Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Fakta-Fiksi Dana Revolusi

Lani Diana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Subandrio pernah mengakui keberadaan dana revolusi yang berisi jutaan dolar Amerika Serikat di bank luar negeri.

 

·      Pemerintah Orde Baru ditengarai tak kunjung berhasil menemukan dana revolusi yang diyakini peninggalan Orde Lama.

 

·      Kepada cucunya, Subandrio mengatakan dana revolusi hanya cerita fiktif.

 

ARNOLD Budoyo Subandrio mengingat kakeknya, Subandrio, tak benar-benar tenang setelah keluar dari penjara pada 16 Agustus 1995. Sejumlah kelompok masih terus mengaitkan Wakil Perdana Menteri I di masa Presiden Sukarno itu dengan kontroversi dana revolusi.

 

Dalam suratnya kepada Tempo, Arnold, 52 tahun, yang sudah menjadi warga negara Amerika Serikat, menuliskan bahwa kehidupan Subandrio terus dibayang-bayangi soal duit yang digembar-gemborkan mencapai puluhan triliun rupiah itu. Pada satu masa, Subandrio pernah berbincang empat mata dengan Arnold muda soal dana revolusi. Dalam percakapan itu, Subandrio mengatakan isu dana revolusi muncul karena ketamakan dan kegagalan pemerintah Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Rumor soal ini kian santer terdengar karena pemerintah terus membahas dana revolusi.

 

Arnold mengatakan keberadaan dana revolusi makin ramai dibicarakan karena keluarga dari istri kedua Subandrio juga memburu fulus tersebut. “Papa Ban (sapaan Subandrio) mengatakan cerita seputar dana revolusi sesungguhnya hanya cerita fiksi,” tulis Arnold pada Jumat, 25 September 2026.

 

Pembahasan dana revolusi mencuat pada 1980-an. Pada saat itu Subandrio masih berada di balik jeruji. Pemerintah dan sejumlah pihak bolak-balik mendatangi Subandrio di dalam penjara untuk menanyakan keberadaan uang yang dikabarkan disimpan di bank di Swiss tersebut.

 

Pada masa pemerintahan Sukarno, Subandrio memegang banyak jabatan tinggi. Di antaranya Wakil Perdana Menteri I. Dia bahkan berstatus orang nomor dua karena menjadi pejabat yang paling dipercaya Sukarno. Itu sebabnya Subandrio diklaim menjadi kunci dana revolusi. Rekening bank di Swiss itu kabarnya menggunakan identitas Subandrio.

 

Pemerintah Orde Baru yang membuat istilah dana revolusi. Banyak pihak juga percaya duit itu memang ada. Salah satu alasannya adalah kemunculan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara. Regulasi ini menjadi dasar hukum pengumpulan fulus pada masa ekonomi terpimpin. Semua perusahaan negara wajib menyetorkan sebagian keuntungan ke negara.

 

Majalah Tempo membuat laporan utama soal dana revolusi pada edisi 31 Januari 1987. Artikel berjudul “Dana Revolusi: 20 Tahun Kemudian” menuliskan besaran setoran itu sebanyak 5 persen. Tapi Menteri Perkebunan saat itu, Frans Seda, menyebutkan perusahaan pelat merah harus berbagi cuan hingga 25 persen. Selain itu, pemerintah menarik pungutan dari para importir.

 

Sebelumnya, pengelolaan dana ini berada di bawah kendali Menteri Keuangan 1959-1962, Djuanda Kartawidjaja. Pada 1960-an, Subandrio merangkap jabatan menjadi Menteri Luar Negeri, Wakil Perdana Menteri I, dan Kepala Badan Pusat Intelijen. Subandrio yang kemudian mengelola fulus itu.

 

Selain berada di bawah pengelolaan Subandrio, dana revolusi dikuasai dan menjadi tanggung jawab Sukarno. Ada pula sejumlah tokoh lain yang bertanggung jawab terhadap dana revolusi, seperti Menteri Koordinator Kompartimen Pembangunan Indonesia 1963-1966, Chaerul Saleh; Wakil Perdana Menteri 1957-1966, Johannes Leimena; dan Gubernur Bank Indonesia 1963-1966, Jusuf Muda Dalam.

 

Menteri Bidang Khusus Ekonomi 1963-1965, Bugi Supeno, pernah menyatakan pihak yang mendapat kuasa menarik dana revolusi adalah para Wakil Perdana Menteri. Dia juga pernah ditugasi mengumpulkan dana revolusi dari berbagai sumber. “Presiden Sukarno juga berhak mencairkannya,” tuturnya.

 

Nilai nominal dana yang ditengarai mengendap di luar negeri ini kabarnya fantastis. Namun, hingga kini, belum ada yang bisa memastikan jumlahnya. Ada beberapa versi yang tercatat dalam arsip majalah Tempo pada 1980-an.

 

Misalnya, menurut salah satu tokoh Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia kala itu, Suhardiman, total dana revolusi bisa mencapai US$ 16 miliar atau setara dengan Rp 26,5 triliun jika mengacu kurs rupiah pada 1987. Sumber lain menyebutkan ada pula dana senilai Rp 950 miliar yang tersimpan di Barclays Bank di London dan Union Bank of Switzerland di Zürich, Swiss.

 

Sementara itu, laporan majalah Gatra berjudul “Dana Revolusi: Dari Mana Datangnya, ke Mana Perginya” yang terbit pada 12 Agustus 1995 menuliskan total dana revolusi menyentuh Rp 1,5 triliun. Rinciannya: US$ 450 juta tersimpan di Union Bank of Switzerland; US$ 250 ribu di Guyerzeller Zumont Bank, Zürich, dan Daiwa Securities and Stocks, Tokyo, Jepang; serta emas lantakan senilai 125 juta pound sterling di Barclays Bank.

 

Soal siapa pemilik rekening tersebut sebenarnya belum terang. Mantan Sekretaris Menteri Muda Sekretaris Kabinet, Hartanto, pernah menyebutkan bahwa rekening dana revolusi bukan atas nama individu. “Sebetulnya juga bukan atas nama Soebandrio pribadi. Tapi selaku Menteri Luar Negeri,” demikian penggalan wawancaranya dengan majalah Gatra edisi 12 Agustus 1995 berjudul “Kisah Melacak Dana Revolusi”.

 

Hartanto paham betul soal ini lantaran pernah menjadi bagian dari tim pelacak dana revolusi. Tim ini dibentuk Presiden Soeharto setelah dia mendengar informasi soal dana revolusi pada awal 1986.

 

Subandrio pun pernah mengakui bahwa dana revolusi benar adanya. Penjelasan itu masih terekam jelas dalam ingatan mantan wartawan Jawa Pos yang belakangan membantu membuat buku memoar Subandrio, Kesaksianku tentang G-30-S, Djono W. Oesman. Ceritanya bermula ketika pemerintah melalui Menteri Muda Sekretaris Kabinet Moerdiono menyatakan akan berhenti mencari dana revolusi sekitar Juli atau Agustus 1994.

 

Pada masa itu, redaktur menugasi Djono mewawancarai Subandrio yang tengah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Dia putar otak untuk bisa menemui Subandrio di penjara. Upaya pertama melobi Kantor Wilayah Departemen Kehakiman Jakarta gagal. “Mereka tertawa saat saya minta bertemu dengan Pak Subandrio,” tutur Djono.

 

Singkat cerita, Djono menemui istri kedua Subandrio, Sri Kusdiantinah alias Dian, di kediamannya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lewat Dian, Djono akhirnya dapat bertatap muka dengan Subandrio di LP Cipinang. Tapi Subandrio langsung menolak membahas dana revolusi. “Itu bukan hal yang sepele, saya tidak mau bicara,” kata Djono menirukan jawaban Subandrio kala itu.

 

Wawancara tetap berjalan. Selama sekitar dua jam, mereka berdiskusi soal keluarga Subandrio hingga kolam lele. Di tengah wawancara, Subandrio akhirnya menjelaskan seputar dana revolusi.

 

Subandrio menceritakan pengalamannya didatangi seorang pejabat negara yang ditugasi mencari dana revolusi saat masih dipenjara. Pejabat setingkat menteri itu membawa jas dan pakaian rapi untuk Subandrio. Mereka melenggang keluar dari penjara, lalu bertolak ke Swiss dengan misi mencairkan dana revolusi. Subandrio tak mau bercerita detail soal caranya lolos dari pemeriksaan petugas imigrasi dan naik pesawat ke luar negeri meski berstatus narapidana.

 

Kepada Djono, Subandrio mengatakan pencairan duit harus dihadiri dua orang: dirinya dan Sukarno. Sebab, rekening penampung dana revolusi bersifat dual account. Karena Sukarno sudah meninggal, pemerintah harus mendapat kuasa dari ahli waris keluarga Sukarno. “Mereka tidak membawa kuasa itu sehingga dana revolusi tidak bisa dicairkan,” ujar Djono.

 

Tempo telah menghubungi cucu Sukarno sekaligus Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Puan Maharani, lewat tim medianya pada Selasa, 29 September 2026. Tapi anak buah Puan mengatakan ihwal dana revolusi lebih cocok ditanyakan kepada pamannya, Guntur Soekarnoputra.

 

Pada hari yang sama, Tempo meminta konfirmasi kepada Guntur dengan mengirimkan pesan WhatsApp kepada seorang stafnya. Staf itu mengatakan akan meneruskan permohonan wawancara kepada Guntur. Tapi pesan itu tak kunjung dijawab hingga Rabu, 30 September 2026.

 

•••

 

MANTAN wartawan majalah Gatra, Linda Djalil, berulang kali menanyakan ihwal dana revolusi dalam satu sesi wawancara dengan Subandrio pada Agustus 1995. Saat itu kebebasan Subandrio tinggal menghitung hari. Ketika Linda bertanya soal surat untuk Presiden Soeharto, Subandrio terlihat kikuk.

 

Surat itu dilayangkan pada Februari 1986. Isinya berupa pengakuan bahwa Indonesia memang memiliki simpanan duit di rekening luar negeri. Menurut Linda, dalam surat tersebut tertera besaran dana revolusi mencapai US$ 35 juta.

 

Subandrio meralat warkat tersebut. Menurut dia, hanya ada saldo US$ 35 ribu yang tersimpan di rekening pribadinya di Swiss. “Dia bilang mendapat tekanan ketika bersurat kepada Pak Harto,” kata Linda kepada Tempo pada Senin, 7 September 2026.

 

Artikel Tempo berjudul “Dana Revolusi: 20 Tahun Kemudian” menuliskan Subandrio pernah mengakui punya dana simpanan di beberapa bank di luar negeri. Informasi itu diceritakan kepada istri keduanya, Sri Kusdiantinah alias Dian. “Pada waktu itu Pak Ban mengatakan ada simpanan Mbak Yu di bank Swiss,” ujarnya. Mbak Yu merujuk pada istri pertama Subandrio, Hurustiati. Dian tak mengetahui nilai nominalnya.

 

Bukti lain yang dikantongi Linda adalah laporan perjalanan seorang pejabat Bank Indonesia ke Swiss. Ia diduga ingin membuktikan keberadaan fulus pemerintah di bank di Swiss. Hasilnya nihil. Pejabat itu tak menemukan sepeser pun duit di sana. Linda menangkap satu pesan dari perjalanan tersebut: pemerintah Indonesia selama ini memang memburu dana revolusi.

 

Sebelum pemerintah bergerak, keluarga Subandrio dari pernikahan kedua sebenarnya lebih dulu memburu dana revolusi. Dian pertama kali mengetahui duit itu setelah menikah dengan Subandrio pada Agustus 1980.

 

Setahun berselang, keluarga Dian mulai memburu dana revolusi. Pelbagai cara dilakukan sepanjang 1981-1986. Di antaranya meminta bantuan dua warga negara asing asal Malaysia dan Amerika Serikat sampai menggandeng pengacara kondang pada masanya. Tapi upaya tersebut juga tak membuahkan hasil.

 

Belakangan, Subandrio menulis surat untuk Presiden Soeharto pada Februari 1986 yang menyatakan kesediaannya mencairkan dana revolusi. Laporan majalah Gatra edisi 12 Agustus 1995 menyebutkan Sri Kusdiantinah yang mengirimkan surat tersebut kepada Menteri Muda Sekretaris Kabinet Moerdiono. “Dalam surat itu pula Subandrio menyatakan bersedia membantu tanpa syarat apa pun,” demikian penggalan laporan tersebut.

 

Inilah cikal bakal pemerintah tancap gas mencari dana revolusi. Soeharto membentuk satuan tugas yang dinamakan Tim Operasi Teladan. Mereka bergerak memeriksa sejumlah arsip milik Bank Indonesia dan dokumen Tim Pengawasan Keuangan Negara. Beberapa orang juga diterbangkan ke Inggris dan Swiss. Tapi hasilnya tetap nihil.

 

Majalah Tempo pernah menuliskan bahwa Menteri Moerdiono mengakui adanya upaya pelacakan tersebut. Tapi, menurut dia, yang dicari pemerintah bukan dana revolusi dengan rekening atas nama Subandrio. Pemerintah mengincar semua uang milik negara yang diduga berada di luar negeri. Hingga awal 1987, pemerintah masih berupaya mencarinya. “Memang sulit melacak ini, tapi kita terus berusaha,” katanya.

 

Masalahnya, pencarian dana revolusi selalu gagal. Ada atau tidaknya uang triliunan rupiah itu masih menjadi misteri bahkan hingga kini. Pemerintah tak bisa membuktikan bahwa negara pernah menyimpan harta karun di luar negeri. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/tokoh/fakta-dana-revolusi-subandrio-2298604

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar