
1966 di kampus Universitas Indonesia, ia sudah mengingatkan bahwa pemerintah
yang berhasrat terburu-buru meninggikan capaiannya hanya berakhir dengan
pemborosan. Chalmers
dan Hadiz mengelompokkan dia bersama Hamengku Buwono IX, Emil Salim, dan
Mohamad Sadli sebagai teknokrat pragmatis. Nasihat para teknokrat ini
didengarkan oleh Soeharto karena legitimasi kekuasaannya terkait dengan
pemulihan fiskal negara. Para teknokrat itu juga pragmatis: bekerja dengan
rencana dan mengerahkan dukungan baik dari negara maupun dana luar negeri
untuk stimulus kegiatan ekonomi. Menjelang
krisis moneter 1997, Radius Prawiro menulis semacam pleidoi atas puluhan
tahun kerja teknokratis di atas: “Indonesia’s Struggle for Economic
Development: Pragmatism in Action”. Ia menjelaskan bahwa disiplin moneter,
upaya memiliki competitive advantage, deregulasi yang adaptif, yang semua itu
bentuk pragmatisme ekonomi pembangunan, adalah model yang tepat untuk
Indonesia. Hal
Hill, ekonom dari Australian National University, yang memberi pengantar
dalam tulisan Radius Prawiro ini, juga membela sikap teknokratis tersebut. Ia
melihat krisis moneter terjadi karena nasihat para ekonom yang makin
diabaikan presiden, any notion that the current difficulties are the result
of the technocrats’ governance is preposterous. Kerja
pragmatis para teknokrat tampaknya pilihan terbaik dari yang terbatas untuk
ekonomi Indonesia. Dawam Rahardjo, kritikus ekonomi pembangunan Orde
Baru—yang mengecap kerja para teknokrat telah melahirkan rezim pembangunan
yang represif—mengakui bahwa pilihan pragmatis adalah hal yang paling masuk
akal. Apalagi, di awal masa kemerdekaan atau awal Orde Baru, banyak kerusakan
yang harus diatasi. Pilihan lain yang ada tinggal sikap utopis, kata dia
dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar ilmu ekonomi di Universitas
Muhammadiyah Malang, Jawa Timur. Ekonomi
utopis itu biasanya dari kaum ideolog, kata Dawam Rahardjo. Para teknokrat
yang pragmatis bekerja dengan kesadaran akan keterbatasan sumber daya, tapi
dengan harapan bahwa perubahan bisa dilakukan. Sikap ini mengupayakan
rekayasa gradual dan cocok dalam proses demokrasi. Pelantikan
Menteri Keuangan Indonesia yang baru pada 14 September 2026—yang jadi
kesempatan mewanti-wantinya agar kebijakannya tidak kontroversial, tapi
teknokratis—tampaknya datang dari hikmat sejarah ini. Tapi peristiwa itu
sekaligus mencatat bahwa presiden yang tidak mendengarkan nasihat para ekonom
akan diterpa krisis yang ia sendiri tak bisa atasi. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/teknokrat-pragmatis-orde-baru-prabowo-2298520
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar