|
Rahasia Vietnam Raih Pertumbuhan Ekonomi
hingga Lebih dari 9 Persen Iwan
Santosa : Jurnalis Kompas. |
KOMPAS, 04 Oktober 2026
|
Reformasi kelembagaan dan pembangunan infrastruktur strategis,
pengembangan SDM, hingga selektif pada investasi asing turut memacu
pertumbuhan Vietnam. Pertumbuhan ekonomi Vietnam dalam kuartal ketiga (Juli-September)
2026 mencapai 9,95 persen atau naik dari 8,81 persen dibandingkan kuartal
kedua. Angka Badan Pusat Statistik Vietnam tersebut merupakan catatan
pertumbuhan tertinggi dalam empat tahun terakhir. Adapun rerata pertumbuhan ekonomi dalam sembilan bulan pertama
2026 mencapai 9,01 persen. Pencapaian tersebut merupakan pertumbuhan
tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Capaian itu diungkap badan statistik
Vietnam, NSO, pada 3 Oktober 2026. Adapun inflasi inti Januari-September 2026
di 4,26 persen. Catatan-catatan positif ini semakin memantapkan langkah Hanoi
yang memasang target pertumbuhan dua digit dalam lima tahun ke depan. Di sisi
lain, hal itu menempatkan Vietnam sebagai ”keajaiban ekonomi” di antara
negara-negara Asia. Ekspor Vietnam naik 24,5 persen dalam catatan year on year (YoY)
dan impor naik naik 36,7 persen. Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi 8
persen tahun lalu. Surplus perdagangan Vietnam dengan AS naik 23,8 persen menjadi
122,6 miliar dolar AS dalam sembilan bulan pertama. Vietnam menjadi salah
satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi walau dihantam perang tarif
oleh Amerika Serikat yang menjadi pasar utama ekspor Vietnam. Kunci sukses Badan Pusat Statistik Vietnam menyatakan, ekonomi Vietnam
memperlihatkan kinerja positif hampir di semua sektor. Pencapaian itu diraih
karena dukungan penuh pemerintah untuk mencapai pertumbuhan dua digit pada
tahun 2026. Salah satu dukungan Hanoi adalah reformasi struktural pada aneka
lini. Langkah itu berhasil meningkatkan kinerja pemerintah dan penggunaan
sumber daya. Selanjutnya ada terobosan kebijakan Partai Komunis Vietnam dalam
menarik investasi dengan empat pilar, yakni reformasi kelembagaan dan pembangunan
infrastruktur strategis, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan sikap
selektif dalam menerima investasi yang berkelanjutan. Seiring dengan itu, salah satu cara Vietnam menggenjot
pertumbuhan ekonomi adalah dengan menerapkan percepatan akuisisi lahan,
terutama untuk pembangunan perumahan dan infrastruktur. Aturan baru tersebut
memungkinkan akuisisi tanah dan pembangunan dilakukan sebelum pemilik lahan
atau rumah menerima kompensasi. Dalam laporan Reuters (19/8/2026) disebutkan, kebijakan itu
diambil demi menjaga dan mencapai target pertumbuhan ekonomi Vietnam. Aturan itu diperkenalkan dan direncanakan disahkan pada Oktober
2026 setelah terjadi hambatan pembangunan sejumlah proyek besar karena
masalah ganti rugi dan pemindahan warga. Pemerintah Vietnam juga mengubah kebijakan soal kompensasi
terhadap warga dengan membangun ulang kehidupan rakyat setelah tanah mereka
diakuisisi. Dalam aturan baru, rakyat yang terkena penggusuran mendapat
prioritas tanah di lokasi sama yang dikembangkan. Aturan baru tersebut juga mendorong transparansi dan penilaian
harga ganti rugi berbasis data ilmiah, memperkokoh aturan akuisisi lahan demi
mendorong pertumbuhan sosial-ekonomi. Menteri Pertanian dan Lingkungan Trinh Viet Hung mengatakan,
Pemerintah Vietnam menargetkan pertumbuhan ekonomi minial 10 persen hingga
2030. Salah satu proyek besar adalah revitalisasi koridor delta Sungai Merah
di Hanoi yang berdampak pada 200.000 warga. Investasi asing Kondisi internal Vietnam yang atraktif menjadi magnet bagi
investor asing. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2026, kesepakatan
investasi asing (FDI) mencapai 50,4 miliar dolar AS, melonjak 76,4 persen
dibandingkan tahun sebelumnya. Investasi utama adalah sektor manufaktur dan
pengembang perumahan. Harga konsumen naik 5,1 persen pada September dibandingkan
periode yang sama tahun lalu. Kenaikan biaya transportasi dan konstruksi
meningkat karena dampak perang AS di Iran. Pemerintah Vietnam berusaha
menjaga inflasi di angka 4,5 persen tahun ini. Bank Pembangunan Asia (ADB) pada Juli 2026 merevisi perkiraan
pendapatan domestik bruto Vietnam naik dari 7,2 persen menjadi 7,8 persen.
Pertumbuhan itu disebabkan oleh terus berkembangnya manufaktur, bertahannya
konsumsi domestik, dan terus tumbuhnya investasi asing. Investor China diketahui memindahkan bisnis mereka ke Asia
Tenggara yang lebih kompetitif, terutama ke Vietnam yang bertetangga langsung
dengan Provinsi Guangxi, China, dan memiliki kemiripan sistem politik. Pada September 2026, FTSE Russel menaikan peringkat bursa saham
Vietnam ke tingkat bursa sekunder pasar berkembang. Hoang Manh Huyen, pengajar Jurusan Sejarah dan Hubungan
Internasional Universitas Ilmu Sosial dan Humaniora Ho Chi Minh City, yang
dihubungi pada Minggu (4/10/2026) mengatakan, kunci pertumbuhan Vietnam
adalah iklim politik yang stabil. Lentur Selain memperkuat kondisi domestik, Vietnam pun saat ini dengan
lincah berselancar di area global. Hanoi berhasil menavigasi tarikan
geopolitik antarkekuatan utama dunia, terutama AS-China, demi pencapaian
ekonomi. Presiden Vietnam To Lam kepada Bloomberg di New York pada
September lalu mengatakan, Vietnam hampir mencapai kesepakatan dagang dengan
AS. Vietnam berjanji mengimpor barang teknologi tinggi dari AS. To Lam melanjutkan kebijakan para pemimpin Vietnam dengan politik
bambu, mampu menempatkan diri dan mengambil keuntungan dari persaingan
AS-China. Dalam Businesstimes.com.sg disebutkan, neraca perdagangan Vietnam
surplus 1,3 miliar dolar AS setelah defisit dalam delapan bulan pertama tahun
2026. (REUTERS) ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar