|
Camino Nakasendo Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 15 Oktober 2026
Haha...akhirnya
saya Camino! Bukan di Santiago, Spanyol, tapi Camino-nya Jepang: Camino
Nakasendo.
Di hari ketiga
di Nagoya, Selasa kemarin, kami ke Tsumago. Yakni bersama teman-teman yang ikut
program lima hari di Inuyama, satu jam dari kota Nagoya.
Lihatlah papan
petunjuk di dekat saya berdiri itu: bunyinya Tsumago-juku. Bagi yang bisa
bahasa mandarin dua kata terakhir itu dibaca ”ru kou” --orang Jepang membacanya
dengan ”juku”. Artinya sama: jalan masuk.
Anda sudah
tahu: saya pernah siap berangkat Camino di Spanyol. Dua tahun lalu. Batal.
Teman yang akan bersama saya Camino tiba-tiba sakit. Kanker. Itulah James F.
Sundah --sang pencipta lagu Lilin Lilin Kecil. Lia, istrinya, juga sudah
beberapa kali Camino. Rencana itu kami tunda setahun. Ternyata James meninggal
dunia (Disway 9 Mei 2026: James Freddy Sundah).
Saya tidak
menyangka dalam perjalanan ke Nagoya ini ada acara ke Tsumago. "Kita
Camino di sini saja," ujar teman yang pernah Camino di Spanyol dan sudah
tiga kali ”Camino” di Tsumago. Ia seorang pengusaha besar. Besar luar biasa.
Camino di
Jepang ini disebut Nakasendo. Sedang Camino di Spanyol, Anda sudah tahu: untuk
mengenang perjalanan suci Santo Yakobus. Yakni satu dari 12 rasul Yesus yang di
Inggris disebut Saint James. Nama perjalanan kaki di Spanyol disebut Camino de
Santiago --berakhir di kota Santiago, di sebuah Katedral yang dianggap suci di
dunia Katolik.
Camino
Nakasendo? Ini untuk mengenang masa silam Jepang --sebelum ada mobil Toyota dan
kereta Shinkansen. Rute Nakasendo menghubungkan dua ibukota Jepang masa lalu:
Kyoto dan Tokyo --dua nama yang hanya dibalik suku katanya. Ibarat Batavia dan
Viabata --seandainya ada IKN di zaman Batavia.
Itu tahun 1603.
Zaman Edo. Ibu kota Kekaisaran Jepang mulai dipindah dari Kyoto ke Edo
--sekarang disebut Tokyo. Ini tidak semudah pemindahan ibu kota dari Jakarta ke
Viabata. Waktu itu tidak ada jalan dari Kyoto ke Edo. Jauhnya lebih 500 km.
Yang ada hanya gunung dan gunung dan gunung. Kata ”gunung” saya tulis tiga kali
bukan saja untuk mengindari penyebutan dua gunung juga karena saking banyaknya.
Tidak mudah
membangun jalan di medan seperti itu. Ups... tidak sulit. Yang dibangun hanya
jalan untuk kaki --kaki manusia dan kaki kuda. Cukup jalan setapak. Naik gunung
dan turun jurang.
Sebenarnya
dibangun juga jalan alternatif. Lewat pantai timur. Persoalannya: banyak muara
sungai. Belum ada jembatan. Belum ditemukan teknologi jembatan besar di Jepang.
Kalau lewat pantai perjalanan Kyoto-Edo bisa lebih lama --getek harus menunggu
banjir reda.
Maka yang lebih
dipilih adalah jalan yang di pegunungan. Karena itu disebut 中山道 -- Nakasendo dalam bahasa Jepang atau zhong san dao dalam bahasa
Mandarin --artinya: rute di tengah gunung.
Sebenarnya rute
itu juga tidak hanya di tengah gunung. Bisa juga disebut di tengah hutan.
Manusia masih sedikit. Gunung dan hutan belum ada yang menjarah. Juga tidak ada
yang membakarnya.
Tentu kami
tidak camino sampai 530 kilometer. Waktunya tidak cukup. Juga otot kakinya.
Enaknya di rute Nakasendo 530 km itu dibagi atas 69 etape. Kami dipilihkan dua
etape saja. Satu stop. Yakni etape yang terbaik, terfavorit dan tertinggi nilai
sejarahnya. Yang memilihkan adalah si pengusaha sangat besar yang sudah tiga
kali melakukan Nakasendo.
Kami diminta
memulai dari Tsumago. Pagi-pagi kami berangkat dari hotel di Inumaya naik mobil
ke Tsumago. Setelah berkendara setengah jam masuklah ke keindahan alam
pegunungan Jepang. Naik. Turun. Berliku. Ikut aliran sungai. Bersih. Jernih.
Setelah
berkendara 1,5 jam tibalah di titik awal camino. Begitu turun mobil di Tsumago
waktu terasa diputar balik dengan kecepatan cahaya: begitu cepat tiba ke masa
lalu nan lampau. Itulah istimewanya ruas Tsumago-Magome. Kita serasa mendadak
berada di tahun 1600-an.
Mulailah kami
menapaki jalan tanah, batu dan cadas. Naik. Turun. Naik. Naik. Naik. Belum juga
turun. Etape pertama mungkin hanya 1,5 km atau kurang. Tapi kami harus
menempuhnya 1,5 jam.
"Kuat
pak?" sapa seorang CEO muda dari perusahaan fintech. Ia bertanya begitu
sambil memandang tanjakan di depan di tengah hutan momiji --pohon mapple khas
Jepang.
"Saya
coba," jawab saya.
Kian lama anak
muda yang bertanya tadi kian tertinggal di belakang. Dari jauh saya dengar
temannya, juga seorang CEO bank digital, bertanya kepadanya: "kuat?".
Orang itu menjawab "kalau tidak kuat malu dengan orang tua di depan
itu". Ia menjawab dengan suara agak keras seperti ingin memompa semangat
saya.
Saya tersenyum
mendengar percakapan itu. Saya mencoba tidak menoleh ke kelakang. Saya sudah
kenal suara siapa itu. Sudah dua hari kami bersama mereka. Sudah mengenali
suaranya satu dengan lainnya.
Saya tersenyum
bukan mengejek mereka. Saya tersenyum untuk mengejek diri sendiri. Percakapan
seperti itulah yang pernah terjadi 40 tahun lalu. Ketika saya masih semuda
mereka. Waktu itu saya memutuskan agar rombongan berjalan kaki saja: dari
Makkah ke Arafah. Di musim haji untuk rute itu naik mobil pun tidak akan lebih
cepat.
Kami berangkat
dari Masjidilharam di Makkah pukul 17.00 --setelah salat asar. Tiba di Arafah
pukul 00.00. Di tengah jalan, setiap kali terasa putus asa saya selalu melihat
orang yang berjalan di depan saya. Tua. Wanita. Tertatih. "Dia saja kuat.
Saya juga harus kuat," kata saya dalam hati.
Teman-teman
saya, para manajer saya, tidak ada yang mengeluh. Langkahnya pasti. Kelak,
setelah tiba di Arafah saya bertanya mengapa mereka kuat sekali. Padahal saat
memutuskan jalan kaki tadi saya punya niat menguji fisik para manajer itu.
"Saya
biasa ikut lomba jalan Mojokerto-Surabaya," salah seorang menjawab.
Sialan. Saya kecele. Ia manajer untuk perusahaan provider internet. Zaman itu
saya sudah mendirikan usaha internet di saat mencari calon konsumen yang mau
memiliki email saja sulitnya bukan main. Setelah lima tahun rugi terus, dan
terjadi krisis moneter, perusahaan itu saya jual ke manajer tersebut. Harga
jualnya seingat saya, Rp1.- Yang penting ia tidak minta pesangon.
"Saya
biasa ikut maraton," ujar manajer satunya lagi.
Ternyata justru
saya sendiri yang tidak pernah olahraga.
Di Nakasendo
ini CEO muda yang bilang malu tadi kelihatannya juga jarang olahraga --lebih
sering main golf. Di akhir Nakasendo ia berseloroh sambil termehek-mehek
"sampai akhir tahun saya sudah tidak perlu lagi olahraga," katanya.
Maksudnya, dengan Nakasendo ia sudah ”mendeposito” kan olahraga dalam jumlah
besar yang bisa dianggap sudah olahraga sampai akhir tahun. Ia seorang top
manajer bank digital yang olahraga bisa dianggap seperti tabungan.
Akhirnya saya
tahu, sepertiga rombongan memutuskan Nakasendo sampai stop pertama saja. Mereka
meneruskan perjalanan lewat rute mobil. Kami masih bersemangat. Pemimpin tur
kami yang memberi semangat. Pengusaha luar biasa besar dengah badan ramping
tadi, mengatakan di akhir etape kedua nanti akan ada air terjun di tengah
hutan.
Ia seorang
pemimpin sejati. Bisa membangkitkan semangat anggota tim yang sudah hampir
putus asa. Saya mencatat ucapan itu sebagai motivasi untuk yang lain.
Saya sendiri
tidak begitu percaya akan ada air terjun yang menakjubkan di kawasan itu. Sudah
banyak objek air terjun kelas dunia yang saya datangi --mana mungkin di situ
lebih istimewa. Memang, untuk menjaga kebahagiaan biasanya saya tidak pernah
berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Takut kecewa.
Maka di akhir
etape kedua saya tetap bahagia --meski air terjunnya kalah jauh --pun oleh air
terjun Mata Jitu di pulau Moyo, Sumbawa, yang pernah dikunjungi rocker Mick
Jagger dan bangsawan Inggris Putri Diana.
Secara
keseluruhan saya puas dengan Camino di Nakasendo ini. Inilah peninggalan tahun
1600-an yang di banyak bagiannya masih dipertahankan keasliannya. Khususnya di
dua etape yang dipilih tadi. Bangunan-bangunan kayunya masih asli
--arsitekturnya maupun kayunya. Jalan setapaknya masih tidak banyak berubah.
Di setiap
stop-nya ada kampung kuno. Jepang asli. Di situlah dulu pelancong Kyoto-Tokyo
beristirahat. Ada penginapan. Ada restoran. Ada stasiun kendaraannya: stall
kuda.
Saya bersyukur
diajak Camino di Nakasendo. Sama dengan bersyukurnya saat dua tahun lalu diajak
naik gunung Huang Shan --setelah dua gunung sakti lainnya saya daki: Tai Shan
di Shandong dan Wuyi Shan di Fujian.
Saya sudah ke
Jepang begitu banyak kali. Mulai dari yang paling selatan di Okinawa, Nagasaki,
Fukuoka, sampai yang paling utara di Nemuro-nya Hokkaido. Tapi Camino Nakasendo
tak kan terlupakan. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/973574/camino-nakasendo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar